Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PRESERVASI DAN KONSERVASI

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN BAHAN PUSTAKA


DAN SISTEM PENANGGULANGANNYA

KELOMPOK 9

MHD. FEBRIAN 18026053

NOLA IRKASARI 18026065

SUCI RAHMADANI 18026089

DOSEN PEMBIMBING:

DESRIYENI, S.SOS.,M.I.KOM.

PROGRAM STUDI INFORMASI PERPUSTAKAAN DAN


KEARSIPANJURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN
DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT,karena berkat dan rahmatnya


penulis dapat menyelesaikan dan menyusun makalah tentang “Faktor-Faktor
Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka dan Sistem Peanggulangannya”.Guna
memenuhi tugas mata kuliah Preservasi dan Konservasi.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang telah membantu menyelesaikan tugas makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak.

Padang, 30Januari2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar ................................................................................................. i


Daftar isi ........................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan ........................................................................................... 1
A. Latar belakang ...................................................................................... 1
B. Rumusan masalah................................................................................. 1
C. Tujuan penulisan .................................................................................. 1

Bab II Pembahasan ........................................................................................... 2

A. Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka ............................... 2


B. Sistem penanggulangan kerusakan bahan pustaka ............................... 7

Bab III Penutup ................................................................................................ 13

A. Kesimpulan .......................................................................................... 13
B. Saran ..................................................................................................... 13

Daftar Pustaka

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap perpustakaan memiliki faktor penyebab kerusakan koleksi
yang berbeda-beda. Begitu juga terkait dengan tingkat kategori
kerusakannya maupun jenis koleksi yang mengalami kerusakan juga akan
berbeda antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya. Komponen
yang sangat vital dan menjadi aset sebuah perpustakaan adalah koleksi.
Sebegitu pentingnya buku menjadi sebuah aset, maka jika sampai hilang
ataupun rusak perlu laporan pertanggungjawaban yang jelas. Terkadang
cara pemeliharaan yang salah menyebabkan rusaknya koleksi
perpustakaan yang semula hanya kategori ringan justru menjadi semakin
parah. Informasi yang terkandung dalam setiap koleksi perlu diselamatkan,
baik isinya maupun fisik koleksinya. Kurangnya pengetahuan tentang
penyebab kerusakankoleksi akan membuat pustakawan atau pengelola
perpustakaan menjadi tidak tahucarapencegahan dan penanganannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka?
2. Bagaimana sistem penanggulangan kerusakan bahan pustaka?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor penyebab kerusakan bahan
pustaka.
2. Untuk mengetahui sistem penanggulangan kerusakan bahan pustaka.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka

Kondisi koleksi dikatakan rusak apabila terjadi menurunnya kualitas yang


dimiliki oleh suatu koleksi sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara
maksimal. Ada banyak faktor kerusakan koleksi yang biasanya terjadi di
perpustakaan. Kerusakan koleksi sesungguhnya bukan dikarenakan sekedar
faktor keusangan dimakan oleh waktu saja. Banyak faktor yang mendorong
terjadinya kerusakan tersebut, diantaranya:

1. Faktor Internal (karakteristik bahan pustaka)


a. Senyawa asam pada kertas
Kertas tersusun dari senyawa kimia yang lambat laun akan terurai
karena tinggi rendahnya suhu maupun kuat lemahnya cahaya yang
menerpa koleksi. Sampul koleksi yang terbuat dari karton biasanya
karton mengandung asam, prosesnya asam akan berpindah ke kertas
pada buku yang menyebabkan menurunnya kualitas kertas. Dalam
kondisi seperti ini maka kertas menjadirapuh dan cepat hancur.
Kandungan senyawa asam di dalam kertas akan mempercepat reaksi
hidrolisis, sehingga semakin cepat hidrolisisnya maka semakin cepat
pula terjadinya pelapukan pada kertas.Jadi, semakin tinggi kandungan
asam pada kertas maka kertas itu akan semakin cepat rapuh. Kekuatan
kertas tidak berpengaruh pada perubahan suhu asalkan perubahannya
tidak terlalu ekstrim.Misalnya Air Conditioner (AC) sering “nyala
mati” kemudian sering dikecilkan dan dibesarkan, maka kondisi ini
justru akan besar pengaruhnya terhadap kerusakan kertas, karena
kertas akan mengendor dan meregang secara bergantian. Apabila
terjadi berulang kali maka akan menyebabkan putusan ikatan rantai
kimia pada serat selulosa sehingga koleksi menjadi cepat rusak.
b. Lem perekat
Sekalipun ada lem dari kulit binatang, lem / perekat yang bagus
dan sering digunakan sebaiknya Polyvinyl Acetate (PVA). Alasan

2
digunakannya PVA adalah bahwa lem PVA memiliki warna
sepertiputih susu, cepat kering setelah dioleskan, tidak mengundang
serangga, memiliki daya rekat yang kuat, serta sulit dilepas. Namun
demikian, secara alami lem lambat laun akan rusak dimakan waktu dan
hilang daya rekatnya.
c. Lignin
Aspek lignin juga berpengaruh pada kualitas kertas. Lignin
merupakan zat yang banyak terkandung dalam serat selulosa pada
kayu. Jadi kertas koleksi yang banyak mengandung zat lignin maka
imbasnya dapat merubah warna kertas dari putih menjadi kuning
kecoklatan, yang kemudian secara berangsur-angsur menjadikan kertas
semakin lapuk.
d. Tinta
Selanjutnya permasalahan terkait tinta juga menjadi penyebab
tersendiri dan tidak bisa dihindari. Hal ini karena tinta merupakan
kandungan utama pada tulisan kertas. Tinta tulis yang saat ini biasa
digunakan adalah jenis tinta dengan campuran besi (iron gall ink) yang
mengandung ferro-sulfat. Tinta menjadi salah satu bahan utama dalam
pembuatan bahan pustaka baik dalam bentuk tercetak maupun tertulis.
Ada jenis tinta gentur yang terbuat dari jelaga yang dicampur dengan
santan arang ketan yang biasanya digunakan untuk menulis pada kertas
daur ulang. Dahulu ada tinta yang terbuat dari karbon lampu yang
dicampur dengan lem arab untuk menulis naskah kuno. Selanjutnya
untuk tinta yang luntur diketahui dengan cara menggunakan kapas
yang telah dibasahi air, lalu diusapkan pada tulisan dan apabila pada
kapas tersebut ada noda tinta maka dipastikan luntur. Jadi dapat
dikatakan bahwa kualitas tinta pada kertas juga ikut andil sebagai
penyebab kerusakankoleksi. Tinta yang baik memiliki ciri yaitu tidak
hilang jika digosok dan tidak luntur jika terkena air.

3
2. Faktor Eksternal
a. Lingkungan
Secara umum kerusakan koleksi yang disebabkan oleh faktor
lingkungan biasanya berhubungan dengan faktor fisika, seperti:
paparan cahaya (sinar matahari, lampu); pencemaran udara; temperatur
/ suhu; kelembaban udara; debu. Selain itu, faktor lingkungan lainnya
dapat berupa sisa makanan dan minuman, maupun rak atau lemari
penyimpanan koleksi yang tidak memenuhi syarat.
1) Cahaya. Cahaya memiliki efek pada koleksi. Dalam Soraya dan
Damayanti (2015: 5) dijelaskan bahwa kerusakan koleksi karena
cahaya sangat tergantung dari panjang gelombang dan waktu
pencahayaan, semakin kecil panjang gelombang dan makin lama
waktu pencahayaan maka koleksi semakin cepat rusak.
2) Pencemaran udara. Pencemaran udara (polutan atmosferik, asap,
debu, kotoran yang menempel) juga merusak koleksi. Intinyasemua
bahan pencemar yang terkandung dalam udara dapat
membahayakan bagi koleksi.
3) Suhu/temperatur. Kelembaban udara yang tidak stabil membuat
kualitas kertas semakin menurun dan koleksi menjadi cepat rusak.
Jika terlalu dingin maka kertas menjadi cepat berjamur karena
lembab atau sebaliknya justru mudah rapuh karena terlalu panas.
4) Rak atau lemari penyimpanan. Rak buku yang tidak sesuai dengan
ukuran buku menyebabkan buku menjadi kurang sempurna
posisinya, misalnya terlalu sempit sehingga buku seolah-olah
dipaksakan masuk dan terkesan menyatu, namun sebenarnya tidak
muat atau terlalu sempit. Begitu pula penyusunan buku di rak
(shelving) yang terlalu lebar (too loose) sehingga banyak ruang
yang kosong juga tidak baik, karena akan menyebabkan banyak
buku-buku menjadi tumbang dan tumpang tindih sehingga tidak
rapi. Demikian juga sebaliknya yang terlalu sempit atau penuh (too
tight) juga tidak baik karena membuat buku menjadi sulit untuk
diambil.

4
b. Manusia
Manusia dapat bertindak sebagai penyayang buku, tetapi juga bisa
menjadi perusak buku yang hebat. Berdasarkan kenyataan yang ada
kerusakan buku terjadi karena ulah manusia. Misalnya, pembaca di
perpustakaan secara sengaja merobek bagian-bagian tertentu dari
sebuah buku, misalnya diambil gambar atau tabel-tabel statistiknya.
Kadang-kadang pengguna perpustakaan sengaja atau tidak sengaja,
membuat lipatan sebagai tanda batas baca atau melipat buku ke
belakang. Sebagai akibatnya perekat yang mengelem punggung buku
untuk memperkokoh penjilidan dapat terlepas sehingga lembaran-
lembaran buku akan terpisah dari jilidnya. Kecerobohan lain, misalnya
habis makan tidak membersihkan tangan terlebih dahulu,
menyebabkan buku menjadi kotor. Apabila buku dipegang dengan
tangan kotor atau berminyak, buku akan bernoda. Kotoran yang
melekat ditangan akan berpindah ke buku. Penempatan buku yang
terlalu padat di rak akan menyebabkan punggung dan kulitnya rusak.
c. Bencana alam
Bencana yang disebabkan oleh faktor alam, misalnya: banjir,
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, badai, angin puting beliung,
gerakan tanah atau longsor, dan lain sebagainya dapat menyebabkan
kerusakan koleksi bahan pustaka dalam jumlah besar dan dalam waktu
yang relatif singkat.
d. Biota
Biota yang dimaksud seperti makhluk perusak (pest) yang berupa:
semut; serangga (booklice, kecoa, rayap, silverfish, bookworm, kutu
buku); jasad renik / mikroorganisme seperti jamur; binatang pengerat
(tikus), maupun substansi biologis (bakteri, lumut).
1) Serangga. Seranga merupakan salah satu faktor penyebab
kerusakan bahan pustaka yang sering dijumpai. Makanan yang
digemarinya lem, atau perekat yang terbuat dari tepung kanji.
Kerusakan terjadi ketika serangga menjadi larva. Lingkungan yang
lembab dan gelap, sirkulasi udara kurang, merupakan tempat yang

5
ideal bagi serangga. Jenis-jenis serangga yaitu rayap, kecoa, ikan
perak, kutu buku, ngegat pakaian dan kumbang bubuk.
Pertama, Rayap merupakan sejenis semut dan makanan utamanya
yaitu kayu, kertas, foto, gambar, rumput, dan lain-lain. Kedua,
Kecoa jenis seranga yang bersayap dan mempunyai tanduk yang
panjang. Kotoran dari kecoa tersebut yang berupa cairan dapat
merusak keutuhan bahan pustaka. Ketiga, Ikan perak serangga ini
berbadan ramping, tidak bersayap dan berwarna abu-abu. Dan dia
berada di tempat yang gelap seperti di belakang buku-buku, rak,
dan lemari, makanan yang menjadi sasaranya yaitu tepung kanji.
Bagian buku yang cepat rusak yaitu pungung buku, kulit buku,
label buku, gambar dan lain-lain. Keempat kutu buku serangga ini
sangat kecil, bagian buku yang diserang yaitu punggung dan
pinggirnya. Permukaan kertas yang selalu dikikisnya sehingga
huruf-huruf nya hilang. Kelima kumbang, yaitu jenis kumbang
yang berbahaya untuk perpustakaan yaitu kumbang kulit, kumbang
bubuk, kumbang bertanduk panjang, dan kumbang laba-laba.
2) Jamur. Jamur merupakan mikroorganisme yang tidak
berklorofil. Jamur berkembang biak dengan spora, dapat
menyebar di udara dan apabila menemukan lingkungan yang
cocok maka spora tersebut akan berkembang biak di kertas
terutama di lingkunagan yang mempunyai kelembaban yang tinggi.
Jamur yang menempel pada bahan pustaka dapat membuat lengket
satu sama lain sehingga kertas dapat sobek jika di buka. Jika
pungung buku kena air atau lembab, tumbuh jamur dengan warna
putih. Jamur tersebut dapat dibersihkan dengan alcohol, dan tidak
akan tumbuh lagi.
3) Binatang pengerat (tikus). Tikus merupakan perusak bahan pustaka
yang sulit untuk di berantas. keberadaan tikus sangatlah merugikan
bagi bahan pustaka selain itu juga sangat merugikan bagi kesehatan
manusia. Kertas dan buku sering dijadikan tempat atau sarang.
Sedangkan air kencing tikus dapat menyebabkan penyakit

6
leptospira, sejenis penyakit kuning yang membahayakan bagi
kesehatan manusia. Tindakan untuk pencegahan serangan tikus
yaitu tempat penyimpanan harus bersih dan kering. Lubang-lubang
yang memungkinkan tikus masuk harus di tutup rapat.

B. Sistem Penanggulangan Kerusakan Bahan Pustaka

Setiap pustakawan harus dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan


pustaka. Kerusakan itu dapat dicegah jika kita mengetahui faktor-faktor
penyebabnya. Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-
macam, bisa itu disebabkan oleh manusia, oleh tikus, oleh serangga, dan lain-
lain. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan buku, penuangan larutan
racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan
menempatkan kapur barus pada rak merupakan cara untuk dapat mencegah
kerusakan bahan pustaka tersebut. Tentu saja pencegahan yang berhasil akan
memberikan dampak ekonomi yang positif bagi perpustakaan.

Berikut ini adalah rumusan tindakan pencegahan (preventif) yang dapat


dilakukan, antara lain:

1. Mencegah kerusakan karena faktor lingkungan


a. Mencegah kerusakan karena pengaruh temperatur dan kelembaban
udara. Temperatur dan kelembaban udara yang ideal bagi bahan
pustaka adalah 20-24 derajat C dan 60-65% RH. Satu-satunya cara
untuk mendapatkan kondisi itu adalah dipasang AC-24 jam sehari
selama 7 hari dalam seminggu.
b. Mencegah kerusakan karena pengaruh cahaya. Cahaya matahari yang
masuk ke dalam ruangan atau pantulan harus dihalangi dengan gorden
atau disaring dengan filter untuk mengurangi radiasi ultra violet.
Buku-buku tidak boleh diletakkan terlalu dekat dengan memperkecil
intensitas cahaya, memperpendek waktu pencahayaan, dan
menghilangkan radiasi ultra violet dari lampu tersebut dengan
memasang filter pada lampu TL.

7
c. Mencegah kerusakan karena pencemaran udara. Bahan pencemaran
udara seperti gas-gas pencemar, partikel debu dan logam yang
merusak kertas dapat dikurangi dengan langkah sebagai berikut: ruang
menggunakan AC, karena di dalam AC selalu tertutup sehingga
megurangi debu, didalam ruangan dipasang alat pembersih udara (air
cleaner), dan menyimpan buku didalam kotak pelindung.
d. Mencegah kerusakan karena faktor biota. Tindakan preventif untuk
mencegah tumbuh dan berkembangnya jamur dan serangga adalah
dengan memeriksa bahan psutaka secara berkala, membersihkan
tempat penyimpanan, menurunkan kelembaban udara dan buku-buku
tidak boleh disusun secara rapat pada rak karena akan menghalangi
sirkulasi udara dan akan menimbulkan jamur.
e. Mencegah kerusakan karena rak dan lemari yang tidak memenuhi
syarat. Rak dan lemari yang dipakai untuk menyimpan bahan pustaka
terbuat dari anti serangga dan tahan karat. Rak dan lemari ini juga
harus sesuai dengan ukuran bahan pustaka yang akan disimpan.
f. Mencegah kerusakan karena bencana alam. Bahan pustaka yang
kehujanan atau kebanjiran harus segera dikeringkan dalam ruangan
hangat. Koleksi ini tidak boleh dijemur di panas matahari. Tindakan
preventif untuk mencagah kebakaran adalah: kabel listrik harus
diperiksa secara rutin, bahan yang mudah terbakar harus dijauhkan
dari bahan pustaka, merokok dilarang keras didalam ruang
perpustakaan, alarm dan alat pemadan kebakaran api harus
ditempatkan ditempat yang mudah terjangkau. Alat pemadam
kebakaran ini harus berupa gas karbondioksida, bukan air.

2. Pencegahan kerusakan karena faktor manusia


Manusia merupakan perusak bahan pustaka yang cukup besar.
Pengaruh ini bersifat tak langsung seperti pencemaran udara atau mutu
kertas rendah yang dihasilkan oleh industri kertas dan dapat bersifat

8
langsung seperti kebakaran, kecurian dan salah penanganan. Kerusakan
lain pada bahan pustaka adalah rendahnya standar mutu penjilidan.
Pelaksanan fotokopi yang tidak benar akan merusak bahan pustaka.
a. Penataan dan penyimpanan
Tempat penyimpanan harus terbuat dari bahan yang tidak
membahayakan bahan pustaka. Seperti tempat untuk menggulung dan
menyimpan mikrofilm. Rak buku harus diletakkan pada ruangan
dengan ventilasi yang baik dan jarak yang cukup supaya dapat
mengambil dan mengembalikan buku dengan leluasa.
b. Pameran
Pemeliharaan bahan pustaka yang dipamerkan umumnya pakai lemari
panjang dan tertutup kaca diperpustakaan. Kelembaban udara
didalamnya tidak boleh lebih dari 60%RII serta intensitas cahaya ultra
violetnya harus ditekan serendah mungkin.
c. Penjilidan
Jilidan asli sedapat mungkin harus dipertahankan. Semua bahan yang
digunakan harus bebas asam, kuat dan stabil. Buku dengan kertas yang
sudah rapuh tidak boleh dijilid kembali.
d. Kebersihan
Pemeriksaaan secara berkala pada koleksi dan fasilitas penyimpanan
dapat diketahui lebih awal kerusakan oleh serangga atau kelembaban.
Kebersihan dari staf dan pengguna jasa perpustakaan juga sangat
penting, tangan dan tempat kerja harus bersih untuk menjaga agar buku
tidak cepat dekil.
e. Penanganan
Penangan yang dilakukan oleh staf atau pengguna jasa perpustakaan,
antara lain: bahan pustaka harus dilindungi dari penyebab kerusakan
dari luar, seperti debu, air, makannan, minuman dan lain-lain, cover
buku untuk melindungi teks buku dari kerusakan, penataan buku yang
baik, buku sebaiknya ditata berdiri kecuali buku yang tinggi dan terlalu
lebar, buku tidak boleh ditata miring karena akan menyebabkan
covernya melengkung, serta buku tidak boleh diletakkan dengan

9
punggung diatas karena teks buku akan tertak dari covernya.
Memindahkan bahan pustaka dilakukan dengan tangan, kotak atau lori
(kereta) dan kegiatan reproduksi seperti reprografi, fotografi, dan
fotokopi merupakan usaha pelestarian informasi bahan pustaka serta
penemptan dan desain pameran harus dipertimbangkan agar tidak
terjadi pencurian dan pengrusakan atau rusak karena salah penanganan.
f. Pencurian dan vandalisme
Prosedur pengamanan dapat dilakukan dengan cara pengawasan dalam
ruang baca, pemeriksaan tas, pemasangan detektor pada pintu ruang
baca dan lain-lain.

Restorasi (perbaikan)
Tindakan represif yang dilakukan setelah mengetahui faktor perusak bahan
pustaka dengan memperbaiki bahan pustaka yang disebut restorasi,
pekerjaan ini meliputi:
1. Menambal kertas
a. Penambalan dengan kertas jepang (sejenis kertas laminasi)
dikerjakan bila ada halaman buku yang robek baik robeknya lurus
maupun tidak lurus. Penambalan ini dilakukan jika robeknya
mencapai 3-10 cm.
b. Penambalan dengan kertas tisu (het tissu paper) menggunakan
sistem potong basah yaitu kertas jepang dibasahi dengagn alat kuas
kecil.
2. Memutihkan kertas
Kertas yang terkena debu dan lumpur akan berwarna kecoklatan, cara
memutihkan kertas:
a. Menggunakan chloromine T 21/2% dilarutkan kedalam air, kertas
yang diputihkan diletakkan diatas kertas penyerap, kemudian
diolesi dengan larutan chloromine.
b. Menggunakan gas chlordioksida penggunaan gas untuk
memutihkan bahan cetakan cukup baik, seperti chloromine T, gas

10
ini dilarutkan di dalam air dengan mengalirkan pada kertas yang
akan diputihkan.
3. Mengganti halaman yang robek
Halam yang robek dan robeknya tidak dapat diperbaiki dengan
menambal atau sudah hilang, harus diganti dengan membuat
fotokopinya yang dipotong sesuai dengan ruas halaman buku , dan
kemudian disisipkan pada buku yang rusak setelah diukur dengan
buku.
4. Memperbaiki punggung buku rengsel atau sampul buku yang rusak
Dengan alat-alat penjilidan yang sederhana, berbagai kerusakan
diperbaiki dengan membongkar buku yang rusak dan memperbaiki
dengan yang baru.
5. Penyiangan
Kegiatan pemilahan terhadap koleksi bahan pustaka yang ada di
perpustakaan. Kegiatan ini dilakukan agar bahan pustaka yang tidak
sesuai lagi diganti dengan yang baru. Bahan pustakan yang tidak
relevan lagi , sudah usang, isinya tidak lengkap, bahan pustaka yang
sudah ada edisi terbarunya dan bahan pustaka yang fisiknya sangat
rusak (Ibrahim, 2014: 85).
6. Penjilidan
Proses cara melipat dan menyusun lembaran kertas yang telah dicetak
dalam urutan yang semestinya, kemudian dijadikan satu dengan
sesuatu cara (A guide to book publishing). Penjilidan juga sebgai
proses penggabungan lembaran-lembaran kertas lepas menjadi satu,
yang dilindungi dengan ban atau sampul (Ibrahim, 2014: 150).
7. Fumigasi
Mengasapi bahan pustaka agar jamur tidak tumbuh, binatang mati, dan
perusak bahan pustaka lainnya terbunuh. Dengan cara memasukkan
dan melepaskan fumigasi kedalam ruang tertutup atau kedap udara
untuk beberapa waktu dalam dosis dan konsentrasi yang dapat
dimatikan hama dengan menggunakan gas hydrocyamic, dan carbon
bisulphida.

11
8. Deasidifikasi
Menghentikan proses keasaman yang terdapat pada kertas. Keasaman
yang terkandung menyebabkan kertas itu cepat lapuk, terutama kalau
kena polusi. Denagn cara menggunakan larutan yang bersifat basa
misalnya kalsium hydroksida, kalsium karbonat dan sebagainya.
9. Laminasi
Cara menutup lembaran kertas yang sobek, rapuh atau rusak denagn
menggunakan mesin. Bahan laminasi yang sudah didesain dalam
bentuk pakai, karena proses panas dari mesin laminasi bahan plastik
ini akan menampel dan melindungi dokumen. Cara ini banyak dipakai
untuk dokumen berharga.
10. Enkapulasi
Salah satu cara melindungi kertas dari kerusakan bersifat fisik,
misalnya rapuh karena umur, pengaruh asam, karena dimakan
serangga, kesalahn penyimpanan dan sebagainya (Ibrahim, 2014: 133-
137).

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Faktor penyebab kerusakan bahan pustaka yaitu faktor internal
(karakteristik bahan pustaka) seperti: senyawa asam pada kertas, lem
perekat, lignin, dan tinta. Sedangkan faktor ekternalnya seperti:
lingkungan, bencana alam, manusia dan biota.
Sistem penanggulangan kerusakan bahan pustaka terdiri dua
macam yaitu tindakan pencegahan (preventif) yaitu mencegah kerusakan
oleh faktor ligkungan dan pencegahan kerusakan oleh faktor manusia.
Sedangkan restorasi atau perbaikan (represif) yaitu memperbaiki fisik
bahan pustaka diantaranya fumigasi, laminasi,dan enkapulasi.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini kami telah berusaha
menyelesaikannya dengan sebaik mungkin, namun kami menyadari
bahwasannyamakalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Untuk itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca, terutama dosen pengampu
mata kuliah “Preservasi dan Konservasi” serta kepada rekan mahasiswa.

13
DAFTAR PUSTAKA

Endang Fatmawati. (2017). Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan


Koleksi Perpustakaan, 7(2), 108-119.

Ibrahim, Andi. 2014. Pelestarian Bahan Pustaka. Makassar: Alauddin University


Press.
Razak, Muhamaddin, dkk. 1992. Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta:
PDDI-LIPI.
Wahyuningtyas, Fitri. 2016. Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka.
Tersedia di http://fitriwts.blogspot.com/2016/11/faktor-penyebab-
kerusakan-bahan-pustaka.html (diakses pada 30 januari 2019).