Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

1. KATA PENGANTAR i
2. DAFTAR ISI ii
3. BAB I PENDAHULUAN 1
4. BAB II PEMBAHASAN
5
. TAKAYASU ARTERITIS
i. . Definisi 6
ii. . Epidemiologi 7
iii. . Etiologi dan Patogenesis 7
iv. . Manifestasi Klinis 8
v. . Diagnosis 13
vi. . Pemeriksaan Penunjang 14
vii. . Diagnosis Banding 15
viii. . Takayasu Arteritis dengan Kehamilan 15
ix. . Penatalaksanaan 16
x. Komplikasi 18
xi. . Prognosis 19
5. BAB III KESIMPULAN 20
6. BAB 1V DAFTAR PUSTAKA 21

1
BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit Takayasu Arteritis adalah penyakit yang jarang, tetapi mempunyai manifestasi
klinis yang khas pada fase akhirnya dimana tekanan darah yang diukur pada kedua tangan
berbeda. Takayasu arteritis disebut juga dengan penyakit tanpa nadi (pulseless disease) adalah
penyakit inflamasi kronik mengenai pembuluh darah besar terutama aorta dan cabang utamanya.
Pertama kali ditemukan pada tahun 1908 oleh seorang oftalmologis dari Jepang bernama Mikito
Takayasu yang melaporkan adanya anastomosis arteriovenosus retina dan hilangnya nadi pada
ekstremitas atas. Takayasu arteritis mengenai terutama perempuan. Umumnya penderita berusua
15-30 tahun. Distribusi dari penyakit ini terutama di Negara-negara Asia. Di Indonesia sendiri
belum ada data epidemiologis untuk penyakit ini, karena tergolong denganpenyakit yang jarang.
Pathogenesis yang terjadi pada Takayasu Arteritis adalah inflamasi pembuluh darah
mengacu kepada penebalan dinding pembuluh darah, fibrosis, stenosis, dan pembentukan
thrombus. Gejala yang timbul dari penyakit ini merefleksikan adanya iskemi organ. Semakin
akut inflamasi yang terjadi dapat menghancurkanarteri media dan mengarah kepada
pembentukan aneurisma.
Pemeriksaan gold standard pada Takayasu arteritis dengan angiografi. Berdasarkan
pencitraan tersebut dibagi menjadi enam tipe tergantung tempat lesi inflamasi berada. Klasifikasi
ini dibuat untuk mempermudah, karena tempat lesi berada mempengarufi manifestasi dan
komplikasi yang akan timbul nantinya.
Pengobatan terutama bertujuan mencapai fase remisi dimana tidak terjadi infalamasi
aktif. Dapat di lakukandengan agen immunosupresif seperti kortikosteroid. Terapi bedah
dilakukan bila terdapat lesi parah dan telah timbul komplikasi sekunder salah satunya seperti
hipertensi akibat stenosis arteri renalis.

2
BAB II

PEMBAHASAN

I..Defenisi

Takayasu’s arteritis disebut juga dengan istilah “aortic arch syndrome”, pulseless
disease”, “aortoarteritis”, “acclusive thromboaortopathy”, “young female arteritis”, dan
“reversed coarctation”. Takayasu arteritis adalah penyakit inflamasi kronik yang tidak diketahui
penyebabnya melibatkan aorta dan cabang utamanya. Pertama kali ditemukan pada tahun 1908
oleh seorang oftalmologis dari Jepang bernama Mikito Takayasu yang melaporkan adanya
anastomosis arteriovenosus retina dan hilangnya nadi pada ekstremitas atas. (2,5,7)

II. Epidemiologi

Insiden terjadinya Takayasu arteritis adalah 2-6 kasus per juta orang tiap tahunnya. Takayasu
mempunyai distribusi di seluruh dunia, tetapi lebih sering ditemukan di Negara Asian. Orang
Jepang dengan Takayasu mempunyai insiden lebih tinggi pada keterlibatan lengkungan aorta,
sebaliknya orang india dilaporkan mempunyai insiden lebih tinggi keterlibatan abdominal.
Kurang lebih 80% pasien dengan Takayasu arteritis adalah wanita. Perbandingan wanita dan pria
sekitar 7-8 : 1. Rentang umur saat pertama didiagnosis dari 7 bulan sampai 40 tahun. Tapi
kebanyakan pasien berumur antara 15-30 tahun. (1,2,4)

III. Etiologi dan Patogenesis (1,2,7)

Takayasu arteritis dikarakteristikkan dengan inflamasi granulomatosa dari aorta dan


cabang utamanya, mengarah kepada stenosis, trombosis, dan formasi aneurisma.

Pathogenesis terjadinya arteritis pada Takayasu arteritis adalah terjadi infiltrasi


mononuclear dari tunika adventisia di awal penyakit. Perubahan granulomatosa ditemukan di

3
tunika media dengan sel Langerhans dan nekrosis sentral dari serabut elastin dan sel otot polos.
Panarterits dengan infiltrasi dari limfosit, sel plasma, histiosisit, dan sel giant terjadi. Pada
stadium awal penyakit terdapat inflamasi aktif melibatkan arteritis granulomatosa pada aorta dan
percabangannya, dengan perubahan sekunder pada tunika media dan adventisia. Penyakit ini
berkembang dalam kecepatan yang bervariasi menjadi stadium sklerotik dimana terdapat
hyperplasia dari tunika intima, degenerasi tunika media, dan fibrosis tunika adventisia.
Selanjutnya terjadi fibrosis dari tunika media dan penebalan aseluler dari tunika intima
memperburuk keadaan lumen pembuluh darah. Proses proliferative ini menuntun terjadinya
penyumbatan pada lumen aorta dan percabangannya.

Stenosis terjadi pada 90 % pasien dengan penyakit takayasu arteritis. Pasien sering
mempunyai dilatasi poststenotik dan area aneurisma lainnya. Bagian arteri yang mengalamai
stenosis menyebabkan berbagai gejala iskemi. Gejala ini bervariasi dari nyeri abdomen setelah
makan yang terjadi sekunder karena penyempitan arteri mesentrik, hipertensi renal, dan
klaudikasio ekstremitas. Aktivasi endothelial mengarah kepada hipercoagulasi dan predisposisi
terjadinya thrombosis. Gagal jantung pada pasien takayasu arteritis dapat terjadi akibat dari
hipertensi, dilatasi akar aorta, atau myokarditis. Transient ischemic attacks, gejala
cerebrovaskular, iskemi mesentrika, carotidynia, dan kaludikasio dapat terjadi. Gejala dari
gangguan vascular dapat diminimalkan dengan pengambangan sirkulasi kolateral dengan onset
lambat dari stenosis. Diseksi dinding pembuluh darah atau aneurisma dapat terjadi pada area
yang terdapat perlemahan karena inflamasi.

Salah satu hipotesis dalam berkembangnya vaskulitis granulomatosa adalah deposit antigen
pada dinding vascular yang mengaktivasi sel T CD4+, diikuti dengan pengeluaran sitokin
kemotaktik untuk monosit. Monosit ini dibentuk mejadi makrofag yang memediasi kerusakan
endotel dan terbentuknya granuloma pada dinding vascular. Sebuah penelitian dengan tikus
mendukung hipotesis ini. Ketika sel T yang tersensitisasi ke sel otot polos pembuluh darah di
injeksikan kepada tikus, vaskulitis granulomatosa pada arteriol pulmoner terjadi pada 20% dari
populasi tikus. Penelitian terhadap manusa memperkirakan aktivasi sel endotel menaikkan
ekspresi intraselular adhesi molekul 1 (intercellular adhesion molecule-1/ICAM-1) dan sel
adhesi molekul vascular (vascular cell adhesion molecule-1/VCAM-1) pada pasien dengan

4
Takayasu arteritis. Immunoglobulin G, immunoglobulin M, dan properdin ditemukan pada
specimen yang diambil di lesi patologis.

iv.. Manifestasi Klinis

Dalam perjalanan penyakitnya, takayasu arteritis dibagi menjadi dua fase, yaitu: (1,3,7)

1. Fase awal

 Pada fase awal, pasien hanya mengeluh gejala konstitusional. Stadium ini disebut juga
fase sistemik atau prepulseless. Tanda dan gejala yang terdapat di fase ini antara lain:
o Demam
o Keringat malam
o Kelemahan
o Nyeri sendi
o Batuk
o Nyeri dada dan abdomen
o Bercak di kulit
 Untuk mendiagnosis Takayasu arteritis pada fase awal sangat sulit karena manifestasi
klinis mirip dengan penyakit-penyakit lainnya. Oleh karena itu, sangat mudah
terabaikan. Tetapi bagaimapun juga, mendiagnosis pada awal onset penting karena
semakin cepat terapi kortikosteroid diberikan dapat mempengaruhi prognosis.
 Kelainan patologis pada fase ini adalah terlihat adanya granulomatosa atau sel inflamasi
difus pada tunika media dan adventisia. Penebalan tunika intima terjadi pada perubahan
sekunder. Infiltrasi perivaskular oleh berbagai sel kadang-kadang terlihat di sekitar vasa
vasorum dan mungkin dapat meluas ke jaringan lemak sekitar.
2. Fase akhir
 Fase akhir disebut juga dengan fase oklusi atau pulseless. Manifestasi klinis dan hasil
pemeriksaan lainnya berbeda dengan fase awal. Terlebih lagi, manifestasi bervarisi
tergantung dimana letak arteritisnya berada, apakah mengenai aorta di dada, aorta

5
abdominal, arteri pada ekstremitas bawah, atau kombinasi dari pembuluh-pembuluh
darah ini.
 Durasi berkembangnya penyakit dari fase awal ke fase akhir belum diketahui secara pasti
karena onset awal yang sangat samar. Tetapi dari penelitian-penelitian yang telah
dilakukan, durasi interval antara fase awal dengan fase akhir bervariasi dari 1 – 8 tahun.
 Pada fase akhir, gejala sistemik mereda. Tanda dan gejala sekunder dari arteri stenosis
atau oklusi lebih mendominasi antara lain :
o Terdengar bruit pada pembuluh darah yang terkena. Bising jantung juga biasa
ditemukan
o Oklusi dan stenosis dari pembuluh darah brachiocephalic meningkatkan gejala
cerebrovaskular dan visual
o Hipertensi renal biasa terjadi bila aorta suprarenal dan arteri renalis menyempit
o Penyempitan difus pada aorta infrarenal dapat menyebabkan klaudikasio pada
ekstremitas bawah
o Lesi pada aorta abdominal tidak selalu terkait dengan abnormalitas nadi pada
lengan karena ada keterlibatan dari lesi pada lengkung aorta juga ikut yang
berperan.

 Gejala-gejala yang terjadi di fase akhir adalah :

Tabel 1. Penemuan klinis pada fase akhir takayasu arteritis (4)


Penemuan klinis pada fase akhir Takayasu Arteritis
Tanda dan gejala
Gejala kardivaskular
Bruit, terbanyak pada arteri karotis
Carotidynia
Hipertensi
Gejala iskemi cerebral
Sakit kepala, vertigo (terutama ketika melihat ke atas)
Pucat
gangguan penglihatan (terutama saat melihat matahari langsung)
Gejala iskemi pada ekstremitas

6
Jari-jari (akral) dingin
Mudah lelah dan nyeri pada ekstremitas atas
Gejala stenosis aorta dan arteri renal
Sakit kepala
Vertigo
Nafas yang pendek
Hipertensi
Subfebris
Pemeriksaan Fisik
Kelainan nadi pada ekstremitas atas
Nadi radialis yang lemah sampai menghilang
Perbedaan tekanan darah antara lengan kanan dan kiri
Kelainan nadi pada ekstremitas bawah
Nadi yang lemah
Nadi tidak teraba
Bising pembuluh darah pada arteri di leher, punggung, atau abdomen
Kelainan oftamologis
Penemuan laboratorium
Peningkatan LED
CRP positif
Peningkatan -globilin
Hal-hal diagnostic yang penting
Prevalensi pada wanita muda
Penegakan diagnosis akhir pada fase akhir dengan aortografi
Penilaian diagnosis akhir pada fase awal dengan CT atau MRI

Berdasarkan prevalensinya, gejala-gejala pada fase akhir Takayasu arteritis diurutkan sebagai
berikut: (1)
o Lemah atau hilangnya nadi terjadi pada 84-96% pasien berkaitan dengan klaudikasio
tungkai dan perbedaan tekanan darah.
o Bruit vaskular pada 80-94% pasien , biasa terjadi di beberapa tempat terutama mengenai
arteri carotis, subclavia, dan pembuluh darah abdomen.
o Hipertensi yang secara umum disebabkan oleh stenosis arteri renalis terdapat pada 33-
83% pasien.

7
o Retinopati terjadi pada 37% pasien
o Regurgitasi aorta yang disebabkan terjadinya dilatasi dari aorta asendens, penarikan
katup ke pangkalnya, dan penebalan katup terjadi pada 20-24% pasien.
o Gagal jantung berkaitan dengan hipertensi, aorta regurgitasi, dan dilatasi cardiomiopati.
o Gejala neurologis sekunder yang disebabkan oleh hipertensi dan atau iskemi, termasuk
postural dizziness, kejang dan amourosis. Amaurosis fugax adalah buta total/partial
monokuler ipsilateral, berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit. Amaurosis
fugax disebabkan emboli pada arteri karotis interna homolateral, yang berasal dari arteri
karotis eksterna tetapi dapat pula disebabkan hipo-perfusi atau vaso spasme. Keluhan
berupa “graying field” perifer diikuti penyempitan secara progresif sampai berupa titik
sehingga timbul “gray-out” lengkap atau “black out” kemudian terjadi penyembuhan
dengan urutan sebaliknya.
o Keterlibatan arteri pulmonal pada 14-100% pasien.
o Gejala lainnya seperti dyspnoe, sakit kepala, carotodynia, iskemi myocardial, nyeri dada
dan eritema nodosum.
 Kelainan patologis pada fase ini adalah terjad penipisan dari tunika media, gangguan pada
selat fiber, penebalan tunika adventisia dan penebalan tunika intima. Elastik arteri yang
mempunyai vasa vasorum seperti aorta, cabang utamanya, dan arteri pulmonal selalu terlibat,
tetapi arteri muscular seperti arteri perifer tidak terlibat.
 Berdasarkan data terakhir, fase akhir takayasu arteritis dibagi menjadi enam berdasarkan
letak lesi yang dapat dilihat dengan aortografi, yaitu :

Tabel 2. Klasifikasi angiografi Takayasu arteritis terbaru, pada konferensi Takayasu 1994. (1.3.4)
Tipe Pembuluh Darah yang Terlibat
Tipe I Melibatkan hanya cabang dari lengkung aorta
Tipe IIa Melibatkan aorta asendes dan lengkung aorta. Cabang dari lengkung aorta juga dapat
terlibat. Sisa aorta tidak terlibat
Tipe IIb Melibatkan aorta desendens di toraks dengan atau tanpa keterlibatan aorta asendens atau
lengkung aorta dengan cabangnya. Aorta abdominal tidak terlibat.

Tipe III Keterlibatan aorta desendens, abdominal aorta, dan/atau arteri renalis. Aorta asendens dan
lengkung aorta beserta cabangnya tidak terlibat

8
Tipe IV Melibatkan hanya aorta abdominal dan/atau arteri renalis
Tipe V Adalah tipe generalisata, dengan kombinasi jenis tipe yang lainnya
Catatan : keterlibatan arteri coroner dan pulmoner harus di catat masing-masing C(+) atau P (+).

Gambar 2. Tipe lesi Takayasu arteritis berdsarkan angiografi (3)

 Pasien dengan tipe I dan II menunjukkan gejala tipikal dari penyakit ini disebut sebagai
‘kebalikan’ coarctasio aorta dengan tidak adanya nadi pada ekstremitas atas, tekanan darah
pada lengan yang susah terdeteksi, tekanan darah yang lebih tinggi pada ekstremitas bawah,
bruits pada arteri yang kena, dan manifestasi iskemi pada daerah yang terkena. Sebagian
besar memiliki perbedaan tekanan darah > 10 mmHg atau lebih antara kedua lengan, dan
kebanyakan menderita hipotensi postural dari pusing sampai pingsan. Retinopati yang
pertama kali ditemukan Takayasu hanya ditemukan pada ¼ pasien dan biasanya berhubungan
dengan keterlibatan arteri carotis. (2)
 Pasien dengan tipe III dan VI dapat bermanifestasi angina abdominal, claudikasi kaki dan
juga kecenderungan berkembang menjadi hipertensi karena keterlibatan arteri renal. (2)

9
V. Diagnosis

American College of Rheumatology (ACR) membuat klasifikasi kriteria untuk Takayasu


arteritis. Kriteria tersebut antara lain :

Kriteria Takayasu arteritis oleh ACR 1990


 Umur < 40 tahun atau lebih muda pada awal onset penyakit
 Klaudikasio pada ekstremitas
 Pelemahan nadi pada satu atau kedua arteri brachial
 Perbedaan tekanan darah sistolik > 10 mmHg antara kedua lengan
 Terdapat bruit pada satu atau kedua arteri subklavia atau aorta abdominal
 Pada arteriografi didapatkan penyempitan atau penyumbatan aorta, cabang utamanya atau
arteri besar pada ekstremitas atas atau bawah yang bukan disebabkan oleh
arteriosklerosis, displasia fibromuskular atau penyebab lainnya.
Untuk menegakkan diagnosis Takayasu arteritis dibutuhkan 3 dari 6 kriteria
Tabel 3. Kriteria Takaysu arteritis berdssarkan ACR 1990 (1.3,6)

Penjelasan dari kriteria Takayasu arteritis dari American College of Rheumatology: (1)

 Onset penyakit < 40 tahun , berkembangnya gejala atau tanda yang berhubungan dengan
Takayasu arteritis ditemukan pada tahun < 40 tahun.
 Klaudikasio adalah nyeri pada otot-otot ekstremitas biasa pada tungkai yang timbul saat
aktivitas dan hilang saat istirahat.
 Pelemahan pulsasi nadi arteri brachial pada satu atau kedua arteri brachial.
 Perbedaan tekanan darah >10mmHg pada tekanan darah sistolik di kedua lengan.
 Terdengar bruit pada arteri subclavia dan aorta pada auskultasi pada satu atau kedua
arteri subclavia atau pada aorta abdominal.

10
 Kelainan arteriografi terlihat adanya penyempitan atau sumbatan pada aorta, cabang
utamanya, atau arteri besar pada proximal ektremitas atas atau bawah, yang bukan
disebabkan oleh arteriosklerosis, dysplasia fibromuskular, atau penyebab yang sama;
perubahan biasanya local atau segmental.
 Diperlukan 3 dari 6 kriteria untuk menegakkan diagnosis. Adanya 3 atau kriteria lebih
menghasilkan 90,5% sensitivitas dan 97,8% spesifitas.

VI. Pemeriksaan penunjang

Dari pemeriksaan laboratorium, LED dan CRP dapat ditemukan meningkat, tetapi hubungan
keduanya dengan akktifitas penyakit tidak bermakna dan tidak membantu dalam diagnosis dan
laporan telah menyarankan bahwa tes ini tidak lagi dapat diandalkan sebagai penanda untuk
aktivitas penyakit dalam jumlah yang cukup besar patients. Dalam kohort NIH, 50% pasien
dalam fase aktif, meskipun tidak terjdi peningkatan reaktan fase akut. Takayasu arteritis tidak
mempunyai serum marker yang spesifik. (3)
Diagnosis dikonfirmasi oleh pencitraan vascular. Angiografi memberikan informasi terbaik
tentang lumen pembuluh dan dapat dikombinasikan dengan angioplasti, jika
diindikasikan. Arteriografi aorta lengkap dapat membantu menentukan distribusi dan tingkat
keterlibatan. Teknik pencitraan non-invasif vaskular dengan CT, MRI, dan magnetic resonance
angiografi dapat membantu memperkirakan tingkat inflamasi dari dinding aorta. (3,4)

VII. Diagnosis Banding

Diagnosis banding termasuk vasculitis pembuluh darah besar: inflamasi aortitis (sifilis,
tuberculosis, SLE, Rheumatoid arthritis, spondyloartropathies, penyakit Behcet’s, penyakit
Kawasaki, dan arteritis giant cell); perkembangan abnormalitas (coarctasio aorta dan Marfan
sindrom), dan kelainan patologis aorta lainnya seperti ergotism dan neurofibromatosis.
Pencitraan sangat berguna dlaam menyngkirkan diagnosis banding hampir semua secuali arteritis

11
sel giant. Arteritis sel giant seperti Takayasu arteritis yang mengenai arteri besar dan
memperlihatkan vaskulitis granulomatosa pada pemeriksaan histologist. Perbedaanya dapat
dilihat pada predileksi lesi dan umur penderita. (1,3,6)

VIII. Takayasu Arteritis dengan Kehamilan

Karena Takayasu arteritis terutama mengenai wanita pada masa reproduktif, kaitannya
dengan kehamilan perlu dipikirkan. Berdasarkan penelitian Kerr dan kawan-kawan dari 60
pasien wanita dnegan Takayasu arterits, semuanya mengalami persalinan normal dengan bayi
normal hidup. Hanya satu pasien yang mengalami eksaserbasi penyakit selama kehamilan. (1)
Penelitian dari Hong Kong melaporkan 13 wanita yang mengalami total 30 kehamilan.
Selain hipertensi tidak ada lagi masalah obstetric dan tidak ada ibu yang meninggal yang
berhubungan secara langsung dengan kehamilan. Komplikasi maternal dilaporkan pada 12
pasien dari India dengan superimpose preeklamsi, gagal jantung, renal linsufisiensi, dan satu
kasus sepsis post partum. Keterlibatan aorta abdominal dan keterlambatan terapi medis
membawa kepada kemungkinan keadaan perinatal yang kurang baik.(1,6)
Fertilitas tidak dipengaruhi oleh penyakit Takayasu, dan kehamilan tidak mencetus
eksaserbasi penyakit, tetapi manajemen dari hipertensi itu penting. Hipertensi derajat kedua pada
persalinan adalah faktor resiko untuk perdarahan cerebral, usaha untuk memperpendek masa ini
dengan menggunakan persalinan forsep atau ekstrasi vakum merupakan jalan keluar yang baik.
(1,6)

IX.Penatalaksanaan

Terapi tergantung kepada derajat aktivitas penyakit dan juga komplikasi yang mungkin
berkembang. Aspek yang paling penting dari terapi adalah untuk mengkontrol inflamasi aktif
dan mencegah kerusakan vaskular lebih lanjut. Terapi dosis tinggi dengan kortikosteroid adalah
terapi inisial yang dipertahankan sampai pasien mencapai fase remisi. Diberikan glukokortikoid
dalam dosis tinggi (prednisone, 1mg/kgBB/hr). Pasien dengan resistensi kortikosteroid atau
relaps membutuhkan terapi agen citotoksik seperti siklofosfamid (2mg/kgBB/hr) atau pilihan

12
lain dengan dosis rendah methotrexat (0,3 mg/kgBB/mgu) atau azatioprin terapi yang dilanjutkan
1 tahun setalah remisi lalu pemberhentiannya dengan bertahap. (1,2)

Indikasi pembedahan pada pengobatan Takayasu arteritis belum ada secara pasti.
Pembedahan secara umum dilakukan terutama biasa untuk mengkoreksi hipertensi renovaskular,
indikasi lainnya memperbaiki cerebral, memperbaiki aorta/arteri, dan memperbaiki aorta
regurgitasi, dan aneurisma. Pembedahan yang dilakukan selama fase aktif lebih membawa
resiko besar dan reoklusi. Oleh karena itu seharusnya pembedahan dilakukan pada masa remisi
dimana inflamasi sudah mereda salah satu tindakan yang menjanjikan untuk terapi lesi obstruktif
dari Takayasu arteritis adalah dengan Percutaneous Transluminal Angioplaty. Percutaneous
Transluminal Angioplasty (PTA) adalah suatu tindakan pelebaran pembuluh darah yang
mengalami penyempitan (stenosis) dengan menggukan balon kateter. Berdsarkan penelitian,
angioplasty pada pasien dengan lesi stenosis mencapai keberhasilan 94% yang diukur dari
peningkatan diameter aorta, penurunan perbedaan tekanan darah, dan penurunan tekanan darah.
Pasien yang berhasil dengan angioplasty juga mengalami perbaikan gejala. Stenosis arteri renalis
paling baik diterapi dengan PTA. Vascular stent dilakukan pada lesi segmen panjang, lesi ostial,
perbaikan stenosisa yang tidak komplit, dan diseksi berefek baik dan efektif. Operasi radikal
untuk aneurisma parsthorakalis direkomendasikan jika terapi paliatif gagal mencegah aneurisma
atau untuk meminimalisir resiko pembedahan nantinya. (1,2,8)

X.Komplikasi

Derajat keparahan Takayasu arteritis menurut Ishikawa dilihat dari adanya komplikasi
antara lain; retinopati, hipertensi, aneurisma, dan aorta regurgitasi, yaitu : (1)

13
Tabel 4. Klasifikasi klinis takayasu arteritis menurut Ishikawa (1,6)

Komplikasi hipertensi pada penyakit ini terjadi pada 50-60% kasus, tetapi susah untuk
dikenali karena susahnya meraba nadi pada lengan. Hipertensi terjadi karena terjadi stenosis
arteri renal dan tanda hemodinamik yang didapat karena coarctasio aorta, tetapi penurunan
distensibilitas dan penurunan reaksi baroreseptor juga ikut berkontribusi. Komplikasi mayor
lainnya dari arteritis Takayasu adalah gagal jantung. Gagal jantung terjadi pada 28 % kasus
sebagai akibat dari hipertensi sistemik, aorta regurgitasi. Keterlibatan arteri koroner dapat
menyebabkan angina atau infark myocard. Aneurisma aorta dapat terjadi karena ketika terdapat
kerusakan dari jaringan penunjang fibrosa terjadi maka terjadi pelemahan dinding aorta untuk
dilatasi. Aneurisma itu sendiri didefinisikan sebagai dilatasi local dari aorta dan percabangannya
yang dapat berbentuk sakular atau fusiform. (1,3,7)

Bagan 1. Persentase morbiditas pada Takayasu arteritis di USA (7)

14
XI. Prognosis

Karena penyakit Takayasu tergolong penyakit yang jarang, data mortalitas dan mobiditas
sangat terbatas. Menurut National Institutes of Health (NIH) dari studi 60 pasien dengan
Takayasu arteritis memperlihatkan tingkat mortalitas sebanyak 3%. Data ini sama dengan data
dari Jepang dan Cina Studi NIH yang sama memperlihatkan terdapat 20% pasien mempunyai
penyakit dengan monofasik yang dapat sembuh sendiri, mereka tidak memerlukan terapi
immunosupresif. 80% pasien sisanya yang tidak mempunyai monofasik penyakit mengalami
satu kali eksaserbasi, dengan terapi imunosupresi didapatkan hasil remisi 60%. Setengah dari
60% ini mengalami relaps setelah terapi imunosupresi diberhentikan. (1,7)

Morbiditas pasien dengan Takayasu arteritis berhubungan dengan iskemi dan hipertensi
serta gagal jantung, transient ischemic attack, stroke, dan gangguan penglihatan diseksi aorta
kronik derajat ringan dapa menyebabkan nyeri dada selama bertahun-tahun. Pada umumnya
morbiditas berdasarkan keparahan dari lesi dan komplikasinya. (1)

15
BAB III

KESIMPULAN

1. Takayasu arteritis tergolong penyakit yang jarang terjadi, terutama mengenai perempuan
pada sekitar umur 15 -30 tahun, dan distribusi terutama di Negara Asia
2. Manifestasi klinis terdiri dari dua fase yaitu fase awal (prepulseless) dimana hanya terdapat
gejala sistemik dan fase akhir (pulseless atau oklusi) yang sudah menimbulkan gejala
sekunder akibat dari penyempitan dan tersumbatnya pembuluh darah arteri.
3. Diagnosis ditegakkan dengan kriteria ACR tahun 1990, dan angiografi tetap standar emas
untuk diagnosis.
4. Empat komplikasi yang paling penting adalah retinopati, hipertensi sekunder, aorta
regurgitasi dan pembentukan aneurisma. Empat komplikasi ini mempengaruhi terapi dan
prognosi dari penyakit.
5. Terapi terapi adalah untuk mengkontrol inflamasi aktif dan mencegah kerusakan vaskular
lebih lanjut. Terapi dosis tinggi dengan kortikosteroid adalah terapi inisial yang
dipertahankan sampai pasien mencapai fase remisi. Apabila pasien tidak tahan dengan
kortikosteroid, digunakan obat-obat sitotoksik.
6. Terapi bedah diindikasikan untuk mengkoreksi hipertensi renovaskular, indikasi lainnya
memperbaiki cerebral, memperbaiki aorta/arteri, dan memperbaiki aorta regurgitasi, dan
aneurisma. Dilakukan pada fase remisi dimana tidak terdapat aktif inflamasi. Dapat
dilakukan PTA, vascular stent dan operasi radikal untuk aneurisma.

16
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. S L Johnston, R J Lock and M M Gompels. British Medical Journal: Takayasu arteritis a


review. Journal Clinical Pathoology 2015 vol 55: 481-486. Available at
http://jcp.bmjjournals.com/content/55/7/481.full.html. Accessed November 14th , 2019.
2. Braunwald. Heart disease: A Textbook of Cardiovaskular Medicine. 1997. W.B.
Saunders Company, Philadelphia: 1546, 1572-1573.
3. Gadolinium-enhanced Three-dimensional MR Angiography of Takayasu Arteritis. May
2014 RadioGraphics, 24, 773-786.
4. Naofumi Matsunaga, Kunniaki Hayashi, etc. Takayasu arteritis: Protean Radiologic
Manifestations and Diagnostic.2013. Available at radiographics.rsna.org/content
/17/3/579.full.pdf Accessed on November 15, 2019
5. Lawrence M. Witmer, PhD. Clinical Anatomy of Aorta. Department of Biomedical
Sciences College of Osteopathic Medicine, Ohio University. Available at:
http://www.oucom.ohiou.edu/dbms-witmer/gs-rpac.htm. Accessed on November 15,
2019.
6. S. Vitthala. ISPUB, Takayasu Arteritis & Pregnancy: A Review. The Internet Journal of
Gynecology and Obstetrics. 2018 Volume 9 Number 2. Available
at:www.ispub.com/journal/...internet_journal_of_gynecology_and_obstetrics/.../volume_
6_number_2_6.html. Accessed on November 15, 2019
7. MM Ahmed. Emedicine: Takayasu Arteritis: Rheumatology. Available at
http://emedicine.medscape.com/article/332378-overview. accessed on November 16,
2019
8. The Johns Hopkins Vasculitis Center. Takayasu Arteritis. Available at
vasculitis.med.jhu.edu/typesof/takayasu.html. Accessed on November 15, 2019

17
18