Anda di halaman 1dari 18

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa

RSD MADANI Palu


Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako

LAPORAN/REFLEKSI KASUS

DISUSUN OLEH:

Yosia Kevin Poluan


N 111 18 059

PEMBIMBING:

dr. Patmawati P, M.Kes., Sp. KJ

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA
RSD MADANI PALU
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 28 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku : Kaili
Agama : Islam
Status perkawinan : Belum Menikah
Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jalan Sungai Bongka No21 A
Tanggal masuk RS : 26 November 2019
Tanggal Pemeriksaan : 5 Desember 2019

I. LAPORAN PSIKIATRI
A. RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama
Sulit tidur
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang laki-laki berusia 28 tahun datang ke RSD Madani Palu
diantar oleh keluarganya dengan keluhan sulit tidur. Keluhan dialami
semenjak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Penyebab sulit tidur
dikarenakan pasien mendengar suara bisikan yang menyatakan bahwa
ada yang ingin mencelakai orang tuanya sehingga pasien gelisah dan
sering mondar-mandir di dalam rumahnya. Pasien juga sering
mendengar bisikan-bisikan yang isinya berupa fitnah bahwa keluarga
pasien dituduh suka menonton film porno. Keluarga juga mengaku
bahwa pasien akhir-akhir ini gelisah, suka marah-marah, dan
membangkang, sehingga keluarga khwatir akan kondisi pasien.
2
Pasien juga mengaku berhalusinasi yaitu melihat seorang nenek
dan mengantarkan ke rumahnya sekitar 1 minggu yang lalu. Awalnya
pasien disuruh membeli cat oleh orang tuanya, namun ditengah jalan
pasien mengaku bertemu dengan nenek tersebut dan mengantarnya ke
rumahnya, namun pasien merasakan keganjilan dimana pasien merasa
hanya dia yang dapat melihat nenek tersebut, sedangkan orang-orang
disekitanya tidak dapat melihatnya. Pasien juga diberitahukan tempat
membeli cat oleh nenek tersebut dan pergi membeli cat di toko
tersebut. Namun keganjilan lain dirasakan pasien yaitu pasien merasa
di halang-halangi untuk pulang dari toko tersebut, walaupun tidak ada
cat yang dicari pasien disitu. Pasien juga merasakan ingin dicelakakan
oleh semua orang di jalan tersebut, yaitu dia seperti ingin ditabrak oleh
pengguna jalan lain. Pasien juga merasakan bahwa dia dapat
memindahkan bencana puting beliung ke daerah lain.
Sebelumnya pasien pernah dirawat pada tahun 2017 dengan
keluhan mengamuk, mencekik ibu pasien dan berkelahi dengan
ayahnya. Pasien juga menabrakkan mobilnya ke rumah. Keluarga
pasien juga mengaku bahwa pasien pernah berteriak-teriak sambil
membawa senjata tajam dan mengatakan seperti ada orang yang ingin
mencelakainya. Pasien mengaku telah merokok sejak SMA sampai
sekarang dan minum alkohol, yaitu bir dan anggur merah, dengan
dosis 2 botol dan pada saat-saat tertentu seperti ada pesta keluarga.
Pasien juga mengaku memakai zat stimulan yaitu dobel L, sebanyak
3x, ditawarakan temannya pada saat pertandingan sepak bola antar
kelas waktu SMA. Pasien juga mengaku mengkonsumsi narkotika
jenis sabu-sabu pada tahun 2016-2017 dengan frekuensi 2 minggu
sekali, dengan dosis sangat sedikit, yaitu seujung jari dengan harga 100
ribu rupiah. Saat ini pasien merasakan bisikan sudah mulai berkurang,
melihat hitam, dan pikirannya ada yang ingin mencelakainya.

3
3. Hendaya/disfungsi :
- Hendaya sosial (+)
- Hendaya pekerjaan (+)
- Hendaya pengggunaan waktu senggang (+)

4. Faktor stressor psikososial


Keluarga menduga bahwa pasien stress sejak dirinya putus kuliah
karena kekurangan biaya.

5. Riwayat Gangguan Sebelumnya


a) Riwayat Medis
b) Riwayat Medis
1) Infeksi pada otak (meningitis, encephalitis,
malaria cerebral dll) (-)
2) Penyakit Jantung (-)
3) Gangguan neurologi:
Trauma capitis (-)
Kejang (epilepsy) (-)
Tumor (-)
Stroke (-)
c) Riwayat penggunaan NAPZA, alkohol dan riwayat zat lainnya
a) NAPZA (+)
b) Merokok (+)
c) Alkohol (+)
d) Obat-obatan lainnya (+)

d) Riwayat Alkohol dan riwayat zat lainnya


Pasien mengaku telah merokok sejak SMA sampai sekarang dan
minum alkohol, yaitu bir dan anggur merah, dengan dosis 2 botol
dan pada saat-saat tertentu seperti ada pesta keluarga. Pasien juga
mengaku memakai zat stimulan yaitu dobel L, sebanyak 3x,
4
ditawarakan temannya pada saat pertandingan sepak bola antar
kelas waktu SMA. Pasien juga mengaku mengkonsumsi narkotika
jenis sabu-sabu pada tahun 2016-2017 dengan frekuensi 2 minggu
sekali, dengan dosis sangat sedikit, yaitu seujung jari dengan harga
100 ribu rupiah.

e) Riwayat Psikiatri :
Sebelumnya pasien pernah dirawat pada tahun 2017 dengan
keluhan mengamuk, mencekik ibu pasien dan berkelahi dengan
ayahnya. Pasien juga menabrakkan mobilnya ke rumah. Keluarga
pasien juga mengaku bahwa pasien pernah berteriak-teriak sambil
membawa senjata tajam dan mengatakan seperti ada orang yang
ingin mencelakainya. Namun pasien putus pengobatan sejak
september 2018.

6. Riwayat Kehdupan Pribadi


a) Riwayat Prenatal dan perinatal
Pasien lahir normal, cukup bulan, dirumah, dan dibantu
oleh bidan. Ibu pasien tidak pernah sakit berat selama kehamilan.
b) Riwayat masa kanak awal (1-3 tahun)
Pasien tumbuh normal seperti anak lainnya.
c) Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja awal (4-11 tahun)
Pasien diasuh oleh kedua orangtuanya, dimana
pertumbuhan dan perkembangan baik. Ibu pasien mengaku bahwa
pasien merupakan murid yang pintar dan sering dapat ranking I
baik di SD maupun SMP.
d) Riwayat Masa Remaja Akhir (12-18 tahun)
Pasien mulai mengenal kenakalan remaja, yakni merokok,
minum beraklkohol, dan memakai zat stimulan. Pasien juga mulai
berpacaran.

5
e) Riwayat Masa Dewasa (>18)
Sehari-hari pasien bekerja sebagai swasta dengan membantu usaha
keluarganya. Riwayat pendidikan terakhir pasien SMA. Pasien
berkuliah hanya sampai semester I dan putus kuliah karena
kekurangan biaya. Pasien beragama islam, dan aktif dalam membantu
pekerjaan orang tua. Pasien mempunyai mimpi untuk membalas budi
orang tua. Saat ini pasien merasakan bisikan sudah mulai berkurang,
melihat hitam, dan pikirannya ada yang ingin mencelakainya.

7. Riwayat Kehidupan Keluarga


Pasien merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari satu ibu
dan satu ayah. Hubungan dengan orang tua dan saudara baik, pasien
merasa bertanggung jawab terhadap saudara-saudaranya.

8. Situasi Sekarang
Pasien kooperatif saat dilakukan anamnesis, pasien menjawab
beberapa pertanyaan yang diajukan. Dan saat ini juga pasien sudah
dapat beraktivitas dengan normal di RSD Madani Palu.

9. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya


Pasien menyangkal bahwa dirinya sakit.

II. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT


Pemeriksaan Fisik:
 Tekanan Darah : 100/60 mmHg,
 Denyut Nadi : 88 x/menit, reguler
 Pernapasan : 20 x/menit
 Suhu : 36,6°C.
 Kepala : Normocepal
 Mata : Anemis (-/-), ikterik (-/-),

6
 Leher : Pembesaran KGB (-/-)
 Dada : Jantung : Bunyi Jantung I dan II regular, murmur
(-).Paru : Bunyi paru vesikuler (+/+), Rh (-/-), wh
(-/-),
 Perut : Kesan datar, ikut gerakan nafas, bising usus (+)
 Anggota Gerak : Akral hangat, oedem pretibialis (-)

Status Lokalis
 GCS : E4V5M6
Status Neurologis
 Meningeal Sign : (-)
 Refleks Patologis : (-/-)
 Hasil Pemeriksaan nervus cranial : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Pemeriksaan sistem motorik : Normal
 Kordinasi gait keseimbangan : Normal
 Gerakan-gerakan abnormal : (-)

III. STATUS MENTAL


1. Deskripsi Umum
a. Penampilan : Tampak seorang laki-laki memakai baju kaos
berwarna hitam dan celana panjang jeens berwarna biru. Tinggi
badan sekitar 170 cm, rambut lurus, cukup rapi, perawatan diri
baik.
b. Kesadaran : compos mentis
c. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Tenang saat pemeriksaan dan
bersedia diwawancara
d. Pembicaraan : spontan, intonasi jelas, artikulasi baik. jawaban
kurang sesuai dengan pertanyaan.
e. Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif

7
2. Keadaan Afektif, Perasaan dan Empati:
1. Mood : hipertimia
2. Afek : luas
3. Keserasian : Serasi
4. Empati : tidak dapat diraba rasakan

3. Fungsi Intelektual (Kognitif)


1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan :Sesuai
dengan pendidikannya
2. Daya konsentrasi : Baik
3. Orientasi :
- Waktu : Baik
- Tempat : Baik
- Orang : Baik
4. Daya ingat:
- Segera : Baik
- Jangka pendek : Baik
- Jangka panjang : Baik
5. Pikiran abstrak : Baik
6. Bakat kreatif : Tidak ada
7. Kemampuan menolong diri sendiri : Baik
4. Gangguan Persepsi
a. Halusinasi :
Halusinasi auditorik (+) (mendengar bisikan bahwa keluarganya
akan dicelakakan, serta mendengar bisikan bahwa keluarganya
sering menonton film porno), Visual (+) melihat bayangan hitam,
dan melihat serta berkomunikasi dengan nenek-nenek yang tidak
dapat dilihat oleh orang lain.
b. Ilusi : Tidak ada
c. Depersonalisasi : Tidak ada

8
d. Derealisasi : ada, yaitu pasien merasakan semua orang
dijalan waktu dia sedang membeli cat ingin menabrak dirinya.
5. Proses Berpikir
1. Arus pikiran:
a. Produktivitas : inkoheren
b. Kontiniuitas : irelevan
c. Hendaya berbahasa : tidak ada
2. Isi pikiran :
a. Preokupasi : tidak ada
b. Gangguan isi pikiran : ada, yaitu waham pasien merasakan ada
orang yang ingin mencelakakan dirinya.
6. Pengendalian Impuls baik selama pemeriksaan
7. Daya Nilai
1. Norma sosial : Baik
2. Uji daya nilai : Baik
3. Penilaian realitas : Terganggu
8. Tilikan (insight)
Derajat 1: Pasien menyangkal bahwa dirinya sakit dan memerlukan
pengobatan
9. Taraf dapat dipercaya :
Dapat dipercaya.

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


 Pasien masuk di RSD Madani dengan keluhan susah tidur
 Keluhan pasien dialami semenjak pasien lulus SMA dan memberat
sejak 2017 lalu, lalu pasien berobat di RSD Madani, namun pututs
pengobatan sejak tahun 2018.
 Keluarga menduga bahwa pasien mulai stress pada saat putus
kuliahPasien merasakan adanya halusinasi audiorik berupa (mendengar
bisikan bahwa keluarganya akan dicelakakan, serta mendengar bisikan
bahwa keluarganya sering menonton film porno), Visual (+) melihat
9
bayangan hitam, dan melihat serta berkomunikasi dengan nenek-nenek
yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.
 Pasien memiliki waham paranoid berupa pasien merasa bahwa orang
lain berusaha untuk mencelakai dirinya.
 Pasien memiliki derealisasi yaitu yaitu pasien merasakan semua orang
dijalan waktu dia sedang membeli cat ingin menabrak dirinya.
 Saat pemeriksaan status mental, terlihat pasien dapat berkomunikasi
kooperatif terhadap pertanyaan pemeriksa. Terdapat gangguan persepsi
(halusinasi auditorik, visual, derealisasi dan waham paranoid). Pasien
juga memiliki proses pikir: produktivitas: inoheren, kontinuitas:
irelevan.

V. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL

AKSIS I :

1. Berdasarkan alloanamnesis didapatkan ada gejala klinik bermakna


dan menimbulkan penderitaan (distress) berupa sulit tidur,
mengamuk, gelisah dan menimbulkan (disabilitas) berupa hendaya
yaitu hendaya waktu senggang, social dan pekerjaan dapat
disimpulkan bahwa pasien mengalami Gangguan Jiwa
2. Pada pasien terdapat hendaya berat dalam menilai realita, yaitu
terdapat halusinasi auditorik dan visual, derealisasi, serta waham
paranoid sehingga pasien didiagnosa Sebagai Gangguan Jiwa
Psikotik.
3. Berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya dan pemeriksaan status
internus, tidak adanya kelainan yang mengindikasi gangguan medis
umum yang menimbulkan gangguan fungsi otak serta dapat
mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita pasien ini, namun
pasien memilki riwayat penggunaan alkohol dan napza sehingga
pasien didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Psikotik Organik

10
4. Berdasarkan gambaran kasus pada pasien ini mengalami suatu
gangguan psikotik. Dimana gejala tersebut sejak kurang lebih 2
tahun yang lalu. Pasien juga memiliki halusinasi auditorik dan
visual, derealisasi serta waham paranoid dan waham menetap
lainnya Berdasarkan PPDGJ III memenuhi kriteria 1 gejala yaitu
delusional perception yaitu pasien merasakan melihat dan
berkomunikasi bahkan mengantar seorang nenek yang dia rasakan
tidak dapat dilihat orang lain selain dirinya serta adanya waham
menetap tak wajar yaitu pasien merasakan mampu memindahkan
bencana putting beliung yang harusnya di Palu ke Mamuju,
sehingga diagnosis pasien yaitu Skizofrenia
5. Berdasarkan kriteria diagnostic PPDGJ III, pasien memiliki kriteria
diagnostic skizofrenia paranoid dimana halusinasi yaitu mendengar
suara bahwa keluarga pasien akan dicelakakan serta mendengar
suara-suara yang menceritakan keluarga pasien suka menonton
film porno, dan pasien memiliki waham paranoid (kejar) berupa
pasien meyakini orang lain ingin mencelakakan dirinya dan
keluarga, sehingga pasien didiagnosis Skizofrenia Paranoid (
F20.0)

AKSIS II

Tidak ada diagnosis Aksis II


AKSIS III

Tidak ada diagnosis Aksis III

AKSIS IV

Masalah berkaitan dengan pendidikan


AKSIS V

Gaf scale 60-51: gejala sedang (moderate), disabilitas sedang

11
VI. DAFTAR PROBLEM
(a) Organobiologik
Adanya gangguan pada neurotransmitter sehingga pasien ini
membutuhkan psikofarmaka
(b) Psikologi
- Ditemukan adanya masalah/stressor psikososial sehingga
pasien memerlukan psikoterapi
(c) Sosiologi
Ditemukan adanya hendaya dalam bidang social, hendaya dalam
bidang pekerjaan dan hendaya penggunaan waktu senggang
sehingga pasien butuh sosioterapi.

VII. DIAGNOSIS BANDING


1. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Pengguaan Zat Multiple dan
Penggunaan Zat Psikoaktif lainnya/ Psikotik/ Lir-Skizofrenia
(F19.50)
2. Gangguan skizofrenia lainnya (f20.8)

VIII. RENCANA TERAPI


 Farmakologi
Antipsikotik golongan tipikal : stelosi 2 mg
Golongan antikolinergik : Trihexyphenidyl 1 mg 1-0-1
Diazepam 2 mg 0-0-1
 Non-Farmakologi
Melakukan pendekatan psikososial, seperti :
A. Terapi perilaku
B. Terapi suportif berorientasi tilikan
IX. PROGNOSIS
Prognosis pasien secara menyeluruh adalah bonam. Namun prognosis
tersebut dipengaruhi oleh faktor pendukung yaitu
12
- Tidak ada factor genetik
- Adanya dukungan dari keluarga
Dan factor penghambat yaitu
- Terkena pada usia muda
- Adanya gangguan organic
- Belum menikah
- Onset kronik

X. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan pasien serta
menilai efektifitas pengobatan yang diberikan dan kemungkinan
munculnya efek samping obat yang diberikan.

XI. PEMBAHASAN/TINJAUAN PUSTAKA


Untuk menegakkan diagnosis schizophrenia diperlukan pedoman
diagnostik sebagai berikut. :
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam
atau kurang jelas) :
A. Thought
- Thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran
ulangan, walaupun isi sama, namun kualitasnya berbeda
atau
- Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari
luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya
diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal) atau
- Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga
orang lain atau umum mengetahuinya.
B. Delusion

13
- Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh
suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi
oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya
dan pasrah terhadap suatu kekuatan tertentu dari luar; (tentang
“dirinya“ : secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh atau
anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan
khusus);
- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tak wajar,
yang bermakna, sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat
mistik atau mukjizat;
C. Halusinasi auditorik:
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus
terhadap perilaku pasien atau
- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri
(diantara berbagai suara yang berbicara) atau
- jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian
tubuh
D. Waham-waham menetap jenis lainnya
Waham menetap jenis lainnya, yang menurut
budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang
mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau
berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).
Tidak mungkin ada di dunia  waham bizarre (ex. bisa
mengendalikan cuaca)

2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada
secara jelas :
14
1) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila
disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang
setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas,
ataupun disertai oleh ide – ide berlebihan (over loaded
ideas) yang menetap, atau yang apabila terjadi setiap hari
selama berminggu – minggu atau berbulan – bulan terus
menerus;
2) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami
sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau
pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme;
3) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah
(excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau
fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor; Furol
diatasnya gaduh gelisa
4) Gejala-gejala “negatif”, seperti sangat apatis, bicara yang
jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak
wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari
pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi
harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika
3. Adanya gejala – gejala khas tersebut diatas telah berlangsung
selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk
setiap fase nonpsikotik prodormal);
4. Harus ada suatu perbuatan yang konsisten dan bermakna dalam
mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku
pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya
minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam
diri sendiri (self absorbed attitude), dan penarikan diri secara
sosial.

Adapun menurut PPDGJ III,skizofrenia dibagi menjadi :

15
Adapun klasifikasi skizofrenia yaitu:
A. Skizofrenia paranoid (f20.0)
Tipe ini paling stabil dan paling sering. Awitan subtype ini
biasanya terjadi lebih belakangan bila dibandingkan dengan
bentuk-bentuk skizofrenia lain. Gejala terlihat sangat konsisten,
pasien dapat atau tidak bertindak sesuai dengan wahamnya.pasien
sering tak kooperatif dan sulit untuk kerjasama, mungkin agresif,
marah, atau ketakutan, tetapi pasien jarang sekali memperlihatkan
perilaku disorganisasi. Waham da halusinasi menonjol sedangkan
afek dan pembicaraan hamper tidak terpengaruh.
B. Skizofrenia disorganisasi (f20.1)
Gejala-gejalanya adalah :
(1) Afek tumpul, ketolol-tololan atau tak serasi
(2) Sering inkoheren
(3) Waham tak sistematis
(4) Perilaku disorganisasi seperti menyeringai dan menerisme
C. Skizofrenia katatonik (f20.2)
Pasien mempunyai paling sedikit satu dari (atau kombinasi)
beberapa bentuk katatonia :
- Stupor katatonik atau mutisme yaitu pasien tidak berespons
terhadap lingkungan atau orang. Pasien menyadari hal-hal yang
sedang berlangsung di sekitarnya
- Negativism katatonik yaitu pasien melawan semua perintah-
perintah atau usaha-usaha untuk menggerakkan fisiknya
- Rigiditas katatonik yaitu pasien secara fisik sangat kaku atau
rijit
- Postur katatonik yaitu pasien mempertahankan posisi yang
tidak biasa atau aneh
- Kegembiraan katatonik yaitu pasien sangat aktif dan gembira
D. Skizofrenia tak terinci (f20.3)

16
Pasien mempunyai halusinasi, waham, dan gejala-gejala psikoaktif
yang menonjol (misalnya kebingungan) atau memenuhi kriteria
skizofrenia tetapi dapat digolongkan pada tipe paranoid, katatonik,
hebefrenik, residual, dan depresi pasca skizofrenia.
E. Skizofrenia residual (f20.5)
Pasien dalam keadaan remisi dari keadaan akut tetapi masih
memperlihatkan gejla-gejala residual (penarikan diri secara social,
afek datar atau tak serasi, perilaku eksentrik, asosiasi melonggar,
atau pikiran tak logis)
F. Depresi pasca skizofrenia (f20.4)
Suatu episode depresif yang mungkin brlangsung lama dan timbul
sesudah suatu serangan penyakit skizofrenia.beberapa gejala
skizofrenia masih ada tapi tidak mendominasi.
G. Skizofrenia simpleks (f20.6)
Skizofrenia simpleks adalah suatu diagnosis yang sulit dibuat
secara meyakinkan karena bergantung pada pemastian
perkembangan yang berlangsung perlahan, progresif darigejala
“negative” yang khas dari skizofrenia residual tanpa adanya
riwayat halusinasi, waham atau manifestasi lain tentang adany
suatu episode psikotik sebelumnya, dan disertai dengan perubahan-
perubahan yang bermakna pada perilaku perorangan, yang
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok,
kemalasan, dan penarikan diri secara social.

H. Skizofrenia lainnya (f20.8)


(5) Termasuk : skizofrenia senestopatik, gangguan skizofreniform,
ytt
(6) Termasuk : skizofrenia siklik, skizofrenia laten, gangguan lir-
skizofrenia akut

17
DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim R, 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas
dari PPDGJ Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta.
2. Kaplan H.I., Sadok B.J. 2010. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Edisi 2. EG
C : Jakarta
3. Elvira S, Hadisukanto G, 2013. Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

18