Anda di halaman 1dari 10

A.

Definisi
Dismenore atau nyeri menstruasi merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan
oleh wanita usia reproduktif. Nyeri atau rasa sakit yang siklik bersamaan dengan
menstruasi ini sering dirasakan seperti rasa kram pada perut dan dapat disertai dengan rasa
sakit yang menjalar ke punggung, dengan rasa mual dan muntah, sakit kepala ataupun
diare. Oleh karena itu, istilah dismenore hanya dipakai jika nyeri menstruasi tersebut
demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan
pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari untuk beberapa jam atau beberapa hari
(Winknjosastro, 2007). Dismenore (dysmenorrhoea) berasal dari bahasa Yunani, diman
“dys” bearti gangguan/nyeri hebat/ abnormalitas, “meno” berati bulan dan “rrhea” berarti
aliran, sehingga dismenore (dysmenorrhoea) dapat diartikan dengan gangguan aliran darah
menstruasi.
Dismenore adalah rasa ketidaknyamanan selama hari pertama atau kedua menstruasi
yang sangat umum terjadi (Perry, et al., 2010). Menurut Bobak, et al. (2005), dismenore
adalah menstruasi yang menimbulkan nyeri dan merupakan salah satu masalah ginekologi
yang paling umum dialami wanita dari berbagai tingkat usia. Menurut Hendrik (2006),
dismenore adalah nyeri atau kram pada daerah perut yang mulai terjadi 24 jam sebelum
terjadinya perdarahan menstruasi dan dapat bertahan selama 24-36 jam, meskipun pada
umumnya hanya berlangsung selama 24 jam pertama saat terjadi menstruasi. Sedangkan
menurut Andrews (2010), dismenore adalah menstruasi yang disertai dengan rasa nyeri.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dismenore adalah menstruasi yang disertai rasa nyeri
atau kram pada daerah perut, terjadi pada hari pertama menstruasi, dan merupakan masalah
ginekologi yang umum terjadi pada seorang wanita.
Kejadian dismenore cukup tinggi diseluruh dunia. Menurut data WHO, rata-rata
insidensi terjadinya dismenore pada wanita muda antara 16,8 – 81%. Rata-rata di
negaranegara Eropa dismenore terjadi pada 45 -97% wanita. Dengan prevalensi terendah
di Bulgaria (8,8%) dan tertinggi mencapai 94% di negara Finlandia (Latthe, 2006). Dalam
suatu data review Di Amerika Serikat, terjadi kerugian ekonomi hingga mencapai 2 milliar
dolar Amerika dan berkurangnya produktifitas pekerjaan akibat hilangnya jam kerja
sampai 600 juta jam kerja hilang yang diakibat oleh dismenore (Zhu X, et al. 2009).
Menurut Singh (2008), di India ditemukan diantara wanita mahasiswa 31,67% mengalami
dismenore dan 8,68% diantaranya tidak dapat mengikuti perkuliahan akibat gangguan
menstruasi ini.
Menurut Ernawati (2010), di Semarang yang dilakukan survey pada mahasiswa
ditemukan kejadian dismenore ringan sebanyak 18%, dismenore sedang 62% dan
dismenore berat 20%. Dimana hal ini akan dapat mengganggu aktifitas dan kegiatan
belajar sehingga akan dapat mengganggu prestasi belajar mahasiswa. Hal ini dibuktikan
dalam suatu penelitian, dimana 71% dari 100 wanita usia 15 – 30 tahun yang mengalami
dismenore, 5,6% diantaranya tidak dapat masuk sekolah atau tidak dapat bekerja, serta
ditemukan 59,2% mengalami kemunduran produktifitas kerja yang diakibatkan oleh
dismenore (Novia, 2006).
B. Kasifikasi Dismenore
Dismenore dibagi atas dua bagian berdasarkan kelainan ginekologi, antara lain :
a. Dismenore Primer
Merupakan nyeri haid yang tidak terdapat hubungan dengan kelainan
ginekologi, atau kelainan secara anatomi. Kejadian dismenore primer ini tidak
berhubungan dengan umur, ras maupun status ekonomi. Namun derajat nyeri yang
dirasakan serta durasi mempunyai hubungan dengan usia saat menarche, lamanya
menstruasi, merokok dan adanya peningkatan Index Massa Tubuh. Sebaliknya gejala
dismenore primer ini semakin berkurang jika dikaitkan dengan jumlah paritas.
Menurut Wong, et al. (2009), dismenore primer secara langsung berkaitan dengan
terjadinya ovulasi sebelumnya serta ada hubungan antara kontraksi otot uterus dan
sekresi prostaglandin.
b. Dismenore Sekunder
Dismenore sekunder adalah dismenore yang disebabkan karena adanya masalah
patologis di rongga panggul. Nyeri menstruasi yang disebabkan oleh kelainan
ginekologi atau kelainan secara anatomi. Gejala dismenore sekunder ini dapat
ditemukan pada wanita dengan endometriosis, adenomiosis, obstruksi pada saluran
genitaia, dan lain-lain. Sehingga pada wanita dengan dismenore sekunder ini juga
dapat ditemukan dengan komplikasi lain seperti dyspareunia, dysuria, perdarahan
uterus abnormal, infertilitas dan lain-lain.

C. Penyebab Dismenore
Penyebab dismenore primer karena terjadi kontraksi yang kuat atau lama pada
dinding rahim, hormon prostaglandin yang tinggi dan pelebaran servik saat mengeluarkan
darah menstruasi. Adanya kontraksi otot uterus (miometrium) yang terlalu kuat ketika
mengeluarkan darah menstruasi (peluruhan lapisan endometrium uteri, bekuan darah,
selsel epitel dan stroma dari dinding uterus dan vagina, cairan dan lendir dari dinding
uterus) sehingga menimbulkan ketegangan otot saat berkontraksi dan terjadilah nyeri.
Dismenore dapat juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan psikologis.
Menurut Celik, et al. (2009), vasopresin ikut berperan dalam meningkatkan
kontraktilitas uterus dan menyebabkan nyeri iskemik akibat dari vasokonstriksi pembuluh
darah di uterus. Dismenore terjadi pada sebagian remaja yang disebabkan oleh produksi
prostaglandin pada endometrium dalam jumlah yang berlebihan selama fase luteal dari
siklus menstruasi. Prostaglandin F2 alfa yang disekresi berlebihan akan berdifusi ke dalam
jaringan endometrium yang selanjutnya meningkatkan amplitudo dan frekuensi kontraksi
otot uterus dan menyebabkan vasospasme arteriol uterus, sehingga mengakibatkan iskemia
uterus dan hipoksia jaringan uterus serta kram abdomen bawah yang bersifat siklik.

D. Gejala Dismenore
Gejala yang sering terjadi pada saat dismenore adalah kram atau spasme intermiten
yang biasanya berpusat di area suprapubik. Gejala lainnya berupa nyeri yang menyebar ke
area punggung, kaki dan pinggang, tidak nafsu makan, lemas, pusing, depresi, iritabilitas,
gugup dan mengantuk. Gejala sistemik yang dapat terjadi pada saat dismenore adalah
mual, muntah, diare, demam dan nyeri kepala. Menurut Anurogo (2008) gejala-gejala
umum dismenore primer adalah nyeri perut atau kram, malaise, fatigue, mual dan muntah,
diare, nyeri punggung bawah, sakit kepala, vertigo, cemas, gelisah dan kolaps. Menurut
Taber (2005) nyeri perut dapat mulai beberapa jam sampai satu hari mendahului keluarnya
darah menstruasi. Nyeri biasanya paling kuat sekitar 12 jam setelah mulai keluarnya darah
menstruasi, saat pelepasan endometrium maksimal. Dismenore juga memiliki ciri khas
yaitu nyeri pelvis atau perut bagian bawah yang dirasakan saat menstruasi dan berakhir 8-
72 jam, nyeri punggung, nyeri paha dimedial atau anterior, sakit kepala, diare, mual,
muntah serta penurunan konsentrasi.

E. Dampak Dismenore Pada Remaja


Dismenore membuat wanita tidak bisa beraktivitas secara normal dan memerlukan
resep obat. Keadaan ini menyebabkan menurunnya kualitas hidup seorang wanita, tidak
dapat berkonsentrasi dalam belajar, motivasi belajar menurun karena nyeri yang dirasakan.
Menurut Nathan (2005), menyatakan bahwa 30-60% wanita mengalami dismenore, dan 7-
15% tidak dapat pergi ke sekolah atau bekerja. Sedangkan pendapat Woo dan Mc Eneaney
(2010), dismenore mempengaruhi kualitas hidup sebesar 40-90% wanita, dimana satu dari
tiga belas wanita yang mengalami dismenore tidak hadir bekerja dan sekolah selama 1-3
hari perbulan.

F. Manajemen Dismenore
1. Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis pada penanganan dismenore adalah dengan pemberian
obat-obatan dan suplemen. Obatobatan yang paling sering digunakan antara lain Non
Steroid Anti Inflamation Drug (NSAID) yang bekerja dengan menghambat aktivitas
enzim siklooksigenase sehingga produksi dari prostaglandin berkurang, hal ini akan
menghambat pembentukan prostaglandin selama 2-3 hari dalam siklus menstruasi.
COX –II Inhibitor yang juga bekerja selektif terhadap penghambatan biosintesis
prostaglandin juga dapat digunakan untuk menangani nyeri haid. Pemakain
kontrasepsi hormonal juga dapat mengurangi nyeri haid. Pemberian Vitamin B1,
Magnesium, Vitamin E, juga menunjukkan efek yang dapat mengurangi nyeri haid.
2. Terapi Non Farmakologis
Terapi non farmakologi merupakan proses fisiologis tubuh, Menururt Bobak,
et al. (2005) ada beberapa cara untuk meredakan dismenore yaitu dengan kompres
hangat, mandi air hangat, massase, distraksi, latihan fisik/exercise, tidur cukup, diet
rendah garam, dan peningkatan penggunaan diuretik alami seperti daun seledri,
semangka. Menurut Nathan (2005) terapi untuk mengatasi dismenore adalah mandi
air hangat, meletakkan botol hangat diperut, exercise/latihan dan menghindari
merokok. Menurut French (2005) modifikasi gaya hidup dalam mengatasi dismenore
adalah dengan diet rendah lemak, exercise, menghentikan merokok, pemberian
suplemen, pengobatan herbal, akupunktur, akupresur, TENS (Transcutaneous
Electrical Nerve Stimulation) dan terapi horizon. Menurut Woo dan Mc Eneaney
(2010) menyatakan tentang strategi baru dalam mengatasi dismenore yaitu dengan
pemberian vitamin B1, B6, E, magnesium, omega 3, exercise, akupunktur dan
pengobatan tradisional Cina.
Terapi non farmakologi pada dismenore menurut Taber (2005) dapat
dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan berserat dan perbanyak minum air
putih, mengurangi makanan yang mengandung garam, kafein dan coklat, menambah
makanan yang mengandung kalsium, kompres hangat pada bagian yang kram, mandi
air hangat, posisi menungging sehingga uterus tergantung ke bawah, dan relaksasi.
a. Air
Air merupakan komponen yang sangat penting bagi tubuh. Air menyusun
60-70% dari seluruh tubuh, dengan kebutuhan cairan perhari 50 ml/Kg BB/hari
atau minimal delapan gelas (2000 ml) perhari. Komponen terbesar dari tubuh
adalah air. Air adalah pelarut semua zat terlarut dalam tubuh baik dalam bentuk
suspensi maupun larutan. Menurut Muhammad (2011) terapi air dapat mengatasi
berbagai masalah kesehatan termasuk dismenore. Terapi minum air bertujuan
untuk menjaga kesehatan dan keutuhan setiap sel dalam tubuh; aliran darah lebih
mudah mengalir, melumasi dan melidungi persendian, melarutkan dan membawa
nutrisi, oksigen dan hormon ke seluruh sel tubuh; melarutkan dan mengeluarkan
zat sampah sisa metabolisme dan elektrolit yang berlebihan; sebagai katalisator
dalam tubuh; menghasilkan tenaga; menstabilkan suhu tubuh dan meredam
benturan bagi organ vital di dalam tubuh.
Fungsi air bagi tubuh adalah membentuk sel-sel baru, memelihara dan
mengganti sel-sel yang rusak; melarutkan dan membawa nutrisi, oksigen dan
hormon ke seluruh sel tubuh yang membutuhkan; melarutkan dan mengeluarkan
sampah dan racun dari dalam tubuh; katalisator dalam metabolisme tubuh;
pelumas bagi sendi dan otot; menstabilkan suhu tubuh dan meredam benturan
bagi organ vital tubuh. Menurut Taber (2005) cara yang dapat dilakukan untuk
mengatasi dismenore salah satunya adalah dengan perbanyak minum air putih.
Menurut Batmanghelidj (2007) menyatakan bahwa minum air dapat
mengurangi nyeri menstruasi, air dapat mengencerkan darah dan mencegah
penggumpalan darah ketika beredar ke seluruh tubuh serta sumber utama energi
bagi tubuh. Sedangkan menurut Bobak, et al. (2005) penggunaan diuretik alami
seperti daun seledri, semangka dapat mengatasi dismenore. Penggunaan diuretik
alami ini diharapkan dengan seringnya berkemih maka tubuh akan merespon
terhadap keseimbangan cairan tubuh, merangsang minum air yang banyak
sehingga aliran darah menjadi lancar.
b. Exercise
Exercise atau latihan fisik merupakan salah satu terapi non farmakologis
yang lebih aman karena menggunakan proses fisiologis. Menurut Harry (2007)
exercise dapat menghasilkan endorphin. Endorphin berfungsi sebagai obat
penenang alami sehingga dapat menimbulkan rasa nyaman. Kadar endorphin
dalam tubuh yang meningkat dapat mengurangi rasa nyeri pada saat kontraksi.
Exercise dapat meningkatkan kadar endorphin 4-5 kali di dalam darah, sehingga
semakin banyak melakukan exercise maka akan semakin tinggi pula kadar
endorphin di dalam darah.
Menurut Jhamb, et al. (2008) latihan fisik memiliki hubungan yang
signifikan dengan penurunan dengan penurunan tingkat keletihan otot. Remaja
dengan dismenore akan mengalami kram terutama pada abdomen bawah yang
bersifat siklik disebabkan karena kontraksi yang kuat dan lama pada dinding
uterus sehingga terjadi kelelahan otot dan physical inactivity maka diperlukan
exercise untuk menghilangkan kram tersebut.
Salah satu cara latihan fisik atau exercise untuk menurunkan dismenore
adalah dengan melakukan abdominal stretching exercise (Thermacare, 2010).
Abdominal stretching exercise merupakan suatu latihan peregangan otot terutama
pada bagian perut yang dilakukan selama 10 menit. Latihan-latihan ini dirancang
untuk meningkatkan kekuatan otot, daya tahan dan fleksibilitas otot, sehingga
diharapkan dapat menurunkan nyeri menstruasi atau dismenore. Abdominal
stretching exercise merupakan gabungan dari enam latihan yang terdiri cat
stretch, lower trunk rotation, hip stretch, abdominal strengthening (curl up), lower
abdominal strengthening dan the bridge position.
Stretching (peregangan) adalah aktivitas fisik yang sederhana. Manfaat
stretching menurut Alter (2008) adalah dapat meningkatkan kebugaran,
mengoptimalkan daya tangkap, meningkatkan mental dan relaksasi fisik,
meningkatkan perkembangan kesadaran tubuh, mengurangi ketegangan otot
(kram), mengurangi nyeri otot dan mengurangi rasa sakit pada saat menstruasi
(dismenore). Sedangkan menurut Anderson (2010) manfaat melakukan
stretching adalah mengurangi ketegangan otot, memperbaiki peredaran darah,
mengurangi kecemasan, perasaan tertekan, dan kelelahan, memperbaiki
kewaspadaan mental, mengurangi risiko cedera, mempermudah pekerjaan,
memadukan pikiran ke dalam tubuh serta membuat perasaan lebih baik.
Peregangan otot atau stretching merupakan suatu latihan untuk memelihara
dan mengembangkan fleksibilitas atau kelenturan. Latihan stretching juga dapat
memperbaiki postur tubuh dan menghindari rasa sakit yang terjadi pada leher,
bahu dan punggung.
Tujuan dari stretching adalah membantu meningkatkan oksigenasi atau
proses pertukaran oksigen dan karbohidrat di dalam sel serta menstimulasi aliran
drainase sistem getah bening, sehingga dapat meningkatkan kelenturan otot
dengan cara mengembalikan otot-otot pada panjangnya yang alamiah dan dapat
memelihara fungsinya dengan baik serta memperbaiki elastisitas atau fleksibilitas
jaringan tubuh serta mengurangi kram pada otot. Menurut Senior (2008) gerakan
stretching hendaknya dilakukan secara sistematis dari otot kecil ke otot besar.
Stretching dilakukan selama 10-15 menit, dimana setiap gerakan dilakukan
selama 5-10 detik atau 2 kali dalam 10 hitungan.
Langkah-langkah abdominal stretching exercise:
1. Cat Stretch
Posisi awal: tangan dan lutut di lantai, tangan di bawah bahu, lutut di bawah
pinggul, kaki rileks, mata melihat ke lantai.
Latihan Cat stretch dilakukan sebanyak 3 kali.
a) Punggung dilengkungkan, perut digerakkan ke arah lantai senyaman
mungkin. Tegakkan dagu dan mata melihat ke lantai. Tahan selama 10
detik sambil dihitung dengan bersuara, lalu rileks.

b) Punggung digerakkan ke atas dan kepala menunduk ke lantai. Tahan


selama 10 detik sambil dihitung dengan bersuara, lalu rileks.

c) Duduk di atas tumit, rentangkan lengan ke depan sejauh mungkin. Tahan


selama 20 detik sambil dihitung dengan bersuara, lalu rileks.

2. Lower Trunk Rotation


Posisi awal: berbaring terlentang, lutut ditekuk, kaki di lantai, kedua lengan
dibentangkan keluar. Latihan lower trunk rotation dilakukan sebanyak 3 kali.
a) Putar perlahan lutut ke kanan sedekat mungkin dengan lantai.
Pertahankan bahu tetap di lantai. Tahan selama 20 detik sambil dihitung
dengan bersuara.
b) Putar perlahan kembali lutut ke kiri sedekat mungkin dengan lantai.
Pertahankan bahu tetap di lantai. Tahan selama 20 detik sambil dihitung
dengan bersuara.

c) Kembali ke posisi semula, putar perlahan kembali lutut ke tengah.


Pertahankan bahu tetap di lantai. Tahan selama 20 detik sambil dihitung
dengan bersuara, kemudian kembali ke posisi awal.

3. Buttock/Hip Stretch
Posisi awal: berbaring terlentang, lutut ditekuk.
a) Letakkan bagian luar pergelangan kaki kanan pada paha kiri di atas lutut.
b) Pegang bagian belakang paha dan tarik ke arah dada senyaman mungkin.
Tahan selama 20 detik sambil dihitung dengan bersuara, kemudian
kembali ke posisi awal dan rileks.
c) Latihan dilakukan sebanyak 3 kali
4. Abdominal Strengthening: Curl Up
Posisi awal: berbaring terlentang, lutut ditekuk, kaki dilantai, tangan dibawah
kepala.
a) Lengkungkan punggung dari lantai dan dorong ke arah langit-langit.
Tahan selama 20 detik sambil dihitung dengan bersuara.
b) Ratakan punggung sejajar lantai dengan mengencangkan otot-otot perut
dan bokong.
c) Lengkungkan sebagian tubuh bagian atas ke arah lutut. Tahan selama 20
detik sambil dihitung dengan bersuara.
d) Lakukan latihan sebanyak 3 kali.

5. Lower Abdominal Strengthening


Posisi awal: berbaring terlentang, lutut ditekuk, lengan dibentangkan keluar.
a) Letakkan bola antara tumit dan bokong. Sejajarkan punggung dengan
lantai.

Kencangkan otot-otot perut dan bokong


b) Perlahan tarik kedua lutut ke arah dada sambil menarik tumit dan bola.
Kencangkan otot-otot bokong. Punggung sejajar dengan lantai. Jangan
melengkungkan punggung.
c) Latihan dilakuikan sebanyak 15 kali.

6. The Bridge Position


Posisi awal: berbaring terlentang, lutut ditekuk, kaki dan siku di lantai,
lengan dibentangkan keluar.
a) Sejajarkan punggung dengan lantai.
Kencangkan otot-otot perut dan bokong.
b) Angkat pinggul dan punggung bawah untuk membentuk garis lurus dari
lutut ke dada. Tahan selama 20 detik sambil dihitung dengan bersuara,
kemudian perlahan ke posisi awal dan rileks.
c) Latihan dilakukan sebanyak 3 kali.
DAFTAR PUSTAKA

Setyorini, Yuyun. Satino. “Efektifitas Senam Dengan Modul Dalam Mengurangi Dismenore
Pada Remaja Sma Di Kota Surakarta”,
diambil dari http://jurnal.poltekkessolo.ac.id/index.php/Int/article/view/218