Anda di halaman 1dari 2

Jennifer Sydney 6 / 14

Dewi Sartika

Dewi Sartika adalah seorang gadis yang turut tumbuh dalam barisan perjuangan
kemerdekaan. Dewi Sartika dilahirkan pada tanggal 4 Desember 1884 di Cicelengka, bandung,
Jawa Barat. Ayah nya, Raden Somanagara, gugur dalam pembuangan ternate karena menentang
pemerintah Belanda.

Dewi Sartika mempunyai cita-cita memajukan wanita Indonesia. Kebiasaan Dewi Sartika
sewaktu kecil adalah bermain sekolah-sekolahan dengan anak perempuan selainya. Dewi Sartika
selalu berperan sebagai guru dan teman-temanya sebagai murid.

Pada tahun 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah khusus untuk wanita yang disebut
sekolah istri. Sekolah itu mendapatkan perhatian dari masyarakat sehingga muridnya semakin
bertambah banyak. Pada tahun 1910, Dewi Sartika mengubah nama Sekolah Istri menjadi
Sakolah Koetamaan Istri. Kurikulum pelajaran juga diperluas, hingga ada pelatihan tugas
kewanitaan dan kerajinan tangan.

Konsep sekolah Bumiputera ini yang menyebar menjadi perhatian para petinggi Belanda di
Batavia. Pada tahun 1911, Gurbenur Jenderal Hindia-Belanda berkunjung ke Sekolah Koetamaan
Istri. Pada tahun 1916, Sekolah Koetamaan Istri mendapat kunjungan dari Istri Gurbenur Jenderal
baru Hindia-Belanda.

Setelah menginjak usia 55 tahun, Dewi Sartika mendengar kabar bahwa Sekolah
Koetamaan Istri sudah direbut, dikuasai, dan diduduki oleh Jepang pada tahun 1942. Dewi Sartika
terpaksa menghentikan kegiatannya. Walau kondisi tubuhnya tidak sehat ia berjalan kaki
mengungsi ke Cineam-Klamis. Sakitnya bertambah parah, hingga akhirnya, pada tanggal 11
september 1947, di usia 68 tahun, Dewi Sartika menghembuskan napas terakhirnya di
pengungsian tersebut.

3 Informasi penting :

1). Dewi Sartika telah mendirikan sekolah khusus untuk wanita yang dinamakan Sekolah Keotamaan Istri.
2). Sekolah Keotamaan Istri telah menarik perhatian para petinggi Belanda di Batavia.
3). Pada tahun 1942, Sekolah Keotamaan Istri direbut, dan dikuasai oleh Jepang.

Ide Pokok :
Paragraf 1 : Identitas Dewi Sartika
Paragraf 2 : Cita – cita Dewi Sartika
Paragraf 3 : Didirikannya Sekolah Koetamaan Istri oleh Dewi Sartika
Paragraf 4 : Perkembangan Sekolah Koetamaan Istri
Paragraf 5 : Direbutnya Sekolah Koetamaan Istri oleh Jepang

Kalimat Utama :

Paragraf 1 : Dewi Sartika adalah seorang gadis yang turut tumbuh dalam barisan perjuangan
kemerdekaan.

Paragraf 2 : Dewi sartika mempunyai cita-cita untuk memajukan wanita Indonesia.

Paragraf 3 : Pada tahun 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah khusus untuk wanita yang disebut sekolah
istri.

Paragraf 4 : Konsep sekolah Bumiputera ini yang menyebar menjadi perhatian para petinggi Belanda di
Batavia.

Paragraf 5 : Setelah menginjak usia 55 tahun, Dewi Sartika mendengar kabar bahwa Sekolah Koetamaan
Istri sudah direbut, dikuasai, dan diduduki oleh jepang pada tahun 1942.

Kesimpulan Teks :
Jadi, Dewi Sartika yang dahulu bercita-cita untuk memajukan wanita Indonesia, sudah berhasil meraih
cita-citanya. Pada tahun 1904, Dewi Sartika telah berhasil mendirikan sekolah khusus wanita, tetapi pada
tahun 1942, sekolah khusus wanita yang telah didirikan Dewi Sartika berhasil direbut oleh Jepang, Dewi
Sartika terpaksa menghentikan kegiatannya.

Ringkasan Teks :

Dewi Sartika adalah seorang gadis yang tumbuh dalam barisan perjuangan kemerdekaan yang
dilahirkan pada tanggal 4 Desember 1884 di Cicelengka, Bandung, Jawa Barat. Dewi Sartika yang sejak
dahulu bercita-cita untuk memajukan wanita Indonesia berhasil mendirikan sekolah istri pada tahun 1904.
Sekolah itu pun terus berkembang, hingga pada tahun 1910, Dewi Sartika mengubah nama sekolahnya
menjadi Sekolah Koetamaan Istri dan memperluas kurikulum pelajaran. Karena sekolah ini terus
berkembang, Sekolah Koetamaan Istri menarik perhatian para petinggi Belanda di Batavia. Sekolah
Koetamaan Istri yang didirikanya pun terus berkembang. Tetapi saat Dewi Sartika menginjak 55 tahun,
Jepang telah merebut sekolah yang didirikanya, sehingga beliau terpaksa menghentikan pekerjaanya. Ia
pun mengungsi di pengungsian Cineam-Klamis. Tidak lama setelah itu, Ia jatuh sakit dan menghembuskan
napas terakhirnya di pengungsian tersebut.