Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

Management Konflik dalam Kepemimpinan Pendidikan


Berbasis Agama, Filsafat, Psikologi dan Sosiologi
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Landasan agama, filosofis, psikologi dan sosiologi
dari Kepemimpinan Pendidikan

Dosen :
Prof. Dr. H. Ishak Abdulhak
Prof. Dr. H Sofyan Sauri

Oleh : Kelompok IX

Ahmad Gojin - 4103810418032


Raimondus Angwarmase - 4103810418002
Zaenal Abidin - 4103810418019

PROGRAM STUDI DOKTOR ILMU PENDIDIKAN


SEKOLAH PASCASARJANA (S3)
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat ihsan, serta
memberikan kesempatan dan kelapangan berpikir sehingga penulis dapat
menyelesaikan pembuatan makalah yang sangat sederhana ini.

Solawat dan salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, tak lupa
kepada keluarganya, tabi’in dan tabi’atnya dan semoga sampai kepada kita selaku
umatnya. Amiin.

Selain itu dalam penyusunan dan penulisan makalah ini tidak terlepas
dari bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam
kesempatan ini penulis dengan senang hati dan penuh kebanggan menyampaikan
terima kasih kepada yang terhormat :

1. Profesor Dr. H. Ishak Abdulhak selaku Dosen pengampu Mata Kuliah


Landasan Agama, Filosofi, Psikologi dan Sosiologi dari Kepemimpinan
Pendidikan
2. Profesor Dr.H.Sofyan Sauri, Selaku Dosen pengampu Mata Kuliah Landasan
Agama, Filosofi, Psikologi dan Sosiologi dari Kepemimpinan Pendidikan
3. Semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan
makalah ini

Terima kasih untuk segala bantuan dan bimbingan serta jerih payah yang
telah diberikan kepada penulis, semoga mendapat balasan yang setimpal dari
Allah SWT. Amiin.

Bandung, Mei 2019

Tim Penulis,

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 2
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan........................................................... 3
D. Sistematikan penulisan....................................................................... 4
BAB II LANDASAN TEORI
A. Ladasan Teologis................................................................................ 5
B. Landasan Filosofis.............................................................................. 7
C. Landasan Psikologis........................................................................... 9
D. Landasan Sosiologis........................................................................... 11

BAB III PEMBAHASAN ………………………………………………….. 14

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................... 26
B. Implikasi............................................................................................. 27
C. Rekomendasi...................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 30

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Perubahan yang sangat cepat dalam masyarakat merupakan elemen baru
dalam manajemen, sehingga dapat menghadapinya dengan kecemasan atau
kekhawatiran karena tidak siap bekerja di lingkungan baru, sementara tuntutan
dalam pelayanan menjadi lebih tinggi dan kompleks.
Kecenderungan terjadinya konflik, dapat disebabkan oleh suatu perubahan
secara tiba-tiba, antara lain: kemajuan teknologi baru, persaingan ketat, perbedaan
kebudayaan dan sistem nilai, serta berbagai macam kepribadian individu, akibat
banyak orang bebas menggunakan lidahnya secara bebas tanpa didasari oleh
pertimbangan moral, nilai dan agama, maka lahirlah berbagai pertentangan dan
perselisihan dikalangan masyarakat.
Sauri, (2017) menjelaskan bahwa ungkapan bahasa yang kasar dan arogan
seringkali menyebabkan perselisihan dan perkelahian (konflik) dikalangan pelajar.
Intinya adalah “komunikasi”, dimana berbahasa tidak santun dapat melahirkan
kesenjangan komunikasi, sehingga menimbulkan situasi yang buruk dalam
berbagai lingkungan baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat1.
Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan.
Bahkan sepanjang kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut
dengan konflik. Demikian halnya dengan kehidupan dunia pendidikan. Setiap
komponen pendidikan baik formal maupun non formal senantiasa dihadapkan
pada konflik. Perubahan atau inovasi baru sangat rentan menimbulkan konflik
(destruktif), apalagi jika tidak disertai pemahaman yang memadai terhadap ide-ide
yang berkembang. Webster (1966) dalam Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin,
istilah “conflict” dalam bahasa aslinya berarti suatu “perkelahian, peperangan,

1
Sauri S, (2017: 7-9). Kesantunan Berbahasa. Bandung; Royyan Press.

1
2

atau perjuangan” yaitu berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Arti kata itu
kemudian berkembang menjadi “ketidaksepakatan yang tajam atau oposisi atas
berbagai kepentingan”2. Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin memaknai konflik
sebagai persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of
interest) atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak
dapat dicapai secara simultan. Konflik dapat terjadi pada berbagai macam keadaan
dan pada berbagai tingkat kompleksitas.
Konflik merupakan interaksi antagonis, mencakup tingkah laku lahiriah yang
tampak jelas, mulai dari bentuk-bentuk perlawanan halus, terkontrol, tersembunyi,
tidak langsung sampai pada bentuk perlawanan terbuka. Konflik sangat erat
kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan diabaikan, disepelekan,
tidak dihargai, ditinggalkan, dan juga perasaan jengkel karena kelebihan beban
kerja. Konflik pada dasarnya adalah ancaman yang timbul dari setiap tindakan atau
kejadian yang mempengaruhi kemampuan organisasi untuk mencapi tujuannya.
Konflik yang terjadi akan memberikan kontribusi besar pada munculnya bahaya
atau resiko yang merugikan organisasi. Dengan demikian perlu adanya seorang
pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, orang orang atau
kelompok dengan maksud mencapai suatu tujuan3.
Kenyataannya tidak jarang terjadi perbedaan pandangan, ketidakcocokan,
serta pertentangan yang terkadang menimbulkan banyak konflik dalam organisasi
manapun, bahkan keluarga sekalipun, terdapat konflik, mulai dari konflik kecil
hingga konflik besar, baik secara tersembunyi maupun yang muncul secara terang-
terangan. Bardasarkan uraian tersebut, maka penulis menyimpulkanya dalam
makalah dengan judul “Management Konflik dalam Kepemimpinan Pendidikan
Berbasis Agama, Filsafat, Psikologi dan Sosiologi”.

B. Rumusan Masalah
Secara umum, rumusan masalah makalah ini adalah, bahwa struktur konflik
senantiasa hadir secara alami dalam kehidupan nyata setiap individu, kelompok
2
Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z.
3
Sudjana H.D, (1992 : 13). Pengantar Manajemen Pendidikan Luar Sekolah. Bandung :
Nusantara Press-Yayasan Islam Nusantara.
3

atau organisasi bahkan negara sekalipun, dan tidak dapat dihindari begitu saja.
Secara spesifik rumusan masalah tersebut dapat dirinci sbagai berikut :
1. Bagimanakah manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis agama?
2. Bagaimanakah manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis filsafat?
3. Bagaimanakah manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis Psokologi?
4. Bagaimanakah manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis Sosiologi?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan


1. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan adalah untuk menganalisis, menginter-
pretasi dan mendiskusikan tentang manajemen konflik kepe-
mimpinan pendidikan berbasis agama, filsafat, psikologi dan
sosiologi.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan adalah untuk menganalisis, menginter-
pretasi dan mendiskusikan tentang:
1. Manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis agama
2. Manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis filsafat
3. Manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis psiko-logi
4. Manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis sosio-logi

2. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan ini diantaranya :
a. Manfaat Teoritis
Untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang
manajemen pendidikan terutama dalam hal landasan agama, filosofi,
psikologi dan sosiologi dari kepemimpinan pendidikan.

b. Manfaat Praktis
1. Bagi Penulis
4

Menambah wawasan dan pengetahuan tentang manajemen


konflik pemimpin pendidikan berbasis agama, filsafat, psikologi dan
sosiologi, melalui penerapan ilmu dan teori-teori manaje-men
pendidikan masa perkuliaahan, dibandingkan dengan kenyataan yang
sebenarnya (fakta empiris), serta melatih kemam-puan menganalisis dan
berpikir sistematis berbasis agama, filsafat, psikologi dan sosiologi.
2. Bagi Pemimpin Pendidikan
Memberikan masukan tentang peluang dan tantangan yang harus
dihadapi pemimpin pendidikan, dalam penerapan manaje-men
konflik berbasis agama, filsafat, psikologi dan sosiologi.

D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah dilakukan penulis dengan mengkaji topik
yang dibahas mealaui kajian literatur atau studi kepustakaan dari sumber-sumber
yang relevan, seperti buku, jurnal, dan langkah-langkah yang dilakukan untuk
mempermudah pembahasan masalah dengan sistematika penulisan terbagi dalam
empat bab sebagai berikut :
Bab I berisi tentang pendahuluan. Pendahuluan tersebut memuat latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, dan sistematika
penulisan; Bab II beririsi tentang landasan teori. Pada bab ini mencangkup landasan
teologis, landasan filosofis, landasan psikologi, landasan sosiologi; Bab III ini
beirisi tentang pembahasan. Pada bab ini diuraikan tentang analisis, interpretasi,
dan diskusi tentang manajemen konflik pemimpin pendidikan berbasis agama,
filsafat, psikologi dan sosiologi; Bab IV merupakan penutup, berisi tentang
kesimpulan yang diperoleh dalam paparan pembahasan baik kesimpulan umum
maupun kesimpulan khusus, dan rekomendasi bagi pihak-pihak yang terkait.
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Landasan Teologis
Konflik dan manusia, keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena konflik
merupakan bagian dari keniscayaan dalam kehidupan (min lawazim al-hayat)
manusia. Maka tidak berlebihan jika sebagian pakar mengatakan bahwa sejarah
manusia adalah sejarah konflik. Namun bukan berarti bahwa konflik dibiarkan
begitu saja tanpa adanya upaya untuk mengelola dan meredamnya
Dalam al-Qur’an ada beberapa term yang mengarah pada pengertian konflik
secara umum, misalnya kata al-khasm atau al-mukhassamah (bermusuhan) dalam
Q.S. al-Zumar: 31; al-ikhtilaf (berselisih) dalam Q.S. Ali Imran: 103 dan 105, al-
Syu’ara: 14; tanazu’ (pertentangan) dalam Q.S. al-Nisa: 59; al-qital dan al-
harb (perang) dalam Q.S. al-Anfal: 57, Q.S. Muhammad: 4, al-Baqarah: 217 dan
lain sebagainya.
Beberapa term tersebut memang mengarah pada pengertian konflik,
perselisihan, pertentangan, permusuhan, perang dan bahkan pembunuhan.
Sementara kata konflik sendiri berasal dari bahasa Latin, configere yang berarti
saling memukul. Itulah mengapa ketika terjadi ketegangan dan konflik, galibnya
memacu tindakan kekerasan, aksi saling pukul, dan bahkan aksi saling membunuh.
Secara historis, konflik manusia telah dimulai sejak anak cucu Adam, ketika Qabil
dan Habil bertengkar memperebutkan calon istri. Sebagaimana diisyaratkan dalam
sebuah ayat yang artinya, “maka nafsunya mendorong utuk membunuh
saudaranya, maka ia membunuhnya, maka ia termasuk orang-orang yang
merugi” (Q.S. al-Maidah: 30).
Sebagai mahluk sosial, manusia memang akan selalu dihadapkan pada
kenyataan tentang konflik. Bahkan Dahrendorf dalam Margaret (2000:131),
menganggap manusia memiliki sifat ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerja
sama. Salah satu konflik terbesar manusia sebetulnya tidak terletak pada konflik
politik, atau peperangan melainkan pada konflik yang ada dalam diri mereka. Salah

5
6

satu konflik diri yang paling besar adalah bagaimana menetralisir hati untuk
melawan hawa nafsu. Hal itu sudah lama tertuang dalam hadis rasulullah SAW
yang berbunyi: “Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang)
melawan dirinya dan hawa nafsunya,” (hadits ini derajatnya shahih. Diriwayatkan
oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu.)
Keberadaan konflik sebagai unsur pembawaan sangat penting dalam
kehidupan manusia. Kehidupan tidak dapat berjalan dengan baik tanpa ada konflik.
Manusia yang memiliki tuntutan serta keinginan yang beraneka ragam dan manusia
akan selalu berusaha untuk memenuhi keinginan tersebut. Oleh karena itu, Allah
membekali nilai-nilai moral pada setiap makhluk dalam kepentingan-kepentingan-
nya sendiri. Selagi konflik masih dibutuhkan oleh manusia, maka mereka pun
dibekali oleh Allah dengan kemampuan untuk berkonflik, baik dalam fisik, roh
maupun akalnya, dan sekaligus kemampuan untuk mencari solusinya. Seperti
dijelaskan dalam firman Allah yang artinya: “Seandainya Allah tidak menolak
(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi
ini.”.
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah hikmah dibalik terjadinya
konflik. Dalam Islam, konflik bukanlah sebagai tujuan namun lebih sebagai sarana
untuk memadukan antara berbagai hal yang saling bertentangan untuk
membebaskan kehidupan manusia dari kepentingan individual dan dari kejelekan-
kejelekan, sehingga tidak membiarkan perbedaan-perbedaan itu menjadi penyebab
adanya permusuhan. Karena sesungguhnya manusia berasal dari asal yang sama.
Seperti dijelaskan pada (QS. An Nisaa' ayat 1) yang berbunyi:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan
isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki
dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan
(peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga
dan mengawasi kamu”.

Dari ayat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya manusia berasal
dari asal yang sama. Dari ayat di atas, Islam mengajarkan pentingnya untuk
toleransi menghargai adanya perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia baik siri
7

fisik, pemikiran budaya dan lain-lain agar jangan sampai memicu konflik dan
mengakibatkan perseteruan dan permusuhan. Konflik memang sangat diperlukan
dalam kehidupan manusia. Namun, jangan sampai terlarut dalam konflik yang
akhirnya menjadi konflik berkepanjangan yang tidak ada solusinya yang justru akan
merusak hubungan antar manusia dan akan merugikan manusia itu sendiri.
Manusia yang memiliki tuntutan serta keinginan yang beraneka ragam,
selalu berusaha untuk memenuhi keinginan tersebut. Namun untuk bisa
mendapatkannya, perlu berkompetinsi untuk mendapatkan keinginan tersebut.
Adanya konflik akan mengajarkan manusia untuk dapat berfikir lebih maju
mendapatkan keinginannya tersebut sehingga akan bermanfaat bagi kehidupannya.
Dalam Surat Al-Hujurat ayat 9-10 manusia telah diperintahkan untuk
mendamaikan saudaranya yang sedang dalam konflik. Hal ini agar semua manusia
selalu mendapat rahmat dari Allah SWT.
“Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka
damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim
terhadap (golongan) yang yang lain maka perangilah golongan yang berbuat
zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika
golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah
antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh Allah mencintai
orangorang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
bersau-dara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang
berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”4

B. Landasan Filosofis
Bagi orang awam, belajar filsafat adalah membuang-buang energi, mem-
buang waktu, dan sia-sia. Mengapa? Karena dengan belajar filsafat sering
menambah masalah dan semakin bingung. Lain halnya dengan kaum intelek,
filsafat adalah sebuah alat atau potensi untuk membangun peradaban manusia agar
maju, unggul, dan mampu berkompetisi dengan bangsa lain. Prinsip-prinsip dalam
manajemen konflik, pada dasarnya adalah sama pada semua organisasi, baik pada
sekolah, perguruan tinggi maupun pada perusahaan-perusahaan besar. Secara
filosofis, praktisi manajemen konflik yang profesional bagi para pendidik mesti
mampu memahami esensi konflik sebagai bentuk pengelolaan keseimbangan antara
konflik dan manfaat konflik demi kepentingan optimalisasi keuntungan lembaga
4
Ibid
8

pendidikan. Kata kuncinya adalah “menyeimbangkan’ bukan “meniadakan”.


Dengan demikian, ada hubungan yang fundamental dengan belajar filsafat, agar
manusia percaya diri dan mempunyai prinsip hidup dalam berbagai hal, tanpa
kecuali dalam menata kehidupan, sehing-ga lebih bermakna, lebih maju dan lebih
bermartabat.
Manajeman konflik dalam kepemimpinan pendidikan berkaitan dengan
keseimbangan antara proses dan orang. Beberapa hal penting supaya manajemen
konflik yang baik dapat diterapkan bagi pemimpin pendidikan di dalam suatu
organisasi, yaitu: (1) pemahaman dan pengalaman manajemen konflik, (2) budaya
pada orang-orang yang terkait, (3) prosedur dan metodologi pengelolaan konflik,
(4) optimalisasi manfaat yang ingin dicapai organisasi. Hal ini pada akhirnya dapat
menciptakan keseimbangan antara resiko konflik dan manfaat, proses dan orang
yang merupakan pemahaman dasar bagaimana mengelola konflik di suatu bentuk
organisasi. Organisasi apa pun, pada dasarnya konflik selalu ada dan bersifat
dinamis dan memiliki ketergantungan satu sama lain.
Konsep Manajemen Konflik dalam Pendidikan berbasis Filsafat merujuk
pada permasalahan konflik ditinjau dari aspek filsafat dan aspek pendidikan.
Filsafat membahas sesuatu dari segala aspek secara mendalam, yaitu kebenaran
secara menyeluruh yang dipertentangkan dengan kebenaran ilmu/pendidikan yang
sifatnya relatif, yiatu kebenaran ilmu yang hanya ditinjau dari segi yang dapat
diamati oleh manusia saja. Socrates (469-399 SM), mengajarkan bahwa manusia
harus mencari kebenaran dan kebijakan dengan cara berpikir secara dialektis. Plato
(427-347 SM), mengatakan, kebenaran hanya ada di alam ide yang bisa diselami
dengan akal, sedangkan Aristoteles (384-322 SM), merupakan peletak dasar
empirisme, yaitu kebenaran harus dicari melalui pengalaman panca indera5.
Keanekaragaman suku, agama, ras, dan budaya, serta jumlah penduduk yang
lebih dari 250 juta jiwa yang dimiliki oleh negara Indonesia, disatu sisi memberikan
kontribusi positif dalam upaya menciptakan kesejahteraan. Namun, disisi lain,
keanekaragaman tersebut dengan disertai semakin cepatnya dinamika sosial,
menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara rawan konflik, terutama konflik

5
Pidarta M, (2013: 76). Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia,
Jakarta : Rineka Cipta.
9

yang bersifat horisontal. Sumber konflik yang melatarbelakangi terjadinya konflik


sosial di Indonesia diantaranya permasalahan yang berkaitan dengan ideologi,
politik, ekonomi, sosial, budaya, isu SARA, dan sengketa lahan. Konflik yang
terjadi dapat berupa perselisihan, adaya ketegangan, dan kesulitan-kesulitan lain
pada pihak-pihak yang berkonflik serta seringkali diekspresikan melalui cara-cara
berupa kekerasan, perdebatan, dan kemarahan.

C. Landasan Psikologis
Dalam mengkaji konsep manajemen konflik kepemimpinan dalam
Pendidikan berbasis psikologi, ada dua pendekatan yang saling melengkapi; yaitu
aspek fisiologis dan aspek psikologis. Yang pertama lebih memfokuskan diri pada
hal-hal yang konkret dan rasional; sedang yang kedua, lebih mengarah pada
dimensi emosional. Pembahasan tentang aspek psikologis dalam kepemimpinan
merupakan bagian kecil dari kajian psikologi kepemimpinan. Setidaknya terdapat
dua hal yang perlu dimaklumi, pertama, bidang psikologi jauh lebih luas dan
complicated daripada kajian aspek psikologisnya, karena itu membutuhkan waktu
yang cukup luas untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dan mendalam. Dan
kedua, bidang psikologi kepemimpinan merupakan kajian yang relatif lebih
“abstrak” daripada aspek psikologisnya yang lebih menampakkan wujud
konkretnya, sekalipun agak samar, pada perilaku nyata.
Dalam Kepemimpinan (Leadership) aspek psikologisnya mengarah pada
bagaimana seorang pemimpin mampu menjadi teladan bagi bawahannya, sehingga
apa yang dia inginkan (dalam konteks organisasi) diikuti, segala yang diperintahkan
dilakukan sebaik mungkin, dan apa-apa yang dia larang dipatuhi untuk dijauhi.
Keteladanan terwujud karena ia memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang
tidakdimiliki oleh bawahannya. Diantara kelebihan yang dapat mengantarkan
seorang pemimpin menjadi teladan bagi bawahannya adalah keunggulannya dalam
hal integritas pribadi, penguasaan IPTEK, aspiratif, apresiasif, cepat mengambil
keputusan dan melakukan tindakan, dan sejenisnya. Gambaran aspek psikologis
tersebut berlaku umum pada organisasi yang solid termasuk dalam lembaga
pendidikan yang profesional.
Kemampuan pemimpin untuk mengelola konflik, didasarkan pada alasan
bahwa bawahan memiliki perbedaan karakterisitik psikologis, pola pikir dan gaya
10

berkomunikasi. Perbedaan itu berpotensi atau berpeluang besar menjadi penyebab


terjadinya konflik antar bawahan, yang sedikit banyak dapat mengganggu
kelancaran atau kontinuitas kegiatan. Jadi tugas pemimpin adalah ikut mengatasi
problem tersebut sehingga bawahan menyadari dan melaksanakan tugas, fungsi dan
tanggungjawab masing-masing.
Dalam teori kepemimpinan dikenal tiga model pendekatan dasar, yaitu: (1)
model sifat (trait model), yang memusatkan bawahannya pada karakteristik
personal pemimpin; (2) model perilaku (behavioral model), yang memusatkan pada
tindakan pemimpin; (3) model kontinjensi (contingency model), yang menilai
hubungan antara karakterisitik situasi yang ada dengan perilaku yang dimiliki
seorang pemimpin.
Dari ketiga model terebut contingency model lebih dekat pada pembahasan
aspek psikologis kepemimpinan. Model kontinjensi memfokuskan pentingnya
situasi dalam menetapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan masalah yang
dihadapi. Menurut F.E Fiedler gaya kepemimpinan ini dibagi menjadi dua bagian,
yaitu: pemimpin yang berorientasi pada orang (hubungan manusiawi) dan pada
tugas. Pada orientasi yang pertama pemimpin mendapatkan kepuasan bila terjadi
hubungan yang mapan diantara sesama anggota kelompok dalam suatu pekerjaan.
Bawahan dipandang sebagai co-worker (patner) dengan menjalin hubungan positif.
Sedang orientasi yang kedua, memandang bahwa pemimpin akan puas bila mampu
menyelesaikan tugas-tugasnya dan bawahannya.
Hubungan yang harmonis dengan bawahan bukan suatu prioritas, karena
prioritas utamanya pada penyelesaian tugas. Dengan kata lain, mengabaikan
hubungan manusiawi dengan pekerjaannya. Pemimpin yang berorientasi manusiawi
dikenal dengan istilah trust worthing (menekankan rasa percaya diri terhadap
bawahan); sedang pemimpin yang berorientasi pada tugas disebut hard worker,
karena lebih menyukai dan mengutamakan penyelesaian tugas berat dan
menantang.
Perbedaan karakterisitik psikologis, dalam organisasi berpotensi menimbul-
kan konflik antar individu. Keberhasilan pemimpin dalam mengatasi konflik
bergantung pada kemampuannya mengenali penyebab konflik, dan memilih
pendekatan yang sesuai dalam memecahkan konflik serta menerapkan alternatif
11

pemecahan. Konflik akan memiliki konotasi positif dan negatif, tergantung pada
cara pemimpin memandang hakikat konflik dan pengaruhnya terhadap efekvifitas
pencapaian tujuan organisasi.
Bila pandangan negatif, maka dia akan memandang orang (individu atau
kelompok) sebagai oposisi bagi dirinya. Dalam hal ini konflik akan dipandang
sebagai agresi (serangan), kekerasan dan kompetisi yang merusak. Pandangan yang
negatif terhadap konflik akan mewarnai sikap pemimpin untuk mengutamakan
kemenangan dari pada timbulnya pemecahan masalah yang efektif bagi organisasi
yang eksesnya akan menghambat pemecahan masalah secara fair.
Dalam dinamika kehidupan yang pluralistik dengan berbagai kepentingan,
konflik merupakan suatu keniscayaan adanya. Karena itu konflik dalam lembaga
pendidikan tidak harus dihindari, tetapi perlu dikelola, diarahkan dan dipecahkan
sehingga mempunyai kontribusi yang positif bagi tercapainya tujuan organisasi
secara efektif. Manajemen konflik adalah sekumpulan reaksi dari seseorang, baik
yang berasal dari internal mapun yang berasal dari eksternal yang berada dalam
suatu konflik. Manajemen konflik itu sendiri adalah sesuatu proses yang
berorientasi dalam proses pengarahan ke bentuk komunikasi termasuk di dalamnya
hubungan tingkah laku dari dalam maupun dari pihak luar dengan melihat cara
seseorang tersebut untuk mempengaruhi kepentingan dan juga intrepretasi dalam
bidang pendidikan.

D. Landasan Sosiologis
Konsep manajemen konflik dalam pendidikan secara sosiolgi,
diartikan sebagai suatu proses sosial antara satu orang atau lebih yang berusaha
menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak
berdaya. Berbagai konflik dan kerusuhan sosial yang terjadi sebenarnya dapat
dikelola secara arif dan bijaksana. Masing-masing individu yang terlibat dalam
konflik perlu menjernihkan pikiran dan hati dari berbagai penyakit budaya dalam
masyarakat seperti prasangka (prejudice), stereotipe, etnosentrisme, rasisme,
diskriminasi, mengkambinghitamkan (scape goating) terhadap pihak lain.
Konflik merupakan suatu kenyataan hidup yang tidak terhindarkan dan sering
bersifat kreatif. Konflik juga merupakan realitas yang tersebar dimana-mana dan
pasti ada dalam setiap struktur sosial masyarakat. Konflik terjadi ketika tujuan
12

masyarakat tidak berjalan dengan baik atau tidak sejalan. Berbagai perbedaan
pendapat dan konflik sering menghasilkan sistuasi yang lebih baik bagi sebagian
besar masyarakat atau semua pihak yang terlibat .
Secara sosiologis, konflik pada dasarnya menimbulkan akibat-akibat atau
resiko-resiko tertentu yang bersifat destruktif maupun konstruktif. Selain dampak
negatif, konflik juga berdampak positif bagi dinamika kehidupan sosial masyarakat.
Lewis Coser dalam bukunya The Function of Conflict menyatakan bahwa konflik
memiliki fungsi positif ketika dikelola dan diekspresikan sewajarnya. Setidaknya
ada empat fungsi konflik menurut Lewis A. Coser yaitu: 1) Konflik dapat
membantu mengeratkan ikatan kelompok yang secara longgar.
Masyarakat yang mengalami disintegrasi atau berkonflik dengan masyarakat
lain, dapat memperbaiki kepaduan integrasi. 2) Konflik dapat membantu
menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain. 3) Konflik dapat
membantu mengaktifkan peran individu yang semula terisolasi. 4) Konflik juga
memungkinkan pihak yang bertikai menemukan ide yang lebih baik mengenai
kekuatan relatif mereka dan meningkatkan kemungkinan untuk saling mendekati
atau saling berdamai
Kaitannya dengan dampak atau pengaruh yang dihasilkan oleh suatu konflik,
Sudjana yang dikutip Muliati menyatakan bahwa: 1) Konflik dapat menghambat
upaya bersama untuk memenuhi kebutuhan kelompok/ organisasi dan perorangan.
2) Di pihak lain, konflik dapat menguntungkan kegiatan kelompok apabila konflik
tersebut dapat merangsang timbulnya gagasan-gagasan baru untuk meningkatkan
efesiensi dan efektivitas kegiatan kelompok, mengarahkan kreativitas kelompok
dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Konflik ini dapat dimanfaatkan agar
kelompok lebih tanggap terhadap kebutuhan anggota.
Selain itu, konflik sebagai suatu fenomena sosial dapat dipandang sebagai
suatu dinamika yang mendorong lahirnya perubahan sosial dengan asumsi bahwa
suatu perubahan sosial tidak hanya terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai
yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan
kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula
13
BAB III

PEMBAHASAN

Manajemen Konflik Kepemimpinan dalam Pendidikan berbasis, agama,


filsafat, psikologi dan sosilogi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan (merupakan system). Faktanya, masih terjadi konflik secara horisontal,
baik dari aspek agama, filsafat, prikologi, dan sosiologi sebagai-mana terjadi di
republik ini.
Hasil analisis menunjukkan bahwa konflik berbasis agama sangat rentan
akhir-akhir ini. Konflik horizontal berbasis isu keagamaan telah menjadi fenomena
yang sangat mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan atas nama agama sedemikian
rupa telah menggejala di banyak daerah, bahkan secara eksplosif muncul di
beberapa negara Timur Tengah akhir-akhir ini.
Konflik horizontal terkait dengan isu agama dipahami sebagai salah satu
ancaman paling serius dalam konteks harmoni sosial, dibandingkan dengan konflik
horizontal lainnya. Agama sejatinya mengajarkan tata harmoni masyarakat,
perdamaian, cinta kasih namun dalam manifestasinya konflik sosial berbasis agama
lebih sering hadir dalam wajah kekerasan. Bahkan lebih dari itu, konflik horizontal
berbasis agama seringkali melibatkan pilar-pilar penjaga moral masyarakat, seperti
tokoh agama dan institusi peribadatan, yang seharusnya para pemuka agama
Konflik secara filosofis, juga mewarnai kehidupan individu, kolompok
maupun negara sekalipun. Praktisi manajemen konflik yang profesional bagi para
pendidik mesti mampu memahami esensi konflik sebagai bentuk pengelolaan
keseimbangan antara konflik dan manfaatnya demi kepentingan optimalisasi
keuntungan lembaga pendidikan. Kata kuncinya adalah “menyeimbangkan’ bukan
“meniadakan”.
Hasil analisis menunjukkan bahwa esensi konflik sebagai bentuk pengelolaan
kesimbangan antara konflik dan manfaat konflik demi kepentingan optimalisasi
keuntungan Lembaga Pendidikan kian menjadi tidak jelas, akibat kepentingan
individu atau kelompok (stakeholder) Lembaga Pendidikan lebih mendominasi
kepentingan bersama (korps Pendidikan/satuan Pendidikan), dalam mewujudkan
14
15

hak pendidik, dimana kewajiban menjalankan tugas dan tanggungjawabnya


sering tidak seimbang dengan hak yang diperoleh; sebut saja hak para guru honorer,
yang menjalankan kewajibannya penuh (24 jam atau lebih) tidak sebanding dengan
haknya yang diterima lebih kurang hanya 300 ribu setiap bulan.
Fenomena yang cukup menarik untuk dialasis dari perspektif prikologis
berdasarkan fakta empris saa ini adalah pemenuhuan hak pegawai negeri sipil
(ASN) bidang Pendidikan kaitannya dengan pencairan tunjangan fungsional. Hasil
analisis menunjukkan bahwa keterlambatan pencairan dana dimaksud telah
berpengaruh secara psikis bagi pendidik yang nota bene menjadi salah satu
pemenuhan kebutuhan hidup. Fenemona ini telah berdampak psikologis sebagai
konflik pribadi, mempengaruhi kegiatan pendidikan, sehingga proses pembelajaran
dan belajar-mengajar yang seharusnya dapat berlangsung lebih efektif, tidak
maksimal, dan berpotensi menimbulkan konflik sebagai peng-hambat proses
pembelajaran, dimana guru menjalankan kewajibanya tidak maksimal.
Konsep manajemen konflik dalam pendidikan secara sosiolgi,
diartikan sebagai suatu proses sosial antara satu orang atau lebih yang berusaha
menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak
berdaya. Jika dibandingkan dengan firman Allah (S Al-Maidah (5) : 2 dalam Sauri
(2006 : 88) tentang nilai karakter kerjasama sosial, yang berbunyi : “Dan
hendaklah kamu bertolong-tolangan untuk membuat kebajikan dan bertakwa, dan
janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa (maksiat) dan
pencerobohan.”, maka hasil analisis menunjukkan bahwa sikap tolong- menolong
dalam pesrpektif sosiologi lebih merujuk pada kerjasama dalam hal melakukan
“dosa” dan “pencerobohan”.
Ajakan kerjasama berbuat “dosa” lebih dominan ketimbang ajakan untuk
beramal, atau berbuat baik, semisal ajakan untuk berdoa bersama lebih sulit jika
dibandingkan dengan ajakan untuk tauran, dll. Intinya adalah bahwa, kesadaran
sitiap individu, maupun kelompok sebagai makhluk sosial, manusia yang tidak
mungkin dapat memenuhi keinginan ataupun hajat kebutuhan sendiri, manusia yang
harus saling tolong-menolong dalam berbuat baik semakin jauh dari kehidupan
nyata pada dekade ini. Bahkan berbagai penyakit budaya dalam masyarakat seperti
16

prasangka (prejudice), stereotipe, etnosen-trisme, rasisme, diskriminasi,


mengkambinghitamkan (scape goating) terhadap pihak lain, justru tumbuh subur.
Konflik dan manusia, keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena konflik
merupakan bagian dari keniscayaan dalam kehidupan (min lawazim al-hayat)
manusia. Maka tidak berlebihan jika sebagian pakar mengatakan bahwa sejarah
manusia adalah sejarah konflik. Namun bukan berarti bahwa konflik dibiarkan
begitu saja tanpa adanya upaya untuk mengelola dan meredamnya.
Hasil interpretasi terhadap manajemen konflik dalam kepemimpinan
Pendidikan berbasis agama adalah, bahwa manusia sebagai mahluk sosial, selalu
dihadapkan pada kenyataan tentang konflik. Dahrendorf dalam Margaret
(2000:131), menganggap manusia memiliki sifat ganda, memiliki sisi konflik dan
sisi kerja sama.
Salah satu konflik terbesar manusia sebetulnya tidak terletak pada konflik
politik, atau peperangan melainkan pada konflik yang ada dalam diri mereka.
Konflik diri yang paling besar adalah bagaimana menetralisir hati untuk melawan
hawa nafsu, senada dengan hadist rasulullah SAW yang berbunyi: “Jihad yang
paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa
nafsunya,” (hadits ini derajatnya shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari
Abu Dzarr Radhiyallahu anhu).
Konsep Manajemen Konflik dalam Pendidikan berbasis Filsafat merujuk
pada permasalahan konflik ditinjau dari aspek filsafat dan aspek pendidikan.
Filsafat membahas sesuatu dari segala aspek secara mendalam, yaitu kebenaran
secara menyeluruh yang dipertentangkan dengan kebenaran ilmu/pendidikan yang
sifatnya relatif, yiatu kebenaran ilmu yang hanya ditinjau dari segi yang dapat
diamati oleh manusia saja. Hasil interpretasi konflik dalam Pendidikan berbasis
filsafat, merujuk pada pemahaman tentang : apakah filsafat itu? Bagaimana definisi
filsafat? Dan obyek filsafat itu sendiri yaitu : ontologis, epistomologis dan
aksologis.
Istilah "filsafat" dapat ditinjau dari dua segi, yakni segi semantik, perkataan
filsafat berasal dari bahasa Yunani, “philosophia”, yang artinya “philos” = cinta,
dan “sophia” yang artinya pengetahuan. Jadi “philosophia” berarti cinta kepada
17

kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran dan segi praktis, filsafat berarti “alam
pikiran” atau “alam berpikir”.
Lingkungan pembahasan filsafat demikian luas, maka banyak para filsuf
memberikan definisinya berbeda-beda, diantaranya :
1. Plato (427 SM – 347 SM), mengatakan filsafat adalah pengetahuan tentang
segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang
asli)
2. Aristoteles (384SM-322SM) mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahu-an
yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika,
logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki
sebab dan asas segala benda),
3. Marcus Tullius Cicero (106 SM - 43SM) merumuskan filsafat adalah
pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk
mencapainya,
4. Immanuel Kant (1724 -1804), mengatakan filsafat itu ilmu pokok dan
pangkal segala pengetahuan mencakup empat persoalan, yaitu a) apakah yang
dapat kita ketahui?, b) apakah yang dapat kita kerjakan? c) sampai di
manakah pengharapan kita?.
Konflik merupakan interaksi yang antagonis, mencakup tingkah laku lahiriah
mulai dari bentuk-bentuk perlawanan halus, terkontrol, tersembunyi, tidak
langsung; sampai pada bentuk perlawanan terbuka. Untuk dapat mencapai
kepemimpinan yang efektif harus dilakukan kegiatan penugasan dan memberikan
pengarahan, bimbingan, mendorong kerjasama dan partisipasi, mengkoordinasikan
kegiatan-kegiatan, observasi dan supervisi serta evaluasi dari hasil penampilan
kerja.
Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang-
orang yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan ataupun
diarahkan oleh orang yang memimpinnya dengan mengoptimalkan sumber daya
yang ada, meminimalisir dan mengelola konflik untuk mencapai tujuan bersama.
Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian, dapat menggangu kekompakan suatu
organisasi, dan dapat menurunkan kinerja organisasi.
18

Gambar di bawah disajikan pendekatan filsafat ilmu dalam menjelaskan


konflik dan harmoni.

Ontologis Konflik

Konflik

Epistemologis Konflik Aksiologi Konflik

Telah dijelaskan bahwa konflik adalah pertentangan atau percekcokan karena


sesuatu sebab. Maka konflik bisa disebabkan berbagai faktor yang berada di sekitar
isu konflik dan ada tujuannya. Isu-isu yang disosialisasikan biasanya bersifat
provokatif, sehingga kelompok-kelompok yang merasa “tidak nyaman” selama ini,
diharapkan mau bersimpati dengan kelompok penebar isu, walaupun faktor yang
membuat ketidaknyaman-an mereka tidak sama.
Beberapa contoh isu itu adalah kristenisasi atau islamisasi (dari kelom-pok
agama), keterpinggiran masyarakat lokal (untuk kelompok suku), penjajah-an
ekonomi (untuk kelompok ras) dan simiskin makin miskin dan sikaya makin kaya
(isu untuk kelompok antargolongan). Tujuan isu ini agar masyarakat yang
bersimpati menjadi terpolarisasi berdasarakan salah satu unsur suku, atau agama,
atau ras atau antar golongan, sehingga begitu dimulai konflik terbuka, masyarakat
bertindak secara beramai-ramai, dan brutal dengan menunjukkan perilaku
penjarahan terhadap harta-benda, merusak bangunan milik, bahkan sampai
membunuh yang dianggap lawan. Realitas seperti ini jelas bertentangan dengan
Pembukaan UUD 45 yang menjelaskan bahwa Pemerintah Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan berbangsa, UU
Hak Asasi Manusia NO. 39 Tahun 1999, tujuan agama yang hakiki, dan juga
bertentangan dengan realitas harmoni yang berkembang selama ini.
19

Manajemen konflik dalam pendidikan berbasis psikologi fokus mempel-

ajari tentang cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam ling-

kungan pendidikan. Psikologi di bidang pendidikan dimaksudkan untuk mem-


pengaruhi kegiatan pendidikan sehingga proses pembelajaran dan belajar-mengajar
dapat berlangsung lebih efektif dengan memperhatikan respon kejiwaan dan
tingkah laku peserta didik.
Interpretasi dalam konteks manajemen konflik berbasis psikologis cenderung
pada proses komunikasi berhubungan dengan tingkahlaku dari dalam maupun dari
luar setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika orang mengalami frustasi
yang belum terselesaikan dalam menjalankan proses kehidupan, maka ia tidak
mungkin dapat terlepas dari konflik. Namun, konflik dapat membuat seseorang
mengalami perubahan-perubahan perilaku, yang sering kali mengganggu dan
bahkan membuat seseorang mengalami stres. Sisi lain konflik membuat orang
menjadi tertantang untuk mengatasinya.
Menurut Putman & Pool (sujak, 1987: 150), konflik didefenisikan sebagai
interaksi antara individu, kelompok dan organisasi yang membuat tujuan atau arti
yang berlawanan, dan merasa bahwa orang lain sebagai penganggu yang potensial
terhadap pencapaian tujuan mereka. Selanjutnya Mullins (1993, hlm.658)
mendefenisikan bahwa konflik merupakan kondisi terjadinya ketidaksesuaian
tujuan dan munculnya berbagai pertentangan perilaku, baik yang ada dalam diri
individu, kelompok maupun organisasi.
Konflik dapat dikelompokkan ke dalam dua unsur, yaitu : (1) konflik antara
individu dengan dirinya sendiri dan (2) Konflik antara individu dengan lingkungan
organisasi.
1. Konflik Antara Individu Dengan Dirinya Sendiri
Konflik antara individu dengan dirinya sendiri akan muncul ketika individu
merasa bahwa dalam dirinya sendiri mengalami :
a. Adanya suatu pertentangan antara perasaan-perasaan senang dan frustasi,
serta gagal dan berhasil, berharap dan putus asa. Munculnya perasaan-
perasaan tersebut karena adanya kepentingan atau kekuatan yang bergerak
ke arah tertentu dalam waktu yang bersamaan.
20

b. Adanya dua gagasan/lebih yang berupa pertentangan, gerakan hati


(Impuls), saling berlawanan dan terjadi ketegangan emosi, akibatnya
muncul perasaan yang tidak menyenangkan (impuls tertekan), stres, dan
dapat memengaruhi perilaku individu secara kognitif (cara berpikir,
mengingat, dan menganalisis atau menyimpulkan menjadi kurang
produktif), afektif, ketakutan, kecemasan, bersalah/malu, sedih,
cemburu/iri hati, dan menjijikkan/muak, kognitif, dan psikomotorik
(keterampilan motoriknya kurang terkoordinasi dengan baik ataupun
keterampilan manajerialnya juga kurang dapat diandalkan untuk
menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan secara tepat).
c. Adanya suatu perjuangan antara keinginan dan pertentangan yang ada
dalam diri individu berupa pertentangan psikis seperti merasa frustasi,
stres, dan berupa pertentangan psikis seperti merasa frustasi, stres, dan
berusaha untuk melawannya.
2. Konflik Antara Individu Dengan Lingkungan Dalam Organisasi
Konflik antara individu dengan lingkungan dalam organisasi ini muncul
ketika individu merasa mengalami :
a. Perilaku antagonis yang menyangkut perilaku lahiriah antara dia dan
orang lain yang berupa tindakan-tindakan seperti merusak dan
memperbaiki, antara menekan dan menetralisasi, acuh tak acuh dan
mengacuhkan, menyendiri dan bersosialisasi.
b. Adanya tarik menarik antara keperntingan diri sendiri dan kepentingan
orang lain, seprti memperoleh kesempatan dan menduduki jabatan dan
merugikan orang lain, memperluas wilayah pemasaran dan merugikan
bagian pemasaran lainnya.
c. Adanya ketidak cocokan antara kepentingan diri sendiri dengan
kepentingan orang/kelompok lain yang mempunyai tujuan yang sama.
Kedua unsur yang dijelaskan di atas mempunyai kaitan erat dengan
sumber-sumber konflik.

Manusia adalah makhluk sosial, manusia tidak mungkin dapat memenuhi


keinginan ataupun hajat kebutuhan sendiri, pasti ia membutuhkan kepada yang lain.
Agar bisa memenuhi kebutuhannya, manusia harus saling tolong-menolong.
21

Semakin banyak menolong dalam hal kebaikan maka semakin banyak pula ia akan
ditolong, sebaliknya semakin banyak menolong dalam keburukan maka semakin
banyak orang lain membencinya dan tidak mau menolong. Sudah jelas dalam ayat
tersebut, bahwa saling menolong hendaknya dalam hal kebaikan dan jangan saling
menolong dalam hal keburukan, namun kenyataanya tidak mudah untuk
dijalankan.
Hasil interpretasi manajen konflik dalam perspektif sosiologi, disebutkan
bahwa dalam Sosiologi dikenal dengan istilah konflik kelompok (group conflict),
konflik manajement (management conflict), dan konflik sistem (system conflict).
Istilah konflik sering dipakai dalam terma ilmu Sosiologi, sebagaimna
Luthans mendefinisikan konflik sebagai: “a consequence of a person's response to
what he perceived the situation or the behavior of others”. Maksudnya,
konsekuensi dari respon seseorang pada apa yang ia persepsikan mengenai situasi
atau perilaku dari orang lain.
Bartos dan Wehr, menyatakan bahwa konflik sesungguhnya situasi di mana
terjadinya suatu pertentangan dan permusuhan di antara para aktor dalam mencapai
suatu tujuan tertentu, yaitu: kepentingan. Menurutnya, ada kriteria situasi konflik,
yakni: pertentangan (incompatibility), permusuhan (hostility), dan perilaku konflik
(conflict behavior). Pruitt dan Rubin, mendefinisikan konflik sebagai sebuah
persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest).
Konflik merupakan a dinamic change dan bisa bersifat positif dan akan
menjadi destruktif bila tidak dikelola secara baik dan benar. Menurut Coser
sebagaimana dikutip Oberschall, mendefinisikan konflik sebagai berikut: “Social
conflict is a struggle over values or claims to status, power, and scarce resources,
in which the aims of the conflict groups are not only to gain the desired values, but
also to neutralise, injure, or eliminate rivals” (konflik sosial adalah perjuangan atas
nilai-nilai atau klaim terhadap sumber daya status, kekuasaan, dan langka, di mana
tujuan dari kelompok konflik tidak hanya untuk mendapatkan nilai yang
diinginkan, tetapi juga untuk menetralkan, melukai, atau menghilangkan saingan).
Perubahan sosial tidak semata terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang
22

membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan


kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula.
Dengan mengacu pada pengertian konseptual tentang konflik sosial tersebut,
maka proses konflik sosial akan meliputi spektrum yang lebar. Isu-isu kritis yang
membingkai konflik sosial yang seringkali dijumpai dalam sistem sosial (di segala
tataran) adalah: 1) Konflik antar kelas sosial (social class conflict) sebagaimana
terjadi antara “kelas buruh” melawan “kelas majikan” dalam konflik hubungan-
industrial, atau “kelas tuan tanah” melawan “kelas buruh-tani” dalam konflik
agraria. 2) Modes of production conflict (konflik moda produksi dalam
perekonomian) yang berlangsung antara kelompok pelaku ekonomi bermodakan
(cara-produksi) ekonomi peasantry-tradisionalism (pertanian skala kecil subsisten-
sederhana) melawan para pelaku ekonomi bersendikan moral-ekonomi akumulasi
profit dan eksploitatif. 3) Konflik sumberdaya alam dan lingkungan (natural
resources conflict) adalah konflik sosial yang berpusat pada isu claim dan
reclaiming penguasaan sumberdaya alam (tanah atau air) sebagai pokok sengketa
terpenting. 4) Konflik ras (ethnics and racial conflict) yang mengusung perbedaan
warna kulit dan atribut sub-kultural yang melekat pada warna kulit pihak-pihak
yang berselisih. 5) Konflik antar-pemeluk agama (religious conflict) yang
berlangsung karena masing-masing pihak mempertajam perbedaan prinsip yang
melekat pada ajaran masing-masing agama yang dipeluk mereka. 6) Konflik
sektarian (sectarian conflict), adalah konflik yang dipicu oleh perbedaan pandangan
atau ideologi yang dianut antar pihak. Konflik akan makin mempertajam perbedaan
pandangan antar mazhab (seringkali pada ideologi yang sama). 7) Konflik politik
(political conflict) yang berlangsung dalam dinamika olah kekuasaan (power
exercise). 8) Gender conflict adalah konflik yang berlangsung antara dua penganut
pandangan berbeda dengan basis perbedaan adalah jenis-kelamin. Para pihak
mengusung kepentingan-kepentingan (politik, kekuasaan, ekonomi, peran sosial)
yang berbeda dan saling berbenturan antara dua kelompok penyokong yang saling
berseberangan. 9) Konflik-konflik antar komunitas (communal conflicts), yang bisa
disebabkan oleh berbagai faktor, seperti: eksistensi identitas budaya komunitas dan
faktor sumberdaya kehidupan (sources of sustenance). Konflik komunal seringkali
23

bisa berkembang menjadi konflik teritorial jika setiap identitas kelompok melekat
juga identitas kawasan. 10) Konflik teritorial (territorial conflict) adalah konflik
sosial yang dilancarkan oleh komunitas atau masyarakat lokal untuk
mempertahankan kawasan tempat mereka membina kehidupan selama ini. Konflik
teritorial seringkali dijumpai di kawasankawasan hak pengusahaan hutan (HPH), di
mana komunitas adat/lokal merasa terancam sumber kehidupan dan identitas sosio-
budayanya manakala penguasa HPH menghabisi pepohonan dan hutan di mana
mereka selama ini bernaung dan membina kehidupan sosial-budaya dan sosio-
kemasyarakatan. 11) Inter-state conflict adalah konflik yang berlangsung antara dua
negara dengan kepentingan, ideologi dan sistem ekonomi yang berbeda dan
berbenturan kepentingan dengan pihak lain negara. Dalam kecenderungan global,
inter-state conflict bisa berkembang menjadi regional conflict.
Karena itu, Coser memahami konflik sebagai suatu yang inheren dalam
sistem masyarakat; dan ini tak lepas dari fakta hubungan kekuasaan dalam sistem
sosial dan sifat kekuasaan yang mendominasi dan diperebutkan. Fakta ini
menciptakan steering problem. Baginya, konflik merupakan kondisi dominasi
struktural, kelompok yang berada di dalam struktur dengan berbagai perangkat
kewenangan mampu mengarahkan berbagai bentuk kebijkan dan aturan main di
luar struktur wewenang tersebut.
Konflik juga memiliki kaitan yang erat dengan terancamnya struktur sosiol
masyarakat terhadap lingkunganya. Bagi Coser sendiri teori konflik fungsional
merupakan suatu usaha menjembatani teori fungsional dan teori konflik, hal itu
terlihat dari fokus perhatiannya terhadap fungsi integratif konflik dalam sistem
sosial. Coser sepakat pada fungsi konflik sosial dalam sistem sosial terletak pada
konsesus dan konflik sebagai jalan pembaharuan, penyatuan dan pemeliharaan
struktur sosial itu sendiri agar tidak terisolir dan mampu produktif.
Coser melalui teori fungsi sosial konflik menjelaskan beberapa hal di
antaranya adalah: a) Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumen-tal
dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial, b) Konflik dapat
menetapkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok, c) Konflik
dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan
24

melindungi agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya, d) Katup


penyelamat (savety-valve) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai
untuk mempertahankan kelompok dari kemung-kinan konflik sosial.
Hasil diskusi terhadap Manajemen Konflik Kepemimpian dalam Pendidikan
berbasis agama, filsafat, psikologi dan sosiologi yaitu: berdasarkan analisis dan
interpretasi terhadap Manajemen Konflik Kepemimpian dalam Pendidikan berbasis
agama, filsafat, psikologi dan sosiologi, maka dari hasil diskusi kelompok kami
disimpulkan bahwa :
1. Manajemen konfilik merupakan suatu cara yang dilakukan dengan tahapan-
tahapan untuk memecahkan masalah yang ada dengan tindakan-tindakan
yang tepat sasaran, sesuai dengan memanfaatkan peluang, mengatasi
ancaman, mencegah dampak negatif, mengurangi perselisihan yang ada
dalam konflik tersebut.
2. Konflik antar inidividu; merupakan pertentangan atau konflik yang
disebabkan oleh sentimen satu individu dengan individu lain di dalam
masyarakat. Contoh konflik individu adalah perkelahian antar dua orang
pelajar dikarenakan memperebutkan suatu hal yang sama.
3. Konflik politik; suatu perselisihan yang terjadi antara dua pihak, ketika
keduanya menginginkan suatu kebutuhan yang sama dan ketika adanya
hambatan dari kedua pihak, baik secara potensial dan praktis. Contoh:
Gerarakan 30 September adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal
30 September 1965 dimana enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta
beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan Kudeta yang
dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
4. Konflik Antarkelas Sosial; dipicu adanya perbedaan kepentingan antara kedua
golongan tersebut. Misalnya: antara karyawan pabrik dengan pemiliknya
karena tuntutan kenaikan gaji karyawan akibat minimnya tingkat
kesejahteraan.
5. Konflik antar kelompok sosial; konflik antar kelompok adalah konflik yang
terjadi ketika ada dan kepentingan sama atau berbeda dengan tujuan berbeda
25

dari masing-masing kelompok atau dapat dikatakan bahwa dalam hubungan


antar kelompok terdapat dua tujuan berbeda terhadap sesuatu yang sama.
6. Konflik antar generasi; konflik yang terjadi antara generasi tua yang
mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan
perubahan. Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum
muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut
generasi tua.
7. Konflik Agama; yang disebabkan sentimen kelompok dari kelompok agama
satu dengan kelompok agama lain. Contoh konflik agama yang pernah terjadi
seperti kerusuhan antara muslim dan Kristen di Poso Sulawasi
8. Sebagian orang menyebut konflik merupakan salah satu hal yang paling tidak
disukai, meskipun konflik tidak bias dihindari karena ada secara alamiah.
Sehingga jika konflik diabaikan cenderung memburuk, yang secara signifikan
dapat mengurangi kinerja organisasi dan berakibat fatal. Untuk menghadapi
konflik secara efektif, sebaiknya seorang pemimpin perlu memiliki beberapa
stategi, diantaranya : a) melayani, b) menghadapi masalah yang ada, dengan
cara mencari akternatif win-win, memotong kerugian saat diperlukan,
merumuskan stategi manajemn konflik dengan pendekatan: proaktif.
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan
Manajemen konflik adalah kemampuan mengendalikan konflik yang terjadi,
yang menuntut keterampilan manajemen tertentu. Manajemen konflik yang efektif
dikatakan berhasil bila mampu mengembangkan dan mengimplementasikan strategi
konflik dengan baik. Dalam ajaran Islam, konflik bukanlah sebagai tujuan namun
sebagai sarana untuk menyatukan berbagai hal yang saling bertentangan untuk
membebaskan kehidupan manusia dari kepentingan individual dan dari
kejelekankejelekan, sehingga kemudian melahirkan kebaikan-kebaikan.
Manajemen konflik merupakan suatu langkah yang diambil oleh manajer
(Kepala Sekolah) untuk mengendalikan konflik yang terjadi sehingga tujuan
pendidikan dapat terwujud secara optimal. Konflik yang terjadi dikarenakan adanya
perbedaan pendapat yang masing-masing merasa paling benar sehingga
menimbulkan ketegangan, adanya salah paham, salah satu atau dua pihak merasa
dirugikan dan terlalu sensitif. Konflik dapat terjadi antara seseorang atau unit-unit
sosial yang disebut dengan konflik interpersonal, intergroup, dan internasional.
Konflik dapat menguntungkan kegiatan organisasi atau perorangan apabila
dapat merangsang timbulnya gagasan-gagasan baru untuk meningkat efisiensi dan
efektivitas kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah, dan menjaga agar
kelompok selalu memperdulikan berbagai kepentingan anggota. Konflik memiliki
dampak positif tergantung manajemennya sendiri.
Kesimpulan dalam makalah dengan judul “Manajemen Konflik dalam
Kepemimpinan berbasis agama, filsafat, psikolgi dan sosiologi” adalah:
1. Konflik merupakan perbedaan, pertentangan, dan ketidak sesuaian
kepentingan, tujuan, dan kebutuhan dalam situasi formal, sosial, dan
psikologis, sehingga menjadi antagonis, ambivalen, dan emosional
diantara individu dalam suatu kelompok atau organisasi.
2. Dalam Islam, konflik bukanlah sebagai tujuan namun lebih sebagai sarana
untuk memadukan antara berbagai hal yang saling bertentang-an untuk
membebaskan kehidupan manusia dari kepentingan individual dan dari
26
27

kejelekan-kejelekan, sehingga tidak membiarkan perbedaan-perbedaan itu


menjadi penyebab adanya permusuhan.
3. Dalam konteks islam manajemen disebut juga dengan ( )
yang berasal dari lafadz ( ). Manajemen merupakan kegiatan, proses
dan prosedur tertentu untuk mencapai tujuan akhir secara maksimal dengan
bekerja sama sesuai jobnya masing-masing.
4. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik yaitu keterbatasan
sumber, tujuan yang berbeda komunikasi yang tidak baik, beragam
karakteristik sistem sosial, pribadi orang, kebutuhan, perasaan dan emosi
5. Ada lima tipe konflik antara lain: konflik internal individu, konflik antar
individu, konflik antara individu dan kelompok, konflik antarindividu dalam
organisasi, dan konflik antarorganisasi.
6. Islam banyak menggunakan cara-cara damai sebagai cara untuk mengelola
konflik. Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk memiliki sikap
toleransi terhadap perbedaan perbedaan yang dimiliki tiap-tiap manusia.
Karena perbedaan itu merupakan kodrat Allah Swt. yang tidak bisa ditolak.
Perbedaan itu diciptakan untuk saling melengkapi, dan dengan perbedaan
itu manusia akan terus berkem-bang dan menciptakan perubahan-
perubahan yang nantinya akan berman-faat bagi manusia pada umumnya.
7. Prinsip-prinsip pelaksanaan manajemen konflik adalah : perlakukanlah secara
wajar dan alamiah, pandanglah sebagai dinamisator organisasi, media
pengujian kepemimpinan, dan fleksibilitas strategi
8. Kriteria keberhasilan manajemen konflik dapat diukur dari beberapa hal
yang seyogyanya menjadi langkah-langkah pelaksanaan manajemen
konflik.

B. Implikasi
1. Konflik dapat terjadi di dalam atau di luar sebuah sistem kerja peraturan.
2. Konflik harus disadari oleh setidaknya salah satu pihak yang terlibat dalam
konflik tersebut.
3. Keberlanjutan bukan suatu hal yang penting karena akan terhenti ketika
suatu tujuan telah tercapai
4. Tindakan bisa jadi menahan diri dari untuk tidak bertindak.
28

5. Implikasi yang dihasilkan dalam makalah ini adalah keberhasilan setiap


individu, kelompok maupun organisasi baik dalam proses penyelesaian
konflik sangat dipengaruhi oleh kesadaran pribadi (individu). Oleh sebab
itu kesadaran setiap orang sebagai makhluk yang memiliki akal budi
sebagai warga masyarakat, anggota organisasi harus dijaga dan dipelihara
dengan baik sehingga seluruh tanggungjawabnya dapat terlaksana dengan
semestinya.
6. Upaya peningkatan pengelolaan iklim organisasi oleh seorang pemimpin
dalam pendidikan, (kepala sekolah), dapat melakukan berbagai macam
strategi dan terobosan dalam membuat /mengkondisi-kan iklim organisasi
yang kondusif dan nyaman untuk menumbuhkan komitmen yang tinggi
terhadap organisasi sehingga guru-gurupun akan merasa nyaman berada di
dalam organisasi tersebut.
7. Kemampuan kepala sekolah dalam menyelesaikan konflik dan cara
berkomunikasinya, juga tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi
komitmen guru. Karena penyelesaian konflik yang baik akan
menyelesaikan masalah tanpa meninggalkan rasa ketidak adilan atas
penyelesaian yang dilakukan. Cara komunikasi yang baik juga akan
menimbulkan kesepahaman dan menghindarkan kesalahpahaman akan
maksud dari instruksi, atau teguran dari kepala sekolah, sehingga
komitmen gurupun terjaga dan dapat ditingkatkan.

C. Rekomendasi
Berdasarkan hasil diskusi makalah ini, penulis dapat dapat memberikan
beberapa rekondasi sebagai berikut :
1. Secara Umum :
Konflik tadak dapat dihindarkan, karena konflik hadir secara alami.
Untuk itu, perlu diterima dan dicari penyelesainya, dengan bijak, sabar
dan tenang menghadapinya, serta berpandangan positif dalam
penyelesainya; jika tidak, sekecil apapun konlik bisa berdampak buruk
dalam kehidupan.
29

2. Secara khusus untuk dunia pendidikan :


a. Kepada Guru : (1) meningkatkan profesionalisme guru dalam
melaksanakan tugasnya terutama dalam mengajar, (2) bersama-sama
kepala sekolah menciptakan iklim organisasi yang kondusif demi
terciptanya kondisi belajar mengajar yang efektif.
b. Kepada Kepala sekolah, (1) melakukan manajemen konflik yang
persuasif yang dapat memuaskan semua pihak sehingga dapat
meingkatkan loyalitas dedikasi dan komitmen guru untuk kemajuan
sekolah, (2) berusaha meningkatkan kemampuan komunikasi
interpersonal, kemampuan akademik dan ketram-pilan baik melalui
jalur pendidikan formal, pelatihan-pelatihan, karya ilmiah, dan
modul pembelajaran.
c. Kepada Peneliti, untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat
melakukan penelitian lanjutan yang berkaitan dengan iklim
organisasi, manajemen konflik dan komunikasi interpersonal kepala
sekolah dengan menambah faktor-faktor lain guna mendapatkan
berbagai informasi dalam upaya meningkatkan kualitas pembel-
ajaran.

DAFTAR PUSTAKA
30

Arya Hadi Dharmawan. (2006) “Konflik-Sosial dan Resolusi Konflik: Analisis


SosioBudaya (Dengan Fokus Perhatian Kalimantan Barat)”, Makalah untuk
Seminar PERAGI, Pontianak.

Coser, Lewis. (1956) The Funcions of Social Conflict. NewYork: Free Press.

Dahrendoerf, R. (1986). Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri: Sebuah


Analisa Kritik. Jakarta: Rajawali.

Danim S, (2017). Kepemimpinan Pendidikan: Kepemimpinan Jenius, (IQ,EQ),


Etika, Perilaku Motivasional, dan Mitos. Bandung : Alfabeta.

Dean, Pruitt G. dan Rubin Z. Jeffrey. (2004). Teori Konflik Sosial. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

Digirolamo, Joel A.(2008). Conflict in Organitation. Turbi charged Leadership by


Paranopower Inc.

Ekawarna, (2018). Manajemen Konflik dan Stress. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Fattah N, (2012). Analisis Kebijakan Pendidikan.Bandung : PT. Remaja Rosda


Karya.

Handoko H.T, (2015). Manajemen. Yogyakarta : BPFE-YOGYAKARTA

Hamalik Oemar, (2012). Manajemen Pengmbangan Kurikulum, Bandung : PT.


Remaja Rosda Karya.

Isjoni, (2007). Manajemen Kepemimpinan dalam Pendidikan. Bandung : Sinar


Baru Algensindo.
Kriesberg, Louis.(1998). Constructive Conflicts from Escalation to Resolution.
Lanham: McRow Man and Little Field.

Luthans, F .(1973). Organizational Behaviour. New York: McGraw Hill Publishing


Company.

Kartono, Kartini. (1998). Pemimpin dan Kepemimpinan-apakah pemimpin


abnormal itu?. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Mulyasa E, (2013). Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung : PT. Remaja


Rosda Karya.

Mulyono. (2009). Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan .


Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
31

Narjono, Arijo Isnoer. (2014). Jurnal Manajemen Konflik Organisasi dalam


Pandangan Islam (Organizational Conflict Management in Islamic View).
Jurnal JIBEKA Volume 8 No 1

Oberschall, A.(2008). Theories of Social Conflict: Annual Review of Sociology,


Vol. 4.

Otomar, Bartos J. and Paul Wehr.(2002). Using Conflict Theory. Cambridge


University Press.

Paul, Collier. (2003). Breaking the Conflict Trap: Civil War and Development
Policy. Washington D.C.: The World Bank.

Sauri S, (2006). Membangun Komunikasi dalam Keluarga (Kajian Nilai Religi,


Sosil, dan Edukatif). Bandung : PT. Genesindo.

Sauri S, (2010). Filsafat Imu Pendidikan Agama. Bandung : CV. Arfino Raya.

Sauri S, (2013). Filsafat dan Teosofat Akhlak:Kajian filosofis, dan teologis tentang
akhlak, karakter, nilai, etika, budi pekerti, tatakrama, dan sopan santun.
Bandung : PT. Genesindo.

Sauri S, (2016). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam, Bandung; Rizqi


Press.

Sauri S, (2017). Kesantuan Berbahasa, Bandung; Press Royyan.

Soetopo, Hendyat, (2010), Perilaku Organisasi: Teori dan Praktik dalam Bidang
Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suharsaputra U, (2016). Kepemimpinan Inovasi Pendidikan, Mengembangkan


Spirit Entrepreneurship Menuju Learning School. Bandung : PT. Rafika
Aditama.

Suharsimi Arikunto dkk, (2009). Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya


Media.

Syah M, (2014). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.

Tafsir, Ahmad. (1992). Ilmu Pendidikan Dalam Presfektif Islam. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Ted, Gurr Robert (ed.). (1998). Hand Book of Political Conflict: Theory and
Research. New York: The Free Press, A Division of Macmillan Publishing
Co., Inc.
32

Wolf, Stefan. (2006). Ethnic Conflict: A Global Perspective. New York: Oxford
University Press, 2006.