Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sekarang ini, membuat kita
untuk lebih membuka diri dalam menerima perubahan-perubahan yang terjadi akibat kemajuan
dan perkembangan tersebut.
Dalam masa persaingan yang sedemikian ketatnya sekarang ini, menyadari sumber daya
manusia merupakan model utama dalam suatu usaha, maka kualitas tenaga kerja harus
dikembangkan dengan baik. Jadi perusahaan atau instansi diharapkan memberikan kesempatan
pada mahasiswa/i untuk lebih mengenal dunia kerja denga cara menerima mahasiswa/i yang
ingin mengadakan kegiatan praktek kerja lapangan.
Praktek Kerja Lapanagn dilakukan agar mahasiswa dapat memperoleh tambahan
pelajaran, mempersiapkan serta sebagai bekal pengalaman kerja sesuai dengan bidang ilmu
yang dikaji, dengan memadukan antara wawasan teoritis dan praktik kerja
secara riil dilapangan yang memiliki kompetensi.
Mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UNSRAT, melakukan Praktek Kerja Lapangan di
Instansi yaitu (BMKG) pos pengamatan Winangun yang bergerak dalam kajian Geofisika.
1.2.Rumusan Masalah
a. Bagaimana operasional sistem pendeteksian petir?
b. Bagaimana jumlah penyebaran kerapatan kejadian petir di Sulawesi Utara pada periode
sepanjang bulan Desember 2018?
1.3.Tujuan
a. Menambah pengetahuan (wawasan) serta keterampilan mahasiswa dalam bidang ilmu
yang dikajinya
b. Sebagai salah satu syarat akademik dalam menyelesaikan pendidikan program –SI
c. Memperkenalkan mahsiswa pada situasi kerja yang sebenarnya
1.4.Manfaat
a. Mahasiswa bisa mengaplikasikan antara konsep atau teori yang diperoleh dari
perkuliahan dengan kenyataan operasional dilapangan kerja yang sesungguhnya
sehingga makna belajar akan lebih tinggi
b. Sebagai media untuk mengenal dunia kerja yang berbeda dengan dunia kampus
c. Meningkatkan serta memantapkan profesionalan untuk pembekalan kelapangan
pekerjaan yang sebenarnya.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pengertian Petir
Petir merupakan proses pelepasan muatan elektrostatis yang berasal dari badai Guntur,
dimana dalam fenomena alam ini pelepasaan muatan ini disertai dengan pancaran cahaya dan
radiasi elektromagnetik. Peristiwa alam yang terjadi di atmosfir bawah yaitu peristiwa
pelepasan muatan elektrostatis yang berasal dari badai Guntur yang cukup tinggi dan bersifat
transient dengan disertai pancaran cahaya dan radiasi elektromagnetik lainnya. Perbedaan
waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan
cahaya. Kecepatan suara adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kecepatan gelombang
suara yang melalui medium elastis.
Kecepatan ini dapat berbeda tergantung medium yang dilewati (misalnya suara lebih
cepat melalui udara daripada air), sifat-sifat medium tersebut, dan suhu. Namun, istilah ini lebih
banyak dipakai untuk kecepatan suara di udara. Pada ketinggian air laut, dengan suhu 21 °C
dan kondisi atmosfer normal, kecepatan suara adalah 344 m/detik (1238 km/jam).
Jadi, dengan dengan mengetahui besarnya kecepatan dari kecepatan suara dan
kecepatan cahaya maka dapat kita ketahui bahwa petir yang kita ketahui sebenarnya terlebih
dahulu mengeluarkan kilatan cahayanya setelah itu diikuti dengan suara gemuruh petir itu
sendiri.
Gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan dimana dilangit muncul kilatan
cahaya sesaat yang menyilaukan yang beberapa saat kemudian disusul dengan menggelar.
Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan
kecepatan cahaya. Kejadian petir dapat dianalogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, di mana
lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua
adalah adalah bumi (dianggap netral).
Seperti yang sudah diketahui kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian
listrik yang bisa menyimpan energi sesaat (energy storage). Pelepasan muatan atau petir dapat
terjadi didalam awan, antar awan dengan awan dan antar awan dan permukaan bumi.

2.2.Bagaimana Terjadinya Petir


Proses terjadinya muatan pada awan karena muatan bergerak terus menerus secara
teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan
negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif

2
berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar,
maka akan terjadi pelepasan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk
mencapai kesetimbangan. Pada proses pelepasan ini, media yang dilalui elektron adalah udara.
Jenis awan yang dapat menimbulkan petir yaitu awan cumulonimbus (Cb) yang
cenderung menggumpal dan menjulang tinggi. Awan cumulonimbus berasal dari awan stratus
yang berkembang menjadi awan cumulus. Dalam fase cumulus terdapat gerak vertikal uap air
keatas. Setelah fase cumulus, awan cumulonimbus memasuki fase matang. Pada fase ini awan
menjadi tinggi menjulang dan ditandai hujan lebat 10 sampai 15 menit. Pada fase ini awan juga
dapat mencapai ketinggian 13 km dan awanpun masih bergerak keatas dengan kecepatan naik
1-15 km/menit. Dalam fase inilah dapat terjadi petir.
Petir hanya terjadi pada awan yang bergerak keatas dan melebihi tingkat pembekuan
karena pemisahan muatan berkaitan dengan kristal-kristal es. Kristal yang lebih ringan
bertumbukkan dengan butiran-butiran es yang lebih berat di dalam awan. Kristal yang lebih
ringan membentuk muatan positif dan bergerak kebagian atas awan sedangkan butiran-butiran
es yang berat bermuatan negatif dan bergerak kebagian bawa awan seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Pemisahan mutan positif dan negatif pada awan cumulonimbus (Lee. 2010)
Muatan negatif pada awan bagian bawah menyebabkan daerah dipermukaan
tanah dibawah awan tersebut menjadi bermuata positif. Objek yang menonjol yang
menonjol dari permukaan tanah bermuatan positif lebih rapat seperti pohon, gedung dan
tiang-tiang.
Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi
ledakan suara dan kilatan cahaya. Perbedaan waktu antara kilatan cahaya dan suara
dikarenakan perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya. Petir lebih sering
terjadi pada musim hujan (adanya awan Cumulusnimbus = thunder cloud), karena pada saat
tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan

3
arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan
positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.

Gambar 2. Pembentukkan awan petir (BMKG. 2018)

Gambar 3. Pembuatan sel bermuatan listrik pada awan (BMKG. 2018)

Ada beberapa kriteria yang dibutuhkan untuk menunjang terjadinya petir, dimana kriteria
ini merupakan rangkaian dari proses terbentuknya petir yang sampai kepermukaan bumi,
hal tersebut adalah:
1. Dibutuhkan udara naik (Up-draft) keatas akibat pemanasan permukaan tanah atau
sifat orografis permukaan tanah
2. Dibutuhkan partikel aerosol (mengambang) yang hygroskopis (menyerap air) dari
garam laut atau partikel industri yang naik bersama up-draft
3. Dibutuhkan udara lembab yang naik keatas untuk pembentukan partikel es (hailstone)
di awan

MEKANISME TERJADINYA PETIR

4
Dari beberapa kejadian petir dapat disimpulkan beberapa fakta yang berkaitan dengan
kejadian petir antara lain:
1. Setiap sambaran dapat membangkitkan sampai dengan 100 juta volt listrik dan arus
mengalir sampai dengan 200 ribu ampere
2. Suhu kanal petir sampai dengan 54,000 °F, lebih panas dari permukaan matahari,
namun terbentuk dari es
3. Menyambar dimana saja, setiap detik di permukaan bumi terjadi ribuan sambaran ke
tanah dan sambaran itu dapat berasal dari lebih 10 mil jaraknya dari awan petir.
4. Statistik menunjukkan sambaran petir awan ke awan (intra cloud – IC) lebih banyak
dari pada sambaran petir ke tanah (cloud to ground – CG), namun itu saja sudah
cukup banyak menyebabkan masalah di permukaan bumi Mekanisme terjadinya petir
ini ditandai dengan terjadinya pelepasan muatan listrik dari awan, mekanisme ini
dapat dijelaskan oleh Gambar 2.3 yang terbagi dalam beberapa tahapan, yaitu:
1. Pemisahan muatan positif dan negatif dalam awan atau udara
2. Bintik hujan atau es terpolarisasi melalui medan listrik di atmosfir
3. Kristal positif naik sehingga puncak awan bermuatan positif, dan yang bermuatan
negatif dan batu es berkumpul di lapisan tengah dan bawah awan sehingga
membentuk muatan negative

Gambar 4. Mekanisme pelepasan muatan listrik (BMKG. 2018)

Sistem deteksi petir yang digunakan adalah Sistem deteksi dan Analisa petir secara realtime
mengunakan perangkat lunak lightning/2000 yang dirangkai dengan Boltek Lightning
Detection System. StormTracker ini dapat mendeteksi strokes petir secara optimal sekitar 300
mil yang kemudian diplot secara otomatis dan real-time ke sistem, dimana semakin banyak.
5
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
3.1.Lokasi
Stasiun Geofisika klas 1 Manado Pos Pengamatan Winangun terletak di Jln. Harapan
Winangun No. 42, Manado, Sulawesi Utara. Pada posisi koordinat geografis 1°26’35” LU -
124°50’21” BT.

Gambar 5. Lokasi BMKG Winangun Stasiun Geofisika Manado

3.2. Waktu Pelaksanaan


Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan ini dilaksanakan mulai dari tanggal 3 Januari 2019
sampai dengan tanggal 3 Februari 2019 yang berlangsung dengan waktu kerja dari hari senin
sampai dengan Jumat dan dimulai dari pukul 07.00-16.00 WITA.
Tabel 1. Rincian Kegiatan PKL
NO Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan

1. Kamis, 03 Januari 2019 Pengenalan lokasi serta pengenalan

pegawai dilokasi pelaksanaan (PKL)

praktek kerja lapangan

2. Jumat, 04 Januari 2019 Pengenalan alat-alat yang ada di

stasiun serta pengarahan cara

penggunaannya

6
3. Sabtu, 05 Januari 2019 - Libur

4. Minggu, 06 Januari - Libur

2019

5. Senin, 07 Januari 2019 Pembuatan Almanak 2019 serta

pengarahan Belajar menganalisa

Gempa

6. Selasa, 08 Januari 2019 Pembuatan Almanak 2019 serta belajar

menganalisa Gempa

7. Rabu, 09 Januari 2019 Pembuatan Bulletin Tahunan Listrik

udara 2018

8. Kamis, 10 Januari 2019 Belajar menganalisa Gempa

9. Jumat, 11 Januari 2019 Belajar menganalisa Gempa

10. Sabtu, 12 Januari 2019 - Libur

11. Minggu, 13 Januari - Libur

2019

12. Senin, 14 Januari 2019 Pengarah cara untuk menakar curah

hujan serta pembuatan Bulletin

Tahunan Gempa Bumi 2018

13. Selasa, 15 Januari 2019 Pengambilan data untuk curah hujan

serta pembuatan Bulletin Tahunan

Gempa Bumi 2018

14. Rabu, 16 Januari 2019 Pengambilan data untuk curah hujan

serta pembuatan Bulletin Tahunan

Gempa Bumi 2018

7
15. Kamis, 17 Januari 2019 Pembuatan Bulletin Tahunan Gempa

Bumi 2018 dan Magnet Bumi 2018

16. Jumat, 18 Januari 2019 Pembuatan Bulletin Tahunan Magnet

Bumi

17. Sabtu, 19 Januari 2019 Libur

18. Minggu, 20 Januari - Libur

2019

19. Senin, 21 Januari 2019 Pembuatan Bulletin Tahunan serta

Belajar menganalisa Gempa

20. Selasa, 22 Januari 2019 Pengambilan data untuk curah hujan

21. Rabu, 23 Januari 2019 Pengambilan data untuk curah hujan

22. Kamis, 24 Januari 2019 Pengambilan data untuk curah hujan

23. Jumat, 25 Januari 2018 Pengambilan data untuk curah hujan

24. Sabtu, 26 Januari 2018 Libur

25. Minggu, 27 Januari Libur

2018

26. Senin, 28 Januari 2018 Pengambilan data untuk curah hujan

27. Selasa, 29 Januari 2018 Pengambilan data untuk curah hujan

dan membuat laporan PKL

28. Rabu, 30 Januari 2018 Pengambilan data curah hujan dan

membuat laporan PKL

29. Kamis, 31Januari 2018 Pembuatan laporan PKL

8
30. Jumat, 01 Februari Pengumpulan laporan PKL dan

2018 Pengambilan data untuk curah hujan

31. Sabtu, 02 Februari 2018 Libur

32. Minggu, 03Februari Libur

2018

3.3. Struktur Organisasi

KEPALA STASIUN GEOFISIKA MANADO


PUSAT GEMPA REGIONAL X
KOORDINATOR STASIUN BMKG SULAWESI UTARA

ABRAHAM FREDRIK MUSTAMU, S.Si, MM

NIP. 19630107 198802 1 001

KEPALA SUB BAGIAN TATA


USAHA

JOANES E. KOAGOW, M.Si.


NIP. 19750910 199803 1001

KEPALA SEKSI DATA DAN


KEPALA SEKSI OBSERVASI
INFORMASI

R. SATRIA INDRA GUNAWAN


EDWARD HENRRY. MENGKO
NIP. 19700216 199503 1 003
NIP. 19820501 200812 1001

KEPALA JABATAN FUNGSIONAL

Gambar 6: Struktur Organisasi Stasiun Geofisika Kelas 1 Winangun Manado


9
3.4. Profil Instansi
Stasiun dibangun diatas tanah milik Negara cq. BMG pada tahun 1973 yang
pengadaannya melalui DIP PMG tahun anggaran 1973/1974 seluas 2.400 m2 di kelurahan
Winangun Lingkungan III Manado dengan posisi pada ketinggian 124 m di atas permukaan laut
dan pada lintang 144.397 LS-124.84 BT.Pada tahun yang sama dibangun kantor Stasiun
Pengamatan seluas 70 m2 dan 1 unit rumah dinas type 70.
3.5. Sejarah BMKG Stasiun Geofisika Manado
Pemimpin Stasiun yang menjabat sesuai dengan SPPT (Surat Perintah Pelaksana Tugas)
adalah Bapak Jamhuri selaku pelaksana tugas (1973-1976). Pada tahun 1976 Stasiun Geofisika
Manado menjadi kelas 2 yang dikepalai oleh Bapak Justinus Sutiyanto.Terhitung mulai tanggal
13 Januari 1983 Stasiun Geofisika Manado dinaikan statusnya menjadi Stasiun Geofisika Kelas
I ‘’Winangun’’ Manado. Sesuai Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor :
KM.45/MG.004/Phb-83 tanggal 13 Januari 1983.Pada awal bulan Pebruari 1988 Bapak
Y.Sutiyanto dipromosikan sebagai Kabawil V Jayapura dan Jabatan Kepala Stasiun Geofisika
Manado diserahterimakan dari Bapak Yustinus Sutiyanto kepada Bapak F.X Marwoko. Sejak
tanggal 16 Pebruari 1988 beliau menjabat dengan periode 1988 – 1991.Tahun 1991 Bapak F.X
Marwoko dipromosikan menjadi Kepala Bawil IV Sulawesi Maluku dan Jabatan Kepala
Stasiun Geofisika Kelas I Manado diserah terimakan kepada Bapak I Made Rai. Periode tahu
1991 – 1996, terhitung mulai tanggal 11 Maret 1991 Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Manado
dijabat oleh Bapak. I Made Rai. Awal tahun 1992 alat SMA 1 yang ada di Manado, Bitung dan
Naha dikirim ke Bawil IV untuk di Kalibrasi.Pada awal tahun 1996 Kepala Stasiun Geofisika
Manado diserahterimakan dari Bapak I Made Rai kepada Bapak Drs. Hendar Gunawan, M.Sc
periode 1996 – 2000.
Periode tahun 2000 – 2003, terhitung mulai tanggal 21 Agustus 2000 Kepala Stasiun
Geofisika Kelas I Manado dijabat oleh Bapak Drs.Suhardjono, Dipl Seis. Periode tahun 2003 –
2007, sejak pertengahan tahun 2003 Kepala Stasiun Geofisika Manado dijabat oleh Bapak
Drs.Subardjo,Dipl.Seis.Periode tahun 2008, sejak Januari 2008 Kepala Stasiun Geofisika
Manado dijabat oleh Bapak Slamet Suyitno Raharjo, S.Si, M.Si.Awal Desember tahun 2014
Bapak Slamet Suyitno Raharjo, S.Si, M.Si dimutasi menjadi Kepala Balai Besar MKG wilayah
V Jayapura, posisi Kepala Stasiun Geofisika Manado diserahterimakan kepada Bapak Robert
Owen Wahyu, S.Si pada tanggal 10 Desember 2014. Pada akhir November 2016 Bapak Robert
Owen Wahyu, S.SI dimutasi menjadi kepala pusat Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG
pusat Jakarta. Terhitung pada tanggal 1 Desember 2016 - 31 Oktober 2018, kepala Stasiun
Geofisika Manado dijabat oleh Bapak Irwan Slamet, S.T., M.Si., kemudian dimutasi menjadi
kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang.
10
Periode 2018 sampai sekarang, sejak 1 November 2018, Bapak Abraham F. Mustamu,
S.Si., M.M. memimpin Stasiun Geofisika Manado dari sebelumny menjabat sebagai kepala
Stasiun Geofisika Ambon. Diperiode ini, pada bulan November 2018, terdapat dua orang
pegawai tugas belajar yang berhasil menyelesaikan studi S2 Ilmu perairan dari Universitas Sam
Ratulangi.
Stasiun Geofisika Manado mempunyai 3 lokasi pengamatan yaitu:
1. Pusat Gempa Regional X (PGR-X) yang berada di kota Manado di Kelurahan Winangun 1
dengan posisi geografis 1° 26′ 35" LU - 124° 50′ 21" BT denagan ketinggian 128 m, jenis
batuan Basalt Peroksin.
2. Pos pengamatan Tondano berada di Kab. Minahasa, Kelurahan Papekelan dengan letak
geografis 1° 17′ 42" LU - 124° 55′ 30" BT, dengan ketinggian 704 m, dengan jenis batuan
Sandstone.
3. Pos pengamatan Melonguane, berada di Kab. Talaud.
Kondisi tektonik Sulawesi Utara merupakan ujung pertemuan 3 bagian utama lempeng
kerak bumi yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Philipine. Lempeng
Pasifik dan Philipine bergerak relatif kearah Barat dengan kecepatan rata-rata 11 cm
pertahun, kedua Lempeng tersebut menyusup atau terjadi subduksi kebawah Lempeng
Eurasia yakni Halmahera dan Sulawesi Utara.
Gerakkan ketiga Lempeng Kerak Bumi tersebut menyebabkan terjadinya tatanan
tektonik yang cukup kompleks di kawasan Sulawesi Utara dan sekitarnya. Di daerah ini
terbentuk Lempeng kecil-kecil yaitu pecahan ujung Lempengan Eurasia yang didesak oleh
Lempeng Pasifik dan Philipine.
Lempeng Eurasia adalah Lempeng kontinen (daratan) sehingga memiliki massa jenis
lebih kecil disbanding Lempeng Pasifik dan Philipine yang merupakan Lempeng oceanik,
sehingga ujung Lempeng Eurasia yang tertekan pecah menjadi tiga Lempeng kecil antara
lain; Lempeng Halmahera, Lempeng Laut Maluku, dan Lempeng Sangihe. Sedangkan
Sulawesi Utara masih menyatu dengan Lempeng Eurasia.

11
3.6. Logo BMKG

Gambar 7. Logo BMKG

3.6.1. Bentuk Logo


Logo Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika berbentuk lingkaran dengan
warna dasar biru, putih dan hijau, di tengah-tengah warna putih terdapat satu garis berwarna
abu-abu. Dibawah logo yang berbentuk lingkaran terdapat tulisan BMKG.

3.6.2. Makna Logo


Makna dari logo BMKG menggambarkan bahwa BMKG berupaya semaksimal mungkin
dapat menyediakan dan memberikan informasi meteorologi klimatologi dan geofisika dengan
mengaplikasikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini dan dapat berkembang
secara dinamis sesuai kemajuan zaman. Dalam menjalankan fungsinya, BMKG berupaya
memberikan yang terbaik dan penuh keikhlasan berdasarkan pancasila untuk bangsa dan tanah
air Indonesia yang subur yang terletak di garis kathulistiwa.

3.6.3. Arti Logo


1. Bentuk lingkaran melambangkan BMKG sebagai institusi yang dinamis
2. 5garis di bagian atas melambangkan dasar Negara RI yaitu Pancasila
3. 9 garis di bagian bawah merupakan angka tertinggi yang melambangkan hasil
maksimal yang diharapkan
4. Gumpalan awan putih melambangkan meteorologi
5. Bidang warna biru bergaris melambangkan klimatologi
6. Bidang berwarna hijau bergaris patah melambangkan geofisika
7. 1 garis melintang di tengah melambangkan garis kathulistiwa

12
3.6.4. Arti Warna Logo
1. Warna biru diartikan keagungan/ ketaqwaan;
2. Warna putih diartikan keikhlasan/ suci;
3. Warna hijau diartikan kesuburan;
4. Warna abu-abu diartikan bebas/ tidak ada batas administrasi.
3.7. Tugas dan Fungsi BMKG
BMKG mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi,
Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud diatas, Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika menyelenggarakan fungsi :
1. Perumusan kebijakan nasional dan kebijakan umum di bidang meteorologi, klimatologi,
dan geofisika;
2. Perumusan kebijakan teknis di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
3. Koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang meteorologi, klimatologi,
dan geofisika;
4. Pelaksanaan, pembinaan dan pengendalian observasi, dan pengolahan data dan
informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
5. Pelayanan data dan informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
6. Penyampaian informasi kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat berkenaan
dengan perubahan iklim;
7. Penyampaian informasi dan peringatan dini kepada instansi dan pihak terkait serta
masyarakat berkenaan dengan bencana karena factor meteorologi, klimatologi, dan
geofisika;
8. Pelaksanaan kerja sama internasional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
9. Pelaksanaan penelitian, pengkajian, dan pengembangan di bidang meteorologi,
klimatologi, dan geofisika;
10. Pelaksanaan, pembinaan, dan pengendalian instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan
komunikasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
11. Koordinasi dan kerja sama instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan komunikasi di bidang
meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
12. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keahlian dan manajemen pemerintahan di bidang
meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
13. Pelaksanaan pendidikan profesional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
14. Pelaksanaan manajemen data di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
13
15. Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi di lingkungan BMKG;
16. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab BMKG;
17. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BMKG;
18. Penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang meteorologi, klimatologi, dan
geofisika.
3.8. Visi dan Misi BMKG
Visi:
a. Pelayanan informasi meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika yang
handal ialah pelayanan BMKG terhadap penyajian data, informasi pelayanan jasa
meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika yang akurat, tepat sasaran, tepat
guna, cepat, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan
b. Tanggap dan mampu dimaksudkan BMKG dapat menangkap dan merumuskan
kebutuhan stakeholder akan data, informasi, dan jasa meteorologi, klimatologi, kualitas
udara, dan geofisika serta mampu memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan
pengguna jasa;
Misi:
a. Mengamati dan memahami fenomena meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan
geofisika artinya BMKG melaksanakan operasional pengamatan dan pengumpulan data
secara teratur, lengkap dan akurat guna dipakai untuk mengenali dan memahami
karakteristik unsur-unsur meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika guna
membuat prakiraan dan informasi yang akurat;
b. Menyediakan data, informasi dan jasa meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan
geofisika kepada para pengguna sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka dengan
tingkat akurasi tinggi dan tepat waktu;
c. Mengkoordinasi dan Memfasilitasi kegiatan sesuai dengan kewenangan BMKG, maka
BMKG wajib mengawasi pelaksanaan operasional, memberi pedoman teknis, serta
berwenang untuk mengkalibrasi peralatan meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan
geofisika sesuai dengan peraturan yang berlaku
d. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan internasional artinya BMKG dalam melaksanakan
kegiatan secara operasional selalu mengacu pada kententuan internasional mengingat
bahwa fenomena meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika tidak terbatas
dan tidak terkait pada batas batas wilayah suatu negara manapun.

14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam Praktek Kerja Lapangan dilakukan Sistem deteksi petir (listrik udara).
Pendetektesian yang dilakukan yaitu menggunakan sistem deteksi dan analisis petir secara real
time menggunakkan perangkat lunak Astrogenic Nextorm versi 1.9.182.
Storm Tracker ini dapat mendeteksi strokes petir secara optimal sekitar 300 mil yang
kemudian di plot secara otomatis dan real time ke sistem, dimana semakin banyak strokes maka
semakin banyak maksimal penentuan posisi dari sistem. Storm tracker bekerja dengan
mendeteksi sinyal radiao yang dihasilkan oleh petir, dengan kata lain, atena Storm Tracker
dapat memberikan informasi dan arah jarak thunderstorm yang dikalkulasikan dengan kekuatan
sinyal yang diterima.

Peralatan yang digunakan di Stasiun Geofisika Manado:


 Power supply voltage 11.8-18 VDC, 0.8Amp
 AC adapter: 120VAC, 60Hz (220VAC 50Hz)
 Interface RS232 Port: 9600 baud, 8 bits, 1 stop bit, no parity
 Antenna: standard boltek lightning detector antenna (strom tracker compatible)
 Antenna cable: standard CAT5 network cable
 GPS/Compass Port: NMEA standard 4800 baud, 8 bits, 1 stop bit, no parity
 RS232 Data Format: ASCII, NMEA style data sentence, GPS/Compass data passed
through
Perangkat Lunak: Astrogenic Nextorm versi 1.9.182 penggunaan perangkat ini
sejak 15 Juli 2018.
Spesifikasih Alat yang di gunakan:
LD-250 Hardware Specifications
Power Supply Voltage: 11.8-18 VDC, 0.8 Amp
AC Adapter: 120 VAC, 60Hz (220VAC 50 HZ in Europe)
RS232 Port: 9600 baud, 8 bits, 1 stop bit, no parity.
USB Adapter Cable
Antenna: Standard Boltek Lightning Detector Antenna (StormTracker compatible)
Antenna Cable: Standard CAT5 Network Cable. 50 feet included. Custom lengths available on
request.
GPS/Compass Port: NMEA standard 4800 baud, 8 data bits, 1 stop bit, no parity
GPS Sentence: $GPRMC
Compass Sentence: $HCHDM
15
RS232 Data Format: ASCII, NMEA style data sentences, GPS/Compass data passed through
LD-250 Dimensions: 4.9" x 7.0" x 1.1" (123 x 178 x 29 mm)
Antenna Dimensions: 1.5" x 2.0" 3.7" (38 x 51 x 94 mm)
LD-250 Weight: 0.8 lbs (375 gm)
Antenna Weight: 0.45 lbs (200 gm)
Shipping Weight: 5.6 lbs (2.6kg)
Shipping Dimensions: 9.0" x 11.5" x 6.5" (229 x 292 x 165 mm)

Sop teknis analisa klustering dan kerapatan sembaran petir


1. Sob data-data DB3
2. Buka aplikasi lightning

Gambar 8. Langkah ke 2 analisis klustering dan kerapatan sambaran petir (Stageof. 2018)
3. Aplikasi akan terbuka sebagai berikut:

Gambar 9. Prosedur ke 2 analisis klustering dan kerapatan sambaran petir (Stageof. 2018)

16
4. Mengisi set parameter:
Latitude max : Di isi dengan derajat koma (jarak ± 50 km atau 0.5°
dari sensor
Latitude min : Di isi dengan derajat koma (jarak ± 50 km atau 0,5°
dari sensor
Longitude max : Di isi dengan derajat koma (jarak ± 50 km atau 0,5°
dari sensor
Longitude min : Di isi dengan derajat koma (jarak ± 50 km atau 0,5°
dari sensor
5. Isi number ofgrid:
X : 100
Y : 100
6. Save tipe file
Kerapatan.xls : diklik/centang
Sum kerapatan.xlx : diklik/centang

Pengambilan data dari tanggal 1-31 Desember 2018

Gambar 10. Mengcluster data petir (Stageof. 2018)

17
Hasil yang di dapatkan setelah diexport

Tabel 3. Data hasil kerapatan sambaran petir

Tabel 3. Jenis petir CG+, CG- dan IC

18
Data dan Informasi Listrik Udara Bulanan Desember 2018

Tabel 4. Rekapitulsi monitoring bulan Desember 2018

Dari data-data tersebut dirata-ratakan per hari lalu hasilnya diplot ke grafik. Dan menghasilkan
grafik seperti dibawah ini:

19
Gambar 11. Grafik jumlah kejadian petir bulan Desember 2018 (Stageof. 2018)

Dari hasil rekapitulasi monitoring data petir bulan Desember 2018, jumlah kejadian
petir dengan jenis petir IC, CG+ dan CG- yang diplot kedalam grafik paling banyak sambaran
terjadi pada tanggal 14 Desember 2018.

Peta kerapatan sambaran petir wilayah SULUT pada bulan Desember 2018

Gambar 12. Peta frekuesi kejadian petir bulan Desember 2018 (Stageof. 2018)

Pada peta diatas didapatkan kerapatan sambaran petir dengan nilai frekuensi yang
tertinggi adalah kejadian petir yang terjadi di laut dengan jumlah sembaran 49 kali
sambaran/km.

20
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Sistem pendeteksian petir yang dilakukan BMKG Manado, menggunakan sistem deteksi dan
analisis petir secara real time menggunakan detector storm tracker dan perangkat lunak
Astrogenic Nextorm versi 1.9.182. Untuk menganalisa data petir menggunakan aplikasi
lightning date process Nextorm v83 berbasis. Sedangkan untuk pemetaan kerapatan petir
menggunakan aplikasi Arcgis 10.3.
2. Jumlah sembaran petir didaerah Sulawesi Utara pada bulan Desember 2018 paling
banyak terjadi pata tanggal 14 dan dari hasil kerapatan sambaran petir didominasi oleh
kejadian petir yang terjadi di laut dengan jumlah sambaran 49 kali sambaran/km.
5.2.Saran
Ada baiknya setiap hari kerja untuk Mahasiswa magang setiap hari ada kegiatan yang
wajib untuk dilakukan agar waktu tidak banyak untuk bersantai.

21
DAFTAR PUSTAKA

BMKG. 2018. Listrik Udara. Winangun. BMKG Stasiun Geofisika Klas 1 Manado.

Lee R. Kump, Kasting, J.F., Crane, R.G. 2010. The Earth System, 3nd, Prentice Hall.

Piton Jr, O., Piton, I.R.C.A., Naccarato, K.P.2007. Maximum cloud –to-ground lightning flash
densities observed by lightning location system in the tropical region: A review.
Atmospheric Resecch, Volume 84, Issue 3, Pages 189-200.

Tjasyono, B.HK. 2001. Mikrofisika Awan dan Hujan. ITB. Bandung.

22
LAMPIRAN
1. Lampiran 1
Dokumentasi kegiatan

23
24
2. Lampiran 2
Sensor alat untuk pendeteksi Petir

Storm Tracker

Antena Sensor Detektor Sensor Gps Storm Tracker

25