Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

HIV/AIDS DENGAN TUBERKULOSIS

Disusun Oleh:
Mohamma Reza Azhari, S. Ked
J510155012

Pembimbing:
dr. Bahrodin, Sp. PD

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
REFERAT

HIV/AIDS DENGAN TUBERKULOSIS

Yang diajukanoleh :

Mohammad Reza Azhari, S.Ked

J510155012

Telahdisetujuidandisahkanolehbagian Program
PendidikanFakultasKedokteranUniversitasMuhammadiyah Surakarta,

Padahari, tanggal2016

Pembimbing :

dr. Bahrodin, Sp. PD (………………….)

Dipresentasikandihadapan :

dr. Bahrodin, Sp. PD (………………….)

DisahkanKa. Program Profesi :

dr. D. DewiNilawati (………………….)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2016
BAB I

HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS

1. Pengertian
a. Human immunodeficiency virus

Human immunodeficiency virus adalah virus RNA yang termasuk family


retroviridae dan genus lentivirus yang menyebabkan penurunan imunitas tubuh
pejamu. Untuk mengadakan replikasi (perbanyakan)HIV perlu mengubah
ribonucleic acid (RNA) menjadi deoxyribonucleid acid (DNA) di dalam sel
pejamu.
Seperti retrovirus lain, HIV menginfeksi tubuh, memiliki masa inkubasi yang
lama (masa laten klinis) dan pada akhirnya menimbulkan tanda dan gejala AIDS.
Human immunodeficiency virus terdapat dalam cairan tubuh ODHA dan
seseorang dapat terinfeksi HIV bila kontak dengan cairan tersebut. Meskipun
virus terdapat dalam saliva, air mata, cairan serebrospinal dan urin tetapi cairan
tersebut tidak terbukti berisiko menularkan infeksi karena kadar virus HIV sangat
rendah.

b. Acquired Immune Deficiency Syndrome

Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah gejala berkurangnya kemampuan


pertahan diri yang disebabkan penurunan kekebalan tubuh karena virus HIV.

•• AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome.


•• “Acquired” : Tidak diturunkan dan dapat menularkan kepada orang lain
•• “Immune” : Sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit
•• “Deficiency” : Berkurangnya kurang atau tidak cukup
•• “Syndrome” : Kumpulan tanda dan gejala penyakit

Virus tersebut pertama-tama menyerang limfosit T-Helper dan makrofag yang


mempunyai reseptor CD4 dalam tubuh. Sel-sel tersebut memegang peran penting
dalam sistem imunitas manusia. Akibatnya, orang yang terinfeksi HIV menjadi
rentan terhadap berbagai penyakit yang dikenal sebagai infeksi oportunistik (IO)
karena rusaknya sistem imunitas tubuh. Orang terinfeksi virus tersebut
menjadiinfeksius sepanjang hidupnya dan dapat menularkan HIV melalui cairan
tubuh mereka selama tidak mendapatkan terapi Anti Retroviral (ARV).
2. Epidemiologi HIV/AIDS

Pada akhir tahun 2002, diperkirakan sejumlah 42 juta orang dewasa dan
anak-anak hidup dengan HIV atau AIDS. Dari jumlah ini sekitar 28,5 juta (68%)
tinggal di daerah sub Sahara Afrika dan 6 Juta (14%) hidup di Asia selatan dan
Asia Tenggara. Pada tahun 2002, diperkirakan terdapat 5 juta orang dewasa dan
anak anak terinfeksi HIV dan 3,1 juta orang dewasa dan anak-anak meninggal
karena HIV/ AIDS. Sekitar 2,4 juta (77,4%) dari 3,1 juta kematian ini terjadi di
sub Sahara Afrika. Sub Sahara Afrika merupakan kawasan dengan angka
seroprevalensi HIV tertinggi (9% pada akhir tahun 2002) pada populasi orang
dewasa (15-49 tahun).

Dari 25 negara dengan seroprevalensi pada orang dewasa di atas 5% pada


tahun 2001, 24 negaradiantaranya terdapat di kawasan sub Sahara Afrika. Satu-
satunya negara di luar sub Sahara Afrika dengan angka seroprevalensi pada orang
dewasa di atas 5% adalah Haiti. Di 9 negara (semuanya di Selatan Afrika)
seroprevalensi HIV pada orang dewasa adalah 15% atau lebih. Dengan demikian,
sub Sahara Afrika merupakan daerah dengan beban epidemi HIV/AIDS terbesar.
Beberapa negara di kawasan lain juga mengalami dampak HIV yang berat dengan
seroprevalensi HIV pada orang dewasa sektar 1 - 5% misalnya Kamboja,
Myanmar dan Thailand (Asia Tenggara) dan Belize, Guatemala, Guyana, Haiti,
Honduras, Panama dan Suriname (Amerika). Seroprevalensi HIV tampaknya
stabil di kawasan Sub Sahara Afrika namun tetap meningkat di beberapa negara
dengan populasi besar seperti Federasi Rusia.
Data jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia meningkat dari tahun 2005
yaitu sebanyak 859 kasus HIV dan 2639 kasus AIDS menjadi 21031 kasus HIV
dan 4162 kasus AIDS pada tahun 2011. Sedangkan 3 Provinsi dengan jumlah
kumulatif kasus AIDS terbanyak dari tahun 1987-2011 adalah Provinsi DKI
Jakarta sebanyak 5117 kasus AIDS, Provinsi Jawa Timur sebanyak 4598 kasus
AIDS dan Provinsi Papuasebanyak 4449 kasus AIDS dengan proporsi terbanyak
menurut jenis kelamin yaitu pada laki-lakisebesar 80,8%, terbanyak pada
kelompok umur 20-29 tahun (46,8%) dengan faktor risiko terbanyak pada
heteroseksual (71%).

3. Riwayat Alamiah infeksi HIV

a. Infeksi HIV akut

Infeksi HIV akut disebut juga “infeksi HIV primer” atau “sindrom
serokonversi akut”. Sekitar 40% - 90%infeksi HIV baru, memiliki gejala. Jangka
waktu sejak terpajan sampai timbulnya gejala penyakitbiasanya sekitar 2-4
minggu. Beberapa orang mengalami gejala seperti mononukleosis
infeksiosa(glandular-fever): demam, ruam, pegal-pegal dan limpadenopati.
Terkadang pasien mengalamisindrom saraf akut yang sering kali sembuh sendiri .
Sindrom ini mencakup meningitis aseptik,neuropati perifer, ensefalitis dan
mielitis. Sebagian besar pasien yang memiliki gejala akan berusahamencari
pertolongan medis. Meskipin demikian, diagnosis jarang dapat ditegakkan karena
petugaskesehatan tidak menyangka gejala-gejala tersebut adalah sebagai gejala
infeksi HIV; gejala klinisnonspesifik sehingga dipikirkan disebabkan oleh
penyebab lain misalnya malaria; tes serologi standarpada tahap infeksi akut ini
biasanya negatif. Tes serologis positif biasanya terjadi setelah 4 - 12
minggusetelah terinfeksi dengan lebih dari 95% pasien “serokonversi” dalam
waktu 6 bulan. Diagnosis infeksiHIV akut paling baik ditegakkan dengan
pemeriksaan HIV RNA pada plasma.

Infeksi HIV asimtomatis (tanpa gejala)


Pada orang dewasa terdapat periode laten yang berlangsung lama dan
bervariasi dari terinfeksi HIVhingga onset gejala HIV dan AIDS. Seseorang yang
terinfeksi bisa tidak memiliki gejala sampai 10tahun atau lebih. Sebagian besar
anak terinfeksi HIV pada periode perinatal. Periode tanpa gejalapada anak-anak
tidak diketahui. Beberapa bayi akan sakit di minggu-minggu pertama setelah
lahir.Sebagian besar anak-anak mulai sakit sebelum mencapai usia 2 tahun. Hanya
sedikit yang tetap sehatselama beberapa tahun awal kehidupan.

Perjalanan sejak infeksi HIV sampai timbul penyakit terkait HIV dan AIDS
Hampir semua orang yang terinfeksi HIV jika tidak diobati akan
mengalami penyakit terkait HIVdan AIDS. Berapa orang mengalami ini lebih
cepat dari yang lain. Laju perkembangan menjadi AIDStergantung pada
karakteristik virus maupun orang yang terinfeksi. Karakteristik virus adalah
tipedan subtipe HIV-1 dan beberapa subtipe HIV-1 bisa menyebabkan
progresivitas yang lebih cepat.Karakteristik orang yang bisa mempercepat
progresi ini antara lain berumur kurang dari 5 tahun,berumur lebih dari 40 tahun,
terdapat ko-infeksi dan faktor genetik.

Immunosupresi yang terus berlanjut


Ketika infeksi HIV terus berkembang dan sistem kekebalan tubuh
menurun maka pasien akan lebihrentan terkena infeksi termasuk TB, pneumonia,
infeksi jamur pada kulit, orofaring dan herpes zoster.Infeksi ini bisa terjadi
kapanpun dalam perjalanan infeksi HIV. Beberapa pasien dapat mengalamigejala
konstitusional (demam dan penurunan berat badan dengan penyebab yang tidak
jelas) duludikenal dengan nama AIDS-related complex (ARC). Beberapa pasien
mengalami diare kronik dengandiikuti penurunan berat badan sering dikenal
sebagai slim disease.Beberapa penyakit terkait HIV terjadi terutama karena
penurunan sistem kekebalan tubuh yang sangatberat. Hal ini termasuk beberapa
infeksi oportunistik (misalnya meningitis kriptokokus) dan beberapa tumor
(misalnya Sarkoma Kaposi). Pada stadium lanjut jika pasien tidak mendapat ART
maka mereka biasanya meninggal dalam waktu kurang dari 2 tahun. Stadium
lanjut ini kadang dikenal sebagai fullblownAIDS.

b. Stadium Klinis

Sistem klasifikasi stadium klinis WHO untuk infeksi HIV dan penyakit
terkait HIV
WHO telah mengembangkan sistem stadium klinis (awalnya untuk
menentukan prognosis)berdasarkan kriteria klinis. Kondisi klinis menunjukkan
apakah pasien berada pada stadium 1, 2, 3atau 4. Stadium klinis merupakan hal
yang penting sebagai kriteria untuk memulai terapi ARV.
Stadium klinis WHO dapat membantu untuk memperkirakan tingkat
defisiensi kekebalan tubuhpasien. Pasien dengan gejala pada stadium klinis 1 atau
2 biasanya tidak mempunyai gejala defisiensi kekebalan tubuh yang serius. Pasien
yang mempunyai gejala dan tanda stadium klinis 3 atau 4 biasanya mempunyai
penurunan kekebalan tubuh yang berat dan tidak mempunyai cukup banyak sel
CD4 sehingga memudahkan terjadinya infeksi oportunistik (IO). Beberapa
kondisi IO memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut sehingga
mungkin perlu dirujuk untuk penegakan diagnosis dan pengobatan yang sesuai.
Kondisi tersebut diberi tanda bintang* di dalam tabel berikut ini.
4. Imunopatogenesis Infeksi HIV

Bagaimana HIV menyerang sel


Human immunodeficiency virus menyerang sel yang mempunyai molekul
antigen CD4 padapermukaannya. Sel ini pada dasarnya adalah subset sel limfosit
T helper, yang sangat penting dalamrespon imun yang dimediasi sel. Sel-sel ini
disebut limfosit-T CD4+. Beberapa tahun belakanganjuga diketahui bahwa HIV
memerlukan molekul lain yang dikenal sebagai kemokin yang terdapat pada
permukaan sel dan berguna untuk masuk ke dalam sel. Pasien yang tidak memiliki
beberapa kemokin spesifik ini (misalnya CCR5) lebih resisten terhadap infeksi
HIV. Pada pasien lain yang memiliki perubahan molekul pada reseptor kemokin
ini akan lebih lambat mengalami progresivitas menuju AIDS.

Bagaimana HIV menghancurkan sistem kekebalan tubuh


Akibat paling penting dari infeksi HIV adalah penurunan jumlah limfosit-
T CD4+ yang progresif. Disamping itu limposit-T CD4+ yang tersisa tidak
mempunyai kinerja yang sama seperti ketika belumterinfeksi. Dengan demikian
infeksi HIV yang progresif akan mengakibatkan penurunan sistemkekebalan
tubuh yang progresif pula.

Transmisi HIV
Transmisi HIV yang paling lazim di seluruh dunia adalah melalui
hubungan seksual. Infeksi menularseksual lainnya (terutama yang menyebabkan
ulkus genital) akan meningkatkan risiko penularanHIV. Jalur penularan HIV
sangat beragam. Penularan HIV di sub Sahara Afrika terutama adalahmelalui
hubungan seksual, darah dan dari ibu ke bayi. Di sebagian besar negara dengan
pendapatanperkapita yang rendah, kira-kira jumlah laki-laki dan perempuan yang
terinfeksi HIV seimbang. Virusini juga dapat ditularkan melalui transfusi darah,
injeksi dengan alat suntik yang terkontaminasi dan penggunaan peralatan tindik
yang tidak steril, serta penggunaan napza suntik.Sekitar sepertiga bayi yang
dilahirkan dari ibu yang terinfeksi juga terinfeksi HIV dengan cara penularanyang
terjadi terutama pada saat proses kelahiran. Risiko penularan pada saat menyusui
tetap adanamun lebih kecil. Meskipun demikian, di banyak negara dengan
pendapatan perkapita yang rendah ASI dianggap lebih aman dibandingkan susu
formula. Tidak ada bukti bahwa HIV menular melalui kontak yang terjadi sehari-
hari seperti berpelukan,berciuman, makanan atau minuman, gigitan nyamuk atau
serangga lain.
BAB II

DIAGNOSIS TB PADA ODHA

1. Diagnosis TB Paru pada ODHA


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada alur diagnosis TB pada
ODHA, antara lain:

•• Pemberian antibiotik sebagai alat bantu diagnosis tidak direkomendasi


lagi
Penggunaan antibiotik dengan maksud sebagai alat bantu diagnosis seperti
alur diagnosis TB pada orang dewasa dapat menyebabkan diagnosis dan
pengobatan TB terlambat sehingga dapat meningkatkan risiko kematian ODHA.
Oleh karena itu, pemberian antibiotik sebagai alat bantu diagnosis tidak
direkomendasi lagi. Namun antibiotik perlu diberikan pada ODHA dengan IO
yang mungkin disebabkan oleh infeksi bakteri lain bersama atau tanpa
M.tuberculosis. Jadi, maksud pemberian antibiotik tersebut bukanlah sebagai alat
bantu diagnosis TB tetapi sebagai pengobatan infeksi bakterilain. Hindarilah
penggunaan antibiotik golongan fluorokuinolon karena memberikan respons
terhadap M.tuberculosis dan dapat menimbulkan resistensi terhadap obat tersebut.

•• Pemeriksaan foto toraks


Pemeriksaan foto toraks memegang peranan penting dalam mendiagnosis
TB pada ODHA denganBTA negatif. Namun perlu diperhatikan bahwa gambaran
foto toraks pada ODHA umumnya tidakspesifik terutama pada stadium lanjut.

•• Pemeriksaan biakan dahak


Jika sarana pemeriksaan biakan dahak tersedia maka ODHA yang BTA
negatif, sangat dianjurkanuntuk dilakukan pemeriksaan biakan dahak karena hal
ini dapat membantu untuk konfirmasiTB.
Alur diagnosis TB Paru BTA negatif pada ODHA di bawah ini merupakan
langkah kegiatanyang harus dilakukan dalam penegakan diagnosis TB di daerah
dengan prevalens HIV tinggidengan sarana terbatas. Alur diagnosis ini hanya
untuk ODHA yang dicurigai menderita TB. Perludiperhatikan, alur diagnosis TB
pada ODHA rawat jalan (tanpa tanda bahaya) berbeda denganpada ODHA rawat
inap (dengan tanda bahaya).
PENGOBATAN HIV DENGAN TB

TUBERKULOSIS
1. Pengertian
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kumanTB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru tetapidapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

2. Epidemiologi TB
Pada tahun 1990-an, situasi TB di dunia semakin memburuk,
jumlah kasus TBmeningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan
terutama pada negarayang dikelompokkan dalam 22 negara dengan
masalah TB besar (high burdencountries). Menyikapi hal tersebut, pada
tahun 1993, WHO mencanangkan TBsebagai kedaruratan dunia (global
emergency).

Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah:

•• Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat seperti pada negara-


negarayang sedang berkembang.

•• Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh:


-Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan.
-Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses
olehmasyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat
tidakterjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan
danpelaporan yang standar dan sebagainya).
-Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat
yangtidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis).
-Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas Bacillus Calmettee
Guerin(BCG) .
-Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami
krisis ekonomiatau pergolakan masyarakat.

•• Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan


perubahan struktur umurkependudukan.

•• Dampak pandemi HIV.

4. Patogenesis TB
Seseorang akan terinfeksi kuman TB kalau dia menghirup droplet yang
mengandung kuman TB yang masih hidup dan kuman tersebut mencapai alveoli
paru (catatan: Seseorang yang terinfeksi biasanya asymptomatic/tanpa gejala).
Sekali kuman tersebut mencapai paru maka kuman ini akan ditangkap oleh
makrofag dan selanjutnya dapat tersebar ke seluruh tubuh. Orang yang terinfeksi
kuman TB dapat menjadi sakit TB bila kondisi daya tahan tubuhnya menurun.
Sebagian dari kuman TB akan tetap tinggal dormant dan tetap hidup sampai
bertahun-tahun dalamtubuh manusia. Hal ini dikenal sebagai infeksi TB
laten.Seseorang dengan infeksi TB laten tidakmempunyai gejala TB aktif dan
tidak menular.

Risiko Berkembangnya Penyakit Setelah Infeksi


Tidak semua orang yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis akan jadi
sakit TB. Hanya sekitar 10% saja yang akan berkembang menjadi sakit TB aktif.
Biasanya risiko menjadi sakit TB ini terjadi sebelum 1 tahun setelah terjadinya
infeksi. Ada beberapa faktor yang dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga
yang bersangkutan mudah berkembang menjadi sakit TB aktif, misalnya:
malnutrisi, kondisi yang menurunkan sistem imunitas (infeksi HIV, diabetes,
penggunaan kortikosteroid atau obat-obat imunosupresif lain dalam
jangkapanjang). Sekitar 60% ODHA yang terinfeksi dengan kuman TB akan
menjadi sakit TB selama hidupnya. Seperti telah dijelaskan di atas maka pada
orang dengan HIV negatif, risiko ini jauh lebih rendah yaitu hanya sekitar 10%.
Faktor risiko kejadian TB secara ringkas digambarkan pada gambar berikut ini.

PRINSIP PENGOBATAN
Kategori pengobatan TB tidak dipengaruhi oleh status HIV pada pasien
TB tetapimengikuti Buku Pedoman Nasional Program Pengendalian TB (BPN
PPTB). Pada prinsipnya pengobatan TB pada pasien ko-infeksi TB HIV harus
diberikan segera sedangkan pengobatan ARV dimulai setelah pengobatan TB
dapat ditoleransi dengan baik, dianjurkan diberikan paling cepat 2 minggu dan
paling lambat 8 minggu.

1. Pengobatan TB pada ODHA yang belum dalam pengobatan ARV


Bila pasien belum dalam pengobatan ARV, pengobatan TB dapat
segeradimulai. Jika pasien dalam pengobatan TB maka teruskan
pengobatan TB nyasampai dapat ditoleransi dan setelah itu diberi
pengobatan ARV. Keputusanuntuk memulai pengobatan ARV pada pasien
dengan pengobatan TBsebaiknya dilakukan oleh dokter yang telah
mendapat pelatihan tatalaksanapasien TB-HIV.
2. Pengobatan TB pada ODHA sedang dalam pengobatan ARV
Bila pasien sedang dalam pengobatan ARV, sebaiknya pengobatan
TBdimulai minimal di RS yang petugasnya telah dilatih TB-HIV, untuk
diaturrencana pengobatan TB bersama dengan pengobatan ARV
(pengobatanko-infeksi TB-HIV). Hal ini penting karena ada banyak
kemungkinan masalahyang harus dipertimbangkan, antara lain: interaksi
obat (Rifampisin denganbeberapa jenis obat ARV), gagal pengobatan
ARV, IRIS atau perlu substitusiobat ARV.
Keadaan Usulan
TB paru dengan CD4 di bawah 200 atau Mulai OAT.
limfosit total di bawah 1.200, atau TB di luar Mulai ART segera setelah tidak ada
paru keluhan dengan OAT
Mulai OAT.
TB paru dengan CD4 200-350, atau
Mempertimbangkan ART setelah
CD4/limfosit tidak diketahui
selesai fase intensif OAT
Mulai OAT.
TB paru dengan CD4 di atas 350 Mempertimbangkan ART setelah
terapi TB selesai

3. Memulai pengobatan ARV pada pasien sedang dalam pengobatan TB


Terapi ARV diberikan untuk semua ODHA yang menderita TB tanpa
memandang jumlah CD4. Namun pengobatan TB tetap merupakan prioritas utama
untuk pasien dan tidak boleh terganggu oleh terapi ARV. Seperti telah dijelaskan
di atas, pengobatan ARV perlu dimulai meskipun pasien sedang dalam
pengobatan TB. Perlu diingat, pengobatan TB di Indonesia selalu mengandung
Rifampisin sehingga pasien dalam pengobatan TB dan mendapat pengobatan
ARV bisa mengalami masalah interaksi obat dan efek samping obat yang serupa
sehingga memperberat efek samping obat. Paduan pengobatan ARV yang
mengandung Efavirenz (EFV) diberikan bila pengobatan ARV perlu dimulai pada
pasien sedang dalam pengobatan TB. Di samping itu, ODHA dengan TB juga
diberikan PPK. Jadi, jumlah obat yang digunakan bertambah banyak sehingga
mungkin perlu beberapa perubahan dalam paduan ARV. Setiap perubahan
tersebut harus dijelaskan secara seksama kepada pasien dan Pengawas Menelan
Obat (PMO). Pada ODHA yang sedang dalam pengobatan ARV yang kemudian
sakit TB maka pilihan paduan pengobatan ARV adalah seperti pada tabel di
bawah ini:

EFEK SAMPING DAN INTERAKSI OBAT (OAT DAN ARV)


1. Mengenal dan Menangani Efek Samping OAT
Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan TB tanpa efek
samping. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping. Oleh karena itu,
pemantuan kemungkinan terjadinya efeksamping sangat penting dilakukan selama
pengobatan. Petugas kesehatan dapat mengenal efek samping obat melalui:

•• Penjelasan kepada pasien gejala efek samping sehingga pasien dapat segera
melapor bila terjadi efek samping OAT.

•• Melihat dan menanyakan terdapatnya tanda dan gejala efek samping pada
waktu pasien mengambil OAT.

2. Efek samping OAT

•• Efek samping ringan yaitu efek samping yang menyebabkan perasaan tidak
nyaman. Gejala ini sering dapat ditanggulangi dengan obat simptomatik atau obat
sederhana tetapi kadang menetap untuk beberapa waktu selama pengobatan.
Dalam hal ini, pemberian OAT diteruskan.

•• Efek samping berat yaitu efek samping yang dapat mengancam jiwa pasien
sampai fatal. Pada pasien dengan efek samping berat, pemberian OAT harus
dihentikan.
Tabel di bawah ini menjelaskan tatalaksana efek samping dengan pendekatan
gejala untuk pasien TB yang tidak dalam pengobatan ARV.
Catatan:
*) Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”: Jika
seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal singkirkan dulu
kemungkinan penyebab lain. Berikan antihistamin sambil meneruskan OAT
dengan pengawasan ketat. Gatal tersebut pada sebagian pasien hilang namun pada
sebagian pasien terjadi kemerahan kulit. Bila terjadi keadaan seperti ini maka
hentikan semua OAT dan tunggu sampai kemerahan kulit hilang. Jika gejala efek
samping ini bertambah berat maka pasien perlu dirujuk
**) Muntah berulang harus segara dirujuk ke RS spesialistik. Muntah dengan
gangguan kesadaran merupakan masalah serius karena itu adalah tanda dari gagal
hati (liver failure).

MEMANTAU KEMAJUAN PENGOBATAN TB-HIV

1. Monitoring Pasien dalam Terapi Antiretroviral


a. Monitoring klinis
Frekuensi monitoring klinis tergantung dari respons ART. Sebagai batasan
minimal, monitoring klinis perlu dilakukan pada minggu 2, 4, 8, 12 dan 24
minggu sejak memulai ART dan kemudian setiap 6 bulan bila pasien telah
mencapai keadaan stabil. Setiap kunjungan dilakukan penilaian klinis termasuk
tanda dan gejala efek samping obat atau gagal terapi dan frekuensi infeksi (infeksi
bakterial, kandidiasis dan atau IO lainnya) ditambah konseling untuk membantu
pasien memahami ART dan dukungan kepatuhan.
b. Monitoring laboratorium
Direkomendasikan •• untuk melakukan monitoring CD4 secara rutin setiap 6
bulan atau lebihsering bila ada indikasi klinis. Angka limfosit total (TLC = total
lymphocyte count) tidakdirekomendasikan untuk digunakan memonitor terapi
karena perubahan nilai TLC tidak dapatdigunakan untuk memprediksi
keberhasilan terapi.

•• Untuk pasien yang akan memulai terapi dengan AZT maka perlu dilakukan
pengukuran kadarHemoglobin (Hb) sebelum memulai terapi dan pada minggu ke
4, 8 dan 12 sejak mulai terapiatau ada indikasi tanda dan gejala anemia.

•• Pengukuran ALT (SGPT) dan kimia darah lainnya perlu dilakukan bila ada
tanda dan gejala danbukan berdasarkan sesuatu yang rutin. Akan tetapi bila
menggunakan NVP untuk perempuandengan CD4 antara 250 – 350 sel/mm3
maka perlu dilakukan monitoring enzim transaminasepada minggu 2, 4, 8 dan 12
sejak memulai ART (bila memungkinkan) maka dilanjutkan denganmonitoring
berdasarkan gejala klinis.
•• Evaluasi fungsi ginjal perlu dilakukan untuk pasien yang mendapatkan TDF.

•• Keadaan hiperlaktatemia dan asidosis laktat dapat terjadi pada beberapa pasien
yang mendapatkan NRTI terutama d4T atau ddI. Tidak direkomendasi untuk
pemeriksaan kadar asam laktat secara rutin, hanya bila pasien menunjukkan tanda
dan gejala yang mengarah pada asidosis laktat. Diharapkan terdapatnya sarana
pemeriksaan kadar asam laktat di RS rujukan.

•• Penggunaan Protease Inhibitor (PI) dapat mempengaruhi metabolisme glukosa


dan lipid. Beberapa ahli menganjurkan monitoring kimia serum secara reguler
tetapi lebih diutamakan untuk dilakukan atas dasar tanda dan gejala.

•• Pengukuran Viral Load (VL = HIV RNA) sampai sekarang tidak dianjurkan
untuk memonitor pasien dalam ART dalam keadaan terbatas fasilitas dan
kemampuan pasien. Pemeriksaan HIV DNA perlu dipertimbangkan untuk
diagnosis infeksi HIV pada bayi yang terpajan HIV di usia di bawah 18 bulan.
Untuk dewasa, pemeriksaan VL digunakan untuk membantu diagnosis gagal
terapi. Hasil VL dapat memprediksi gagal terapi lebih awal dibandingkan dengan
hanya menggunakan monitoring klinis dan pemeriksaan jumlah CD4.

c. Monitoring lain
Enam bulan sejak memulai ART merupakan masa yang kritis dan penting.
Diharapkan dalammasa tersebut akan terjadi perbaikan klinis dan imunologis,
kadang terjadi toksisitas obat. Selainitu bisa juga terjadi suatu SPI. Pada keadaan
tersebut, pasien seolah-olah mengalami perburukanklinis yang sebetulnya
merupakan suatu keadaan pemulihan respons imunitas (yang kadangsampai
menimbulkan gejala peradangan/inflamasi berlebihan).Sindrom Pulih Imun
adalah perburukan kondisi klinis sebagai akibat respons inflamasi berlebihanpada
saat pemulihan respons imun setelah pemberian terapi antiretroviral. Sindrom
pulih imunmempunyai manifestasi dalam bentuk penyakit infeksi maupun non
infeksi. Sindrom pulih imuninfeksi ini didefinisikan sebagai timbulnya
manifestasi klinis atau perburukan infeksi akibatperbaikan respons imun spesifik
patogen pada ODHA yang berespons baik terhadap ARV.

DAFTAR PUSTAKA
1. DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENYAKIT DAN
PENYEHATAN LINGKUNGANKEMENTERIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA 2012.

2. Interim policy on collaborative TB-HIV activities. WHO. 2004.

3. Guidelines for Implementing Collaborative TB and HIV Programme


Activities. Stop TB Partnership: Working Group on TB-HIV. WHO. 2004.

4. A guide to monitoring and evaluation for collaborative TB-HIV


activities.TB-HIV: a clinical manual. 2nd edition. WHO. 2004.

5. Guidelines for HIV surveillance among tuberculosis patients. Second


edition. WHO. 2004.

6. TB-HIV Research Priorities in Resource-Limited Settings. WHO. 2005.

7. Management of collaborative TB-HIV activities: training for managers at


national and sub-national levels. WHO. 2005.

8. Improving the diagnosis and treatment of smear-negative pulmonary and


extrapulmonary tuberculosis among adults and adolescents. WHO 2007.
9. Tuberculosis infection control in the era of expanding HIV care and
treatment. WHO 2007.