Anda di halaman 1dari 10

REPUBLIK INDONESIA

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN


ANTARA
BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA REPUBLIK INDONESIA
DAN
PASUKAN PERTAHANAN AWAM SINGAPURA REPUBLIK SINGAPURA
TENTANG
MANAJEMEN RISIKO BENCANA

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia dan Pasukan


Pertahanan Awam Singapura Republik Singapura (selanjutnya secara terpisah
disebut sebagai "Pihak" dan secara bersama-sama disebut sebagai "Para Pihak");

MENYATAKAN keinginan untuk bekerja sama di bidang Manajemen Risiko


Bencana untuk kesejahteraan dan keselamatan masyarakat kedua negara;

MEMAHAMI bahwa kerja sama ini memiliki keuntungan bagi kedua negara dalam
mengembangkan dan memperkuat sistem manajemen risiko bencana;

MEMPERTIMBANGKAN pentingnya kerja sama internasional dan peran dari


organisasi internasional dalam bidang penanggulangan bencana; dan

SESUAI dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di


masing-masing negara;

TELAH mencapai kesepahaman sebagai berikut:

PASALI
TUJUAN

Tujuan dari Memorandum Saling Pengertian (selanjutnya disebut MSP) ini adalah
untuk membangun kerangka kerja sama yang efektif di bidang Manajemen Risiko
Bencana.

PASAL II
RUANG LINGKUP KERJASAMA

Berdasarkan pada hukum, peraturan, kebijakan dan prosedur yang berlaku di


masing-masing negara, ruang lingkup kerjasama di bawah MSP ini adalah sebagai
berikut:
Pertukaran pengetahuan dan keahlian terkait pencegahan dan kesiapsiagaan
dalam bidang Pengurangan Risiko Bencana;

Peningkatan keahlian personil dari masing-masing Pihak melalui pemahaman


terhadap pengalaman-pengalaman baik, keikutsertaan dalam pelatihan-
pelatihan bersama, berbagai lokakarya, dan program-program terkait
Manajemen Risiko Bencana;

Memberikan bantuan yang saling menguntungkan dalam hal bencana alam,


jika disetujui bersama; dan

Melakukan metode kerja sama lainnya yang disepakati bersama secara


tertulis oleh Para Pihak.

PASAL Ill
TANGGUNG JAWAB PARA PIHAK

1. Para Pihak wajib berupaya untuk mengatur, mengkoordinasikan cfan


melaksanakan seluruh kegiatan yang diidentifikasi di dalam MSP ini di negara
masing-masing.

Jika diperlukan, Para Pihak akan membuat pengaturan pelaksanaan terpisah


untuk melaksanakan area kerja sama yang spesifik dalam ruang lingkup MSP
ini.

3. Sesuai dengan hukum, perundang-undangan, peraturan, kebijakan dan


prosedur masing-masing negara, Para Pihak akan berupaya untuk
memfasilitasi masuk dan keluarnya personil dan peralatan-peralatan ataupun
bahan- bahan materi yang dibutuhkan untuk kegiatan- kegiatan dibawah MSP,
sekiranya diperlukan .

Untuk memfasilitasi pelaksanaan MSP ini, masing- masing Pihak akan


menugaskan seorang pejabat penghubung untuk mengkoordinasikan seluruh
kegiatan dibawah MSP ini.

PASAL IV
PENGATURAN PELAKSANAAN

1. Pengaturan pelaksanaan sebagaimana diatur dalam Pasal Ill ayat 2 MSP ini
wajib menjabarkan secara rinci tentang program, institusi-institusi dan
pengaturan keuangan.

2. Pengaturan-pengaturan tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan


dari MSP ini.

,______i
PASAL V
PEMBATASAN AKTIVITAS PERSONIL

Masing-masing Pihak wajib memastikan bahwa personil mereka yang terlibat dalam
kegiatan dibawah MSP ini:

a) Mematuhi, menghormati dan tunduk pada hukum kedua negara;


b) Melakukan kegiatan dengan memperhatikan kepentingan Para Pihak;
c) Menghormati dan menjunjung integritas Pihak yang diwakili;
d) Tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan terlarang;
e) Menghormati kebiasaan dan tradisi masyarakat setempat dari Pihak lain; dan
f) Tidak terlibat dalam kegiatan politik atau kegiatan komersial.

PASAL VI
HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

1. Berdasarkan pada hukum dan peraturan yang berlaku di negaranya, masing-


masing Pihak wajib menghormati hak kekayaan intelektual Pihak lain di dalam
wilayah negaranya.

2. Hak milik atas, dan hak kekayaan intelektual pada, atau sehubungan dengan,
materi apa pun yang diberikan oleh satu Pihak kepada Pihak lainnya
berdasarkan MSP ini tetap menjadi milik Pihak yang memberikan materi dan
hak milik dan hak kekayaan intelektual tersebut harus selalu dihormati dan
dilindungi oleh Pihak penerima materi, sesuai dengan kewajiban internasional
dan hukum nasional masing- masing negara, terlepas dari pengakhiran MSP
ini.

3. Terlepas dari ketentuan di atas, Para Pihak setuju bahwa jika diperlukan,
pengaturan pelaksanaan dapat menetapkan ketentuan lebih lanjut yang
mengatur hak kekayaan intelektual yang timbul dari pengaturan pelaksanaan
tersebut.

PASAL VII
KERAHASIAAN

1. Kecuali dinyatakan lain secara tertulis, informasi yang diberikan oleh salah
satu Pihak kepada Pihak lain dalam MSP ini, dan setiap pengaturan
pelaksanaan turunannya, harus diperlakukan sebagai informasi rahasia.

2. Masing- masing Pihak tidak diperbolehkan untuk membuka, menerbitkan,


atau memberikan informasi rahasia yang diterima dari Pihak lainnya kepada
pihak ketiga, tanpa persetujuan tertulis dari Pihak lainnya sebelumnya.
. :
:

3. Masing-masing Pihak wajib menggunakan informasi rahasia yang diberikan


oleh Pihak lain untuk tujuan MSP ini saja, kecuali jika disetujui lain secara
tertulis oleh Pihak lainnya.

4. Masing-masing Pihak wajib mengambil langkah-langkah yang diperlukan


untuk menjaga keamanan seluruh informasi rahasia yang dimilikinya dan
mencegah akses atau penggunaan yang tidak sah.

5. Masing-masing Pihak wajib memastikan personilnya mematuhi kewajiban-


kewajiban yang dinyatakan pada Paragraf 2 (dua) hingga 4 (empat) dalam
Pasal ini .

6. Kewajiban-kewajiban dibawah Pasal ini akan tetap berlaku meskipun ada


penangguhan sementara atau pengakhiran MSP ini.

PASAL VIII
PENANGGUHAN SEMENTARA

Masing-masing Pihak berhak, dengan alasan keamanan nasional,


menangguhkan sementara, baik secara keseluruhan ataupun sebagian pelaksanaan
MSP ini. Penangguhan ini wajib berlaku segera setelah adanya pemberitahuan
secara tertulis oleh Pihak yang mengajukan.

PASAL IX
PENYELESAIAN PERSELISIHAN

Setiap perselisihan yang timbul dari atau berkaitan dengan MSP ini wajib
diselesaikan secara damai melalui konsultasi bersama.

PASALX
PERU BAHAN

MSP ini dapat dirubah sewaktu-waktu oleh Para Pihak melalui kesepakatan
bersama secara tertulis. Perubahan tersebut akan berlaku pada waktu yang
ditentukan oleh Para Pihak secara tertulis dan wajib menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari MSP ini.

PASALXI
MULAI BERLAKU, MASA BERLAKU DAN PENGAKHIRAN

1. MSP ini wajib berlaku pada tanggal penandatanganannya oleh Para Pihak.
2. MSP ini akan berlaku untuk periode 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang
untuk satu periode selama tiga (3) tahun berikutnya melalui persetujuan
tertulis oleh Para Pihak.

3. Masing-masing Pihak sewaktu- waktu dapat menghentikan MSP ini dengan


memberikan pemberitahuan secara tertulis kepada Pihak lainnya paling
lambat 6 (enam) bulan sebelum tanggal pengakhiran yang dikehendaki.

4. Pengakhiran MSP ini tidak akan mempengaruhi penyelesaian setiap program


yang sedang berlangsung dibawah MSP kecuali ditentukan bersama oleh
Para Pihak.

SEBAGAI BUKTI, yang bertandatangan di bawah ini, yang telah diberi kuasa penuh
oleh Pemerintahnya masing- masing, telah menandatangani MSP ini .

Ditandatangani di Singapura pad a tanggal 7 September 2017, dalam rangkap dua,


masing - masing dalam Bahasa lnggris dan Bahasa Indonesia, semua naskah
memiliki kekuatan hukum yang sama. Jika terdapat perselisihan, maka naskah
dalam Bahasa lnggris yang akan berlaku .

UNTUK BADAN NASIONAL UNTUK PASUKAN


PENANGGULANGAN BENCANA PERTAHANAN AWAM SINGAPU
REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK SINGAPURA

ERIC YAP WEE TECK


PESURUHJAYA
REPUBLIK INDONESIA

MEMORANDUM OF UNDERSTANDING
BETWEEN
THE NATIONAL DISASTER MANAGEMENT AUTHORITY
OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
AND
THE SINGAPORE CIVIL DEFENCE FORCE OF THE REPUBLIC OF SINGAPORE
ON
DISASTER RISK MANAGEMENT

The National Disaster Management Authority of the Republic of Indonesia and the
Singapore Civil Defence Force of the Republic of Singapore (hereinafter referred to
singularly as "the Party" and jointly as "the Parties");

ACKNOWLEDGING the wish to cooperate in the field of Disaster Risk Management


for the well-being and safety of their people;

UNDERSTANDING that such cooperation has mutual benefits for both countries in
the conduct of development and strengthening of disaster management system;

TAKING into consideration the importance of international cooperation and the role
of international organizations in the field of disaster management; and

PURSUANT to the prevailing laws and regulations in their respective countries;

HAVE reached the following understandings:

ARTICLE I
PURPOSE

The purpose of this Memorandum of Understanding (hereinafter referred to as the


"MOU") is to establish an effective framework for cooperation in the field of Disaster
Risk Management.

ARTICLE II
SCOPE OF COOPERATION

Subject to the prevailing laws, regulations, policies and procedures of the respective
countries, the scope of cooperation under this MOU is as follows :
1. Exchange of knowledge and expertise in prevention and preparedness on
Disaster Risk Reduction;

2. Enhancement of the skills of each Party's personnel through understanding


best practices, participation in joint trainings, workshops, and programs
related to Disaster Risk Management;

3. Giving mutual assistance in cases of natural disaster, if mutually agreed; and

4. Engaging in other methods of cooperation as mutually agreed in writing by the


Parties.

ARTICLE Ill
RESPONSIBILITIES OF THE PARTIES

1. The Parties shall endeavor to manage, coordinate, and implement all activities
identified under this MOU in their respective countries.

2. If necessary, the Parties shall enter into separate implementing arrangements


for the purpose of implementing specific areas of cooperation within the scope
of this MOU.

3. In accordance with the laws, rules, regulations, policies and procedures of the
respective countries, the Parties shall endeavor to facilitate the entry and exit
of personnel and equipment or materials needed for the activities under this
MOU, as required .

4. To facilitate the implementation of this MOU, each Party shall designate a


respective liaison officer to coordinate all activities under this MOU .

ARTICLE IV
IMPLEMENTATION ARRANGEMENTS

1. The implementation arrangements as stipulated in Article Ill Paragraph 2 of


this MOU shall set out specific details addressing programmes, institutions,
and financial arrangements.

2. Such arrangements shall form an integral part of this MOU.

ARTICLE V
LIMITATION OF ACTIVITIES OF PERSONNEL

Each Party shall ensure that their personnel engaged in activities under this MOU :
a) Observe, respect and comply with the laws of both countries ;
b) Perform the activities with due regard to the interests of the Parties;
c) Respect and uphold the integrity of the Party they represent;
d) Refrain from involvement in unauthorised activities;
e) Respect the customs and traditions of the local communities of the other
Party; and
f) Refrain from engaging in any political or commercial activities.

ARTICLE VI
INTELLECTUAL PROPERTY RIGHTS

1. Subject to the prevailing laws and regulations of its country, each Party shall
respect the intellectual property rights of the other Party within its country.

2. The title to, and intellectual property rights in, or in relation to , any material
supplied by one Party to the other Party pursuant to this MOU shall remain
j
with the Party supplying the material and such title and rights shall be 1

respected and protected by the Party receiving the material at all times, in J

accordance with its international obligations and domestic law,


notwithstanding the termination of this MOU.

3. Notwithstanding the above, the Parties agree that if necessary, the


implementing arrangements shall set out further provisions to regulate the
intellectual property rights arising under that implementing arrangement.

ARTICLE VII
CONFIDENTIALITY

1. Unless otherwise indicated in writing, information provided by one Party to the


other under this MOU, and any subsequent implementation arrangements,
shall be treated as confidential information.

2. Each Party shall not disclose, publish or transfer to a third party confidential
information received from the other Party, without the prior written consent of
the other Party.

3. Each Party shall use confidential information provided by the other Party for
the purpose of this MOU only, unless otherwise agreed in writing by the other
Party.

4. Each Party shall take reasonable steps to provide for the safe custody of all
confidential information in its possession and to prevent any unauthorised
access or use.
5. Each Party shall ensure that its personnel complies with the obligations
specified in Paragraphs 2 (two) to 4 (four) of this Article .

6. The obligations under this Article shall continue to apply notwithstanding the
temporary suspension or the termination of this MOU.

ARTICLE VIII
TEMPORARY SUSPENSION

Each Party reserves the right, for reasons of national security, to temporarily
suspend, the operation of either the whole or a part of this MOU. Such suspension
shall take effect immediately upon written notification by the requesting Party.

ARTICLE IX
SETTLEMENT OF DISPUTES

Any dispute arising from or relating to this MOU shall be settled amicably through
mutual consultations.

ARTICLE X
AMENDMENT

This MOU may be amended at any time by the Parties by mutual written consent.
Such amendment will take effect on such date as may be determined by the Parties
in writing and shall form an integral part of this MOU .

ARTICLE XII
ENTRY INTO EFFECT, DURATION AND TERMINATION

1. This MOU shall come into effect on the date of its signature by the Parties.

2. This MOU shall remain in effect for a period of three (3) years and may be
extended for a further period of three (3) years by mutual written agreement of
the Parties.

3. Either Party may terminate this MOU at any time by giving written notification
to the other Party at least 6 (six) months prior to the intended date of
termination .

4. The termination of this MOU shall not affect the completion of any ongoing
activities undertaken pursuant to this MOU unless mutually determined by the
Parties.

i
________ _!
IN WITNESS WHEREOF , the undersigned, being duly authorised by their respective
Governments, have signed th is MOU .

Signed in Singapore on 7 September 2017, in duplicate, each in the English and


Indonesian languages, all texts being equally authentic. In the event of any dispute,
the English text shall prevail.

FOR THE NATIONAL DISASTER FOR THE SINGAPORE CIVIL


MANAGEMENT AUTHORITY OF DEFENCE FORCE OF
THE REPUBLIC OF INDONESIA THE REPUBLIC OF SINGAPORE

ERIC YAP WEE TECK


COMMISSIONER