Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan November, 2008, Vol. XI. No 4.

Pengaruh Penggunaan Bungkil Kelapa yang Difermentasi dengan


Ragi Tape dalam Ransum Terhadap Bobot Karkas
Ayam Broiler Jantan

Filawati1

Intisari

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bungkil kelapa yang
difermentasi dengan ragi tape terhadap konsumsi bahan kering ransum, bobot potong, bobot
karkas mutlak dan relatif. Penelitian ini menggunakan 100 ekor anak ayam broiler jantan
berumur 2 hari. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 5
perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah penggunaan 100% ransum
komersil, penggunaan bungkil kelapa tanpa fermentasi 10% dan 20% dalam ransum komersil
dan penggunaan bungkil kelapa yang difermentasi dengan ragi tape 10% dan 20% dalam
ransum komersil. Parameter yang diamati adalah konsumsi bahan kering ransum, bobot
potong, bobot karkas mutlak dan relatif. Disimpulkan bahwa penggunaan bungkil kelapa
tanpa fermentasi dan yang difermentasi dengan ragi tape dapat diberikan sampai 20% sebagai
pengganti sebagian ransum komersil.

Kata Kunci : Bungkil Kelapa, Ragi Tape, Konsumsi Ransum,


Bobot Potong Bobot Karkas

the effect of using fermented coconut cake with tape yeast on dry metter intake,
slaughtered weidht, carcass weight and carcass percentage

Abstract

The experiment was conducted to determine the effect of using fermented coconut cake with tape
yeast on dry metter intake, slaughtered weidht, carcass weight and carcass percentage. A hundred two
days old male chicken was used in thiss study. This study was assigned into completely randamized
design with 5 treatment and 4 replications. The tretment was using 100% commercial feed, using 10%
and 20% of coconut cake in commercial feed and using 10% and 20% of fermented coconut cake with
tape yeast in commercial feed. Parameters measured dry matter intake, slaughtered weight, carcass
weight and carcass persentage. It concluded that coconut cake and permented coconut cake with tape
yeast can be mixed into the ration up to 20% to subtitute commercial feed.

Key Word : Carcass Weight, Coconut Cake, Feed Intake, Slaughtered Weight, Tape Yeast

Pendahuluan dari segi zat makanannya maupun dari


Bungkil kelapa merupakan hasil segi ketersediaannya. Berdasarkan
ikutan (by product) dari proses pembuatan laporan BPS Jakarta (2007), luas areal
minyak kelapa dan merupakan salah satu perkebunan kelapa di Indonesia tahun
bahan ransum yang berpotensial baik 2006 adalah 3.607.200 hektar dengan

1 Staf Pengajar Fakultas Peternakan, Univ. Jambi, Jambi

Pengaruh Penggunaan Bungkil Kelapa yang Difermentasi dengan Ragi Tape dalam Ransum Terhadap 93
Bobot Karkas Ayam Broiler Jantan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan November, 2008, Vol. XI. No 4.

produksi kelapa sebesar 3.097.700 ton. fermentasi Aspergillus niger dapat


Sedangkan laporan BPS Jambi (2007), mensekresi enzim selulase yang berfungsi
khusus untuk wilayah propinsi Jambi, mencerna serat kasar, sedangkan
luas daerah perkebunan kelapa tahun Sacharomyces cereviceae berperan
2006 adalah 128.079 hektar dengan menfermentasi glukosa menjadi alkohol.
produksi kelapa sebesar 122.327 ton. Fermentasi dengan ragi tape juga
Produksi kelapa yang besar ini sangat diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi
potensial sekali untuk dimanfaatkan bahan seperti peningkatan protein,
limbahnya yang dalam bentuk bungkil lemak, karbohidrat dan penurunan serat
kelapa sebagai pakan ternak. Bungkil kasar, karena hasil fermentasi dengan
kelapa mengandung protein kasar yang ragi tape adalah senyawa atau bahan
cukup tinggi sekitar 21,6% (Tilman,1986), organik terlarut yang mudah diserap oleh
sedangkan kandungan serat kasarnya unggas (Higa dan Parr, 1994).
15% dan kandungan energi metabolisnya Hasil penelitian (Muslim, 2003),
sebesar 2120 kkal/kg (Wahju, 1994). menunjukkan bahwa. Bungkil kelapa
Penggunaan bungkil kelapa dalam hasil bioproses dengan Aspergillus niger
ransum ayam broiler sangat rendah dapat meningkatkan protein kasar
sekitar 5–10% karena bungkil kelapa sebesar 12,86%, kalsium 0.02%, phospor
defisiensi asam amino lisin dan 0.08%, EM 806 kkal/kg dan terjadi
methionin serta mengandung serat kasar penurunan lemak kasar sebesar 2,73%,
yang tinggi sehingga pengunaannya serat kasar 4,91%. Bungkil kelapa hasil
dalam ransum bertujuan sebagai ransum bioproses dengan Aspergillus niger dapat
pendamping jagung dan tepung ikan digunakan dalam ransum sampai taraf
(Rasyaf, 1999). 20% tanpa mempengaruhi konsumsi
Tingginya serat kasar yang ransum, pertambahan bobot badan dan
mencapai 15% akan mempengaruhi konversi ransum ayam pedaging jantan.
kecernaan dan penyerapan zat-zat Penggunaan bungkil kelapa sebagai
makanan lain termasuk didalamnya pengganti sebagian ransum komersial
protein, vitamin, mineral dalam ransum merupakan suatu cara mengurangi
unggas. Hal ini dikarenakan organ ketergantungan peng-gunaan ransum
pencernaan unggas tidak menghasilkan komersial, diharapkan penggunaan
enzim selulase untuk mencerna serat dalam ransum akan memperbaiki
kasar. Oleh sebab itu perlu dilakukan performans karkas ayam broiler.
usaha untuk menurunkan kandungan Berdasarkan hal tersebut di atas,
serat kasar bungkil kelapa serta telah dilakukan suatu penelitian untuk
kandungan anti nutrisinya. Salah satu melihat pengaruh penggunaan bungkil
cara yang dapat dilakukan adalah dengan kelapa yang difermentasi dengan ragi
menggunakan ragi tape. tape dan tanpa fermentasi dengan ragi
Ragi tape adalah suatu bahan yang tape dalam ransum sebagai pengganti
dapat berperan sebagai probiotik yang sebagian ransum komersial terhadap
terdiri dari inokulum padat yang bobot karkas ayam broiler jantan.
mengandung berbagai jenis kapang,
khamir dan bakteri. Walaupun telah Materi dan Metode
terisolasi berbagai mikroba di dalam ragi Penelitian ini dilaksanakan selama
tape tetapi telah diketahui jenis yang 4 minggu di kandang percobaan Nutrisi
dominan adalah Aspergillus niger dari Ternak Unggas dan analisis proksimat
jenis kapang dan Sacharomyces cereviceae dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan
dari jenis khamir. Dalam proses Makanan Ternak Fakultas Peternakan

Pengaruh Penggunaan Bungkil Kelapa yang Difermentasi dengan Ragi Tape dalam Ransum Terhadap 94
Bobot Karkas Ayam Broiler Jantan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan November, 2008, Vol. XI. No 4.

Universitas Jambi, menggunakan 100 C= R2. adalah 80% ransum komersial +


ekor ayam broiler strain Lohman umur 2 20% bungkil kelapa yang tidak
hari yang diproduksi oleh PT. Multi difermentasi dengan ragi tape;
Breeder Adhirama Indonesia melalui D= R3. adalah 90% ransum komersial +
poultryshop Nusantara yang ada 10% bungkil kelapa yang
Kotamadya Jambi. Kandang kaloni difermentasi dengan ragi tape ; dan
ukuran 100 x 50 x 50 cm sebanyak 20 unit E= R4. adalah 80 % ransum komersial
kandang, tempat minum dan makanan, + 20% bungkil kelapa yang
lampu, timbangan O haus kapasitas 2.610 difermen-tasi dengan ragi tape.
gram. Bahan yang digunakan dalam
penelitian adalah bungkil kelapa yang Data yang diperoleh dari peubah
diperoleh dari toko makanan ternak yang yang diamati dianalisis dengan
ada di kota madya Jambi dan inokulum menggunakan analisis ragam (ANOVA).
ragi tape. Apabila terdapat pengaruh yang nyata
Rancangan percobaan yang dalam analisis ragam, maka untuk
digunakan adalah Rancangan Acak mendapatkan perbedaan antar perlakuan
Lengkap dengan 5 (lima) perlakuan dan nilai rata-rata setiap perlakuan di uji
4 (empat) ulangan. Perlakuan pada dengan uji Jarak Berganda Duncan, Steel
penelitian ini adalah tingkat penggunaan and Torie (1994).
bungkil kelapa yang tidak difermentasi Ransum yang digunakan adalah
dan difermentasi dengan ragi tape dalam ransum komersial Broiler-I produksi PT
ransum. Japfa Comfeed Indonesia, Bandar
Adapun ransum perlakuan pada Lampung. Komponen zat-zat makanan
penelitian ini adalah : ransum komersial, bungkil kelapa
A= R0. adalah ransum komersial 100% sebelum fermentasi dan fermentasi dapat
B= R1. adalah 90% ransum komersial + dilihat pada Tabel 1, sedangkan
10% bungkil kelapa yang tidak komposisi zat-zat makanan ransum
difermentasi dengan ragi tape; perlakuan dapat dilihat pada Tabel 2
berikut ini :

Tabel 1. Komposisi Zat-zat Makanan Penyusun Ransum Komersil, Bungkil


Kelapa Sebelum dan Setelah Fermentasi dan Perlakuan (%).
Komponen Ransum Komersial Bkl. Kelapa SF Bkl. Kelapa ferm
Bahan kering 90.40621) 88.07191) 88.92981)
Protein kasar 23.8224 1) 21.6639 1) 21.87161)
Serat kasar 3.42341) 13.78831) 12.34641)
Lemak kasar 6.2067 1) 11.3887 1) 10.58391)
Ca 0.91 2) 0.1 2) -
P 0.74 2) 0.62 2) -
GE (kkal/gr) 3943 1) 4636 1) 4374 1)
ME (kkal/gr) 2858.675 3361.1 3171.15
Sumber : 1) Analisis Lab. Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNJA (2007)
2) NRC (1994)) SF : Sebelum fermentasi

Prosedur kerja dalam penelitian ini ini difermentasi terlebih dahulu dengan
dilakukan dalam beberapa tahap yaitu: ragi tape. Prosedur fermentasi bungkil
Fermentasi bungkil kelapa. Bungkil kelapa dilakukan berdasarkan petunjuk
kelapa yang digunakan dalam penelitian Ciptadi dan Nasution (1980), dengan cara

Pengaruh Penggunaan Bungkil Kelapa yang Difermentasi dengan Ragi Tape dalam Ransum Terhadap 95
Bobot Karkas Ayam Broiler Jantan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan November, 2008, Vol. XI. No 4.

Tabel 2. Komposisi Zat-zat Makanan Ransum Perlakuan (%)


Komponen R0 R1 R2 R3 R4
BK 90.4062 90.17277 89.93934 90.25856 90.11092
PK 23.8224 23.606 23.391 23.627 23.432
SK 3.4234 4.459 5.496 4.3157 5.208
LK 6.2067 6.725 7.243 6.644 7.082
Ca 0.91 0.829 0.748 0.819 0.728
P 0.74 0.728 0.716 0.666 0.592
Ge 3943 4012.3 4081.6 3986.1 4029.2
ME 2858.68 2908.92 2959.16 2889.92 2921.17
Keterangan: *) ME = GE x 0,725 (NRC,1994)

sebagai berikut: Mengukus adonan ditimbang. Air minum juga di berikan ad


bungkil kelapa yang sudah dibasahi libitum yang diberikan setiap hari
dengan air dengan perbandingan 1 : 1 bersamaan dengan pemberian ransum.
kedalam panci pengukus sederhana Pemotongan ayam. Pemotongan
selama 30 menit. Selanjutnya bungkil ayam dilakukan pada akhir minggu
kelapa yang Sudah dikukus ditiriskandan keempat penelitian, yaitu diambil secara
didinginkan sampai mencapai suhu acak dua ekor ayam untuk setiap unit
kamar. Inokulasi dilakukan dengan kandang. Sebelum dipotong ayam
mencampurkan 0,5% (5 gram) ragi tape dipuasakan dulu selama 12 jam.
dalam 1 kg berat kering bungkil kelapa Kemudian ditimbang dan di catat sebagai
dan diaduk hingga merata. Bungkil bobot potong. Pemotongan dilakukan
kelapa yang telah di inokulasi dengan pada pangkal leher antara os atlas dan os
ragi tape tersebut di dimasukkan asis hingga saluran pembuluh darah
kedalam plastik dan ditutup rapat dan di (Vena jugularis) putus dan darah keluar
fermentasi selama 72 jam. Fermentasi dengan sempurna. Untuk mendapatkan
dihentikan setelah 72 jam dengan cara bobot karkas dapat diketahui setelah isi
menjemur dibawah sinar matahari agar saluran pencernaan, empedu dan jeroan
substrat tidak busuk. Selanjutnya bungkil kecuali ginjal dan paru-paru dikeluarkan.
kelapa yang telah kering digiling hingga Kepala dipotong pada batas tulang atlas
menjadi tepung dan siap digunakan dan kaki dipotong pada batas persendian
dalam ransum sebagai pengganti metatarsus.
sebagian ransum komersial.
Pemeliharaan ayam. Untuk mencegah Peubah yang diamati
timbulnya penyakit, ayam yang akan di Peubah yang diamati dalam
masukkan kedalam kandang terlebih penelitian ini meliputi konsumsi ransum,
dahulu di vaksin dengan vaksin ND bobot potong dan bobot karkas mutlak
strain lasota pada umur 4 hari, sedangkan dan bobot karkas relatif.
untuk mencegah stress digunakan
Vitachick. Hasil dan Pembahasan
Ayam dipelihara selama 4 Konsumsi Ransum
minggu. Ransum perlakuan sebelum Rataan konsumsi ransum, bobot
diberikan ditimbang kemudian diberikan potong, bobot karkas mutlak dan karkas
ad libitum sesuai perlakuan. Sisa ransum relatif ayam broiler dapat dilihat pada
dikumpulkan setiap minggu dan Tabel 3.

Pengaruh Penggunaan Bungkil Kelapa yang Difermentasi dengan Ragi Tape dalam Ransum Terhadap 1
Bobot Karkas Ayam Broiler Jantan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan November, 2008, Vol. XI. No 4.

Tabel 3. Rataan Konsumsi Ransum Ayam Broiler Jantan Selama Penelitian.


Perlakuan Konsumsi ransum Bobot potong Bobot karkas Bobot karkas
(gram/ekor/hari) (gram) mutlak (gram) relatif (%)
R0 66.89 1420.925 1032.09 72.65ab
R1 68.67 1458.738 1048.93 71.90 ab
R2 71.20 1360.675 970.49 71.33bc
R3 67.87 1452.950 1062.84 73.20a
R4 69.75 1411.825 1003.54 71.07bc

Hasil analisis ragam menunjukkan Faktor lain yang mungkin


bahwa semua perlakuan berpengaruh menyebabkan konsumsi ransum yang
tidak nyata (P>0.05) terhadap konsumsi berpengaruh tidak nyata adalah tingkat
bahan kering ransum, bobot potong dan palatabilitas untuk semua ransum
bobot karkas mutlak namun berpengaruh perlakuan juga relatif sama, sehingga
nyata terhadap (P<0.05) terhadap bobot tidak menampakkan hasil yang nyata.
karkas relatif.. Berdasarkan Tabel 3 Hal ini diperkuat oleh Ensminger (1990),
menunjukkan bahwa penggunaan menyatakan bahwa konsumsi ransum
bungkil kelapa fermentasi dan tanpa juga dipengaruhi oleh bau, rasa, warna
fermentasi sampai 20% dapat dilakukan dan tekstur.
dengan tidak mengganggu konsumsi Konsumsi ransum selama
ransum. Hal ini disebabkan karena penelitian ini berkisar antara 66,89 – 71,20
masing-masing perlakuan memiliki gram/ekor/hari, dengan rata-rata 68,88
kandungan zat makanan dan energi gram/ekor/hari. Menurut Yovi (2003),
metabolis ransum relatif sama untuk ayam broiler jantan sampai umur lima
semua perlakuan (Tabel 2) dan sesuai minggu rata-rata konsumsi ransumnya
dengan kebutuhan ayam broiler yang adalah 55,30 gram/-ekor/hari. Tingginya
direkomendasikan oleh NRC(1994), yaitu konsumsi ransum selama penelitian
berkisar antara 2800 – 3200 kkal/kg. diduga karena rendahnya serat kasar
Keseimbangan kandungan energi, dalam ransum sehingga proses
protein dan serat kasar dalam ransum pencernaan dan absorbsi zat-zat makanan
merupakan faktor utama yang dapat berlangsung dengan baik. Selain
mempengaruhi konsumsi ransum. itu, rendahnya suhu lingkungan akibat
Kandungan energi yang tinggi dalam tingginya curah hujan akan mening-
ransum harus disertai dengan protein katkan konsumsi ransum ayam broiler
yang tinggi pula sehingga kebutuhan untuk mempertahan suhu tubuhnya. Hal
ternak akan protein dan energi dapat ini sesuai dengan pendapat Wahju
dipenuhi secara seimbang. Konsumsi (1992), bahwa banyaknya konsumsi
ransum akan cenderung meningkat ransum dipengaruhi oleh temperatur
apabila ransum yang diberikan lingkungan, kesehatan, starain, imbangan
mengandung energi yang rendah, zat-zat makanan dan tingkat energi
demikian pula sebaliknya. Rasyaf (1997), ransum.
menyatakan bahwa ayam meng- Bobot potong yang berpengaruh
konsumsi ransum untuk memenuhi tidak nyata ini disebabkan oleh konsumsi
kebutuhan energinya, apabila kebutuhan ransum untuk setiap perlakuan yang
energi sudah terpenuhi maka ayam akan relatif sama, sehingga tidak berpengaruh
berhenti mengkonsumsi ransum.

Pengaruh Penggunaan Bungkil Kelapa yang Difermentasi dengan Ragi Tape dalam Ransum Terhadap 2
Bobot Karkas Ayam Broiler Jantan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan November, 2008, Vol. XI. No 4.

terhadap pertumbuhan dan bobot potong nyata (P>0,05) jika dibandingkan dengan
yang dihasilkan. bobot karkas relatif ransum kontrol (R0),
Bobot potong yang diperoleh begitu pula bobot karkas relatif ransum
selama penelitian ini berkisar antara perlakuan R3 berbeda tidak nyata dengan
1360,675 - 1458,738 gram dengan rata-rata bobot karkas relatif ransum perlakuan R0.
1421,05 gram. Menurut Yovi (2003), Bobot karkas relatif yang
bahwa ayam pedaging jantan sampai dihasilkan berhubungan erat dengan
umur lima minggu memiliki bobot bobot karkas mutlak yang dihasilkan.
potong dengan rata-rata 1421,6 gram. Tingginya bobot karkas mutlak yang
Bobot karkas mutlak yang dihasilkan dari penggunaan 10% bungkil
dihasilkan erat hubunganya dengan kelapa fermentasi (R3) dalam ransum
bobot potong, semakin tinggi bobot disebabkan kandungan serat kasar yang
potong semakin tinggi pula bobot karkas terdapat dalam bungkil kelapa masih bisa
yang dihasilkan dan sebaliknya. dicerna oleh ayam sehingga penyerapan
Bobot karkas mutlak yang tidak protein dan zat-zat makanan yang
berbeda untuk semua perlakuan diduga terdapat dalam bungkil kelapa dapat
karena protein ransum perlakuan yang berjalan dengan baik akhirnya
tinggi pada masing-masing perlakuan menghasilkan pertumbuhan dan bobot
yang dapat dimanfaatkan oleh ternak karkas mutlak yang optimal.
relatif sama sehingga menghasilkan bobot Bobot karkas relatif yang
karkas mutlak yang relatif sama pula. Hal dihasilkan pada ransum perlakuan R2
ini sesuai dengan pendapat Maynard dan R4 tidak berbeda nyata (P>0,05) jika
(1979), bahwa protein merupakan bahan dibandingkan dengan ransum perlakuan
dasar penyusun dari semua jaringan kontrol (R0), tetapi nyata (P<0,05) lebih
dalam tubuh ternak. Selanjutnya Abbas rendah dari perlakuan R3. Rendahnya
(1992), bahwa tingkat protein dalam bobot karkas relatif pada ransum
ransum berpengaruh terhadap persentase perlakuan R2 dan R4 berhubungan erat
bobot karkas. dengan rendahnya bobot karkas mutlak
Bobot karkas mutlak yang yang dihasilkan. Keterbatasan ayam
diperoleh selama penelitian ini berkisar dalam mencerna serat kasar disebabkan
antara 970.49 – 1062.84 gram dengan rata- saluran pencernaan ayam tidak
rata 1023,578 gram. Menurut Yovi (2003), menghasilkan enzim selulase sehingga
bahwa ayam pedaging jantan sampai bahan makanan tersebut tertahan lebih
umur lima minggu memiliki bobot karkas lama dalam saluran pencernaan dan
mutlak dengan rata-rata 1003.73 gram. menyebabkan penyerapan zat-zat
Bobot karkas mutlak yang lebih tinggi makanan menjadi terganggu. Kondisi ini
dari yang dikemukakan Yovi (2003) secara langsung berpengaruh buruk
disebabkan oleh proses penanganan terhadap pertumbuhan, bobot potong,
karkas pada saat pemotongan lebih baik dan bobot karkas yang dihasilkan.
sehingga rigormortis dapat ditekan lebih Ketidakseimbangan zat-zat makanan
rendah. dalam ransum dapat menghambat
Berdasarkan uji Duncan (lampiran pertumbuhan yang pada akhirnya
6) menunjukkan bahwa bobot karkas menurunkan bobot potong, bobot karkas
relatif ransum perlakuan R3 nyata mutlak dan bobot karkas relatif. Bobot
(P<0,05) lebih tinggi dari bobot karkas karkas relatif yang didapat pada
relatif pada ransum perlakuan R2 dan penelitian ini adalah 72.65, 71.90, 71.33,
R4, namun bobot karkas relatif ransum 73.20 dan 71.07% dengan rata-rata 72.03
perlakuan R1, R2 dan R4 berbeda tidak %. Menurut Siregar (1982) dan Kanisius

Pengaruh Penggunaan Bungkil Kelapa yang Difermentasi dengan Ragi Tape dalam Ransum Terhadap 98
Bobot Karkas Ayam Broiler Jantan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan November, 2008, Vol. XI. No 4.

(1986), besarnya persentase karkas ayam Farming Researcf Center, Atami,


broiler bervariasi yaitu 65 – 75% dari Japan.
bobot hidup. Maynard, L. A. J. K. Losli, H. F Hinzt and
R. G Warner. 1979. Animal
Kesimpulan Nutrition 7th Ed Mc Grow – Hill
Penggunaan bungkil kelapa baik Book C.o. New York.
yang difermentasi dengan ragi tape Muslim. 2003. Pengaruh penggunaan
maupun tidak difermentasi dalam bungil kelapa hasil bioproses
ransum ayam broiler dapat diberikan dengan Aspergillus niger dalam
sampai taraf 20% sebagai pengganti ransum terhadap pertambahan
sebagian ransum komersial tanpa bobot badan ayam pedaging jantan.
menyebabkan pengaruh yang negatif Skripsi Fakultas Peternakan
terhadap bobot karkas. Universitas Jambi.
National Research Council. 1994.
Daftar Pustaka Nutrition Requirement Of Poultry
Abbas, M. H. 1992. Pengaruh Tingkat National Academy Of Science.
Fosfor dan Protein Ransum Washington D. C.
Terhadap Performans Ayam Broiler Rasyaf, M. 1999. Bahan Makanan Unggas
Pada Kandang Alas Kawat Dan Di Indonesia. Penerbit Kanisius,
Litter. Thesis Fakultas Pasca Sarjana Yogyakarta.
Institut Pertanian Bogor. Rasyaf, M. 1997. Beternak Ayam
Badan Pusat Statistik (BPS). 2007. Jambi Pedaging. Penerbit Swadaya,
Dalam Angka tahun 2006. BPS Jakarta.
Propinsi Jambi, Jambi. Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1994. Prinsip
Badan Pusat Statistik (BPS). 2007. Statistik Dan Prosedur Statistika : Suatu
Indonesia Tahun 2006. BPS Jakarta, Pendekatan Biometrik. Penerbit PT
Indonesia. Gramedia, Jakarta.
Ciptadi, W dan Nasution, Z. 1080. Wahju, J. 1994. Kandungan Zat-Zat
Pengolahan Ubi Ketela Pohon. Makanan Untuk Ternak Unggas.
Departemen Teknologi Pengolahan Gajahmada University Press,
Hasil Pertanian. Fatameta. Ipb Yogyakarta.
Bogor, Bogor. Wahju, J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas.
Esminger, M. M, J. T. Oldfield And W. W. Gajah Mada University Press,
Heineman. 1990. Feed And Yogyakarta.
Nutrition. The Esminger Publishing Winarno. 1980. Pengantar Teknologi
Company, USA. Pangan. Penerbit PT Gramedia,
Esminger, M. M, J. T. Oldfield And W. W. Jakarta.
Heineman.. 1992. Mikrobiologi Yovi, H. 2003. Pengaruh penggunaan
Pangan 1. PT Gramedia Pustaka bungkil kelapa yang difermentasi
Utama Jakarta. dengan probiotik starbio dalam
Higa, T Dan J. F. Parr. 1994. Beneficial ransum terhadap bobot karkas
And Effective Microorganisms For ayam broiler. Skripsi Fapet Unja,
Suistanable Agricultural And Jambi.
Environment International Nature

Pengaruh Penggunaan Bungkil Kelapa yang Difermentasi dengan Ragi Tape dalam Ransum Terhadap 99
Bobot Karkas Ayam Broiler Jantan