Anda di halaman 1dari 2

Adib Baroya Al Fahmi (183151056)

Sejarah Perkembangan Islam di Benua Australia

Islam sebagai sebuah agama tidak hanya kembang di daerah Timur Tengah saja, namun
juga menyeluruh di pelbagai penjuru dunia. Meskipun Islam bukan agama mayoritas di Australia
namun tetap memiliki ciri khas keunikan tersendiri. Jumlah umat Islam di Australia hanya berkisar
500 ribu ataupun 3% dari jumlah keseluruhan masyarakat Australia yang sejumlah 24 juta. Islam
telah menjadi bagian dari Australia. Islam juga menjadi bagian sekaligus sejarah dari ruang
lingkup Australia itu sendiri. Suku Aborigin tentu saja. Dan tenyata kedatangan Islam dari
Australia adalah jejak perjalanan dari masyarakat Muslim Makassar dari Indonesia (baca:
Nusantara).
Keberadaan Muslim di Australia memiliki sejarah panjang yang dapat diperkirakan datang
sebelum adanya pemukiman Eropa. Beberapa pendatang dari bagian Timur Indonesia adalah
seorang pedagang dan nelayan. Para muslim di Australia memiliki interaksi dengan daratan
Australia mulai pada abad 16 dan 17 (Jatmika, 2016)
Nelayan dan para pedagang dari Makassar Indonesia itu tiba di pinggiran Australia Barat,
Australia Utara, dan Queensland. Mereka melakukan persentuhan ekonomi dengan penduduk
asli setempat dan mencari teripang sebagai makanan yang akan diperdagangkan di China guna
mendapat keuntungan. Fakta dari kunjungan awal ini dapat terlihat dari beberapa kesamaan
bahasa yang diucapkan oleh masyarakat Makassar dengan penduduk di pinggiran Australia.
I. Peran penting penunggang unta.
Selain kedatangan para pedagang dari Makassar Indonesia, populasi masyarakat Muslim
awal cukup jamak datang dari penunggang Unta di kala dasawarsa tahun 18-an. Separuh besar
dari tanah Benua Australia adalah gurun dan padang pasir. Dengan temperatur yang lumayan
tinggi dan sumber mata air yang begitu sedikit. Australia sebagai hewan pengangkut di padang
pasir, namun kali ini belum menuai hasil.
Selang 20 tahun, yakni pada tahun 1860, datang kembali juga sebanyak 24 unta. Dengan
begitu banyak unta yang didatangkan ada pengharapan bahwa kelak perjalanan transportasi
akan mudah dan tak merepotkan. Sebagai pawang yang ahli sekaligus pengurus unta yang
mengakomodir pergerakan unta adalah orang bangsa Afghanistan. Demi melancarkan kegiatan
ekonomi dengan kehadiran unta-unta. Pasca peristiwa tersebut, maka menyusul kawan-kawan
muslim dari Australia sekitar lebih kurang 10.000-12.000 unta didatangkan ke Australia pada
tahun-tahun berikutnya. Sekitar tahun 1860-1907. Diperkirakan sekitar 3000 Muslim yang
berasal dari Afghanistan memiliki pekerjaan sebagai pengangkut air, makanan, maupun barang-
barang yang minim fasilitas untuk dilalui. (Sehat, 2013)
Bukan hanya sebagai kurir pengangkut barang, para penunggang unta dari Afghanistan
ini memiliki andil banyak nan penting terhadap kehidupan di Benua Australia. Terdapat fakta
yang memberikan bukti ampuh dalam rangka mengerjakan jaringan rel kereta api antara Alice
Springs dan Port Augusta, yang sekarang dikenal sebagai Ghan.
Berkat keberadaan jalan kereta api ini membangkitkan gairah ekonomi di sepanjang jalan
yang dilewati jalur kereta api. Tidak sedikit kota-kota mulai lahir dan bangkit. Kota-kota itu
melahirkan masjid. Pada umumnya masjid-masjid itu didirikan berdasar besi bergelombang
dengan menara yang menjulang agak kecil.
Selain itu para penunggang unta dari Afghanistan juga melakukan keberlangsungan hidup
dengan menghasilkan keturunan. Maka dari itu tak bisa dipungkiri atas bertambah sekaligus
membludaknya masyarakat muslim di Australia.
Pasca' menjalani kehidupan dan penghidupan di daratan Australia, maka secara otomatis
masyarakat Muslim Afghanistan melakukan perkawinan entah dengan sesama muslim dari
Afghanistan ataupun warga setempat. Lahirlah masyarakat Muslim yang meluas dan menyebar
di wilayah Australia. Ada juga umat Muslim yang sengaja dihadirkan ke mutiara Australia oleh
kolonial Belanda dan Inggris di Asia Tenggara demi meraup untung pada akhir abad XIX-XX.