Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH FARMAKOTERAPI II

(DEPRESSION)

Di susun Oleh :

Rizkika Nabila R.Makka G 70117205

An nisa Ul Mursyidah G 70117205

Dinda Dania Satar G 70117112

Kelas: E

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU, 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat serta karunia-
Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas membuat makalah mengenai Depresi ini
tepat pada waktu yang telah ditentukan. Yang mana tugas ini adalah tugas yang
diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah FARMAKOTERAPI II kepada kami.
Makalah ini disusun agar Pembaca serta Penulis sendiri dapat memperluas
pengetahuan dan pemahaman mengenai Depresi. Pengetahuan itu dapat berupa
mengenai apa itu depresi ?, apa saja penyebab depresi ?, bagaimana cara
penanggulangan depresi?, serta hal-hal penting lainnya yang menyangkut dan yang
menunjang peningkatan pemahaman kita mengenai Depresi dengan lebih baik.
Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, maupun
dapat pula digunakan sebagai bahan belajar dan sebagai prasarana penunjang
tercapainya pemahaman yang baik mengenai depresi itu sendiri. Penulis juga
menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh sebab itu,
Penulis sangat mengharapkan adanya kritik serta saran positif yang membangun, agar
makalah ini menjadi lebih baik dan berdaya guna dimasa yang akan datang.

Palu, 03 Februari 2020

Penulis
Daftar Isi

Kata Pengantar..........................................................................................................

Daftar Isi...................................................................................................................

BAB I Pendahuluan..................................................................................................

Latar Belakang .............................................................................................

Ruang Lingkup ............................................................................................

Tujuan ..........................................................................................................

BAB II Pembahasan .................................................................................................

Definisi Depresi ..........................................................................................

Epidemiologi Depresi .................................................................................

Epidemilogi Depresi ...................................................................................

Patofisiologi dan Patogenesi.........................................................................

Faktor Resiko Depre ............................... ...................................................

Klasifikasi Depresi ......................................................................................

Tanda/gejala dan diagnosa..... .....................................................................

Prognosis dan monitoring............................................................................

Tata laksana Terapi.......................................................................................

BAB III Penutup ........................................................................................................

Kesimpulan ................................................................................................

Saran ..........................................................................................................

Daftar Pustaka ...........................................................................................


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap orang tentu akan menemukan kesulitan dan cobaan hidup. Mungkin
dia tidakmerasa sedemikian berputus asa sehingga bunuh diri, tetapi dia
mempunyai pengalaman depresi sewaktu-waktu. Yang terkadang diaplikasikan
atau dicurahkan dalam beberapa bentuk, dan tak jarang membawa mereka
kedalam pemikiran yangmenyulitkan, dan lain sebagainya.
Biasanya semua orang tidak mengakui bahwa mereka telah terpelosok ke
dalamkancah penderitaan. Banyak dari mereka berpikir tentang tingkat-tingkat
depresiyang mereka sebut ”perasaan sedih” atau seperti yang dilakukan oleh
wanita denganmenangis. Tapi mereka sadar bahwa sekali waktu kehidupan
mereka tidak bahagia.Jelaslah ada perbedaan antara ketidakbahagiaan dan
penyakit mental.Bagaimanapun juga, bentuk depresi yang paling ringan akan
menumpulkanketajaman kehidupan yang paling keras. Sehingga beberapa orang
yang terjebakdalam kesedihan ataupun ketidakbahagiaan lainnya, mengambil
langkah berbahayayang dapat merugikan dirinya, yaitu dengan tindakan bunuh
diri dan sebagainya.
Pada zaman modern ini, banyak manusia yang mengalami stress,
kecemasan,dan kegelisahan. Sayangnya, masih saja ada orang yang berpikir
bahwa stress dan depresi bukan benar-benar suatu penyakit. Padahal,
dibandingkan AIDS yang menjadi momok saat ini, stres dan depresi jauh lebih
bertanggung jawab terhadap banyak kematian. Karena, kedua hal tersebut
merupakan sumber dari berbagai penyakit.
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius di
masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO), depresi merupakan
suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan suasana hati yang tertekan,
kehilangan kesenangan atau minat,merasa kurang energi, perasaan bersalah atau
rendah diri, gangguan makan atau tidur, dan konsentrasi yang rendah.

B. Ruang Lingkup
Sesuai dengan literatur yang kami miliki, maka makalah ini dibatasi oleh
ruang lingkup bahasan yang meliputi definisi depresi, epidemiologi, etiologi,
patofisiologi dan patogenesis, faktor risiko, klasifikasi, tanda/gejala dan diagnosa,
prognosis dan montoring, tata laksana terapi (terapi farmakologi dan non
farmaklogi).

C. Tujuan
Adapun tujuan yang inin dicapai dalam penulisan makalah ini antara lain:

1. Memahami tentang definisi depresi depresi.

2. Memahami tentang epidemiologi depresi.

3. Memahami tentang etiologi depresi.

4. Memahami tentang patofisiologi dan patogenesis depresi.

5. Memahami tentang faktor resiko depresi.

6. Memahami tentang klasifikasi depresi.

7. Memahami tentang tanda/gejala dan diagnosa depresi.

8. Memahami tentang prognosis dan monitoring depresi.

9. Memahami tentang tata laksana terapi (terapi farmakologi dan non farmaklogi).
BAB I

PEMBAHASAN

Definisi
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius di
masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO, 2018) depresi
merupakan suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan suasana hati
yang tertekan, kehilangan kesenangan atau minat,merasa kurang energi,
perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan makan atau tidur, dan konsentrasi
yang rendah. Depresi adalah penyakit lazim di seluruh dunia, di negara maju
maupun berkembang. Definisi dari depresi adalah gangguan mental yang
ditandai dengan adanya perasaan sedih, kehilangan minat atau kesenangan,
penurunan energi, perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan tidur atau nafsu
makan dan kurangnya konsentrasi. Selain itu, depresi sering bersamaan dengan
gejala kecemasan. Depresi dapat menyebabkan gangguan fungsi seseorang
dalam kehidupan sosial, keluarga, pekerjaan maupun sekolah (Marsasina. A,
2016). Depresi bisa terjadi akibat banyaknya permasalahan dan perubahan
sosial dan kultur sebagai laju pertumbuhan global, terutama kemajuan teknologi
yang semakin meningkat. Tak dipungkiri dengan kemajuan teknologi secara
global ini, membawa dampak positif dan negatif. Tentunya dampak negatif
yang kita harus hindari karena akan membawa pada ketidakstabilan kehidupan
jika seseorang tidak memiliki ketahanan diri yang akan menimbulkan depresi
bagi seseorang yang mengalaminya.
Depresi atau gangguan suasana hati yang menyebabkan terganggunya
aktifitas sehari-hari ini ditetapkan oleh World Health Organization (WHO)
sebagai krisis global dan memprediksi pada tahun 2020 gangguan depresi ini
merupakan nomor dua penyumbanng penyebab ketidakmampuan seseorang
dalam kehidupannya setelah kardiovaskular. Lebih dari 350 juta jiwa penduduk
dunia mengalami depresi sehingga WHO menetapkan depresi sebagai salah satu
prioritas untuk ditangani. (Kemenkes, 2014). Depresi merupakan gangguan
yang seringkali tidak disadari baik oleh penderita maupun orang-orang di
sekitarnya, mengutip dari Jaka Arya Pradana (2016) dikatakan depresi disebut
juga sebagai gangguan yang tak terlihat atau invisible disease. Berbeda dengan
gangguan lain seprti flu, penderita pasti sadar bahwa ia terkena flue, penderita
depresi sering kali tidak sadar ada masalah. Bahkan banyak orang yang sering
menganggap gangguan depresi adalah masalah yang berkaitan dengan keimanan
seseorang saja dan tidak dianggap sebagai gangguan psikologis yang
memerlukan pertolongan profesional dalam bidang terssebut. Faktor ini
mendukung terjadinya 80% dari penderita depresi tidak mendapatkan
penanganan yang semestinya.

Epidemiologi
Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi,
60 juta orang terkena bipolar, 21 juta orang terkena skizofrenia, sera 47,5 juta
terkena dimensia. Prevalensi gangguan depresi pada masa anak di perkirakan
0,15%-2%. Pada populasi yang memiliki masalah maslah klinis telah di
perkirakan sampai 10-20%. Prevalensi depresi berat pada anak prapubertas di
laporkan sekitar 1,8% dan pada remaja 3,5-5%. Anak perempuan di laporkan
memiliki gejala-gejala depresi lebih bermakna dapidan anak laki-laki
(Arfin.B.K, 2016).
Pada tahun 2010, American College Health Association-National College
Health Assesment (ACHA-NCHA) melakukan penelitian terhadap mahasiswa/i
dan mendapatkan ± 30% mahasiswa/i mengalami gangguan depresi (National
Institute of Mental Health, 2015). Selain penelitian diatas, penelitian lain yang
melibatkan 1,455 mahasiswa/i juga melaporkan bahwa gejala-gejala depresi
muncul ketika memasuki awal tahun perkuliahan, 4 penyebab utama tersebut
adalah masalah akademik, ekonomi, kesendirian, dan kesulitan dalam
bersosialisasi (Furr, et al, 2018).
Mahasiswa/i pada tahun pertama perkuliahan cenderung mengalami
gangguan depresi mayor dilaporkan dari suatu penelitian di salah satu
universitas Kanada. Pada penelitian tersebut dilaporkan 7% mahasiswa dan 14%
mahasiswi memiliki kriteria-kriteria yang sesuai dengan gangguan depresi
mayor (Price et al, 2013).

Etiologi
Penyebab yang mendasari depresi sulit di jelaskan karena sifat heterogen
dari penyakit beraal dari kelompok gejala dan etiologi yang berbeda. Depresi
merupakan gangguan multifaktorial yang di sebabkan faktor genetika,
lingkungan, psikologis, dan biologis (Caballero-Martinez, leon-Vazkuez, Paya-
pardo &Diaz-Holdago, 2014). Faktor biologis yang berperan dibagi menjadi
dua, yakni faktor neurotransmitter dan neuroendokrin. Neurotransmitter yang
berperan terhadap terjadinya depresi adalah norepinefrin, serotonin, dan
dopamin. Hipotalamus adalah pusat regulasi neuroendokrin yang menerima
rangsangan neuronal menggunakan neurotransmitter biogenik amin. Banyak
disregulasi endokrin yang dapat dijumpai pada pasien gangguan mood. Faktor
keturunan juga disinyalir berperan terhadap kejadian depresi. Selain itu, saudara
kembar dari penderita depresi kemungkinan berpotensi 40-50% menderita
depresi pula. Dari segi stressor psikososial, anak yang ditinggalkan orang
tuanya berpotensi menderita depresi pada masa yang akan datang. Sedangkan
dari segi sosiokultural antara lain hubungan sosial yang buruk, beban pikiran,
kesendirian atau kesepian, kehilangan sesuatu yang berharga, dan mengalami
peristiwa yang buruk (Kaplan et al, 2015).
Di Indonesia sendiri, pada tahun 2011 menurut ketua IDI (Ikatan Dokter
Indonesia), Fachmi Idris, 94% masyarakat Indonesia mengalami depresi dari
tingkat tertinggi sampai tingkat terendah. Bahkan menurut WHO, angka bunuh
diri di Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2010 angka bunuh diri di
Indonesia adalah 1,8 jiwa per 100.000 penduduk atau 5.000 kasus per tahun.
Pada tahun 2012 angka tersebut meningkat menjadi 4,3 jiwa per 100.000
penduduk atau setara dengan 10.000 kasus pertahun (Pradana, 2016).

II. 4 Patofisiologi dan Patogenesis


Penderita gangguan depresif oleh direktorat bina farmasi komunitas dan
klinik, (2017) Patofisiologi depresi dijelaskan dalam beberapa hipotesis. Amina
biogenik merupakan hipotesis yang menyatakan, depresi disebabkan
menurunnya atau berkurangnya jumlah neurotransmitter norepinefrin (NE),
serotonin ( 5 – HT ) dan dopamine (DA) dalam otak. Ketidakseimbangan
kimiawi otak yang bertugas menjadi penerus komunikasi antar serabut saraf
membuat tubuh menerima komunikasi secara salah dalam pikiran, perasaan dan
perilaku. Karena itu pada terapi farmakologik maka terapinya adalah
memperbaiki kerja neurotransmitter norefinefrin, serotonine dan dopamin.
Episoda pertama gangguan seringkali dipicu oleh stresor psikososial pada
mereka yang biologiknya rentan. Gangguan depresif juga mungkin dialami oleh
mereka yang tidak mempunyai faktor biologik sebagai kontributor terhadap
terjadinya gangguan depresif, hal ini lebih merupakan gangguan psikologik.
Reseptor serotonin atau 5-Hydroxytriptamine (5-HT)merupakan senyawa
neurotransmitter monoamine yang terlibat pada penyakit depresi. Serotonin di
otak disekresikan oleh raphe nuclei di batang otak. Serotonin disintesis oleh
perkusornya yaitu triptofan dengan dibantu enzim triptofan hidroksilase dan
asam amino aromatic dekarboksilase, serotonin yang terbentuk kemudian
disimpan di dalam monoamine vesikuler, selanjutnya jika ada picuan serotonin
akan terlepas menuju celah sinaptik. Serotonin yang terlepas akan mengalami
berdifusi menjauh dari sinaptik, dimetabolisir oleh MAO, mengaktivasi reseptor
presinaptik, mengaktivasi reseptor post-sinaptik dan mengalami re-uptake
dengan bantuan transporter serotonin presinaptik (Ikawati, 2018). Berbagai
gambaran klinis gangguan depresi yakni gangguan episode depresi, gangguan
distimia, gangguan depresi mayor dan gangguan depresi unipolar serta bipolar (
Depkes, 2017).

Faktor Resiko
1. Jenis Kelamin
Secara umum dikatakan bahwa gangguan depresi lebih sering terjadi pada
wanita dibandingkan pada pria. Pendapat-pendapat yang berkembang
mengatakan bahwa perbedaan dari kadar hormonal wanita dan pria,
perbedaan faktor psikososial berperan penting dalam gangguan depresi
mayor ini (Kaplan et al, 2010). Sebuah diskusi panel yang diselenggarakan
oleh American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa
perbedaan gender sebagian besar disebabkan oleh lebih banyaknya jumlah
stres yang dihadapi wanita dalam kehidupan kontemporer dalam (Nevid et al,
2012).
2. Umur
Depresi dapat terjadi dari berbagai kalangan umur. Serkitar 7,8% dari setiap
populasi mengalami gangguan mood dalam hidup mereka dan 3,7%
mengalami gangguan mood sebelumnya. Depresi mayor umumnya
berkembang pada masa dewasa muda, dengan usia rata-rata onsetnya adalah
pertengahan 20 (APA, (2000) dalam Nevid et al, (2005)). Namun gangguan
tersebut dapat dialami bahkan oleh anak kecil, meski hingga usia 14 tahun
resikonya sangat rendah (Nevid et al, 2005).
3. Faktor Sosial-Ekonomi dan Budaya
Tidak ada suatu hubungan antara faktor sosial-ekonomi dan gangguan
depresi mayor, tetapi insiden dari gangguan Bipolar I lebih tinggi ditemukan
pada kelompok sosial-ekonomi yang rendah (Kaplan, et al, 2015). Dari faktor
budaya tidak ada seorang pun mengetahui mengapa depresi telah mengalami
peningkatan di banyak budaya, namun spekulasinya berfokus pada
perubahan sosial dan lingkungan, seperti meningkatnya disintegrasi keluarga
karena relokasi, pemaparan terhadap perang, dan konflik internal, serta
meningkatnya angka.
Gangguan depresif tidak mempunyai simptom fisik yang sama dan pasti pada
satu orang dan bervariasi dari satu orang ke orang lain. Keluhan yang banyak
ditampilkan adalah sakit, nyeri bagian atau seluruh tubuh, keluhan pada
sistem pencernaan. Kebanyakan gejala dikarenakan mereka mengalami stres
yang besar, kekuatiran dan kecemasan terkait dengan gangguan depresifnya.
Simptom dapat digolongkan dalam kelompok terkait perubahan dalam cara
pikir, perasaan dan perilaku.
Perubahan cara berpikir – terganggunya konsentrasi dan pengambilan
keputusan membuat seseorang sulit mempertahankan memori jangka pendek,
dan terkesan sebagai sering lupa. Pikiran negatif sering menghinggapi
pikiran mereka. Mereka menjadi pesimis, percaya diri rendah, dihinggapi
perasaan bersalah yang besar, dan mengkritik diri sendiri. Beberapa orang
merusak diri sendiri sampai melakukan tindakan bunuh diri atau membunuh
orang lain.
Perubahan perasaan – merasa sedih, murung, tanpa sebab jelas. Beberapa
orang merasa tak lagi dapat menikmati apa-apa yang dulu disenanginya, dan
tak dapat merasakan kesenangan apapun. Motivasi menurun dan menjadi tak
peduli dengan apapun. Perasaan seperti berada dibawah titik nadir, merasa
lelah sepanjang waktu tanpa bekerja sekalipun. Perasaan mudah tersinggung,
mudah marah. Pada keadaan ekstrim khas dengan perasaan tidak berdaya dan
putus asa.
Perubahan perilaku – ini merupakan cerminan dari emosi negatif. Mereka
menjadi apatis. Menjadi sulit bergaul atau bertemu dengan orang, sehingga
menarik diri dari pergaulan. Nafsu makan berubah drastis, lebih banyak
makan atau sulit membangkitkan keinginan untuk makan. Seringkali juga
sering menangis berlebihan tanpa sebab jelas. Sering mengeluh tentang
semua hal, marah dan mengamuk. Minat seks sering menurun sampai hilang,
tak lagi mengurus diri, termasuk mengurus hal dasar seperti mandi,
meninggalkan tanggung jawab dan kewajiban baik pekerjaan maupun
pribadi. Beberapa orang tak dapat tidur, beberapa tidur terus.
Perubahan Kesehatan Fisik – dengan emosi negatif seseorang merasa dirinya
tidak sehat fisik selama gangguan depresif. Kelelahan kronis menyebabkan ia
lebih senang berada di tempat tidur tak melakukan apapun, mungkin tidur
banyak atau tidak dapat tidur. Mereka terbaring atau gelisah bangun ditengah
malam dan menatap langit-langit. Keluhan sakit dibanyak bagian tubuh
merupakan tanda khas dari gangguan depresif. Gelisah dan tak dapat diam,
mondar-mandir sering menyertai. Gejala tersebut berjalan demikian lama,
mulai dari beberapa minggu sampai beberapa tahun, dimana perasaan,
pikiran dan perilaku berjalan demikian sepanjang waktu setiap hari. Jika
gejala ini terasa, terlihat dan teramati, maka sudah waktunya membawanya
untuk berobat, sebab gangguan depresif dapat diobati. Depresif oleh
direktorat bina farmasi komunitas dan klinik, (2017).
Klasifikasi Depresi
Menurut DSM IV Gangguan depresi terbagi dalam 3 kategori (Wenar & Kerig,
2000), yaitu:
1. Gangguan depresi berat (Mayor depressive disorder). Mensyaratkan
kehadiran 5 atau lebih simptom depresi menurut kriteria DSM-IV selama 2
minggu. Kriteria terebut adalah:
a. Suasana perasaan depresif hampir sepanjang hari yang diakui sendiri
oleh subjek ataupun observasi orang lain. Pada anak-anak dan remaja
perilaku yang biasa muncul adalah mudah terpancing amarahnya.
b. Kehilangan interes atau perasaan senang yang sangat signifikan dalam
menjalani sebagian besar aktivitas sehari-hari.
c. Berat badan turun secara siginifkan tanpa ada progran diet atau justru
ada kenaikan berat badan yang drastis.
d. Insomnia atau hipersomnia berkelanjutan.
e. Agitasi atau retadasi psikomotorik.
f. Letih atau kehilangan energi.
g. Perasaan tak berharga atau perasaan bersalah yang eksesif.
h. Kemampuan berpikir atau konsentrasi yang menurun.
i. Pikiran-pikiran mengenai mati, bunuh diri, atau usaha bunuh diri yang
muncul berulang kali.
j. Distres dan hendaya yang signifikan secara klinis.
k. Tidak berhubugan dengan belasungkawa karena kehilangan seseorang.

2. Gangguan distimik (Dysthymic disorder) Suatu bentuk depresi yang lebih


kronis tanpa ada bukti suatu episode depresi berat. Dahulu disebut depresi
neurosis. Kriteria DSM-IV untuk gangguan distimik:
a. Perasaan depresi seama beberapa hari, paling sedikit selama 2 tahun
(atau 1 tahun pada anak-anak dan remaja)
b. Selama depresi, paling tidak ada dua hal berikut yang hadir: tidak nafsu
makan atau makan berlebihan, insomnia atau hipersomnia, lemah atau
keletihan, self esteem rendah, daya konsentrasi rendah, atau sulit
membuat keputusan, perasaan putus asa.
c. Selama 2 tahun atau lebih mengalami gangguan, orang itu tanpa gejala-
gejala selama 2 bulan.
d. Tidak ada episode manik yang terjadi dan kriteria gangguan siklotimia
tidak ditemukan.
e. Gejala-gejala ini tidak disebabkan oleh efek psikologis langsung darib
kondisi obat atau medis.
f. Signifikansi klinis distress (hendaya) atau ketidaksempurnaan dalam
fungsi.

3. Gangguan afektif bipolar atau siklotimik (Bipolar affective illness or


cyclothymic disorder). Kriteria menurut DSM-IV:
a. Kemunculan (atau memiliki riwayat pernah mengalami) sebuah
sebuah episode depresi berat atau lebih.
b. Kemunculan (atau memiliki riwayat pernah mengalami) paling tidak
satu episode hipomania.
c. Tidak ada riwayat episode manik penuh atau episode campuran.
d. Gejala-gejala suasan perasaan bukan karena skizofrenia atau menjadi
gejala yang menutupi gangguan lain seprti skizofrenia.
e. Gejala-gejalanya tidak disebabkan oleh efek-efek fisiologis dari
substansi tertentu atau kondisi medis secara umum.
f. Distres atau hendaya dalam fungsi yang signifikan secara klinis.

Gejala dan Diagnosa


- Tanda dan Gejala
Menurut buku saku Pharmacetical care Untuk Penderita Gangguan
Depresif oleh Direktorat Bina Kefarmasian Komunitas dan Klinik, 2017.
Tanda gangguan depresif itu adalah :
 Pola tidur yang abnormal atau sering terbangun termasuk diselingi
kegelisahan dan mimpi buruk • Sulit konsentrasi pada setiap
kegiatan sehari-hari
 Selalu kuatir, mudah tersinggung dan cemas
 Aktivitas yang tadinya disenangi menjadi makin lama makin
dihentikan
 Bangun tidur pagi rasanya malas Gangguan depresif membuat
seluruh tubuh sakit, juga perasaan dan pikiran. Gangguan depresif
mempengaruhi nafsu makan dan pola tidur, cara seseorang
merasakan dirinya, berpikir tentang dirinya dan berpikir tentang
dunia sekitarnya. Keadaan depresi bukanlah suatu kesedihan yang
dapat dengan mudah berakhir, bukan tanda kelemahan dan
ketidakberdayaan, bukan pula kemalasan. Mereka yang mengalami
gangguan depresif tidak akan tertolong hanya dengan membuat
mereka bergembira dengan penghiburan. Tanpa terapi tanda dan
gejala tak akan membaik selama berminggu-minggu, berbulan-
bulan bahkan bertahun.

Gejala gangguan depresif berbeda-beda dari satu orang ke orang


lainnya, dipengaruhi juga oleh beratnya gejala. Gangguan depresif
mempengaruhi pola pikir, perasaan dan perilaku seseorang serta
kesehatan fisiknya. Gangguan depresif tidak mempunyai simptom
fisik yang sama dan pasti pada satu orang dan bervariasi dari satu
orang ke orang lain. Keluhan yang banyak ditampilkan adalah sakit,
nyeri bagian atau seluruh tubuh, keluhan pada sistem pencernaan.
Kebanyakan gejala dikarenakan mereka mengalami stres yang besar,
kekuatiran dan kecemasan terkait dengan gangguan depresifnya.
Simptom dapat digolongkan dalam kelompok terkait perubahan dalam
cara pikir, perasaan dan perilaku.
 Perubahan cara berpikir – terganggunya konsentrasi dan
pengambilan keputusan membuat seseorang sulit
mempertahankan memori jangka pendek, dan terkesan
sebagai sering lupa. Pikiran negatif sering menghinggapi
pikiran mereka. Mereka menjadi pesimis, percaya diri
rendah, dihinggapi perasaan bersalah yang besar, dan
mengkritik diri sendiri. Beberapa orang merusak diri
sendiri sampai melakukan tindakan bunuh diri atau
membunuh orang lain.
 Perubahan perasaan – merasa sedih, murung, tanpa sebab
jelas. Beberapa orang merasa tak lagi dapat menikmati apa-
apa yang dulu disenanginya, dan tak dapat merasakan
kesenangan apapun. Motivasi menurun dan menjadi tak
peduli dengan apapun. Perasaan seperti berada dibawah
titik nadir, merasa lelah sepanjang waktu tanpa bekerja
sekalipun. Perasaan mudah tersinggung, mudah marah.
Pada keadaan ekstrim khas dengan perasaan tidak berdaya
dan putus asa.
 Perubahan perilaku – ini merupakan cerminan dari emosi
negatif. Mereka menjadi apatis. Menjadi sulit bergaul atau
bertemu dengan orang, sehingga menarik diri dari
pergaulan. Nafsu makan berubah drastis, lebih banyak
makan atau sulit membangkitkan keinginan untuk makan.
Seringkali juga sering menangis berlebihan tanpa sebab
jelas. Sering mengeluh tentang semua hal, marah dan
mengamuk. Minat seks sering menurun sampai hilang, tak
lagi mengurus diri, termasuk mengurus hal dasar seperti
mandi, meninggalkan tanggung jawab dan kewajiban baik
pekerjaan maupun pribadi. Beberapa orang tak dapat tidur,
beberapa tidur terus.
 Perubahan Kesehatan Fisik – dengan emosi negatif
seseorang merasa dirinya tidak sehat fisik selama gangguan
depresif. Kelelahan kronis menyebabkan ia lebih senang
berada di tempat tidur tak melakukan apapun, mungkin
tidur banyak atau tidak dapat tidur. Mereka terbaring atau
gelisah bangun ditengah malam dan menatap langit-langit.
Keluhan sakit dibanyak bagian tubuh merupakan tanda
khas dari gangguan depresif. Gelisah dan tak dapat diam,
mondar-mandir sering menyertai. Gejala tersebut berjalan
demikian lama, mulai dari beberapa minggu sampai
beberapa tahun, dimana perasaan, pikiran dan perilaku
berjalan demikian sepanjang waktu setiap hari. Jika gejala
ini terasa, terlihat dan teramati, maka sudah waktunya
membawanya untuk berobat, sebab gangguan depresif
dapat diobati.
- Diagnosa Depresi
1. Diagnosa Episode Depresif/Utama
Kriteria untuk mendiagnosis episode depresi pada ICD-10 dan
DSM-IV tumpang tindih tetapi memiliki beberapa perbedaan
penekanan. Dalam ICD-10 pasien harus memiliki dua dari tiga gejala
pertama (suasana hati tertekan, kehilangan minat dalam kegiatan
sehari-hari, pengurangan energi) ditambah setidaknya dua dari tujuh
gejala yang tersisa; sementara di DSM-IV pasien harus memiliki lima
atau lebih dari sembilan gejala dengan setidaknya satu dari dua gejala
pertama (suasana hati yang tertekan dan kehilangan minat). Kedua
sistem diagnostik memerlukan gejala yang telah ada selama setidaknya
2 minggu untuk membuat diagnosis (tetapi bisa lebih pendek pada
ICD-10 jika gejalanya sangat berat atau timbul cepat). Pada ICD-10
dan DSM-IV, gejala-gejalanya harus mengakibatkan penurunan fungsi
yang meningkat dengan tingkat keparahan episode. (British
Psychological Society; 2000). Tabel perbandingan gejala depresi pada
ICD-10 dan DSM-IV.

ICD – 10 Gangguan depresi mayor / minor


DSM-IV

Suasana hati tertekan * Suasana hati yang tertekan oleh laporan


diri atau pengamatan yang dilakukan oleh
orang lain *

Kehilangan minat * Kehilangan minat atau kesenangan *

Pengurangan energi * Kelelahan / kehilangan energi

Hilangnya kepercayaan diri


atau harga diri
Rasa tidak berharga / berlebihan atau
Perasaan mencela diri sendiri bersalah
atau rasa bersalah yang tidak
pantas

Pikiran berulang tentang Pikiran berulang tentang kematian,


kematian atau bunuh diri pikiran untuk bunuh diri atau upaya bunuh
diri yang sebenarnya
ICD – 10 Gangguan depresi mayor / minor
DSM-IV

Berkurangnya kemampuan Berkurangnya kemampuan berpikir /


berpikir / berkonsentrasi atau berkonsentrasi atau ragu-ragu
ragu-ragu

Ubah aktivitas psikomotorik Agitasi atau keterbelakangan


dengan agitasi atau retardasi psikomotorik

Gangguan tidur Insomnia / hipersomnia

Ubah nafsu makan dengan Nafsu makan yang signifikan dan / atau
perubahan berat badan penurunan berat badan

Kedua ICD-10 dan DSM-IV mengklasifikasikan episode depresi klinis


penting sebagai ringan, sedang dan berat berdasarkan jumlah, jenis dan
tingkat keparahan gejala hadir dan tingkat gangguan
fungsional. Tabel menunjukkan jumlah gejala yang dibutuhkan oleh setiap
sistem diagnostik, yang kurang spesifik daripada DSM-IV. Pendekatan
penghitungan gejala preskriptif dari ICD-10 cenderung meminjamkan
dirinya untuk menggunakan penghitungan gejala saja untuk menentukan
tingkat keparahan .(British Psychological Society ; 2000)
ICD – 10 DSM-IV depresi berat
episode depresi

Ringan 4 Minimal di atas minimum (5)

Moderat 5–6 Antara ringan dan berat

Parah 7+ Beberapa gejala lebih dari 5

Jumlah gejala yang diperlukan dalam ICD-10 dan DSM-IV untuk


diagnosis episode depresi / depresi berat (tetapi perlu dicatat bahwa
mereka juga memerlukan penilaian tingkat keparahan dan gangguan
fungsi untuk memastikan diagnosis dan tingkat keparahan).

Prognosis – Monitoring
1. Prognosis Depresi
Beberapa pasien, MDD dapat menjadi kronis, penyakit yang berulang.
Relaps terjadi pada enam bulan pertama dari masa penyembuhan terjadi
pada 25% pasien, 58% akan relaps setelah lima tahun, dan 85% akan relaps
setelah 15 tahun setelah penyembuhan yang terdahulu (Halverson J, 2016).
Individu yang mengalami dua episode depresi terdahulu memiliki 70%
kemungkinan untuk menjadi ke tiga kalinya, dan yang sudah mengalami
episode ke tiga memiliki kemungkinan 90% untuk relaps. Berdasarkan
prodres dari penyakitnya, interval antara episode depresi menjadi lebih
pendek dan lebih berat untuk setiap episodenya menjadi lebih luas. Lebih
dari 20 tahun, kekambuhan terjadi sekitar lima sampai enam kali (Lam W
dan Mok H, 2009). Proporsi yang signifikan dari individu dengan depresi
kronis meunjukkan gejala yang bervariasi. Sekitar dua per tiga dari pasien
dengan episode depresi mayor akan sembuh dengan sempurna, dimana satu
per tiga pasien dengan depresi hanya sembuh sementara atau menjadi kronis
(Lam W dan Mok H, 2009). Pada penelitian, pasien dengan satu tahun
terdiagnosis post MDD, 40% mengalami penyembuhan tanpa ada gejala
depresi, 20% mengalami gejala berulang tetapi tidak memenuhi kriteria
MDD, dan 40% tetap menjadi menalami episode depresi mayor. Individu
dengan gejala depresi residual yang menetap memiliki resiko tinggi untuk
kambuh, bunuh diri, fungsi psikososial yang buruk, dan tingkat mortalitas
yang tinggi dari kondisi medis lainnya. Sebagai tambahan, 5-10% individu
depresi yang memiliki pengalaman dari episode depresi mayor akan sangat
memungkinkan terjadinya manic atau episode campuran yang
mengindikasikan kepada gangguan bipolar (Halverson J, 2016). Beberapa
penemuan sudah difokuskan kepada indicator prognosis yang dapat
memprediksikan kemungkinan nilai dalam penyembuhan dan kemungkinan
dalam tingkat kekambuhan (Halverson J, 2016).

1. Monitoring Depresi
Rencana monitoring depresi sesuai buku saku Pharmacetical care Untuk
Penderita Gangguan Depresif oleh Direktorat Bina Kefarmasian Komunitas
dan Klinik, 2017.
Rencana monitoring terapi obat meliputi:
a. Monitoring efektivitas terapi. Monitoring terapi obat pada gangguan
depresif dilakukan dengan memantau tanda dan gejala klinis. Apoteker
perlu memperhatikan kepatuhan penderita dalam menggunakan obat dan
mengetahui alasan ketidakpatuhan penderita. Penderita dirujuk ke dokter
(psikiater) apabila menunjukkan gejala-gejala psikosis atau pikiran
bunuh diri; penderita tidak berespon terhadap satu atau dua pengobatan
yang adekuat; atau gejala memburuk.
b. Monitoring Reaksi Obat Tidak Dikehendaki (ROTD) Meliputi efek
samping obat, alergi dan interaksi obat. Pelaksanaan monitoring terapi
obat bagi penderita rawat jalan memiliki keterbatasan bila dibandingkan
dengan penderita rawat inap, antara lain kesulitan untuk mengikuti
perkembangan penderita. Metode yang digunakan antara lain adalah
monitoring melalui telepon baik apoteker yang menghubungi maupun
sebaliknya, penderita melaporkan melalui telepon tentang kejadian yang
tidak diharapkan kepada apoteker. Khususnya dalam memonitor
terjadinya ROTD, perlu disampaikan ROTD yang potensial akan terjadi
serta memiliki signifikansi secara klinik dalam konseling kepada
penderita. Selain itu penderita/keluarga dihimbau untuk melaporkan
kejadian yang dicurigai ROTD kepada apoteker. Selanjutnya apoteker
dapat menyusun rekomendasi terkait ROTD tersebut untuk diteruskan
kepada dokter yang bersangkutan.
c. Monitoring ketaatan Untuk memastikan kalau penderita tidak responsif
terhadap terapi, harus dipastikan dahulu apakah penderita :
- Taat
- Mendapatkan dosis yang cukup untuk periode yang cukup
- Bila minum antidepresan trisiklik, sebaiknya diperiksa kadar
obat dalam serum, terutama pada lanjut usia, dan penderita
yang minum obat lain yang dapat merubah farmakokinetik
TCA

Tata Laksana Terapi


1. Terapi Farmakologi
Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk mengobati
kondisi serius yang dikarenakan depresi berat. Kadar NT
(nontransmiter) terutama NE (norepinefrin) dan serotonin dalam
otak sangat berpengaruh terhadap depresi dan gangguan SSP.
Rendahnya kadar NE dan serotonin di dalam otak inilah yang
menyebabkan gangguan depresi, dan apabila kadarnya terlalu tinggi
menyebabkan mania. Oleh karena itu antideresan adalah obat yang
mampu meningkatkan kadar NE dan serotonin di dalam otak (
Prayitno,2018 ).
2. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) merupakan obat terbaru
dengan batas keamanan yang lebar dan memiliki spektrum efek samping
obat yang berbeda – beda. SSRI diduga dapat meningkatkan serotonin
ekstraseluler yang semula mengaktifkan autoreseptor, aktivitas penghambat
pelepasan serotonin dan menurunkan serotonin ekstraseluler ke kadar
sebelumnya. Untuk saat ini SSRI secara umum dapat diterima sebagai obat
lini pertama (Neal, 2006).
1) Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI).
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor adalah obat
antidepresan yang mekanisme kerjanya menghambat
pengambilan serotonin yang telah disekresikan dalam sinap
(gap antar neuron), sehingga kadar serotonin dalam otak
meningkat. Peningkatan kadar serotonin dalam sinap diyakini
bermanfaat sebagai antidepresan . SSRI memiliki efikasi yang
setara dengan antidepresan trisiklik pada penderita depresi
mayor. Pada pasien depresi yang tidak merespon antidepresan
trisiklik (TCA) dapat diberikan SSRI . Untuk gangguan depresi
mayor yang berat dengan melankolis antidepresan trisiklik
memiki efikasi yang lebih besar daripada SSRI, namun untuk
gangguan depresi bipolar SSRI lebih efektif dibandingkan
antidepresan trisiklik , hal ini dikarenakan antidepresan trisiklik
dapat memicu timbulnya mania dan hipomania. Obat
antidepresan yang termasuk dalam golongan SSRI seperti
Citalopram, Escitalopram, Fluoxetine, Fluvoxamine,
Paroxetine, dan Sertraline. Fluoxetine merupakan antidepresan
golongan SSRI yang memiliki waktu paro yang lebih panjang
dibandingkan dengan anidepresan golongan SSRI yang lain,
sehingga fluoxetine dapat digunakan satu kali sehari . Efek
samping yang ditimbulkan Antidepresan SSRI yaitu gejala
gastrointestinal ( mual, muntah, dan diare), disfungsi sexsual
pada pria dan wanita, pusing, dan gangguan tidur. Efek
samping ini hanya bersifat sementara (Teter et al., 2007).
2) Antidepresan Trisiklik (TCA)
Antidepresan trisiklik (TCA) merupakan antidepresan yang
mekanisme kerjanya menghambat pengambilan kembali amin
biogenik seperti norepinerin (NE), Serotonin ( 5 – HT) dan dopamin
didalam otak, karena menghambat ambilan kembali neurotransmitter
yang tidak selektif,sehingga menyebabkan efek samping yang besar (
Prayitno, 2008). Antidperesan trisiklik efektif dalam mengobati
depresi tetapi tidak lagi digunakan sebagai obat lini pertama, karena
efek sampingnya dan efek kardiotoksik pada pasien yang overdosis
TCA (Unutzer, 2007). Efek samping yang sering ditimbulkan TCA
yaitu efek kolinergik seperti mulut kering, sembelit, penglihatan
kabur, pusing, takikardi, ingatan menurun, dan retensi urin. Obat –
obat yang termasuk golongan TCA antara lain Amitripilin,
Clomipramine, Doxepin, Imipramine, Desipiramine, Nortriptyline
(Teter et al., 2007).
3) Serotonin /Norepinephrin Reuptake Inhibitor (SNRI)
Antidepresan golongan Serotonin /Norepinephrin Reuptake
Inhibitor (SNRI) mekanisme kerjanya mengeblok monoamin dengan
lebih selektif daripada antidepresan trisiklik, serta tidak menimbulkan
efek yang tidak ditimbulkan antidepresan trisiklik ( Mann, 2005).
Antidepresan golongan SNRI memiliki aksi ganda dan efikasi yang
lebih baik dibandingkan dengan SSRI dan TCA dalam mengatasi
remisi pada depresi parah. Obat yang termasuk golongan SNRI yaitu
Venlafaxine dan Duloxetine. Efek samping yang biasa muncul pada
obat Venlafaxine yaitu mual, disfungsi sexual. Efek samping yang
muncul dari Duloxetine yaitu mual, mulut kering, konstipasi, dan
insomnia (Teter et al., 2007).
4) Antidepresan Aminoketon
Antidepresan golongan aminoketon adalah antidepresan yang
memiliki efek yang tidak begitu besar dalam reuptake norepinefrin dan
serotonin. Bupropion merupakan satu – satunya obat golongan
aminoketon. Bupropion bereaksi secara tidak langsung pada sistem
serotonin, dan efikasi Bupropion mirip dengan antidepresan trisiklik
dan SSRI (Mann, 2005). Bupropion digunakan sebagai terapi apabila
pasien tidak berespon terhadap antidepresan SSRI. Efek samping yang
ditimbulkan Bupropion yaitu mual, muntah, tremor, insomnia, mulut
kering, dan reaksi kulit ( Teter et al., 2007).
5) Antidepresan Triazolopiridin
Trazodone dan Nefazodone merupakan obat antidepresan
golongan triazolopiridin yang memiliki aksi ganda pada neuron
seratonergik. Mekanisme kerjanya bertindak sebagai antagonis 5 –
HT2 dan penghambat 5 – HT, serta dapat meningkatkan 5 – HT1A
.Trazodone digunakan untuk mengatasi efek samping sekunder seperti
pusing dan sedasi, serta peningkatan availabilitas alternatif yang dapat
diatasi ( Teter et al., 2007). Efek samping yang ditimbulkan oleh
Trazodone adalah sedasi, gagguan kognitif, serta pusing. Sedangkan
efek samping yang ditimbulkan Nefazodone yaitu sakit kepala ringan,
ortostatik hipotensi, mengantuk, mulut kering, mual, dan lemas ( Teter
et al., 2007).
6) Antidepresan Tetrasiklik
Mirtazapin adalah satu – satunya obat antidepresan golongan
tetrasiklik. Mekanisme kerjanya sebagai antagonis pada presinaptic
α2 – adrenergic autoreseptor dan heteroreseptor, sehingga
meningkatkan aktivitas nonadrenergik dan seratonergik . Mirtazapin
bermanfaat untuk pasien depresi dengan gangguan tidur dan
kekurangan berat badan . Efek samping yang ditimbulkan berupa
mulut kering, peningkatan berat badan, dan konstipasi (Teter et al.,
2007).

7) Mono Amin Oxidase Inhibitor ( MAOI )


Mono Amin Oxidase Inhibitor adalah suatu enzim komplek
yang terdistribusi didalam tubuh, yang digunakan dalam
dekomposisi amin biogenik (norepinefrin, epinefrin, dopamin, dan
serotonin) (Depkes, 2007). MAOI bekerja memetabolisme NE dan
serotonin untuk mengakhiri kerjanya dan supaya mudah
disekresikan. Dengan dihambatnya MAO, akan terjadi peningkatan
kadar NE dan serotonin di sinap, sehingga akan terjadi perangsangan
SSP MAOI memiliki efikasi yang mirip dengan antidepresan
trisiklik. MAOI juga dipakai untuk pasien yang tidak merespon
terhadap antidepresan trisiklik. Enzim pada MAOI memiliki dua tipe
yaitu MAO – A dan MAO – B. Kedua obat hanya akan digunakan
apabila obat – obat antidepresan yang lain sudah tidak bisa
mengobati depresi ( tidak manjur ). Moclobomida merupakan suatu
obat baru yang menginhibisi MAO – A secara ireversibel, tetapi
apabila pada keadaan overdosis selektivitasnya akan hilang. Selegin
secara selektif memblokir MAO – B dan dapat digunakan sebagai
antidepresan pada dosis yang tinggi dan beresiko efek samping.
MAO – B sekarang sudah tidak digunakan lagi sebagai antidepresan
( Tjay & Rahardja, 2007 ). Obat – obat yang tergolong dalam MAOI
yaitu Phenelzine, Tranylcypromine, dan Selegiline. Efek samping
yang sering muncul yaitu postural hipotensi ( efek samping tersebut
lebih sering muncul pada pengguna phenelzine dan Tranylcypromine
), penambahan berat badan, gangguan sexual (penurunan libido,
anorgasmia) ( Teter et al., 2007).
- Terapi Tambahan
Digunakannya terapi tambahan yang untuk
meningkatkan efek antidepresan serta mencegah terjadinya
mania.
1) Mood Stabilizer
Lithium dan Lomotrigin biasa digunakan sebagai mood
stabilizer. Litium adalah suatu terapi tambahan yang efektif
pada pasien yang tidak memberikan respon terhadap
pemberian monoterapi antidepresan. Lomotrigin adalah
antikonvulsan yang mereduksi glutamateric dan juga
digunakan sebagai agen terapi tambahan pada depresi
mayor dan juga digunakan untuk terapi dan pencegahan
relapse pada depresi bipolar . Beberapa mood stabilizer
yang lain yaitu Valproic acid, divalproex dan
Carbamazepin ini semua digunakan untuk terapi mania
pada bipolar disorder. Divalproex dan Valproate digunakan
untuk mencegah kekambuhan kembali (Mann, 2015).

2) Antipsikotik
Antipsikotik digunakan untuk meningkatkan efek
antidepresan. Ada 2 macam antipsikotik yaitu typical
antipsikotik dan atypical antipsikotik. Obat – obat yang
termasuk typical antipsikotik yaitu Chorpromazine,
Fluphenazine, dan Haloperidol. Antipsikotik typical
bekerja memblok dopamine D2 reseptor. Atypical
antipsikotik hanya digunakan untuk terapi pada depresi
mayor resisten dan bipolar depresi. Obat – obat yang
termasuk dalam Atypical antipsikotik clozapine,
olanzapine, dan aripripazole (Mann, 2015).

Tabel 1. Antidepresan Yang Tersedia Saat Ini dan digunakan


Untuk Terapi ( Teter et al.,2007 ).

Nama Generik Terapi Dosis


Plasma lazim
Konsentrasi (mg/hari)
(ng/ml)
Selective Serotonin Reuptake
Inhibitor
Citalopram 20 – 60
Escitalopram 10 – 20
Flouxetine 20 – 60
Fluvoxamine 50 – 300
Paroxetine 20 – 60
Sertraline 50 – 200
Serotonin/Norepinefrin Reuptake
Inhibitor
Venflaxine 75 -225
Doloxetine 30 – 90
Aminoketon
Bupropion 150 – 300
Triazolopyridines
Nefazodone 200 – 600
Trazodone 150 – 300
Tetracyclics
Mitazapine 15 – 45
Tricyclics Tertiary
- amines
Amitriptyline 120 – 250b 100 – 300
Clomipramine 100 – 250
Doxepin 100 – 300
Imipramine 200 – 350 c 100 – 300
Secondary
- amines
Desipiramine 100 – 300 c 100 – 300
Notriptyline 50 – 150 50 – 200
Monoamine Oxidase Inhibitor
Phenelzine
Selegiline (Transdermal) 6 – 12 d
Tranylcypromine 20 – 60

a Dosis yang tercantum adalah dosis harian total, pasien lanjut


usia biasanya diobati dengan separuh dosis yang terdaftar.
bParents drug plus matbolite
c Telah dikemukakan kombinasi impiramin + desipiramine
sebaiknya berada diantara konsentrasi 150 – 240 µg/mL. d
Sisten transdermaldirancang untuk memeberikan dosis yang
terus – menerus selama jangka waktu 24 jam.
2. Terapi Nonfarmakologi
Cara alternatif untuk menghindari efek samping obat antidepresan dalam
mengatasi depresi dapat dilakukan dengan terapi non-farmakologi di antaranya
adalah dengan pendekatan psikodinamik, pendekatan perilaku belajar,
pendekatan kognitif, dan dengan pendekatan humanistik eksistensial. Salah satu
cara yang paling menarik untuk dilakukan dari keempat cara tersebut adalah
pendekatan psikodinamik karena pendekatan ini tidak hanya menghilangkan
gejala tetapi juga memiliki manfaat bagi perubahan kepribadian dengan tujuan
untuk menumbuhkan kemampuan mengatasi stresor yang menyebabkan depresi.
Pendekatan ini secara umum lebih efektif menggunakan pendekatan keagamaan
dan budaya. Terapi pendukung lainnya adalah olahraga teratur (Bandiyah, 2009;
Sadock & Sadock, 2010; Azizah, 2011)
BAB III
PENUTUP

III.I. KESIMPULAN

Depresi merupakan perasaan atau emosi dengan komponen psikologis


rasa susah, murung, sedih, putus asa, dan tidak bahagia. Depresi dapat
disebabkan oleh karena kesukaran sehari-hari, penyakit badaniah, dan konflik
emosional. Gangguan depresi dipengaruhi oleh faktor kognitif (yaitu proses
berpikir yang keliru dan maladaptif) dan faktor biologis yaitu berupa
gangguan neurotransmitter (terutama serotonin) di otak dan genetik. Pasien
depresi dapat memiliki gejala menarik diri (withdrawn depression) atau
malah gelisah (agitated depression). Gejala-gejala lain yang sering timbul
pada pasien depresi adalah : tidak bersemangat melakukan aktivitas sehari-
hari, insomnia, iritabel, sulit konsentrasi, menyalahkan diri sendiri, cepat
lelah, kehilangan minat, perubahan nafsu makan, tidak berdaya, putus asa, dan
pada akhirnya bisa menjurus ke usaha untuk bunuh diri. Terapi yang dapat
diberikan untuk pasien depresi antara lain : medikamentosa antidepresan :
tricyclic antidepressant, SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibitors),
psikoterapi, dan Cognitive Behaviour Therapy (CBT).

III.II. SARAN
Dalam menghindari depresi marilah kita untuk selalu berpikiran positif
terhadap apa yang terjadi dan dialami, serta marilah melakukan kegiatan-
kegiatan yang bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA

APA. (2000). DSM IV – TR ( Diagnostic and statistical Manual of Mental Disorders


IV Text Revision). Wangshinton. DC Psychiatric Association Press.

Arfin.B.K, 2016. Ilmu kesehatan anak. EGC. Jakarta.


Arfin. B.K, 2016. Buku bimbingan dan wawancara. Treatmen biological. Bandung.

Azizah, Lilik. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta : Graha Ilmu Bandiyah,
Sadock. (2010). Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogjakarta : Mulia
Medika.
Caballero-Martinez, leon-Vazkuez, Paya-pardo &Diaz-Holdago, 2014. Screening for
major depressive disorder with the patient health questionnaire. In a outpatient
clinic staffed by primmary care physician in japan. A case control study. Journal
PLOS.
Direktorat Bina Kefarmasian Komunitas dan Klinik, (2017). Pharmaceutical Care
Untuk Penderita Gangguan Depresif. Departemen Kesehatan RI.

Depkes RI. Laporan hasil riset Kesehatan dasar indonesia. Tahun 2017. Jakarta :
badan penelitian dan pengembangan ksehatan Depkes RI: 2017
Direktorat bina farmasi komunitas dan klinik, (2017). Pharmaceutical care untuk
Penderita gangguan depresif. Bina kefarmasian dan alat kesehatan Departemen
kesehatan RI. Jakarta.
Dipiro J.T., Wells B.G., Schwinghammer T.L. and Dipiro C. V., 2015,
Pharmacotherapy Handbook, Ninth Edit., McGraw-Hill Education Companies,
Inggris.

Furr Marcus, 2018. National trends in the outpatient treatment of depression. JAMA.
287:203-209.
Halverson Jerry L. 2016. Practice Essentials of Deppresion. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/286759-overview. Accessed at: 6 Oktober
2016.
Ikawati. I.S., 2018. Sikap dan perilaku seimbang. Jurnal abdimas, september 2019.
Kaplan,H.I. Sadock, 2015. Gangguan mood dalam sinopsis psikiatri. Tangerang:
Binarupa aksara.
Kemenkes RI. Profil kesehatan indonesia, 2014. Jakarta. Kemenkes RI
Lam W. R dan Mok H. 2009. Depression Oxford Psychiatry Library. Lunbeck
Institutes.
Mann D, Chakinala M. Heart failure: Pathopysiology and diagnosis. In Kasper DL,
Hauser SL, Jameson JL, Fauci AS, Longo DL, Loscalzo J. Harrison’s Principle
of Internal Medicine. 19th Ed. Mc Graw Hill Education. 2015. p.1500-1506.
Marsasina. A, 2016. Hubungan tingkat depresi dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi pada pasien. Universitas Diponegoro

National Institute of Mental Health (NIMH). Journal description (2015). Depression.


New york: NIMH. Diakses pada maret 2016.
Neal, M.J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit
Erlangga. pp. 85.
Prayitno. (2018). Layanan Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok.
Universitas Negeri Padang.

Pradana, Jaka Arya (2016). Kamu Bisa Bantu Selamatkan 10.000 Jiwa Setiap Tahun.
http://depresimeter.org/cegah-bunuh-diri/. Di unggah tanggal 31 Oktober 2016.

Price busch AM week, 2013. The natural of clinical depression: symptoms,


syndromes, and bahavior analysis.
Teter, C. S., Kando, J. C., Wells, B. G., & Hayes, P. E., 2007, Depressive Disorder
,dalam Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R., Wells, B. G.,&
Posey Micheal, L.,(eds), Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach,7th
Edition, Appleton and lange, New York

Tjay, T. H.,& Raharja, S. K., 2007, Obat – Obat Penting ( Khasiat Penggunaan dan
Efek – Efek Sampingnya), Edisi keempat, Cetakan Pertama, PT. Elek Media
Komputindo, Jakarta.
WHO. Depression, a global public health concern. WHO Departemen Mental Health
Substance Abuse. 2018; 6–8

World health organization. Depression and other common mental disordess. Helath
istimates. Switzerland: world health organization. 2016. Di akses pada januari
2018