Anda di halaman 1dari 10

Hanya Cinta Yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya

Cerpen Oleh: Edi Ah Iyubenu

PROF Mun’im Sirry benar. Begitu kesimpulanku sejak masuknya


Rabiulawal 1441 H ini.
Ia bertanya kepadaku dengan mata menyipit, ”Kapan sebenarnya beliau
dilahirkan?”
Pada 12 Rabiulawal, bertepatan dengan tahun 570 M. Pada tahun gajah.
”Orang-orang berkisah kepada kakekku, lalu kepada abahku, lalu
kepadaku, begitulah silsilahnya.”
Mereka bilang, Raja Abrahah membangun katedral mewah di Sanna.
Megah. Dahsyat. Menakjubkan setiap mata yang memandangnya.
”Inilah pusat peribadatan kalian sekarang!” pekiknya dengan bangga.
Malam demi malam, raja Persia ini kesal, gerah, gemas, dan jengkel.
Amat jengkel sekali. Orang-orang bodoh itu, ujarnya, sungguh bodoh
sekali, bodohnya bodoh; bagaimana bisa mereka tetap lebih tertarik
kepada Kakbah yang terpencil, jelek, kusam, kumal, kalah telak dari
katedralku ini? Sungguh orang-orang bodoh yang bodoh sekali!
Keputusan menghancurkan Kakbah yang jelek, kusam, dan memuakkan
itu telah diambil. Ratusan gajah perang disiapkan. Ribuan prajurit
disiagakan. Kuda-kuda berbaris gagah perkasa. Pada jalan-jalan berdebu
yang dilintasi laskar jemawa itu, siapa pun yang menyaksikan seketika
meyakini bahwa kabar kehancuran Kakbah di lembah terpencil sana
akan segera melindapi telinga mereka.
Abdul Muthalib mereguk minumannya, tersenyum kecil, menyimak
laporan orang-orangnya perihal kedatangan rombongan pasukan gajah
dari tanah jauh itu. Biarkan saja, biarkan saja, siapalah kita ini hendak
menghentikan mereka; siapalah kita ini hendak bergagah-gagah
membela Rumah-Nya? Biarkan saja, biarkan saja. Begitu ia menjawab
enteng sambil kembali mereguk minumannya dengan mata menerawang
jauh.
Tetapi, ia benar-benar tak lagi bertenang diri didera gusar ketika
mendengar unta-untanya telah dirampas pasukan asing itu. Ini bukan
perihal Kakbah. Kakbah sudah ada yang mengurusi. Ini soal unta, dan
ini urusanku!
Kepada Raja Abrahah ia berkata, ”Kembalikanlah unta-unta saya, Tuan.”
Raja terbahak, ”Kau malah mengurusi unta-unta, bukan Kakbah yang
kau jaga yang sebentar lagi akan lantakberantak.”
Abdul Muthalib tersenyum, ”Kakbah bukan urusan saya, Tuan. Kakbah
sudah ada yang mengurus.”
”Siapa?”
”Pemiliknya, tentu saja.”
”Siapa?”
”Allah.”
Debu-debu padang pasir pun mulai berempasan seiring lengking trompet
perang yang mencabik langit-langit. Angin-angin kerontang
menghantam ke segenap penjuru. Rombongan yang dipimpin lelaki tua
itu telah sampai di atas bukit tanpa sehelai pun daun, apalagi pohon,
untuk berlindung dari terik yang menyengat.
”Lihatlah ke bawah sana, sebentar lagi Sang Pemilik Kakbah akan
mengurusi Rumah-Nya,” ujarnya dengan napas agak tersengal.
Ribuan prajurit perang itu terus bergerak maju, berderak-derak di atas
perut dan dada bumi, menggeletarkan pekik-pekik ke angkasa, lengking
trompet-trompet yang pongah, kibaran panji-panji kegagahan, dan
gemuruh yang menimbulkan gempa di hati semua orang yang berdiri
gamang di atas bukit itu. Sang raja terlihat tegak di barisan paling depan,
ditandai tudung lebar menyerupai kemah kecil yang beraneka warna di
atas punggung gajah yang paling besar. Sebuah tongkat yang terbuat dari
emas digerak-gerakkannya ke arah depan, memukul-mukul udara
Makkah. Berkilauan menyambar wajah langit-langit.
Lalu, burung-burung yang bertakbir itu bertunjaman dari langit, melalui
sebuah pintu gerbang mahabesar yang dikuak hingga memungkinkan
mereka berlesatan bagai anak-anak panah. Batu-batu kerikil yang
membara, dan makin lama makin berkesiutan baranya, tercengkeram di
setiap cakar kanan dan kiri mereka, juga paruh-paruh. Setiap ekor
burung yang bertakbir itu membawa tiga batu membara.
”Mereka pun mati bagai ulat-ulat.”
”Tapi, itu mitos belaka, Pak, hanya legenda sejarah yang dikuat-kuatkan
oleh ayat Alquran.” Ia tersenyum dengan mata menyipit lagi. Mata yang
menghina.
Aku tahu betul cara menghentikan mata-mata yang memicing begitu
rupa. Kataku, ”Jika begitu, silakan buktikan sekarang bahwa itu benar-
benar mitos seperti yang kau katakan berkali-kali sejak tadi.”
Ia diam. Bungkam. Ia diam. Bungkam. Dan ia diam. Dan bungkam.
Lazimnya para penghina.
”Yuk, makanlah,” kataku kemudian. ”Telah kusiapkan nasi Padang
lengkap, plus es teh, untukmu. Makanlah, kau boleh tambah. Makanlah
yang kenyang, ya. Hati-hati dengan rasa lapar, lho. Rasa lapar kerap
membuat orang berpikir pendek dan mau menang sendiri seperti orang-
orang yang berteriak ini itu di luar sana, begitu gaduhnya, heee…..”
Ia terbahak, lalu menyantap suguhanku. Lahap sekali ia makan. ”Tapi,
tak semua orang di luar sana yang berteriak-teriak itu orang lapar, Pak.
Sebagiannya telah mapan, mana mungkin orang mapan kok lapar, kan?”
”Lapar kan tak mesti sebab kekurangan, tapi bisa sebab keserakahan,
bukan?”
Aku pun pamit dulu kepadanya, istirahat siang.
Prof Mun’im Sirry benar, begitu pikirku lagi, siang jelang sore ini,
bahwa betapa pun catatan-catatan sejarah yang mainstream itu tak benar-
benar bisa dipastikan kebenarannya secara sains empiris oleh siapa pun,
ya siapa pun, termasuk Prof Mun’im Sirry sendiri.Itu semua takkan
mengurangi sedikit pun keagungan sosok yang berjuluk Ahmad itu,
Mushthafa itu, ya Muhammad itu.
Malamnya, kusuguhkan kopi hitam, kopi luwak Excelso, di taman
belakang rumahku. Kebulan panasnya dari cangkir menebarkan aroma
yang khas menenangkan. Selain nasi Padang, kopi adalah karunia-Nya
yang mengagumkan.
”Ini kopi mahal, mahal sekali, hati-hatilah menyeruputnya. Jika tak
biasa, ususmu bisa biduren.” Aku terbahak. Ia turut terbahak. Ada-ada
aja, sahutnya kecil. ”Kuajari dulu cara minum kopi mahal, ya.”
Ia mengikuti saja, termasuk ketika kubacakan bismillah dan madah
pendek: maulaya sahlli wa sallim daiman abada ‘ala habibika khairil
khalqi kullihimi….
”Bapak benar!” serunya kemudian. ”Ternyata, minum kopi mahal begini
bila diawali dengan basmalah dan salawatan dulu, rasanya begitu
mewah, ya.”
Aku terbahak. Ia bicara perihal rasa yang mewah saat pertama kali
menyeruput kopi mewah. Khas SJW.
Kami berbincang panjang hingga nyaris pukul 00.00, sebelum kemudian
aku pamit. Aku lalu masuk kamar. Setengah jam kemudian aku keluar
lagi dari kamar, sebagaimana biasa, masuk ke musala yang
berdampingan dengan sebagian koleksi bukuku di rak-rak panjang,
berdiri di atas sajadah, salat malam. Lalu duduk diam, menekur, berzikir,
dengan imajinasi terbang jauh ke nyaris 1.500 tahun silam. Ini malam
jelang kelahiranmu, wahai Ahmad-ku.
Aku tahu kamu mengintipku diam-diam di belakang sana. Tak mengapa,
lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Itu pasti atas izin-Nya.
Mataku memejam saat menyaksikan keduanya telah tiba di pelataran
rumah megah itu dengan napas memburu didera panas yang menggada
ubun-ubun. Lalu duduk di sebuah ruangan yang sangat mentereng.
Beberapa orang yang tak lagi punya senyum di bibirnya berdiri
mematung, dengan tangan-tangan mencengkeram pedang dan tombak.
”Katakan keperluan kalian,” ujar lelaki bertubuh besar yang duduk di
kursi tinggi dengan sekujur tubuh berlumur kain panjang itu.
Berewoknya amat lebat. Juga cambangnya. Hidungnya mancung benar.
Ia pun tampak tak lagi ingat cara untuk mengulas senyum.
Sang Ahmad yang duduk bersebelahan dengan Zaid bin Haritsah berkata
bahwa maksud dan tujuan mereka datang ke wilayah Thaif ini untuk
bekerja sama dalam keamanan.

”Aku telah mendengar tentang ajaranmu,” ujar lelaki tambun yang lupa
cara tersenyum itu. ”Ketahuilah, suku Thaif ini telah memiliki
keyakinannya sendiri. Jadi, ajaranmu tak mungkin bisa kami terima.
Dan, ketahuilah lagi, kami tak butuh jaminan keamanan dan kerja sama
apa pun denganmu. Pergilah, sekarang.”
Udara yang sangat panas di sepanjang jalan berbatu dan berkerikil itu
menyambut kembali laju kulai kaki-kaki mereka. Keduanya terus
berjalan di antara debu-debu. Mendadak dari balik gundukan-gundukan
tanah tandus di kanan-kiri jalan sempit itu berlesatan batu-batu ke arah
mereka.
Tepat di luar batas Thaif, tubuh keduanya direbahkan di tepi jalan yang
senyap. Langit mulai merunduk dibelai senja yang perawan. Beberapa
goresan menghiasi tubuh Sang Ahmad. Parah lagi tubuh Zaid bin
Haritsah yang babak belur.
Langit membuka pintunya, Jibril berkata kepada Sang Ahmad. ”Akan
kuangkat bukit-bukit itu, kutimbunkan ke sekujur Thaif untuk membalas
kejahatan mereka kepada kekasihku.”
Sang Ahmad menggeleng. ”Janganlah, Jibril. Jika kau musnahkan
mereka, lalu siapa yang akan beriman kepadaku? Boleh jadi, dari darah
daging mereka kelak akan lahir orang-orang yang mengikuti ajaranku
dan mencintaiku.”
Aku mengisak. Isakanku keras. Mataku terkuak. Dan kau, kutahu, masih
mengintipku dari belakang sana.
Ahmad ya habibi….
Ahmad ya habibi….
Kubisikkan dendang-dendang itu untuk didengarkan oleh telingaku
sendiri –tentu kau yang berada di belakang sana juga mendengarnya,
bukan?
Prof Mun’im Sirry benar, betapa siapa pun yang mempertanyakan
kebenaran tanggal kelahiran Rasul SAW di hari ini, 12 Rabiulawal,
takkan pernah menemukan jawaban yang paling mantap tanpa keraguan
secuil pun, kecuali bila percaya saja. Ya, percaya saja. Percaya saja
memang kerap menjadi pemecah terbaik bagi kegundahan-kegundahan
yang sedari awal tepercik diyakini takkan pernah menghadiahkan
jawaban yang meyakinkan.

”Begitulah manusia,” kataku, ”selalu punya kecenderungan skeptis


dengan bertanya dan bertanya lagi walau ia tahu takkan pernah ada
jawaban yang mampu meyakinkan dirinya sendiri yang bertanya.
Skeptis adalah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban. Semakin
skeptis tanda diri semakin diperbudak pertanyaan ilmu.”
Ia menyantap pecel paginya dengan sangat lahap. Ia selalu lahap makan
apa saja–begitu cirinya– tetapi sekaligus selalu penuh skeptisisme.
”Pecel ini enak sekali,” katanya kemudian sembari meletakkan piring
kosong di atas meja, menyeruput segelas air putih dingin, dan membakar
sebatang rokok. Rokokku, tepatnya. ”Semalam kulihat Bapak menangis
di musala, seperti orang sakau,” lanjutnya.
”Aku tahu kamu memandangiku. Aku sakau karena didera rindu kepada
kekasihku yang entah bisa atau tidak kujumpai.”
”Muhammad?”
”Ya, Nabiku, Rasulku, kekasihku.”
”Mengapa Bapak sebegitunya sama orang yang disebut oleh sejarah
begitu luhungnya padahal Bapak tak pernah berjumpa dengannya?”
”Begitulah cinta. Cinta melampaui segalanya, mengatasi segalanya,
entah itu jarak, waktu, dan perasaan di dalam hati. Maka, tidak tepat
sama sekali cinta itu dibatas-batasi definisi dan ekspresinya. Cinta ya
cinta saja, bebas saja. Begitu pulalah ceritanya sehabis subuh tadi, saat
kamu masih lelap, aku keluar dari rumah untuk membelikan pecel lezat
ini buatmu.”
”Wah, maaf, saya jadi merepotkan Bapak.”
”Haaa, mana ada kerepotan buat cinta? Sudah kubilang, cinta melampaui
segalanya. Dan hanya itulah yang kita punya. Jika kita tak lagi bisa
mempertahankannya, jadilah serupamu ini.” Aku terbahak kali ini. Ia,
kulihat, tersenyum kecil, tipis, tak lagi dengan mata memicing.
Dua cangkir kopi telah berpindah ke perut kami ketika azan Magrib
menggema. Aku pamit kepadanya untuk salat Magrib dulu. Ia
mengangguk, dan diam saja di tempatnya. Ya tentulah kudiamkan saja.
Toh, bukan urusanku. Aku salat berjamaah bersama sejumlah orang yang
tak kukenal. Semuanya terjadi begitu saja: Ada yang maju jadi imam,
ada yang jadi makmum, dan begitu terus bergiliran dengan orang-orang
yang berdiri antre di belakang karena luas musala ini tak kuasa
menampung jamaah besar sekaligus.
Aku kembali duduk di hadapannya dengan wajah masih menyimpan
beberapa tetes air wudu. Kupejamkan mata, menyelesaikan beberapa
zikir yang biasa kubaca, 10 kali salawatan ijazah, plus AlMulk.
Begitu kubuka mata, ia menatapku dalam-dalam.
”Kenapa?” tanyaku.
”Apa Bapak mengamalkan semua bacaan tadi sudah sejak lama?”
”Ya, lama sekali, tahunan.”
”Terus, karenanya, Bapak menjadi kaya begini?”
Aku terbahak, keras sekali. Beberapa mata di sekitar meja kami
menyeret wajah ke arahku. Sekilas-kilas.
”Kau tahu aku tadi membaca AlMulk?”
”Ya, saya tahu, bacaan Bapak tadi tak asing di telinga saya.”
”Begini, ya,tentu wajarlah bila aku ingin diselamatkan dari azab kubur
dan neraka. Manusiawi. Tetapi, aku tak ingin menghalangi Tuhan untuk
menterjadikan apa saja yang dikehendaki-Nya gara-gara amalku. Boleh
jadi Tuhan memutuskan untuk menyelamatkanmu kelak, lho, bukan aku,
atau kita semua diselamatkan-Nya. Siapa tahu? Tuhan itu selalu Tuhan
Yang Maha Semau Gue.”
”Ah, saya mana mungkinlah, Pak, salat saja tidak kok.” Matanya
dibuang jauh, jauh sekali, membelah riak lampu-lampu kota yang
bertebaran di segala penjuru. Cakrawala bagai berisi pijar lampu semua.
Seluruh cakrawala.
”Hei, janganlah mengecilkan karepe Gusti Allah. Dia Mahakuasa. Dia
tak bisa kita kekang-kekang dengan paham dan amal kita. Begitulah
semestinya Dia kita yakini.”
Ia diam.
”Aku kasih tahu kamu satu hal, ya. Cukup dengarkan. Kamu tak perlu
memahami, apalagi meyakininya, sekarang. Cukup dengarkan, oke?”
Ia diam saja, tapi dengan mata mencermatiku, tanda ia berkenan untuk
menyimak ucapanku.
Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya kepada putrinya, Sayyidah Aisyah,
seusai kepergian Rasul SAW. ”Amal Rasul apakah lagi kiranya yang
belum kuamalkan, Aisyah?”
”Semuanya telah kamu amalkan, Ayah, kecuali satu.”
”Apa itu?”
”Beliau punya kebiasaan pergi ke sebuah sudut pasar Madinah, menemui
seorang pengemis Yahudi yang buta, menyuapinya makanan.”
Besoknya, Abu Bakar pun menirunya. Dilihatnya seorang pengemis buta
yang duduk di sebuah sudut pasar. Tubuhnya kumal dan dekil. Kedua
tangannya ditengadahkan ke atas, ke arah siapa pun yang melintas.
Mulutnya yang reyot dan lapuk tak henti-hentinya mencemooh Rasul.
”Muhammad itu hanya orang gila, tukang sihir, sakit jiwa, jangan kalian
ikut ajarannya. Itu ajaran sesat, rusak, jangan kalian dengarkan apa pun
yang diajarkan Muhammad.”
Dada Abu Bakar berdegup keras. Kurma di tangannya tergenggam lebih
erat. Bagaimana bisa Sang Rasul sanggup menyuapkan makanan setiap
hari kepada mulut yang menganga menelan makanan-makanannya tetapi
sekaligus menghinanya tanpa henti setiap hari?
Langkahnya tercekat di hadapan pengemis buta itu. Dengan tengan
gemetar diangsurkan makanan di tangannya ke mulut pengemis buta itu.
Mulutnya menganga menerima asupan kurma itu.
”Siapa kamu?!” suaranya terdengar keras tiba-tiba.
”Orang biasanya,” sahut Abu Bakar sekenanya.
”Tidak, kau bohong! Orang yang biasa menyuapiku kukenal betul
lembut makanan yang disuapkannya, juga cara lembutnya
menyuapkannya ke mulutku. Kau pasti bukan orang itu!”
Dada Abu Bakar berderak gempa. Sangat hebat. Air matanya bocor dari
pelupuknya. Begitu deras. Hingga pipinya yang padat berisi basah benar,
sebagiannya merembes ke jenggotnya yang tak begitu lebat.
Wajah putihnya memerah. Bulu matanya yang lebat masih saja basah
ketika ia berkata pelan dengan gemetar, ”Aku khalifah, penerus orang
yang biasa menyuapimu dengan makanan lembut dengan cara lembut
itu. Orang yang menyuapimu itu telah tiada. Orang tersebut adalah
Muhammad yang kau cacimaki setiap saat, setiap hari, dan setiap hari
pula dia menyuapkan makanan lembut kepadamu dengan cara yang
sangat lembut.”
Aku pun lindap ke ruang tamu, lalu ke dalam kamar. Ozer sedang
bermain bersama mamanya di atas kasur. Suaranya yang kecil dan lucu
langsung menyambutku dengan sebutan, ”Ayah, Ayah, Ayah.”
Ah, anak-anak selalu lucu, selalu lucu dan menyenangkan, makanya
hidupnya selalu gembira. Kuciumi ia berkali-kali sembari kugumamkan
sejumlah salawat ke kepalanya. Lalu, aku ke kamar mandi, berwudu,
ganti sarung, kaus, dan beranjak ke belakang, ke taman yang hijau dan
bila malam diterangi cahaya-cahaya lampu yang temaram-temaram saja.
Ia ndepis di suatu malam yang telah sangat lama itu, kedinginan, kumal,
dan lapar. Kujamah satu tangannya, masuk, kataku. Matanya menatapku
menyipit. Tubuhnya gemetar, penuh takut, dan entah ia sangka aku apa.
Kuberi ia makan, minum, dan kursi untuk duduk. Kemudian, kuberi
nama ia Daruz. Agar lebih percaya diri kepada indahnya kehidupan ini,
kutambahkan satu kata lagi kepadanya: Armedian.
Daruz Armedian, sang kucing kesayanganku; dia lelaki, aku
menyebutnya begitu, dan sering kubawa ke mana-mana aku pergi, juga
menemaniku di taman ini, di belakang rumah, yang lampunya temaram-
temaram saja.
Ia telah duduk di sebelahku, di kursi biasanya, yang semalam pun ia
duduki. Dan ia masih diam, membisu. Entah apa yang dipikirkannya.