Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI III

“ANTIBIOTIK AMINOGLIKOSIDA DAN MAKROLIDA”

KELOMPOK 4

NUR INDAH SARI G70117172

RISCHA SA’ ADIA G70117042

DINDA DANIA SATAR G70117112

SRI MUSTIKA G70117127

SAADIAH DJ G70115248

KHARIS YUDISTIRA W G70117079

IMOET DIAN SAFITRI G70115163

MIRANDA NASIR G70117110

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul “Antibiotik Aminoglikosida dan Makrolida”.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kami. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas makalah ini
terdapat kekurangan-kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya.
Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenandan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Penyusun

Kelompok 4
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai mikroorganisme walaupun tidak kasat
mata. Mikroorganisme terdapat di air, tanah, dan udara bahkan didalam tubuh kitapun
terdapat mikroorganisme. Mikroorganisme tidak selamanya berdampak negative bagi kita.
Justru organisme baik, dapat dimanfaatkan untuk mengatasi mikroorganisme patogen di
dalam tubuh. Mikroorganisme baik dinamakan antibiotik. Sampai tahun 1970-an, WHO
memperoleh banyak sukses sengan kampanye medialnya untuk membasmi berbagai
penyakit infeksi penting. Hasil baik tersebut tercapai karena penemuan banyak antibiotik
baru dengan khasiat antimikroba kuat.

Antibiotika atau dikenal juga sebagai obat anti bakteri adalah obat yang digunakan untuk
mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Alexander flening pada tahun
1927 menemukan antibiotika yang pertama yaitu penisilin. Setelah mulai digunakan secara
umum pada tahun 1940, maka antibiotika biasa dibilang merubah dunia pengobatan, serta
mengurangi angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi secara
dramatis.

Arti Antibiotika sendiri pada awalnya merujuk pada senyawa yang dihasilkan oleh jamur
atau mikroorganisme yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit pada hewan dan
manusia. Saat ini beberapa jnis antibiotika merupakan senyawa sintetis ( tidak dihasilkan
dari mikroorganisme) tetapi juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan
bakteri. Secara teknis, zat yang dpat membunuh bakteri baik berupa senyawa intetis, atau
alami disebut dengan zat anti mikroba, akan tetapi banyak orang menyebutnya dengan
antibiotika. Meskipun antibiotika mempunyai manfaat yang sangat banyak, penggunaan
antibiotika secara berlebihan juga dapat memicu terjadinya resistensi antibiotika.
I.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu antibiotik?

2. Bagaimana mekanismenya dan apa saja golongan antibiotik?

3. Apa yang dimaksud dengan Aminoglikosida ?

4. Apa yang dimaksud dengan makrolida ?

I.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui apa pengertian antibiotik

2. Untuk mengetahui bagaiamana mekanismenya dan apa saja golongan antibiotik

3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Aminoglikosida

4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan makrolida


BAB II

PEMBAHASAN

II.1 . Antibiotik

1). Pengertian

Kata antibiotik berasal dari bahasa inggris “antibiotic” yang akar katanya dari
bahasa Yunani, yakni Kata anti yang berarti “menangkal” dan kata bios yang berarti
“hidup”. Sehingga berdasarkan akar katanya, dapat diartikan bahwa antibiotic adalah
segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan
atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam
proses infeksi oleh bakteri. Istilah antibiotic ditemukan atau diciptakan oleh Selman
Waksman pada kisaran tahun 1942. Kala itu, antibiotic digunakan untuk
menggambarkan setiap zat yang diproduksi oleh mikroorganisme lain dalam
pengenceran tinggi.

2).Mekanisme Kerja antibiotika antara lain :


1. Menghambat sintesa dinding sel,akibatnya pembentukan dinding sel tidak
sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmosis dari plasma,akhirnya sel
akan pecah (penisilin dan sefalosporin)
2. Menghambat sintesa membrane sel,molekul lipoprotein dari membrane sel
dikacaukan pembentukannya,hingga bersifat lebih permeabel akibatnya zat-zat
penting dari isi sel dapat keluar (kelompok pelipeptida)
3. Menghambat sintesa protein sel,akibatnya sel tidak sempurna terbentuk
(kloramfenikol,tetrasiklin)
4. Menghambat pembentukan asam-asam inti (DNA dan RNA) akibatnya sel tidak
dapat berkembang (rifampisin)

3). Penggunaan Antibiotika


Antibiotika digunakan jika ada infeksi oleh kuman. Infeksi terjadi jika kuman
memasuki tubuh. Kuman memasuki tubuh melalui pintu masuknya sendiri-sendiri.
Ada yang lewat mulut bersama makanan dan minuman, lewat udara napas
memasuki paru-paru, lewat luka renik di kulit, melalui hubungan kelamin, atau
masuk melalui aliran darah, lalu kuman menuju organ yang disukainya untuk
bersarang. Gejala umum tubuh terinfeksi biasanya disertai suhu badan meninggi,
demam, nyeri kepala, dan nyeri. Infeksi di kulit menimbulkan reaksi merah
meradang, bengkak, panas, dan nyeri contohnya bisul. Di usus,bergejala mulas,
mencret. Di saluran napas, batuk, nyeri tenggorok, atau sesak napas. Di otak, nyeri
kepala. Di ginjal, banyak berkemih, kencing merah atau seperti susu.

Dengan biakan kuman, selain menemukan jenis kumannya, dapat langsung


diperiksa pula jenis antibiotika yang cocok untuk menumpasnya (tes resistensi).
Dengan demikian, pengobatan infeksinya lebih tepat. Jika tidak dilakukan tes
resistensi, bisa jadi antibiotika yang dianggap mampu sudah tidak mempan, sebab
kumannya sudah kebal terhadap jenis antibiotika yang dianggap ampuh tersebut.

4). Efek samping


Penggunaan antibiotika tanpa resep dokter atau dengan dosis yang tidak tepat,
dapat menggagalkan pengobatan dan menimbulkan bahaya-bahaya lai seperti :
a. Sensitas atau Hipersentif
Banyak obat yang setelah digunakan secara local dapat mengakibatkan
kepekaan
yang berlebihan, kalau obat yang sama kemudian diberikan secara oral atau
suntikan maka ada kemungkinan terjadi reaksi hipersensitif atau alergi seperti
gatal-gatal kulit kemerah-merahan,bentol-bentol atau lebih hebat lagi dapat
terjadi schok. Contohnya penisilin dan kloramfenikol. Guna mencegah bahaya
ini maka sebaiknya salep-salep mengggunakan antibiotika yang tidak akan
diberikan secara sistemis (oral dan suntikan).
b. Resistensi
Jika obat digunakan dengan dosis yang terlalu rendah atau waktu terapi kurang
lama,maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya resistensi artinya bakteri
tidak peka lagi terhadap obat yang bersangkutan. Untuk mencegah
resistensi,dianjurkan menggunakan kemoterapi dengan dosis yang tepat atau
dengan menggunakan kombinasi obat.
c. Super Infeksi
Yaitu infeksi sekunder yang timbul selama pengobatan dimana sifat dan
penyebab
infeksi berbeda dengan penyebab infeksi yang pertama. Super infeksi terutama
terjadi pada penggunaan antibiotika broad spectrum yang dapat mengganggu
keseimbangan antara bakteri di dalam usus saluran pernafasan urogenital.
Spesies organisme yang lebih kuat atau resisten akan kehilangan saingan,dan
berkuasa menimbulkan infeksi baru misalnya timbul jamur minella albicans
dan candida albicans. Selain antibiotic obat yang menekan system tangkis
tubuh yaitu kortikosteroid dan imunosupressiva lainnya dapat menimbulkan
super infeksi. Khusus nya anak-anak dan orang tua sangat mudah dijangkit
super infeksi ini.

5) Penggolongan antibiotic
Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Mekanisme Kerja :
a. Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin,
Polypeptide dan Cephalosporin
b. Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone,
c. Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari
golongan
Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline
d. Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin;
e. Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida,
f. Antimetabolit, misalnya azaserine.

6). Penggolongan Antibiotik Berdasarkan Struktur Kimia :


a. Aminoglikosida Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin,
neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
b. Beta-Laktam Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem,
meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim,
sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan
penisilin (penisilin, amoksisilin).
c. Glikopeptida Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan
dekaplanin.
d. Polipeptida Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin,
klaritromisin, roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan
tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
e. Polimiksin Diantaranya polimiksin dan kolistin.
f. Kinolon (fluorokinolon) Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin,
ofloksasin,
norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin.
g. Streptogramin Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan
kinupristin-dalfopristin.
h. Oksazolidinon Diantaranya linezolid dan AZD2563.
i. Sulfonamida Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim

II.2 . Aminoglikosida

Aminoglikosida adalah kelompok antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi


yang disebabkan bakteri aerob gram-negatif. Antibiotik ini cukup efektif dalam
melawan bakteri seperti Mycobacterium Tuberculosis dan Staphylococcus. Pemakaian
obat ini dapat dikombinasikan dengan antibiotik lainnya. Aminoglikosida tersedia
dalam bentuk tetes mata dan telinga, salep/krim, serta suntik. Beberapa contoh obat
aminoglikosida di antaranya adalah gentamicin, paromomycin, neomycin,
streptomycin, tobramycin, dan amikacin.

 Mekanisme kerja
Aminoglikosida dapat membunuh secara langsung bakteri yang bisa
menyebabkan infeksi serius. Antibiotik bakterisida ini bekerja dengan cara
menghentikan produksi protein yang dibutuhkan bakteri untuk bertahan hidup.
Tingkat keefektifan aminoglikosida akan meningkat apabila tingkat
konsentrasinya tinggi.
 Berdasarkan rumus kimianya digolongkan sebagai berikut :
1. Streptomisin
2. Neuromisin
3. Kanamisin
4. Gentamisin
5. Framisetin

a.) Streptomisin

Diperoleh dari steptomyces griseus oleh walksman (1943) dan sampai


sekarang penggunaannya hamper terbatas hanya untuk tuberkulosa

Toksisitasnya sangat besar karena dapat menyebabkan kerusakan pada saraf


otak ke 8 yang melayani organ keseimbangan dan pendengaran. Gejala-gejala
awalnya adalah sakit kepala,vertigo,mual dan muntah. Kerusakan bersifat
revesibel,artinya dapat pulih kembali kalau penggunaan obat diakhiri meski
kadang-kadang tidak suutuhnya.Resistensi sangat cepat sehingga dalam
penggunaan harus dikombinasi dengan INH dan PAS Na atau rifampicin.
Pemberian melalui parenteral karena tidak diserap oleh saluran cerna. Derivate
streptomisin,dehidrostreptomisin,menyebabkan kerusakan organ pendengaran
lenih cepat dari streptomisin sehingga obat ini tidak digunakan lagi sekarang.

b.) Neuromisin

Diperoleh dari Streptomyces fradiae oleh walsman. Tersedia untuk


penggunaan topical dan oral,penggunaan secara parenteral tidak dibenarkan
karena toxis. Karena baik sebelum dioprasi. Penggunaan local banyak
dikombinasikan dengan antibiotic lain (poimiksin B basitrasin) untuk
menghindari terjadinya resistensi.

c.) Kanamisin

Diperoleh dari Streptomyces Kanamycceticus (Umezawa 1955). Persediaan


dalam bentuk larutan atau serbuk kering untuk injeksi,pemakaian oral hanya
kadang-kadang diberikan untuk infeksi usus atau membersihkan usus untuk
pembersihan pembedahan.
Berkhasiat bakteriostatik pada basil TBC,bahkan yang resisten terhadap
streptomisin sehingga menjadi obat pilihan kedua bagi penderita TBC. Juga
digunakan dalam pengobatan infeksi saluran kemih oleh pseudomonas
(suntikan). Efek obat generic : kanamisin serbuk inj. 1gr/vial,2gr/vial.

d.) Gentamisin

Diperoleh dari Mycromonospora purpurea. Berkhasiat terhadap infeksi oleh


kuman garam negative seperti proteus, pseudomonas, klebsiella,
enterobacter, yang antara lain dapat menyebabkan meningitis, osteomielitis
pneumonia, infeksi luka bakar, infeksi saluran kencing, telinga, hidung dan
tenggorokan

Sebaiknya penggunaan gentamisin secara sistemis hanya di terapkan pada


infeksi-infeksi yang berat saja,dan penggunaan gentamisn secara topika
khsusnya dilingkungan rumah sakit dibatasi agar tidak terjadi resistensi pada
kuman-kuman yang sensitive. Efek sampingnya gangguan keseimbangan dan
pendengaran toksis terhadap ginjal.

Sediaan : dalam bentuk injeksi dan salep (topical)

Obat generic : Gentamisin (generic) cairan nj,10mg/ml dan 40 mg/ml.

e.) Framisetin

Diperoleh dari Streptomyces decaris. Rumus kimia dan khasiat mirip


Neomisin. Hanya digunakan secara local saja, misalnya salep atau kasa
diimpragnasi.

 Indikasi
Kegunaan antibiotik aminoglikosida adalah untuk pengobatan penyakit yang
disebabkan oleh infeksi bakteri aerob gram negatif, misalnya Pseudomonas,
Acinetobacter, dan Enterobacter.

Antibiotik golongan ini, misalnya streptomycin berguna untuk pengobatan


penyakit TBC meskipun saat ini penggunaanya untuk ini relatif jarang karena
alasan toksisitas dan ketidaknyaman saat pemberian.
Secara umum antibiotik ini digunakan untuk terapi infeksi serius pada saluran
pencernaan, infeksi saluran kemih, dan infeksi pada saluran pernafasan.

 Kontraindikasi
a) Antibiotik golongan aminoglikosida sebaiknya tidak diberikan pada
pasien miastenia gravis karena dapat memperburuk kondisi pasien
tersebut.
b) Pemberian antibiotik aminoglikosida pada pasien penderita penyakit
mitokondria dapat mengakibatkan terjadinya gangguan terjemahan
mtDNA.
c) Jangan memberikan antibiotik golongan ini pada penderita gangguan
pendengaran, gangguan organ jantung dan ginjal.

 Efek Samping
a) Efek samping antibiotik aminoglikosida yang diberikan secara parenteral
adalah toksisitas atau nefrotoksisitas terutama jika dosis dan hidrasi yang
sesuai tidak diperhatikan. Oleh karena itu level obat dalam darah dan
kondisi ginjal harus diperhatikan.
b) pemakaian antibiotik aminoglikosida dapat menyebabkan efek samping
berupa gangguan pendengaran , atau kehilangan keseimbangan, atau
keduanya pada individu yang rentan secara genetik.
c) Antibiotik ini juga nefrotoksik , dapat merusak atau menghancurkan
jaringan ginjal. Efek ini dapat sangat mengkhawatirkan ketika beberapa
dosis terakumulasi selama pengobatan. Hidrasi yang memadai dapat
membantu mencegah kelebihan nefrotoksisitas dan hilangnya fungsi
ginjal yang semakin parah.

 Penggunaan oleh wanita hamil


Ada bukti positif antibiotik golongan aminoglikosida beresiko terhadap janin
manusia berdasarkan data-data yang dikumpulkan dari penelitian, data post
marketing ataupun studi pada manusia. Namun jika manfaat penggunaan obat
ini dapat dijamin, penggunaan antibiotik aminoglikosida pada ibu hamil dapat
dilakukan meskipun potensi resiko sangat tinggi.
 Cara pemberian
a) Obat ini tidak dapat diserap oleh usus. Oleh karena itu pemberian
antibiotik ini dilakukan secara injeksi intravena dan intamuskular.
b) Pemberian secara topikal juga lazim misalnya salep gentamicin.
c) Tobramycin juga bisa diberikan dalam bentuk sediaan nebulasi.

 Farmakodinamik/Farmakokinetik
Semua golongan aminoglikosida mempunyai sifat farmakokinetik yang
hampir sama. 15–30 menit paska pemberian intravena mengalami distribusi
ke ruang ekstraseluler dan konsentrasi puncak dalam plasma dialami setelah
30-60 menit paska pemberian. Waktu paruh aminoglikosida rerata antara 1.5
hingga 3.5 jam pada fungsi ginjal yang normal, waktu paruh ini akan
memendek pada keadaan demam dan akan memanjang pada penurunan
fungsi ginjal.

Ikatan aminoglikosida dan protein sangat lemah (protein binding < 10%)
dan eliminasi obat ini terutama melalui filtrasi glomerulus. Lebih 90% dari
dosis aminoglikosida yang diberikan secara intravena akan terdeteksi pada
urin dalam bentuk utuh pada 24 jam pertama, sebagian kecil secara perlahan
akan mengalami resiklus kedalam lumen tubulus proksimalis, akumulasi
dari resiklus ini yang akan mengakibatkan toksik ginjal.

II.3 . Makrolida

Makrolid adalah jenis antibiotik yang berasal dari bakteri bernama Saccharopolyspora
erythraea atau Streptomyces erythreus. Bakteri ini biasanya tumbuh di tanah atau air,
dan memiliki struktur senyawa kimia kompleks yang dinamakan macrocyclic.

Makrolid biasanya diresepkan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan, pneumonia,


dan infeksi kulit. Obat ini bekerja cara dengan menghambat sintesis protein dalam
bakteri.
 Mekanisme kerja
Antibiotik makrolid bekerja dengan cara menghambat proses sintesis protein
yang berperan dalam proses perkembangbiakan bakteri sehingga bakteri
berhenti menggandakan sel. Bakteri kemudian mati atau terbunuh oleh sistem
kekebalan tubuh manusia. Makrolid secara khusus menghambat pertumbuhan
bakteri coccus Gram-positif dan patogen/parasite didalam sel, misalnya
mycoplasma, chlamydia, dan legionella.

 Berdasarkan rumus kimianya digolongkan sebagai berikut :


1. Eritromisin
2. Azitromisin
3. Klaritomisin
4. Spiramisin

a) Eritromisin memiliki spektrum antibakteri yang mirip dengan penisilin,


sehingga obat ini digunakan sebagai alternatif pada pasien yang alergi
terhadap penisilin. Indikasi eritromisin mencakup infeksi saluran napas,
whooping cough, penyakit legionnaire dan enteritis karena kampilobakter.
Meskipun antibiotik ini aktif terhadap banyak stafilokokus yang resisten
terhadap penisilin, namun akhir-akhir ini resistensi juga ditemukan
terhadap eritromisin; Eritromisin memiliki aktivitas yang lemah terhadap
Hemophilus influenzae. Eritromisin juga aktif terhadap klamidia dan
mikoplasma.

Eritromisin menyebabkan mual, muntah dan diare pada beberapa pasien.


Untuk infeksi ringan hingga sedang, efek samping ini dapat dihindarkan
dengan pemberian dosis rendah (250 mg 4 kali sehari), tapi untuk infeksi
yang lebih serius seperti Legionella pneumonia dibutuhkan dosis yang
tinggi.

b) Azitromisin adalah makrolida yang aktivitas nya terhadap bakteri Gram


positif sedikit lebih lemah dibanding eritromisin, tetapi lebih aktif
terhadap bakteri Gram negatif seperti Hemophilus influenzae. Kadar
plasma azitromisin sangat rendah, tapi kadarnya dalam jaringan jauh lebih
tinggi. Waktu paruh azitromisin yang panjang dalam jaringan
memungkinkan obat ini diberikan dalam dosis satu kali sehari.
Azitromisin dapat digunakan untuk Lyme disease.

c) Klaritromisin merupakan derivat eritromisin dengan aktivitas yang lebih


kuat dibandingkan dengan senyawa induknya. Kadar dalam jaringan lebih
tinggi daripada kadar eritromisin. Obat ini diberikan dua kali sehari.

d) Spiramisin adalah obat antibiotik makrolidyang digunakan untuk


mengatasi sejumlah infeksi bakteri, selain itu juga digunakan untuk
mengobati infeksi parasit pada wanita hamil dan pada individu dengan
daya tahan tubuh yang rendah.

 indikasi
Makrolid biasanya digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan,
pneumonia, dan infeksi kulit.

 Kontra indikasi
Hipersensitivitas terhadap Clarithromycin, Eritromisin atau antibiotik makrolida
lainnya.

 Efek samping
Efek Samping dari makrolida :
1. Efek-efek gastrointestinal : Anoreksia, mual, muntah dan diare sesekali
menyertaipemberian oral. Intoleransi ini disebabkan oleh stimulitas
langsung pada motilitasusus.
2. Toksisitas hati : dapat menimbulkan hepatitis kolestasis akut (demam,
ikterus,kerusakan fungsi hati), kemungkinan sebagai reaksi
hepersensitivitas.
3. Interaksi-interaksi obat : menghambat enzim-enzim sitokrom P450
danmeningkatkan konsentarsi serum sejumlah obat, termasuk teofilin,
anti koagulanoral, siklosporin, dan metilprednisolon. Meningkatkan
konsentrasi serum digoxinoral dengan jalan meningkatkan
bioavailabilitas.
 Penggunaan Makrolid pada Ibu Hamil dan Menyusui
Erythromicin dan azithromycin masuk ke dalam kategori kehamilan B - Studi
pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin,
namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.
Clarithromycin masuk ke dalam kategori kehamilan C - Studi pada binatang
percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum
ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat dalam kategori ini hanya boleh
digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko
terhadap janin.
Spiramycin merupakan terapi alternatif untuk toksoplasmosis saat kehamilan,
karena dianggap aman baik bagi ibu hamil maupun janin.
Erythromycin dianggap aman untuk ibu menyusui.

 Cara pemberian
Apabila anda lupa meminum obat, segera minum setelah anda ingat. Tetapi bila
telah mnedekati waktu minum obat selanjutnya, tinggalkan dosis yang terlupa
dan minum obat pada waktu pemberian berikutnya.

 Farmakokinetika
Dalam penjelasan farmakokinetik berikut akan dijelaskan mekanisme
farmakokinetik 3 antibiotik turunan makrolida yaitu eritromycin, Claritromycin,
danazitromycin.
1) Eritromycin
Ertromycin basa dihancurkan oleh asam lambung dan harus diberikan
dengansalut enteric. Stearat dan ester cukup tahan pada keadaan asam dan
diabsorbsi lebihbaik. Garam lauryl dan ester propionil ertromycin
merupakan preprata oral yang paling baik diabsorbsi. Dosis oral sebesar 2
g/hari menghasilkan konsentrasi basa ertromycinserum dan konsentrasi
ester sekitar 2 mg/mL. Akan tetapi, yang aktif secaramikrobiologis adalah
basanya, sementara konsentrasinya cenderung sama tanpamemperhitungkan
formulasi. Waktu paruh serum adalah 1,5 jam dalam kondisi normal dan 5
jam pada pasiendengan anuria. Penyesuaian untuk gagal ginjal tidak
diperlukan. Ertromycin tidak dapatdibersihkan melalui dialysis. Jumlah
besar dari dosis yang diberikan diekskresikan dalamempedu dan hilang
dalam fases, hanya 5% yang diekskresikan dalam urine. Obat yangtelah
diabsorbsi didistribusikan secara luas, kecuali dalam otak dan cairan
serebrospinal.Ertromycin diangkut oleh leukosit polimorfonukleus dan
makrofag. Oabt ini melintasisawar plasenta dan mencapai janin.

2) Claritromycin
Dosis 500 mg menghasilkan konsentrasi serum sebesar 2-3 mg/mL.
Waktuparuh claritromycin (6 jam) yang lebih panjang dibandingkan
dengan eritromycinmemungkinkan pemberian dosis 2 kali sehari.
Claritromycin dimetabolisme dalam hati.Metabolit utamanya adalah 14-
hidroksiclaritromycin, yang juga mempunyai aktivitasantibakteri. Sebagian
dari obat aktif dan metabolit utama ini dieliminsai dalam urine,
danpengurangan dosis dianjurkan bagi pasien-pasien dengan klirens
kreatinin dibawah 30mL/menit.

3) Azitromycin
Azitromycin berbeda dengan eritromycin dan juga claritromycin, terutama
dalam sifatfarmakokinetika. Satu dosi Azitromycin 500 mg dapat
menghasilkan konsentrasi serumyang lebih rendah, yaitu sekitar 0,4 µg/mL.
Akan tetapi Azitromycin dapat melakukanpenetrasi ke sebagian besar
jaringan dapat melebihi konsentrasi serum sepuluh hinggaseratus kali lipat.
Obat dirilis perlahan dalam jaringan-jaringan (waktu paruh jaringanadalah
2-4 hari) untuk menghasilkan waktu paruh eliminasi mendekati 3 hari.
Sifat-sifatyang unik ini memungkinkan pemberian dosis sekali sehari dan
pemendekan durasi pengobatan dalam banyak kasus.

Azitromycin diabsorbsi dengan cepat dan ditoleransi dengan baik secara


oral.Obat ini harus diberikan 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah
makan. Antasida aluminium dan magnesium tidak mengubah bioavaibilitas,
namun memperlama absorbsi dan dengan 15 atom (bukan 14 atom), maka
Azitromycin tidak menghentikan aktivitasenzim-enzim sitokrom P450, dan
oleh karena itu tidak mempunyai interaksi obat seperti yang ditimbulkan
oleh eritromycin dan claritmycin.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Antibiotika berasal dari kata Anti yang berarti lawan dan Bios berarti hidup.
Antibiotika adalah zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang
memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman.
2. Aminoglikosida adalah kelompok antibiotik yang digunakan untuk mengatasi
infeksi yang disebabkan bakteri aerob gram-negatif. Antibiotik ini cukup efektif
dalam melawan bakteri seperti Mycobacterium Tuberculosis dan Staphylococcus.
3. Makrolid adalah jenis antibiotik yang berasal dari bakteri bernama
Saccharopolyspora erythraea atau Streptomyces erythreus. Bakteri ini biasanya
tumbuh di tanah atau air, dan memiliki struktur senyawa kimia kompleks yang
dinamakan macrocyclic.

B. SARAN
Makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu kami sangat
membutuhkan saran serta kritik dari pembaca yang sifatnya membangun agar
penulisan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Widyamarta, Dimas Erda. Rusela Febri Mareta. Maratus Solikah.


Triana Puji Rahayu.2014.Makalah Farmakologi Antibiotik. Ponorogo.

Brooker, Chris.2009.Ensiklopedia Keperawatan.Jakarta:EGC.)

Djamhuri, Agus.1995.Sinopsis Farmakologi dengan Terapan


Khusus di Klinik dan Perawatan.Malang:Hipokrates.

Sitrait, Midian.2011.Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume


46 Tahun 2011-2012.Jakarta: PT ISFI Penerbitan.

Olson, James. M.D., Ph.D.2004.Belajar Mudah


Farmakologi.Jakarta:EGC.