Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

Disusun Oleh :

Kelompok 3 PSIK A

Nurfika Mustika
(11151040000023)
Aprilia Wulandari
(11151040000024)
Mia Rifai Putri (11151040000025)
Annisa Putri Shabira (11151040000026)
Rita Afriyani (11151040000027)
Nadela Achyari D (11151040000028)
Herra Octaviany (11151040000029)
Basma Bonita (11151040000030)
Dina Afifa Rafi (11151040000031)
Maulina Sari (11151040000033)
Siti Patmawati (111510400000108)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

TAHUN AJARAN 2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya Penulis
dapat menyelesaikan satu buah Makalah dengan Judul “Bakteri staphylococcus dan
echerichia colli” Dalam penyusunan makalah ini, saya merasa bahwa banyak hambatan
yang saya hadapi. Namun, berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, maka
hambatan-hambatan tersebut dapat penulis atasi.

1
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sebuah kesempurnaan. Oleh
sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
sempurnanya makalah ini

Demikian Makalah ini Penulis susun, semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi yang membaca

Ciputat, 22 Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................................3
BAB I.........................................................................................................................................4

2
PENDAHULUAN......................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................4
1.3 Tujuan...............................................................................................................................4
BAB II........................................................................................................................................5
PEMBAHASAN........................................................................................................................5
2.1 IMUNOLOGI...................................................................................................................5
A. Pengertian Imunologi.....................................................................................................5
B. Organ yang Terlibat Dalam Sistem Kekebalan Tubuh...................................................5
C. Respon Imun................................................................................................................10
D. Fungsi respon imun......................................................................................................11
E. Faktor yang mempengaruhi sistem imun.....................................................................11
2.2 IMUNISASI..................................................................................................................13
A. Pengertian Imunisasi....................................................................................................13
B. Manfaat Imunisasi........................................................................................................13
C. Tujuan pemberian imunisasi........................................................................................14
D. Jenis-jenis Imunisasi....................................................................................................16
E. Macam-macam Pemberian Imunisasi..........................................................................18
F. Jadwal Vaksin................................................................................................................22
BAB III.....................................................................................................................................25
PENUTUP................................................................................................................................25
3.1 Kesimpulan.....................................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................26

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Staphylococcus berasal dari kata staphylos berarti kelompok buah anggur


dan coccus berarti bulat. Kuman ini sering ditemukan sebagai flora normal pada
kulit dan selaput lendir manusia. Pada tahun 1880, Pasteur mengenal
mengisolir micrococcus yang membentuk kelompok. Pada tahun 1881, Oyston
berhasil mengisolir micrococci dari abces. Pada tahun 1884, Rosenbach untuk

3
pertama kalinya mempelajari Staphylococcus secara mendalam sehingga berhasil
mengenal varietas aureus, albus dari micrococcus pyogenes.

Sebagian besar staphylococcus apathogen, hidup sebagai komensal pada


tubuh manusia, misalnya pada kulit, tenggorokan, hidung, mulut. Banyak juga
dijumpai pada debu-debu, di udara, makanan-makanan, dalam minuman-minuman
dan sebagainya. Tetapi beberapa jenis dari staphylococcus dapat menyebabkan
penyakit, terutama menyebabkan infeksi pada luka-luka (pyogenes). Diantaranya
ada juga menyebabkan keracunan makanan, karena mengeluarkan racun
(exotoxin). Jenis staphylococcus yang dapat menyebabkan penyakit, ialah
:Micrococcus pyogenes var.aureus. (Nama lama : Staphylococcus aureus) dan
Micrococcus pyogenes var.albus (Nama lama : Staphylococcus albus).

Staphylococcus ini dapat menyebabkan :

 infeksi-infeksi pada luka.


 furunkel (bisul, radang kulit), karbunkel (bisul-bisul yang berkumpul).
 abses (rongga berisi nanah).
 osteomyelitis akut (radang sumsum tulang).
 infeksi saluran kencing.
 mastitis (radang payudara).
 catarrhe urinary (radang selaput lendir dari saluran kencing).
 sepsis, septicaemia, pyaemia, dll.

Bila suatu bakteri masuk ke dalam darah dan belum berkembang biak
disebut bacteriaemia. Jika bakteri sudah berkembang biak sehingga tuan rumah
sakit disebut septicaemia. Jika bakteri yang masuk ke dalam darah disertai dengan
pembentukan nanah yang turut beredar dalam aliran darah, keadaan ini
disebut pyaemia. Seandainya septicaemia dan pyaemia menjadi satu, keadaan ini
disebutsepticopyaemia, umumnya dinamakan sepsis saja (peracunan
darah). Sepsis sangat berbahaya, tetapi dalam keadaan infeksi tidak selalu
terjadi sepsis.

1.2 Rumusan masalah

1. Definisi dan klasifikasi Staphylococcus

2. Karakteristik pertumbuhan, Struktur antigen dan Mekanisme Staphylococcus

4
3. Macam- macam Staphylococcus

4. Patogenisitas, faktor, dan penyakit yang ditimbulkan oleh S,aures

5. Pengobatan dan Mekanisme S.aures

6. Definisi, Bahaya dan Dampak bagi kesehatan tubuh akibat bakteri E coli

7. Gejala dari Bakteri E Coli

8. Penyebab dari baktri E,Coli

9. Pengobatan dan Keperwatan l

1.3 Tujuan

1. Mengetahui apa definisi dan klasifikasi Staphylococcus

2. Mengetahui bagaimana Karakteristik pertumbuhan, Struktur antigen dan


Mekanisme Staphylococcus

3. Mengetahui macam- macam Staphylococcus

4. Mengetahui bagaiamana Patogenisitas, faktor, dan penyakit yang ditimbulkan


oleh S,aures

5. Mengetahui bagiamana Pengobatan dan Mekanisme S.aures

6. Mengetahui bagiamana definisi, Bahaya dan dampak bagi kesehatan tubuh


akibat bakteri E coli

7. Mengetahui bagiamana Gejala dari Bakteri E Coli

8.Mengetahui bagiamana Penyebab dari baktri E,Coli

9. Mengetahui bagiamana Pengobatan dan Keperwatan l

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

5
Staphylococcus epidermidis adalah salah satu spesies bakteri dari
genus Staphylococcus yang diketahui dapat menyebabkan infeksi oportunistik
(menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Beberapa
karakteristik bakteri ini adalah fakultatif, koagulase negatif, katalase positif, gram
positif, berbentuk coccus, dan berdiameter 0,5 – 1,5 µm. Bakteri ini secara alami
hidup pada kulit dan membran mukosa manusia. Infeksi Staphylococcus
epidermidis dapat terjadi karena bakteri ini membentuk biofilm pada alat-alat
medis di rumah sakit dan menulari orang-orang di lingkungan rumah sakit tersebut
(infeksi nosokomial). Secara klinis, bakteri ini menyerang orang-orang yang rentan
atau imunitas rendah, seperti penderita AIDS, pasien kritis, pengguna obat
terlarang (narkotika), bayi yang baru lahir, dan pasien rumah sakit yang dirawat
dalam waktu lama.

2.2 Klasifikasi

 Kingdom : Protista
 Divisi : Schizophyta
 Class : Schyzomycetes
 Ordo : Eubacteriales
 Famili : Enterobacteriaceae
 Genus : Staphylococcus
 Spesies : Staphylococcus epidermidis

3.1 Karakteristik Pertumbuhan

Staphylococcus menghasilkan katalase yang membedakannya


dengan Streptococcus. Staphylococcus memfermentasikan karbohidrat
menghasilkan asam laktat tanpa menghasilkan gas. Staphylococcus tahan terhadap
kondisi kering, panas ( bertahan pada temperature 50oC selama 30 menit ) dan
pada larutan natrium klorida 9% tetapi dihambat oleh bahan kimia tertentu seperti
heksaklorofen 3%.

Staphylococcus sensitive terhadap beberapa obat antimikroba. Resistensinya


dikelompokkan dalam beberapa golongan seperti dibawah ini :

1. Biasanya menghasilkan enzim beta laktamase, yang berada dibawah control


plasmid, dan membuat organisme resisten terhadap beberapa penisilin seperti
penisilin G, ampisilin, tikarsilin, piperasilin. Plasmid ditransmisikan dengan
transduksi dan kadang juga dengan konjugasi.

6
2. Resisten terhadap nafsilin, metisilin dan oksasilin yang tidak tergantung pada
produksi beta laktamase. Gen mecA untuk resistensi terhadap nafsilin terletak pada
kromosom. Mekanisme resistensi nafsilin berkaitan dengan kekurangan PBP
( Penicillin Binding Protein ) tertentu dalam organisme.

3. S. aureus pada umumnya diisolasi dari pasien yang menderita infeksi kompleks
yang mendapat terapi vankomisin jangka panjang. Mekanisme resistensi berkaitan
dengan peningkatan sintesis dinding sel dan perubahan pada dinding sel. Galur S.
aureus dengan tingkat kerentanan rendah terhadap vankomisin biasanya resisten
terhadap nafsilin tetapi pada umumnya rentan terhadap oxazolidinon.

4. Plasmid juga dapat membawa gen untuk resistensi terhadap tetrasiklin,


eritromisin, aminoglioksida dan obat-obat lainnya. Hanya pada beberapa
galur Staphylococcus, hampir semua peka terhadap vankomisin.

5. Akibat sifat “toleran” berdampak bahwa Staphylococcus dihambat oleh obat


tetapi tidak dibunuh oleh obat tersebut.pasien dengan endokarditis yang
disebabkan oleh S. aureus yang toleran dapat mengalami perjalanan penyakit yang
lama dibandingkan dengan pasien yang mengalami endokarditis yang disebabkan
oleh S. aureus yang sepenuhnya rentan terhadap antimikroba. Toleransi suatu saat
dapat dihubungkan dengan kurangnya aktivasi enzim autolitik di dalam dinding
sel. ( Jawetz.2005.Mikrobiologi kedokteran.Jakarta;Salemba Medika.)

3.2 Struktrur Antigen/ Mekanisme

Stafilokokus mengandung antigen polisakarida dan protein seperti zat lain


yang penting dalam struktur dinding sel. Peptidoglikan, suatu polimer polisakarida
yang mengandung subunit-subunit yang bergabung memberikan eksoskeleton yang
kaku dari dindingsel. Peptidoglikan dirusak oleh asam kuat atau paparan terhadap
lisozim. Ini peting dalam pathogenesis infeksi : infeksi akan merangsang
pembentukan interleukin 1(pirogen endogen) dan antibody opsonin oleh monosit;
dan ini dapat menjadi penarik kimiawi bagi lekosit polimorfonuklear, mempunyai
aktivitas seperti endotoksin dan mengaktivasi komplemen.

Asam teikoat, yang merupakan polimer glikserol atau ribitol fosfat, diikat ke
peptidoglikan dan dapat menjadi antigenik. Antibody asam anti teikoat yang dapat
dideteksi melalui difusi gel dapat ditemukan pada pasien dengan endokarditis aktif
yang disebabkan oleh S.aureus.
7
Protein A merupakan komponen dinding sel kebanyakan galur S.aureus yang
bias mengikat ke bagian Fc molekul IgG kecuali IgG3. Meskipun IgG terikat pada
protein A, namjun fragmen Fab tetap bisa bebas berikatan dengan antigen spesifik.
Protein A telah menjadi reagen yang penting dalam imunologi dan teknologi
laboratorium diagnostik; contohnya protein A yang dilekati dengan molekul IgG
terhadap antigen bakteri spesifik akan mengaglutinasi bakteri yang mempunyai
antigen tersebut (ko-aglutinasi).

Beberapa galur S.aureus mempunyai kapsul yang menghambat fagositosis


oleh lekosit polimorfonuklear kecuali jika terdapat antibody spesifik. Sebagian
besar galur S.aureus mempunyai koagulase atau factor penggumpalan pada
permukaan dinding sel; ikatan koagulase non enzimatik pada fibrinogen,
menyebabkan agregasi pada bakteri.

(Jawetz.2005.Mikrobiologi kedokteran.Jakarta;Salemba Medika.)

4.1 Macam-macam Staphylococcus

A. Staphylococcus aureus

Stafilococcus berbentuk bulat atau kokus dengan diameter 0,4-1,2 mikron


meter (rata – rata 0,8 mikron meter). Hasil pewarnaan yang berasal dari perbenihan
padat akan memperlihatkan susunan bakteri yang bergerombol seperti buah
anggur, sedangkan yang berasal dari perbenihan cair terlihat bentukan kuman yang
lepas sendiri – sendiri, berpasanga atau rantai pendek (pada steptokokus biasanya
susunan selnya membentuk rantai lebih panjang) yang pada umumnya terdiri lebih
dari empat sel.

B. Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis secara mikroskopis morfologis tidak dapat


dibedakan denganStaphylococcus aureus. Koloninya bulat, halus pada umumnya
tidak menghasilkan pigmen dan warnanya putih pucat. Perbedaan
dengan Staphylococcus aureus adalah pada bakteri ini memberikan hasil negatif
pada tes koagulan, demikian juga untuk DNAse dan fermentasi manitol.
Staphylococcus epidermidis merupakan penyebab yang penting dari endokarditis
bakterial pada penderita setelah operasi jantung
8
C. Staphylococcus saprophyticus

Staphylococcus saprophyticus mirip dengan Staphylococcus epidermidis.


Keduanya dapat dibedakan dengan menggunakan tes novobiosin.
Pada S.saprophyticus tes terhadap novobiosin resisten sedangkan staphylococcus
yang lain sensitif. Bakteri ini sering merupakan patogen oportunistik dan
menyebabkan infeksi saluran kemih.

Gambar 1 Bentuk mikroskopis S. Aureus

5.1 Patogenisitas

Sebagian bakteri Stafilokokus merupakan flora normal pada kulit, saluran


pernafasan, dan saluran pencernaan makanan pada manusia. Bakteri ini juga
ditemukan di udara dan lingkungan sekitar. S. aureus yang patogen bersifat invasif,
menyebabkan hemolisis, membentuk koagulase, dan mampu meragikan manitol
(Warsa, 1994).

Infeksi oleh S. aureus ditandai dengan kerusakan jaringan yang disertai abses
bernanah. Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan oleh S. aureus adalah bisul,
jerawat, impetigo, dan infeksi luka. Infeksi yang lebih berat diantaranya
pneumonia, mastitis, plebitis, meningitis, infeksi saluran kemih, osteomielitis, dan
endokarditis. S. aureus juga merupakan penyebab utama infeksi nosokomial,
keracunan makanan, dan sindroma syok toksik (Ryan, et al., 1994; Warsa, 1994).

Bisul atau abses setempat, seperti jerawat dan borok merupakan infeksi kulit di
daerah folikel rambut, kelenjar sebasea, atau kelenjar keringat. Mula-mula terjadi
nekrosis jaringan setempat, lalu terjadi koagulasi fibrin di sekitar lesi dan
pembuluh getah bening, sehingga terbentuk dinding yang membatasi proses
nekrosis. Infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui pembuluh getah
bening dan pembuluh darah, sehingga terjadi peradangan pada vena, trombosis,
bahkan bakterimia. Bakterimia dapat menyebabkan terjadinya endokarditis,
9
osteomielitis akut hematogen, meningitis atau infeksi paru-paru (Warsa, 1994;
Jawetz et al., 1995).

Kontaminasi langsung S. aureus pada luka terbuka (seperti luka pascabedah)


atau infeksi setelah trauma (seperti osteomielitis kronis setelah fraktur terbuka) dan
meningitis setelah fraktur tengkorak, merupakan penyebab infeksi nosokomial
(Jawetz et al., 1995).

Keracunan makanan dapat disebabkan kontaminasi enterotoksin dari S. aureus.


Waktu onset dari gejala keracunan biasanya cepat dan akut, tergantung pada daya
tahan tubuh dan banyaknya toksin yang termakan. Jumlah toksin yang dapat
menyebabkan keracunan adalah 1,0 µg/gr makanan. Gejala keracunan ditandai
oleh rasa mual, muntah-muntah, dan diare yang hebat tanpa disertai demam (Ryan,
etal., 1994 ; Jawetz et al., 1995).

Sindroma syok toksik (SST) pada infeksi S. aureus timbul secara tiba-tiba
dengan gejala demam tinggi, muntah, diare, mialgia, ruam, dan hipotensi, dengan
gagal jantung dan ginjal pada kasus yang berat. SST sering terjadi dalam lima hari
permulaan haid pada wanita muda yang menggunakan tampon, atau pada anak-
anak dan pria dengan luka yang terinfeksi stafilokokus. S. aureus dapat diisolasi
dari vagina, tampon, luka atau infeksi lokal lainnya, tetapi praktis tidak ditemukan
dalam aliran darah (Jawetz et al., 1995).

5.2 Faktor Virulensi S. aureus

S. aureus dapat menimbulkan penyakit melalui kemampuannya tersebar luas


dalam jaringan dan melalui pembentukan berbagai zat ekstraseluler. Berbagai zat
yang berperan sebagai faktor virulensi dapat berupa protein, termasuk enzim dan
toksin, contohnya :

1. Katalase

Katalase adalah enzim yang berperan pada daya tahan bakteri terhadap
proses fagositosis. Tes adanya aktivitas katalase menjadi pembeda enusg
Staphylococcus dari Streptococcus.

2. Koagulase

10
Enzim ini dapat menggumpalkan plasma oksalat atau plasma sitrat, karena
adanya faktor koagulase reaktif dalam serum yang bereaksi dengan enzim tersebut.
Esterase yang dihasilkan dapat meningkatkan aktivitas penggumpalan, sehingga
terbentuk deposit fibrin pada permukaan sel bakteri yang dapat menghambat
fagositosis (Warsa, 1994).

3. Hemolisin

Hemolisin merupakan toksin yang dapat membentuk suatu zona hemolisis di


sekitar koloni bakteri. Hemolisin pada S. aureus terdiri dari alfa hemolisin, beta
hemolisisn, dan delta hemolisisn. Alfa hemolisin adalah toksin yang bertanggung
jawab terhadap pembentukan zona hemolisis di sekitar koloni

S. aureus pada medium agar darah. Toksin ini dapat menyebabkan nekrosis
pada kulit hewan dan manusia. Beta hemolisin adalah toksin yang terutama
dihasilkan Stafilokokus yang diisolasi dari hewan, yang menyebabkan lisis pada
sel darah merah domba dan sapi. Sedangkan delta hemolisin adalah toksin yang
dapat melisiskan sel darah merah manusia dan kelinci, tetapi efek lisisnya kurang
terhadap sel darah merah domba (Warsa, 1994).

4. Leukosidin

Toksin ini dapat mematikan sel darah putih pada beberapa hewan. Tetapi
perannya dalam patogenesis pada manusia tidak jelas, karena Stafilokokus patogen
tidak dapat mematikan sel-sel darah putih manusia dan dapat difagositosis (Jawetz
et al., 1995).

5.Toksin eksfoliatif

Toksin ini mempunyai aktivitas proteolitik dan dapat melarutkan matriks


mukopolisakarida epidermis, sehingga menyebabkan pemisahan intraepitelial pada
ikatan sel di stratum granulosum. Toksin eksfoliatif merupakan penyebab
Staphylococcal Scalded Skin Syndrome, yang ditandai dengan melepuhnya kulit
(Warsa, 1994).

6. Toksin Sindrom Syok Toksik (TSST)

11
Sebagian besar galur S.aureus yang diisolasi dari penderita sindrom syok
toksik menghasilkan eksotoksin pirogenik. Pada manusia, toksin ini menyebabkan
demam, syok, ruam kulit, dan gangguan multisystem organ dalm tubuh

7. Enterotoksin

Enterotoksin adalah enzim yang tahan panas dan tahan terhadap suasana
basa di dalam usus. Enzim ini merupakan penyebab utama dalam keracunan
makanan, terutama pada makanan yang mengandung karbohidrat dan protein
(Jawetz et al., 1995).

5.3 Penyakit Yang Ditimbulkan

Infeksi Staphylococcus epidermidis berhubungan dengan perangkat


intravaskular (katup jantung buatan, shunts, dll), tetapi biasanya terjadi pada sendi
buatan, kateter, dan luka besar. Infeksi kateter bersama dengan kateter-induced UTI
menyebabkan peradangan serius dan sekresi nanah. Dalam hal ini, buang air kecil
sangat menyakitkan.

Septicemia dan endokarditis termasuk penyakit yang berhubungan


dengan Staphylococcus epidermidis. Gejala yang timbul adalah demam, sakit
kepala, dan kelelahan untuk anoreksia dan dyspnea. Septicemia terjadi akibat
infeksi neonatal, terutama ketika bayi lahir dengan berat badan sangat rendah.
Sedangkan, Endokarditis adalah infeksi katup jantung dan bagian lapisan dalam
dari otot jantung.Staphylococcus epidermidis dapat mencemari peralatan
perawatan pasien dan permukaan lingkungan.

A Septicemia

Septicemia adalah kondisi di mana dalam darah terdapat bakteri dan sering
dikaitkan dengan penyakit berat. Septicemia adalah salah satu penyakit serius,
infeksi bakteri dapat mengancam jiwa dan bereaksi sangat cepat. Hal ini dapat
timbul dari infeksi di seluruh tubuh, termasuk infeksi di paru-paru, perut, dan
saluran kemih.

Penyakit Septicemia

Gejala Septicemia antara lain: demam, menggigil, napas cepat, dan detak
jantung cepat. Penderita nampak sangat akit. Gejala dengan cepat berkembang

12
menjadi syok dengan penurunan suhu tubuh (hipotermia), penurunan tekanan
darah, kebingungan atau perubahan lain dalam status mental, dan masalah
penggumpalan darah yang mengarah ke jenis tertentu seperti bintik-bintik merah di
kulit (petechiae dan ecchymosis).

B Endokarditis

Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme


pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya terjadi pada
jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan
endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung
yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri
sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh
bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus,
dan lain-lain.

Jenis kuman penyebab endokardisitis ini sering masuk melalui saluran napas
bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta
pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata
mudah sekali terinfeksi dan menimbulkan adanya vegetasi (penempelan) yang
terdiri atas trombosis dan fibrin.

Vaskularisasi jaringan tersebut biasanya tidak akan berlangsung dengan baik,


sehingga hal ini akan memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan
akibatnya akan menambah kerusakan katup dan endokard, kuman yang sangat
patogen dapat menyebabkan robeknya katub hingga terjadi kebocoran. Infeksi
dengan mudah meluas ke jaringan sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau
aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae maka dapat terjadi
ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub jantung.

Staphylococcus epidermidis adalah salah satu spesies bakteri dari


genus Staphylococcus yang diketahui dapat menyebabkan infeksi oportunistik
(menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Beberapa
karakteristik bakteri ini adalah fakultatif, koagulase negatif, katalase positif, gram
positif, berbentuk kokus, dan berdiameter 0,5 – 1,5 µm. Bakteri ini secara alami
hidup pada kulit dan membran mukosa manusia.

13
Septicemia dan endokarditis termasuk penyakit yang berhubungan
dengan Staphylococcus epidermidis. Gejala yang timbul adalah demam, sakit
kepala, dan kelelahan untuk anoreksia dan dyspnea. Septicemia terjadi akibat
infeksi neonatal, terutama ketika bayi lahir dengan berat badan sangat rendah.
Sedangkan, Endokarditis adalah infeksi katup jantung dan bagian lapisan dalam
dari otot jantung.Staphylococcus epidermidis dapat mencemari peralatan
perawatan pasien dan permukaan lingkungan.

Uji biokimia bakteri pigmennya berwarna kuning keemasan


bila Staphylococcus aureus, berwarna kuning jeruk bila Staphylococcus citreus,
bila berwarna putih Staphylococcus albus/epidermis.

6.1 Pengobatan

Pengobatan terhadap infeksi S. aureus dilakukan melalui pemberian antibiotik,


yang disertai dengan tindakan bedah, baik berupa pengeringan abses maupun
nekrotomi. Pemberian antiseptik lokal sangat dibutuhkan untuk menangani
furunkulosis (bisul) yang berulang. Pada infeksi yang cukup berat, diperlukan
pemberian antibiotik secara oral atau intravena, seperti penisilin, metisillin,
sefalosporin, eritromisin, linkomisin, vankomisin, dan rifampisin. Sebagian besar
galur Stafilokokus sudah resisten terhadap berbagai antibiotik tersebut, sehingga
perlu diberikan antibiotik berspektrum lebih luas seperti kloramfenikol, amoksilin,
dan tetrasiklin (Ryan et al., 1994; Warsa, 1994; Jawetz et al., 1995).

A.Kloramfenikol

Struktur Kimia Kloramfenikol adalah antibiotik yang diisolasi pertama kali


pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Penggunaan obat ini meluas
dengan cepat, karena mempunyai daya antibiotika yang kuat. Pada tahun 1950,
diketahui bahwa antibiotik ini dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal,
sehingga penggunaannya dibatasi (Mycek et al., 1992).

14
Gambar 2. Struktur kimia kloramfenikol (Depkes RI, 1995)

D-treo-(-)-2,2-Dikloro-N-[β-hidroksi-α-(hidroksimetil)-p-nitrofenetil]asetamida
C11H12 Cl2 N2O5 , BM 323,13

B. Farmakokinetik

Kloramfenikol yang diberikan secara intravena maupun oral dapat


diabsorpsi sempurna, karena bersifat lipofilik. Antibiotik ini didistribusikan secara
luas ke seluruh tubuh, termasuk ke jaringan otak, cairan serebrospinal, dan mata.
Waktu paruh kloramfenikol pada orang dewasa kurang lebih 3 jam, sedangkan
pada bayi berumur kurang dari 2 minggu sekitar 24 jam. Sekitar 50 %
kloramfenikol dalam darah terikat dengan albumin (Katzung, 1998).

Di dalam hati, kloramfenikol terkonjugasi dengan asam glukuronat oleh aktivitas


enzim glukuronil transferase, sehingga waktu paruh kloramfenikol pada pasien
gangguan fungsi hati dapat diperpanjang menjadi 24 jam, sekitar 80-90 %
kloramfenikol peroral dieksresikan melalui ginjal, 5-10 % diantaranya diekskresi
dalam bentuk aktif, sedang sisanya dalam bentuk glukuronat atau hidrolisat lain
yang tidak aktif. Pada kasus gagal ginjal, waktu paruh kloramfenikol bentuk aktif
tidak berubah, tetapi terjadi akumulasi metabolitnya yang non toksik. Oleh karena
itu, pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan gagal ginjal, dosis antibiotik ini
perlu dikurangi (Setiabudy dkk., 1995).

6.2 Mekanisme Kerja

Kloramfenikol bekerja menghambat sintesis protein pada sel bakteri.


Kloramfenikol akan berikatan secara reversibel dengan unit ribosom 50 S,
sehingga mencegah ikatan antara asam amino dengan ribosom. Obat ini berikatan
secara spesifik dengan akseptor (tempat ikatan awal dari amino asil t-RNA) atau
pada bagian peptidil, yang merupakan tempat ikatan kritis untuk perpanjangan
rantai peptida (Setiabudy dkk, 1995; Katzung, 1998).

15
Asam amino

Gambar 3

Mekanisme kerja kloramfenikol dalam sintesis protein (Katzung, 2004)

Keterangan: (1)tempatkerjakloramfenikol

16
Kloramfenikol merupakan antibiotika dengan spektrum luas yang efektif terhadap
Streptococcus pneumoniae, Streptococcus pyogenes, Streptococcus viridans,
Haemophilus, Neisseria, Bacillus spp, Listeria, Bartonella, Brucella, Chlamydia,
Mycoplasma, Rickettsia, Treponema, dan kuman anaerob seperti Bacillus fragilitis.
Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik, tetapi pada konsentrasi tinggi kadang-
kadang bersifat bakterisidal (Setiabudy dkk, 1995; Katzung, 1998).

Beberapa galur Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza, dan Neisseria


meningitidis telah resisten terhadap antibiotik ini. S. aureus umumnya sensitif terhadap
antibiotik ini, sedangkan kebanyakan Enterobacteriaceae telah resisten. Kebanyakan
galur Seratia, Providencia, Proteus retgerii, Pseudomonas aeruginosa dan galur tertentu
Salmonella typhi juga resisten terhadap kloramfenikol (Setiabudy dkk, 1995).

7.1 Definisi

E Coli adalah yang paling umum untuk menyebut nama bakteri Escherichia coli, adalah
jenis bakteri yang biasanya ditemukan dalam sistem pencernaan hewan. Satu jenis bakteri E-Coli
tertentu dapat menyebabkan penyakit sistem pencernaan yang serius, yang umum ditandai
dengan diare dan kadang disertai mual.

2.3.1 Dampak lain dari bakteri E coli adalah menghasilkan racun yang dapat merusak
ginjal, serta melemahkan dinding usus kecil pada anak-anak. Alasan lain untuk menyebut
berbahaya pada bakteri E coli adalah karena tidak ada obat yang efektif untuk ini.

7.2 Berbahayakah Bakteri E coli bagi kesehatan?

Pada tahun 2006 , konsumen di Amerika Serikat mengalami ketakutan karena kantong daun
bayam mentah yang diproses di California ditemukan mengandung E coli dalam tingkat yang
berbahaya. Ratusan orang sakit, dan bahkan dilaporkan terjadi beberapa kematian. Sumber
kontaminasi itu akhirnya ditelusuri, dan diketemukan berasal dari peternakan produk spesifik
yang terletak di salah satu daerah di California. Sementara penjualan bayam kantong akhirnya
dilanjutkan, dan masyarakat akhirnya menyadari akan bahayanya kontaminasi bakteri E coli pada
bahan makanan.

17
7.3 Dampak bakteri E coli bagi kesehatan

Diare yang dialami oleh orang yang terinfeksi bakteri E coli akan menyebabkan tubuh lemah,
karena mengalami dehidrasi berat. Dehidrasi ini bisa membahayakan, jika penderita tak
mendapatkan cairan tubuh pengganti, misalnya dari minum banyak air secara kontinyu.

Terutama E. coli O157 : H7 dalam jangka lama dapat merusak ginjal dan organ tubuh lainnya
yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan racun dari tubuh. Pada anak-anak, E coli dapat
menciptakan racun yang dapat melemahkan dinding usus kecil. Lapisan-lapisan beberapa
pembuluh darah kecil pada ginjal juga bisa menjadi lemah. Ini merupakan komplikasi serius yang
disebut dengan sindrom uremik hemolitik ( HUS ), dan dapat memungkinkan bagi
penderita mengalami kegagalan ginjal atau komplikasi lain, seperti kelumpuhan , kebutaan , dan
kejang .

Bakteri E coli bisa berbahaya dan menimbulkan dampak yang paling parah pada anak-anak
atau orang tua yang sistem kekebalannya lemah. Hal ini mungkin karena pertahanan tubuh alami
pada anak-anak masih berkembang, dan orang dewasa yang memiliki kekebalan lemah, sehingga
mereka tidak memiliki flora usus yang sehat dan antibodi yang diperlukan untuk menangkal
infeksi.

Orang dewasa yang sehat biasanya bisa bertahan dari akibat terburuk dari infeksi bakteri ini,
karena unsur-unsur pada saluran pencernaan mereka masih berfungsi secara normal, serta
pertahanan alami tubuh yang kuat akhirnya bisa menangkal bakteri ini.

7.4 Gejala

Gejala mulai terjadi ketika bakteri E. coli sudah memasuki usus . Waktu terinfeksi dan
perkembangan gejala biasanya dapat berlangsung antara 24 – 72 jam . Diare parah yang tiba-
tiba, dan sering disertai darah pada tinja adalah gejala yang paling umum.

18
A. Gejala lain yang mungkin termasuk :
 Demam
 Gas dalam perut

 Kehilangan nafsu makan

 Kram perut

 Muntah, meskipun jarang

B. Gejala infeksi E. coli yang jarang terjadi, namun bisa parah meliputi:
Mudah mengalami memar
 Kulit pucat
 Urin Merah atau berdarah

 Jumlah urin yang sedikit

8.1 Penyebab

E. coli sebenarnya adalah jenis bakteri yang biasanya hidup didalam usus manusia dan
hewan tanpa menyebabkan masalah. Penting untuk disadari bahwa tidak semua bakteri E. coli
berbahaya bagi manusia. Sebagian bermanfaat untuk membantu pencernaan, yang merupakan
bagian dari flora usus agar makanan tertentu mudah dicerna seperti protein atau gula. Namun
beberapa jenis bakteri E. coli tertentu dapat mengkotaminasi makanan. Satu strain ( E. coli
O157 : H7 ) dapat menyebabkan kasus keracunan makanan yang parah.

8.2 Bakteri dapat masuk ke dalam makanan Anda dengan cara yang berbeda :
 Daging atau unggas yang kontak dengan bakteri dari usus hewan saat sedang diolah.
 Air yak tak higienis mungkin mengandung kotoran hewan atau manusia.

 Penanganan makanan yang tidak aman pada toko-toko kelontong atau rumah makan.

8.3 Keracunan makanan akibat E coli seringkali terjadi dari makanan atau minuman :

19
 Makanan yang disiapkan oleh seseorang yang tidak mencuci tangan dengan benar.
 Makanan yang disiapkan dengan menggunakan peralatan memasak yang kotor.

 Produk-produk susu atau makanan yang mengandung mayones (seperti coleslaw atau
salad kentang ) yang telah berada diluar lemari es terlalu lama.

 Makanan beku yang tidak disimpan pada suhu yang tepat, atau tidak dipanaskan dengan
benar.

 Ikan atau tiram mentah

 Buah mentah atau sayuran yang belum dicuci bersih.

 Sayuran mentah atau jus buah dan produk susu.

 Daging matang atau telur.

 Air dari sumur atau sungai, atau air kran yang belum diolah.

Meskipun tidak umum, bakteri E. coli juga dapat menyebar dari satu orang ke orang lain .
Hal ini bisa saja terjadi ketika seseorang tidak mencuci tangan nya setelah buang air besar, dan
kemudian menyentuh benda atau tangan orang lain.

9.1 Pengobatan dan perawatan


 Dokter akan melakukan pemeriksaan secara fisik, termasuk memeriksa tinja bisa
dilakukan untuk memastikan E.coli .
 Biasanya infeksi dari jenis bakteri E coli yang paling umum bisa sembuh sendiri dalam
beberapa hari. Dan tujuan pengobatan hanyalah untuk membuat penderita merasa
lebih baik dan terhindar dari dehidrasi.

 Mendapatkan cukup cairan, serta mencari tahu apa yang harus dimakan akan membantu
menciptakan kenyamanan. yang mungkin perlu dilakukan oleh penderita adalah;
Merawat diare, Mencegah mual dan muntah dan Istirahat cukup.

20
 Jika penderita mengalami diare atau muntah-muntah yang parah, serta tidak bisa minum
atau dapat menyimpan cairan yang cukup dalam tubuh, mungkin perlu diberikan cairan
melalui vena/infus . Sehingga penderita harus dirawat dokter diruang gawat darurat .

 Penderita mungkin perlu berhenti minum pil diuretik saat mengalami diare. Jangan
pernah berhenti atau mencoba berganti obat tanpa terlebih dahulu berkonsultasi
dengan dokter.

 Penderita mungkin dapat membeli obat diare di apotek, yang bertujuan untuk
membantu menghentikan atau memperlambat diare. Namun jika gejala diare parah dan
demam, maka sebaiknya jangan menggunakan obat-obatan tanpa diketahui dokter.
Terutama jangan memberikan obat-obatan sendiri untuk diare pada anak-anak.

Bakteri E coli tidak merespon dengan baik kelebihan penggunaan obat tradisional untuk
meredakan diare. Antibiotik pada dasarnya akan membunuh bakteri apa saja, termasuk strain
bakteri baik pada usus yang justru bertugas untuk melawan E. coli berbahaya.

Kesimpulan

Staphylococcus berasal dari kata staphylos berarti kelompok buah anggur


dan coccus berarti bulat. Kuman ini sering ditemukan sebagai flora normal pada kulit dan
selaput lendir manusia. Sebagian besar staphylococcus apathogen, hidup sebagai
komensal pada tubuh manusia, misalnya pada kulit, tenggorokan, hidung, mulut. Banyak
juga dijumpai pada debu-debu, di udara, makanan-makanan, dalam minuman-minuman
dan sebagainya.. Macam-macam Staphylococcus yaitu Staphylococcus aureus,
Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus saprophyticus. Penyebabnya akibat
infeksi, keracunan makanan dan syindrom syok toksik. Penyakit yang kan timbul akibat
Staphylococcus adalah septicinea dan endokarditis yang dapat disembuhkan dengan
pemberian antibiotak secar langsung oral dan intravena

21