Anda di halaman 1dari 10

Metabolisme Sekunder Pada Jamur

1. Mikotoksin
a) Definisi Mikotoksin
Mikotoksin didefenisikan sebagai senyawa kimia yang dihasilkan oleh jamur tertentu
melalui metabolisme sekunder dan bersifat toksik terhadap manusia dan hewan. Penamaan
mikotoksin berasal dari kata Yunani mykes yang berarti kapang, dan kata Latin toxicum yang
berarti racun. Istilah mikotoksin mulai digunakan pertama kali pada tahun 1961 ketika terjadi
krisis di bidang peternakan di Inggris yaitu matinya sekitar 100.000 ekor kalkun dan 10.000
itik serta unggas lainnya. Matinya ternak-ternak tersebut ternyata disebabkan oleh toksin
aflatoksin yang dihasilkan oleh kapang Aspergillus flavus yang terdapat pada pakan ternak
unggas tersebut (Syarief dan Nurwitri, 1992; Bennet and Klich, 2003; Richard, 2007). Jamur
akan mulai memproduksi metabolisme ini pada keadaan atau kondisi lingkungan yang optimal
dan untuk memperluas pembentukan koloni. Mikotoksin atau racun jamur diproduksi alami
secara kimia oleh mikro jamur, umumnya saprolitik molds yang tumbuh di bahan makanan
manusia atau makanan hewan.
Kapang penghasil mikotoksin banyak tersebar di alam. Diperkirakan terdapat 10.000
sampai 250.000 spesies kapang di alam, dan sekitar 25.000 spesies yang telah diidentifikasi.
Bahkan menurut Payen (1977), sekitar 1.000 spesies baru ditemukan per tahun atau 3 spesies
kapang per hari. Namun jenis kapang yang menghasilkan mikotoksin hanya terbatas pada jenis-
jenis yang berasosiasi secara ekologi dengan rantai makanan manusia dan hewan seperti
Aspergillus, Fusarium, Penicillium, Alternaria, dan Stachybotrys (Pitt, 2000; Reddy et al.,
2010). Jenis-jenis kapang yang berasosiasi secara alami dengan proses produksi pangan
biasanya didominasi oleh Aspergillus, Fusarium, dan Penicillium, dan menghasilkan
mikotoksin sebelum panen, segera setelah panen, dan selama penyimpanan (Pitt, 2000).
Kapang penghasil toksin dapat menghasilkan satu atau lebih jenis mikotoksin, namun demikian
tidak semua kapang bersifat toksik, dan tidak semua metabolit sekunder dari kapang bersifat
racun. Ada beberapa jenis kapang dapat memproduksi toksin secara simultan seperti Fusarium.
Hasil penelitian Salomon, (2011) menunjukkan bahwa patogen jamur Stagonospora nodorum,
Pyrenophora tritiirepentis, dan Alternaria alternata menghasilkan beberapa jenis toksin selama
perkembangannya pada tanaman gandum.
Komoditi pertanian seperti biji-bijian, kacang-kacangan merupakan komoditi yang
sangat sesuai bagi perkembangan kapang penghasil toksin, baik sebelum maupun sesudah
panen. Penyimpanan diidentifikasi sebagai tempat utama terjadinya kontaminasi. Ventilasi
yang kurang sesuai dapat meningkatkan temperatur yang menyebabkan terjadinya migrasi air
sehingga jamur berkembang dengan baik. Produksi mikotoksin selama pertumbuhan jamur
sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan seperti kadar air bahan, temperatur, aktivitas air
(aw) bahan, pH, dan kandungan oksigen di udara, kondisi yang sama pula mempengaruhi
pertumbuhan jamur itu sendiri. Kadar air dan temperatur merupakan dua faktor yang sangat
penting bagi proses proliferasi jamur dan biosintesis dari toksin (Bryden, 2007; Paterson &
Lima, 2010). Sedangkan Millicevic et al., (2010) menyatakan bahwa insidensi dan tingkat
kontaminasi dari mikotoksin pada bahan makanan erat hubungannya dengan posisi geografi,
faktor iklim, teknik budidaya, pemanenan, penyimpanan dan transportasi dari bahan tersebut.
Ada 3 hal,
1. Satu jenis jamur menghasilkan berbagai jenis toksin
2. Satu jenis toksin dihasilkan berbagai jenis kapang
3. Tidak selamanya kapang bersifat toksikogenous (bersifat toksik), tergantung pada habitatnya
(substrat) mis. A. flavus pada beras atau bungkil kacang tanah
b) Jenis – jenis Mikotoksin
Mikotoksin mulai mendapat perhatian baru pada tahun 1960-an, ketika ditemukan
Aflatoksin, jenis mikotoksin yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus dan A. parasiticus.
Aflatoksin diidentifikasi sebagai penyebab penyakit ”turkey X”. Penemuan ini menstimulasi
perhatian secara global terhadap mikotoksin. Efek toksik dari mikotoksin pada manusia dan
hewan dikenal sebagai mikotoksikosis. Tingkat keparahan mikotoksikosis pada manusia dan
hewan tergantung tingkat toksisitas mikotoksin, lamanya eksposur, umur, dan status gizi dari
individu, dan kemungkinan adanya efek sinergisitas dari senyawa lain pada individu yang
terekspos mikotoksin.
Aflatoksin adalah senyawa racun yang bersifat akut, bersifat immunospuresif,
mutagenik, teratogenik, dan karsinigenik. Organ yang menjadi target utama baik sebagai toksin
maupun sebagai karsinogen dari senyawa ini yaitu hati. Hasil evaluasi yang dilakukan oleh
IARC pada tahun 1987 menyatakan bahwa terdapat bukti yang kuat bahwa aflatoksin
karsinogen terhadap manusia, dan karena itu aflatoksin dikelompokkan sebagai karsinogen
grup 1, kecuali aflatoksin M1 yang dikelompokkan sebagai karsinogen grup 2 berpotensi
sebagai karsinogen (Peraica et al., 1999).
Bogley (1997) menyebutkan bahwa aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang
berbentuk turunan poliketida. Biosintesis aflatoksin sebagai metabolit sekunder terjadi melalui
derivat poliketida yang berasal dari sintesis protein dan lemak dari metabolit primer.
Mikotoksikosis selain menyerang manusia juga terjadi pada hewan, karena banyak
bahan pangan juga merupakan bahan pakan ternak. Memang tidak selamanya mikotoksin yang
beracun bagi hewan juga beracun bagi manusia atau sebaliknya, namun hal ini perlu mendapat
perhatian yang serius mengingat penelitian tentang pengaruh mikotoksin terhadap manusia dan
hewan ini belum tuntas sehingga belum dapat mengungkap fenomena sesuai fakta yang ada.
Mikotoksin ditemukan baik di negara maju maupun negara berkembang, karena
pembentukan mikotoksin ditentukan oleh lingkungan, social dan ekonomi Negara tersebut
ditambah factor iklim seperti suhu dan kelembaban yang sesuai bagi perkembangan jamur.
Pada awalnya sulit dibedakan antara keracunan oleh pencemaran jamur atau keracunan
oleh mikotoksin. Kerusakan bahan pangan oleh mikroorganisme dapat menyebabkan makanan
atau minuman tidak layak dikonsumsi akibat penurunan mutu atau karena makanan tersebut
telah beracun. Penurunan bahan pangan dan hasil pertanian antara lain meliputi penurunan nilai
gizi, penyimpangan warna, perubahan rasa dan bau, adanya pembusukan, modifikasi
komposisi kimia, serta penurunan daya tumbuh benih. Gangguan kesehatan yaitu berupa
adanya mikroorganisme bersifat patogenik dan sintesis senyawa kimia beracun (bakteri toksin
dan mikotoksin) yang bersifat karsinogenik kronik maupun gangguan kesehatan akut.
Pada bebijian dan serealia, penyimpangan warna dapat disebabkan oleh akibat langsung
adanya pertumbuhan jamur dalam penyimpanan. Sebab lain yaitu oleh factor-faktor sebelum
panen seperti keadaan tanah tempat penanaman dan adanya serangan pathogen. Penggunaan
suhu yang terlalu tinggi pada saat pengeringan dan adanya reaksi-reaksi kimia, serta aktifitas
enzim dapat pula menyebabkan perubahan warna. Aspergillus estrictus dan A. glaucus dapat
menyebabkan noda kebiruan pada jagung (Gambar 1.1). Aspergillus dan Penicillium dapat
menyebabkan bintik-bintik hijau kebiruan pada roti (Gambar 1.2). A. Candidatus
menyebabkan warna putih, Helminthosporium, Cladosporium dan A. niger penyebab warna
hitam, sedangkan beras menjadi kuning kecoklatan disebabkan oleh P. islandicum (Syarief dan
Halid, 1992).

Gambar 1.1 Aspergillus restrictus dan Gambar 1.2 Aspergillus sp. Dan Penicillium
A.glaucus yang menyebabkan noda. yang menyebabkan bintik-bintik hijau kebiruan
Kebiruan pada jagung (Agrios, 2005). pada roti (A) konidofor dan konidia Aspergillus,
(B) gejala pada roti, (C) konidofor dan Konidia
Penicillium sp. (Agrios, 2005)

Tabel 1.1 Beberapa jenis mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur

Toksin Patogen Substrat


Aflatoxin Aspergillus flavus, A. Kacangkacangan,
parasiticus kopra
Citrinin A. candidus, A. terreus, Penicillium citrinum, Padi, rye, gandum,
P. lividum, P. citreoviride, P. exapansum, P. barley, jagung, ikan
fellutanum, P. implicatum, P. notatum, P. kering
ochrasalmoneum, P.
pucpillorum

Luteoskyrin P. islandicum Padi


Citreoviridin P. citreoviride, P. toxicarium, Padi
P. pulvillorum, P.
ochrasalmoneum,
Ochratoxin Aspergillus alliaceus, A. ochraceus, A. Jagung, barley,
sclerotium, A. sulphureus gandum,
kacangkacangan, kopi
Zearalenon Fusarium moniliforme, F. oxysporum, F. Jagung, padi,
trincinctum, F. barley
sporotrichoides
Sterigmatocystin Aspergillus nidulans, A. versicolor, Kopi, gandum,
A. luteum, Bipolaris sp. jagung, barley
Trichothecenes Cephalosporium sp., Fusarium ephisphaeria, Jagung, padi,
atau T-Toxin F. latritium, F. cantel, kapri
solani, F. trincinctum
Nivalenon dan Fusarium nivale Padi, jagung, gandum,
Fusarenon X barley
Penicillic acid Aspergillus sp., Penicillium spp., Jagung, kacang,
Paecilomyces sp. tembakau
Patulin Aspergillus spp., Penicillium spp., Gandum, cantel.
Byssochlamys sp. jagung
Alternaria toxin Alternaria spp., Cladosporium sp., Cantel
Pullubaria sp.
Vomitoxin Fusarium spp. Gandum, barley,
jagung

Kapang penghasil aflatoksin umumnya tumbuh selama proses penyimpanan yang tidak
memperhatikan kelembaban dan temperatur. Kondisi geografis Indonesia yang merupakan
daerah tropis sangat ideal bagi pertumbuhan kapang ini. Namun praktek dalam masa tanam
juga tidak menutup kemungkingan terjadinya kontaminasi. Produksi aflatoksin oleh kapang
penghasilnya dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi
jenis dan galur kapang penghasilnya (toksigenik dan nontoksigenik). Menurut WHO (1979),
Aspergillus flavus mampu menghasilkan aflatoksin jauh lebih banyak dibandingkan dengan
Aspergillus parasiticus. Bahkan 20 hingga 98% dari galur A.flavus memiliki kemampuan
menghasilkan aflatoksin. Faktor eksternal yang mempengaruhi produksi aflatoksin disebabkan
oleh kondisi lingkungan sebagai berikut:
a. Jenis substrat
Secara umum kandungan lemak, protein, trace element, asam amino, dan asam lemak
pada suatu bahan mampu mendorong produksi aflatoksin oleh A.flavus (Diener dan Davis
1969). Salah satu mineral esensial yang dibutuhkan adalah Zn. Mineral Zn berperan dalam
glikolisis enzim untuk menghasilkan aflatoksin. Kebutuhan Zn yang optimum untuk
pertumbuhan dan produksi aflatoksin adalah 800 ppb.
Di lapangan, komoditi pertanian seperti jagung, beras, dan kacang-kacangan
merupakan substrat atau bahan yang paling sering ditumbuhi kapang Aspergillusflavus
penghasil aflatoksin. Namun kontaminasi pada serealia dan kacang-kacangan cukup bervariasi.
Substrat jagung, gandum, dan beras yang diinokulasikan dengan tiga isolat Aspergillus flavus
dapat menghasilkan aflatoksin lebih tinggi dibandingkan dengan biakan pada sorghum dan
kedelai pada kultur tetap maupun bergoyang. Syarief et al. (2003) mengungkapkan bahwa
frekuensi penemuan aflatoksin B1 adala 98% pada kacang tanah, 76% pada biji kapas, 49%
pada sorgum, dan 36% pada padi (beras).
b. Kelembaban, aw dan kadar air
Diener dan Davis (1969) menyebutkan bahwa kelembaban relatif minimum untuk
pertumbuhan A.flavus adalah 80% dan untuk sporulasi adalah 85%. Menurut Lacey et al.
(1992), pada aw 0.9 produksi aflatoksin mencapai nilai tertinggi dan pertumbuhan A.flavus
lebih baik dibandingkan dengan kompetitornya yaitu Fusarium graminearum, Penicillium
viridicatum, dan Aspergillus niger, dan akan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan
aw hingga 0.98. Aflatoksin tidak dapat dihasilkan pada aw 0.83, namun pertumbuhan A.flavus
masih dapat terjadi pada aw yang lebih rendah. Bullerman et al. (1984) menunjukkan bahwa
batas aw yang dapat mendukung A.flavus membentuk aflatoksin yaitu 0.83–0.87, tetapi batas
untuk pertumbuhan kapang pada aw yang lebih rendah dari 0.83. Tandiabang (2010)
menyebutkan bahwa perlakuan pengeringan biji hingga diperoleh kadar air biji yang rendah,
lebih kecil dari 18%, dan aw di bawah 0.8, dapat menghambat pertumbuhan kapang
Aspergillus sp.
c. Suhu dan waktu inkubasi
Produksi aflatoksin tergantung dari pertumbuhan A.flavus sebagai kapang
penghasilnya. Umumnya A.flavus dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan aflatoksin
pada suhu 25-42oC. Suhu juga mempengaruhi produksi jenis aflatoksin yang dihasilkan. WHO
(1979) menyebutkan bahwa produksi aflatoksin pada beras, biji, dan kacang-kacangan pada
suhu 15–18 oC adalah sebanding untuk aflatoksin B1 dan G1, pada suhu 25 oC produksi
aflatoksin B1 dan G1 menjadi berbanding 2:1, pada suhu 28 oC menjadi 4:1, dan pada suhu 32
o
C menjadi 12:1. Suhu minimum, optimum, dan maksimum untuk memproduksi aflatoksin
adalah 12 oC, 27 oC , dan 40-42 oC.
d. Kondisi atmosfer
Pater dan Bullerman (1988) melaporkan bahwa pertumbuhan dan produksi aflatoksin
lebih sensitif pada kadar CO2 yang tinggi dibandingkan pada kadar N2 dan O2 yang rendah.
Syarief et al. (2003) melaporkan bahwa produksi aflatoksin pada percobaan kacang tanah
menurun ketika kandungan O2 dikurangi dari 21% menjadi 5%. Bahkan produksi aflatoksin
sama sekali terhambat pada kadar O2 kurang dari 1%. Peningkatan kandungan CO2 hingga
20% dan pengurangan tekanan parsial oksigen, mengakibatkan pengurangan produksi
aflatoksin secara signifikan. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan oleh proses produksi
aflatoksin merupakan proses aerobik.
e. pH
pH yang baik untuk pertumbuhan kapang adalah 4.6–4.8. Penurunan pH hingga di
bawah 4 dapat menghambat pertumbuhan kapang (Diener dan Davis 1969). Namun beberapa
penelitian menyimpulkan bahwa pengkondisian pH tidak terlalu berpengaruh secara signifikan
pada produksi aflatoksin.
f. Kondisi geografis dan musim panen
Panenan di daerah tropis dan subtropis merupakan sasaran utama pencemaran
aflatoksin (WHO 1979). Indonesia yang berada di wilayah dengan iklim hujan tropis dengan
kelembaban udara tinggi (> 80%) dan suhu rata-rata cukup tinggi (28-33°C) merupakan
wilayah dengan kondisi yang sangat mendukung pertumbuhan kapang penghasil aflatoksin.
Pemanenan yang dilakukan pada musim hujan memiliki resiko kontaminasi aflatoksin
lebih tinggi dibandingkan pada musim kemarau. Hal ini disebabkan kadar air dalam bahan
cukup tinggi untuk pertumbuhan kapang. Keadaan akan diperparah dengan adanya serangga
dan organisme perusak bahan. Yodgiri dan Reddy (1976), menyebutkan bahwa aflatoksin
paling cepat dihasilkan pada jagung yang dipanen di musim hujan dan keadaan ditambah oleh
adanya serangga dan organisme lain perusak jagung.
2. Antibiotik
Istilah antibiotik diciptakan dari kata 'antibiosis' yang berarti 'menentang kehidupan'.
Di masa lalu, antibiotik dianggap senyawa organik yang diproduksi oleh satu mikroorganisme
yang beracun bagi yang lain mikroorganisme (Russell, 2004). Sebagai akibatnya antibiotik
pada awalnya didefinisikan sebagai zat, diproduksi oleh satu mikroorganisme (Denyer, dkk.,
2004), atau asal biologis (Schlegel, 2003) yang di konsentrasi rendah dapat menghambat
pertumbuhan, atau mematikan untuk mikroorganisme lain (Russell, 2004).
Antibiotik merupakan bahan kimiawi yang dihasilkan oleh organisme seperti bakteri
dan jamur, yang dapat mengganggu mikroorganisme lain. Biasanya bahan ini dapat membunuh
bakteri (bakterisidal) atau menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) atau
mikroorganisme lain. Beberapa antibiotik bersifat aktif terhadap beberapa spesies bakteri
(berspektrum luas) sedangkan antibiotik lain bersifat lebih spesifik terhadap spesies bakteri
tertentu (berspektrum sempit) (Bezoen, dkk., 2001).
Ada beberapa cara mengklasifikasikan antibiotik tetapi skema klasifikasi yang paling
umum didasarkan pada struktur molekul, cara kerja dan spektrum aktivitas (Calderon &
Sabundayo, 2007). Beberapa pengelompokkan umum antibiotik berdasarkan struktur kimia
atau molekul termasuk Beta-laktam, Makrolida, Tetrasiklin, Kuinolon, Aminoglikosida,
Sulphonamides, Glycopeptides dan Oxazolidinones (van Hoek, dkk., 2011; Frank &
Tacconelli, 2012; Adzitey, 2015).
Penicillin
Pada bulan September 1928, Sir Alexander Fleming menemukan aktivitas antimikroba
yang dihasilkan oleh jamur yang mengkontaminasi kultur cawan petri Staphylococcus sp.
Fleming awalnya mengidentifikasi antibakteri yang diamati sebagai Penicillium rubrum
(Fleming, 1929). Meskipun Fleming mencoba memurnikan antibiotik, ia tidak berhasil karena
ketidakstabilan penisilinnamun kemudian isolat Fleming diidentifikasi sebagai Penicillium
notatum dan senyawa aktif yang menghambat pertumbuhan bakteri disebut sebagai penicillin
(Clutterback, 1907).
Macam-macam Penicillin antara lain Penicillin G, Penicillin V, Oxacillin
(dicloxacillin), Meticicin, Nafcillin, Ampisilin, Amoksisilin, Carbenicilin, Piperacillin,
Mezlocillin dan Ticarcillin. Meskipun Penicillin G pada awalnya ditemukan dan diisolasi dari
jamur P. notatum oleh Alexander Flemming, Penicilliun chrysogenum lebih sering menjadi
pilihan untuk mengisolasi Penicillin. Karena dapat memproduksi melalui fermentasi mikroba
biokimia lebih efektif dibandingkan dengan mensintesisnya dari mentah bahan (Talaro &
Catur, 2008). Penicillin G bersifat sebagai antibiotik hanya pada bakteri gram positif
(streptococus) dan beberapa bakteri Gram-negatif seperti Treponema yang merupakan
penyebab pallidum untuk sifilis dan meningococus (Talaro & Catur, 2008).
Cephalosporin
Anggota kelompok antibiotik ini mirip dengan penisilin dalam struktur dan cara
kerjanya (Talaro dan Catur, 2008). Anggota antibiotik pertama kali diisolasi oleh Guiseppe
Brotzu pada 1945 dari jamur Cephalosporium acremonium. Sefalosporin digunakan dalam
pengobatan infeksi bakteri dan penyakit yang timbul dari penghasil Penicillinase, rentan
terhadap methicillin Staphylococci dan Streptococci, Proteus mirabilis, beberapa Escherichia
coli, Klebsiella pneumonia, Haemophilus influenza, Enterobacter aerogenes dan beberapa
Neisseria (Pegler & Healy, 2007). Senyawa ini efektif melawan pathogen gram-negatif
(Abraham, 1987).
Selain itu ada mikroba lain penghasil antibiotik yaitu Actinomycetes. Streptomyces spp.
merupakan salah satu genus Actinomycetes yang paling potensial memproduksi berbagai
antibiotik yang ada di pasaran (Nakashima, 2005). Baltz menganalisis bahwa terdapat 10.000
strain Actinomycetes yang dapat menghasilkan 2.500 antibiotik (Clardy, dkk., 2006).
Actinomycetes dapat tumbuh dengan baik dan terdistribusi luas di tanah maupun air, mikroba
ini terbukti memiliki kemampuan untuk melawan bakteri yang telah resistan (Nedialkova, dkk.,
2005; Sharma, 2011).

DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology. 5th ed. Academic Press. California
Bennett, J.W. & Klich, M. 2003. Mycotoxins. Clinical Microbiology Review, Vol.16,
pp. 497–516.
Peraica, M., Radic, M., Lucic, A., & Pavlovic, M. , 1999. Toxic effects of
mycotoxins in humans. Bulletin of the World Health Organization, 77 (9).
Pitt, J. I., 2000. Toxigenic fungi and mycotoxins. British Medical Bulletin 56, 184-
192.
Reddy, S. V., Mayi, D. K., Reddy, M. U., Thirumala-Devi, K., Reddy, D.V.R. 1976.
Aflatoxin B1 in different grades of chillies (Capsicum annum L.) in India as
determined by indirect competitive-ELISA. Food Additives and
Contaminants 18, 553-558.
Richard, J.L. 2007. Some major mycotoxins and their mycotoxicoses- An overview.
International Journal of Food Microbiology, Vol. 119, pp. 3–10.
Syarief, R., Nurwitri, C.C., 1992. Buku dan Monograf Mikotoksin Bahan Pangan. Lab.
Mikrobiologi Pangan, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, IPB Bogor.
Abraham E. 1987. Cephalosporins. Drugs, 4 (2):1-4
Adzitey, F. 2015. Antibiotic Classes and Antibiotic Susceptibility of Bacterial Isolates
From Selected Poultry; A Mini Review. World Vet. J. 5 (3):36-41
Bezoen, A., van Haren, W. & Hanekamp, J.C. 2001. Antibiotics : Use and Resistance
Mechanisms. Human Health and Antibiotic Growth Promoters (AGPs),
Geidelberg Appeal Nederland
Clardy, dkk. 2006. New Antibiotics from Bacterial Natural Products. Nature Publishing
Group.
Clutterbuck, P. W. , Lovell R, Raistrick H. Studies In The Biochemistry Of The
Microorganisms. 1932. The Formation From Glucose By Members Of The
Penicillium Chrysogenum Species Of A Pigment, An Alkali Soluble Protein And
Penicillin. The Antibacterial Substance Of Fleming: Biochem J. 26:1907–18
Denyer S. P., Hodges N. A. & German S. P. 2004. Introduction to pharmaceutical
microbiology. In: Denyer SP, Hodges NA & German SP (eds.) Hugo and
Russell‟s Pharmaceutical Microbiology. 7th Ed. Blackwell Science, UK. Pp. 3-8
Fleming, A. 1929. On The Antibacterial Action of a Penicillium With Special Reference
To Their Use in The Isolation of B. Infl uenzae . Br J Exp Pathol. 10 (2): 26–36
Frank, U. & Tacconelli, E. 2012. The Daschner Guide to In-Hopsital Antibiotic Therapy.
European standards.
Nakashima, N. 2005 Actinomycetes as Host Cells for Production of Recombinant
Proteins. Microbial Cell Factories, 4:7.
Pegler, S. & Healy, B. 2007. In Patients Allergic To Penicillin, Consider Second and
Third Generation Cephalosporins For Life Threatening Infections. BMJ.
335(7627): 991
Russell A. D. 2004. Types of antibiotics and synthetic antimicrobial agents. In: Denyer
S. P., Hodges N. A. & German S. P. (eds.) Hugo and Russell‟s pharmaceutical
microbiology. 7th Ed. Blackwell Science, UK. Pp. 152-186
Schlegel, H. G. 2003. General microbiology. 7th Ed. Cambridge: Cambridge University
Press
Sharma, D. 2011. Antimicrobial Activity of Actinomycetes Against Multidrug Resistant
Staphylococcus aureus, E. Coli and Various Other Pathogens. Tropical Journal
of Pharmaceutical Research, 10 (6): 801-808.
Talaro, K. P. & Chess, B. 2008. Foundations in microbiology: 8th Ed. New York:
McGraw Hill.
Van Hoek A. H. A. M., Mevius D., Guerra B., Mullany P., Roberts A. P. & Aarts H. J.
M. 2011. Acquired Antibiotic Resistance Genes: An Overview. Microbiol. 2:20.