Anda di halaman 1dari 96

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang paling sering


ditemui di negara berkembang seperti Indonesia. Diare dapat diderita oleh semua
umur, terutama anak-anak dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi.
Diare didefinisikan sebagai tinja dengan peningkatan kadar air, volume, atau
frekuensi.1 Saat menderita diare, seseorang dapat buang air besar (BAB) yang
encer atau bahkan cair, tiga kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering dari
frekuensi yang normal pada individu tersebut.2,3 Diare yang berlangsung terus
menerus akan mengakibatkan seseorang kehilangan cairan, dehidrasi berat hingga
kematian.4
Diare menjadi penyebab kematian kedua dari seluruh kematian pada anak
di bawah 5 tahun setelah Pneumonia.4 Tercatat sebanyak 8% kematian anak di
dunia pada tahun 2016, dapat diestimasikan bahwa lebih dari 1300 anak yang
berusia di bawah 5 tahun meninggal karena diare setiap harinya, atau sekitar
480.000 pada tahun 2016 meningkat menjadi 525.000 pada tahun 2017.4,5
Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari Departemen
Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan Amerika Serikat, sekitar 2.195 anak
meninggal setiap harinya akibat diare dan 801.000 setiap tahunnya.6
Secara global, terdapat hampir 1.7 miliar kasus penyakit diare terjadi pada
masa kanak-kanak setiap tahunnya.2 Prevalensi diare di Indonesia juga cukup
tinggi dan setiap tahunnya di berbagai provinsi penurunan diare tidak mencapai
target. Bersadarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi
nasional diare mencapai 9%, Sumatera Barat memiliki prevalensi diatas angka
nasional yaitu 9,2 %. Pada tahun 2013 angka nasional diare turun menjadi 6%
namun kembali meningkat di 2018 yaitu 8%.7 Prevalensi di provinsi Sumatera
Barat pada tahun 2013 sebesar 5 % dan pada 2018 kembali naik yaitu 8%.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Padang pada tahun 2016 sebanyak
9213 kasus diare terjadi dan menurun pada tahunn 2017 yaitu 7800 kasus.
dilaporkan 14 kasus kematian disebabkan oleh diare.8 Merujuk dari laporan

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 1


tahunan Puskesmas Ambacang tahun 2018 diare menjadi jenis penyakit
pada program P2P terbanyak dengan 266 kasus. Prevalensi kejadian di Pasar
Ambacang yaitu 131 kasus, Anduring 70 kasus, Lubuk Lintah 54 kasus, dan
Ampang 11 kasus.
Diare merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati.2 Salah satu
pencegahan diare adalah mengendalikan faktor terkait. Di negara-negara
berkembang, penyebab infeksius dari diare berhubungan dengan makanan dan
sumber air yang terkontaminasi.1 CDC juga mengemukakan bahwa 88% kematian
yang terkait diare disebabkan sumber air yang tidak aman, sanitasi dan higiene
yang tidak adekuat. Penyebaran kuman penyebab diare terjadi secara fekal-oral
melalui kontaminasi air, makanan, dan benda-benda lainnya. Kontaminasi
tersebut dapat terjadi melalui banyak cara, seperti kebiasaan masyarakat atau
binatang yang defekasi di sumber air minum atau didekatnya,air yang
terkontaminasi digunakan untuk mengirigasi tanaman atau sayuran, kurangya
kebersihan pada saat mempersiapkan makanan (tidak cuci tangan, alat memasak
dan alat makan yang tidak bersih).6
Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2007 menunjukkan jika
setiap anggota keluarga dalam suatu komunitas melakukan 5 pilar STBM akan
dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 94%. Pendekatan Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM) memiliki 5 pilar yaitu stop BAB sembarangan,
cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, pengelolaan
sampah, dan pengelolaan limbah cair. Proporsi perilaku Buang Air Besar (BAB)
di Jamban di kota padang masih tergolong rendah. Pada tahun 2017, Sekitar 11
kecamatan yang masih memiliki prilaku Open Defecation Free (ODF) meskipun
akses sarana sanitasi sudah 100%. sekitar 29 kelurahan terkendala karena
memiliki akses yang rendah. Berdasarkan laporan di Puskesmas Kuranji tahun
20018 terdapat 1974 KK yang bermasalah terhadap akses atau menggunakan
jamban sehat, terbanyak di kelurahan pasar ambacang sebanyak 674 KK
bermasalah.9
Perilaku BABS yang selama ini kerap menjadi polemik penyebab diare di
tengah masyarakat khususnya di wilayah kerja Puskesmas Ambacang harus
menjadi perhatian tenaga kesehatan. Upaya penegakan STBM melalui pilar-

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 2


pilarnya sangatlah diperlukan.. Maka dari itu, sosialisasi dan pemicuan mengenai
menggunakan jamban sehat diharapkan mampu menginisiasi masyarakat dalam
perilaku sehat sehingga diharapkan dapat menekan dan menurunkan angka diare
di wilayah kerja Puskesmas Ambacang.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa saja penyebab tingginya kejadian diare di wilayah kerja puskesmas
Ambacang ?
1.2.2 Bagaimana penanggulangan masalah tersebut yang memungkinkan
dapat dilakukan oleh puskesmas ambacang?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Melakukan upaya penanggulangan diare di wilayah puskesmas ambacang
tahun 2019
1.3.2.Tujuan khusus
1. mengetahui penyebab tingginya diare di wilayah kerja puskesmas
ambacang
2. mengetahui cara penanggulangan masalah yang memungkinkan dapat
dilakukan oleh puskesmas ambacang
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Puskesmas
1. sebagai salah satu bahan masukan dan inovasi untuk puskesmas ambacang
dalam pelaksanaan program-program
2. memberikan gambaran informasi yang ada di wilayah kerja puskesmas
ambacang tentang keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat individu,
sehingga dalam pelayanan lebih baik.
1.4.2 Masyarakat
1. memberikan amban percontohan untuk masyarakat diwilayah kerja
puskesmas ambacang
2. masyarakat sadar hidup sehat
3. masyarakat berperan aktif dalam mencegah penyakit khususnya penyakit
berbasis lingkungan.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 3


1.4.3 Penulis
1. Memperoleh pengalaman dalam mengidentifikasi masalah kesehatan,
menentukan prioritas masalah serta mencarikan solusi dan pencegahan yang dapat
diterapkan diwilayah puskesmas ambacang
2. Mengetahui masalah-masalah beserta penyebab yang berkaitan denan
kesehatan masyarakat dipuskesmas.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 4


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diare

2.1.1 Definisi
Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan
konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja, frekuensi lebih
sering (lebih dari 3 kali) dalam satu hari.10
Menurut WHO 2009 diare adalah suatu keadaan buang air besar
dengan konsistensi lembek hingga cair dan frekuensi lebih dari 3 kali sehari.
Diare akut berlangsung 3-7 hari, sedangkan diare persisten terjadi selama ≥14
hari.4
Berdasarkan World Gastroenterology Organization Globals Guideline
tahun 2012 diare akut adalah keadaan tinja yang cair atau lembek dengan
jumlah lebih banyak dari normal, dan berlangsung kurang dari 14 hari
sedangkan diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.11

2.1.2 Etiologi
Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines,
etiologi diare yaitu :
a. Infeksi10
- Bakteri : Shigella sp., Escherichia coli., Vibrio sp., Salmonella sp.,
Bacillus cereus, Campylobacter jejuni, Staphylococcus auerus,
Klebsiella sp., Clostridium perfringens.
- Virus : Rotavirus, Adennovirus, Norwalk virus, astrovirus,
Coronavirus, Echovirus
- Parasit-Protozoa : Entamoeba histolytica, Giardia Lamblia,
Balantidium coli, Cryptosporidium parvum.
- Cacing : Ascaris sp., Trichuris sp., Strongyloides stercoralis.
- Jamur : Candida sp.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 5


b. Non infeksi : Malabsorpsi (intoleransi laktosa), keracunan makanan,
alergi (susu sapi dan protein kedelai ),efek obat-obatan
dan sebab lain.10
Penyebab diare terbanyak pada anak di bawah 5 tahun pada negara
berkembang adalah rotavirus (grup A), astrovirus, adenovirus serotype 40 dan
41.6 Bakteri penyebab diare terbanyak yaitu Enteropathogenic Escherichia coli
dan Enterotoxigenic Escherichia coli yang menyebabkan acute watery diarrhea.7
Shigella sp. dan Entamoeba histolytica merupakan penyebab terbanyak dari acute
bloody diarrhea (disentri), Campylobacter sp., invasive Escherichia coli,
Salmonella sp. dan Yersinia sp. juga dapat menyebabkan disentri.10

2.1.3 Epidemiologi
Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia
dengan prevalensi yang cenderung meningkat, dari data Riskesdas tahunnjhmb
2018 ditemukan prevalensi diare di masyarakat Indonesia sebesar 6,8% dan tahun
2013 sebesar 4,5%. Untuk prevalensi balita yang terdiagnosis diare sebesar 11%.7
Penyakit diare masih menjadi salah satu dari 10 penyakit terbanyak di
Sumatra Barat, dengan jumlah kasus pada tahun 2017 sebanyak 62.886 kasus
(3,5%).2 Penemuan kasus diare di kota Padang sebanyak 7.800 kasus untuk semua
umur dengan jumlah kasus diare pada balita sebanyak 2.253 kasus.8
Kasus diare di puskesmas Ambacang tahun 2018 ditemukan sebanyak 266
kasus dengan 131 kasus di kelurahan Pasar Ambacang, 70 kasus di kelurahan
Anduring, 54 kasus di kelurahan Lubuk Lintah dan 11 kasus di kelurahan
Ampang.9

2.1.4 Klasifikasi
Terdapat beberapa pembagian diare yaitu:12,13
1. Berdasarkan lama kejadian diare:
a. Diare akut: diare yang berlangsung <14 hari
b. Diare kronik: diare yang berlangsung berlangsung >14 hari
2. Berdasarkan mekanisme patofisiologi:

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 6


a. Diare sekretorik: terjadinya sekresi air dan elektrolit ke usus
halus akibat gangguan absorbsi natrium oleh villus saluran
cerna, sedangkan sekresi klorida tetap atau meningkat.
b. Diare osmotik: perbedaan tekanan osmosis antara lumen usus
dan darah, pada segmen jejunum yang permeabel air akan
masuk ke jejunum sehingga terkumpulnya air yang lebih banyak
di lumen usus.
3. Berdasarkan derajat dehidrasi:
a. Diare tanpa dehidrasi (kehilangan cairan <5% berat badan), tidak
ditemukannya tanda-tanda dehidrasi.
b. Diare dengan dehidrasi ringan-sedang (kehilangan cairan 5-10%
berat badan), ditemukan dua atau lebih tanda-tanda berikut:
- Rewel, gelisah, cengeng
- Ubun-ubun besar, mata sedikit cekung
- Tampak kehausan, minum lahap
- Turgor kembali lambat
c. Diare dengan dehidrasi berat (kehilangan cairan >10% berat
badan), ditemukan dua atau lebih tanda berikut:
- Kondisi umum lemah, letargis/tidak sadar
- Ubun-ubun besar, mata sangat cekung
- Malas minum/tidak dapat minum
- Turgor kembali sangat lambat

2.1.5 Patogenesis Diare


Terdapat beberapa pembagian diare yaitu:14,15
1. Berdasarkan lama kejadian diare:
a. Diare akut: diare yang berlangsung <14 hari
b. Diare kronik: diare yang berlangsung berlangsung >14 hari
2. Berdasarkan mekanisme patofisiologi:
a. Diare sekretorik: terjadinya sekresi air dan elektrolit ke usus
halus akibat gangguan absorbsi natrium oleh villus saluran
cerna, sedangkan sekresi klorida tetap atau meningkat.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 7


b. Diare osmotik: perbedaan tekanan osmosis antara lumen usus
dan darah, pada segmen jejunum yang permeabel air akan
masuk ke jejunum sehingga terkumpulnya air yang lebih banyak
di lumen usus.
3. Berdasarkan derajat dehidrasi:
a. Diare tanpa dehidrasi (kehilangan cairan <5% berat badan), tidak
ditemukannya tanda-tanda dehidrasi.
b. Diare dengan dehidrasi ringan-sedang (kehilangan cairan 5-10%
berat badan), ditemukan dua atau lebih tanda-tanda berikut:
- Rewel, gelisah, cengeng
- Ubun-ubun besar, mata sedikit cekung
- Tampak kehausan, minum lahap
- Turgor kembali lambat
c. Diare dengan dehidrasi berat (kehilangan cairan >10% berat
badan), ditemukan dua atau lebih tanda berikut:
- Kondisi umum lemah, letargis/tidak sadar
- Ubun-ubun besar, mata sangat cekung
- Malas minum/tidak dapat minum
- Turgor kembali sangat lambat

2.1.5.1 Gangguan Absorpsi atau Diare Osmotik


Secara umum terjadi penurunan fungsi absorpsi oleh berbagai sebab
seperti celiac sprue, atau karena:
a. Mengkonsumsi magnesium hidroksida
b. Defisiensi sukrase-isomaltase adanya laktase defisien pada anak yang
lebih besar
c. Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal
pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertonis dan
menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmolaritas
antara lumen usus dan darah maka pada segmen usus jejenum yang
bersifat permeabel, air akan mengalir ke arah lumen jejenum, sehingga air
akan banyak terkumpul air dalam lumen usus. Natrium akan mengikuti

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 8


masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan
intraluminal yang besar dengan kadar natrium yang normal. Sebagian kecil
cairan ini akan diabsorpsi kembali, akan tetapi lainnya akan tetap tinggal
di lumen oleh karena ada bahan yang tidak dapat diserap seperti
magnesium, glukosa, sukrosa, laktosa, dan maltosa di segmen illeum dan
melebihi kemampuan absorpsi kolon, sehingga terjadi diare. Bahan-bahan
seperti karbohidrat dari jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol
dalam jumlah berlebihan, akan memberikan dampak yang sama.16

2.1.5.2 Malabsorpsi Umum


Keadaan seperti short bowel syndrom, zat-zat protein, peptida, tepung,
asam amino dan monosakarida mempunyai peran pada gerakan osmotik lumen
usus. Kerusakan sel dapat disebabkan virus atau kuman, seperti Salmonella,
Shigella atau Campylobacter. Sel tersebut juga dapat rusak karena inflammatory
bowel disease idiopatik, akibat toksin atau obat-obat tertentu. Gambaran
karakteristik penyakit yang menyebabkan malabsorbsi usus halus adalah atropi
villi. Lebih lanjut, mikororganisme tertentu bisa menyebabkan malabsorbsi
nutrien dengan merubah faal membran brush border tanpa merusak susunan
anatomi mukosa. Maldigesti protein lengkap, karbohidrat, dan trigliserida
diakibatkan insufisiensi eksokrin pankreas menyebabkan malabsorbsi yang
signifikan dan mengakibatkan diare osmotik.16
Steatorea berbeda dengan malabsorpsi protein dan karbohidrat dengan
asam lemak rantai panjang intraluminal, tidak hanya menyebabkan diare osmotik,
tetapi juga menyebabkan pacuan sekresi klorida sehingga diare tersebut dapat
disebabkan malabsorpsi karbohidrat oleh karena kerusakan difus mukosa usus,
defisiensi sukrosa, isomaltosa dan defisiensi kongenital laktase, pemberian obat
pencahar; laktulose, pemberian Mg hydroxide (misalnya susu Mg), malabsorpsi
karbohidrat yang berlebihan pada hipermotilitas pada kolon iritabel. Mendapat
cairan hipertonis dalam jumlah besar dan cepat, menyebabkan kekambuhan diare.
Pemberian makan/minum yang tinggi KH, setelah mengalami diare, menyebabkan
kekambuhan diare. Infeksi virus yang menyebabkan kerusakan mukosa sehingga

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 9


menyebabkan gangguan sekresi enzim laktase, menyebabkan gangguan absorpsi
nutrisi laktosa.16

2.1.5.3 Gangguan Sekresi


Teoritis adanya hiperplasia kripta akibat penyakit apapun, dapat
menyebabkan sekresi intestinal dan diare. Pada umumnya penyakit ini
menyebabkan atrofi vili. Dikenal 2 bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu
enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia,
garam empedu bentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang. Bahan laksatif
bisa menyebabkan sekresi intestinal. Penyakit malabsorpsi seperti reseksi ileum
dan penyakit Crohn dapat menyebabkan kelainan sekresi seperti menyebabkan
peningkatan konsentrasi garam empedu, lemak.16
Diare sekretorik pada anak-anak di negara berkembang, umumnya
disebabkan enterotoksin E coli atau Cholera. Berbeda dengan negara berkembang,
di negara maju, diare sekretorik jarang ditemukan, apabila ada kemungkinan
disebabkan obat atau tumor seperti ganglioneuroma atau neuroblastoma yang
menghasilkan hormon seperti VIP. Pada orang dewasa, diare sekretorik berat
disebabkan neoplasma pankreas, sel non-beta yang menghasilkan VIP,
Polipeptida pankreas, hormon sekretorik lainnya (sindroma watery diarrhea
hypokalemia achlorhydria (WDHA). Diare yang disebabkan tumor ini termasuk
jarang. Semua kelainan mukosa usus, berakibat sekresi air dan mineral berlebihan
pada vilus dan kripta serta semua enterosit terlibat dan dapat terjadi mukosa usus
dalam keadaan normal.16

2.1.5.4 Diare akibat Gangguan Peristaltik


Meskipun motilitas jarang menjadi penyebab utama malabsorbsi, tetapi
perubahan motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi. Baik peningkatan
ataupun penurunan motilitas, keduanya dapat menyebabkan diare. Penurunan
motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh lampau yang menyebabkan diare.
Perlambatan transit obat-obatan atau nutrisi akan meningkatkan absorbsi.
Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan stasis intestinal berakibat
inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan malabsorbsi. Diare akibat

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 10


hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Diare yang sangat cair dapat disebabkan
karena hipermotilitas pada kasus kolon iritabel pada bayi. Gangguan motilitas
mungkin merupakan penyebab diare pada thyrotoksikosis, malabsorbsi asam
empedu dan berbagai penyakit lain.16

2.1.5.5 Diare Inflamasi


Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada
beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction,
tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air,
elektrolit, mukus, protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih
menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan
tipe diare lain seperti diare osmotik dan diare sekretorik.16
Bakteri enteral patogen akan mempengaruhi struktur dan fungsi tight
junction, menginduksi sekresi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan
kaskade inflamasi. Efek infeksi bakterial pada tight junction akan mempengaruhi
susunan anatomis dan fungsi absorpsi yaitu cytoskeleton dan perubahan susunan
protein. Penelitian oleh Berkes J dkk pada tahun 2003 menunjukkan bahwa
peranan bakteri enteral patogen pada diare terletak pada perubahan barrier tight
junction oleh toksin atau produk kuman yaitu perubahan pada cellular
cytoskeleton dan spesifik tight junction. Pengaruh itu bisa pada kedua komponen
tersebut atau salah satu komponen saja sehingga akan menyebabkan hipersekresi
chlorida yang akan diikuti natrium dan air. Sebagai contoh C. difficile akan
menginduksi kerusakan cytoskeleton maupun protein, Bacteroides fragilis
menyebabkan degradasi proteolitik protein tight junction, V cholera
mempengaruhi distribusi protein tight junction, sedangkan EPEC menyebabkan
akumulasi protein cytoskeleton.!6

2.1.5.6 Diare terkait Imunologi


Diare terkait imunologi dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe I,
III dan IV. Reaksi tipe I yaitu terjadi reaksi antara sel mast dengan IgE dan
alergen makanan. Reaksi tipe III misalnya pada penyakit gastroenteropati,
sedangkan reaksi tipe IV terdapat pada coeliac disease dan protein loss

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 11


enteropaties. Pada reaksi tipe I, alergen yang masuk tubuh menimbulkan respon
imun dengan dibentuknya IgE yang selanjutnya akan diikat oleh reseptor spesifik
pada permukaan sel mast dan basofil. Bila terjadi aktivasi akibat pajanan berulang
dengan antigen yang spesifik, sel mast akan melepaskan mediator seperti
histamin, ECF-A, PAF, SRA-A dan prostaglandin. Pada reaksi tipe III terjadi
reaksi komplek antigen-antibodi dalam jaringan atau pembuluh darah yang
mengaktifkan komplemen. Komplemen yang diaktifkan kemudian melepaskan
Macrophage Chemotactic Factor yang akan merangsang sel mast dan basofil
melepas berbagai mediator. Pada reaksi tipe IV terjadi respon imun seluler, disini
tidak terdapat peran antibodi. Antigen dari luar dipresentasikan sel APC ke sel
Th1 yang MHC-II dependen. Terjadi pelepasan berbagai sitokin seperti MIF,
MAF dan IFN-γ oleh Th1. Sitokin tersebut akan mengaktifasi makrofag dan
menimbulkan kerusakan jaringan. Berbagai mediator ini akan menyebabkan luas
permukaan mukosa berkurang akibat kerusakan jaringan, merangsang sekresi
klorida diikuti oleh natrium dan air.16

2.1.6 Manifestasi Klinis Diare


Anamnesis pasien mengenai durasi gejala dan gejala-gejala penyerta,
adanya riwayat bepergian sebelumnya, dan bagaimana riwayat pengobatan dan
makanan yang sudah dikonsumsi pasien. Penting juga untuk menanyakan
mengenai frekuensi buang air besarnya, jenis dan volume feses serta bila disertai
darah atau lender. Pasien dengan diare juga biasanya mengeluhkan nyeri atau
kram perut, muntah, demam, dan feses berlendir atau berdarah. Saat pemeriksaan
fisik, periksalah tanda-tanda vital dan lakukan pemeriksaan abdomen. Bila
ditemukan membran mukosa yang kering, turgor kulit kembali lambat, dan CRT
lebih dari dua detik adalah tanda-tanda dari dehidrasi. Riwayat anamnesis yang
menyeluruh dan pemeriksaan fisik yang baik bisa menentukan diagnosis kerja.17
Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala
lainnya bila terjadi komplikasi ekstra intestinal termasuk manifestasi neurologik.
Gejala gastrointestinal bisa berupa diare, kram perut dan muntah. Sedangkan
manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya. Penderita dengan
diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium, klorida,

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 12


dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan
kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan
dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan
yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps
kardiovaskuler dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang
terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi
hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya
bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang atau dehidrasi berat.16
Infeksi ekstraintestinal yang berkaitan dengan bakteri enterik patogen
antara lain: vulvovaginitis, infeksi saluran kemih, endokarditis, osteomielitis,
meningitis, pneumonia, hepatitis, peritonitis dan septik trombophlebitis. Gejala
neurologik dari infeksi usus bisa berupa paresthesia (akibat makan ikan, kerang,
monosodium glutamat) hipotoni dan kelemahan otot (C. botulinum). Bila terdapat
panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat dehidrasi. Panas badan
umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih
hebat dan tenesmus yang terjadi pada perut bagian bawah serta rektum
menunjukkan terkenanya usus besar. Mual dan muntah adalah gejala non-spesifik
akan tetapi muntah mungkin disebabkan oleh karena organisme yang menginfeksi
saluran cerna bagian atas seperti: enterik virus, bakteri yang memproduksi
enterotoksin, Giardia, dan Cryptosporidium. Muntah juga sering terjadi pada non
inflammatory diare. Biasanya penderita tidak panas atau hanya subfebris, nyeri
perut periumbilikal tidak berat, watery diare, menunjukkan bahwa saluran cerna
bagian atas yang terkena. Oleh karena pasien immunocompromise memerlukan
perhatian khusus, informasi tentang adanya imunodefisiensi atau penyakit kronis
sangat penting.!6

2.1.7 Diagnosis Diare


Biasanya pasien dengan diare akut karena penyakitnya yang self-limited,
tidak terlalu memerlukan pemeriksaan laboratorium atau pencitraan. Kultur feses
biasanya dilakukan pada pasien dengan diare berdarah atau adanya penyakit berat
yang bertujuan untuk menyingkirkan penyebab oleh bakteri. Pasien dengan
riwayat penggunaan antibiotik baru-baru ini atau riwayat dirawat di rumah sakit

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 13


memerlukan pemeriksaan infeksi Clostridium difficile. Pemeriksaan pencitraan
seperti CT abdomen bisa dilakukan bila pasien juga muncul dengan gejala
peritoneal yang signifikan. Pemeriksaan laboratorium yang bisa dilakukan adalah
darah lengkap dan feses rutin.16

2.1.8 Tatalaksana Diare


Terdapat 5 langkah pemberantasan diare :
1. Terapi cairan dan elektrolit
Tatalaksana utama dapat dilakukan dengan cara
pemberian rehidrasi oral rehidration atau memperbanyak intake
cairan seperti air mineral, sup atau jus buah, dengan tujuan
untuk mengembalikan komposisi cairan dan elektrolit tubuh
yang sebelumnya mengalami dehidrasi akibat diare.1

Diet merupakan prioritas utama dalam penanganan


diare. Menghentikan konsumsi makanan padat dan susu perlu
dilakukan. Rehidrasi dan maintenance air dan elektrolit
merupakan terapi utama yang harus dilakukan hingga episode
diare berakhir. Jika pasien kehilangan banyak cairan, rehidrasi
harus ditujukan untuk menggantikan air dan elektrolit untuk
komposisi tubuh normal. Sedangkan pada pasien yang tidak
mengalami deplesi volume, pemberian cairan bertujuan untuk
pemeliharaan cairan dan elektrolit. Pemberian cairan parenteral
perlu dilakukan untuk memasok air dan elektrolit jika pasien
mengalami muntah dan dehidrasi berat, selain untuk mencegah
terjadinya hipernatremia.
1. minum dan makan secara normal.
2. untuk bayi dan balita, teruskan minum ASI
3. banyak mengonsumsi garam oralit
4. banyak makan buah dan umbi-umbian, seperti pisang, apel,
pear, kentang, dll.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 14


5. sebaiknya hindari makan makanan pedas dan asam serta
makanan dan minuman penyebab terjadinya diare tersebut.
Oral rehydration solution (ORS) atau oralit digunakan
pada kasus diare ringan sampai sedang. Rehidrasi dengan
menggunakan ORS harus dilakukan secepatnya yaitu 3-4 jam
untuk menggantikan cairan serta elektrolit yang hilang selama
diare untuk mencegah adanya dehidrasi. Cara kerja dari ORS
adalah dengan menggantikan cairan serta elektrolit tubuh yang
hilang karena diare dan muntah, namun ORS tidak
untukmengobati gejala diare.17,19
ORS mengandung beberapa komponen yaitu Natrium
dan kalium yang berfungsi sebagai pengganti ion essensial,
sitrat atau bicarbonate yang berfungsi untuk memperbaiki
keseimbangan asam basa tubuh serta glukosa digunakan
sebagai sebagai carrier pada transport ion natrium dan air
untuk melewati mukosa pada usus halus.Komposisi ORS yang
direkomendasikan oleh WHO yaitu adalah komponen natrium
75 mmol/L dan glukosa 200 mmol/L.19
Dalam 1 sachet ORS serbuk harus dilarutkan dengan
menggunakan 200mL air. Penting sekali untuk membuat
larutan ORS sesuai dengan volume yang direkomendasikan,
sebab apabila terlalu pekat konsentrasinya, maka larutan akan
mengalami hiperosmolar, dan dapat menyebabkan penarikan
air pada usus halus sehingga dapat memperparah diarenya.
Larutan ORS yang telah dilarutkan tersebut sebaiknya
digunakan tidak lebih dari 24 jam dan disimpan di dalam
lemari es. Dosis ORS yang direkomendasikan untuk orang
dewasa adalah 200-400 mL diminum tiap setelah buang air
besar, atau 2-4 liter selama 4-6 jam.19

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 15


Cara membuat Oralit20 :
1. Cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air hingga bersih
2. Sediakan 1 gelas air minum (200 mL)
3. Pastikan oralit dalam keadaan bubuk kering
4. Masukkan 1 bungkus oralit ke dalam air minum di gelas
5. Aduk cairan oralit sampai larut
6. Larutan oralit jangan disimpan lebih dari 24 jam

Berikut adalah beberapa produk ORS :

Gambar 2.1 Produk ORS

2. Manajemen Diet
Saat mengalami diare, umumnya pasien menahan untuk
tidak makan dikarenakan khawatir diare yang dialami akan
bertambah parah. Hal tersebut justru memperparah keadaan
pasien, sebab pada saat yang sama pasien juga mengalami
malabsorbsi nutrisi. Oleh karena itu, pasien dianjurkan makan
tetap seperti biasa, namun sedapat mungkin menghindari
makanan berlemak dan makanan dengan kadar gula yang tinggi
karena akan dapat menimbulkan diare osmotik, serta dihindari
pula makanan pedas karena akan mengganggu saluran cerna
seperti timbul rasa mulas dan kembung pada perut. Perlu
dihindari juga minuman yang mengandung kafein, karena

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 16


kafein dapat meningkatkan siklik AMP sehingga berakibat
pada peningkatan sekresi cairan
ke saluran cerna, hal ini dapat memperparah diare. Pasien
dianjurkan untuk banyak minum air putih, dan jika diperlukan
dapat disertai pemberian ORS.18

2.1.9 Komplikasi Hepatitis B


Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan
komplikasi utama, terutama pada lanjut usia dan anak-anak. Pada
diare akut karena kolera, kehilangan cairan terjadisecara mendadak
sehingga cepat terjadi syok hipovolemik. Kehilangan elektrolit
melaluifeses dapat mengarah terjadinya hipokalemia dan asidosis
metabolik. Pada kasus-kasus yang terlambat mendapat pertolongan
medis, syok hipovolemik sudah tidak dapat diatasi lagi, dapat timbul
nekrosis tubular akut ginjal dan selanjutnya terjadi gagal multi organ.
Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan
tidak adekuat, sehingga rehidrasi optimal tidak tercapai.
Komplikasi paling penting walaupun jarang diantaranya yaitu:
hipernatremia, hiponatremia, demam, edema/overhidrasi, asidosis,
hipokalemia, ileus paralitikus, kejang, intoleransi laktosa,
malabsorpsi glukosa, muntah, gagal ginjal.
Haemolityc Uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi
terutama oleh EHEC(Enterohemorrhagic E. Coli). Pasien HUS
menderita gagal ginjal, anemia hemolisis, dan trombositopeni 12-14
hari setelah diare. Risiko HUS meningkat setelah infeksi EHEC
dengan penggunaan obat anti-diare, tetapi hubungannya dengan
penggunaan antibiotik masih kontroversial.20
Sindrom Guillain – Barre, suatu polineuropati demielinisasi
akut, merupakan komplikasipotensial lain, khususnya setelah infeksi
C. jejuni; 20-40% pasien Guillain – Barre menderita infeksi C. jejuni
beberapa minggu sebelumnya. Pasien menderita kelemahan motorik
dan mungkin memerlukan ventilasimekanis. Mekanisme penyebab

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 17


sindrom Guillain – Barre belum diketahui. Artritis pasca-infeksi
dapat terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena
Campylobacter, Shigella, Salmonella, atau Yersinia spp.20

2.1.10 Pencegahan Penyakit Diare


Kegiatan pencegahan penyakit diare yang benar dan efektif
yang dapat dilakukan adalah21 :
1. Pemberian ASI
ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen
zat makanan tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang
untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. ASI saja
sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 6
bulan. Tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa
ini.
ASI bersifat steril, berbeda dengan sumber susu lain
seperti susu formula atau cairan lain yang disiapkan dengan
air atau bahan-bahan dapat terkontaminasi dalam botol yang
kotor. Pemberian ASI saja, tanpa cairan atau makanan lain
dan tanpa menggunakan botol, menghindarkan anak dari
bahaya bakteri dan organisme lain yang akan menyebabkan
diare. Keadaan seperti ini di sebut disusui secara penuh
(memberikan ASI Eksklusif).
Bayi harus disusui secara penuh sampai mereka
berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan dari kehidupannya,
pemberian ASI harus diteruskan sambil ditambahkan dengan
makanan lain (proses menyapih).
ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik
dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya.
ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. Pada bayi
yang baru lahir, pemberian ASI secara penuh mempunyai
daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada
pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Flora normal

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 18


usus bayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri
penyebab botol untuk susu formula, berisiko tinggi
menyebabkan diare yang dapat mengakibatkan terjadinya gizi
buruk.

2. Makanan Pendamping ASI


Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi
secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang
dewasa. Perilaku pemberian makanan pendamping ASI yang
baik meliputi perhatian terhadap kapan, apa, dan bagaimana
makanan pendamping ASI diberikan.
Ada beberapa saran untuk meningkatkan pemberian
makanan pendamping ASI, yaitu:
a. Perkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 6
bulan dan dapat teruskan pemberian ASI. Tambahkan
macam makanan setelah anak berumur 9 bulan atau
lebih. Berikan makanan lebih sering (4x sehari).
Setelah anak berumur 1 tahun, berikan semua makanan
yang dimasak dengan baik, 4-6 x sehari, serta teruskan
pemberian ASI bila mungkin.
b. Tambahkan minyak, lemak dan gula ke dalam nasi /bubur
dan biji-bijian untuk energi. Tambahkan hasil olahan
susu, telur, ikan, daging, kacang-kacangan, buah-buahan
dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanannya.
c. Cuci tangan sebelum meyiapkan makanan dan meyuapi
anak. Suapi anak dengan sendok yang bersih.
d. Masak makanan dengan benar, simpan sisanya pada
tempat yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum
diberikan kepada anak.

3. Menggunakan Air Bersih Yang Cukup

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 19


Penularan kuman infeksius penyebab diare ditularkan
melalui Face-Oral kuman tersebut dapat ditularkan bila masuk
ke dalam mulut melalui makanan, minuman atau benda yang
tercemar dengan tinja, misalnya jari-jari tangan, makanan
yang wadah atau tempat makan-minum yang dicuci dengan
air tercemar.
Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang
benar-benar bersih mempunyai risiko menderita diare lebih
kecil dibanding dengan masyarakat yang tidak mendapatkan
air bersih.
Masyarakat dapat mengurangi risiko terhadap serangan
diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan
melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari
sumbernya sampai penyimpanan di rumah. Yang harus
diperhatikan oleh keluarga :
a. Ambil air dari sumber air yang bersih
b. Simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta
gunakan gayung khusus untuk mengambil air.
c. Jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan untuk
mandi anak-anak
d. Minum air yang sudah matang (dimasak sampai mendidih)
e. Cuci semua peralatan masak dan peralatan makan dengan
air yang bersih dan cukup.

4. Mencuci Tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan
perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah
mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama
sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak,
sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan
anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 20


kejadian diare ( Menurunkan angka kejadian diare sebesar
47%).

5. Menggunakan Jamban
Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa
upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar
dalam penurunan risiko terhadap penyakit diare. Keluarga
yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban dan
keluarga harus buang air besar di jamban. Yang harus
diperhatikan oleh keluarga :
a. Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik
dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga.
b. Bersihkan jamban secara teratur.
c. Gunakan alas kaki bila akan buang air besar.

6. Membuang Tinja Bayi Yang Benar


Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi itu tidak
berbahaya. Hal ini tidak benar karena tinja bayi dapat pula
menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya. Tinja
bayi harus dibuang secara benar. Yang harus diperhatikan
oleh keluarga:
a. Kumpulkan segera tinja bayi dan buang di jamban
b. Bantu anak buang air besar di tempat yang bersih dan
mudah di jangkau olehnya.
c. Bila tidak ada jamban, pilih tempat untuk membuang
tinja seperti di dalam lubang atau di kebun kemudian
ditimbun.
d. Bersihkan dengan benar setelah buang air besar dan cuci
tangan dengan sabun.

7. Pemberian Imunisasi Campak

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 21


Pemberian imunisasi campak pada bayi sangat penting
untuk mencegah agar bayi tidak terkena penyakit campak.
Anak yang sakit campak sering disertai diare, sehingga
pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare.
Oleh karena itu berilah imunisasi campak segera setelah bayi
berumur 9 bulan.

8. Penyediaan Air Bersih


Mengingat bahwa ada beberapa penyakit yang dapat
ditularkan melalui air antara lain adalah diare, kolera, disentri,
hepatitis, penyakit kulit, penyakit mata, dan berbagai penyakit
lainnya, maka penyediaan air bersih baik secara kuantitas dan
kualitas mutlak diperlukan dalam memenuhi kebutuhan air
sehari-hari termasuk untuk menjaga kebersihan diri dan
lingkungan. Untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut,
penyediaan air bersih yang cukup disetiap rumah tangga harus
tersedia. Disamping itu perilaku hidup bersih harus tetap
dilaksanakan.

9. Pengelolaan Sampah
Sampah merupakan sumber penyakit dan tempat
berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, nyamuk,
tikus, kecoa dsb. Selain itu sampah dapat mencemari tanah
dan menimbulkan gangguan kenyamanan dan estetika seperti
bau yang tidak sedap dan pemandangan yang tidak enak
dilihat. Oleh karena itu pengelolaan sampah sangat penting,
untuk mencegah penularan penyakit tersebut. Tempat sampah
harus disediakan, sampah harus dikumpulkan setiap hari dan
dibuang ke tempat penampungan sementara. Bila tidak
terjangkau oleh pelayanan pembuangan sampah ke tempat
pembuangan akhir dapat dilakukan pemusnahan sampah
dengan cara ditimbun atau dibakar.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 22


10. Sarana Pembuangan Air Limbah
Air limbah baik limbah pabrik atau limbah rumah
tangga harus dikelola sedemikian rupa agar tidak menjadi
sumber penularan penyakit. Sarana pembuangan air limbah
yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan bau,
mengganggu estetika dan dapat menjadi tempat perindukan
nyamuk dan bersarangnya tikus, kondisi ini dapat berpotensi
menularkan penyakit seperti leptospirosis, filariasis untuk
daerah yang endemis filaria. Bila ada saluran pembuangan air
limbah di halaman, secara rutin harus dibersihkan, agar air
limbah dapat mengalir, sehingga tidak menimbulkan bau yang
tidak sedap dan tidak menjadi tempat perindukan nyamuk.

2.2 Hubungan Diare dengan Perilaku dan Lingkungan

2.2.1 Hubungan Diare dengan Perilaku Mencuci Tangan


Cuci tangan dengan sabun adalah tindakan sanitasi dengan membersihkan
tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun untuk menjadi bersih dan
bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran kuman. Mencuci tangan dengan
sabun merupakan upaya untuk melakukan pencegahan penyakit.22
Kebiasaan mencuci tangan berpengaruh terhadap terjadinya diare,terutama
pada balita. Hal ini disebabkan karena balita sangat rentan terhadap
mikroorganisme dan berbagai agen infeksius, segala aktivitas balita dibantu oleh
orang tua khususnya ibu, sehingga cuci tangan sangat diperlukan oleh ibu sebelum
dan sesudah kontak dengan balita, yang bertujuan untuk menurunkan risiko
terjadinya diare pada balita. Mencuci tangan yang baik dan benar dapat
menurunkan angka kejadian diare sebesar 47%. 23
Kebiasaan mencuci tangan pada anak memperlihatkan adanya hubungan
yang positif dengan kejadian diare, artinya anak yang mau melakukan cuci tangan
dengan baik lebih jarang terkena diare dibanding anak yang jarang atau kurang
dalam melakukan kebiasaan mencuci tangan.22

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 23


2.2.2 Hubungan Diare dengan Penggunaan Air Bersih
Penularan kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui faecal
oral, kuman tersebut dapat ditularkan bila masuk kedalam mulut melalui
makanan, minuman atau benda yang tercemar oleh tinja, misalnya jari-jari
tangan dan wadah untuk makan dan minum yang dicuci menggunakan air yang
tercemar. Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air bersih mempunyai
risiko lebih kecil untuk menderita diare dibandingkan dengan masyarakat yang
tidak mendapatkan air bersih.24
Penggunaan air minum yang tidak bersih atau sudah tercemar, baik
tercemar dari sumbernya dapat menyebabkan diare, pencemaran air dapat
terjadi pada perjalanan sampai kerumah-rumah atau tercemar pada saat
disimpan dirumah. Pencemaran dirumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak
tertutup atau apabila tangan tercemar menyentuh air pada saat mengambil air
ataupun makanan dari tempatnya. Kondisi air yang tidak memenuhi syarat
banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sumber air minum. Sarana air yang
tidak memenuhi syarat ini juga bisa digunakan untuk mencuci peralatan makan.
Jika sumber yang digunakan terkontaminasi bakteri patogen E.Coli maka
peralatan makan dan minum berisiko untuk menimbulkan penyakit , terlebih
lagi jika perilaku mencucinya kurang baik. Akibatnya terjadi rantai penularan
penyakit diare.23

2.2.3 Hubungan Diare dengan Jamban Sehat dan Pembuangan Tinja


Salah satu upaya kesehatan yang dilakukan di masyarakat adalah
penyediaan sanitasi dasar, salah satu dari beberapa fasilitas sanitasi dasar yang ada
di masyarakat adalah jamban. Jamban berguna untuk tempat membuang kotoran
manusia sehingga bakteri yang ada dalam kotoran tersebut tidak memenuhi
lingkungan, selanjutnya lingkungan akan terlihat bersih indah sehingga
mempunyai nilai estetika yang baik. 25
Salah satu unsur faktor lingkungan fisik yang sangat berpengaruh
terhadap kesehatan manusia adalah rumah, oleh karena itu maka rumah harus
memenuhi persyaratan pokok sebagai rumah sehat. Di antara syarat rumah sehat
adalah harus memenuhi sarana kesehatan lingkungan yaitu penyediaan air bersih,

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 24


pembuangan kotoran, pembuangan air limbah, dan pembuangan sampah.
Pembuangan kotoran dalam hal ini pembuangan tinja atau ekskreta manusia
merupakan bagian yang penting dari sanitasi lingkungan. Pembuangan tinja
manusia yang terinfeksi yang dilaksanakan secara tidak layak tanpa memenuhi
syarat sanitasi dapat menyebabkan terjadinya pencemaran tanah dan sumber
penyediaan air bersih. Di samping itu juga akan memberi kesempatan bagi lalat
dari spesies tertentu untuk bertelur, bersarang, makan bagian tersebut serta
membawa infeksi, menarik hewan ternak, tikus serta serangga lain yang dapat
menyebabkan tinja dan kadang-kadang menimbulkan bau yang tidak enak. Tujuan
dilakukan penanganan pembuangan tinja yang memenuhi persyaratan sanitasi
adalah untuk merangsang serta mengisolir tinja sedemikian rupa sehingga dapat
mencegah terjadinya hubungan langsung maupun tidak langsung antara tinja
dengan manusia dan dapat dicegah terjadinya penularan Faecal Borne Diseases
dari penderita kepada orang sehat maupun pencemaran lingkungan pada
umumnya.26
Pengertian jamban. Menurut Depkes RI (2009), jamban adalah suatu
bangunan yang digunakan untuk tempat membuang dan mengumpulkan kotoran
atau najis manusia, biasa disebut kakus/wc. Sehingga kotoran tersebut akan
tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau
penyebaran penyakit dan mengotori lingkungan permukiman.27 Jamban keluarga
adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau kotoran
manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim disebut kakus atau WC. 26
Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi
oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Zat-zat yang harus
dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja, air seni, dan CO2. Beberapa
penyakit yang disebarkan oleh tinja manusia antara lain diare, tifus, disentri,
kolera, dan bermacam-macam cacing, schistosomiasis dan sebagainya. 26
Mubarak tahun 2010 menjelaskan bahwa untuk mencegah sekurang-
kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan maka pembuangan
kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoran
manusia harus disuatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Suatu jamban
disebut sehat apabila memenuhi persyaratan- persyaratan sebagai berikut : 1)

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 25


Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban tersebut 2) Tidak
mengotori air permukaan disekitarnya 3) Tidak mengotori air tanah disekitarnya
4) Tidak terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan binatang-binatang
lain. 5) Tidak menimbulkan bau 6) Mudah digunakan dan dipelihara. 7)
Sederhana desainnya 8) Murah 9) Dapat diterima oleh pemakainya.28
Menurut Depkes RI (2009), jamban yang memenuhi syarat adalah: 1)
Tidak mencemari tanah disekitarnya 2) Mudah dibersihkan dan aman digunakan
3) Dilengkapi dinding dan atap pelindung 4) Penerangan dan ventilasi cukup 5)
Lantai kedap air dan luas ruangan memadai. 6) Tersedia air dan alat bersih. 27
Pendapat lain tentang persyaratan jamban sehat dijelaskan oleh
Maryunani tahun 2013 yang menjelaskan bahwa pembuangan kotoran seharusnya
memenuhi syarat yaitu : 1) Jarak jamban dengan sumber air minum > 10 meter.
Untuk itu letak lubang penampungan kotoran paling sedikit berjarak 10 meter dari
sumber air minum. Tetapi bila kondisi tanah berkapur, dan letak jamban pada
sumber air ditanah miring, maka jaraknya sekitar 15 meter. 2) Tersedia air dan
alat pembersih dan mempunyai lantai yang kedap air 3) Mempunyai slap atau
tempat pijakan kaki dan closet atau lubang jamban 4) Mempunyai pit atau sumur
penampungan dan tidak mencemari sumber air 5) Tidak berbau dan tinja tidak
bisa dijamah serangga, maka tinja harus tertutup rapat dengan menggunakan leher
angsa atau penutup libang. 6) Mudah dibersihkan dan aman digunakan. 7) Air seni
tidak mencemari tanah disekitarnya. Lantai jamban haeus cukup luas minimal
berukuran 1x1 meter, dan cukup landau 8) Jamban lengkapi atap pelindung,
dinding kedap air dan terang 9) Luas ruangan cukup dan ventilasi terbuka serta
cukup penerangan.29
Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban
yang baik dan memenuhi syarat kesehatan akan sangat menjamin beberapa hal,
yaitu: 1) Melindungi kesehatan masyarakat dari penyakit 2) Melindungi dari
gangguan estetika, bau dan penggunaan sarana yang aman 3) Bukan tempat
berkembangnya serangga sebagaib vektor penyakit 4) Melindungi pencemarana
pada penyediaan air bersih dan lingkungan. Pembuangan tinja sebagian dari
kesehatan lingkungan maka kebiasaan masyarakat memakai jamban harus
terlaksana bagi setiap keluarga.27

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 26


Menurut Mubarak tahun 2010 menjelaskan bahwa macam-macam
tempat pembuangan tinja/jamban antara lain : 1) Jamban Cemplung (pit latrine)
Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan. Jamban ini dibuat
dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan diameter 80 – 120 cm
sedalam 2,5 sampai 8 meter. Jamban cemplung tidak boleh terlalu dalam, karena
akan mengotori air tanah dibawahnya. Jarak dari sumber minum sekurang-
kurangnya 15 meter. 2) Jamban air (water latrine) Jamban ini terdiri dari bak yang
kedap air, diisi air di dalam tanah sebagai tempat pembuangan tinja. Proses
pembusukkanya sama seperti pembusukan tinja dalam air kali. 3) Jamban leher
angsa (angsa latrine) Jamban ini berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi
air. Fungsi air ini sebagai sumbat sehingga bau busuk dari kakus tidak tercium.
Bila dipakai, tinjanya tertampung sebentar dan bila disiram air, baru masuk ke
bagian yang menurun untuk masuk ke tempat penampungannya. 4) Jamban bor
(bor latrine) Tipe ini sama dengan jamban cemplung hanya ukurannya lebih kecil
karena untuk pemakaian yang tidak lama, misalnya untuk perkampungan
sementara. Kerugiannya bila air permukaan banyak mudah terjadi pengotoran
tanah permukaan (meluap). 5) Jamban keranjang (bucket latrine) Tinja ditampung
dalam ember atau bejana lain dan kemudian dibuang di tempat lain, misalnya
untuk penderita yang tak dapat meninggalkan tempat tidur. Sistem jamban
keranjang biasanya menarik lalat dalam jumlah besar, tidak di lokasi jambannya,
tetapi di sepanjang perjalanan ke tempat pembuangan. Penggunaan jenis jamban
ini biasanya menimbulkan bau. 6) Jamban parit (trench latrine) Dibuat lubang
dalam tanah sedalam 30 - 40 cm untuk tempat defaecatie. Tanah galiannya dipakai
untuk menimbunnya. Penggunaan jamban parit sering mengakibatkan
pelanggaran standar dasar sanitasi, terutama yang berhubungan dengan
pencegahan pencemaran tanah, pemberantasan lalat, dan pencegahan pencapaian
tinja oleh hewan. 7) Jamban empang/gantung (overhung latrine) Jamban ini
semacam rumah-rumahan dibuat di atas kolam, selokan, kali, rawa dan
sebagainya. Kerugiannya mengotori air permukaan sehingga bibit penyakit yang
terdapat didalamnya dapat tersebar kemana-mana dengan air, yang dapat
menimbulkan wabah. 8) Jamban kimia (chemical toilet) Tinja ditampung dalam
suatu bejana yang berisi caustic soda sehingga dihancurkan sekalian didesinfeksi.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 27


Biasanya dipergunakan dalam kendaraan umum misalnya dalam pesawat udara,
dapat pula digunakan dalam rumah.30
Tempat pembuangan tinja juga merupakan sarana sanitasi yang penting
berkaitan dengan kejadian diare selain sumber air minum. Tempat pembuangan
tinja yang tidak saniter akan memperpendek rantai penularan penyakit diare.
Beberapa penelitian menunjukkan secara statistik terdapat hubungan yang
bermakna antara penggunaan jamban dengan kejadian diare. Penggunaan jamban
tidak memenuhi syarat akan meningkatkan risiko terjadinya diare dibandingkan
dengan penggunaan jamban memenuhi syarat.26
Pada penelitian Siti Amaliah, 2010 mendapatkan bahwa anak balita yang
mengalami diare lebih banyak terjadi pada anak dengan rumah yang tidak
memiliki jamban.7 Keadaan sanitasi lingkungan kurang memenuhi syarat
kesehatan karena melalui observasi bisa dilihat adanya tinja di saluran air di tepi
jalan, hal ini didukung fakta bahwa masih banyak yang tidak memiliki jamban
sehat, karena semua jamban tanpa septic tank. Pada penelitian Dya Chandra tahun
2013 , terdapat hubungan yang bermakna antara kepemilikan dan pemanfaatan
jamban dengan kejadian diare di Desa Karangagung, kabupaten Tuban. Perilaku
buang air besar tidak pada tempatnya dapat menyebabkan penyebaran kuman
enterik dan meningkatkan terjadinya diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
adanya pemanfaatannya secara optimal berhubungan terhadap terjadinya diare dan
26
secara statistik menunjukkan hasil yang signifikan (p < 0,05) Pada penelitian I
Wayan tahun 2018, terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi jamban
dengan kejadian diare di Wilayah Puskesmas Talise Kota Palu, bahwa sarana
jamban yang tidak tertutup atau tidak memenuhi syarat akan dapat terjangkau oleh
vektor penyebab penyakit diare kemudian secara tidak langsung akan mencemari
makanan dan minuman. Selain itu jarak antara lubang penampung kotoran
(septitank) dengan sumber air bersih atau sumur yang kurang dari 10 meter, akan
menyebabkan kuman penyakit diare yang berasal dari tinja yang mecemari
36
sumber air bersih. . Pada penelitian Firdaus Duwila tahun 2018, juga
menunjukan hubungan yang bermakna antara kualitas fisik jamban terhadap
kejadian diare di desa Waitina.33
Dengan masih adanya masyarakat di suatu wilayah yang BAB

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 28


sembarangan, maka wilayah tersebut terancam beberapa penyakit menular yang
berbasis lingkungan diantaranya: penyakit cacingan, kolera (muntaber), diare,
tipus, disentri, paratypus, polio, hepatitis B dan masih banyak penyakit lainnya.
Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau
busuk serta estetika.25

2.2.4 Hubungan Diare dengan Sarana Pembuangan Air Limbah


Saluran pembuangan air limbah (SPAL) adalah saluran yang berguna
untuk menyalurkan atau membuang air limbah rumah tangga sebuah keluarga.
Pengelolaan air limbah adalah bagaimana keluarga tersebut membuang air limbah
yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari. Lingkungan sekitar rumah yang
biasanya menjadi tempat bersarangnya lalat maupun binatang vektor penyakit
lainnya adalah tempat sampah dan saluran pembuangan air limbah.34
Selain tempat sampah, saluran pembuangan air limbah rumah tangga juga
menjadi tempat yang berpotensi menjadi sarang penyakit. Sarana pembuangan air
limbah yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan bau, mengganggu estetika
dan dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan bersarangnya tikus, kondisi ini
dapat berpotensi menularkan penyakit. Bila ada saluran pembuangan air limbah di
halaman, secara rutin harus dibersihkan, agar air limbah dapat mengalir, sehingga
tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Air limbah rumah tangga merupakan air
buangan yang tidak mengandung kotoran/ tinja manusia yang dapat berasal dari
buangan air kamar mandi, aktivitas dapur, cuci pakaian dan lain-lain yang
mungkin mengandung mikroorganisme patogen dalam jumlah kecil serta dapat
membahayakan kesehatan manusia.34
Pada penelitian Sunu tahun 2019 , diperoleh hasil penelitian diperoleh
bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah puskesmas Bara baraya di kota
Makasar memiliki sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat
kesehatan yaitu sebesar 64.6%. Bila dikaitkan dengan kejadian diare diperoleh
bahwa sebagian besar masyarakat yang menderita diare memiliki sarana
pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar
88.1%, Hasil analisis statistik diperoleh adanya hubungan antara sarana
pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dengan kejadian

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 29


diare, artinya bahwa sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat
kesehatan memberikan kontribusi terhadap kejadian diare.35
Pada Penelitian Poppi Natassia tahun 2019, menunjukkan bahwa proporsi
variabel sarana pembuangan air limbah menunjukkan bahwa responden yang
kondisi SPAL tidak memenuhi syarat sebesar 66,7% sedangkan yang memenuhi
syarat sebesar 33,3%.40 Hal ini menunjukkan bahwa sarana pengelolaan air
limbah lebih banyak yang tidak memenuhi syarat. Responden yang terkena diare
dengan sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat sebesar 85,7%
lebih besar daripada responden yang terkena diare dengan kondisi SPAL yang
memenuhi syarat sebesar 42,9%. Hal ini disebabkan saluran pembuangan air
limbah di Kelurahan Genuksari tidak memenuhi syarat karena sebagian besar air
limbahnya tidak mengalir, tergenang, saluran pembuangan air limbahnya dalam
kondisi terbuka, dan jarak sumber air dengan saluran pembuangan air limbah
tidak begitu jauh sehingga penularan penyakit melalui vektor seperti lalat yang
membawa mikroorganisme pathogen pada makanan yang tidak tertutup saat
dihidangkan sehingga dapat menyebabkan terjadinya diare. Adapula masyarakat
tidak memiliki saluran khusus, sehingga langsung membuang ke kolong rumah
atau di samping rumah sehingga kemungkinan besar penyakit diare mudah
terjangkit pada wilayah tersebut disebapkan oleh vektor penyakit. 36
Pada penelitian I Wayan tahun 2018, menunjukkan kepemilikan Saluran
Pembuangan Air Limbah (SPAL) merupakan faktor risiko terhadap kejadian diare
dengan nilai OR yang diperoleh 975 (>1) dan responden yang tidak memiliki
saluran pembuangan air limbah akan berpeluang 975 kali terkena diare. Penelitian
Mukti tahun 2016 , menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara STBM
aspek mengolah limbah cair rumah tangga dengan aman dengan kejadian penyakit
diare pada Balita dengan nilai p value = 0,0001. 37 Sarana pembuangan air limbah
berguna agar tidak ada air yang tergenang disekitar rumah, sehingga tidak menjadi
tempat perindukan serangga atau dapat mencemari lingkungan maupun sumber air
bersih. Air limbah domestik termasuk air bekas mandi, cuci piring, maupun bekas
cuci pakaian, air ini banyak mengandung sabun atau detergen maupun
mikroorganisme. Upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan diare adalah
dengan membuat saluran pembuangan air limbah (SPAL) yang tertutup dan selalu

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 30


menjaga sanitasi saluran pembuangan air limbah (SPAL) agar tidak terjadi
genangan air dan tidak menjadi penyebab penyakit diare.32
Pembuangan air limbah yang dilakukan secara tidak sehat atau tidak
memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan terjadinya pencemaran pada
permukaan tanah dan sumber air. Dengan demikian untuk mencegah atau
mengurangi kontaminasi air limbah terhadap lingkungan, maka limbah harus
dikelola dengan baik, sehingga air limbah tidak menjadi tempat berbiaknya bibit
penyakit seperti lalat, tidak mengotori sumber air, tanah dan tidak menimbulkan
bau.35

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 31


BAB 3
ANALISIS SITUASI

3.1 Sejarah Puskesmas


Puskesmas Ambacang didirikan pada tanggal 5 Juli 2006. Kepala
puskesmas pertama adalah dr. Dewi Susanti Febri. Saat itu puskesmas hanya
memiliki 15 orang staf. dr. Dewi Susanti Febri menjabat sebagai kepala
puskesmas sampai bulan Maret 2009, setelah itu dr. Hj. May Happy menjabat
sampai tahun 2012. Tahun 2012 hingga bulan Juli tahun 2018 dipimpin oleh Trice
Erwiza, S.KM, M.Kes, lalu setelah itu Puskesmas Ambacang dipimpin oleh dr.
Weni Fitria Nazulis.
Puskesmas Ambacang terletak di salah satu kelurahan pada Kecamatan
Kuranji kota Padang yaitu kelurahan Pasar Ambacang. Karena terletaknya
puskesmas dikelurahan tersebut maka diberi nama Puskesmas Ambacang Kuranji
sesuai dengan masukan dari berbagai pihak antara lain Kepala Dinas Kesehatan
Kota Padang dengan sebutan ”Puskesmas Ambacang Kuranji”. Awalnya
pelaksanaan program puskesmas ini masih bekerja sama dengan Puskesmas
Kuranji, karena 4 kelurahannya sebagai wilayah kerja Puskesmas Kuranji. Pada
tahun 2006 telah berdiri sendiri dapat dilaksanakan secara mandiri dan
berkesinambungan.
Puskesmas Ambacang berfungsi dalam menyelenggarakan pembangunan
berwawasan kesehatan.Visinya adalah menjadikan kecamatan sehat yang mandiri
dan berkeadilan. Visi ini dilaksanakan dengan beberapa misi, antara lain:
membangun kesehatan di wilayah yang akan memberikan dukungan agar
tercapainya visi pembangunan nasional; menggerakkan pembangunan
berwawasan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Ambacang; mendorong
kemandirian untuk hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat; memelihara dan
meningkatkan mutu, pemerataan, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan; serta
memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat
serta lingkungannya.7

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 32


3.2 Kondisi Geografis
Secara geografis Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang berbatasan dengan
kecamatan dan kelurahan yang menjadi tanggung jawab selain Puskesmas
Ambacang, antara lain:
Utara : Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji
Timur : Wilayah Kerja Puskesmas Pauh
Selatan : Wilayah Kerja Puskesmas Andalas
Barat : Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo
Puskesmas Ambacang terletak pada 0° 55' 25.15" Lintang Selatan dan
+100° 23' 50.14" Lintang Utara, dan terletak pada ketinggian 57 m dari
permukaan laut. Luas wilayah kerja Puskesmas Ambacang adalah sekitar 12 km2
meliputi empat kelurahan, yaitu: Kelurahan Pasar Ambacang, Kelurahan
Anduring, Kelurahan Ambacang, dan Kelurahan Lubuk Lintah.

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang2


Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dilihat dari segi topografis dan geografis Puskesmas Ambacang yang


terletak di Jalan Raya By Pass KM 8,5 Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan
Kuranji, Kota Padang (± 8 km dari pusat kota) dapat terjangkau dengan
kendaraan roda dua atau roda empat pribadi maupun sarana angkutan umum

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 33


berupa angkutan kota, ojek, dan becak sehingga akses masyarakat ke
puskesmas mudah.7

3.3 Kondisi Demografis dan Sasaran Puskesmas


Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Ambacang yang menjadi
sasaran kegiatan Puskesmas selama tahun 2018 adalah sebanyak 52.032 jiwa
dengan luas wilayah kerja sekitar 12 km2. Distribusi kependudukan menurut
kelurahan adalah sebagai berikut.

Tabel 3.1 Data Distribusi Penduduk menurut Kelurahan di Wilayah Kerja


Puskesmas Ambacang tahun 20182

Jenis Kelamin
Kelurahan Jumlah
Laki-laki Perempuan

Ps. Ambacang 9.322 9.337 18.659


Anduring 7.434 7.445 14.879
Lubuk Lintah 5.394 5.406 10.800
Ampang 3.876 3.818 7.694
Jumlah 26.026 26.006 52.032
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa kepadatan penduduk di


wilayah kerja Puskesmas Ambacang Kuranji adalah sekitar 4.224
penduduk/km2. Berdasarkan UU No.50 tahun 1960, angka ini menunjukkan
wilayah kerja Puskesmas Ambacang termasuk kategori kependudukan sangat
padat. Selain itu pertambahan jumlah penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas
Ambacang selama 7 tahun terakhir dari tahun 2010 (43.114 orang) s/d tahun
2018 adalah sebanyak 8.247 orang. Dengan pertambahan jumlah penduduk
yang cukup pesat maka berbagai masalah dapat bermunculan, seperti masalah
kesehatan terutama penyakit infeksi.
Jumlah distribusi sasaran penduduk di wilayah kerja Puskesmas
Ambacang selama tahun 2018 adalah sebagai berikut:

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 34


Tabel 3.2 Sasaran Program Kesehatan Puskesmas Ambacang Tahun 20182
Balit Total
Kelurahan Bayi Bumil Bulin Bufas WUS PUS Lansia
a penduduk
Pasar
336 1.615 363 347 349 4.216 3.637 1.245 18.659
Ambacang
Anduring 264 1.216 290 277 278 3.361 2.899 993 15.879
Lubuk
195 940 210 200 201 2.440 2.105 721 10.800
Lintah
Ampang 141 743 150 142 143 1.740 1.502 513 7.694
Jumlah 936 4.514 1.013 966 966 11.757 10.143 3.633 52.032
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari tabel di atas setiap puskesmas idealnya menangani maksimal 30.000


penduduk di wilayah kerjanya, sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Ambacang
terdapat 52.032 penduduk. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa rasio
puskesmas terhadap jumlah penduduk belum mencapai standar ideal.7

3.4 Sarana dan Prasarana


Puskesmas Ambacang telah memiliki sarana dan prasarana yang
mendukung pelaksanaan kegiatan di puskesmas. Puskesmas ini telah memiliki
gedung permanen dua lantai yang dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan
kegiatan pelayanan kesehatan dan kegiatan administrasi puskesmas. Selain itu
juga terdapat kendaraan operasional puskesmas yang dapat digunakan untuk
menjangkau sarana kesehatan lain dan tempat-tempat pelaksanaan program-
program puskesmas, seperti posyandu, posbindu, poskeskel, dan sebagainya.

Sarana kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Ambacang antara lain :


a. Puskesmas : 1 buah
b. Puskesmas Pembantu : 1 buah
c. Pos Kesehatan Kelurahan : 1 perkelurahan (total 4)
d. Roda 2/roda 4 : 3/1
e. Klinik/K.Bersalin :4
f. RS Swasta :0

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 35


Gambar 3.2 Geomapping Sarana Kesehatan Wilayah kerja
Puskesmas Ambacang2
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Data UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) di Puskesmas Ambacang:

a. Posyandu Balita : 29 Pos

b. Posyandu Lansia : 12 Pos

c. Posbindu : 12 Pos

d. Batra : 73 Batra

e. Poskestren : 1 Pos

f. Toga : 722 KK

g. Usaha Kesehatan Kerja : 83 UKK

h. Poskeskel : 4 unit
i. Pembinaan RT ber PHBS : 890 RT

Persebaran posyandu di empat kelurahan wilayah kerja puskesmas


Ambacang, yaitu Kelurahan Ampang terdapat 5 posyandu, Kelurahan Lubuk
Lintah terdapat 6 posyandu, Kelurahan Anduring sebanyak 8 posyandu, dan

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 36


Kelurahan Pasar Ambacang sebanyak 10 posyandu. Jumlah posyandu ideal
menurut Departemen Kesehatan RI, yaitu 1 posyandu untuk 100 balita atau lansia.
Dengan jumlah posyandu sebanyak 29 pos se-wilayah kerja Puskesmas
Ambacang dan jumlah bayi dan balita sebanyak 4.515 orang, maka 1 posyandu
diasumsikan melayani 155 orang bayi/balita. Begitu juga untuk posyandu lansia
yang berjumlah 12 buah untuk total lansia sebanyak 3.472 orang, artinya satu
posyandu lansia untuk 385 orang. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa
jumlah posyandu masih belum ideal.
Puskesmas Ambacang memiliki 12 pos Posbindu di wilayah kerjanya.
Penyebaran Posbindu ini adalah sebagai berikut, 3 pos di Kelurahan Pasar
Ambacang yang terletak di Daerah Kayu Gadang, Simpang Koto Tingga,
Ketaping, 3 pos di Kelurahan Anduring yang terletak di R3R, sarang gagak, parak
jigarang, 3 pos di Kelurahan Lubuk Lintah terletak di Karang Ganting, Cubadak
Air dan Kampung Sikumbang, 3 pos di Kelurahan Ampang terletak di Daerah
Karang Ganting, Kampung Jambak, dan Panti. Berdasarkan observasi yang telah
dilakukan tidak ada satu pun Posbindu yang memiliki pos mandiri, kegiatan
posbindu dilakukan di rumah warga dengan fasilitas seperti meja, kursi, media
promosi kesehatan yang sangat minimal.

Tabel 3.3 Fasilitas Pendidikan Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang2


Jenis Sekolah Jumlah
TK 8
SD 22
SMP 5
SMA 3
PT 1
Jumlah 39
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 37


3.5 Data Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia dalam sistem kesehatan terdiri atas tenaga
kesehatan dan non kesehatan. Tenaga kesehatan merupakan orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan. Tenaga kesehatan dan non kesehatan
dalam memberikan pelayanan kepada pasien yang berobat di Puskesmas
Ambacang berjumlah 55 orang. Hal ini dapat dilihat pada tabel 3.2.
Secara kuantitatif, sumber daya tenaga kesehatan yang bertugas di
Puskesmas Ambacang sudah memenuhi standar rata-rata, dimana berdasarkan
lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 dijelaskan bahwa
jumlah minimal tenaga kesehatan untuk puskesmas nonrawat inap kawasan
perkotaan adalah 22 orang. Meskipun demikian, secara kualitatif tetap diperlukan
upaya peningkatan kualitas SDM di Puskesmas Ambacang melalui pendidikan
dan pelatihan, demi terwujudnya pengembangan upaya kesehatan yang lebih baik.

Tabel 3.4 Tenaga Kesehatan dan Non Kesehatan di Puskesmas Ambacang2


Status Pegawai Pendidikan Terakhir
Jenis Petugas Suka Rela/ S2 S1 DIV DIII DI Sederajat Jumlah
PNS PTT
Honor SLTA
Dokter Umum 2 - 1 - 3 - - - - 3
Dokter Gigi 2 - - - 2 - - - - 2
Sarjana 2 - - - 2 - - - - 2
Kesmas
Bidan 13 1 3 - - 2 15 - - 17
Perawat 7 - 2 - 1 - 7 - 1 9
Perawat Gigi 1 - - - - - - - 1 1
Kesling 2 - - - - 1 1 - - 2
Analis - - 1 - - - 1 - - 1
Fungsional 1 - - - - - - - 1 1
Analis
Epidemiologi 1 - - - 1 - - - - 1
(SKM)
Apoteker 1 - - 1 - - - - 1
Asisten 2 - - - - - - - 2 2

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 38


Apoteker
Nutrition 2 - - - 1 - 1 - - 2
(AKZI/
SKM)
RR 3 - 2 - - - 2 - 3 5
Sopir/cleaning - - 3 - - - - - 2 3
Service
Jumlah 39 1 15 1 11 3 27 0 10 55
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari segi rasio tenaga dengan penduduk, sumber daya manusia di


Puskesmas Ambacang relatif kurang memadai. Tenaga medis dokter umum
sebanyak 3 orang dengan rasio 1:52.032 jiwa, artinya 1 dokter melayani 17.344
orang. Angka tersebut sangat jauh dari ideal apabila dikaitkan dengan sistem
pelayanan kesehatan terpadu dimana satu dokter melayani maksimal 2500
penduduk. Menurut Standar Pelayanan Minimal (SPM), satu orang bidan
maksimal menangani 3.000 penduduk saja. Di Puskesmas Ambacang terdapat 17
bidan yang menangani 52.032 penduduk dengan rasio 1 : 3.060. Hal ini
memperlihatkan bahwa di Puskesmas Ambacang jumlah bidannya sudah
mencukupi.

3.6 Kondisi Sosial, Budaya, dan Ekonomi Penduduk


Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Ambacang sebagian besar
beragama Islam. Walaupun terdapat perbedaan suku, agama dan budaya, aktivitas
social serta peribadatan penduduk berjalan dengan baik.Suku terbanyak di
Kecamatanadalah suku Minang. Adapun mata pencaharian penduduk antara lain :

a. Wiraswasta : 16,98%
b. Pegawai Negeri Sipil : 15,8%
c. Tani : 13,4%
d. Buruh : 12,7%
e. Lain-lain : 34,2%
f. Pengangguran : 6,9%

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 39


Tabel 3.5 Tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
Ambacang
JUMLAH
Lubu
JENIS Pasar
k Ampan Puskesma
PENDIDIKAN Ambacan Anduring
Linta g s
g
h

BELUM/TIDAK
SEKOLAH/TIDAK 0 998 1445 1031 6073
TAMAT SD
TAMATAN SD
1933 878 1131 799 4741
SEDERAJAT
TAMATAN SMP
2057 1218 1335 864 5474
SEDERAJAT
TAMATAN SMA
SEDERAJAT DAN 6616 2607 6680 2099 18002
SMK
TAMATAN D1/DII 120 100 130 61 411

TAMATAN DIII 339 203 352 172 1066

TAMATAN D1V/SI 779 703 871 426 2778

TAMATAN S2/S3 67 70 103 43 283


Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 40


3.7 Struktur Organisasi Puskesmas Ambacang tahun 2018

Kepala Puskesmas
dr. Weni Fitria Nazulis

Kasubag TU
Hakrimida, SKM

Perencanaan dan Informasi Kepegawaian dan Umum Keuangan dan Inventaris


Koor UKM Esensial dan Perkesmas Koordinator UKP, Kefarmasian, dan Laboratorium
SP2TP : Riri Delia, SKM 1. Kepegawaian : 1. Pengelola APBD : Ismawira, SsiT
dr. Rina Indra Puspita Drs. Erixon, S.Farm,Apt,M.Si
1. PJ Promkes : Nurmayanti 1. Pely.Umum : Laila Rahmi, AMK Hakrimida, SKM 2. Pengelola JKN : Aswitha D, Amd, Keb
2. PJ Kesling : Afriyeni Zilkifli, AMKL 2. Pely.Lansia : Mahyuni,Amd,Keb 2. Sopir : Jasfahmi 3. Pengelola BOK : Ismawira SsiT
3. PJ KIA Ibu : Lismayeni, S.SiT 3. Pely. KIA Ibu : Lismayeni Amd,Keb 3. CS : Dewi Firi 4. Bendahara Pembantu Penerimaan : Riri
4. PJ KIA Anak : Helsa Paduana, Amd,Keb 4. Pely.KIA Anak : Helsa Paduana, Amd,Keb Delia SKM
5. PJ Gizi : Mardalena,SKM 5. Pely.Kb : Nurhayati,Amd,Keb 5. Pengelola Pembantu Pengurus Barang :
6. PJ P2P : Surya,SKM 6. Pely.P3K : Sasrawati,AMK Rusmia Rahmi, AMKG
7. PJ Surveilans : Surya,SKM 7. Pely.PRB : Laila Rahmi, AMK
8. PJ Campak : Surya,SKM 8. Pely.Laboratorium : Rozaolina Zahir
9. PJ Tb Paru : Ns.Titi Infanti,S.Kep 9. Pely.Gigi : drg. Kurniati Saokestipa Upaya Kesehatan Jaringan Pelayanan
10. PJ Rabies: Fitri Yerni, Amd,Keb 10. Pely.Rekam Medis : Riri Delia, SKM Puskesmas dan Jejaring Fasyankes
11. PJ Imunisasi : Fitri Yerni,Amd,Keb 11. Pely.IGD : Sasrawati, AMK dr. Yulisti Otrina
12. PJ Filariasis : Zamlismi,Amd,Keb 12. Pely.Kes.Gigi dan Mulut : drg. Kurniati Saokestipa
13. PJ Hepatitis : Zamlismi,Amd,Keb 13. Pely.UKP Gizi/Laktasi : Rusmia Rahmi,AMG
14. PJ Malaria : Surya,SKM 14. Pely.Kefarmasian : Drs. Erixon, S.Farm,Apt,M.Si
15. PJ Diare : Surya,SKM 15. Pely.Gudang Obat : Rasmaini,AMF
16. PJ ISPA : Aswitha D, Amd,Keb 16. Pely.Klinik Sanitasi : Afriyeni Zulkifli,AMKL Pustu : Kartini, Amd, Keb Bikor BPS/Klinik Swasta
17. PJ DBD : Surya,SKM Fitra Suryati, Amd, Keb Nurmayanti, Amd, Keb
18. PJ Kusta : s.Titi Infanti, S.Kep Poskeskel
19. PJ Perkesms : Sasrawati,AMK -Ps. Ambacang : Neni Indriani, Amd, Keb
-Anduring : Wahyuni H, Amd, Keb
20. PJ UKS : Nurmayanti,Amd,Keb
-Lubuk Lntah : Verawati, Amd, Keb
-Ampang : Raadsma Delsy, Amd, Keb

Koor UKM Pengembangan 6. IVA : Nurhayati,Amd,Keb


1. Kesorga : Linda Astuti, Amd, Kep 7. UKK : Mahyuni,Amd,Keb
2. UKGMD : drg. Kurnati Saokestipa 8. HIV AIDS : Ns.Titi Infanti,S.Kep
3. PKPR : Nurmayanti,Amd, Keb 9. Prolanis : Devi Sarika, Amd,Keb
4. Kesehatan Mata/Indra : Sasrawati, AMK 10. PTM : Devi Sartika, Amd,Keb
5. Lansia : Devi Sartika, Amd,Keb 11. Kes.Jiwa : Yen Elfi

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 41


3.8 Visi, Misi, Strategi
3.8.1 Visi dan Misi
Dalam fungsinya sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan di
wilayah kecamatan kuranji, Puskesmas Ambacang mempunyai Visi :
“Mewujudkan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Ambacang sehat
2019”. Untuk mewujudkan visi ini Puskesmas Ambacang mengusung misi yaitu:
“Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat dengan pelaksanaan
upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan yang
bermutu”
Untuk mencapai visi, misi, dan tujuan, Puskesmas Ambacang
mempunyai tata nilai yaitu “AMBACANG” yaitu :
A : Akuntabel (Memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan
pedoman dan pelayanan yang ditetapkan)
M : Malu (Memiliki budaya malu bila tidak melaksankan tugas dengan
sebaik-baiknya)
B : Berkeadilan (Tidak membeda-bedakan suku, agama, tingkat ekonomi
dalam memberikan pelayanan)
A : Amanah (Selalu memegang teguh kerahasian jabatan dan kerahasian
pasien yang dilayani)
C : Cakap (Memberikan pelayanan berdasarkan kaidah profesi
bertanggungjawab, Inovatif, kreatif, dan optimis)
A : Attitude (Selalu bersikap positif (mengerti, menerima, menghargai
dan memperlakukan secara wajar) terhadap semua pasien dan masyarakat)
N : Normatif (Bekerja selalu menjaga norma yang berlaku di masyarakat
dan berpegang teguh kepada norma agama)
G : Giat (Selalu memiliki semangat kerja dan daya juang tinggi dalam
menjalankan tugas).

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 42


3.8.2 Strategi
Visi dan misi Puskesmas Ambacang akan dicapai dengan beberapa
strategi yang diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan yang terencana, terarah
dan berkesinambungan. Beberapa strategi tersebut antara lain:
1. Meningkatkan upaya promosi kesehatan
2. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama yang lebih baik dengan lintas
sektor
3. Meningkatkan kualitas SDM puskesmas
4. Meningkatkan mutu dan keterjangkauan pelayanan kesehatan
5. PIS-PK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga)

3.9. Pencapaian Program UKM Esensial


3.9.1 Promosi Kesehatan
Kegiatan Promkes di puskesmas indentik dengan kegiatan penyuluhan,
namun lingkup kegiatan Promkes di Puskesmas sesungguhnya sangat luas.
Selain memberikan pendidikan kesehatan untuk mengubah perilaku masyarakat
melalui upaya-upaya penyuluhan Promkes juga mencakup kegiatan membina
peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan. Program ini ditujukan untuk
memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat agar mampu menumbuhkan
perilaku hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan berbasis masyarakat.

Tabel 3.6 Pencapaian Program Promkes Puskesmas Ambacang Tahun 2018


PENCAPAIAN
Program Promkes Sasaran Target GAP
Kum /Abs %
Penyuluhan
- Dalam Gedung 96 100 % 153 Kali 159 +59%
- Luar Gedung 695 100 % 815 Kali 117 +17%
Jumlah Posynadu Aktif 29 29 29 100
Gedung Posyandu

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 43


- Sendiri 29 100 % 7 24,1 -75,9%
- Pinjam - - 22 75,9
Strata Posyandu
- Pratama - -
- Madya - - 4 13,7
- Purnama - - 10 34,6
- Mandiri - - 15 51,7
Cakupan Penimbangan
Balita
- Cakupan D/S 4514 85% 3983 88,24 +3,24%
- Cakupan N/D 3658 85% 3418 93,44 +8,44%
Srata Poskeskel
Pratama
Madya
Utama 4 100 4 100
TOGA
- Toga Percontohan 29 100 29 100
- KK yang Memiliki 508 100 508 100
Toga
Poskestren 1 100 1 100
SBH 1 100 0 0 -100%
PHBS
Rumah Tangga Yang 10030 80 9530 95 +15%
dibina
Rumah tangga Yang 8024 80 4661 58 -38%
ber PHBS
PHBS dengan Indikator
- Linakes 8024 100 9530 118 +18%
- ASI ekslusif 8024 100 8381 104 +4%

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 44


- Timbang Bayi & 8024 100 8070 100,5 +0,5%
Balita
- Sarana Air Bersih 8024 100 9072 113 +13%
- CTPS 8024 100 7629 95 -5%
- Jamban Keluarga 8024 100 7057 87,9 -12,1%
- Pembasmi Jentik 8024 100 7313 91,1 -8,9%
- MakanBuah&sayur 8024 100 7657 95,4 -4,6%
- Aktifitas Fisik 8024 100 7694 95,8 -4,2%
- Tidak merokok 8024 100 4661 58,08 -41,92%
dirumah
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari tabel diatas dapat dilihat beberapa target yang belum tercapai yaitu
gedung tempat pelayanan posyandu yang ada diwilayah kerja Puskesmas
Ambacang yang terbanyak yaitu gedung di pinjam sebesar 75,9 % dari
posyandu yang ada yaitu 20 pos, Strata posyandu mandiri yaitu 51,7 %, dari 29
posyandu, sedangkan indikator PHBS pada umumnya sudah mencapai target
indikator yang paling rendah pencapaian targetnya adalah keluarga yang masih
merokok dalam rumah dengan gap sebesar 41,92% serta belum adanya Saka
Bakti Husada (SBH) di wilayah kerja Puskesmas Ambacang.

3.9.2 Kesehatan Lingkungan


Pencapaian program kesehatan lingkungan bulan Januari s/d Desember
tahun 2018 di Puskesmas Ambacang dapat dilihat pada tabel di bawah ini
dimana cakupan kegiatan program kesling umumnya belum mencapai target.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, masih banyak yang tidak memenuhi syarat
kesehatan, terutama sarana air bersih.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 45


Tabel: 3.7 Cakupan Program Kesling di Puskesmas Ambacang Tahun 20182

Target (%)
Yang
yang GAP
Kegiatan Sasaran Diperiksa MMS TMS
MMS
TPM 294 82 294 247(84,01%) 47(15,99) +24,01%
TTU 144 92 144 138(93,83%) 6(6,17%) +1,83
SAB 8015 71 8015 7589(94,64 %) 426(5,32) +23,64
Rumah 8015 91 8015 4734(59,06%) 3281(40.94%) -31,94
Jamban 8015 81 8015 4734(59,06%) 3281(40,94%) -21,94
SPAL 7068 91 7068 2785(39%) 4283(61%) -52
Sampah 8015 91 8015 2931(36,56%) 4171(63,44%) -54,44
Depot Air 7068 100 40 40 (100%) -
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari Tabel 3.7 dapat dilihat bahwa cakupan kegiatan program kesling
pada umumnya belum mencapai target ditandai masih banyak yang tidak
memenuhi syarat kesehatan, yaitu pengelolaan sampah dengan gap sebesar
54,44, SPAL dengan gap sebesar 52, rumah dengan gap sebesar 31,94 dan
jamban dengan gap sebesar 21,94.

3.9.3 Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana
Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan salah satu program
pokok di puskesmas yang mendapat prioritas tinggi, mengingat kelompok ibu
hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta anak pra sekolah
merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap kesakitan dan kematian.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 46


Tabel 3.8 Pencapaian Program KIA Tahun 2018 di Puskesmas Ambacang2
Pencapaian
Sasara
NO PROGRAM n Target GAP
Kum %
( Abs)
III PROGRAM KIA & KB
1 KIA IBU
Cakupan Kunjungan Ibu 1013 100% 1013 100
Hamil (K1)
Cakupan Kunjungan Ibu 1013 96 % 974 96,15 +0,15
Hamil (K4)
Cakupan Deteksi Dini Bumil 1013 20 % 208 20,53 +0,53
Resti oleh Nakes
Cakupan Kunjungan Bumil, 203 80 % 198 97,54 +17,54
Bulin, Bufas dengan
Komplikasi Yang ditangani
Cakupan Linakes Yang 966 96 % 966 100 +4
Memiliki Kompetisi
Cakupan Kunjungan Ibu Nifas 966 96 % 957 99,06 +3,06
Pertama (KF 1)
Cakupan Kunjungan Ibu Nifas 966 96 % 953 98,65 +2,65
Kedua (KF 2)
Cakupan Kunjungan Ibu Nifas 966 96 % 907 93,89 -2,11
Lengkap (KF 3)
Program P4K 1013 100 938 92,59 -7,41
screening dan Pemeriksaan 1013 70 395 38,99 -36,01
hepatitis B dan HIV
2 KIA ANAK
Cakupan Kunjungan KN 1 936 95 % 956 102,1 +7,1

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 47


Cakupan KN Lengkap 936 95 % 943 101 +6
Cakupan Kunjungan Bayi 936 95% 8`89 94,9 -0,1
Cakupan DDTK Kontak
Pertama Bayi 936 95% +10,4
Cakupan Kunjungan Balita 3578 92,5 % 3397 94,9 +2,4
Cakupan Kunjungan APRAS 1962 92,5 % 2218 113 +20,5
Pelayanan Balita Sakit dengan 1548 100 % 1459 94,3 -5,7
MTBS
Cakupan Kunjungan Neonatal
RESTI yang ditangani 112 80 % 125 111,6 + 36
3. Keluarga Berencana
Peserta KB Baru 10143 - 7479 73,73
Peserta KB Aktif 10143 - 10120 99,77 +24,77
Peserta KB Drop Out 10143 - 0 0 0
Peserta KB Pasca Persalinan 10143 - 132 14,34 -20,66
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari tabel diatas dapat dilihat secara umum program KIA Ibu dan Anak
sudah mencapai target yang telah ditetapkan tetapi masih ada beberapa kegiatan
yang pencapaiannya masih rendah, antara lain Kunjungan Ibu Nifas Lengkap KF
93,89 %, Program P4K 92,59 % dan Screaning pemeriksaan Hepatitis dan HIV
38,99 %.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 48


3.9.4 Program Gizi

Tabel 3.9 Cakupan Pencapaian Program Gizi di Puskesmas Ambacang Tahun


2018

Target Pencapaian GAP


Program Gizi Sasaran
% Absolut %
D/S 4514 85 3983 88,24 +3,24%
Penimbangan Masal 4514 85 3508 77,71 - 7,29%
N/D 3658 80 3418 93,44 +13,44%
BGM/D 3983 <15 10 0.25 -
Gizi Kurang 4514 <5 32 0,71 -
Bayi BBLR 920 6,9 19 2,07 -
Bayi dengan IMD 920 100 629 68,37 +27,37%
FE 1 Bumil 1013 100 1013 100 -
FE 3 Bumil 1013 95 974 96,15 +1,15%
FE Bufas 966 90 907 93,89 +3,89%
VIT A Bufas 966 100 958 99,17 -0,83%
Bumil KEK 1013 <10 72 7,11 -
Bumil Anemia Baru 1013 < 10 54 5,33 -
Balita yang dapat
Perawatan (BB/TB)
Balita Gizi sangat 4514 ≤5 32 0,71 -
kurus
Vit A Bayi (6-11
bulan)
Bulan Februari 562 90 407 72,42 -17,58%
Bulan Agustus 556 90 510 91,73 +1,73%
Vit A anak Balita
(12-59 bulan

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 49


Bulan Februari 3578 90 3324 92,90 +2,90%
Bulan Agustus 3578 90 3408 95,25 +5,25%
ASI Eklusif (0-5
bulan)
Bulan Februari 301 80 263 87,38 +7,38%
Bulan Agustus 269 80 237 88,10 +8,10%
Pemeriksaan Garam
Beryodium
Bulan Februari 100 95 100 100 +5%
Bulan Agustus 100 95 100 100 +5%
Hasil skrening anak Sangat Kurus Stuntig
sekolah (ST gizi TK Kurus
s/d SMA) SD ( 674 < 20 10 (1,48) 45 (15,23) 25 (3,71)
Stunting) Kurus &
S.Kurus
SMP 759 < 20 21 (2,7) 21(2,7) 25 (3,3)
SMA 1250 < 20 6 (0,48) 35 (38) 56 (4,48)
Kunjungan Pojok 100 735 100 -
Gizi
Kunjungan Klinik 100 624 100 -
Laktasi
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Program Gizi yang belum mencapai
target yaitu Penimbangan Masal baru dengan gap sebesar -7,29% dan Pemberian
Vitamin A pada bayi di Bulan Februari belum mencapai target dengan gap
sebesar 17,58%.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 50


3.9.5 Program P2P (Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit)
3.9.5.1 Pencapaian Program PTM
Pencapaian skrining pada penyakit tidak menular yang terdiri dari
Diabetes Melitus, Hipertensi dan Pemeriksaan IVA pada tahun 2018 dapat
dilihat pada Tabel 3.10

Tabel 3.10 Pencapaian Program PTM tahun 20182


Hipertensi Diabetes IVA
Target : Th/Bl 848/777 251/230 2.172/1.991
Capaian 724 228 198
GAP -53 -2 -1793
% 85 90 9
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Berdasarkan tabel 3.10, pada tahun 2018, penemuan kasus PTM di


Puskesmas Ambacang untuk kasus Hipertensi sebanyak 85%, diabetes 90%, dan
IVA 9 %.

3.9.5.2 Pencapaian Program P2M


Tabel 3.11 Jenis Penyakit Pada Program P2P di Puskesmas Ambacang Tahun
20182
Jenis Penyakit Jumlah Kasus
Penyakit DBD 39
Suspect Penyakit Campak 5
Diare 266
Kasus gigitan hewan penular rabies 28
Malaria 1
Penderita TB

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 51


BTA (+) 22
BTA RO (-) 4
Extra Paru 2
TB Anak 5
Pneumonia 185
Filariasis 0

JUMLAH 557

Dari Tabel 3.11 dapat dilihat penyakit yang terbanyak yaitu penyakit
diare sebanyak 266 kasus dan yang paling sedikit yaitu kasus filariasis masing-
masing 0 kasus.

Gambar 3.3 Cakupan Kasus Penyakit DBD di Puskesmas Ambacang Padang


Tahun 20182
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari grafik pada Gambar 3.3 dapat dilihat terjadi kasus penderita
penyakit DBD pada tahun 2018 sebanyak 39 kasus, dan yang tertinggi di
kelurahan Pasar Ambacang dan lubuk lintah 15 kasus.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 52


Gambar 3.4. Cakupan Penyakit suspek Campak di Puskesmas Ambacang
Tahun 20182
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari grafik pada Gambar 3.4 dapat dilihat pada kasus suspek penyakit
campak terjadi penurunan pada tahun 2018 ini yaitu 5 kasus yang terbanyak di
Pasar Ambacang 3 kasus dan kasus di Anduring dan Ampang Masing-masing
satu kasus dan tidak ada kasus di Lubuk Lintah.

Gambar 3.5 Cakupan kasus Penyakit Diare di Puskesmas Ambacang Tahun


20182
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 53


Dari gambar 3.5 dapat dilihat kasus penyakit diare tahun 2018 adalah
266 kasus dan yang terbanyak terjadi di Pasar Ambacang yaitu 131 kasus,
Anduring 70 kasus, Lubuk Lintah 54 kasus, dan Ampang 11 Kasus.

Gambar 3.6 Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di puskesmas Ambacang


Padang Tahun 20182
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari gambar 3.6 dapat dilihat kasus gigitan hewan penular penyakit
rabies pada tahun 2018 yaitu 26 kasus, yang terbanyak pada Kelurahan Pasar
Ambacang dengan jumlah 13 kasus, dan yang paling sedikit pada Kelurahan
Anduring dengan 3 kasus, sedangkan yang mendapakan VAR berjumlah 10
orang.

Tabel 3.12 Suspek TB Perkelurahan di Puskesmas Ambacang Tahun 20182


Pencapaian
Kelurahan Target TW TOTAL %
TW I II TW III TW IV
Ps.
ambacang 840 33 32 37 48 150 17,85
Anduring 672 32 35 30 43 140 20,83

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 54


Lbk.Lintah 480 30 32 33 40 135 28,12
Ampang 408 25 24 27 40 116 28,43
LW 2 3 4 5 14
Puskesmas 2400 122 126 131 176 555 23,12
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari 2400 target yang ditetapkan
DKK hanya 555 pencapaian penemuan kasus TB paru baru yang diperiksa yaitu
23,12% dan tertinggi pada Triwulan IV sebanyak 176 kasus sedangkan yang
paling rendah ditemukan pada triwulan I sebanyak 122 kasus.

Tabel 3.13 Penemuan kasus TB di Puskesmas Ambacang Tahun 20182


PENDERITA
BTA (+)
TW TARGET TB RO Total
Baru BTA (+) BTA(-)
EP TB anak
Kambuh RO (+)
I 60 7 0 1 1 3 0 12
II 60 8 1 1 1 0 0 11
III 60 4 1 2 0 3 0 10
IV 60 16 4 0 0 3 0 23
HC 240 35 6 4 2 9 0 56
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Tabel 3.14 Hasil Evaluasi TB Paru Puskesmas Ambacang tahun 20182


PENCAPAIAN
INDIKATOR STANDAR 2018
Proporsi BTA (+) Baru diantara
Suspek 50 % 23,12 %
Proporsi pat BTA(+) baru
diantara pat TB paru yang diobati 100 % 39,28 %
Proporsi Pat TB Anak 8-12 % 28,5 %

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 55


Proporsi pat TB yang dites HIV 100 % 78,57 %
Proporsi pat TB yg hasilnya
reaktif - 0
Angka Konversi 80 % 44,8 %
Angka Kesembuhan 90 % 50 %
Angka Keberhasilan Pengobatan
TB 90 % 100 %
Angka Keberhasilan TB Anak 12 % 17,85 %
CNR (Case Notification Rate) 98,8/100.000107,6 %
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari tabel di 3.14 dapat dilihat pencapaian proporsi suspek tahun 2018,
yaitu 23,12 %.

Tabel 3.15 Cakupan pencapaian program imunisasi di Puskesmas Ambacang


Padang Tahun 2018

PENCAPAIAN
JENIS SASAR
TARGET KOM(AB GAP
IMUNISASI AN
S) %
BAYI
HB 0 936 95 % 952 101,7 6,7
BCG 936 95 % 943 100,7 5,7
DPT/HB1 936 95% 935 102,5 7,5
POLIO 1 936 95% 954 101,9 6,9
DPT/HB3 912 95% 922 101,1 6,1
POLIO 4 912 93% 919 100,8 7,8
CAMPAK 912 93% 892 97,8 4,8
BUMIL
TT 2 1013 90% 778 76,8 -13,2

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 56


BIAS
CAMPAK 680 95 % 421 61,9 -33,1
IMUNISASI BOSTER
DPT/HB/HI
B 1815 90 % 790 42,9 -47,1
CAMPAK 1815 90 % 904 49,1 -40.9
PIN POLIO
POLIO - - - - -
BIAS DT
658 95 % 463 70,4 -24,6
BIAS Td
664 95 % 512 77,1 -17,9
CRAST PROGRAM CAMPAK
10850 95 % 5373 49,5 -45,5
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari Tabel 3.15 diatas dapat dilihat cakupan imunisasi ibu hamil dengan
TT2 masih belum mencapai target yang ditetapkan DKK Padang dengan gap
sebesar 13,2% dan cakupan BIAS yang juga belum mencapai target yaitu bias
campak dengan gap sebesar 33,1% dan imunisasi boster DPT /HB/HIB dengan
gap sebesar 47,14% dan campak dengan gap sebesar 40,9%, Bias DT dengan
gap sebesar 24,6%, dan Bias Td dengan gap sebesar 17,1% serta untuk
imunisasi MR dengan gap sebesar 45,5%.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 57


3.9.6 Program Perkesmas
400 365
350
300 278
250
200
150
100
29 36
50 6 1
0
Materna Anak Risti Masalah Peny Lansia Risti PTM
Jumlah Kasus
Risti Gizi Menular

Gambar 3.7 Pembinaan KK Resti berdasarkan kasus Di Puskesmas Ambacang


Tahun 2018
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari gambar diatas dapat dilihat pembinaan yang di laksanakan pada KK


resti adalah keluarga dengan masalah kasus penyakit tidak menular yang
tertinggi yaitu 365 kasus dan paling sedikit dengan keluarga dengan masalah
gizi tidak ada kasus dari sasaran 9957 KK.

3.10 Pencapaian Program UKM Pengembangan


3.10.1 Pelayanan Kesehatan Lansia
Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia merupakan upaya untuk meningkatnya
umur harapan hidup (UHH) adalah salah satu indikator utama tingkat kesehatan
masyarakat.Semakin tinggi jumlah Lansia, maka semakin baik tingkat kesehatan
masyarakatnya.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 58


2500

1992
2000

1593
1500

1035 Sasaran
948
1000 Capaian

42
428
500 0 340 427
395

0
Pasar ambacang Anduring Lubuk Lintah Ampang

Gambar 3.8 Grafik kunjungan LANSIA di Posyandu Puskesmas Ambacang


Tahun 20182
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari Gambar 3.8 dapat di ketahui bahwa dari sasaran 5568 lansia dan
yang bekunjungan dalam kegiatan posyandu lansia sebanayak 1596 jumlah
kunjungan lansia. Dengan jumlah capaian terendah di kelurahan anduring

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 59


3.10.2 Upaya Kesehatan Jiwa

Gambar 3.9 Upaya Kesehatan Jiwa di Puskesmas Ambacang Padang2


Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari gambar di atas dapat di ketahui bahwa jumlah penderita jiwa adalah
264 orang dengan peringkat tertinggi penyakit psikotik yaitu 193 kasus, dan
terendah penyakit ganguan belajar yaitu 22 kasus. Selain itu berdasarkan data
PIS-PK 71,92% dari pasien yang mendapat pengobatan dan tidak ditelantarkan.7

3.10.3 UKGS dan UKGMD


Tabel 3.16 Cakupan pencapaian program imunisasi di Puskesmas Ambacang
Padang Tahun 2018
KEGIATAN 2018
JL MURID KELAS I 681
JL SD UKGS 21
JL MURID SD YG MELAKSANAKAN SIKAT 681
GIGI MASAL
JL MURID SD YG MENDAPAT PERAWATAN 372

JL MURID YG DI RUJUK 163


Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 60


Dari tabel diatas dapat di lihat peningkatan yang signifikan pada variabel
murid yang melaksanakan sikat gigi masal pada tahun 2018 yaitu 681 orang, dan
jumlah murid yang di rujuk ke puskesmas adalah 163 orang.
Jumlah Kelurahan dengan kegiatan UKGMD 4 kelurahan dan telah
melaksanakan kegiatan UKGMD

Tabel 3.17 Hasil Kegiatan UKGMD Tahun 2018


KEGIATAN 2018

JL PENDUDUK 52.032
JL KK BINAAN UKGM 539
JL PENDUDUK BINAAN UKGM 2.200
JL KELURAHAN BINAAN UKGM 4
JL POSYANDU BINAAN UKGM 29
JL PENDUDUK YG DI PERIKSA 246
JL YG TELAH SELESAI PENGOBATAN 46
J L YG DI RUJUK 79

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari tabel diatas dapat di lihat peningkatan jumlah penduduk binaan


UKGM pada tahun 2018 yaitu 52.032 , Penduduk yang diperiksa 246 dan dari
yang di periksa ada 46 yang telah selesai pengobatan dan dirujuk 79 orang.

3.10.4 Upaya Kesehatan Indra


Masalah kesehatan Indra tidak hanya merupakan masalah kesehatan atau
medis namun juga merupakan masalah sosial di Indonesia. Upaya kesehatan
indra penglihatan di puskesmas merupakan salah satu upaya kesehatan
berdasarkan kebijakan penanggulangan kebutaan. Dan upaya kesehatan
pendengaran di puskesmas merupakan salah satu upaya pelayanan skrining
sebagai penjaringan pada tingkat dasar bagi masyarakat.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 61


900
796
800

700

600

500

400
288
300

200 135
100
13
0
Katarak Kalainan Reraksi Glukoma Tuli hantaran

Gambar 3.10 Upaya Pelayanan Kesehatan Indra di Puskesmas Ambacang


Padang Tahun 2018
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari gambar diatas dapat dilihat tentang upaya kesehatan mata yang
dilayani di Puskesmas yang paling terbanyak yaitu kelainan Refraksi sebanyak
796 kasus yang dirujuk ke Rumah Sakit, dan penyakit mata Glaukoma ada 13
Kasus. Sedangkan indra pendengaran yang terbanyak adalah tuli hantaran yaitu
288 kasus.
3.10.5 Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha yang di lakukan untuk
meningkatkan kesehatan anak usia sekolah pada setiap jalur,jenis dan jenjang
pendidikan mulai dari TK sampai SMA/SMK/MA. UKS di jalankan di sekolah
sekolah,dengan sasaran utama adalah anak anak sekolah dan lingkunganya,
salah satu wahana untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat
kesehatan peserta didik sedini mungkin, selanjutnya disebutkan Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS) harus sudah mendapat tempat dan perhatian yang
baik didalam lingkungan pendidikan.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 62


Tabel 3.18 Hasil Pencapaian UKS Puskesmas Ambacang (Januari s/d Desember
2018)
%
Target Hasil %
Target
Kinerja Program Satuan Sasara Pencapa Pencapaia GAP
Pencap
n ian n
aian
Pembinaan sekolah
Anak 21 100 21 100 0
SD
Pembinaan sekolah
Anak 21 100 21 100 0
SMP
Pembinaan sekolah
Anak 4 100 4 100 0
SMA
Pemeriksaan Berkala
Sekolah 3451 100 3194 92,55 7,45%
SD
Pemeriksaan Berkala
Sekolah 1577 100 1362 83,36 16,64%
SMP
Pemeriksaan berkala
Sekolah 1433 100 1169 81,57 18,43%
SMA

Skrining SD Sekolah 680 100 674 99,11 -

Skrining SMP Sekolah 782 100 759 97,05 -2,95%


Skrining SMA Sekolah 1316 100 1251 95,06 -4,94%
Pelatihan Dokter
anak 418 100 198 48,2 -51,8%
Kecil
Pelatihan KKR SMA anak 355 100 225 65,0 -35%
Penyuluhan
anak 35 100 35 100 -65%
kesehatan
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 63


3.10.6. Kesehatan Olah Raga
a. Pelayanan Kesehatan Olah raga
Kesehatan olahraga adalah ilmu yang mengolah segala aspek medis dari
kegiatan olahraga yang merupakan aplikasi dari pelbagai cabang ilmu
kedokteran terutama fisiologi, kardiologi,orthopedi, ilmu gizi dan psikologi. Jadi
kesehatan olahraga adalah semua bentuk kegiatan yang menerapkan
ilmu/pengetahuan fisik pada umumnya yang bertujuan meningkatkan
derajatkesehatan dan kesegaran jasmani olahragawan untuk mencapai prestasi
maksimal padakhususnya.

Tabel 3.19 Kegiatan Pembinaan Kesehatan Olah raga Puskesmas Ambacang


2018
Kegiatan Pasar Anduring Lubuk Ampang Puskesmas
Ambacang Lintah
Senam Lansia 381 360 264 251 1256
Takrau 12 46 0 0 58
Senam 30 16 0 0 46
Aerobik
Futsal 24 6 0 0 30
Pencat Silat 0 0 3 0 3
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

3.11 Upaya Kesehatan Pengobatan (UKP)


Upaya pengobatan yang dilakukan puskesmas merupakan pelayanan
kesehatan tingkat dasar sebagai penjaringan awal pelayanan kesehatan
puskesmas sebagai upaya pelayanan promotif dan preventif bagi masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 64


3.11.1. Kunjungan Pasien Dalam Gedung
Pasien yang datang ke Puskesmas dengan pelayanan primer dapat
digambarkan dengan grafik dan tabel berikut ini.

33015
35000

30000

25000

20000

15000

10000 4862
5000 28.153
0
BPJS UMUM Puskesmas

35000 33015

30000 27717

25000

20000

15000

10000
5298
5000

0
LAMA BARU PUSKESMAS

Series1 Series2

Gambar 3.11 Kunjungan Dalam Gedung Puskesmas Ambacang Tahun 2018


Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari tabel diatas dapat dilihat jumlah kunjungan pasien dalam gedung ke
puskesmas yang terbanyak yaitu jumlah kunjungan pasien lama sebesar 27717,
sedangkan pasien baru sebesar 5298, dengan jenis pasien yang terbanyak pasien

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 65


BPJS 28153 dan pasien umum sebanyak 4862 dengan total jumlah kunjungan
ke puskesmas total 33015.

3.11.2 Farmasi Puskesmas


Apotik adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh Apoteker dan tenaga kefarmasian lainnya. Pelayanan
kefarmasian merupakan upaya kesehatan penunjang yang sangat dibutuhkan di
puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan perorangan khususnya dan
masyarakat umumnya.

Tabel 3.20 15 Jenis Pemakaian Obat Terbanyak Dalam Peresepan di Puskesmas


Ambacang Padang Tahun 2018
NAMA OBAT SATUAN JUMLAH
Parasetamol Tablet 124647
Ctm Tablet 94100
Vitamin C Tablet 61934
Ambroxol Tablet 58622
Ranitidin Kaplet 43601
Amoxicilin 500 mg Tablet 38415
Antasida Tablet 36749
Vitamin BC Tablet 34803
Vitamin B1 Tablet 33308
Metformin 500 mg Kaplet 32419
Vitamin B6 Tablet 28725
Asam Mafenamat Tablet 23516
Dexametason Tablet 19719
Amlodipin 5 mg Tablet 16888
Ciproflaxcin 500 mg Tablet 7897
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 66


Dari tabel diatas dapat dilihat jenis pemakaian obat dalam peresepan
yang terbanyak digunakan yaitu Paracetamol sebanyak 124647 tablet dan
dilanjutkan dengan CTM sebanyak 94100 tablet. Bila dihubungkan dengan 10
penyakit terbanyak adalah 4997 kejadian ISPA , pemakaian obat diatas cukup
relevan.

3.11.3 Poli Gigi dan Mulut


Pelayanan kesehatan gigi dan mulut adalah merupakan suatu pelayanan
yang dilakukan di Puskesmas sebagai upaya preventif , promotif , preventiv dan
kurativ yang dilaksanakan dalam gedung dan luar gedung. Pelayanan dalam
gedung bersifat privat good sedangkan pelayanan luar gedung seperti UKGM
dan UKGS bersifat public good.
a. Kegiatan Kesehatan Gigi dalam Gedung

Gambar 3.12 Gambaran Kunjungan Pasien Gigi Ke Puskesmas Ambacang


Tahun 2018
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang Kuranji Tahun 2018

Dari grafik diatas kunjungan BP gigi Kunjungan BPJS sebayak 2095


dan Kunjungan umum sebanyak 712.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 67


b. Integrasi Kesehatan Gigi dengan Kesehatan Ibu dan Anak

Integrasi gigi KIA merupakan suatu bentuk penyelenggaraan program


secara lintas program. Sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui, anak
prasekolah dan anak balita yang berkunjung ke Klinik KIA Puskesmas.
Kegiatan yang dapat dilakukan di KIA adalah sebagai berikut:
 Pemeriksaan sepintas terhadap pasien / pengunjung KIA
 Bila ditemukan kasus tertentu oleh bidan /petugas KIA yang tidak ter
tangani maka akan dirujuk ke Poli gigi
 Pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kemampuan pada saat itu.
 Memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut terutama
cara menggosok gigi yang benar.
 Pencatatan dan pelaporan serta analisa data dan informasi

3.11.4 Pemeriksaan Laboratorium


Pemeriksaan laboratorium di Puskesmas Ambacang sebagai penunjang
diagnostik terhadap pelayanan yang diberikan kepada pasien ini merupakan
pemeriksaan yang bersifat labor sederhana karena puskesmas merupakan unit
pelayanan kesehatan tingkat dasar, jika ada kasus penyakit yang memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut maka puskesmas dapat merujuk pasien ke Rumah Sakit
untuk tindakan lebih lanjut dari cakupan pemeriksaan laboratorium di
puskesmas.

Tabel 3.21 Tabel pemeriksaan Laboratorium di Puskesmas Ambacang Padang


Tahun 2018

NO PEMERIKSAAN KLINIK JUMLAH

A MIKROBIOLOGI (Pemeriksaan Penyakit


Menular

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 68


1 HIV 478
2 Syphilis 152
3 BTA : - TB 348
B PARASITOLOGI
1 Malaria
2 Filariasis
C PEM KLINIK
DARAH RUTIN
a. Haemoglobin 638
b. Leukosit 133
c. Eritrosit 133
d. Trombosit 133
e. Hematokrit 133
f. Hit J Darah 133

KIMIA KLINIK
a. Gula Darah 104
b. Total Choles 430
- cholesterol
- HDL
- LDL
- Trigliserida
e. Asam Urat 588
URINALISA
a. Makroskopis
- Warna 450
- Kejernihan 448
b. Albumin 457
c. Reduksi 450

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 69


d. Bilirubin 15
e. Urobilin 10
f. Keton 10
g. Nitrit 10
i. PH 10
j. Berat jenis 10
h. As askorbit 10
i. Plano test 167
Serologi
a. Widal 39
b. Gol darah 224
c. HbSAg 433

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kegiatan laboratorium terlaksana


dengan baik karena kegiatan ini cendrung meningkat di karenakan alat
laboratorium dan reagen yang di butuhkan tersedia lengkap, baik pemeriksaan
yang bersifat langsung maupun tidak langsung termasuk pemeriksaan yang
menyangkut dengan program (TB, FILARIASIS, HIV) kecuali Malaria.
Kegiatan pemeriksaan darah lengkap ( HB, gula darah, Asan urat, dan
kolesterol) merupakan kegiatan tersering yang di lakukan oleh petugas labor.
Kegiatan ini karena ada hubungan nya dengan program KIA yang mengharuskan
setiap ibu hamil di minta untuk pemeriksaan HB dan golongan darah dan tripel
eliminasi.

Tabel 3.22 Rangkuman capaian program UKM Essensial Puskesmas Ambacang


Program Sasaran Target Pencapaian Gap
Kum %
Promosi Kesehatan
PHBS 10030 80 9530 95%

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 70


Rumah Tangga Yang dibina
Rumah tangga Yang ber 8024 80 4661 58%
PHBS -22%

PHBS dengan Indikator :


8024 100 9530 118%
- Linakes
8024 100 8381 104%
- ASI ekslusif
8024 100 8070 100,5%
- Timbang Bayi & Balita
8024 100 9072 113%
- Sarana Air Bersih
8024 100 7629 95% -5%
- CTPS
8024 100 7057 87,9% -12,1%
- Jamban Keluarga
8024 100 7313 91,1% -8,9%
- Pembasmi Jentik
8024 100 7657 95,4% -4,6%
- MakanBuah&sayur
8024 100 7694 95,8% -4,2%
- Aktifitas Fisik
8024 100 4661 58,08% -41,92%
- Tidak merokok dirumah

Kesehatan Lingkungan
4734 -31,94%
Rumah 8015 91 8015
(59,06%)
4734 -21,94%
Jamban 8015 81 8015
(59,06%)
2785 -52%
SPAL 7068 91 7068
(39%)
2931 -54,44%
Sampah 8015 91 8015
(36,56%)
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
KIA IBU
Program P4K 1013 100 938 92,59% -7,41%
Screaning dan Pemeriksaan 1013 70 395 38,99% -31,01%

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 71


hepatitis B dan HIV
KIA ANAK
Semua sudah mencapai target
Gizi
Penimbangan Masal 4514 85 3508 77,71 -7,29%
Bayi BBLR 920 6,9 19 2,07 -4,83%
Bayi dengan IMD 920 100 629 68,37 -31,63%
VIT A Bufas 966 100 958 99,17 -0,83%
Vit A Bayi (6-11 bulan)
Bulan Februari 562 90 407 72,42 -17,58%
Bulan Agustus 556 90 510 91,73
P2P
Penemuan Suspek TB 2400 100 620 26% -74%
Penemuan Kasus TB 200 39 19,5%
Imunisasi Bayi
BUMIL
TT 2 1018 90% 842 82,4 -7,6%
BIAS
CAMPAK 707 95 % 665 94,3 -0,7%
IMUNISASI BOSTER
DPT/HB/HIB 1815 50 % 743 40,9 -9,1%
CAMPAK 1815 50 % 628 34,6 -15,4%

Berdasarkan tabel 3.22, terdapat beberapa program UKM essensial yang


bermasalah di puskesmas Ambacang yang belum mencapai target. Pencapaian
program terendah pada Puskesmas Ambacang adalah salah satu program P2P,
yaitu penemuan suspek TB dengan gap sebesar 74%. Kemudian, diikuti oleh
pengelolaan sampah pada program Kesling dengan gap sebesar 54,44%, jumlah
bayi dengan IMD pada program gizi dengan gap sebesar 31,63%, angka
skrining Hepatitis B, HIV dan Sifilis pada ibu dengan gap sebesar 31,01%, dan

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 72


jumlah rumah tangga yang ber-PHBS pada program promosi kesehatan gap
sebesar 22%.
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Masalah


Proses identifikasi masalah dilakukan melalui kegiatan observasi dan
wawancara dengan pimpinan puskesmas, pemegang program, petugas yang
menjalankan program, analisis laporan tahunan Puskesmas Ambacang, dan
observasi lapangan. Proses ini dilakukan dengan melihat data sekunder berupa
laporan tahunan Puskesmas Ambacang tahun 2018.
Masalah yang diidentifikasi adalah semua permasalahan yang terdapat
pada pelaksanaan UKM essensial, UKM pengembangan, maupun UKP di
wilayah kerja Puskesmas Ambacang. Beberapa potensi masalah yang berhasil
diidentifikasi di BAB 3 dan disetujui kepala puskesmas di wilayah kerja
Puskesmas Ambacang adalah sebagai berikut (Tabel 4.1)

Tabel 4.1 Identifikasi masalah


Program Masalah
Program P2P: Masih tingginya angka kejadian diare pada akhir
Insiden Diare tahun 2018 sebanyak 266 kasus

Program KIA: Masih belum tercapainya target program P4K


Program P4K (GAP 7,41%)
Progam Kesling : Masah Masih banyak tempat sampah/pembuangan
sampah sampah yang belum memenuhi standar (GAP
63,44%)
Program PIS PK: Masih belum tercapai 3 dari 12 indikator PHBS
Indikator PHBS
Screening dan pemeriksaan Masih belum tercapainya program KIA dalam

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 73


hepatitis B dan HIV program screening serta pemeriksaan hepatitis B
dan HIV pada ibu hamil (38,99% dari 70%)

4.2 Penentuan Prioritas Masalah


Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang ada di Puskesmas
Ambacang, dapat ditemukan beberapa permasalahan yang perlu untuk
diselesaikan. Tetapi perlu dilakukan penentuan prioritas penyelesaian masalah
karena tidak mungkin dilakukan pemecahan masalah secara sekaligus. Untuk itu
digunakanlah metode skoring USG (Urgency, Seriousness, Growth) untuk
menentukan prioritas masalah. Kriteria skoring yang digunakan adalah sebagai
berikut.
Tabel 4.2 Kriteria Skoring USG
Skor Urgency Seriousness Growth
1 Tidak mendesak/ Tidak menganggu Masalah berkembang
membutuhkan produktivitas, dengan sangat lambat
intervensi segera keselamatan jiwa dan
SDM
2 Kurang mendesak/ Kurang menganggu Masalah berkembang
membutuhkan produktivitas, dengan lambat
intervensi segera keselamatan jiwa dan
SDM
3 Cukup mendesak/ Cukup menganggu Masalah berkembang
membutuhkan produktivitas, dengan kurang lambat
intervensi segera keselamatan jiwa dan
SDM
4 Mendesak/ Menganggu Masalah berkembang

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 74


membutuhkan produktivitas, dengan cepat
intervensi segera keselamatan jiwa dan
SDM
5 Sangat mendesak/ Sangat menganggu Masalah berkembang
membutuhkan produktivitas, dengan sangat cepat
intervensi segera keselamatan jiwa dan
SDM

Tabel 4.3 Penilaian Prioritas Masalah di Wilayah Kerja Puskesmas Ambacang


Masalah Urgency Seriousness Growth Total Rangking
Insiden diare 4 3 3 11 1
Program P4K 3 3 2 8 2
Kesling 3 2 2 7 5
PHBS 2 2 3 7 4
Hepatits B dan HIV 3 3 3 9 3

1. Insiden Diare
Urgensi : 4 (mendesak, membutuhkan interfensi segera)
Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Ambacang, angka
kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Ambacang angat tinggi yaitu
266 orang, kejadian diare bila tidak diintervensi dengan cepat dapat
menimbulkan masalah yang lebih besar, seperti makin meningkatnya
angka kejadian diare karena diare merupakan penyakit yang dapat
ditularkan melalui higienitas yang tidak baik.
Seriousness : 4 (mengganggu produktivitas, keselamatan jiwa dan
SDM
Diare dapat mengganggu produktivitas karena dapat
meningkaykan angka kesakitan yang berujung pada berkurangnya
produktivitas .

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 75


Growth : 3 (Masalah berkembang dengan kurang lambat)
Masalah diare berkembang dengan kurang lambat. Berdasarkan
laporan tahunan Puskesmas Ambacang 2018, masih ada 266 kasus diare.
Sehingga dalam waktu yang cukup lama dapat menimbulkan berbagai
komplikasi yang dapat mengganggu kualitas hidup.

2. Kesehatan Lingkungan
Urgensi : 3 (cukup penting)
Kesehatan lingkungan sebagai salah satu upaya kesehatan
ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik,
kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mecapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Dalam Undang-undang
Kesehatan No 36/2009 diamanatkan bahwa kesehatan lingkungan
diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat
terhadap sarana sanitasi seperti di tempat-tempat umum, di lingkungan
pemukiman, perumahan, hotel, sekolah, fasyankes, tempat pengolahan
makanan, fasilitas umum dan sarana air minum, baik dalam situasi
normal maupun dalam situasi darurat akibat bencana alam. Kesehatan
lingkungan dikategorikan cukup penting karena masih ada sarana yang
masih belum memenuhi syarat kesehatan, diantaranya rumah dan jamban
yang memenuhi syarat 59,06% dan tidak memenuhi syarat yaitu 40,94%,
SPAL yang memenuhi syarat yaitu 39% dan tidak memenuhi syarat yaitu
61%, dan sampah yang memenuhi syarat yaitu 36,56% dan tidak
memenuhi syarat yaitu 63,44%.

Seriousness : 3 (Cukup mengganggu produktivitas, keselamatan jiwa


dan SDM)
Sampai saat ini penyakit yang terkait akibat kualitas lingkungan
yang kurang baik masih merupakan masalah kesehatan masyarakat.
Penyakit ini antara lain sepeti ISPA,malaria, demam berdarah dengue,

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 76


diare dan penyakit lainnya yang memiliki angka kejadian cukup tinggi
tiap tahunnya. Pada laporan tahunan tahun 2018 di Puskesmas Ambacang
didapatkan penyakit terbanyak akibat kesehatan lingkungan yaitu ISPA
sebesar 52,28%, kemudian penyakit kulit 28,13%, diare 16,7%, TB paru
0,23% dan DBD 0,047%.

Growth : 2 (Pertumbuhan atau perkembangan masalah lambat)


Kurang sehatnya kondisi lingkungan sekitar tidak menjadi satu-
satunya faktor yang berperan dalam terjadinya masalah kesehatan.
Masalah kesehatan akibat lingkungan juga dipengaruhi oleh faktor lain
seperti imunitas host dan agen penyebab penyakit itu sendiri. Selain itu,
pengobatan yang mudah didapatkan di puskesmas juga merupakan salah
satu faktor yang menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan nya
masih lambat.

3. Program P4K
Urgensi : 3 (Cukup penting)
Masih tedapat GAP 7,41% untuk program P4K, masalah ini
cukup penting karena berkaitan dengan pencegahan komplikasi selama
kehamilan dan persalinan.

Seriousness : 3 (Cukup menganggu produktivitas, keselamatan jiwa


dan SDM)
Program P4K merupakan salah satu upaya percepatan penurunan
angka kematian ibu dan bayi, melalui peningkatan mutu pelayanan
antenatal, masih belum tercapainya target P4K menggambarkan masih
terdapatnya ibu hamil yang dapat mengalami komplikasi atau resiko
tinggi bagi kehamilannya.

Growth : 2 (pertumbuhan atau perkembangan masalah lambat)

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 77


Masalah P4K berkembang dengan lambat karena tidak
mempengaruhi orang lain, hanya dari kebiasaan dan pengetahuan ibu itu
sendiri. Selain itu juga bergantung kepada tenaga kesehatan yang
menolong persalinan tersebut.
4. Pola Hidup Bersih dan Sehat
Urgensi : 2 (kurang mendesak)
Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Ambacang, terdapat
beberapa program PHBS dalam rumah tangga yang belum tercapai di
wilayah Puskesmas Ambacang, seperti kebiasaan merokok, rumah sehat,
jamban yang belum layak, dan lainnya. Pola hidup bersih dan sehat
kurang mendesak karena waktu yang dibutuhkan untuk merubah perilaku
lebih lama dimana ini berhubungan dengan kebiasaan seseorang.

Seriousness : 2 (kurang mengganggu produktivitas, keselamatan


jiwa dan SDM
PHBS yang buruk kurang mengganggu produktivitas karena tidak
memberikan dampak langsung terhadap suatu penyakit. Selain itu, angka
kesakitan akibat PHBS yang buruk juga semakin menurun setiap
tahunnya.

Growth : 3 (Masalah berkembang dengan kurang lambat)


Masalah kebiasaan merokok berkembang dengan kurang lambat.
Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Ambacang 2018, masih ada
58.08% perokok yang merokok di dalam rumah. Sehingga dalam waktu
yang cukup lama dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang dapat
mengganggu kualitas hidup dan kesehatan perokok itu sendiri, termasuk
pada orang sekitar.
5. Screening Hepatitis B dan HIV
6. Skrining dan pemeriksaan hepatitis pada ibu hamil B dan HIV
Urgency : 3 ( serius / perlu intervensi segera)

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 78


Skrining dan pemeriksaan Hepatitis B HIV dan Sifilis mendesak
karena angka kejadian Hepatitis B, HIV, dan Sifilis di Kota Padang tahun
2018 merupakan tertinggi di Sumatera Barat. Angka ibu hamil yang
menderita HIV tahun 2018 sejumlah 60 orang, Sifilis 311 orang, dan
Hepatitis B 457 orang. Berdasarkan laporan tahunan 2018 Puskesmas
Ambacang, sudah ditemukan 6 ibu hamil yang reaktif terhadap
pemeriksaan HBsAg dari 395 ibu hamil yang diperiksa. Hal tersebut
berarti ditemukannya 1,5% yang reaktif HBsAg dari ibu hamil yang telah
diperiksa. Keadaan ini mendesak karena masih ada 618 ibu hamil yang
belum diperiksa status HIV dan Hepatitis B-nya. Selain itu, intervensi
terhadap pemeriksaan Hepatitis, HIV dan Sifilis belum ada sebelumnya
di Puskesmas Ambacang. Selain itu, terjadi peningkatan angka penyakit
Hepatitis B dan Sifilis pada tahun 2019. Terhitung bulan Januari hingga
Mei 2019 telah terdata sebanyak 3 orang ibu hamil positif pada
pemeriksaan Hepatitis B dan 2 orang ibu hamil positif Sifilis.

Seriousness : 3 (Mengganggu produktivitas, keselamatan jiwa dan


SDM)
Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Ambacang, belum
ditemukan angka kematian terkait HIV dan Hepatitis B pada ibu hamil.
Namun, jika hal ini dibiarkan maka dapat terjadi peningkatan angka
kesakitan, kecacatan, bahkan kematian baik pada ibu maupun janin yang
dikandungnya dan pengobatan tuntasnya belum ditemukan.

Growth : 3 (Pertumbuhannya kurang lambat)


Pertumbuhan kasus HIV, Hepatitis B, dan Sifilis pada ibu hamil
kurang lambat, disebabkan karena rute penularan ketiga penyakit ini
terbatas, yaitu dari darah, hubungan seksual, dan dari ibu ke anak. Risiko
penularan HIV, Hepatitis B, dan Sifilis dari ibu ke anak berturut-turut
adalah sebesar 20-45%, 69-80%, dan >90%.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 79


4.2 Analisis Sebab Masalah
Berdasarkan penilaian prioritas masalah yang kami temukan, didapatkan
masalah utama di wilayah kerja Puskesmas Ambacang adalah rendahnya angka
jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Ambacang
Dari hasil observasi dan diskusi dengan pimpinan puskesmas dan
pemegang program, serta analisis data sekunder Laporan Tahunan Puskesmas
Ambacang Tahun 2018, maka diperoleh beberapa sebab dari masalah tersebut:
a. Kurangnya jumlah cakupan jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas
Ambacang, hanya 50% penduduk di wilayah kerja Puskesmas Ambacang
yang telah memiliki jamban yang sehat yang sesuai dengan standar, dengan
Kelurahan Pasar Ambacang sebagai Kelurahan dengan tingkat cakupan
jamban sehat terendah sebanyak 41,5%. Akibatnya angka kunjungan
puskesmas akibat penyakit diare juga meningkat didapatkan 266 kasus diare
di wilayah kerja Puskesmas Ambacang dengan insiden tertinggi di
Kelurahan Pasaar Ambacang dengan 131 orang.
b. Belum adanya kader khusus untuk pembentukan jamban sehat .
Berdasarkan hasil obervasi lapangan dan diskusi dengan pemegang program
didapatkan belum adanya kader khusus untuk pembentukan jamban sehat.
Masih kurangnya tenaga sanitarian di lingkungan kerja Puskesmas
Ambacang
c. Kurangnya media promosi mengenai penyakit berbasis lingkungan dan
sanitassi yang sehat
d. Masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai kebersihan pribadi dan
kebersihan lingkungan didapatkan dari pengamatan dilingkungan Kelurahan
Pasar Ambacang di RW 09 masih terdapat 30 kepala keluarga yang masih
membuang tinjanya kealiran sungai yang juga dijadikan sumber air bersih
warga.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 80


4.4 Diagram Ishikawa

Manusia Metode
- Masih rendahnya - Jumlah kader P2P masi
kesadaran masyarakat kurang
mengenai lebersihan - Jumlah tenaga kesehatan
pribadi dan kebersihan lingkungan masih kurang
lingkungan

Meningkatnya
insiden diare di
wilayah kerja
Puskesmas
Ambacang

Material Lingkungan
- Kurangnya jumalh media - Masih adanya jamban yang
informasi mengenai diare di tidak memenuhi syarat
- Masih adanya sumber air
lingkungan Puskesmas yang tidak memenuhi syarat
Amabacang
- Tidak ada dana alokasi
langsung dari pemerintah
utuk perbaikan sarana
masyarakat

Gambar 4.1 Analisis Masalah Menggunakan Diagram Ishikawa

4.5. Alternatif Pemecahan Masalah


1. Manusia
- Masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai kebersihan pribadi dan
kebersihan air dan lingkungan
Solusi :
- Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya kebersihan
lingkungan
Rencana :

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 81


- Kegiatan Jakun (Jambanku Nyaman). Acara ini merupakan kegiatan
yang bertujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat mengenai
kebersihan pribadi meliputi PHBS dan 5 pilar STBM dan kebersihan
lingkungan. Pada acara ini juga dilakukan pembangunan jamban sehat
sebagai percontohan jamban yang sehat bagi masyarakat. Pada acara ini
juga akan dibentuk deklarasi masyarakat untuk hidup sehat dan bersih.
Pelaksana :
- Dokter Muda Universitas Andalas Puskesmas Ambacang
Sasaran :
- Masyarakat Kelurahan Pasar Ambacang
Waktu :
- September-November 2019
Tempat :
- RT 02 RW 09 Pila Tarok, Kelurahan Pasar Ambacang
Target :
- Terlaksananya penyuluhan kepada masyarakat kelurahan Pasar
Ambacang terkait kesehatan pribadi dan lingkungan .
- Terlaksananya pembentukan 1 jamban percontohan di Kelurahan Pasar
Ambacang

2. Metode
- Jumlah kader P2P yang masih kurang
- Jumlah tenaga kesehatan lingkungan yang masih kurang untuk
memberikan penyuluhan sanitasi kepada masyarakat.
Solusi :
- Membentuk kader yang aktif untuk mensosialisasikan pentingnya
perilaku hidup bersih dan sehat serta pentingnya menjaga kesehatan
lingkungan untuk menghindari penyakit penyakit berbasis lingkungan.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 82


- Meningkatkan pengetahuan kader dari posyandu di wilayah kerja
Puskesmas Ambacang mengenai penyakit berbasis lingkungan dan
sanitasi lingkungan.
Rencana :
- Membentuk kader yang aktif untuk mensosialisasikan pentingnya
perilaku hidup bersih dan sehat serta pentingnya menjaga kesehatan
lingkungan untuk menghindari penyakit penyakit berbasis lingkungan.
- Mengadakan pelatihan dan penyuluhan kepada kader mengenai penyakit
berbasis lingkungan dan sanitasi lingkungan
Pelaksana :
- Dokter Muda Universitas Andalas Puskesmas Ambacang
Sasaran :
- Kader dan Petugas Kesehatan di Puskesmas Ambacang.
- September-November 2019
Tempat :
- Puskesmas Ambacang
Target :
- Terbentuknya kader.
- Terlaksananya penyuluhan kepada petugas kader mengenai pentingnya
penyakit berbasis lingkungan dan sanitasi lingkungan
3. Material
- Kurangnya media promosi mengenai penyakit berbasis lingkungan
seperti diare dan sanitasi lingkungan di Puskesmas Ambacang
Solusi :
- Penambahan media promosi terkait penyakit berbasis lingkungan seperti
diare dan sanitasi lingkungan di Puskesmas Ambacang
Rencana :
- Pembuatan dan penempatan poster di Puskesmas Ambacang.
- Pembuatan leaflet.
Pelaksana :

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 83


- Dokter Muda Universitas Andalas Puskesmas Ambacang
Sasaran :
- Masyarakat yang berkunjung ke Puskesmas Ambacang.
Waktu :
- September-November 2019
Tempat :
- Puskesmas Ambacang.
Target :
- Terpasangnya poster dalam menunjang kegiatan promosi kesehatan
tentang penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan sanitasi
lingkungan di Puskesmas Ambacang
- Dibagikannya leaflet kepada masyarakat yang dating pada saat
penyuluhan.
- Tersedianya leaflet mengenai penyakit berbasis lingkungan seperti diare
dan sanitasi lingkungan di Puskesmas Ambacang

4. Lingkungan
- Masih adanya jamban yang tidak memenuhi syarat jamban sehat
- Masih adanya sumber air bersih yang tercemar oleh limbah rumah tangga

Solusi :
- Mengedukasi masyarakat tentang jamban yang memenuhi standar
kesehatan, dan memberikan contoh jamban sehat
- Mengedukasi masayarakat tentang air yang layak digunakan untuk
kehiduan sehari hari dan bahay yang dapat ditimbulkan dari sumber air
yang tercemar
Rencana :
- Pembentukan kader.
- Pembuatan contoh jamban sehat di RT 02 RW09 Pila Tarok Keluarahan
Pasar Ambacang
Pelaksana :

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 84


- Dokter Muda Universitas Andalas Puskesmas Ambacang
Sasaran :
- Masyarakat di RT 02 RW09 Pila Tarok Keluarahan Pasar Ambacang

Waktu :
- September-November 2019
Tempat :
- Puskesmas Ambacang
Target :
- Terbentuknya kader
- Terbentuknya 1 jamban percontohan

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 85


BAB 5
RANCANGAN KEGIATAN

5.1 Plan (Tahap Perencanaan)


Pada tahap perencanaan dilakukan pertemuan internal dengan pimpinan
Puskesmas dan para pemegang program Puskesmas untuk mengkaji laporan
akhir tahunan tahun 2018, yang menjabarkan berbagai permasalahan kesehatan
di Puskesmas Ambacang dalam bentuk persentase pencapaian setiap
programnya. Permasalahan tersebut diidentifikasi dan ditentukan tingkat
prioritasnya berdasarkan faktor manusia, material, metode, dan lingkungan
sehingga didapatkan masalah yang layak untuk dipecahkan melalui PDCA.
Setelah dilakukan skoring terhadap 5 masalah yang teridentifikasi di Puskesmas
Ambacang maka didapatkan masih tingginya insiden kasus diare pada tahun
2018 sebagai skoring tertinggi. Tahap ini dilakukan dari tanggal 25 hingga 28
september 2019.
Pada tanggal 2 oktober 2019 diadakan kembali pertemuan dengan
pimpinan Puskesmas Ambacang dan pemegang program Kesehatan Lingkungan
untuk membahas permasalahan mengenai tingginya insiden kasus diare pada
tahun 2018 di wilayah kerja Puskesmas Ambacang. Kegiatan ini dilanjutkan
dengan perumusan kegiatan dan pembuatan timetable acara PDCA.
Persiapan yang dilakukan untuk inisiasi dan pengesahan jamban sehat
percontohan diantaranya:
1. Melakukan survei awal mengenai data cakupan jamban sehat yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Ambacang.
2. Persiapan administrasi, sarana dan prasarana pelaksanaan program
inisiasi dan pengesahan jamban sehat percontohan melalui Hentikan

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 86


Diare Melalui Program Aksi dan Inisiasi Jamban Sehat (HEMPASKAN
SI JAHAT).
3. Rangkaian program ini terdiri dari:
a. Survei awal untuk menilai penyebab tingginya insiden kasus diare
pada tahun 2018 di wilayah kerja Puskesmas Ambacang.
b. Pengadaan Modul Hentikan Diare Melalui Program Aksi dan Inisiasi
Jamban Sehat (Modul HEMPASKAN SI JAHAT).
c. Penyuluhan kepada kader mengenai pentingnya PHBS, 5 pilar
STBM, kebersihan lingkungan dan kaitannya dengan penggunaan
jamban sehat serta pembentukan Kader Hentikan Diare Melalui
Program Aksi dan Inisiasi Jamban Sehat (KADER HEMPASKAN SI
JAHAT).
d. Penyuluhan kepada masyarakat khususnya pada warga di wilayah
kerja Puskesmas mengenai pentingnya PHBS, 5 pilar STBM,
kebersihan lingkungan dan kaitannya dengan penggunaan jamban
sehat.
e. Pengesahan KADER HEMPASKAN SI JAHAT dan Launching
Modul HEMPASKAN SI JAHAT.
f. Pembentukan 1 jamban sehat percontohan di wilayah kerja
Puskesmas Ambacang.
g. Pembagian modul dan pengadaan poster pentingnya penggunaan
jamban sehat di Puskesmas Ambacang.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 87


Survei awal jumlah cakupan Survei kondisi lapangan
jamban sehat di wilayah kerja langsung oleh dokter
Puskesmas Ambacang muda dan kader

Penyuluhan pada Kader Mengenai Pentingnya


perilaku PHBS, 5 pilar STBM, dan kebersihan Pengadaan Modul
lingkungan serta kaitannya dengan jamban HEMPASKAN SI
sehat dan pembagian Modul HEMPASKAN
JAHAT pada kader
SI JAHAT

Penyuluhan pada masyarakat mengenai


pentingnya perilaku PHBS, 5 pilar STBM, dan
kebersihan lingkungan serta kaitannya dengan
jamban sehat

Pengesahan kader dan


Launching Modul
HEMPASKAN SI
JAHAT

Terbentuknya kader dan 1


jamban percontohan

Pengadaan poster dan pembagian modul pentingnya


perilaku PHBS, 5 pilar STBM, dan kebersihan
lingkungan serta kaitannya dengan jamban sehat

Gambar 5.1 Rangkaian Pelaksanaan Program HEMPASKAN SI JAHAT

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 88


Tabel 5.1 Timetable kegiatan
Sept Okt Nov
No. Kegiatan
IV V I II III IV I
Plan (Perencanaan)
1. Identifikasi masalah dan menetapkan
prioritas masalah di wilayah kerja
Puskesmas Ambacang
2. Perumusan kegiatan PDCA dan
pembuatan timetable.
Do (Pelaksanaan)
1. Survei awal untuk menilai penyebab
tingginya angka kejadian diare di wilayah
kerja Puskesmas Ambacang.
2. Pembuatan Modul Hentikan Diare
Melalui Program Aksi dan Inisiasi
Jamban Sehat (Modul HEMPASKAN SI
JAHAT).
3. Penyuluhan kepada kader mengenai
pentingnya perilaku hidup bersih dan
sehat, menjaga kesehatan lingkungan
untuk menghindari penyakit berbasis
lingkungan serta pembentukan Kader
HEMPASKAN SI JAHAT.
4. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai
pentingnya perilaku hidup bersih dan
sehat, menjaga kesehatan lingkungan
untuk menghindari penyakit berbasis
lingkungan
5. Pembuatan jamban sehat.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 89


6. Pembagian modul pentingnya perilaku
hidup bersih dan sehat, menjaga
kesehatan lingkungan untuk menghindari
penyakit berbasis lingkungan
Check (Monitoring dan Evaluasi)
1. Pemberian pretest dan post test sebagai
indikator peningkatan pengetahuan dan
pemahaman kader mengenai perilaku
hidup bersih dan sehat, menjaga
kesehatan lingkungan untuk menghindari
penyakit berbasis lingkungan
2. Pemberian pretest dan post test sebagai
indikator peningkatan pengetahuan dan
pemahaman masyarakat mengenai
perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga
kesehatan lingkungan untuk menghindari
penyakit berbasis lingkungan
3. Optimalisasi program perilaku hidup
bersih dan sehat, menjaga kesehatan
lingkungan untuk menghindari penyakit
berbasis lingkungan.
Action (Tahap Berkelanjutan)
1. Melanjutkan program secara efektif
sesuai dengan hasil evaluasi dan
monitoring

5.2 Do (Tahap Pelaksanaan )

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 90


5.2.1 Survey awal untuk menilai penyebab kurang tercapainya program P2P
khususnya diare di wilayah kerja Puskesmas Ambacang.
Survey awal dilakukan untuk menilai penyebab tingginyaa diare di
wilayah kerja Puskesmas Ambacang dengan cara observasi kelapangan.
5.2.2 Pembuatan Modul Hentikan diare melalui program aksi dan inisiasi
jamban sehat untuk untuk memutus rantai infeksi (Modul HEMPASKAN
SI JAHAT).
Modul berisikan materi tentang diare, cara pencegahan diare (salah
satunya denganjamban), syarat jamban sehat dan pembuatan jamban
sehat.
5.2.3 Penyuluhan kepada kader mengenai diare dengan impementasi
pembuatan jamban sehat. Penyuluhan ini diberikan oleh pihak
Puskesmas Ambacang mengenai pentingnya kesadaran masyarakat akan
diare sehingga akan dibuatkan jamban percontohan yang sehat dilokasi
pemukiman rumah warga. Di akhir kegiatan akan dibentuk KADER
HEMPASKAN SI JAHAT yang akan mensosialisasikan kepada
masyarakat.
5.2.4 Penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya jamban sehat
sehingga dapat menurunkan angka diare.
5.2.5 Pengesahan KADER HEMPASKAN SI JAHAT dan Launching Modul
HEMPASKAN SI JAHAT.

5.3 Check (Tahap Evaluasi)


Tahap evaluasi ini bertujuan untuk menilai apakah program dilaksanakan
dengan maksimal. Indikator keberhasilan dari pelaksanaan dilihat dari faktor:
a. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran kader terhadap pentingnya
kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan dinilai dari hasil pretest
dan post test.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 91


b. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap
pentingnya kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan dinilai dari
hasil pretest dan post test.
c. Pengesahan KADER HEMPAS SI JAHAT dan Launching Modul
HEMPAS SI JAHAT.
d. Optimalisasi program jamban sehat pada masyarakat.

5.4 Action (Tahap Berkelanjutan )


1. Melanjutkan program secara efektif sesuai dengan hasil evaluasi dan
monitoring oleh KADER JAHAT dengan menggunakan Modul HEMPAS SI
JAHAT.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 92


DAFTAR PUSTAKA
1. Barr W, Smith A. Acute Diarrhea in Adults. American Family Physician.
2014;89(3):180-9.
2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diarrhea.
Maryland: NIH; 2016 Nov [cited 2019 Oct 2]. Available from:
https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/diarrhea
/definition-facts
3. DuPont HL. Acute infectious diarrhea in immunocompetent adults. The New
England Journal of Medicine. 2014;370(16):1532-40.
4. World Health Organization. Diarrhoeal disease [Internet]. Geneva: WHO;
2017 May 2 [updated 2018 Jun; cited 2019 Oct 2]. Available from:
https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease
5. The United Nations Children’s Fund. Diarrhoea remains a leading killer of
young children, despite the availability of a simple treatment solution [Internet].
New York: UNICEF; 2017 [cited 2019 Oct 2]. Available from:
https://data.unicef.org/topic/child-health/diarrhoeal-disease/
6. CDC: Centers for Disease Control and Prevention. Diarrhea: Common Illness,
Global Killer. Atlanta: CDC; 2015 Dec 17 [cited 2019 Oct 2]. Available from:
https://www.cdc.gov/healthywater/global/diarrhea-burden.html
7. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta : Redaksi
Datinkes. 2018.
8. Dinas Kesehatan Kota Padang. 2018. Profil Dinas Kesehatan Kota Padang
Tahun 2017. Dinas Kesehatan Kota Padang. Padang.
9. Puskesmas Ambacang. Laporan Tahunan Puskesmas Ambacang. Padang.
2018.
10. Kementrian Kesehatan RI. Diare di Indonesia. Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan Volume 2 Triwulan 2. Jakarta: Redaksi Datinkes.
Departemen Kesehatan. 2011.
11. World Gastroenterology Organization Globals Guideline tahun 2012
12. Riskesdas 2018

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 93


13. Profil Dinkes Sumbar tahun 2017
14. Laporan tahunan DKK Padang tahun 2017 edisi 2018.
15. Laporan tahunan Puskesmas Ambacang tahun 2018
16. Setiati, siti et al. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 6 jilid II
Jakata: Interna publishing. 1899.
17. Behrman, kliegman, Arvin. 2012. Ilmu kesehatan Anak. Edisi 15 vol 2.
Jakarta: EGC.
18. Claudio F.L,et al. 2013. Global causes of Diarrhea Disease Mortality in
Children < 5 years of Age : Systematic Review. Child Health Epidemiology
Reference Group of the World Health Organization and UNICEF.
19. Clifton Y, Douglas L, Jorge RM. 2011. Diarrhea and Dehydration.
International Module of Diarrhea
20. Soeparto P, Ranuh R. Buku Ajar Gastroenterologi Hepatologi IDAI. UKK
Gastroenterologi Hepatologi IDAI. 2009.
21. Nemeth V, Zulfiqar H, Pfleghaar H. Diarrhea. StatPearls Publishing. Update
June 8th 2019. Available from https://www.ncbi.nlm.nih.gov›books›NBK448082
disitasi 3 Oktober 2019.
22. Berardi, R.R., et al. Handbook of Nonprescription Drugs : An Interactive
Approach to Self Care 16th Edition. Washington DC : American Pharmascist
Association. 2009
23. Nathan, A. Non-prescription Medicines. USA: Pharmaceutical Press. 2010
24. Simadibrata M, Daldiyono. Diare akut, Dalam: Setiati S, Idrus A, Sudoyo
AW, et al, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi keenam.
Jakarta: Interna Publishing. 2014. 1899-1908.
25. Kementrian Kesehatan RI. Diare di Indonesia. Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan Volume 2 Triwulan 2. Jakarta: Redaksi Datinkes
Departemen Kesehatan. 2011
26. Rosyidah, Alif Nurul. Hubungan Perilaku Cuci Tangan terhadap Kejadian
Diare pada Siswa di Sekolah Dasar Negeri Ciputat 02. 2014

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 94


27. Melina, Nurfadhila, 2014. Hubungan sanitasi lingkungan dan personal
hygiene ibu dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja puskesmas 23 ilir
kota Palembang tahun 2014.
28. Kementrian kesehatan republik Indonesia, 2011. Situasi diare di Indonesia.
Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
29. Rahma Ayu Pebriani, Surya Dharma EN. Faktor-faktor yang berhubungan
dengan penggunaan jamban keluarga dan kejadian diare di desa Tualang
Sembilar Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2012. Dep
Kesehat Lingkung Fak Kesehat Masy Univ Sumatera Utara. 2012
30. Dya Candra MS Putranti LS. Hubungan antara kepemilikan jamban dengan
kejadian diare di desa karangagung kecamatan palang kabupaten tuban. Kesehat
Lingkung Fak Kesehat Masyaratan Univ Airlangga. 2013;7:54–63.
31. Departemen Kesehatan Indonesia. Pedoman nasional tentang jamban sehat.
Jakarta; 2009.
32. Mubarak, Chayatin. Ilmu kesehatan masyarakat teori dan aplikasinya.
Jakarta: Salemba Medika; 2010.
33. Maryunani. Perilaku hidup bersih dan sehat. Jakarta: Trans Info Media;
2013.
34. Fitri SN. Hubungan Perilaku Pemeliharaan Jamban dan Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga dengan Kejadian Diare di Kelurahan Setia Kecamatan Binjai
Kota Tahun 2018. Universitas Sumatera Utara. 2019.
35. Amaliah S. Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Faktor Budaya dengan
Kejadian Diare Pada Anak Balita di Desa Toriyo Kecamatan Bendosari
Kabupaten Sukoharjo. Fak Kedokt Univ Muhammadiyah Semarang. 2010;91–7.
36. I Wayan Hendrik Purwanto, Miswan AY. Hubungan Sanitasi Dasar dengan
Kejadian Diare pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesma Talise Kecamatan
Mantikulore Kota Palu. Fak Kesehat Masy Muhammadiyah Palu. 2018;719:360–
72.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 95


37. Firdaus Duwila, Trijoko, Hanan Lanang D NA. Pemetaan Sanitasi Dasar
dengan Penyakit Diare pada Masyarakat Desa Pesisir Kecamatan Mangoli Timur
Kabupaten Maluku Utara Tahun 2018. J Kesehat Masy. 2018;6:119–27.
38. Parigi K, Provinsi M, Tengah S. UNM Environmental Journals.
2018;1(April):33–8.
39. Sunu B, Kadir HA, Makassar KM, Timur UI. Hubungan Faktor
Sociodemografi dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare di Wilayah
Puskesma Bara Baraya Kota Makassar. J Komunitas Kesehat Masy. 2019;1:25–
31.
40. Poppi Nastasia Yunita Dewi YHDS. Hubungan Sanitasi Lingkungan dan
Bakteriologis Air Sumur Gali dengan Kejadian Diare di Kelurahan Genuksari
Kecamatan Genuk Kota Semarang. J Kesehat Masy. 2019;7:187–94.
41. Mukti DA, Raharjo M, Astorina N, Dewanti Y, Lingkungan BK, Masyarakat
FK, et al. Hubungan antara penerapan program sanitasi total berbasis
masyarakat(STBM) dengan kejadian diare di wilayah kerja puskesmas Jatibogor
Kabupaten Tegal. J Kesehat Masy. 2016;4(3):767–75.

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 96