Anda di halaman 1dari 17

FIQIH

“ IBADAH “

Dosen Pengampu : Umi Hani, S.Ag, M.Pd

Disusun oleh Kelompok 1 :

Fitriah NPM. 17120273

Nia Ramadhani NPM. 17120044

ADMINISTRASI PUBLIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD


AL-BANJARI

BANJARBARU

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehidupan manusia di dunia merupakan anugerah dari Allah swt dengan

segala pemberiannya, manusia dapat mengecap segala kenikmatan yang bisa

dirasakan oleh dirinya tetapi dengan anugerah tersebut kadangkala manusia lupa

akan Allah yang telah memberikannya. Allah menciptakan jin dan manusia tidak

lain adalah untuk beribadah. Ibadah merupakan suatu perkara yang wajib

dipelajari dan diperhatikan, karenanya ibadah itu tidak bisa dimain-

mainkan. Hidup yang dibimbing oleh syari’ah akan melahirkan kesadaran untuk

berperilaku yang sesuai dengan tuntuan Allah dan Rasul Nya, salah satu cara

untuk mencapai tuntunan tersebut adalah dengan beribadah.

Dalam islam ibadah harus berpedoman pada apa yang telah Allah

perintahkan dan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammmad SAW kepada

umat islam, yang dilandaskan pada kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi

Muhammad berupa kitab suci Al-Qur’an dan segala perbuatan, perkataan, dan

ketetapan nabi atau dengan kata lain disebut dengan hadits nabi

Sebagai rasa syukur terhadap Allah SWT, hendaknya kita sadar diri untuk

beribadah kepada Allah. Semoga kita menjadi orang yang diberikan keberkahan

dalam umur kita dan semoga ibadah kita tidak sia – sia.
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud ibadah ?

2. Apa saja macam-macam ibadah ?

3. Apa sumber hukum ibadah ?

4. Apa saja ruang lingkup ibadah ?

5. Apa syarat diterimanya ibadah ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian ibadah

2. Untuk mengetahui macam-macam ibadah

3. Untuk mengetahui sumber hukum ibadah

4. Untuk mengetahui ruang lingkup ibadah

5. Untuk mengetahui syarat diterimanya ibadah


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ibadah

Ibadah secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab yaitu “abida-

ya’budu-‘abdan-‘ibaadatan” yang berarti taat, tunduk, patuh dan merendahkan

diri.

Kesimpulannya ibadah adalah semua yang mencakup segala perbuatan

yang disukai dan diridhai oleh Allah SWT, baik berupa perkataan maupun

perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka

mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya.

2.2 Macam – macam Ibadah

Secara umum ibadah terbagi menjadi 2 yaitu:

1. Ibadah Mahdlah yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah

Swt. Semua perbuatan ibadah yang pelaksanaannya diatur dengan

ketentuan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan sunnah.

Contoh: salat harus mengikuti petunjuk rasulullahsalallahu alaihi wassalaa

m dan tidak dibenarkan untuk menambah atau menguranginya begitu juga

puasa haji dan yang lainnya.

Ibadah ini hanya dilaksanakan dengan jasmani dan rohani saja karenanya

disebut ibadah badaniyah ruhiyah

2. Ibadah Ghairu Mahdlah yaitu ibadah yang membutuhkan keterlibatan

orang lain atau ibadah yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan
dengan Allah tetapi juga menyangkut hubungan sesama makhluk hablum

Minallah , wa hablum Minannas atau disamping hubungan ke atas juga

ada hubungan sesama makhluk hubungan sesama makhluk ini tidak hanya

sebatas pada hubungan sesama manusia

tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan alam.

Contoh : zakat, infaq, sedekah, dll. Zakat menyadarkan kita akan

kenyataan bahwa harta yang kita peroleh adalah pemberian Allah SWT

bukan sepenuhnya atas hasil usaha sendiri

2.3 Sumber Hukum Ibadah

a. Al- Qur’an

Al-Qur’an adalah dalil pertama dan utama dalam perujukan dan penetapan

hukum Islam. Al-Qur’an adalah pokok agama, dasar aqidah, sumber syariat dan

petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, Dasar hukum

pelaksanaan ibadah yang utama tentu saja al-Qur’an.

b. As- Sunnah atau Al- Hadits

Dasar hukum yang kedua adalah As- Sunnah atau Al- Hadits. As-Sunnah

secara harfiah merupakan kosa kata kuno yang telah dikenal dalam bahasa Arab,

bermakna jalan yang menjadi kebiasaan, baik atau buruk. Menurut ulama fiqih,

Sunnah berarti suatu perbuatan yang dianjurkan tanpa ada keharusan, dengan

gambaran siapa yang mengerjakan akan mendapatkan pahala, dan bila tidak

dikerjakan tidak mendapatkan dosa. Sedangkan menurut ahli hadits, Sunnah

adalah segala sesuatu yang tercermin dari diri Nabi, baik berupa ucapan,

perbuatan, ketetapan (taqrir), sifat-sifat lahir maupun batin dan universalitasnya,


serta setiap hal yang telah ditetapkan dalam hukum syara’ maupun belum.

Sedangkan As-Sunnah menurut ulama’ ushul fiqh adalah segala sesuatu yang

timbul dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, selain al-Qur’an yang mencakup

perbuatan, perkataan, dan ketetapan atau persetujuan (Taqrir) yang dapat

digunakan sebagai landasan hukum syariat.

Jadi, dasar hukum semua bentuk ibadah kepada Allah adalah Al-Quran dan As-

Sunnah. Tidak ada bentuk ibadah yang didasarkan pada dalil akal, karena akal

cenderung subjektif dan dipengaruhi hawa nafsu, kecuali dalam ibadah yang

bersifat substantif yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama

manusia.

c. Ijma’

Ijma’ adalah kesepakatan para ahli fiqh dalam sebuah periode tentang

suatu masalah setelah wafatnya Rasulullah saw tentang suatu urusan agama. Baik

kesepakatan itu dilakukan oleh para ahli fiqh dari sahabat setelah Rasulullah saw

wafat atau oleh para ahli fiqh dari generasi sesudah mereka. Contohnya ulama

sepakat tentang kewajiban shalat lima waktu sehari semalam dan semua rukun

Islam.

Menurut Imam Ibnu Taimiyah Ijma adalah, “Kesepakatan seluruh ulama

Islam terhadap suatu masalah dalam satu waktu. Apbila telah terjadi ijma’ seluruh

mujtahidin terhadap suatu hukum, maka tidak boleh bagi seseorang menyelisihi

ijma tersebut, karena ummat (para mujtahidin) tidak mungkin bersepakat terhadap

kesesatan.
d. Qiyas

Qiyas adalah menyamakan (menganalogikan) suatu perkara dengan

perkara (yang sudah ada ketetapan hukumnya) dalam hukum syariat kedua kedua

perkara ini ada kesamaan illat (pemicu hukum). Contoh, Allah mengharamkan

khamar karena memabukan, maka segala makanan dan minuman yang

memabukan hukumnya sama dengan khamar yaitu haram.

Dibanding dengan Ijma’, Qiyas lebih banyak memberikan pengaruh dalam

pengambilan hukum yang dilakukan oleh para ulama fiqh. Ijma’ disyarakan harus

disepakai semua ulama di suatu waktu dan tempat tertenu. Sementara Qiyas tidak

disyaratkan kesepakatan ulama fiqh. Masing-masing ulama memiliki kebebasan

untuk melakukan Qiyas dengan syarat-syarat yang sudah disepakati oleh para

ulama.

Hukum-hukum jual beli misalnya, Al Quran dan Sunnah menyebutkan

lebih banyak dibanding dengan soal sewa menyewa. Maka para ahli fiqh

kemudian melakukan Qiyas pada hukum-hukum sewa-menyewa dengan hukum-

hukum dalam masalah jual beli karena kedua masalah ini memiliki kesamaan; dari

sisi keduanya adalah transaksi jual beli barang dan jasa.

2.4 Ruang Lingkup Ibadah

Islam amat istimewa hingga menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai

ibadah apabila diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allah demi mencapai

keridhaan-Nya serta dikerjakan menurut cara-cara yang disyariatkan olehNya.

Islam tidak membatasi ruang lingkup ibadah kepada sudut-sudut tertentu saja.

Seluruh kehidupan manusia adalah medan amal dan persediaan bekal bagi para
mukmin sebelum mereka kembali bertemu Allah di hari pembalasan nanti. Islam

mempunyai keistimewaan dengan menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai

ibadah apabila ia diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allah demi untuk

mencapai keridaan Nya serta dikerjakan menurut cara cara yang disyariatkan oleh

Nya. Islam tidak menganggap ibadah ibadah tertentu saja sebagai amal saleh akan

tetapi meliputi segala kegiatan yang mengandung kebaikan yang diniatkan karena

Allah SWT. Ruang lingkup ibadah di dalam Islam sangat luas sekali. Mencakup

setiap kegiatan kehidupan manusia. Setiap apa yang dilakukan baik yang

bersangkut dengan individu maupun dengan masyarakat adalah ibadah menurut

Islam ketika ia memenuhi syarat syarat tertentu.

Syarat syarat tersebut adalah :

a. Amalan yang dikerjakan itu hendaklah diakui Islam, sesuai dengan hukum

hukum syara' dan tidak bertentangan dengan hukum hukum tersebut.

Adapun amalan - amalan yang diingkari oleh Islam dan ada hubungan

dengan yang haram dan maksiyat, maka tidaklah bisa dijadikan amalan

ibadah.

b. Amalan tersebut dilakukan dengan niat yang baik dengan tujuan untuk

memelihara kehormatan diri, menyenangkan keluarga nya, memberi

manfaat kepada seluruh umat dan untuk kemakmuran bumi seperti yang

telah diperintahkan oleh Allah.

c. Amalan tersebut haruslah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

d. Ketika membuat amalan tersebut hendaklah sentiasa menurut hukum -

hukum syara' dan ketentuan batasnya, tidak menzalimi orang lain, tidak

khianat, tidak menipu dan tidak menindas atau merampas hak orang.
e. Tidak melalaikan ibadah - ibadah khusus seperti salat, zakat dan

sebagainya dalammelaksanakan ibadah - ibadah umum.

Ibadah dalam Islam terdapat dua ruang lingkup yang utama :

1. Kehidupan dunia dalam semua segi meliputi pekerjaan, penghasilan,

penerimaan dan pemberian, pengajaran kemahiran, pertolongan kepada orang

yang ditindas dan menghalang orang yang ingin menindas orang lain.

2. Seluruh tubuh manusia dari kepalanya hingga ke kaki, deria, otot dan

anggotanya.

Kedua ruang lingkup ini berada di dalam satu kerangka. Perbuatan

manusia dalam semua keadaan dan segala aspek sebenarnya dalam kerangka yang

telah kita ketahui, bahawa ibadah adalah tunduk kepada Allah, beriltizam dengan

syariat dan hanya meletakkan kecintaan kepada Allah. Inilah ibadah yang sahih

dan tulus.

Marilah kita lihat satu contoh tentang deria penglihatan. Wajib

menggunakan penglihatan terhadap al-Quran untuk membaca secara tadabbur dan

beribadah, dan pembelajaran apa jua ilmu yang diperlukan. Sunat menggunakan

penglihatan untuk melihat buku-buku ilmiah yang meningkatkan iman dan ilmu.

Juga sunat melakukan perkara yang berguna dan mendatangkan kebaikan di dunia

dan akhirat. Pandangan seperti itu menyebabkan pemiliknya akan mendapat

ganjaran pahala di akhirat. Sementara pandangan yang makruh ialah melihat pada

perkara yang tiada kebaikan; kerana ia sibuk pada perkara yang tidak diwajibkan.

Haram jika penglihatannya ditujukan kepada aurat. Mengelakkan diri dari perkara
tersebut kerana mentaati perintah Allah menyebabkan pemiliknya memperolehi

ganjaran pahala di akhirat.

2.5 Syarat Diterimanya Ibadah

Allah Azza wa Jalla mewajibkan seluruh hamba-Nya untuk beribadah

kepada-Nya. Kemudian Dia akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa

yang telah mereka amalkan. Namun ibadah akan diterima oleh Allâh Azza wa

Jalla , jika memenuhi syarat-syarat diterimanya amal sebagaimana telah dijelaskan

oleh Allâh dan Rasul-Nya. Syarat-syarat tersebut ada tiga, yaitu: iman, ikhlas, dan

ittiba’. Inilah sedikit penjelasan tentang tiga perkara ini:

A. Iman

Secara bahasa Arab, sebagian orang mengartikan iman dengan: tashdîq

(membenarkan atau meyakini kebenaran sesuatu); thuma’ninah (ketentraman);

dan iqrâr (pengakuan). Makna yang ketiga inilah yang paling tepat.

Dengan demikian, iman adalah iqrâr (pengakuan) hati yang mencakup:

Keyakinan hati, yaitu meyakini kebenaran berita dan Perkataan hati, yaitu

ketundukan terhadap perintah.

Yaitu: keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap segala

yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allâh Azza

wa Jalla .

Iman memiliki enam rukun, yaitu: iman kepada Allâh, malaikat-malaikatNya,

kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, dan iman kepada qadar. Inilah pokok

iman.
Selain rukun, iman juga memiliki bagian-bagian. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi

wa sallam menyebutkan bahwa iman itu memiliki 73 bagian, sebagaimana dalam

sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Iman ada 73 lebih atau 63 lebih bagian, yang paling utama adalah perkataan Laa

ilaaha illa Allâh, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan,

dan rasa malu adalah satu bagian dari iman.

Iman Syarat Diterima Amal Shalih

Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa iman merupakan syarat

diterimanya sebuah amal. Antara lain, firman Allâh Azza wa Jalla :

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan

dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya

kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada

mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-

Nahl/16: 97].

Dari uraian singkat di atas, kita bisa memahami urgensi iman terkait

diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang. Semoga ini bisa memotivasi kita

untuk terus menjaga dan meningkatkan keimanan kita serta memliharanya dari

segala yang bisa merusaknya. Karena iman juga bisa rusak dengan banyak sebab,

diantaranya syirik,nifak, kufur, dan riddah.


B. Ikhlas

Ikhlas secara bahasa artinya memurnikan. Maksud ikhlas dalam syara’

adalah memurnikan niat dalam beribadah kepada Allâh, semata-mata mencari

ridha Allâh, menginginkan wajah Allâh, dan mengharapkan pahala atau

keuntungan di akhirat. Serta membersihkan niat dari syirik niat, riya’, sum’ah,

mencari pujian, balasan, dan ucapan terimakasih dari manusia, serta niat duniawi

lainnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allâh dengan

memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. [Al-

Bayyinah/98: 5]

Orang yang ikhlas mencari ridha Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana firman Allah

Subhanahu wa Ta’ala :

Dan barangsiapa yang berbuat demikian (yaitu: memberi sedekah, atau berbuat

ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia) karena mencari keridhaan

Allâh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An-Nisa’/4:

114]

Orang yang ikhlas beramal untuk wajah Allâh, yakni agar bisa melihat wajah

Allâh di surga. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk wajah Allâh,

kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

[Al-Insan/76: 9]
Orang yang ikhlas itu menghendaki pahala akhirat, bukan balasan dunia. Allâh

Azza wa Jalla berfirman:

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan

itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami

berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu

bahagianpun di akhirat. [Asy-Syûra/42: 20]

Seorang ulama dari India, al-Imam Shiddiiq Hasan Khan al-Husaini

rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan (di antara Ulama) bahwa ikhlas

merupakan syarat sah amal dan (syarat) diterimanya amal”.

Berdasarkan syarat ikhlas ini, maka barangsiapa melakukan ibadah dengan

meniatkannya untuk selain Allâh, seperti menginginkan pujian manusia, atau

keuntungan duniawi, atau melakukannya karena ikut-ikutan orang lain tanpa

meniatkan amalannya untuk Allâh, atau barangsiapa melakukan ibadah dengan

niat mendekatkan diri kepada makhluk, atau karena takut penguasa, atau

semacamnya, maka ibadahnya tidak akan diterima, tidak akan berpahala.

Demikian juga jika seseorang meniatkan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla,

tetapi niatnya dicampuri riya’, amalannya gugur. Ini merupakan kesepakatan

ulama.

C. Ittiba

Ittibâ’ adalah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa

sallam . Orang yang telah bersyahadat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi

wa sallam adalah utusan Allâh, maka syahadat tersebut memuat kandungan:

meyakini berita Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mentaati perintah Beliau,


menjauhi larangan Beliau, dan beribadah kepada Allâh hanya dengan syari’at

Beliau. Oleh karena itu, barangsiapa membuat perkara baru dalam agama ini,

maka itu tertolak. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah

akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang

yang rugi. [Ali-Imran/3: 85]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang

kepadamu, maka tinggalkanlah. [Al-Hasyr/59: 7]

Ayat ini nyata menjelaskan kewajiban ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

sallam .
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ibadah adalah semua yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridhai

oleh Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan

maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah SWT dan

mengharapkan pahala-Nya.

Secara umum ibadah terbagi menjadi 2 yaitu:

3. Ibadah Mahdlah yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah

Swt. Semua perbuatan ibadah yang pelaksanaannya diatur dengan

ketentuan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan sunnah.

4. Ibadah Ghairu Mahdlah yaitu ibadah yang membutuhkan keterlibatan

orang lain atau ibadah yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan

dengan Allah tetapi juga menyangkut hubungan sesama makhluk hablum

Minallah , wa hablum Minannas.

Sumber Hukum Ibadah :

6. Al- Qur’an

7. As- Sunnah atau Al- Hadits

8. Ijma’

9. Qiyas

Islam amat istimewa hingga menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai

ibadah apabila diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allah demi mencapai
keridhaan-Nya serta dikerjakan menurut cara-cara yang disyariatkan olehNya.

Islam tidak membatasi ruang lingkup ibadah kepada sudut-sudut tertentu saja.

Ibadah dalam Islam terdapat dua ruang lingkup yang utama.

1. Kehidupan dunia dalam semua segi meliputi pekerjaan, penghasilan,

penerimaan dan pemberian, pengajaran kemahiran, pertolongan kepada orang

yang ditindas dan menghalang orang yang ingin menindas orang lain.

2 Seluruh tubuh manusia dari kepalanya hingga ke kaki, deria, otot dan

anggotanya.

Allah Azza wa Jalla mewajibkan seluruh hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya

Namun ibadah akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla , jika memenuhi syarat-

syarat diterimanya amal sebagaimana telah dijelaskan oleh Allâh dan Rasul-Nya.

Syarat-syarat tersebut ada tiga, yaitu: iman, ikhlas, dan ittiba’.


DAFTAR PUSTAKA

http://melindaa2098.blogspot.com/2016/11/ibadah-dalam-islam.html

https://alquranmulia.wordpress.com/2014/10/07/sumber-hukum-dalam-fiqih/

https://misbahusurur24.blogspot.com/2018/01/makalah-fiqih-ibadah.html

https://www.academia.edu/24919004/IBADAH_DALAM_ISLAM_MAKALAH_

KELOMPOK

http://zadud-duat.blogspot.com/2011/09/menyelami-ruang-lingkup-ibadah.html

https://almanhaj.or.id/6882-syarat-ibadah-diterima.html