Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Rambut menjadi salah satu bagian dari tubuh untuk menunjang penampilan.
Selain itu,rambut juga berfungsi untuk melindungi kepala dari panas sinar
matahari dan cuaca dingin. Maka dari itu,penting menjaga kesehatan rambut agar
senantiasa indah dan mudah diatur.Tetapi,tidak sedikit juga orang memiliki
gangguan kulit kepala,misalnya ketombe.Ketombe terjadi ketika pengelupasan
kulit tidak maksimal dan sel-sel kulit mati menumpuk di kulit kepala dan menjadi
serpihan putih yang gatal.
Untuk mengatasi hal ini,biasanya orang yang berketombe akan membeli
shampo anti ketombe atau melakukan masker rambut yang terbuat dari berbagai
macam bahan kimia. Meskipun efek samping dari bahan kimia yang terdapat pada
shampo tidak terlalu berbahaya,namun jika digunakan secara terus menerus dapat
menimbulkan penyakit rambut lainnya.
Dalam jangka panjang,shampo yang mengandung banyak bahan kimia akan
menyebabkan kerapuhan rambut dan berbagai penyakit rambut lainnya. Untuk itu
diperlukan shampo yang terbuat dari bahan alami yang ampuh mengurangi
ketombe. Shampo tersebut harus tidak menimbulkan efek samping bagi
penggunanya dalam jangka waktu yang lama dan dapat mengurangi
ketombe,sehingga pengguna tidak akan khawatir terhadap masalah rambut
lainnya.
Kita sebagai orang awam tak akan bisa membedakan antara shampo alami
dan shampo dari bahan kimia. Sebaiknya kita membuat sampo sendiri dari bahan
alami. Selain terjamin aman, membuat shampo sendiri dari bahan alami sangat
ekonomis. Bahan utama dalam pembuatan shampo adalah lidah buaya. Lidah
buaya pun banyak kita temui di lingkungan kita. Cara pembibitannya pun
terbilang mudah dan murah.
Lidah buaya yang secara kimia memiliki unsur-unsur senyawa yang dapat
menggantikan fungsi obat kimia untuk mengatasi ketombe kering diantaranya
fosfor, vitamin A,B, asam amino, saponin dan flavonoid. Oleh karena itu,dengan
adanya shampo dari lidah buaya tersebut dapat membantu orang yang terkena
ketombe dan lebih ekonomis. Sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak uang
untuk mengobati ketombe.
Selain lidah buaya,lemon juga dapat menjadi salah satu bahan untuk membuat
shampo yang dapat mengurangi ketombe. Lemon merupakan jenis jeruk yang
paling kaya mengandung vitamin C. Tidak hanya vitamin C saja, lemon juga
mengandung vitamin B1, B2, B3, B5, karbohidrat, serat, lemak, protein, kalsium,
asam folat, zat besi, fofsor, magnesium, kalium, seng, dan gula. Tidak lupa juga
asam sitrat yang membuat rasa asam. Vitamin C pada lemon akan mendorong
pertumbuhan akar rambut. Kita dapat menggunakan jeruk nipis untuk menebalkan
rambut Anda atau untuk mengatasi kebotakan. Selain menebalkan rambut,
penggunaan teratur lemon pada kulit kepala juga dapat digunakan untuk
membasmi ketombe.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka alasan peneliti memilih lidah buaya
dan lemon sebagai bahan dasar pembuatan alternatif shampo untuk mengurangi
ketombe. Apalagi lidah buaya dan lemon yang bahan dasarnya mudah didapatkan.
Lidah buaya banyak ditemukan di sekitar pekarangan rumah. Hal ini dikarenakan
pembibitan lidah buaya yang terbilang sangat mudah. Buah lemon juga mudah
ditemukan,di pasar misalnya. Maka dari itu, berdasarkan uraian di atas pula,dapat
disimpulkan bahwa kedua bahan tersebut mempunyai senyawa yang dapat
mengurangi ketombe. Jika kedua bahan disatukan,maka akan secara ampuh dapat
mengurangi ketombe. Oleh karena itu,peneliti membuat shampo ekstrak lidah
buaya dan lemon yang mana bahan dasarnya mudah didapatkan dan terbuat dari
bahan alami sehingga pengguna tidak khawatir akan efek samping yang akan
didapat setelah menggunakan shampo.
Peneliti membuat pilihan baru dalam shampo alami yang cocok untuk semua
kalangan yang memiliki masalah rambut berketombe. Shampo alami ini diinovasi
agar tidak menimbulkan perih di mata sehingga orang yang memakainya tidak
akan khawatir saat mengaplikasikan shampo ketika cairan tersebut terkena di
muka.
Dengan latar belakang tersebut,peneliti berkeinginan melakukan sebuah
penelitian menciptakan shampo dari ekstrak lidah buaya dan buah lemon untuk
mengurangi ketombe. “SHAMPO EKSTRAK LIDAH BUAYA DAN LEMON
UNTUK MENGURANGI KETOMBE” adalah judul penelitian yang dipilih
oleh peneliti.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat diambil dalam uraian di atas adalah:
1. Bagaimana proses pembuatan shampo esktrak lidah buaya dan lemon?
2. Bagaimana efektivitas shampo ekstrak lidah buaya dan lemon untuk
mengurangi ketombe?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan hal yang harus dilakukakan terlebih dahulu sebelum
melakukan penelitian sehingga memberikan arah yang jelas bagi peneliti dalam
melakukan langkah-langkah penelitian. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan proses pembuatan shampo ekstrak lidah buaya dan lemon.
2. Menguji keefektifan shampo lidah buaya dan lemon untuk mengurangi
ketombe.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
A. Manfaat Teoritis
a. Memberikan khasanah pengetahuan kepada siswa mengenai
pemanfaatan lidah buaya dan lemon dapat dijadikan sebagai shampo untuk
menghilangkan ketombe.
b. Memberikan rangsangan dan motivasi untuk melakukan penelitian
tindak lanjut.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan informasi kepada masyrakat luas mengenai kandungan di
dalam ekstrak lidah buaya dan buah lemon yang mempunyai khasiat
mengurangi ketombe di rambut.
b. Memberikan informasi kepada masyarakat luas bahwa kandungan
ekstrak lidah buaya dan lemon efektif dalam mengurangi ketombe
yang ada di rambut.
c. Memberikan informasi mengenai pentingnya penggunaan shampo dari
bahan alami,seperti pemanfaatan ekstrak lidah buaya dan lemon dapat
dijadikan sebagai alternatif shampo untuk menghilangkan ketombe
yang tidak memiliki efek samping yang berkelanjutan yang akan
membahayakan kulit kepala dan rambut.
d. Dapat membuat lapangan pekerjaan dan menjadikan suatu usaha baru
yang menjanjikan.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Landasan Teori
1. Shampo
a. Pengertian Shampo
Shampo adalah salah satu kosmetik pembersih rambut dan kulit
kepala dari segala macam kotoran,baik yang berupa minyak,debu,sel –
sel yang sudah mati dan sebagainya (Latifah F,2007).
Dalam pengertian ilmiahnya, shampo didefinisikan sebagai
sediaan yang mengandung surfaktan dalam bentuk yang cocok dan
berguna untuk menghilangkan kotoran dan lemak yang melekat pada
rambut dan kulit kepala agar tidak membahayakan rambut, kulit
kepala, dan kesehatan si pemakai.
b. Karakteristik Shampo
Dalam formulanya shampo tidak hanya terdiri dari detergen saja
tetapi ada zat – zat tambahan yang masing – masing mempunyai
fungsi dalam pemeliharaan rambut dan dalam memberi bentuk
shampo yang baik dan sesuai.
Kandungan shampo biasanya terdiri dari dua kelompok
utama,yaitu: bahan utama dan bahan tambahan. Bahan utama dari
sampo adalah deterjen yang biasanya dapat membentuk busa dan
bersifat membersihkan. Deterjen yang terkandung dalam sampo
sebanyak 20%.
Bahan tambahan terdiri dari Opacifying Agent (zat pembuat
rambut indah dan berkilau), Clarifying Agent (zat untuk mencegah
kekeruhan pada sampo), Finishing Agent (zat untuk melindungi
kekurangan minyak pada rambut ketika pencucian rambut),
Conditioning Agent (zat berlemak yang berguna agar rambut mudah
disisir), Zat pendispersi,zat ini berguna untuk melarutkan magnesium
dan kalsium dari air sadah (air yang mengandung magnesium), zat
pengental 2-4 %, Zat pembusa, Zat pengawet, Zat aktif, Zat pewangi,
Zat pewarna, dan Zat tambahan lain. Zat tambahan lain ini adalah zat
yang mempunyai fungsi atau maksud tertentu,seperti sampo
antiketombe,shampo bayi,dll. Zat tambahan tersebut dapat berupa zat
aktif anti ketombe,ekstrak tumbuhan,vitamin,protein,dll.
c. Syarat Shampo
Di zaman yang sudah modern ini,manusia berlomba – lomba
menciptakan pilihan sampo terbaru. Banyaknya macam sampo juga
dipengaruhi oleh kebutuhan dan keinginan masyarakat. Macam macam
sampo antara lain : shampo untuk rambut diwarnai dan
dikeritingkan,shampo untuk menambah volume rambut,dan shampo
antiketombe.
Shampo yang baik adalah shampo yang dapat memenuhi beberapa
persyaratan. Syarat shampo yang baik adalah :
1) Dapat mencuci rambut serta kulit kepala secara menyeluruh.
2) Tidak menimbulkan iritasi
3) Kandungan surfaktannya tidak membuat rambut dan kulit kepala
menjadi terlalu kering. Hal ini akan menyebabkan rambut rapuh.
4) Memiliki konsistensi yang stabil,dapat menghasilkan busa dengan
cepat,lembut,dan mudah dibilas dengan air.
5) Setelah pencucian rambut harus mudah dikeringkan.
Shampo antiketombe juga memiliki beberapa syarat. Diantaranya
adalah:
1) Dapat membersihkan rambut dan kulit kepala dari ketombe tanpa
membuat rambut berminyak,kering,dan tidak dapat diatur.
2) Konsentrasi zat aktif yang digunakan tidak meningkatkan
sensitivitas kulit kepala.
3) Dapat mengurangi rasa gatal ataupun hal lain yang akan
menimbulkan ketidaknyamanan.
Shampo menurut kegunaannya,dibagi menjadi 9 macam,antara lain:
1) Shampo untuk rambut yang diwarnai dan dikeriting.
2) Shampo ada yang dibuat khusus untuk rambut yang dicat atau
diberi warna atau dikeriting. Untuk mempertahankan gelombang
rambut keriting, penting untuk memperhatikan kandungan zat
pembersih pada suatu produk shampo. Pilihlah sampo berbahan
dasar asam amino atau memiliki kandungan sabun yang bersifat
asam sebagai bahan pembersihnya.
3) Untuk menjaga agar warna rambut bertahan lama,pilihlah shampo
yang mempunyai kandungan protein gandum aktif yang
mengembalikan kilau dan kelembutan rambut serta asam amino yang
dapat mengisi ulang protein yang hilang ketika melakukan
pewarnaan rambut.
4) Shampo untuk membersihkan rambut secara menyeluruh
Shampo untuk membersihkan rambut secara menyeluruh biasanya
mengandung acid atau asam yang didapat dari apel, lemon atau cuka
yang berfungsi untuk menghilangkan residu atau sisa produk
perawatan semacam creambath, busa untuk rambut, hairspray, lilin
rambut, jeli rambut, dan produk lainnya yang tertinggal di kulit
kepala.
Jenis shampo ini mengandung protein yang membuat rambut terlihat
lebih berisi atau tebal. Namun bila dipakai terlalu sering maka akan
terjadi penumpukan residu atau sisa shampo sehingga
mengakibatkan rambut terlihat tidak bersih. Jika rambut termasuk
jenis rambut yang halus, lepek atau tidak mengembang,tipis maka
bisa digunakan jenis shampo ini. Tetapi sebaiknya dihindari
penggunaan yang terlalu sering.
5) Shampo anti ketombe
Shampo anti ketombe ini mengandung selenium, zinc atau asam
salisilat yang telah terbukti cukup berhasil membantu
menghilangkan lapisan ketombe, namun dapat menyebabkan kulit
kepala menjadi kering (Hendrawan, 1991).
2.Lidah Buaya

Gambar 2.1
a. Pengertian Lidah Buaya
Aloe Vera L. berasal dari Afrika, Aloe berarti senyawa pahit
yang bersinar. Nama aloe berasal dari bahasa Arab alloeh yang berarti
pahit, karena cairan yang terdapat dalam daunnya terasa pahit.
Tumbuhan ini menyerupai kaktus. Daunnya meruncing berbentuk taji,
bagian dalamnya bening, bersifat getas dengan tepi bergerigi.
Tanaman ini mengandung 96% air, selebihnya adalah bahan aktif
termasuk minyak essensial, asam amino, mineral, vitamin, enzim dan
glikoprotein (Yohanes, 2005).
b. Karakteristik Lidah Buaya
Aloe Vera L. atau yang biasa disebut lidah buaya merupakan
tanaman yang banyak tumbuh pada iklim tropis ataupun subtropis
yang sudah digunakan sejak lama karena fungsi pengobatannya. Lidah
buaya dapat tumbuh di daerah beriklim dingin dan juga di daerah
kering,seperti Afrika,Asia,dan Amerika. Hal ini disebabkan bagian
stomata daun lidah buaya dapat tertutup rapat pada musim kemarau
karena untuk menghindari hilangya air daun. Lidah buaya dapat
tumbuh pada suhu optimum untuk tumbuh berkisar antara 16-33°C
dengan curah hujan 1000-3000 mm dengan musim kering agak
panjang sehingga lidah buaya termasuk tanaman yang efisien dalam
penggunaan air.(Furnawanthi,2002).
Berikut ini adalah bagian – bagian dari lidah buaya:
1) Akar
Akar lidah buaya termasuk jenis akar serabut yang tumbuh
dengan kedalaman 30 sampai 40 senti meter. Umumnya tumbuh
dengan posisi vertikal dan horizontal sehingga semakin kokoh dalam
menyokong tanaman lidah buaya nantinya.
Akar ini berwarna putih kekuningan dan tumbuh dalam jumlah
sangat banyak, kita ketahui sistem pertumbuhan akar serabut sangat
pesat dibandingkan akar tunggang, hanya saja berukuran lebih kecil.
Setiap akar pada suatu tanaman tentu memiliki fungsi, begitu juga
dengan lidah buaya, terdapat beberapa fungsi dari akar serabutnya
yaitu sebagai alat pencari sumber air dan unsur hara yang akan
digunakan sebagai bahan fotosintesis.
2) Batang
Tanaman lidah buaya memiliki batang berukuran pendek
sehingga sangat sulit untuk dilihat, hal ini dikarenakan batang lidah
buaya merupakan tempat pertumbuhan daun yang berukuran dan
sempit.
Umumnya batang lidah buaya memiliki warna putih kekuningan,
dengan bagian luar kasar dan terdapat bekas dari tangkai daun. batang
lidah buaya juga berfungsi sebagai tempat pertumbuhan daun, sebagai
penompang agar tanaman ini tidak mudah roboh dan memiliki peran
penting dalam proses fotosintesis.
Selain itu, batang lidah buaya juga berfungsi sebagai alat
kembang biak, karena salah satu cara kembang biak lidah buaya dapat
dilakukan dengan metode stek atau vegetatif.
3) Daun
Daun pada tanaman lidah buah berbentuk lonjong memanjang
dengan bagian ujung runcing dan bagian pinggir berduri atau
bergerigi. Umumnya daun lidah buaya berwarna hijau tua dan hijau
muda tergantung dari varietas serta umur tanaman ini sendiri.
Kemudian daun lidah buaya tidak bertulang, beda dengan jenis
daun tanaman lain yang pasti memiliki tulang. Hal yang menyebabkan
daun lidah buaya tidak bertulang karena daunya memiliki daging
yang tebal sehingga tanpa tulang, daun lidah buaya tetap dapat
tumbuh dengan kokoh.
Umumnya daun lidah buaya memiliki panjang mencapai 50
sampai 75 senti meter dan berat berkisar antara ½ sampai 1 kilogram,
namun tidak menutup kemungkinan terdapat daun lidah buaya yang
lebih panjang dan berat.
4) Bunga

Gambar 2.2 Bunga Lidah Buaya


Tanaman lidah buaya menghasilkan bunga dengan bentuk mirip
pipa yang tumbuh secara berkelompok, umumnya bunga ini tumbuh
dibagian ketiak daun. Kemudian bunga lidah buaya memiliki ukuran
sangat kecil, dengan berbagai warna dari merah, orange dan kuning.
Kemudian bunga lidah buaya tumbuh dalam bentuk tandan, pada
satu tangkai tanda memiliki panjang kurang lebih satu meter dan
jumlah pipa sangat banyak tergantung dari kesuburan tanaman lidah
buaya itu sendiri.
c. Klasifikasi
d. Kandungan Lidah Buaya
Tanaman lidah buaya mengandung banyak zat gizi antara lain
energi 4 kal/100g, protein 0,1g/100g, lemak 0,2g/100g, serat
0,3g/100g, abu 0,1g/100g, kalsium 85mg/100g, fosfor 186mg/100g,
besi 0,8mg/100g, vitamin c 3,476mg/100g,vitamin a 4,594IU/100g,
vitamin B1 0,01mg/100g, kadar air 99,2g/100g.
Sudah sejak lama lidah buaya digunakan untuk merawat
kesuburan rambut dan menangani berbagai masalah rambut dengan
cara menggosokkan langsung pada kulit kepala. Eksudat (getah daun
yang keluar bila dipotong, berasa pahit dan kental), secara tradisional
biasanya digunakan langsung untuk pemeliharaan rambut. Kandungan
asam amino yang terdapat pada eksudat sangat membantu dalam
pembentukan protein yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan
rambut dan kulit kepala. Perpaduan antara asam amino, vitamin,
mineral dan kandungan lainnya mampu memecah rusaknya jaringan
dan mendorong pertumbuhan sel-sel yang tadinya rusak. Namun,tidak
hanya untuk mengatasi masalah rambut,tumbuhan ini juga mempunyai
manfaat lainnya.
Lidah buaya dapat digunakan secara internal (dimakan) maupun
eksternal. Penggunaan secara internal sangat sesuai unuk mereka yang
memiliki masalah berat badan,karena kalorinya yang
rendah(Suryowidodo,1988). Getahnya bila dicampur dengan gula
dalam dosis rendah sebagai tonik untuk dyspepsia dan obat batuk
(Perry,1988).
Penggunaan secara eksternal umumnya dengan mengoleskan gel
lidah buaya pada rambut,kulit,dahi,perut,atau bagian lainnya.
Pemakaian secara eksternal biasanya digunakan untuk menyuburkan
rambut, perawatan kulit, obat luka, dan antimikroba (Yuliani
dkk.,1996). Lidah buaya juga dapat digunakan untuk mengobati luka
bakar dan merangsang regenerasi kulit (McVicar,1994).
Manfaat lidah buaya ternyata sangat banyak. Selama ini mungkin
kita hanya mengenal lidah buaya sebagai tanaman yang tumbuh di
pekarangan rumah dan jarang kita manfaatkan. Namun ternyata, dari
hasil berbagai penelitian diketahui khasiat lidah buaya ternyata sangat
banyak. Sejak dahulu, manfaat lidah buaya sering kali dipakai sebagai
shampo untuk keramas oleh masyarakat Indonesia. Namun,manfaat
lidah buaya yang tumbuh di daerah tropis ini memiliki kandungan
sekitar 75 jenis zat bermanfaat dan lebih dari 200 senyawa yang dapat
digunakan dalam pengobatan herbal. Dengan kandungan yang
demikian hebat, manfaat tanaman lidah buaya tidak hanya sebagai
bahan shampo untuk keramas, namun juga bermanfaat sebagai
tanaman herbal untuk mengobati berbagai macam penyakit.

3. Lemon
a. Pengertian Lemon
Jeruk atau limau adalah semua tumbuhan berbunga anggota
marga Citrus dari suku Rutaceae (suku jeruk-jerukan). Anggotanya
berbentuk pohon dengan buah yang berdaging dengan rasa asam yang
segar,meskipun banyak di antaranya yang memiliki rasa manis. Rasa
asam berasal dari kandungan asam sitrat yang memang terkandung
pada semua anggotanya (Marwanto,2014)
b. Karakteristik Lemon
Jeruk Citrus (dari bahasa Belanda,citroen),atau lemon adalah
sejenis jeruk yang buahnya bisa dipakai sebagai penyedap dan
penyegar dalam banyak seni boga dunia. Pohon jeruk sitrun berukuran
sedang (dapat mencapai 6 m) tumbuh di daerah beriklim tropisdan
sub-tropis serta tidak tahan akan cuaca dingin. Sitrun dibudidayakan
di Spanyol,Portugal,Argentina,Brazil,Amerika Serikat dan negara
lainnya di sekitar Laut Tengah. Tumbuhan ini cocok untuk daerah
beriklim kering dengan musim dingin yang relatif hangat. Suhu ideal
untuk sitrun agar dapat tumbuh dengan baik adalah antara 15-30°C.
Jeruk lemon dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian
800 meter di atas permukaan laut (Marwanto,2014).
Adapun klasifikasi lemon sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus medica (Tjitrosoepomo, 1987).

Buah lemon ini mempunyai rasa khas,yaitu rasa asam kuat khas
sitrus yang berasal dari air pada kulit lemon itu sendiri. Buah ini dapat
dibuat sebagi obat-obatan karena mengandung kadar vitamin C cukup
tinggi. Obat – obatan yang berasal dari jeruk lemon dapat diguaan
untuk mencegah pendarahan pada pembuluh darah dan menyegarkan
rambut.
Buah lemon mempunyai kandungan kimia,antara lain:
karbohidrat 9,3 g/100g, asam lemak omega 3 total 26mg/100g, asam
lemak omega 6 total 63 mg/100g, protein 1,1g/100g, vit A 22 IU/100g,
vit c 53 mg/100g, vit e 53 mg/100g, kolin 5,1mg/100g, kalsium
26mg/100g, magnesium 8 mg/100g, kalium 138mg/100g,air 89g/100g,
asam sitrat48,6g/100g (Nizhar,2012).
Buah lemon ada banyak jenisnya,hampir 20 jenis. Namun di
Indonesia hanya beberapa jenis saja yang banyak dikenal masyarakat.
Berikut ini beberapa jenis lemon yang banyak beredar di pasaran
Indonesia:
a. Lemon Lokal
Buah lemon lokal merupakan jenis jeruk lemon
yang memilki warna kulit hijau seperti jeruk nipis,
Namun berbeda dengan jeruk nipis yang memilki
bentuk bulat. Bentuk buah lemon lokal memiliki bentuk
yang lebih lonjong.
Jeruk lemon lokal memiliki kulit yang tipis dan
daging buah yang masam. Jeruk lemon lokal sangat
bagus untuk dikonsumsi karena memiliki kandungan
vitamin C yang sangat tinggi
b. Lemon Amerika
Jeruk lemon ini banyak ditemukan di swalayan
dengan harga yang cukup mahal bila dibandingkan
dengan jeruk lemon lokal.
Dibanding dengan jeruk lemon lokal,ukuran lemon
Amerika memang lebih besar dengan bentuk buah
lonjong serta warna kulitnya kuning. Sedangkan kulit
lemon lokal berwarna hijau. Kulit buah lemon Amerika
lebih tebal,sehingga digunakan sebagai perasa lemon
dalam masakan.
c. Lemon Australia
Lemon Australia memang hampir mirip dengan
lemon Amerika karena memiliki warna kulit yang kuning
mengkilat dengan ukuran buah yang juga besar.
Jeruk lemon dimanfaatkan di hampir semua rumah tangga di Asia
Tenggara terutama sebagai penyedap masakan,pembuatan
minuman,dan berbagai macam obat tradisional. Kualitasnya sebagai
penyegar sangat menonjol pada sari buah,teh jeruk,atau saat
dicampurkan pada buah – buahan lainnya (Sarwono,2005).