Anda di halaman 1dari 20

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

SPINA BIFIDA

Dosen Pembimbing :
Dr. Tri Ratnaningsih,S.kep.,Ns.,M.Kes

Disusun oleh kelompok 12 :


1. Ellok Naela Ilmi Amalia (201701045)
2. Lailatul Khusnah (201701046)
3. Sita Devi (201701064)

1
bab II KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa , yang telah
memberikan Rahmat dan Karunia-Nya , sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul “Konsep Asuhan Keperawatan Spina Bifida”
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan mata kuliah
Keperawatan Anak II.
Kami menyadari keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki , oleh
karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca khusunya
tenaga keperawatan pada umumnya.

Mojokerto, 23 September 2019

Penyusun

2
bab III DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 2
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 4
1.1 LATAR BELAKANG........................................................................................... 4
1.2 RUMUSAN MASALAH ...................................................................................... 5
1.3 TUJUAN ............................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 6
2.1 Definisi spina bifida .............................................................................................. 6
2.2 Etiologi spina bifida .............................................................................................. 6
2.3 Manifikasi Klinis Spina Bifida .............................................................................. 7
2.4 Komplikasi Spina Bifida ....................................................................................... 7
2.5 Klasifikasi Spina Bifida ........................................................................................ 8
2.6 Patofisiologi Spina Bifida ..................................................................................... 9
2.7 Pathway .............................................................................................................. 10
2.8 Pemeriksaan Penunjang....................................................................................... 11
2.9 Penatalaksanaan .................................................................................................. 11
2.10 Pencegahan .......................................................................................................... 13
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ........................................................... 14
3.1 Pengkajian ........................................................................................................... 14
3.2 Epidiamologi ....................................................................................................... 14
3.3 Pemeriksaan Fisik ............................................................................................... 15
3.4 Pemeriksaan penunjang ....................................................................................... 16
3.5 Diagnosa keperawatan......................................................................................... 16
3.6 Intervensi ............................................................................................................. 17
BAB IV PENUTUP .......................................................................................................... 19
4.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 19
4.2 Saran ................................................................................................................... 19

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Spina bifida adalah defek pada penutupan kolumna vertebralis dengan atau tanpa
tingkatan protusi jaringan melalui celah tulang (Wong, 2003). Penyakit spina bifida atau sering
dikenal sebagai sumbing tulang belakang adalah salah satu penyakit yang banyak terjadi pada
bayi. Penyakit ini menyerang medula spinalis dimana ada suatu celah pada tulang belakang
(vertebra). Hal ini terjadi karena satu atau beberapa bagian dari vertebra gagal menutup atau
gagal terbentuk secara utuh dan dapat menyebabkan cacat berat pada bayi, ditambah lagi
penyebab utama dari penyakit ini masih belum jelas. Hal ini jelas mengakibatkan gangguan pada
sistem saraf karena medula spinalis termasuk sistem saraf pusat yang tentunya memiliki peranan
yang sangat penting dalam sistem saraf manusia. Jika medula spinalis mengalami gangguan,
sistem-sistem lain yang diatur oleh medula spinalis pasti juga akan terpengaruh dan akan
mengalami gangguan pula. Hal ini akan semakin memperburuk kerja organ dalam tubuh
manusia, apalagi pada bayi yang sistem tubuhnya belum berfungsi secara maksimal.
Fakta mengatakan dari 3 kasus yang sering terjadi pada bayi yang baru lahir di Indonesia
yaitu ensefalus, anensefali, dan spina bifida, sebanyak 65% bayi yang baru lahir terkena spina
bifida. Sementara itu fakta lain mengatakan 4,5% dari 10.000 bayi yang lahir di Belanda
menderita penyakit ini atau sekitar 100 bayi setiap tahunnya. Bayi-bayi tersebut butuh perawatan
medis intensif sepanjang hidup mereka. Biasanya mereka menderita lumpuh kaki, dan dimasa
kanak-kanak harus dioperasi berulang kali.
Dalam hal ini perawat dituntut untuk dapat profesional dalam menangani hal-hal yang
terkait dengan spina bifida misalnya saja dalam memberikan asuhan keperawatan harus tepat dan
cermat agar dapat meminimalkan komplikasi yang terjadi akibat spina bifida.

4
1.2 RUMUSAN MASALAH

2. Apa definisi Spina Bifida?


3. Bagaimana konsep askep tentang Spina Bifida?
1.3 TUJUAN

1. Mahasiswa mengetahui apa itu Spina Bifida


2. Mahasiswa dapat menusun askep Spina Bifida dengan benar

5
BAB II

PEMBAHASN

2.1 Definisi spina bifida

Spina bifida adalah defek pada penutupan kolumna vertebralis dengan atau tanpa
tingkatan protusi jaringan melalui celah tulang (Hockenberry & Wilson, 2009). Spina
bifida (sumbing tulang belakang) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra)
yang terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal
terbentuk secara utuh (Smeltzer & Bare, 2002).
Spina bifida merupakan sesuatu anomali perkembangan yang ditandai dengan
defek penutupan selubung tulang pada medulla spinalis sehingga medulla spinalis dan
selaput meningen dapat menonjol keluar (soina bifida eytica), atau tidak menonjol (spina
bifida occulta).beberapa hipotensis terjadinya spina bifida antara lain adalah :
1. Terjadinya proses pembentukan tuba neural karena penyebab tertentu
2. Adanya tekanan yang berlebihan di kanalis sentralis yang baru terbentuksehingga
menyebabkan ruptur permukaan tuba neural
3. Adanya kerusakan pada dinding tuba neural yang baru terbentuk karenasuatu
penyebab.

2.2 Etiologi spina bifida

Penyebab spesifik dari spina bifida tidak diketahui, tetapi menurut beberapa
sumber menyebutkan bahwa spina bifida muncul akibat dari faktor genetik (keturunan),
kekurangan asam folat, dan ibu dengan epilepsi yang menderita panas tinggi dalam
kehamilannya mengkonsumsi obat-obat asam volproic, anti konvulsan, klomifen.
Biasanya penutupan tabung saraf terjadi pada minggu ke empat masa embrio. Namun jika
sesuatu yang mengganggu dan tabung gagal untuk menutup dengan baik, cacat tabung
saraf akan terjadi. Diperkirakan bahwa hampir 50 % defek tabung saraf dapat dicegah
jika wanita yang bersangkutan meminum vitamin-vitamin prakonsepsi termasuk asam
folat (Betz dan Sowden, 2002).
Penyebab spesifik dari spina bifida tidak diketahui,tetapi di duga akibat:
 Genetik
 Kekurangan asam folat pada masa kehamilan
 Lingkungan

6
 Kekurangan kadar vitamin maternal

2.3 Manifikasi Klinis Spina Bifida

Akibat spina bifida, terjadi sejumlah disfungsi tertentu pada rangka, kulit, dan
saluran genitourinaria, tetapi semua bergantungan pada bagian medula spinalis yang
tertekan.
1. Kelainan motorik, sensorik, reflek, dan sfinger dapat terjadi dengan derajat keparahan
yang bervariasi
2. Paralisis dengan otot yang lemas pada tungkai : hilangnya sensasi dan refleks
3. Hidrosefalus
4. Skoliosis
5. Fungsi kandung kemih dan usus bervariasi dari normal sampai tidak efektif

2.4 Komplikasi Spina Bifida

Komplikasi dari spina bifida yang terkait dengan kelahiran antara lain
1. Paralisis serebral
2. Retardasi mental
3. Atrofi optik
4. Epilepsi
5. Osteoporosis
6. Faktur ( akibat penurunan massa otot)
7. Ulserasi, cedera, dekubitus, yang tidak sakit. ( hitam )

Komplikasi jangka panjang lainnya :


1. Infeksi pirau
2. Ventrikulitis
3. Meningitis
4. Peningkatan tekanan intrakranial karena pirau terbendung
5. Sindrom medula tercekik
6. Hipertensi intrakranial jinak
7. Defisit pengelihatan
8. Sensitisasi dan alergi terhadap lateks
9. Ulkus dekubitus

7
10. Sindrom celah ventrikel
11. Obesitas
12. Masalah masalah usus dan kandung kemih
13. Keterbatasan mobilitas
14. Tendonitis
15. Gangguan gastrointestinal
16. Gangguan fungsi seksual dan reproduksi
17. Disabilitas belajar
18. Depresi, ansietas harga diri rendah, perubahan citra tubuh ( kuning )

2.5 Klasifikasi Spina Bifida

1. Spina Bifida Okulta


Kegagalan penyatuan arkus vertebralis posterior tanpa menyertai herniasi medulla
spinalis atau meninges, tidak dapat dilihat secara eksternal, kadang merupakan penemuan
sinar-X kebetulan yang tidak bermakna. Spina bifida okulta lebih sering terjadi di
lumbasakral (L5 dan S1). Cara melihat adanya spina jenis ini adalah dengan melihat
manifestasi kutaseus yang berhubungan atau adanya gangguan neuromuskuler. Ciri-
cirinya terdapat nervus kapiler dan seberkas rambut atau lipoma supervisial. Spina bifida
okulta merupakan spina bifida yang paling ringan.
2. Spina Bifida Kistik
Defek yang dapat dilihat berupa penonjolan mirip kantong. Kulit diatas pembengkakan
biasanya tipis, tekanan pada kantong menyebabkan fontanella menonjol. Spina Bifida
Kistik dapat terjadi pada dua keadaan :
a) Meningokel
Penonjolan yang terdiri dari meninges dan sebuah kantong berisi cairan serebrospinal
(CSS). Penonjolan ini tertutup kulit biasa. Tidak ada kelainan neurologik dan anak
tidak mengalami paralise dan mampu untuk mengembangkan kontrol kandung kemih
dan usus. Terdapat kemungkinan terjadinya infeksi bila kandung tersebut robek dan
kelainan ini adalah masalah kosmetik sehingga harus dioperasi.
b) Mielomeningokel
Mielomeningokel merupakan jenis spina bifida yang paling berat. Mielomeningokel
ditandai dengan protrusi hernia dan kista meninges seperti kantong cairan spinal
dengan sarafnya keluar melalui defek tulang pada kolumna vertebralis.

8
2.6 Patofisiologi Spina Bifida

Spina bifida disebabkan oleh kegagalan dari tabung saraf untuk menutup selama
bulan pertama embrio pembangunan (sering sebelum ibu tahu dia hamil). Biasanya
penutupan tabung saraf terjadi pada sekitar 28 hari setelah pembuahan. Namun, jika
sesuatu yang mengganggu dan tabung gagal untuk menutup dengan baik, cacat tabung
saraf akan terjadi. Obat seperti beberapa Antikonvulsan, diabetes, setelah seorang kerabat
dengan spina bifida, obesitas, dan peningkatan suhu tubuh dari demam atau sumber-
sumber eksternal seperti bak air panas dan selimut listrik dapat meningkatkan
kemungkinan seorang wanita akan mengandung bayi dengan spina bifida. Namun,
sebagian besar wanita yang melahirkan bayi dengan spina bifida tidak punya faktor risiko
tersebut, sehingga meskipun banyak penelitian, masih belum diketahui apa yang
menyebabkan mayoritas kasus. Beragam spina bifida prevalensi dalam populasi manusia
yang berbeda dan bukti luas dari strain tikus dengan spina bifida menunjukkan dasar
genetik untuk kondisi. Seperti manusia lainnya penyakit seperti kanker, hipertensi dan
aterosklerosis (penyakit arteri koroner), spina bifida kemungkinan hasil dari interaksi dari
beberapa gen dan faktor lingkungan. Penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan
asam folat (folat) adalah faktor dalam patogenesis cacat tabung saraf, termasuk spina
bifida.

9
2.7 Pathway
Kekurangan asam folat Faktor genetik

Mempengaruhi perkembangan awal embrio

Kelainan kongenital

Defek penutupan kanalis vertebra

Defek pada arkus pascaerior tulang belakang

Kegagalan fungsi arkus pada lumbal dan sacral

Spina bifida okulta Spina bifida aperta

Paralisis spatik Peningkatan TIK


Terlibatnya struktur saraf

Resiko tinggi cedera Resiko herniasi

Defisit neurologis
Paralisis sensorik

Paralisis visera Paralisis motorik


Kehilanagan sensori

Gangguan Inkontinesia urine


Paralisis anggota gerak bawah
anggota gerak bawah

Hambatan mobilitas fisik

Pembedahan Insisi luka operasi Resiko infeksi

Injuri fisik

Nyeri akut

10
2.8 Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada trimester
pertama wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut Triple Screen. Tes ini
merupakan tes penyaringan untuk spina bifida, sindroma down dan kelainan bawaan
lainnya. 85 % wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida akan memiliki kadar
serum alfa feytoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka positif palsu yang tinggi,
karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat
diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya dapat menemukan adanya spina bifida. Kadang
dilakukan amniosentesis (analisa cairan ketuban) Setelah bayi lahir, dilakukan
pemeriksaan berikut :
1) Rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan.
2) USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis
maupun vertebra.
3) CT-Scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan lokasi
dan luasnya kelainan.
2.9 Penatalaksanaan

 Penatalaksanaan Medis
Pembedahan mielomeningokel dilakukan pada periode neonatal untuk mencegah ruptur.
Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi hidrocefalus
dilakukan pada saat kelahiran. Pencangkokan pada kulit diperlukan bila lesinya besar.
Antibiotic profilaktik diberikan untuk mencegah meningitis. Intervensi keperawatan yang
dilakukan tergantung ada tidaknya disfungsi dan berat ringannya disfungsi tersebut pada
berbagai sistem tubuh. Berikut ini adalah obat-obat yang dapat diberikan :
a) Antibiotic digunakan sebagai profilaktik untuk mencegah infeksi saluran kemih
(seleksi tergantung hasil kultur dan sensitifitas).
b) .Antikolinergik digunakan untuk meningkatkan tonus kandung kemih.
c) Pelunak feces dan laksatif digunakan untuk melatih usus dan pengeluaran feces.
(Cecily L Betz dan Linda A Sowden, 2002, halaman 469)
 Penatalaksanaan Keperawatan
 Pre operasi Segera setelah lahir daerah yang terpapar harus dikenakan kasa steril yang
direndam salin yang ditutupi plastik, atau lesi yang terpapar harus ditutupi kasa yang

11
tidak melekat, misalnya telfa untuk mencegah jaringan syaraf yang terpapar menjadi
kering.
 Perawatan prabedah neonatus rutin dengan penekanan khusus pada
mempertahankan suhu tubuh yang dapat menurun dengan cepat. Pada beberapa
pusat tubuh bayi ditempatkan dalam kantong plastik untuk mencegah kehilangan
panas yang dapat terjadi akibat permukaan lesi yang basah.
 Suatu catatan aktivitas otot pada anggota gerak bawah dan spingter anal akan
dilakukan oleh fisioterapist.
 Lingkaran oksipito-frontalis kepala diukur dan dibuat grafiknya.
 Pasca operasi
 Perawatan pasca bedah neonatus umum
 Pemberian makanan peroral dapat diberikan 4 jam setelah pembedahan.
 Jika ada drain penyedotan luka maka harus diperiksa setiap jam untuk menjamin
tidak adanya belitan atau tekukan pada saluran dan terjaganya tekanan negatif
dalam wadah. Cairan akan berhenti berdrainase sekitar 2 atau 3 hari pasca bedah,
dimana pada saat ini drain dapat diangkat. Pembalut luka kemungkinan akan
dibiarkan utuh, dengan inspeksi yang teratur, hingga jahitan diangkat 10 – 12 hari
setelah pembedahan.
 Akibat kelumpuhan anggota gerak bawah, maka rentang gerakan pasif yang
penuh dilakukan setiap hari. Harus dijaga agar kulit di atas perinium dan bokong
tetap utuh dan pergantian popok yang teratur dengan pembersihan dan
pengeringan yang seksama merupakan hal yang penting.
 Prolaps rekti dapat merupakan masalah dini akibat kelumpuhan otot dasar
panggul dan harus diusahakan pemakaian sabuk pada bokong
 Lingkaran kepala diukur dan dibuat grafik sekali atau dua kali seminggu.
Seringkali terdapat peningkatan awal dalam pengukuran setelah penutupan cacad
spinal dan jika peningkatan ini berlanjut dan terjadi perkembangan hidrosefalus
maka harus diberikan terapi yang sesuai. (Rosa.M.Sacharin,1996).

12
2.10 Pencegahan

1) Resiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat.
2) Kekurangan asam folat pada seorang wanita harus ditangani sebelum wanita
tersebut hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini.
3) Pada wanita hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 0,4
mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari.

13
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

1. Riwayat kesehatan keluarga Adakah yang menderita penyakit sejenis, bagaimana


kondisi kehamilan ibu (demam selama kehamilan, epilepsi, mengkonsumsi obat-obat
tertentu, dsb), kaji kehamilan sebelumnya (angka kejadian semakin meningkat jika pada
kehamilan dua sebelumnya menderita meningomielokel atau anencefali).
2. Riwayat kesehatan sekarang.
Apa keluhan utama (kelumpuhan, gangguan eliminasi, dsb), adakah penderita yang
sama di lingkungan penderita, sudah berapa lama menderita, kapan gejala terasa dan
keluhan lain apa yang mengikutinya
3.2 Epidiamologi

Spina bifida kira-kira muncul pada 1-2 dari 1000 kelahiran hidup, tetapi bila satu anak
telah menderita maka resiko untuk anak yang lain menderita spina bifida meningkat 2-
3%. Seorang ibu yang memiliki bayi menderita spina bifida , maka resiko hal ini terulang
lagi pada kehamilan berikutnya akan meningkat.
Spina bifida ditemukan terutama pada ras Hispanik dan beberapa kulit putih di Eropa, dan
dalam jumlah yang kecil pada ras Asia dan Afrika-Amerika. Spina bifida tipe okulta
terjadi pada 10 – 15 % dari populasi. Sedangkan spina bifida tipe cystica terjadi pada 0,1
% kehamilan. Terjadi lebih banyak pada wanita daripada pria (3 : 2) dan insidennya
meningkat pada orang China.
Kelainan ini seringkali muncul pada daerah lumbal atau lumbo-sacral junction.
Tetapi juga dapat terjadi pada regio servikal dan torakal meskipun dalam skala yang
kecil.
Beberapa masalah yang paling sering muncul pada kasus spina bifida adalah :
1) Arnold-Chiari Malformasi, 90% kasus muncul bersamaan dengan spina
bifida dimana sebagian massa otak menonjol ke dalam rongga spinal.
2) Hydrosefalus, 70-90% biasanya juga muncul bersamaan dengan spina
bifida. Pada keadaan ini terjadi peningkatan berlebihan dari liquor
cerebrospinal.

14
3) Gangguan pencernaan dan gangguan kemih, dimana terjadi gangguan pada
saraf yang mempersarafi organ tersebut. Anak-anak sering mengalami
infeksi kronik atau infeksi berulang saluran kemih yang disertai kerusakan
pada ginjal.
Gangguan pada ekstremitas terjadi ± 30% kasus. Gangguan dapat berupa dislokasi
sendi panggul, club foot. Gangguan ini dapat terjadi primer atau sekunder karena
ketidakseimbangan otot atau paralisis.
3.3 Pemeriksaan Fisik

Pada pengkajian fisik didapat data-data sebagai berikut


 Aktivitas/istirahat
Tanda: kelumpuhan tungkai tanpa terasa atau refleks pada bayi
Gejala: dislokasi pinggul
 Sirkulasi
Tanda: pelebaran kapiler dan pembuluh nadi halus, hipotensi, ekstremitas dingin
atau sianosis.
 Eliminasi
Tanda diunal ataupun nocturnal, inkontinensia urin/alfi, konstipasi kronis
 Nutrisi
Tanda: distensi abdomen, peristaltic usus lemah/hilang (ileus paralitik)
 Neuromuskuler
Tanda: gangguan sensibilitas segmental dan gangguan trofik paralisis kehilangan
refleks asimetris termasuk tendon dalam, kehilangan tonus otot/vasomotor;
kelumpuhan lengan tungkai dan otot bawah.
 Pernafasan
Tanda: pernapasan dangkal, periode apneu, penurunan bunyi napas.
Gejala: napas pendek, sulit bernapas.

15
3.4 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Penunjang Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan


fisik. Pada trimester pertama wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut
Triple Screen. Tes ini merupakan tes penyaringan untuk spina bifida, sindroma down dan
kelainan bawaan lainnya. 85 % wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida akan
memiliki kadar serum alfa feytoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka positif palsu
yang tinggi. karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk
memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya dapat menemukan adanya spina
bifida.
1. Kajian foto toraks, USG, Pembedahan CT, MRI, amniosentesis
2. Tes periode antenatal: fetoprotein alfa serum antara kehamilan 16 dan 18
minggu, USG fetus, amniosentesis jika hamil uji lainnya tidak menyakinkan
3. Uji prabedah rutin : pemeriksaan darah lengap, urinalis, pembiakan dan
sensitivitas, golongan dan pencocokan silang darah, pemeriksaan foto toraks.
3.5 Diagnosa keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (proses pemebedahan)

2. Cemas berhubungan dengan akan dilaukan tindakan pembedahan

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif dan kurangnya


informasi tentang penyakit

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive,luka insisi post


pemebedahan.
5. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kebutuhan

positioning deficit stimulasi dan perpisahan.

16
3.6 Intervensi

No Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intevensi Rasional

1. Nyeri akut b/d Tujuan : 1. monitoring skala 1.Mengevaluasi skala


injuri fisik (proses Setelah dilakukan tindakan nyeri nyeri dan menetapkan
pembedahan) keperawatan selama 1x24 2. Atur posisi klien intervensi selanjutnya.
jam masalah nyeri dapat yang nyaman 2. menurunkan tegangan
hilang 3. Lakukan teknik pijat dan mengurani nyeri
bayi yang benar 3.meningkatkan relaksasi
Kriteria hasil: 4.Lakukan pergantian 4.untuk mengetahui akan
1.Anak tidak menangis perban dan pengawasan terjadi infeksi
2.TTV normal pada luka operasi 5.sebagai agen anti nyeri
5. kolaborasi dengan
tim medis dalam
pemebrian obat
analgetik
2. Cemas Tujuan: 1. Bina hubungan saling 1.Mempermudah
berhubungan Setelah dilakukan percaya intervensi
dengan akan tindakan keperawatan 2. Observsi TTV 2.Mengetahui tekanan
dilaukan tindakan selama 1x4 jam masalah 3.Libatkan semua darah dan denyut nadi
pembedahan cemas dapat teratasi anggota Keluarga meningkat
4.Jelaskan bahwa 3.Mengurangi kecemasan
Kriteria hasil : penyakitnya bisa di 4.Dengan tindakan
 eksepresi wajah sembuhkan operasi penyakinya bisa
ceria 5.Berikan reinfocement disembuhkan
 klien mengatakan untuk menggunakan 5.Dukungan akan
tidak cemas Sumber Coping yang memberikan keyakina
efektif terhadap pernyataan
harapan untuk sembuh

3. Kurang Tujuan: 1.Jelaskan proses 1.Meningaktkan


pengetahuan Setelah dilakukan tindakan penyakit pengetahuan dan
berhubungan keperawata 1x3 jam 2.Jelaksn tentang mengurangi cemas

17
dengan diharapkan keluarga klien program pengobatan 2.Mempermudah
keterbatasan mengerti proses penyakit 3.Jelaskan tindakan intervensi
kognitif dan dan perawatan yang untuk untuk mencegah 3.Mencegah keperahan
kurangnya diberikan komplikasi penyakit
informasi tentang 4.Tanyakan kembali 4.Memastikan
penyakit Kriteria Hasil: pengetahuan keluarga pengetahuan keluarga
 Menjelaskan pasien tentang penyakit tentang penyakit
kembali tentang dan program perawatan
proses penyakit,
mengenal
kebutuhan
perawatan dan
pengobatan tanpa
cemas
 Ekspresi wajah
ceria dan rileks
4 Resiko infeksi b/d Tujuan : 1.monitoring TTV 1.Untuk mendeteksi
prosedur Setelah dilakukan tindakan 2.Observasi tanda-tanda secara dini gejala awal
invasive,insisi luka keperawatan selam 2x24 infksi infeksi
post pembedahan jam diharapkan tidak 3.Lakukan perawatan 2.Deteksi dini terhadap
terjadi infeksi luka dengan teknik infeksi akan mudah
septik dan aseptik 3.Menurunkan terjdinya
Kriteria hasil: 4.Observasi luka insisi infeksi dan penyebaran
 Tidak terdapat bakteri
tanda-tanda infeksi 4.Mendeteksi
dan peradangan perkembangan luka

18
bab IV BAB IV

bab V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Spina bifida merupakan suatu kelainan bawaan berupa defek pada arkus

pascaerior tulang belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis

spinalis pada perkembangan awal dari embrio. Penyebab dari spina bifida belum

diketahui secara pasti, tetapi diduga akibat faktor genetic dan kekurangan asam

folat pada masa kehamilan. Gejala bervariasi tergantung kepada beratnya

kerusakan pada korda spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak

memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan yang lainnya mengalami

kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis maupun nakar saraf

yang terkena.

5.2 Saran

19
DAFTAR PUSTAKA

BETZ,, C. D. (2002). BUKU SAKU KEPERAWATAN PEDIATRI. JAKARTA: EGC.

Catzel, P. (1994). Kapita Selekta Prdiatri Edisi II Editor : Andrianto, Petrus,. Jakarta: EGC.

Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Persarafan.

Jakarta: Salemba Medika.

Rendle, J. D. (1994). Ikhtisar Penyakit Anak Edisi 6 Jilid 2. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Sacharin, R. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatri, Editor : Ni Luh Yasmin . Jakarta: EGC.

Sadler. (2010). Embriologi Kedokteran. Edisi 10 : Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.

Wong, D. e. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Edisi 6 : Buku Kedokteran. Jakarta:

EGC.

20