Anda di halaman 1dari 3

Anak Kampung

Sore itu di salah satu kampung di kota Tarakan, kampung itu dinamakan kampung intraca.
ketika senja mulai datang, dan masjid sudah mulai melantunkan suara adzan. Aku dan kawan-
kawan beranjak pulang ke rumah masing-masing sehabis bermain di tanah lapang yang ada di
komplek rumah kami. Karena waktu itulah yang menjadi penanda untuk berakhirnya waktu
bermain pada sore hari.

Ketika hari sudah menunjukan pukul 19:30 WITA. Kebiasan yang aku lakukan yaitu
kembali berkumpul bersama kawan kawan, sembari bercerita tentang kejadian kejadian yang
kita alami saat itu juga. Terkadang kita juga melakukan permainan yang sangat asik pada
zamannya, yang biasa kami sebut polisi penjahat. Cara bermainnya kami membuat dua tim, tim
satu jadi polisi dan tim dua jadi penjahat begitu sebaliknya hingga semua penjahat tertangkap.
Permainan inilah yang terkadang membuat kita jadi lupa waktu sehingga kami telah berkumpul
hingga larut malam. Kebetulan malam itu malam minggu, setelah semuanya berakhir kami
melanjutkan perbincangan. Akhirnya kami membuat wacana untuk pergi jalan jalan ketika pagi
datang karena besok merupakan hari minggu. Kami pun bergegas pulang ke rumah karena hari
sudah mulai larut.

Esoknya ketika aku masih terlelap dalam tidurku, dalam suara samar aku mendengar
suara ayam berkokok sangat ramai sekali yang menandakan matahari sudah mulai terbit. Aku
pun terbangun saat kawan-kawan ku telah memanggilku, ternyata aku sudah kesiangan. Aku pun
bergegas mencuci muka dan setelah itu menuju keluar rumah. Kami pun langsung bergegas untuk
pergi jalan jalan, menikmati sejuk nya udara di pagi hari.

Setelah selesai jalan jalan kami pun beranjak pulang ke rumah untuk menikmati sarapan
yang telah ibu kami buat. Tak banyak tingkah, aku yang sudah mulai kelaparan langsung bergegas
menuju ruang makan dan menyantap masakan ibu yang sangat enak sekali tidak ada bandingnya.
Tiba tiba aku mendengar suara kawan-kawanku yang menghampiri rumahku untuk mengajak
berpetualangan dihari minggu. Oiya nama kawan-kawanku adalah Viki, Dimas, Bima, Revy, Rofiq,
dan Paran. Dan sebenarnya masih banyak lagi, namun hanya mereka yang kembali nyamper ke
rumah.

Aku pun langsung membukakan pintu rumahku sambil bertanya kepada mereka.

“mau pada kemana nih baru aja tadi kita jalan jalan udah nyamperi ke rumah lagi?”
tanyaku kepada mereka.

Lalu mereka serentak menjawab “ayo kita pergi berpetualang.”


Tak banyak kata lagi aku langsung mengambil sendal jepit sambil meminta izin kepada ibu
untuk bermain dan berpetualang bersama mereka. Setelah itu, kami lanjut untuk berpetualang.
Kami pun menelusuri hutan di sekitaran daerah tempat kami tinggal. Selama menulusuri hutan
kami bingung hal apa yang akan kami perbuat.

Akhirnya Dimas mengusulkan ide apa yang kami perbuat dan dia pun berkata “kawan-
kawan daripada kita gak jelas gini mending kita mancing di sungai yukk!!”

“Lah ayoklaah.. itu hobi yang aku suka.” Dengan lantang Viki menjawab.

Kami pun bergegas ke rumah Viki dan mengambil pancingan miliknya. Setelah itu, kami
kembali ke hutan dan mencari cacing tanah sebagai umpan untuk memancing. Cacing yang kami
cari sudah mencukupi kami pun menuju sungai di sekitaran hutan.

Pada akhirnya sekitaran 1 jam lebih memancing ikan kamipun letih, karena cahaya
matahari semakin menyorot. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri mancing ikan ini. Dalam
perjalanan kembali pulang salah satu kawan ku yaitu Bima mengajak kami untuk berenang di
kolam yang biasa kami datangi.

Bima berkata “Wehh dorang. Ayo kita berenang tempat biasa..”

“aihh gak mau panas ini nanti kulitku hitam” Revy menyaut ajakan Bima.

Aku, Paran, dan Rofiq serentak menjawab “ Anjiiirr... Lebay dah.”

Kami pun langsung menuju ke kolam itu. Setibanya disana bima tanpa beristirahat sejenak
langsung melompat ke kolam itu yang airnya cukup jernih. Dengan bersuka gembira kami
melepas letih sehabis memancing dan menyegarkan badan akibat panas terik matahari.

Tidak sampai disitu, petualangan kami masih berlanjut sehabis berenang dengan
beristirahat di kebun milik pak haji sapa akrabnya. Dengan diam-diam kami mengambil apa saja
yang dia tanam di kebunnya.ya namanya juga masih anak-anak segala cara tetap dilakukan. Kami
mengahabisi singkong dan buah terap yang di tanam. Dan membakar singkong serta menyantap
buah itu langsung di kebun nya. Padahal pak haji adalah orang yang sangat galak, tetapi kami
tetap bersuka ria menyantap apa yang telah kami dapat.

Setelah semuanya selesai, kami semua bergegas pulang kerumah masing-masing untuk
istirahat siang. Namun, ditengah perjalanan kami melihat kawan-kawan yang lain sedang
bermain sepak bola di lapangan. Kami pun ikut bergabung dalam permainan itu.
Hingga lupa waktu, ternyata matahari sudah mulai terbenam yang menandakan waktu
bermain telah usai. Aku pun mengakhiri permainan bola tersebut danbergegas menuju ke rumah
karena hari sudah mulai gelap.

Ketika malam sudah larut, aku beranjak ke kamar untuk tidur. Namun, sebelum tidur aku
selalu membayangkan bagaimana ketika aku sudah besar nanti. Hal ini tidak mungkin terulang
kembali, karena satu persatu dari kami akan pergi entah kemana untuk mengajar kesuksesan
nya. Masa kecil adalah masa yang sangat menyenangkan apalagi tinggal di sebuah perkampungan
yang di kelilingi hutan yang masih rindang. Bisa dibayangkan bukan serunya bermain di kampung
seperti itu.

Ketika aku sudah besar selalu menginginkan masa itu terulang kembali. Namun, mustahil
hal itu dapat terjadi. Yang dapat dilakukan hanya selalu mengenang kejadian kejadian yang selalu
dilakukan pada masa kecil dulu. Dan benar pada akhirnya masing-masing dari mereka sudah
mulai menghilang. Bukan hilang di telan bumi, tetapi mereka telah merantau ke daerah yang
semuanya jauh dari kampung dimana tempat kami di besarkan, semua itu demi cita-cita.

Viki, dia telah merantau ke kota Gorontalo untuk menempuh pendidikan SMA disana
mengikuti kaka nya yang berkuliah. Bima dan Paran berangkat ke tanah Sumbawa untuk
menempuh perguruan tinggi atau disebut sebagai mahasiswa. Revy berangkat ke Yogyakarta juga
menjadi mahasiswa. Kini tinggal Aku dan Rofiq yang tersisa di kampung ini. Aku masih menempuh
pendidikan di salah satu SMA di tarakan, sedangkan Rofiq sudah menjadi Mahasiswa di salah satu
Universitas di Tarakan.

Masa kecil adalah masa dimana aku, kamu, dan kita semua tak mengenal malu. Masa
dimana kita menjadi makhluk polos yang tidak banyak tahu. Ketika kecil hari-hari hanya di isi
dengan tidur, bangun tidur, sarapan, sekolah, pulang sekolah, main, mandi, dan belajar saat
malam. Yang ada dalam benak kala itu hanya belajar, dan bermain. Masa kecil menjadi sejarah
yang tak terlupakan dan yang selalu ku kenang dalam jiwa dan raga ku. Ahh betapa rindu nya
berjumpa pada masa itu.