Anda di halaman 1dari 6

Pertemuan 1

Mengapa nyeri dada memburuk jika bernapas dalam dan membaik jika bersandar ke
depan?

Nyeri memburuk saat napas dalam ?


Pada kasus ini terjadi peradangan pericardium jadi saat kita bernafas, batas antara pleura dan
pericardium semakin sempit akibatnya terjadi gesekan pleura dan pericardium yang menyebabkan
dada terasa semakin nyeri.

Nyeri membaik saat bersandar ke depan ?


Saat bersendar ke depan torak dan costa dapat lebih meluas, sehingga saat bernafas ruangan antar
pleura dan pericardium lebih lebar, akibanya saat bernafas tidak terjadi gesekan pleura dan
pericardium yang mengurangi rasa nyeri.
Fungsi normal

Apa yang menyebabkan penderita prehipertensi dan takikardi?

Pre-hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah
di atas normal yang di tunjukkan oleh angka systolic 120-139 mmHg dan angka diastolic 80-89
mmHg. Pre-hipertensi merupakan suatu tanda peringatan bahwa seseorang mungkin memiliki
tekanan darah tinggi di masa yang akan datang.
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara yaitu jantung
memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya arteri besar
kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat
jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk
melalui pembuluh yang sempit dari pada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan, inilah yang
terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arterioskalierosis.
Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokontriksi, yaitu
jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau
hormon di dalam darah. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang
sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat sehingga tekanan
darah juga meningkat.
Sebaliknya, jika aktifitas memompa jantung berkurang arteri mengalami pelebaran, banyak
cairan keluar dari sirkulasi, maka tekanan darah akan menurun. Penyesuaian terhadap faktor-faktor
tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom. Perubahan
fungsi ginjal, ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara jika tekanan darah
meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan
berkurangnya volume darah dan mengembalikan darah ke normal.
Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga
volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal. Ginjal juga bisa meningkatkan
tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon
angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal merupakan organ
yang penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena itu berbagai penyaklit dan kelainan pada
ginjal dapat menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju
ke salah satu ginjal bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cidera pada salah satu atau kedua
ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.

Pertemuan 2

Perikarditis
 Definisi
Perikarditis adalah peradangan pericardium viseralis dan parietalis dengan atau tanpa disertai
timbulnya cairan dalam rongga perikard yang baik bersifat transudat atau eksudat maupun
seraosanguinis atau purulen dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab. (IKA FKUI,
2007)
Perikarditis adalah peradangan pericardium parietal, pericardium visceral, atau keduanya.
Perikarditis dibagi atas perikarditis akut, subakut, dan kronik. Perikarditis subakut dan kronik
mempunyai etiologi, manifestasi klinis, pendekatan diagnostic, dan penatalaksanaan yang
sama. (Arif, 2009)
 Epidemiologi
Epidemiologi pada kejadian perikarditis sering terjadi tanpa adanya gejala klinis. Lorell
mencatat diagnosis perikarditis akut terjadi sekitar 1 per 1000 pasien yang masuk rumah
sakit, terdiri dari 1% dari kunjungan ruang gawat darurat pada pasien dengan segmen S-T
elavasi. Bahkan kejadian perikardial akut tamponade sekitar 2%, namun kondisi ini jarang
terjadi pada trauma dada tumpul.
Banyak penyakit di masa lalu yang didominasi menular, dalam beberapa tahun terakhir
spektrum klinis perikarditis konstriktif telah berubah. Di Amerika Serikat sekitar 9% dari
pasien dengan perikarditis akut terus berkembang secara konstriktif. Frekuensi itu bergantung
pada penyebab kejadian secara spesifik dari perikarditis, tapi perikarditis akut hanya secara
klinis didiagnosis pada 1 dari 1.000 pasien yang masuk rumah sakit. Sedangkan frekuensi
diagnosis perikarditis konstriktif kurang dari 1 dalam 10.000 pasien yang masuk rumah sakit
(Sidney, 2010).
 Etiologi

Peradangan pada daerah perikardium dapat menyebabkan cairan dan produk darah (fibrin ,
sel darah merah dan sel darah putih) memenuhi rongga perikardium. Perikarditis memiliki
bermacam-macam penyebab, mulai dari virus sampai kanker.
Penyebabnya antara lain adalah :
o Aneurisma aortic disertai kebocoran pericardial
o Penyakit autoimun (demam reumatik akut, lupus eritematosus sistemik, AIDS )
o Infeksi bakteri, virus, atau fungus (perikarditis menular)
o Obat, misalnya : hydralazine, nydrazid, phenytoin, dan procainamide
o Radiasi dosis tinggi pada dada
o Hipersensitivitas
o Faktor idiopatik (paling umum dalam perikarditis akut)
o Miksedema dengan endapan kolesterol dalam pericardium
o Neoplasma (primer atau metastasis)
o Cedera post kardiak (infarkasi miokardial yang menyebabkan syndrom dressler
;trauma atau pembedahan)
o Atritis rheumatoid
o Penyakit sistemik
o Uremia

 Patofisiologi
Proses radang yang terjadi dapat menimbulkan penumpukan cairan efusi dalam rongga pericardium
dan kenaikan tekanan intracardial,kenaikan tekanan tersebut akan mempengaruhi daya kontraksi
jantung,akhirnya menimbulkan proses fibrotic dan penebalan pericardial,lama kelamaan terjadi
kontriksi pericardial dengan pembentukan cairan,jika berlangsung secara kronis menyebabkan
fibrosis dan klasifikasi.
Karena dekatnya proximal perikardium dengan beberapa struktur seperti pleura, paru-paru, sternum,
diafragma dan miokardium, perikarditis mungkin diakibatkan oleh inflamasi atau proses peradangan
/ infeksi. Penyebab yang lain yaitu idiophatic, virus dan dapat didiagnosa dengan baik. Adanya agent
menyebabkan inflamasi pericardial dan kerjanya meluas sampai terjadi iritasi. Kondisi dibawah
normal bila naiknya volume ciaran di atas 50 ml dalam kantong perikardial. Ketika terjadi injury,
exudat fibulu, sel darah putih dan endothelial sel dilepaskan untuk menutupi lapisan parietal dan
viseral perikardial. Gesekan antara lapisan perikardial menyebabkan iritasi dan inflamasi sekeliling
pleura dan jaringan. Exudat fibrin mungkin lokasinya hanya pada satu tempat di jantung atau mengisi
ke seluruh tempat. Perikarditis akut dapat menjadi kering atau obstruksi vena-vena jantung dan
drainage limpha, menyebabkan rembesan fibrin exudat dan serous cairan di kantong perikardial yang
mana dapat menyebabkan terjadinya efusi purulent.

 Pemeriksaan Penunjang

a. EKG (elektrokardiografi)
Dapat menunjukkan iskemia, hipertrofi, blok konduktif, disritmia (peninggian ST dapat
terjadi pada kebanyakan lead) depresi PR, gelombang T datar atau cekung, pencitraan voltase
rendah umum terjadi. Elektrokardiografi memperlihatkan elevasi segmen ST dan perubahan
resiprokal, voltase QRS yang rendah (low voltage) tapi EKG bisa juga normal atau hanya
terdapat gangguan irama berupa fibrilasi atrium.
b. Ekokardiografi
Dapat menunjukkan efusi pericardial, hipertrifi jantung, disfungsi katup, dilatasi ruang.
Dalam efusi pericardial, ekokardiografi bisa mendiagnosis jika menunjukkan ruang bebas-
gaung antara dinding ventricular dan pericardium.

c. Kadar enzim kardiak sedikit naik, disertai miokarditis yang berkaitan , memastikan
diagnosis.
d. Angiografi
Dapat menunjukkan stenosis katup dan regurgitasi dan/atau penurunan gerak dinding.
e. Sinar X dada : Dapat menunjukkan pembesaran jantung, infiltarsi pulmonal.
f. JDL : Dapat menunjukkan proses infeksi akut/kronis, anemia.
g. Pemeriksaan Radiologis

Foto rontgen toraks bila efusi pericardium hanya sedikit, tetapi tetap tampak bayangan
jantung membesar seperti water bottle dengan vaskularisasi paru normal dan adanya efusi
pericardium yang banyak.Pada efusi pericardium, gambaran Rontgen toraks memperlihatkan
suatu konfigurasi bayangan jantung berbentuk buli-buli air tapi dapat juga normal atau
hamper normal.
Pada posisi berdiri atau duduk, maka akan tampak pembesaran jantung yang berbentuk
segitiga dan akan berubah bentuk menjadi globular pada posisi tiduran. Kadang-kadang
tampak gambaran bendungan pembuluh darah vena. Pada fluoroskopi tampak jantung yang
membesar dengan pulsasi yang minimal atau tidak tampak pulsasi sama sekali (silent heart).
Jumlah cairan yang ada dan besar jantung yang sebenarnya dapat diduga dengan
angiokardiogram atau ekokardiogram.
h. Pemeriksaan Laboratorium
Laju endap darah umumnya meninggi terutama pada fase akut. Terdapat pula leukositosis
yang sesuai dengan kuman penyebab. Cairan perikard yang ditemukan dapat bersifat
transudat seperti perikarditis rheumatoid, reumatik, uremik, eksudat serosanguinous dapat
ditemukan pada perikarditis tuberkulosa dan reumatika.
Cairan yang purulen ditemukan pada infeksi banal. Terhadap cairan perikard ini, harus
dilakukan pemeriksaan mikroskopis terhadap jenis sel yang ditemukan, pemeriksaan kimia
terhadap komposisi protein yang ada dan pemeriksaan bakteriologis dengan sediaan
langsung, pembiakan kuman atau dengan percobaan binatang yang ditujukan terhadap
pemeriksaan basil tahan asam maupun kuman-kuman lainnya.
i. Foto Thoraks
Dilakukan untuk mengetahui adanya cairan perikard

 Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Medis

1) Penatalaksanaan dari perikarditis akut bervariasi, tergantung kepada penyebabnya. Pelaksanaan


medisnya yaitu :

a) Penderita kanker mungkin memberikan respon terhadap kemoterapi (obat anti kanker) atau terapi
penyinaran; tetapi biasanya penderita menjalani pembedahan untuk mengangkat perikardium.

b) Penderita gagal ginjal mungkin akan memberikan respon terhadap perubahan program dialisa
yang dijalaninya.

c) Infeksi bakteri diobati dengan antibiotik dan nanah dari perikardium dibuang melalui pembedahan.

d) Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka pemakaian obat tersebut segera dihentikan.

e) Aspirin, ibuprofen atau corticosteroid diberikan kepada penderita yang mengalami perikarditis
berulang yang disebabkan oleh virus. Pada beberapa kasus diberikan colchicine.
f) Jika penanganan dengan obat-obatan gagal, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengangkat
perikardium.

2) Penatalaksanaan medis dari perikarditis kronis adalah :

a) Diuretik (obat yang membuang kelebihan cairan) bisa memperbaiki gejala, tetapi penyembuhan
hanya mungkin terjadi jika dilakukan pembedahan untuk mengangkat perikardium.

b) 85% penderita yang menjalani pembedahan mengalami penyembuhan. Pembedahan memiliki


resiko kematian sebesar 5-15%, karena itu pembedahan hanya dilakukan jika penyakit ini telah
sangat mengganggu aktivitas penderita sehari-hari.

3) Penatalaksanaan medis dari perikarditis konstriktif adalah :


Operasi dapat dilakukan melalui 2 insisi:
a) Sternotomi mediana : insisi sternotomi memberikan paparan yang lebih baik untuk membebaskan
ventrikel kanan dan merupakan pilihan bila akan dilakukan cardiopulmonary bypass sedangkan
Torakotomi (torakotomi anterolateral kiri atau torakotomi anterior bilateral) : memberikan paparan
yang lebih baik untuk membebaskan ventrikel kiri dan diafragma.
b) Setelah insisi sternotomi, dilakukan pembebasan outflow tract yaitu arteri pulmonalis diikuti aorta.
c) Kemudian dilakukan pembebasan inflow tract yaitu vena kava superior dan vena kava inferior. Hal
ini dilakukan untuk mencegah pasien jatuh ke dalam edema paru dan gagal jantung kanan jika inflow
tract dibebaskan lebih dahulu.
d) Bila pembebasan outflow tract gagal karena perlengketan berat, maka dilakukan draping dengan
preservasi arteri dan vena femoralis untuk pemasangan kanula cardiopulmonary bypass.

b. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Istirahatkan pasien di ranjang secara menyeluruh.
2) Kaji nyeri dalam hubungannya dengan respirasi dan posisi tubuh untuk membedakan nyeri
epikarditis dengan nyeri iskemik miokardial.
3) Tempatkan pasien dalam posisi tegak lurus untuk meringankan dispnea dan nyeri dada. Beri
analgesik dan oksigen.
4) Yakinkan penderita perikarditas bahwa kondisinya bersifat sementara dan bisa ditangani.
5) Jelaskan uji dan penanganan pada pasien.
6) Lakukan perawatan preoperatif dan postoperatif sesuai indikasi; hampir sama dengan perawatan
dengan pembedahan kardiotoraks.
7) Pasein dengan infeksi perikardium harus segera diobati dengan anti mikroba pilihan begitu
organisme penyebabnya dapat diidentifikasi. Perikarditis yang berhubungan dengan demam rematik
berespon baik dengan pinisilin. Perikarditis akibat tuberkulosis diobati dengan isoniasid, etambutol
hidroklorid, rifampisin, streptomisin dalam berbagai kombinasi . ampoterisin B digunakan untuk
perikarditis jamur, dan kartikosteroid digunakan pada lupus eritematosus diseminata.
8) Bila kondisi pasien sudah membaik, aktivitas harus ditingkatkan secara bertahap, tetapi bila nyeri
demam atau friction rub kembali muncul, pasien harus segera tirah baring.
9) Pasien dibaringkan ditempat tidur bila curah jantung masih belum baik, sampai demam, nyeri dada
dan friction rub menghilang. Analgetik dapat diberikan untuk mengurangi nyeri dan mempercepat
reabsorbsi cairan pada pasien dengan perikarditis rematik. Kortikosteroid dapat diberikan untuk
mengontrol gejala, memperepat resolusi proses inflamasi dalam perikordium dan mencegah
kekambuhan efusi perikard.