Anda di halaman 1dari 17

TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN INSEMINASI BUATAN

PENYAKIT REPRODUKSI HEWAN TERNAK


DISTOKIA PADA SAPI

Oleh:
Kelompok 8
Maulana Lugas Aditama H3417024
Muhammad Sahly Iqbal H3417027
Siti Nur Jannah H3417042
Yuni Rahmanto H3417049

D3 AGRIBISNIS MINAT PETERNAKAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan kasih
dan rahmat-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Teknologi
Reproduksi dan Inseminasi Buatan, Penyakit Reproduksi Hewan Ternak Distokia
pada Sapi. Penyusunan makalah Penyakit Reproduksi Hewan Ternak Distokia pada
Sapi ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Reproduksi dan
Inseminasi Buatan
Ucapan terima kasih tak lupa penyusun sampaikan kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kita
semua.
2. Kepala Program Studi D3 Agribisnis Minat Peternakan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sebelas Maret Surakarta
3. Dosen Pengampu mata kuliah Teknologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan
4. Orang tua tercinta yang tak pernah berhenti berdoa dan member dukungan.
5. Teman-teman dan semua pihak yang turut membantu dalam proses penyusunan
makalah Teknologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan
Pembuatan makalah ini penyusun menyadari bahwa masih banyak
kekurangannya, untuk itu kritik dan saran sangat penyusun harapkan dan semoga
tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Surakarta, 18 September 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL. ....................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. RumusanMasalah .......................................................................... 1
C. Tujuan............................................................................................ 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 3
BAB III. PEMBAHASAN ............................................................................... 5
A. Pengertian dan Macam Distokia pada Sapi ................................. 5
B. Ciri-ciri Distokia pada Sapi ......................................................... 5
C. Penyebab Distokia pada Sapi ....................................................... 6
D. Penanganan Distokia pada Sapi ................................................... 8
E. Pencegahan Distokia pada Sapi ................................................... 12
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 13
A. Kesimpulan ................................................................................... 13
B. Saran .............................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelahiran merupakan proses pengeluaran fetus yang dimulai dengan
dimulainya kontraksi kuat dan lentur dari uterus dan cervix. Proses kelahiran
biasanya dibagi menjadi 3 fase yaitu fase pelebaran cervix, pengeluaran fetus, dan
pengeluaran plasenta. Kedudukan fetus dalam kandungan, tingkat perejanan dan
mekanisme inisiasi kelahiran perlu diperhatikan dlam proses kelahiran.
Distokia pada sapi adalah suatu keadaan dimana sapi mengalami kesulitan
melahirkan. Distokia umumnya terjadi pada induk yang baru pertama kali beranak,
induk yang masa kebuntingannya jauh melebihi waktu normal, induk yang terlalu
cepat dikawinkan, hewan yang kurang bergerak, kelahiran kembar dan penyakit
pada rahim. Distokia dapat disebabkan oleh faktor induk dan faktor anak (fetus).
Kelahiran merupakan puncak dari proses kebuntingan. Pengetahuan yang baik
mengenai kelahiran yang normal sangat penting untuk memahami tingkat
abnormalitas yang tampak pada kasus distokia. Makalah ini bertujuan agar
pembaca dapat mengetahui serta mengerti mengenai masalah gangguan reproduksi
yang terjadi pada beberapa hewan salah satunya yaitu distokia, menjelaskan
pengertian distokia, ciri-ciri distokia, penanganan dan pencegahan distokia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari distokia pada sapi?
2. Apa ciri-ciri dari distokia pada sapi?
3. Apa penyebab distokia pada sapi?
4. Bagaimana penanganan terhadap distokia pada sapi?
5. Bagaimana pencegahan distokia pada sapi?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian distokia pada sapi
2. Mengetahui ciri dari distokia pada sapi

iv
3. Mengetahui penyebab distokia pada sapi
4. Mengetahui penanganan terhadap distokia pada sapi
5. Mengetahui pencegahan distokia pada sapi

v
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Distokia adalah gangguan reproduksi yang menyebabkan ternak kesulitan
melahirkan. Kejadian distokia biasanya terjadi pada sapi dara yang baru pertama kali
melahirkan. Penyebab distokia umumnya dikarenakan ukuran fetus yang besar, posisi
fetus yang abnormal, dilatasi serviks yang tidak sempurna, terjadinya kondisi uterus
yang tidak kontraksi atau karena kelelahan, torsio uterus dan fetus yang kembar
(Luthfi, 2017).
Kasus distokia pada sapi umumnya terjadi pada induk yang baru pertama kali
beranak, induk yang masa kebuntinganya jauh melebihi waktu normal, induk yang
terlalu cepat dikawinkan dan lain-lain. Distokia dapat disebabkan oleh factor induk
dan anak (fetus) aspek induk yang dapat mengakibatkan distokia diantaranya
kegagalan untuk mengeluarkan fetus akibat gangguan pada Rahim sobek, luka atau
terputar, gangguan pada abdomen (rongga perut) yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk merejan, tersumbatnya jalan kelahiran, dan ukuran panggul
yang tidak memadai (Kuswati dan Trinil Susilawati, 2016).
Induk sapi yang sulit melahirkan, terutama pada sapi-sapi berukuran besar
seperti FH, sapi-sapi yang selalu dikurung di dalam kandang terus-menerus, tidak
pernah dilepas untuk gerak badan, sapi-sapi yang terlalu muda, masa kebuntingan
yang terlalu lama, kelahiran kembar, infeksi uterus, kematian foctus dan lain
sebagainya, kesemuanya ini kemungkinan terjadinya distokia lebih besar. Penyebab
distokia ini ada 3 macam yaitu, penyebab genetik, penyebab tatalaksana dan pakan,
dan penyebab lainya. Pencegahan distokia secara genetis dapat dilakukan dengan
menghindarkan perkawinan keluarga (sedarah) terutama perkawinan antara dua anak
sapi dari induk dan pejantan sekandung (Aksi Agraris Kanisius, 2008).
Sectio caesaria merupakan salah satu penanganan terhadap kasus distokia.
Pertimbangan dipilihnya sectio caesaria untuk menangani distokia atara lain karena
terjadinya disproporsi fetopelvis, maldisposisi fetus yang tidak dapat dikoreksi secara
manipulatif, torsi uteri, abnormalitas pada maternal passage, dan monster fetus.

vi
Indikasi sectio caesaria yaitu, distokia karena induk belum dewasa, dilatasi dan
relaksasi cerviks tidak sempurna, dan fetus terlampau besar (Toelihere, 2006).

BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Distokia dan Macam Distokia


Distokia pada sapi adalah suatu keadaan dimana sapi mengalami kesulitan
melahirkan. Distokia umumnya terjadi pada induk yang baru pertama kali beranak,
induk yang masa kebuntingannya jauh melebihi waktu normal, induk yang terlalu
cepat dikawinkan, hewan yang kurang bergerak, kelahiran kembar dan penyakit
pada rahim. Distokia dapat disebabkan oleh faktor induk dan faktor anak (fetus).
Kelahiran merupakan proses pengeluaran fetus yang dimulai dengan
dimulainya kontraksi kuat dan lentur dari uterus dan cervix. Proses kelahiran
biasanya dibagi menjadi 3 fase yaitu fase pelebaran cervix, pengeluaran fetus, dan
pengeluaran plasenta. Kedudukan fetus dalam kandungan, tingkat perejanan dan
mekanisme inisiasi kelahiran perlu diperhatikan dalam proses kelahiran.
Distokia terdiri dari dua bentuk, yaitu:
1. Maternal Distokia
Maternal distokia adalah kejadian distokia yang disebabkan karena
adanya gangguan pada induk. Sebagian besar faktor-faktor yang menyebabkan
penyempitanatau stenosis saluran kelahiran sehingga menghalangi fetus yang
akan keluar melalui saluran peranakan.
2. Fetalis Distokia
Fetalis Distokia adalah kejadia distokia yang terjadi karena adanya
kelainan pada fetus yang dapat berupa kelainan presentasi, posisi, dan postur,
ascites fetalis, tumor foetus, pembesaran rongga tubuh foetus, abnormalitas
fetus dan monster fetus.

B. Ciri-ciri Distokia

vii
Sapi yang mengalami distokia dapat diketahui dengan beberapa gejala klinis
yang sering terlihat. Gejala tersebut diantaranya yaitu, sapi berdiri dengan postur
yang abnormal yaitu posisi badan membungkuk, mengejan dengan keras selama
30 menit tanpa adanya kemunculan pedet, kelahiran pedet dalam waktu 2 jam
setelah amnion muncul di vulva atau sulit mengeluarkan anak. Gejala penyakit
distokia juga dapat dilihat dari ambing (penghasil susu) membengkak meneteskan
kolostrum, kelamin betina bengkak mengeluarkan lendir.
Kelahiran merupakan proses pengeluaran fetus yang dimulai dengan
dimulainya kontraksi kuat dan lentur dari uterus dan cervix. Terdapat tiga tahapan
melahirkan sesuai yaitu pelebaran serviks (leher rahim) selama 2-6 jam,
pengeluaran fetus 0.5-1 jam dan pengeluaran plasenta (selaput fetus) 4-5 jam.
Apabila proses kelahiran melebihi waktu 8 jam dari saat pertama kali seekor induk
merejan untuk melahirkan dapat dikatakan sapi mengalami distokia.
Diagnosa distokia pada sapi harus mengetahui riwayat induk dan
memperhatikan kondisi induk dan fetus. Untuk menunjang diagnosa maka perlu
dilakukan pemeriksaan melalui vagina untuk memastikan posisi fetus, ukuran dan
derajat ruang panggul, derajat pembukaan serviks (leher rahim). Kelainan posisi
fetus harus diperiksa dengan hati-hati serta perlu dilakukan tes refleks pada fetus
untuk mengetahui hidup atau tidak. Pada kejadian distokia, sapi merejan beberapa
lama tetapi proses kelahiran tidak ada kemajuan.

C. Penyebab Distokia
Distokia yaitu suatu keadaan dimana hewan mengalami kesulitan beranak
yang disebabkan oleh factor induk atau anak, sehingga memerlukan pertolongan
tenaga ahli. Faktor induk yang menyebabkan distokia antara lain peradangan
rahim, ukuran panggul kecil, kekurangan nutrisi selama kebuntingan, ketidak
mampuan merejan, induk yang baru pertama melahirkan, kebuntingan pada umur
terlalu muda (kurang dari 1,5tahun) ataupun kurang gerak selama kebuntingan.
Faktor anak yang menyebabkan distokia antara lain ukuran anak terlalu besar

viii
(kawin suntik dari semen yang berbeda bangsa dengan postur tubuh yang lebih
besar dari induk), lahir kembar, sungsang, kekurangan hormone serta kematian
anak didalam rahim.

Secara umum penyebab dari terjadinya distokia terbagi menjadi:


1. Sebab dasar
a. Genetik: terdapat pada bentuk induk yang berpredisposisi terhadap
distokia, atau faktor-faktor yang tersembunyi. Penyebab genetik juga bisa
diakibatkan oleh gen-gen resesif pada induk pejantan.
b. Ras sapi. Kejadian distokia banyak terjadi pada ras sapi eropa, di mana
periode bunting lebih lama dan ukuran fetus lebih besar.
c. Nutrisi: sapi yang diberi pakan dengan kualitas buruk ketika masa
kebuntinganakan mempertinggi risiko terjadinya distokia dan mengurangi
daya hidup pedet. Pemberian pakan yang berlebihan dan tidak sesuai
anjuran juga dapat menyebabkan peningkatan pertambahan berat fetus
sehingga terbentuk timbunan lemak intrapelvis. Penimbunan ini
mengakibatkan pengejanan menjelang partus kurang optimal.
d. Pengawasan. Pengawasan pada sapi yang sedang partus perlu dilakukan,
karena gangguan yang terjadi selama proses partus mampu meningkatkan
insiden distokia.
e. Penyakit: beberapa penyakit dapat disertai dengan kejadian distokia
seperti hipokalsemia, inersia uterine primer, salonelosis, dan brucellosis.
2. Sebab langsung
a. Faktor Maternal
1) Kondisi sapi: jika sapi mengalami hipokalsemia saat partus berisiko
menderita inersia uterine primer akibat dari distokia.
2) Ukuran pelvis induk: pelvis yang terlalu sempit atau terlalu kecil dapat
mempertinggi kejadian distokia

ix
3) Umur: kejadian distokia lebih sering terjadi pada sapi dara yang
pertama kali bunting dengan kondisi tubuh yang buruk
4) Lama kebuntingan: sapi yang bunting tua mengandung berat badan
fetus yang dapat meningkat 0,5 kg perhari dengan panjang tulang juga
meningkat.
b. Faktor Fetus
1) Ukuran fetus: fetus yang berukuran besar dapat mempertinggi peluang
terjadinya distokia
2) Jenis kelamin fetus: fetus dengan jenis kelamin jantan umumnya
memiliki berat badan yang lebih berat dibanding fetus dengan jenis
kelamin betina.
3) Presentasi fetus: kejadian distokia tertinggi terjadi pada fetus dengan
presentasi posterior.
4) Kondisi fetus: yaitu fetus mati atau hidup. Kematian fetus pada akhir
kebuntingan atau awal kelahiran dapat menyebabkan distokia.

D. Penanganan Distokia dan Perawatan Pasca Distokia


Distokia sangat sering ditemukan dalam proses kelahiran ternak terutama sapi.
Penanganan terhadap distokia dilakukan agar pedet dapat dilahirkan dan dapat
menyelamatkan induk serta janin yang dikandungnya. Distokia dapat ditangani
dengan beberapa cara yaitu mutasi, tarik paksa, fetotomi, dan section ceasaria.
Beberapa prosedur obstetrik yang dapat membantu penanganan distokia
antara lain:
1. Manipulatif
Merupakan teknik penanganan distokia yang sederhana, dengan
langkah-langkahyang meliputi:
a. Repulsi
Repulsi adalah mendorong fetus ke dalam uterus untuk kemudian
membenarkan posisi dari fetus

x
b. Mutasi
Dalam teknik ini, dilakukan pembenaran presentasi, posisi, dan postur
fetus agar lebih mudah untuk dikeluarkan.
c. Ekstensi
Dalam teknik ekstensi, bagian tubuh yang secara normal ekstensi
namun ditemukan fleksi, maka dilakukan pelurusan.
d. Rotasi
Teknik ini dilakukan apabila terjadi kesalahan pada pada presentasi
dan posisi fetus. Dalam teknik ini dilakukan pemutaran fetus sehingga
presentasi menjadi longitudinal.
e. Versio
Merupakan salah satu teknik manipulatif di mana dilakukan pemutaran
fetus kedepan atau ke belakang.
f. Reposisi dan Retraksi
Retraksi diterapkan setelah melakukan reposisi pada kasus
malpresentasi, malposisi, dan malpostur.
2. Fetotomi
Fetotomi adalah salah satu teknik dalam menangani kasus distokia
dengan cara memotong fetus menjadi potongan-potongan kecil sehingga lebih
mudah dikeluarkan melalui saluran peranakan. Pertimbangan dilakukannya
fetotomi adalah apabila maldisposisi yang disebabkan oleh disproporsi
fetopelvis dengan fetus mati dan tidak dapat dikeluarkan dengan tarikan dan
penanganan distokia yang disebabkan oleh fetus terjepit selama pengeluaran
fetus. Beberapa pertimbangan perlu diperhatikan dalam melakukan fetotomi,
yaitu presentasi, posisi, dan postur dari fetus. Untuk fetus dengan presentasi
anterior, fetotomi dilakukan dengan pemotongan kepala, kaki depan kanan dan
kiri secara berurutan, sedangkan untuk fetus dengan presentasi posterior,
dilakukan pemotongan kaki belakang terlebih dahulu.
Beberapa teknik yang diterapkan dalam fetotomi, antara lain:

xi
a. Fetotomi perkutan, yaitu digunakan embrio tubuler dengan gergaji tubuler
yang dilewatkan terlebih dahulu. Gergaji kawat digunakan untuk
memotong fetus sedangkan embriotom untuk melidungi jaringan maternal
dari kerusakan.
b. Fetotomi subkutan, yaitu bagian dalam tubuh fetus dikeluarkan untuk
memperkecil bagian tubuh fetus.
3. Sectio caesaria
Sectio caesaria merupakan salah satu penanganan terhadap kasus
distokia. Pertimbangan dipilihnya sectio caesaria untuk menangani distokia
atara lain karena terjadinya disproporsi fetopelvis, maldisposisi fetus yang
tidak dapat dikoreksi secara manipulatif, torsi uteri, abnormalitas pada
maternal passage, dan monster fetus.
Indikasi sectio caesaria antara lain:
a. Distokia karena induk belum dewasa
b. Dilatasi dan relaksasi cerviks tidak sempurna
c. Fetus terlampau besar.
Sebelum dilakukan operasi, hewan diberi anastesi epidural untuk mencegah
pengejanan dari induk. Untuk lokasi operasi, beberapa pilihan lokasi dapat
dilakukan pembedahan antara lain:
a. Daerah flank
Operasi pada daerah flank membutuhkan anastesi lokal dengan
keuntungan irisan dapat diperluas dengan mudah, serta risiko pengotoran
luka postoperasi atau herniasi kecil.
b. Daerah ventrolateral
Operasi pada daerah ventrolateral memiliki risko kontaminasi
peritoneum yang lebih rendah dibanding pada operasi daerah flank, namun
kerugiannya diperlukan sedasi berat atau anastesi umum dan berisiko
tinggi pengotoran postoperasi.
Perawatan Induk Pasca Distokia

xii
1. Untuk menghindari terjadinya kekurangan mineral pada induk sapi, perlu
diberikan tambahan mineral lebih banyak pasca partus.
2. Jika terdapat penyakit spesifik terutama penyakit infeksius segera dilakukan
penanganan.
3. Luka yang timbul akibat kejadian distokia harus segera ditangan pasca partus.
4. Meningkatkan konsentrat sebagai perangsang nafsu makan.
5. Untuk merawat ambing, jika dilakukan pemerahan maka dilakukan dengan
waktu tertentu.
6. Permukaan lantai kandang sapi induk tidak boleh licin untuk mencegah
terjatuhnya induk dan menyebabkan luka traumati
Sapi setelah dioperasi atau Sectio Caesaria, diberikan antibiotik
Penisilin Streptomisin (Penstrep®) 1 ml/10 kg berat badan intramuskular dan anti
inflamasi Infalgin 1 ml/10 kg intramuskular selama 3 hari untuk mencegah infeksi
dan mengurangi inflamasi. Pengobatan supportif diberikan seperti vitamin
intramuskular dan juga pemberian dekstrose infus 500 ml untuk memperbaiki
kondisi tubuh setelah operasi. Bekas jahitan diberikan oksitetrasiklin semprot
untuk mencegah kontaminasi. Pengeluaran plasenta dibantu dengan pemberian
oksitosin.
Perawatan Fetus setelah Lahir
Fetus yang terlahir setelah penangan distokia harus dipastikan masih hidup
atau sudah mati. Ciri fetus hidup antara lain:
1. Refleks pedal dan palpebral aktif
2. Refleks terhadap tekanan bola mata dan cubitan hidung/telinga ada.
3. Refleks menghisap ada.
4. Refleks sphincter anal ketika dimasukkan sesuatu ke dalam rectum
Setelah dipastikan bahwa pedet hidup kemudian dilakukan pembersihan
saluran udara, memeriksa denyut jantung fetus, dan dilakukan penegakan respirasi
ketika jantung berdenyut, kemudian segera diberi kesempatan untuk meminum
kolostrum dari induk.

xiii
E. Pencegahan Distokia
Kasus distokia pada sapi umumnya terjadi pada induk yang baru pertama kali
beranak, induk yang masa kebuntingannya jauh melebihi waktu normal, induk
yang terlalu cepat dikawinkan, hewan yang kurang bergerak, kelahiran kembar dan
penyakit pada rahim. Pencegahan distokia yang dapat dilakukan untuk mencegah
keadaan tersebut yaitu dengan tidak mengawinkan induk terlalu dini, karena tubuh
dari ternak belum siap untuk mengandung dan untuk melahirkan pedet atau belum
dewasa tubuh dan mendeteksi awal pnyakit rahim yang di derita oleh ternak
terutama sapi.
Pencegahan distokia yang diakibatkan karena ukuran fetus yang terlalu besar
dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu keturunan, faktor pejantan yang terlalu
besar sedangkan induk kecil, lama kebuntingan, jenis kelamin fetus yaitu fetus
jantan cenderung lebih besar, kebuntingan kembar dan nutrisi saat masa
kebuntingan. Faktor pemberian pakan terlalu banyak dapat meningkatkan berat
badan fetus dan timbunan lemak dalam rongga panggul yang dapat menurunkan
efektivitas perejanan. Pencegahan distokia yang diakibatkan factor nutrisi tersebut
dapat dilakukan dengan member nutrisi yang cukup untuk induk atau tidak
berlebihan yang dapat menyulitkan induk dalam proses kelahiran.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang di dapat dari makalah gangguan reproduksi distokia pada
sapi yaitu:

xiv
1. Kelahiran merupakan proses pengeluaran fetus yang dimulai dengan
dimulainya kontraksi kuat dan lentur dari uterus dan cervix.
2. Kedudukan fetus dalam kandungan, tingkat perejanan dan mekanisme inisiasi
kelahiran perlu diperhatikan dlam proses kelahiran.
3. Distokia pada sapi adalah suatu keadaan dimana sapi mengalami kesulitan
melahirkan.
4. Distokia umumnya terjadi pada induk yang baru pertama kali beranak, induk
yang masa kebuntingannya jauh melebihi waktu normal, induk yang terlalu
cepat dikawinkan, hewan yang kurang bergerak, kelahiran kembar dan
penyakit pada rahim.
5. Distokia dapat diketahui dengan beberapa gejala klinis yaitu, sapi berdiri
dengan postur yang abnormal yaitu posisi badan membungkuk, mengejan
dengan keras selama 30 menit tanpa adanya kemunculan pedet, kelahiran pedet
dalam waktu 2 jam setelah amnion muncul di vulva atau sulit mengeluarkan
anak.
6. Distokia dapat ditangani dengan beberapa cara yaitu mutasi, tarik paksa,
fetotomi, dan section ceasaria.
7. Pencegahan distokia akibat perkawinan yang terlalu cepat yaitu dengan tidak
mengawinkan induk terlalu dini, karena tubuh dari ternak belum siap untuk
mengandung dan untuk melahirkan (belum dewasa tubuh).
8. Pencegahan distokia yang diakibatkan karena ukuran fetus yang terlalu besar
yaitu salah satunya dengan memperhatikan pemberian pakan pada sapi, yaitu
dengan pemeberian nutrient pakan yang cukup.

B. Saran
Saran yang di dapatkan dari penyusunan makalah ini yaitu:
1. Distokia pada sapi dapat terjadi salah satunya yaitu diakibatkan dari factor
keturunan, akan tetapi beberapa factor manusia atau peternak juga sangat
berpengaruh seperti, pemberian pakan, manajemen perkawinan dan deteksi

xv
gangguan distokia secara dini. Peternak diharapkan melakukan manajemen
pakan dan perkawinan yang tepat agar kasus distokia yang dialami ternak
terutama sapi dapat dikurangi atau teratasi.
2. Sapi yang telah mengalami distokia harusnya mendapat penanganan yang tepat
baik induk dan pedetnya, agar agar dapat melangsungkan hidupnya dengan
baik dan dapat berkembang serta bereproduksi dengan baik.
3. Penyusunan makalah tentang distokia seharusnya diberikan kasus yang nyata
atau mengetahui kejadian distokia di lapangan secara langsung, agar
mahasiswa dapat memahami materi lebih baik, efektif dan efisisen.

DAFTAR PUSTAKA

Aksi Agraris Kanisius. 2008. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Kanisius :
Yogyakarta

xvi
Kuswati dan Trinil Susilawati. 2016. Industri Sapi Potong. Universitas Brawijaya
Press : Malang
Manan, D. 2001. Ilmu Kebidanan pada Ternak. Universitas Syah Kuala Press : Aceh.
Ratnawati., Wulan Cahya Pratiwi dan Lukman Affandhy. 2007. Petunjuk Teknis
Penanganan Gangguan Reproduksi pada Sapi Potong. Pasuruan: Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Toelihere, M.R. 2006. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Universitas
Indonesia Press : Jakarta.
Lutfhi dan Widyaningrum. 2007. Tingkat Kejadian Gangguan Reproduksi Sapi Bali
dan Madura. Balai Penelitian dan Perkembangan Pertanian. Vol. 1 No. 1 :
1-9

xvii