Anda di halaman 1dari 109

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

SKRIPSI

SKRINING ANEMIA TERHADAP REMAJA PUTRI


PADA TAHUN PERTAMA MENSTRUASI
DI KECAMATAN MULYOREJO

Oleh :

APRILIA WAHYU HANKUSUMA

UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
SURABAYA
2009

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

SKRIPSI

SKRINING ANEMIA TERHADAP REMAJA PUTRI


PADA TAHUN PERTAMA MENSTRUASI
DI KECAMATAN MULYOREJO

Oleh :

APRILIA WAHYU HANKUSUMA


NIM. 100511642

UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
SURABAYA
2009

i
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

PENGESAHAN

Dipertahankan di Depan Tim Penguji Skripsi


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga dan
diterima untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM)
pada tanggal 29 Juni 2009

Mengesahkan
Universitas Airlangga
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Dekan

Prof. Dr. J. Mukono, dr., M.S., M.PH


NIP. 130676012

Tim Penguji :
1. Muji Sulistyowati, S.KM, M. Kes
2. Arief Hargono, drg., M.Kes
3. Marisulis, S.KM

ii
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar


Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM)
Departemen Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga

Oleh:

APRILIA WAHYU HANKUSUMA


NIM. 100511642

Surabaya, Juli 2009


Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Departemen, Pembimbing,

Fariani Syahrul, S.KM, M.Kes Arief Hargono, drg., M.Kes


NIP. 132087862 NIP. 132206069

iii
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga dapat terselesaikannya skripsi yang berjudul “SKRINING
ANEMIA TERHADAP REMAJA PUTRI PADA TAHUN PERTAMA
MENSTRUASI DI KECAMATAN MULYOREJO SURABAYA” sebagai
salah satu persyaratan akademis dalam rangka menyelesaikan kuliah di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.
Dalam skripsi ini dideskripsikan prevalensi anemia, derajat anemia,
menilai validitas dari alat skrining yang digunakan dengan melihat sensitivitas,
spesifisitas, positive predictive value, negative predictive value dan menilai
reliabilitas hasil pemeriksaan terhadap gold standart pada siswi Sekolah
Menengah Pertama di Kecamatan Mulyorejo.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada Bapak Arief Hargono, drg., M.Kes, selaku dosen
pembimbing yang telah memberikan petunjuk, koreksi serta saran sehingga
terwujudnya skripsi ini.
Terima kasih dan penghargaan kami sampaikan pula kepada yang
terhormat :
1. Prof. Dr. J. Mukono, dr., M.S., M.PH, selaku Dekan Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya.
2. Fariani Syahrul, S.KM., M.Kes., selaku Ketua Departemen Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya.
3. Riana Restuti, dr., selaku Kepala Puskesmas Mulyorejo Surabaya
4. Bapak Kunarsono Sulistyono, Amd.G selaku pembimbing lapangan. Terima
kasih atas bantuan, dukungan dan nasehatnya.
5. Mbak Yuni Melasari Amd. AnKes yang telah bersedia membantu mengambil
darah.
6. Kepala Sekolah SMP Al-Huda, SMP Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul
Ummah, SMP Institut Indonesia, SMP Muhammadiyah 10 yang telah
memberikan ijin penelitian sehingga tersusunnya skripsi ini.

iv
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

7. Kedua orang tua dan adikku yang senantiasa memberikan doa, dukungan,
nasehat, dan semangat. Memiliki kalian adalah suatu anugrah yang luar biasa.
8. Sahabat-sahabat flambir (Ais, Ariek, Eva, Kiki, Mus, Novi, Okta, Reni, Sara
dan Veli) atas hari yang selalu indah. Tidak pernah ada kata menyesal telah
mengenal kalian.
9. Farhan Soeprapto yang setia menemaniku, terima kasih atas doa, dukungan
dan bantuannya selama ini. Bersama kita akan wujudkan cita-cita kita.
10. Teman-teman baikku (Chandra, Lulud, Mbak Epi, Mbak Erna, Mbak Ike,
Mbak Mega, Mbak Nana, Mbak Rika, dkk) yang telah mewarnai hari-hariku.
11. Alumni bacaca (Mbak Bita, Mbak Fitri, Mbak Kiki, Mbak Novi, Mbak Re,
Mbak Solvi, Mbak Tantri) yang telah mengajariku hidup mandiri.
12. Rekan-rekan sepeminatan dan seangkatan yang telah membantu dan
memberikan saran demi terselesaikannya proposal ini.
13. Seluruh dosen dan staf Departemen Epidemiologi pada khususnya serta
seluruh dosen dan staf Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Airlangga Surabaya pada umumnya.
14. Semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung
demi kelancaran penulisan skripsi ini yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu
Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang
telah diberikan dan semoga skripsi ini berguna baik bagi diri kami sendiri
maupun pihak lain yang memanfaatkan.

Surabaya, Juni 2009

v
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
HALAMAN PERSETUJUAN iii
KATA PENGANTAR iv
ABSTRACT vi
ABSTRAK vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTAR LAMPIRAN xiv
DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN xvi

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Identifikasi Penyebab Masalah 4
1.3 Pembatasan Masalah 5
1.4 Perumusan Masalah 5

BAB II TUJUAN DAN MANFAAT 7


2.1 Tujuan Umum 7
2.2 Tujuan Khusus 7
2.3 Manfaat Penelitian 7

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 9


3.1 Anemia 9
3.1.1 Pengertian Anemia 9
3.1.2 Derajat Anemia 9
3.1.3 Patofisiologis Anemia 10
3.1.4 Klasifikasi Anemia 10
3.1.5 Gejala Klinis Anemia 13
3.1.6 Penyebab anemia 15
3.1.7 Pencegahan Penyakit Anemia 16
3.2 Metabolisme Zat Besi 19
3.3 Menstruasi 22
3.4 Remaja Putri 24
3.4.1 Pengertian Remaja Putri 24
3.4.2 Tahap-Tahap Perkembangan Remaja 24
3.5. Anemia Defisiensi Besi pada Remaja 25
3.6. Penetapan Kadar Hemoglobin 26
3.6.1 Metode Sianmethemoglobin 27
3.7 Skrining 27
3.7.1 Pengertian Skrining 27
3.7.2 Tujuan Skrining 28

viii
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

3.7.3 Fungsi Skrining 28


3.7.4 Macam Skrining 28
3.7.5 Proses Pelaksanaan Skrining 29
3.7.6 Kriteria untuk Evaluasi Skrining 29
3.7.7 Validitas Alat Skrining 30
3.7.8 Reliabilitas Alat Skrining 31
3.8 Prevalensi 33

BAB IV KERANGKA KONSEPTUAL 36

BAB V METODE PENELITIAN 38


5.1 Jenis dan Rancang Bangun Penelitian 38
5.2 Populasi Penelitian 39
5.3 Subjek Penelitian 39
5.4 Lokasi dan Waktu Pengambilan Data 40
5.5 Kerangka Operasional 41
5.6 Variabel, Cara Pengukuran, dan Definisi Operasional 43
5.7 Teknik dan Instrumen Pengambilan Data 47
5.7.1 Data Primer 47
5.7.2 Data Sekunder 48
5.7.3 Instrumen Pengambilan Data. 48
5.8 Teknik Pengolahan data 48

BAB VI HASIL PENELITIAN 50


6.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian 50
6.2 Gambaran Umum SMP Al- Huda 55
6.3 Gambaran Umum SMP Hidayatul Ummah 56
6.4 Gambaran Umum SMP Institut Indonesia 57
6.5 Gambaran Umum SMP Muhammadiyah 10 57
6.6 Karakteristik Responden 58
6.6.1 Sekolah Responden 58
6.6.2 Tingkat Kelas Responden 59
6.6.3 Umur Responden 60
6.6.4 Penyakit yang Pernah di Derita Responden 60
6.6.5 Pekerjaan Orang Tua Responden 61
6.6.6 Gejala Klinis Responden 61
6.7 Prevalensi Anemia 62
6.7.1 Prevalensi Anemia Berdasarkan Sekolah 63
6.7.2 Prevalensi Anemia Berdasarkan Tingkat Kelas 63
6.7.3 Prevalensi Anemia Berdasarkan Umur 64
6.8 Derajat Anemia 65
6.9 Validitas Alat Skrining 65
6.10 Reliabilitas Hasil Pemeriksaan Anemia 66

BAB VII PEMBAHASAN 68


7.1 Karakteristik Responden 68
7.2 Prevalensi Anemia 71
7.3 Derajat Anemia 74

ix
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

7.4 Validitas Skrining 74


7.4.1 Validitas Alat Skrining 74
7.4.2 Validitas Masing-Masing Gejala Klinis 76
7.5 Reliabilitas Hasil Pemeriksaan Anemia 82

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 84


8.1 Kesimpulan 84
8.2 Saran 85

DAFTAR PUSTAKA 87

LAMPIRAN 92

x
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman

3.1 Batasan anemia menurut WHO tahun 2000 9


3.2 Derajat anemia menurut Wirjatmadi dan Adriani 10
5.1 Distribusi jumlah populasi dan subjek penelitian di masing-
40
masing SMP di Kecamatan Mulyorejo
5.2 Variabel, definisi operasional dan cara pengukuran 43
6.1 Distribusi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin
51
tahun 2008 Kecamatan Mulyorejo
6.2 Distribusi jumlah siswa di SMP Al – Huda Surabaya tahun
55
2008-2009
6.3 Distribusi jumlah siswa di SMP Hidayatul Ummah
56
Surabaya tahun 2008-2009
6.4 Distribusi jumlah siswa di SMP Institut Indonesia
57
Surabaya tahun 2008-2009
6.5 Distribusi jumlah siswa di SMP Muhammadiyah 10
58
Surabaya tahun 2008-2009
6.6 Distribusi jumlah populasi dan jumlah responden di
59
masing-masing SMP di Kecamatan Mulyorejo
6.7 Distribusi penyakit yang diderita reponden di 5 SMP
60
Kecamatan Mulyorejo Surabaya
6.8 Distribusi pekerjaan orang tua reponden di 5 SMP
61
Kecamatan Mulyorejo Surabaya
6.9 Distribusi gejala klinis reponden di 5 SMP Kecamatan
62
Mulyorejo Surabaya
6.10 Distribusi penderita anemia di 5 SMP Kecamatan
63
Mulyorejo Surabaya
6.11 Prevalensi anemia menurut sekolah responden di 5 SMP
63
Kecamatan Mulyorejo Surabaya
6.12 Distibusi penderita anemia berdasarkan tingkat kelas di 5
64
SMP Kecamatan Mulyorejo Surabaya

xi
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

Nomor Judul Tabel Halaman

6.13 Prevalensi anemia menurut tingkat kelas responden di 5


64
SMP Kecamatan Mulyorejo Surabaya
6.14 Distribusi penderita anemia berdasarkan umur di 5 SMP
64
Kecamatan Mulyorejo Surabaya
6.15 Prevalensi anemia menurut umur responden di 5 SMP
65
Kecamatan Mulyorejo Surabaya
6.16 Validitas skrining anemia pada responden di 5 SMP
66
Kecamatan Mulyorejo Surabaya
6.17 Reliabilitas hasil pemeriksaan kadar hemoglobin darah
dengan metode Sianmethemoglobin pada siswi 5 SMP di 66
Kecamatan Mulyorejo

xii
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Gambar Halaman

4.1 Kerangka konseptual penelitian 36


5.1 Kerangka operasional pelaksanaan skrining 41
6.1 Distribusi tingkat kelas responden di 5 SMP Kecamatan
59
Mulyorejo Surabaya
6.2 Distribusi umur responden di 5 SMP Kecamatan Mulyorejo
60
Surabaya

xiii
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Lampiran Halaman

1 Kuesioner survei awal skrining anemia terhadap remaja


putri pada tahun pertama menstruasi di Kecamatan
Mulyorejo
2 Kuesioner skrining anemia terhadap remaja putri pada
tahun pertama menstruasi di Kecamatan Mulyorejo
3 Lembar pemeriksaan validitas alat skrining dan reliabilitas
hasil pemeriksaan darah
4 Surat pemberitahuan dan permintaan ijin kepada wali
murid
5 Pernyataan kesediaan untuk menjadi responden dalam
penelitian skrining anemia terhadap remaja putri pada
tahun pertama menstruasi di Kecamatan Mulyorejo
6 Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin darah responden
7 Karakteristik responden di 5 SMP Kecamatan Mulyorejo
Surabaya
8 Gejala klinis responden di 5 SMP Kecamatan Mulyorejo
Surabaya
9 Perhitungan nilai validitas alat skrining dengan gejala
klinis dibandingkan dengan gold standart dan nilai
reliabilitas hasil pemeriksaan kadar hemoglobin darah
10 Nilai validitas skrining anemia untuk masing-
masing/gabungan gejala klinis
11 Gejala klinis anemia dengan nilai spesifisitas tertinggi
dibandingkan dengan gold standart
12 Lembar perhitungan validitas masing-masing/gabungan
gejala klinis responden
13 Foto dokumentasi pelaksanaan skrining anemia
14 Surat ijin penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga Surabaya

xiv
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

Nomor Judul Lampiran Halaman

15 Surat ijin pelaksanaan survei awal dari Puskesmas


Mulyorejo
16 Surat perintah pelaksanaan survei awal dari Puskesmas
Mulyorejo
17 Surat ijin pelaksanaan penelitian dari Bakesbang Linmas
Surabaya
18 Surat ijin penelitian dari Dinas Pendidikan kota Surabaya
19 Surat ijin pelaksanaan penelitian dari Puskesmas
Mulyorejo
20 Surat perintah tugas penelitian dari Puskesmas Mulyorejo
21 Jadwal pelaksanaan skrining anemia terhadap remaja putri
pada tahun pertama menstruasi di Kecamatan Mulyorejo

xv
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

Daftar Arti Lambang


+ = Ditambah
≥ = Lebih besar atau sama dengan
≤ = Lebih kecil atau sama dengan
> = Lebih dari
< = Kurang dari
× = Perkalian
÷ = Pembagian
% = Persentase
& = Dan
= = Sama dengan
² = Kuadrat
─ = Sampai
/ = Atau
± = Kurang lebih

Daftar Singkatan
ABRI = Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
AKI = Angka Kematian Ibu
BKKBN = Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
BP = Bimbingan Penyuluhan
Cc = Centimeter Cubik
Depkes RI = Departemen Kesehatan Republik Indonesia
dl = Desiliter
FKM = Fakultas Kesehatan Masyarakat
FSH = Follicle Stimulating Hormone

xvi
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

gr = Gram
Ha = Hektar
Hb = Hemoglobin
IPA = Ilmu Pengetahuan Alam
Jl = Jalan
KB = Keluarga Berencana
KK = Kepala Keluarga
KKP = Kekurangan Kalori Protein
M = Meter
MA = Madrasah Aliyah
MI = Madrasah Ibtidaiyah
MT = Madrasah Tsanawiyah
nm = Nanometer
NPV = Negative Predictive Value
PNS = Pegawai Negeri Sipil
PPV = Positive Predictive Value
RT = Rukun Tetangga
RW = Rukun Warga
SD = Sekolah Dasar
SKRT = Survei Kesehatan Rumah Tangga
SMP = Sekolah Menengah Pertama
SMU = Sekolah Menengah Umum
TBC = Tuberculosis
TK = Taman Kanak-Kanak
UI = Universitas Indonesia
UKS = Usaha Kesehatan Sekolah
WHO = World Health Organization

xvii
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

ABSTRAK

Prevalensi anemia wanita usia subur di Puskesmas Mulyorejo cukup


tinggi yaitu 73,33 %. Skrining dilakukan untuk mengidentifikasi penyakit anemia
yang belum tampak melalui tes atau pemeriksaan yang dengan cepat memisahkan
antara orang yang mungkin menderita penyakit anemia dengan orang yang
mungkin tidak menderita penyakit. Skrining ini dilakukan pada siswi SMP karena
siswi SMP mengalami pertumbuhan fisik dan pematangan organ tubuh yang
cepat serta kehilangan darah kronis melalui menstruasi sehingga membutuhkan
zat-zat gizi yang cukup.

Tujuan penelitian ini adalah menemukan sejak dini kasus anemia pada
siswi SMP di Kecamatan Mulyorejo, menghitung prevalensi anemia, menilai
derajat anemia, menilai validitas alat skrining yang digunakan dengan melihat
sensitivitas, spesifisitas, negative predictive value, positive predictive value, dan
menilai reliabilitas pemeriksaan kadar hemoglobin darah. Penelitian ini
merupakan penelitian observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional.
Subjek penelitian ini adalah total populasi.

Hasil penelitian menunjukkan prevalensi anemia terhadap remaja putri


pada tahun pertama menstruasi sebesar 27,5% dengan penderita paling banyak
berumur 13 tahun dan duduk di kelas VII dan VIII. Semua penderita anemia pada
skrining ini masuk dalam kategori derajat anemia ringan. Validitas dari alat
skrining (dikatakan positif jika terdapat minimal 3 gejala klinis dari 8 gejala
klinis yang di amati seperti kelopak mata pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku
mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan lelah) dibandingkan dengan
gold standart diperoleh nilai sensitivitas 72,73%, spesifisitas 44,83%, PPV
33,33%, dan NPV 81,25%. Sedangkan reliabilitas sebesar 0,87.

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah dengan adanya
validitas dari gejala klinis kelopak mata pucat + lelah yang mempunyai nilai
sensitivitas 45,45% dan PPV 45,45%, maka gejala ini dapat digunakan untuk
mendiagnosa secara dini terjadinya anemia pada remaja putri.

Kata kunci: skrining, anemia, remaja putri, menstruasi

vii
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

ABSTRACT

The prevalence of anemia in women of fertile age, especially in the


Mulyorejo Public Health Center are still high around 73,33%. Screening was
done to identify anemia which have not looked through a test or examination that
can quickly split between people who maybe suffering or not. Screening was
done at the junior high school student because their physical and maturation grow
faster so that nutrient is required to fulfill nutrition requirement, beside the
chronic loss of blood through menstruation.

The objective of research was to found anemia cases earlier in the junior
high school students in Mulyorejo, to account the prevalence of anemia, to assess
the degree of anemia, to assess the validity of screening tools that are used as the
sensitivity, specificity, negative predictive value, positive predictive value, and to
assess the reliability of blood haemoglobin level examinator. This was descriptive
observasional with cross sectional study. The subject of research were total
population.

The result of the research showed that the prevalence of anemia in teenage
girls in the first year menstruation was 27,5% with most students was 13 age
years old and in sevent and eighth grade. All anemia suffers in this screening was
in anemia mild degree category. Validity of the screening tool was performed (it
is said there are positive if at least 3 of 8 clinical symptoms of clinical symptoms
observed in the eyelid, such as pale, pale tongue, pale nails, nails easily broken,
firely, dizzy, weak, and tired) compared with the gold standart were sensitivity
value 72,73%, specificity 44,83%, PPV 33,33%, and NPV 81,25%, with the
reliability were 0,87.

With the validity of the clinical symptoms of eyelid pale plus tired that
have a sensitivity value of 45,45% and 79,31% specificity the symptoms can be
used to diagnose the early occurrence of anemia in teenage girls.

Key words: screening, anemia, teenage girls, menstruation

vi
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit-penyakit gizi yang ada di Indonesia tergolong ke dalam

kelompok penyakit defisiensi. Penyakit gizi lebih (overnutrition) dan keracunan

pangan (food intoxication) belum diangggap telah mencapai tingkat bahaya

nasional. Sejak tahun 1988 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah

mengenal empat jenis penyakit defisiensi gizi yang dianggap sudah mencapai

kegawatan nasional karena kerugian yang ditimbulkan berpengaruh besar

terhadap pembangunan Bangsa Indonesia. Keempat penyakit defisiensi tersebut

adalah kekurangan protein dan kalori (KKP), defisiensi vitamin A, defisiensi

yodium, dan anemia defisiensi besi (Sediaoetama, 1999).

Prevalensi anemia dunia sekitar 10%−30%, dimana sebagaian terbesar

berada di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Secara umum 30%

dari populasi dunia yaitu sekitar 4,5 milyar penduduk dunia menderita anemia

dan setengahnya diyakini menderita anemia defisiensi besi (Conrad, 2003).

Anemia merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti

lebih dari 600 juta manusia (Arisman, 2004). Anemia di masyarakat dikenal

dengan istilah kurang darah, merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia

yang dapat diderita oleh seluruh kelompok umur mulai bayi, balita, anak usia

sekolah, remaja, dewasa dan lanjut usia (Untoro, 2005).

Menurut Depkes (1999), anemia adalah suatu keadaan dimana kadar

hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Anemia gizi adalah

1
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
2

kekurangan kadar Hb dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi

yang diperlukan untuk pembentukan Hb. Di Indonesia sebagian besar anemia

disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan

zat besi atau anemia gizi besi.

Penyebab anemia defisiensi besi antara lain karena kehilangan darah

secara kronis (menstruasi dan infestasi cacing), asupan zat besi tidak cukup,

penyerapan tidak adekuat, dan peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk

pembentukan sel darah merah yang lazim berlangsung pada masa pertumbuhan

bayi, masa pubertas, masa kehamilan dan masa menyusui (Arisman, 2004).

Survei Kesehatan Rumah Tangga (2001), prevalensi anemia pada anak

0−5 tahun sebesar 47%, anak usia sekolah dan remaja sebesar 26,5%, serta

wanita usia subur sebesar 40%. Anemia di Indonesia tahun 2002 menurut Ketua

III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia diderita oleh 8,1 juta anak

balita, 17,5 juta anak usia sekolah, 6,3 juta remaja putri, 13 juta wanita usia

subur, dan 6,3 juta ibu hamil (Rachmawati, 2007). Tahun 2001−2003 terdapat 2

juta ibu hamil menderita anemia gizi, dan 3,5 juta remaja serta wanita usia subur

menderita anemia gizi besi (Subeno, 2007).

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2007), prevalensi anemia nasional

sebesar 14,8% dan lebih dari 20 provinsi yang ada di Indonesia mempunyai

prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi anemia nasional. Sementara

prevalensi anemia pada balita usia 1−4 tahun sebesar 27,7%, wanita usia subur

sebesar 19,7% dan wanita hamil sebesar 24,5%.

Pada masa remaja terjadi pertumbuhan fisik dan pematangan organ tubuh

yang cepat sehingga untuk memenuhinya diperlukan zat-zat gizi yang cukup

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
3

baik kuantitas maupun kualitas. Anemia merupakan penyakit yang menyerang

remaja baik putra maupun putri, namun pengidapnya lebih banyak perempuan

karena perempuan kehilangan darah secara alamiah setiap bulan, jika darah yang

dikeluarkan selama menstruasi sangat banyak akan terjadi anemia defisiensi besi

(Arisman, 2004), dan ditambah jumlah konsumsi perempuan lebih sedikit

dibandingkan pria karena faktor ingin kurus (Depkes, 1999).

Hal yang membuat wanita sangat rentan menderita anemia karena siklus

menstruasi yang tidak normal (Indarti, 2008). Siklus menstruasi yang tidak

normal memicu terjadinya anemia seperti hipermenorhea (haid yang lebih lama

dan lebih banyak dari jumlah normal atau lebih dari 8 hari). Sedangkan menurut

Djauzi (2007), menstruasi yang lebih banyak dan lebih lama dapat menimbulkan

anemia.

Hasil penelitian di Surabaya terhadap remaja putri di pondok pesantren di

Surabaya menunjukkan 65,5% santriwati menderita anemia (Basuki dan

Chatarina, 2002). Sementara penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kusuma

Buana pada tahun 2007 di sekolah-sekolah di Jakarta menunjukkan prevalensi

anemia setiap sekolah antara 20%−35%. Sedangkan hasil survei di Semarang

tahun 2008 menunjukkan prevalensi anemia pada remaja sebesar 52,1%, di

Surabaya 65,5%, dan di Sleman 57,3% (Firman, 2008).

Secara klinis anemia gizi dapat dikenali dengan adanya gejala 5 L yaitu

lesu, lemah, letih, lelah dan lalai (Depkes, 1999). Anemia berdampak pada

penurunan kualitas sumber daya manusia, karena kekurangan zat besi dapat

menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik sel tubuh maupun

sel otak, kekurangan kadar Hb dalam darah menimbulkan gejala lesu, lemah,

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
4

letih dan cepat lelah, akibatnya dapat menurunkan prestasi belajar dan

produktifitas kerja, serta menurunkan daya tahan tubuh yang mengakibatkan

mudah terkena infeksi (Depkes, 2003).

1.2 Identifikasi Penyebab Masalah

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena

berperan dalam menyebabkan tingginya angka kematian ibu (AKI), angka

kematian bayi, rendahnya angka produktivitas kerja, prestasi olah raga dan

kemampuan belajar. Anemia pada remaja putri umumnya disebabkan karena

defisiensi zat besi yang mengakibatkan rendahnya kadar hemoglobin dalam

darah. Defisiensi zat besi ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain

karena kebutuhan yang meningkat akibat pertumbuhan pada masa remaja dan

kehilangan darah yang disebabkan oleh menstruasi.

Pada tahun 2005 Puskesmas Mulyorejo melakukan pemeriksaan

hemoglobin darah dengan sampel sebanyak 15 orang pada masing-masing ibu

hamil, wanita usia subur dan balita, diperoleh prevalensi anemia sebesar 66,67%

pada ibu hamil, 73,33% pada wanita usia subur dan 85,71% pada balita.

Sementara penelitian yang dilakukan oleh Wedha pada tahun 2006 menunjukan

prevalensi anemia pada anak Sekolah Dasar di Kecamatan Mulyorejo mencapai

72,3%.

Untuk mengetahui remaja putri mengalami anemia atau tidak, dilakukan

skrining dengan pemeriksaan kadar hemoglobin darah secara laboratoris sebagai

gold standart sehingga dapat diketahui prevalensi anemia dan derajat anemia.

Skrining juga di lakukan dengan melihat gejala klinis anemia sehingga dapat

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
5

ditentukan gejala klinis anemia dengan nilai sensitivitas, spesifisitas, negative

predictive value, positive predictive value yang paling tinggi untuk mendiagnosis

gejala anemia sedini mungkin.

Skrining anemia pada remaja putri bertujuan sebagai suatu usaha

mendeteksi/mencari penderita anemia yang tampak gejala/tidak tampak melalui

tes/pemeriksaan yang secara singkat dan sederhana sehingga dapat memisahkan

mereka yang sehat dari mereka yang kemungkinan besar menderita anemia.

Masih tingginya prevalensi anemia pada wanita usia subur yaitu sebesar

73,33% di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo maka peneliti ingin melakukan

skrining pada siswi Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Mulyorejo

mengingat remaja putri merupakan kelompok rentan terkena anemia akibat

kehilangan darah pada saat menstruasi yang terjadi setiap bulannya dan

merupakan calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus, jika tidak segera

mendapat penanganan dikhawatirkan akan meningkatkan risiko perdarahan pada

saat persalinan yang dapat menimbulkan kematian ibu dan dapat melahirkan bayi

dengan berat lahir rendah.

1.3 Pembatasan Masalah

Peneliti membatasi masalah dengan melakukan skrining anemia pada

siswi Sekolah Menengah Pertama di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo yang

menstruasi di tahun pertama.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
6

1.4 Perumusan Masalah

Dari batasan masalah tersebut dapat diuraikan rumusan masalah dalam

penelitian ini yang meliputi :

1. Bagaimana karakteristik responden Sekolah Menengah Pertama di

Kecamatan Mulyorejo?

2. Bagaimana prevalensi anemia siswi Sekolah Menengah Pertama Kecamatan

Mulyorejo yang menstruasi di tahun pertama?

3. Bagaimana derajat anemia siswi Sekolah Menengah Pertama Kecamatan

Mulyorejo yang menstruasi di tahun pertama?

4. Bagaimana validitas (sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value,

negative predictive value) alat skrining anemia pada siswi Sekolah Menengah

Pertama Kecamatan Mulyorejo yang menstruasi di tahun pertama?

5. Bagaimana reliabilitas hasil pemeriksaan anemia pada siswi Sekolah

Menengah Pertama Kecamatan Mulyorejo yang menstruasi di tahun pertama?

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB II

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

2.1 Tujuan penelitian

2.1.1 Tujuan Umum

Menemukan sejak dini kasus anemia pada siswi Sekolah Menengah

Pertama Kecamatan Mulyorejo di tahun pertama menstruasi dengan pemeriksaan

kadar hemoglobin darah.

2.1.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui karakteristik responden Sekolah Menengah Pertama di

Kecamatan Mulyorejo yang meliputi tingkat kelas dan umur.

2. Menghitung prevalensi anemia siswi Sekolah Menengah Pertama Kecamatan

Mulyorejo yang menstruasi di tahun pertama.

3. Menilai derajat anemia siswi Sekolah Menengah Pertama Kecamatan

Mulyorejo yang menstruasi di tahun pertama.

4. Menilai validitas alat skrining yang digunakan dengan melihat sensitivitas,

spesifisitas, negative predictive value, positive predictive value.

5. Menilai reliabilitas hasil pemeriksaan kadar hemoglobin darah.

2.2 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Sebagai upaya/sarana mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama

kuliah, memberikan pengalaman dan menambah wawasan peneliti dalam

7
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
8

melakukan penelitian anemia terhadap remaja putri serta dapat menjadi

acuan dalam penelitian pengembangan selanjutnya.

2. Bagi Puskesmas

Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan upaya penanggulangan

anemia pada siswi Sekolah Menengah Pertama khususnya dan masyarakat

pada umumnya.

3. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat

Menambah kepustakaan bidang ilmu epidemiologi yang berkaitan dengan

kasus anemia yang dapat digunakan sebagai rujukan dan bahan informasi

mahasiswa serta pengembangan penelitian di Bidang Epidemiologi di masa

yang akan datang.

4. Bagi Instansi Terkait (Sekolah Menengah Pertama)

Sebagai bahan masukan untuk penyuluhan terhadap warga sekolah

tentang penyakit anemia.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anemia

3.1.1 Pengertian Anemia

Anemia merupakan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan

jumlah sel darah merah dibawah nilai normal (Arisman, 2004). Anemia juga

disebutkan sebagai keadaan dimana massa eritrosit dan atau massa hemoglobin

yang beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi

jaringan tubuh. Sedangkan menurut Supariasa (2001), anemia adalah suatu

keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal, yang

berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin.

Tabel 3.1 Batasan Anemia Menurut WHO tahun 2000

No Kelompok Batas Normal (g/dl)


1. Anak 6 bulan – 5 tahun 11
2. Anak 5 tahun – 11 tahun 11,5
3. Anak 12 tahun – 13 tahun 12
4. Wanita dewasa 12
5. Laki-laki Dewasa 13
6. Wanita hamil 11
Sumber : Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI, 2007

3.1.2 Derajat Anemia

Derajat anemia dapat diketahui dengan melihat kadar hemoglobin yang

lebih rendah dari batas normal. Klasifikasi derajat anemia yang umum dipakai

adalah sebagai berikut :

9
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
10

Tabel 3.2 Derajat Anemia Menurut Wirjatmadi dan Adriani

No Derajat Anemia Kadar Hemoglobin (g/dl)


1. Ringan 10 g/dl – 12 g/dl
2. Sedang 7 g/dl – 9 g/dl
3. Berat < 7 g/dl
Sumber : Wirjatmadi dan Adriani, 2005

3.1.3 Patofisiologis Anemia

Pada dasarnya gejala anemia timbul karena :

1. Anoreksia organ target karena berkurangnya jumlah oksigen yang dapat di

bawa oleh darah ke jaringan.

2. Mekanisme kompensasi tubuh terhadap anemia.

Kombinasi kedua penyebab ini akan menimbulkan gejala yang disebut

sindrom anemia. Berat ringannya gejala tergantung pada :

1. Beratnya penurunan kadar hemoglobin

2. Kecepatan penurunan hemoglobin

3. Umur : adaptasi orang tua lebih jelek, gejala lebih mudah timbul

4. Adanya kelainan kardiovaskuler sebelumnya (Bakta, 2007).

3.1.4 Klasifikasi Anemia

Anemia dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, tergantung dari

mana kita melihat dan tujuan kita melakukan klasifikasi tersebut. Klasifikasi yang

paling sering dipakai adalah

1. Klasifikasi morfologik : yang berdasarkan morfologi eritrosit pada

pemeriksaan apusan darah tepi atau dengan melihat indeks eritrosit.

Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi eritrosit antara lain :

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
11

A. Anemia hipokromik mikrositer.

1. Anemia defisiensi besi.

2. Thalassemia.

3. Anemia akibat penyakit kronik.

4. Anemia sideroblastik.

B. Anemia normokromik normosister.

1. Anemia pasca pendarahan akut.

2. Anemia aplastik – hipoplastik.

3. Anemia hemolitik.

4. Anemia akibat penyakit kronik.

5. Anemia meiloptisik.

6. Anemia pada gagal ginjal kronik.

7. Anemia pada meilofibrosis.

8. Anemia pada sindrom meilodisplastik.

9. Anemia pada leukimia akut.

C. Anemia makrosister.

1. Megaloblastik.

a. Anemia defisiensi folat.

b. Anemia defisiensi vitamin B12.

2. Nonmegaloblastik.

a. Anemia pada penyakit hati kronik.

b. Anemia pada hipotiroid.

c. Anemia pada sindrome meilodisplastik.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
12

2. Klasifikasi etiopatogenis : yang berdasarkan etiologi dan patogenesis terjadi

anemia. Klasifikasi anemia berdasarkan etiopatogenesis antara lain :

A. Produksi eritrosit menurun.

a. Kekurangan bahan untuk eritrosit.

1. Besi : anemia defisiensi besi.

2. Vitamin B12 dan asam folat disebut sebagai anemia

megaloblastik.

b. Gangguan utilisasi besi.

1. Anemia akibat penyakit kronik.

2. Anemia sideroblastik.

c. Kerusakan jaringan sumsum tulang.

1. Atropi dengan penggantian oleh jaringan lemak : anemia

aplastik/hipoplastik.

2. Penggantian oleh jaringan fibrotik/tumor : anemia

leukoeritroblastik/meiloptisik.

d. Fungsi sumsum tulang kurang baik karena tidak diketahui.

1. Anemia diseritropoetik.

2. Anemia pada sindrom meilodisplastik.

B. Kehilangan eritrosit dari tubuh.

a. Anemia pasca perdarahan akut.

b. Anemia pasca perdarahan kronik.

C. Peningkatan penghancuran eritrosit dalam tubuh (hemolisis).

a. Faktor ekstrakorpuskuler.

1. Antibodi terhadap eritrosit.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
13

2. Hipersplenisme.

3. Pemaparan terhadap bahan kimia.

4. Akibat infeksi bakteri/parasit.

5. Kerusakan mekanik.

b. Faktor intrakorpuskuler.

1. Gangguan membran.

2. Gangguan enzim.

3. Gangguan hemoglobin.

D. Bentuk campuran.

E. Bentuk yang patogenesisnya belum jelas (Bakta, 2007).

3.1.5 Gejala Klinis Anemia

Gejala klinis anemia dapat diukur dengan pemeriksaan fisik yaitu

mengamati perubahan fisik yang ada kaitannya dengan penyakit tersebut.

Menurut Wirjatmadi dan Adriani (2006) pemeriksaan ini didasarkan atas dua

tanda yaitu

a. Sign

Observasi dilakukan oleh pengamat (tanda-tanda yang dapat diamati).

b. Symptom

Apa yang dirasakan oleh penderita. Pemeriksaannya dilakukan dengan

anamnesa.

Gejala anemia sangat bervariasi, tetapi pada umumnya dapat di bagi

menjadi 3 golongan besar yaitu :

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
14

1. Gejala umum anemia.

Gejala umum anemia disebut juga sebagai sindrom anemia atau anemic

syndrome. Gejala umum anemia adalah gejala yang timbul pada semua jenis

anemia pada kadar hemoglobin yang sudah menurun sedemikian rupa di

bawah titik tertentu. Gejala ini timbul karena anoreksia organ target dan

mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan hemoglobin. Gejala-

gejala tersebut apabila diklasifikasikan menurut organ yang terkena adalah

a. Sistem kardiovaskuler : lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardi sesak waktu

kerja, angina pectoris dan gagal jantung.

b. Sistem saraf : sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata berkunang-

kunang, kelemahan otot, iritabel, lesu, perasaan dingin pada ekstremitas.

c. Sistem urogenital : gangguan haid, libido menurun.

d. Epitel : warna pucat pada kulit dan mukosa, elastisitas kulit menurun,

rambut tipis dan halus.

2. Gejala khas masing-masing anemia.

Gejala yang menjadi ciri dari masing-masing jenis anemia seperti :

a. Anemia defisiensi besi : disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis.

b. Anemia defisiensi asam folat : lidah merah.

c. Anemia hemolitik : ikterus dan hepatosplenomegali.

d. Anemia aplastik : pendarahan kulit atau mukosa dan tanda-tanda infeksi.

3. Gejala akibat penyakit dasar.

Gejala penyakit anemi yang menjadi penyebab anemi. Gejala ini timbul

kerena penyakit-penyakit yang mendasari anemia tersebut. Misalnya anemia

defisiensi besi yang disebabkan oleh infeksi cacing (Bakta, 2007).

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
15

Menurut Siswono (2008), untuk mendeteksi adanya anemia cukup

menggunakan 3 gejala klinis dari sekian banyak gejala klinis yang ada karena

gejala anemia cenderung tidak khas, sedang gejala klinis yang sering muncul

pada penyakit anemia defisiensi besi antara lain lidah pucat, pusing, lemah, lelah,

kelopak mata pucat, mata berkunang-kunang, kuku pucat, serta pada anemia

lanjut sering ditemukan kuku yang berbentuk seperti sendok dan mudah rusak.

3.1.6 Penyebab anemia

Menurut Depkes (1999), sebagian besar anemia di Indonesia disebabkan

oleh kekurangan zat besi yang merupakan komponen pembentuk hemoglobin

atau sel darah merah. Menurut Arisman (2004), penyebab anemia defisiensi besi

antara lain karena kehilangan darah secara kronis (menstruasi dan infestasi

cacing), asupan zat besi tidak cukup dan penyerapan tidak adekuat, dan

peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk pembentukan sel darah merah yang

lazim berlangsung pada masa pertumbuhan bayi, masa pubertas, masa kehamilan

dan masa menyusui. Kekurangan zat besi terjadi karena penderita memang

kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi atau mereka sudah

mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, tetapi terjadi

gangguan absorsi dalam usus karena ada cacing atau gangguan pencernaan.

Ditambah dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu

penyerapan zat besi (seperti kopi dan teh) secara bersamaan pada waktu makan

menyebabkan serapan zat besi semakin rendah.

Menurut Almatsier (2003), penyebab anemia adalah kurangnya daya beli

masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sumber zat besi, anemia sering terjadi

pada golongan ekonomi rendah, karena pada kelompok masyarakat dengan

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
16

tingkat sosial ekonomi rendah kurang bisa untuk menjangkau sistem pelayanan

yang ada dan umumnya kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan makanan

sumber zat besi yang harganya relatif mahal, terutama dengan ketersediaan

biologik tinggi (asal hewani), dan perempuan ditambah dengan kehilangan darah

melalui haid atau pada persalinan. Jika darah yang keluar selama menstruasi

sangat banyak (banyak wanita yang tidak sadar kalau darah haidnya terlalu

banyak) akan terjadi anemia defisiensi besi (Arisman, 2004).

Disamping itu pendidikan, pengetahuan dan perilaku masyarakat secara

tidak langsung juga mempengaruhi terjadinya anemia. Pada kelompok

pendidikan rendah kurang mempunyai akses mengenai informasi tentang anemia,

sehingga kurang memahami kaitan anemia dengan faktor lainnya,

penanggulangannya serta kurang dapat memilih bahan makanan yang bergizi

khususnya yang mengandung zat besi relatif tinggi. Rendahnya pengetahuan

biasanya menyebabkan terjadinya anemia karena tidak bisa memilih makanan

yang mengandung gizi yang baik meskipun sebenarnya mereka mampu untuk

mengkonsumsinya. Adanya perilaku masyarakat yang pantang makan makanan

tertentu pada waktu hamil seperti mengurangi makanan pada trimester 3 agar

bayi yang di kandungnya menjadi kecil (Walujani, 2008).

3.1.7 Pencegahan Penyakit Anemia

Terdapat empat tingkatan upaya pencegahan penyakit yang berbeda

disesuaikan dengan fase perkembangan penyakit. Tingkatan pencegahan penyakit

tersebut adalah pencegahan primordial, pencegahan primer, pencegahan sekunder

dan pencegahan tertier (Syahrul dan Hidajah, 2002).

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
17

1. Pencegahan Primordial

Tujuan dari pencegahan primordial adalah untuk menghindari

terbentuknya pola hidup sosial ekonomi dan kultural yang diketahui

mempunyai kontribusi untuk meningkatkan risiko penyakit (Syahrul dan

Hidajah, 2002). Upaya pencegahan primordial dapat berupa kebijakan dari

pemerintah. Untuk pencegahan primordial yang efektif, memerlukan adanya

peraturan yang ketat dari pemerintah. Pencegahan primodial untuk penyakit

anemia antara lain :

a. Anjuran melaksanakan pengawasan dan pengendalian agar penjaja

makanan di sekolah memenuhi persyaratan kesehatan.

b. Anjuran melaksanakan pengawasan dan pengendalian agar pemeliharaan

kebersihan lingkungan sekolah memenuhi persyaratan kesehatan.

2. Pencegahan Primer

Pencegahan primer dilakukan untuk mengurangi insidensi penyakit

dengan cara mengendalikan penyebab-penyebab penyakit dan faktor

risikonya. Yang termasuk dalam pencegahan primer adalah

a. Peningkatan derajat kesehatan (Health Promotion)

Yaitu meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat

secara optimal, mengurangi peranan penyebab serta derajat risiko, juga

meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat. Salah satu cara

untuk meningkatkan derajat kesehatan dapat dilakukan dengan

penyuluhan. Penyuluhan dapat diberikan kepada murid di kelas/secara

masal dengan materi pemberantasan dan pencegahan penyakit anemia

yang dilakukan oleh petugas puskesmas.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
18

b. Perlindungan khusus (Specific Protection)

Perlindungan khusus bertujuan untuk meningkatkan daya tahan

maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit tertentu. (Syahrul dan

Hidajah, 2002). Dilakukan dengan meningkatkan konsumsi makanan yang

mengandung zat besi, diantaranya makan makanan yang mengandung zat

besi dari bahan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur), makanan yang

mengandung zat besi dari bahan nabati (sayuran berwarna hijau tua,

kacang-kacangan, tempe) dan buah-buahan yang mengandung vitamin

(Dinkes Propinsi Jawa Timur, 2001).

3. Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder bertujuan untuk menghentikan proses penyakit lebih

lanjut dan mencegah komplikasi (Syahrul dan Hidajah, 2002). Pencegahan

sekunder terdiri dari :

a. Diagnosis dini (Early Diagnosis)

1. Pemeriksaan kesehatan bagi murid secara periodik sekali setahun

(pemeriksaan kadar hemoglobin) yang diadakan oleh petugas

puskesmas.

2. Mengenali tanda-tanda penyakit anemia murid yang dilakukan oleh

guru UKS dan merujuk ke Puskesmas bila terdapat gejala dari anemia

tersebut.

b. Pengobatan tepat dan benar (Promp Treatment)

Pengobatan disesuaikan dengan penyebab dari anemia. Jika tidak di

ketahui penyebabnya diberi saja makanan bergizi yang mengandung

cukup zat besi dan pemberian tablet besi 3 x 0,5 tablet serta melakukan

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
19

pengobatan penyakit yang menyertai anemia, diantaranya kecacingan,

malaria dan TBC.

4. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier bertujuan untuk menurukan kelemahan dan kecacatan,

memperkecil penderitaan dan membantu penderita-penderita untuk melakukan

penyesuaian-penyesuaian terhadap kondisi-kondisi yang tidak dapat diobati

lagi (Syahrul dan Hidajah, 2002). Ada 2 macam pencegahan tertier, yaitu :

a. Pembatasan kecacatan (Disability Limitation)

b. Rehabilitasi (Rehabilitation) dengan cara penanganan kasus anemia

dengan cara rujukan berkala dan terus-menerus pada murid yang

mengalami anemia.

3.2 Metabolisme Zat Besi

Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam

tubuh manusia dan hewan. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial dalam

tubuh antara lain sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh,

sebagai alat angkut elektron di dalam sel, dan sebagai bagian terpadu berbagai

reaksi enzim di dalam jaringan tubuh (Almatsier, 2003). Jumlah seluruh besi di

dalam tubuh orang dewasa terdapat sekitar 3,5 g, dimana 70 persennya terdapat

dalam hemoglobin, 25 persennya merupakan besi cadangan yang terdiri dari

feritin dan hemosiderin terdapat dalam hati, limfa dan sumsum tulang. Besi

simpanan ini berfungsi sebagai cadangan untuk memproduksi hemoglobin dan

ikatan-ikatan besi lainnya yang mempunyai fungsi fisiologis. Bila simpanan besi

berkurang, maka penyerapan besi akan meningkat.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
20

Metabolisme besi terdiri dari lima rentetan proses yaitu penyerapan,

transportasi, pemanfaatan dan pengawetan, penyimpanan, dan pembuangan

(ekskresi). Besi dalam makanan yang dikonsumsi berada dalam bentuk ikatan

ferri (umumnya dalam pangan nabati seperti kacang kedelai, bayam, kangkung)

maupun ikatan ferro (umumnya dalam pangan hewani seperti telur, hati, ayam,

daging). Besi yang berbentuk ferri yang oleh getah lambung (HCL), direduksi

menjadi bentuk ferro yang lebih mudah diserap oleh sel mukosa usus. Dalam sel

mukosa, ferro dioksidasi menjadi ferri, kemungkinan bergabung dengan

apoferitin membentuk protein yang mengandung zat besi yaitu feritin.

Selanjutnya untuk masuk ke plasma darah, besi dilepaskan dari feritin dalam

bentuk ferro, sedangkan apoferitin yang terbentuk kembali akan bergabung lagi

dengan ferri hasil oksidasi di dalam sel mukosa. Setelah masuk ke dalam plasma,

maka besi ferro segera dioksidasi menjadi ferri untuk digabungkan dengan

protein spesifik yang mengikat besi yaitu transferin.

Plasma darah disamping menerima besi berasal dari penyerapan makanan,

juga menerima besi dari simpanan, pemecahan hemoglobin dan sel-sel yang telah

mati. Sebaliknya plasma harus mengirim besi ke sumsum tulang untuk

pembentukan hemoglobin, juga ke sel endotelial untuk disimpan, dan ke semua

sel untuk fungsi enzim yang mengandung besi. Jumlah besi yang setiap hari

diganti sebanyak 30–40 mg. Dari jumlah ini hanya 1 mg yang berasal dari

makanan.

Banyaknya besi yang dimanfaatkan untuk pembentukan hemoglobin

umumnya sebesar 20–25 mg per hari. Pada kondisi dimana sumsum tulang

berfungsi baik, dapat memproduksi sel darah merah dan hemoglobin sebesar

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
21

enam kali. Besi yang berlebihan disimpan sebagai cadangan dalam bentuk feritin

dan hemosiderin di dalam sel parenkhim hepatik, sel retikuloendotelial sumsum

tulang hati dan limfa. Ekskresi besi dari tubuh sebanyak 0,5–1 mg per hari, di

keluarkan bersama-sama urine, keringat, dan feses. Dapat pula besi dalam

hemoglobin keluar dari tubuh melalui pendarahan, menstruasi, dan saluran urine.

Apabila tubuh mengalami kekurangan besi, maka dapat timbul keadaan

anemi kurang besi. Berkembangnya anemia kurang besi melalui beberapa

tingkatan yaitu

1. Tingkatan pertama, ”anemia kurang besi laten” merupakan keadaan dimana

banyaknya cadangan besi berkurang dibawah normal namun besi dalam sel

darah merah dan jaringan masih tetap normal.

2. Tingkatan kedua, ”anemia kurang besi dini”, dimana penurunan besi

cadangan terus berlangsung sampai habis atau hampir habis, tetapi besi

dalam sel darah merah dan dalam jaringan belum berkurang.

3. Tingkatan ketiga, ”anemia kurang besi lanjut”, merupakan perkembangan

lanjut dari anemia kurang besi dini, dimana besi dalam sel darah merah

sudah mengalami penurunan, namun besi dalam jaringan belum berkurang.

4. Tingkatan keempat, ”anemia kurang besi jaringan”, terjadi setelah besi dalam

jaringan juga berkurang (Suhardjo dan Kusharto, 1999).

Gambaran klinik laboratorik dari kondisi defisiensi Fe adalah anemia

yang biasanya bersifat hypokromik mikrosister, yaitu sel-sel erythrocyt

mempunyai diameter lebih kecil dan kandungan hemoglobin rendah. Diagnosa

anemia dilakukan dengan mengukur kadar hemoglobin dan dapat dibantu dengan

penetapan PCV (Packed Cell Volume), RBC (Red Blood Cell Count), pengukuran

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
22

diameter erythrocit dan pemerikasaan reticulocytes. Di klinik hemoglobin dapat

diukur dengan metode Sahli dan dilaboratorium dapat dipergunakan metode

Sianmethemoglobin. Cara yang terakhir ini dinilai lebih teliti dan lebih dapat

dipercaya (Sediaoetama, 1999).

3.3 Menstruasi

Menstruasi adalah peristiwa luruhnya ephitel permukaan endometrium,

yang disertai dengan pendarahan melalui vagina yang dialami oleh golongan

primata termasuk manusia (Pidada, 2005). Atau pendarahan akibat runtuhnya

dinding lapisan dalam rahim yang bertujuan mempersiapkan rahim menampung

sel telur yang dibuahi. Bila kehamilan tidak terjadi, dinding yang sudah

dipersiapkan akan mengelupas, ini yang dinamakan menstruasi. Peristiwa

menstruasi pertama kali disebut minarche yang merupakan dimulainya titik awal

masa reproduksi yang berarti individu tersebut telah dewasa seksual dan mampu

bereproduksi. Menurut Llewellyn dan Jones (2005), usia datangnya minarche

antara 10–14 tahun.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap datang minarche menurut

Pidada (2005) adalah sebagai berikut :

1. Kesehatan dan perkembangan fisik yang optimal.

2. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan jiwa anak meliputi emosi dan

psycoseksual.

3. Kemampuan ekonomi keluarga, yang secara langsung akan berpengaruh

terhadap perkembangan kesehatan dan perkembangan fisik.

4. Keturunan.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
23

Dan diprediksikan :

1. Wanita kota lebih awal daripada wanita desa.

2. Ekonominya mampu lebih awal dari pada yang kurang mampu.

3. Lingkungan yang bebas lebih awal dari pada yang kurang bebas.

Menurut Llewellyn dan Jones (2005) siklus endometrium terbagi dalam 3 fase :

1. Fase Proliferasi

Hypotalamus mengirim sejumlah faktor pencetus FSH ke kelenjar bawah

otak yang membuat FSH. Jumlah FSH dalam darah kemudian meningkat dan

merangsang sejumlah folikel telur di indung telur. Folikel tumbuh dan

membentuk estrogen, sehingga jumlah hormon dalam darah meningkat.

Estrogen merangsang dinding supaya menebal. Estrogen mengakibatkan

kelenjar tumbuh dan lapisan sel dinding bertambah dan menebal.

2. Fase Sekresi

Progesteron mempertebal dinding dalam rahim, dan merangsang kelenjar-

kelenjar agar mengeluarkan cairan pemupuk bagi sel telur yang dibuahi

3. Fase Menstruasi

Badan kuning telur yang tertinggal di indung telur akan mati, kecuali bila

terjadi pembuahan dan kehamilan. Akibat dari kematian sel folikel ini, maka

kadar estrogen dan progesteron dalam darah mendadak menurun. Tanpa

rangsangan estrogen dan progesteron, dinding rahim yang semula tebal

menjadi mengkerut. Pembuluh darah pecah dan terjadilah pendarahan pada

lapisan dalam dinding, sehingga dinding runtuh ke dalam rongga rahim,

bersama-sama dengan darah ada cairan yang mengalir perlahan ke rongga

rahim dari endometrium.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
24

3.4 Remaja Putri

3.4.1 Pengertian Remaja Putri

Depkes (1999) menyebutkan masa remaja adalah masa peralihan dari

anak-anak menjadi dewasa, ditandai dengan perubahan fisik dan mental.

Perubahan fisik di tandai dengan berfungsinya alat reproduksi seperti menstruasi

(umur 10–19 tahun).

3.4.2 Tahap-Tahap Perkembangan Remaja

Gunarsa (2003) mengelompokkan tahapan perkembangan remaja menjadi

3 tahap, yaitu :

1. Remaja awal (12–14 tahun)

Masa ini berlangsung sangat singkat, ditandai dengan sifat negatif, tidak

tenang, kurang suka bergerak, lekas marah, kebutuhan tidur besar, pesimistik,

murung dan sebagainya.

2. Remaja pertengahan (15–17 tahun)

Individu mengalami keguncangan batin, sebab ia tidak mau lagi bersikap

dan berpedoman hidup kanak-kanak, tetapi belum mempunyai pedoman

hidup baru. Itulah sebabnya remaja tidak tenang, banyak kontradiksi dalam

dirinya, mengkritik karena dirinya tidak mampu, tetapi ia mencari

pertolongan karena merasa belum dapat mewujudkan keinginannya.

3. Remaja akhir (18–21 tahun)

Masa ini tercapai setelah individu dapat menentukan sistem nilai yang di

ikutinya. Ia telah menentukan pendirian hidup.

Tiga tahap tersebut bukan menjadi tolak ukur bahwa individu yang telah

melewati keseluruhan secara otomatis akan menjadi dewasa. Secara psikologik,

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
25

kedewasaan tentu bukan hanya tercapainya umur tertentu. Kedewasaan adalah

keadaan dimana sudah ada ciri-ciri psikologik tertentu pada seseorang.

3.5 Anemia Defisiensi Besi pada Remaja

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam

darah kurang dari normal. Anemia gizi adalah kekurangan kadar hemoglobin

(Hb) dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan

untuk pembentukan Hb. Di Indonesia sebagian besar anemia disebabkan karena

kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia

gizi besi (Depkes, 1999). Anemia defisiensi zat besi merupakan anemia yang

paling umum pada bayi dan anak-anak. Paling sering usia 6 bulan sampai 2

tahun, maupun remaja perempuan yang sedang menstruasi (Adele, 2002).

Masa remaja adalah usia diantara masa kanak-kanak dan dewasa, yang

secara biologis yaitu antara umur 10 sampai 19 tahun. Peristiwa terpenting yang

terjadi pada gadis remaja adalah datang haid yang pertama kali, biasanya sekitar

umur 10–14 tahun. Saat haid pertama kali ini datang dinamakan minarche

(Llewellyn dan Jones, 2005).

Sepanjang usia reproduktif, wanita akan mengalami kehilangan darah

akibat peristiwa haid. Jumlah darah yang hilang selama 1 periode haid berkisar

antara 20–25 cc. Jumlah ini menyiratkan kehilangan besi sebesar 12,5–15

mg/bulan atau kira-kira sama dengan 0,4–0,5 mg sehari. Jika jumlah tersebut di

tambah dengan kehilangan basal, jumlah total zat besi yang hilang sebesar 1,25

mg perhari (Arisman, 2004).

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
26

Menurut Depkes (1999), kelompok remaja putri merupakan kelompok

yang rentan terkena anemia karena :

1. Pada umumnya masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi makanan

nabati di banding hewani.

2. Wanita lebih jarang mengkonsumsi makanan hewani dan sering melakukan

diet pengurangan makan karena ingin langsing.

3. Mengalami haid setiap bulan, sehingga membutuhkan zat besi dua kali lebih

banyak dari pada pria, oleh karena itu wanita lebih sering terkena anemia dari

pada pria.

Tanda-tanda anemia yang sering ditemui adalah lesu, lemah, letih, lelah

dan lalai (5L), sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang, gejala lebih

lanjut adalah kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat.

Akibat anemia pada remaja putri antara lain :

1. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar

2. Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal

3. Menurunkan kemampuan fisik olahragawan

4. Mengakibatkan muka pucat.

3.6 Penetapan Kadar Hemoglobin

Kadar hemoglobin dapat di tentukan dengan bermacam-macam cara.

Metode yang paling akurat sampai saat ini adalah cara

fotoelektrik/Sianmethemoglobin.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
27

3.6.1 Metode Sianmethemoglobin

Cara ini mengubah hemoglobin darah menjadi sianmethemoglobin

(hemoglobinsianida) dalam larutan yang berisi kaliumferrisianida dan

kaliumsianida. Absorbsi larutan diukur pada gelombang 540 nm atau fiter hijau.

Larutan drapkin yang dipakai pada cara ini mengubah hemoglobin,

oksihemoglobin, methemoglobin dan karboxyhemoglobin menjadi

sianmethemoglobin, sulfhemoglobin tidak berubah maka tidak diukur.

Cara ini sangat bagus untuk laboratorium rutin dan sangat dianjurkan

untuk penetapan kadar hemoglobin dengan teliti karena standart

Sianmethemoglobin yang ditanggung kadarnya sifatnya stabil. Ketelitian cara ini

dapat mencapai ± 2%.

Laporan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin dengan memakai cara

Sianmethemoglobin hanya boleh menyebut satu angka (digit) di belakang tanda

desimal, melaporkan dua digit sesudah angka desimal melampaui ketelitian dan

ketepatan yang dapat di capai dengan metode ini. Variasi-variasi fisiologis juga

menyebabkan digit kedua di belakang tanda desimal menjadi tidak bermakna

(Gandasoebrata, 2001).

3.7 Skrining

3.7.1 Pengertian Skrining

Skrining adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak

melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat

memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang

mungkin tidak menderita (Budiarto dan Anggraeni, 2002).

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
28

3.7.2 Tujuan Skrining

Budiarto dan Anggraeni (2002) menyebutkan tujuan skrining antara lain :

1. Mendeteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas terhadap

orang-orang yang tampak sehat, tapi mungkin menderita penyakit yaitu orang

yang mempunyai risiko tinggi untuk terkena penyakit (population at risk).

2. Menemukan penderita tanpa gejala untuk kemudian dilakukan pengobatan

sehingga mudah disembuhkan dan tidak membahayakan dirinya maupun

lingkungannya dan tidak menjadi sumber penularan hingga epidemi dapat

dihindari.

3.7.3 Fungsi Skrining

Menurut Syahrul dan Hidajah (2002) program skrining efektif untuk :

1. Menurunkan angka kematian dari populasi yang disaring.

2. Menurunkan fatalitas dari kasus dari pada individu yang disaring.

3. Meningkatkan presentase kasus yang dapat di deteksi pada stadium awal.

4. Menurunkan kejadian komplikasi penyakit.

5. Mencegah atau mengurangi penyebaran penyakit.

6. Meningkatkan kualitas hidup individu yang disaring.

3.7.4 Macam Skrining

Terdapat 2 macam skrining yang masing-masing mempunyai tujuan

spesifik :

1. Skrining Masal

Skrining yang dilakukan secara masal tanpa memperhatikan population at

risk. Tujuan dari skrining ini adalah menjaring sebanyak mungkin kasus tanpa

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
29

gejala. Untuk melakukan skrining secara masal perlu dipertimbangkan

besarnya biaya, dan banyaknya tenaga yang dibutuhkan.

2. Skrining Spesifik

Skrining secara spesifik dilakukan terhadap orang-orang yang

mempunyai risiko atau yang di kemudian hari dapat meningkatkan risiko

terkena penyakit. Skrining secara spesifik dilakukan dengan

mempertimbangkan faktor umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain-lain

(Budiarto dan Anggraeni, 2002).

3.7.5 Proses Pelaksanaan Skrining

Proses skrining terdiri dari dua tahap yang tahap pertamanya melakukan

pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai risiko

tinggi menderita penyakit dan bila hasil tes negatif maka dianggap orang tersebut

tidak menderita penyakit. Bila hasil tes positif maka dilakukan pemeriksaan tahap

kedua yaitu pemeriksaan diagnostik yang bila hasilnya positif maka dianggap

sakit dan mendapat pengobatan, tapi bila hasilnya negatif dilakukan pemeriksaan

ulang secara periodik (Budiarto dan Anggraeni, 2002).

3.7.6 Kriteria untuk Evaluasi Skrining

Karakteristik penyakit untuk di skrining terdapat beberapa hal yang harus

diperhatikan yaitu :

1. Penyakit yang akan di skrining adalah penyakit yang serius bila tidak

didiagnosis secara dini.

2. Prevalensinya tinggi pada tahap pra klinik.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
30

3. Riwayat alamiah penyakitnya sudah dimengerti.

4. Terdapat periode yang panjang diantara tanda-tanda pertama dan timbulnya

penyakit (Syahrul dan Hidajah, 2002).

3.7.7 Validitas Alat Skrining

Validitas alat skrining merupakan suatu ukuran untuk menilai

kemampuan suatu alat skrining dalam menentukan individu yang benar-benar

sakit atau mana yang tidak. Validitas mempunyai dua komponen yaitu

sensitivitas dan spesifisitas. Untuk menjelaskan kedua indeks tersebut akan lebih

mudah di pahami melalui penyajian dalam bentuk tabel kontingensi 2 x 2 berikut:

Gold Standart
Total
Positif Negatif
Uji Positif a b a+b
Penyaringan Negatif c d c+d
Total a+c b+d a+b+c+d
Keterangan :

a : positif benar

b : positif semu

c : negatif semu

d : negatif benar

Indikator validitas alat skrining adalah

1. Sensitivitas

Proporsi jumlah yang sakit terhadap semua hasil tes positif.

a
Sensitivitas =
(a+c)

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
31

2. Spesifisitas

Proporsi jumlah yang tidak sakit terhadap hasil tes negatif.

d
Spesifisitas =
(b+d)

3. Positive Predictive Value (PPV)

Jumlah hasil test positif semu di bagi dengan jumlah seluruh hasil tes positif

a
PPV =
(a+b)

4. Negative Predictive Value (NPV)

Jumlah hasil tes negatif semu dibagi dengan jumlah seluruh hasil tes negatif.

d
NPV =
(c+d)

(Budiarto dan Anggraeni, 2002).

3.7.8 Reliabilitas Alat Skrining

Yaitu kemampuan tes untuk menghasilkan nilai yang konsisten bila tes

dilakukan lebih dari satu kali pada individu dengan kondisi yang sama.

Reliabilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :

1. Variabilitas alat yang dapat ditimbulkan oleh :

a. Stabilitas reagen

b. Stabilitas alat ukur yang digunakan

Stabilitas reagen dan stabilitas alat ukur sangat penting karena makin

stabil reagen dan alat ukur, makin konsisten hasil pemeriksaan. Oleh karena

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
32

itu sebelum digunakan hendaknya kedua hal tersebut diuji ulang

ketepataannya.

2. Variabilitas orang yang di periksa

Kondisi fisik, psikis, stadium penyakit, atau penyakit dalam masa tuntas.

Misalnya lelah, kurang tidur, marah, sedih, gembira. Variasi ini susah diukur

terutama faktor psikis.

3. Variabilitas pemeriksa

Variasi pemeriksa dapat berupa :

a. Variasi internal.

Merupakan variasi yang terjadi pada hasil pemeriksaan yang dilakukan

berulang-ulang oleh orang yang sama.

b. Variasi eksternal.

Variasi yang terjadi bila satu sediaan dilakukan pemeriksaan oleh beberapa

orang.

Upaya untuk mengurangi berbagai variasi diatas dapat dilakukan dengan

mengadakan :

1. Standarisasi reagen dan alat ukur

2. Latihan intensif pemeriksa

3. Penentuan kriteria yang jelas

4. Penerangan kepada orang yang diperiksa

5. Pemeriksaan dilakukan dengan cepat (Budiarto dan Anggraeni, 2002).

Untuk menilai reliabilitas, di ukur dengan ukuran yang disebut

kesepakatan Kappa (K) cohen. Koefisien kesepakatan Kappa ini mempunyai nilai

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
33

maksimum 1 berarti kesepakatan sempurna dan nilai minimum 0 yang berarti

tidak ada kesepakatan sama sekali.

Interpretasi koefisien Kappa Cohen adalah sebagai berikut :

a. K > 0,75 = Menunjukan kesepakatan sangat baik

b. 0,4 ≤ K < 0,75 = Menunjukan kesepakatan cukup baik

c. 0 ≤ K <0,4 = Menunjukan kesepakatan lemah

Untuk menghitung koefisien kesepakatan K Cohen di gunakan tabel 2x2

seperti dibawah ini :

Pengukuran II
Total
Positif Negatif
Positif a b a+b
Pengukuran I
Negatif c d c+d
Total a+c b+d a+b+c+d

Po – Pe
K =
1 – Pe

Keterangan : K : Koefisien Kappa

Po : Kesepakatan yang terobservasi

Pe : Kesepakatan yang diharapkan

(Murti, 2003)

3.8 Prevalensi

Menurut Syahrul dan Hidajah (2002) prevalensi adalah proporsi individu-

individu yang berpenyakit dari suatu populasi, pada suatu titik waktu atau periode

waktu. Prevalensi dibedakan menjadi 2 yaitu :

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
34

1. Prevalensi periode (Periode Prevalence Rate)

Prevalensi periode adalah probabilitas individu dari populasi untuk terkena

penyakit pada saat di mulainya pengamatan, atau selama jangka waktu

pengamatan.

Jumlah kasus saat ini + jumlah kasus baru


Prevalensi periode =
Rata–rata populasi

2. Prevalensi titik (Point Prevalence Rate)

Prevalensi titik adalah proporsi dari individu-individu dalam populasi yang

terjangkit penyakit pada suatu titik waktu. Prevalensi titik merupakan

taksiran probabilitas (risiko) seseorang untuk sakit pada titik waktu tersebut.

Titik waktu yang dimaksud disini bisa berarti satu waktu kalender atau pada

satu peritiwa penting.

Jumlah kasus
Prevalensi titik = pada satu titik waktu
Jumlah populasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan prevalensi yang sedang

diamati :

1. Durasi penyakit yang lebih lama

2. Pemanjangan usia penderita tanpa pengobatan.

3. Peningkatan insidens

4. Kasus-kasus migrasi kedalam populasi

5. Migrasi keluar orang-orang sehat

6. Migrasi kedalam dari orang-orang rentan

7. Peningkatan sarana diagnostik

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
35

Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan prevalensi yang sedang

diamati :

1. Durasi penyakit yang lebih pendek

2. Meningkatnya tingkat fatalitas kasus akibat dari penyakit

3. Menurunnya kasus-kasus baru

4. Migrasi kedalam dari orang-orang sehat

5. Migrasi keluar dari kasus-kasus

6. Meningkatnya tingkat kesembuhan untuk kasus-kasus penyakit

Ukuran prevalensi suatu penyakit dapat digunakan untuk :

1. Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit.

2. Penyusun perencanaan pelayanan kesehatan.

3. Menyatakan banyaknya kasus yang dapat di diagnosis.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB IV

KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN

Ketidakcukupan Infeksi penyakit:


makanan: - cacingan
- kebiasaan / pola - diare
makan - malaria
- Absorbsi zat besi
- Zat penghambat
penyerapan besi Status ekonomi:
- daya beli
Kehilangan darah : - akses terhadap
ANEMIA pelayanan
- Menstruasi kesehatan
kurang
- Kecelakaan
Pendidikan
- Operasi

Pengetahuan
Perilaku

Pencegahan :

1. Pencegahan primordial

2. Pencegahan primer

3. Pencegahan sekunder

a. Pemeriksaan kadar Hb

b. Skrining --- ( menstruasi)

4. Pencegahan tertier

Gambar 4.1 Kerangka konseptual penelitian

36
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
37

Keterangan : : variabel yang di teliti

---------- : variabel yang tidak diteliti

Anemia dapat terjadi pada semua umur namun pada penelitian ini

responden di batasi pada remaja putri di tahun pertama menstruasi. Remaja putri

dikatakan mengalami anemia jika kadar hemoglobin di dalam tubuh < 12 gr/dl

(Depkes, 1999). Anemia pada remaja putri di pengaruhi oleh banyak faktor antara

lain ketidakcukupan makanan yang di sebabkan karena kebiasaan/pola makan

yang buruk, absorbsi zat besi yang buruk dan zat penghambat penyerapan besi,

kehilangan darah karena menstruasi, kecelakaan dan operasi, infeksi penyakit

seperti cacingan, malaria dan diare, status ekonomi keluarga, kurang

pengetahuan, pendidikan dan perilaku yang tidak sehat.

Skrining anemia termasuk dalam pencegahan sekunder yang dimaksudkan

untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau

pemeriksaan yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin

menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita. Salah satu

tujuan skrining anemia pada Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan

Mulyorejo adalah mendapatkan remaja putri yang menderita anemia sedini

mungkin.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB V

METODE PENELITIAN

5.1 Jenis dan Rancang Bangun Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional deskriptif

karena peneliti hanya melakukan pengukuran dan pengamatan untuk mencari

prevalensi dengan menemukan kasus di lapangan tetapi tidak memberikan

perlakuan terhadap variabel yang diteliti, serta hasil penelitian disajikan apa

adanya (Murti, 1997).

Rancang bangun yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross

sectional karena tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan

pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada waktu

yang sama (Notoatmojo, 2005).

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode skrining. Menurut

Budiarto dan Anggraeni (2002), skrining adalah cara untuk mengidentifikasi

penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur

lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita

penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita. Salah satu tujuan dari

skrining adalah mendeteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak

khas terhadap orang-orang yang tampak sehat, tapi mungkin menderita penyakit

yaitu orang yang mempunyai risiko tinggi untuk terkena penyakit (population at

risk).

38
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
39

5.2 Populasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di 5 SMP yang ada di Kecamatan Mulyorejo yang

meliputi SMP Al-Huda, SMP Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul Ummah,

SMP Institut Indonesia, dan SMP Muhammadiyah 10 yang merupakan SMP

sasaran pemeriksaan kesehatan Puskesmas Mulyorejo tahun 2008. Sehingga

populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi yang menstruasinya kurang

dari 1 tahun di SMP Al-Huda, SMP Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul

Ummah, SMP Institut Indonesia, dan SMP Muhammadiyah 10. Sebelumnya

dilakukan survei awal terhadap 423 siswi di 5 SMP yang tersebut diatas untuk

menjaring siswi yang menstruasi kurang dari setahun. Diperoleh 65 siswi yang

menstruasinya kurang dari atau sama dengan 7 bulan berdasarkan survei awal

pada bulan Februari 2009 yang nantinya akan dilakukan pemeriksaan gejala

klinis dan pemeriksaan kadar Hb darah pada bulan Mei 2009 sehingga syarat

populasi (siswi yang menstruasinya kurang dari 1 tahun) tidak terlewati.

5.3 Subjek Penelitian

Besar subyek dalam penelitian ini adalah total populasi, yaitu seluruh

siswi yang menstruasinya kurang dari 1 tahun di SMP Al-Huda, SMP Arief

Rahman Hakim, SMP Hidayatul Ummah, SMP Institut Indonesia, dan SMP

Muhammadiyah 10 dengan kriteria :

1. Berada di sekolah pada saat penelitian dilakukan.

2. Tidak sedang menstruasi pada saat pemeriksaan darah, karena akan

mempengaruhi hasil pemeriksaan kadar Hb.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
40

3. Tidak sedang sakit pada saat pemeriksaan darah.

4. Bersedia dan mendapatkan ijin orang tua untuk ikut dalam penelitian.

Berdasarkan kriteria diatas didapat subjek penelitian berjumlah 40 siswa

yang menstruasinya kurang dari satu tahun. Untuk lebih rincinya dapat dilihat

pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.1 Distribusi jumlah populasi dan subjek penelitian di masing-masing


SMP di Kecamatan Mulyorejo

Jumlah Jumlah siswi


Jumlah siswi yang yang menjadi
No Nama SMP siswi menstruasi subjek penelitian
seluruhnya di tahun (sesuai dengan
pertama kriteria)
1. Al-Huda 93 17 12
2. Arief Rahman Hakim 30 1 0
3. Hidayatul Ummah 164 27 16
4. Institut Indonesia 46 7 4
5. Muhammadiyah 10 90 13 8
Total 423 65 40
Sumber: data primer (kuesioner)

5.4 Lokasi dan Waktu Pengambilan Data

Penelitian ini dilakukan di 5 Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan

Mulyorejo yaitu SMP Al-Huda, SMP Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul

Ummah, SMP Institut Indonesia, dan SMP Muhammadiyah 10. Waktu penelitian

dilaksanakan adalah sejak pembuatan proposal (Oktober 2009) sampai hasil

penelitian diseminarkan (Juni 2009), sedangkan waktu pengumpulan data adalah

bulan Februari- Mei 2009.

Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada hal berikut:

1. Berdasarkan data pemeriksaan hemoglobin tahun 2005 prevalensi anemia

pada wanita usia subur di Puskesmas Mulyorejo tergolong cukup tinggi yaitu

sekitar 73,33%.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
41

2. Merupakan Sekolah Menengah Pertama yang menjadi sasaran pemeriksaan

kesehatan puskesmas tahun 2008.

3. Belum pernah dilakukan skrining anemia terhadap siswi Sekolah Menengah

Pertama secara menyeluruh di Kecamatan Mulyorejo.

4. Belum pernah diadakan pemeriksaan kadar hemoglobin pada siswi Sekolah

Menengah Pertama di Kecamatan Mulyorejo.

5. Lokasi mudah di jangkau.

5.5 Kerangka Operasional

Populasi yaitu siswi yang menstruasi ≤ 7 bulan berdasarkan survei awal pada
bulan Februari 2009 (65 siswi).

Subjek penelitian yaitu siswi yang menstruasi ≤ 1 tahun pada bulan Mei 2009
dan memenuhi kriteria inklusi (40 siswi).

Skrining menggunakan alat skrining (dikatakan positif jika terdapat minimal 3


gejala klinis dari 8 gejala klinis yang di amati seperti kelopak mata pucat, lidah
pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah
dan lelah).

Positif Negatif

Pemeriksaan darah dengan metode Sianmethemoglobin sebagai gold standart.

Positif Negatif

Prevalensi, Sensitivitas, Spesifisitas, PPV, NPV, dan Reliabilitas.

Gambar 5. 1 Kerangka operasional pelaksanaan skrining

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
42

Populasi pada penelitian kali ini adalah siswi di SMP Al-Huda, SMP

Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul Ummah, SMP Institut Indonesia, dan SMP

Muhammadiyah 10 di Kecamatan Mulyorejo yang menstruasinya kurang dari 1

tahun. Setelah dilakukan survei awal pada bulan Februari 2009 terhadap 423

siswi di 5 SMP didapat 65 siswi yang menstruasinya kurang dari atau sama

dengan 7 bulan yang nantinya akan dilakukan pemeriksaan gejala klinis dan

pemeriksaan kadar Hb darah pada bulan Mei 2009 sehingga syarat populasi yaitu

siswi yang menstruasinya kurang dari 1 tahun tidak terlewati. Subjek penelitian

dalam penelitian ini adalah total populasi dengan kriteria tersebut diatas dan

diperoleh subjek penelitian sebanyak 40 siswi. Setelah diperoleh subjek

penelitian, maka diadakan skrining dengan wawancara menggunakan kuesioner

dan observasi dengan menggunakan alat skrining (dikatakan positif jika terdapat

minimal 3 gejala klinis dari 8 gejala klinis yang di amati seperti kelopak mata

pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing,

lemah dan lelah). Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin darah

dengan menggunakan metode Sianmethemoglobin, yang merupakan gold

standart dari pemeriksaan kadar hemoglobin. Hasil dari pemeriksaan tersebut

menunjukkan siswi positif anemia atau negatif. Setelah di dapat hasil dari

pemeriksaan dengan metode Sianmethemoglobin sebagai gold standart maka

dapat diketahui prevalensi anemia, sensitivitas, spesifisitas, positive predictive

value, negative predictive value alat skrining dan reliabilitas dari hasil

pemeriksaan darah.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
43

5.6 Variabel, Cara Pengukuran, dan Definisi Operacional

Tabel 5.2 Variabel, definisi operasional dan cara pengukuran

Nama
No Definisi Operasional Cara Pengukuran Skala
Variabel
1. Anemia Suatu keadaan dimana Pemeriksaan kadar Hb Ordinal
kadar hemoglobin darah dengan metode
(Hb) dalam darah Sianmethemoglobin,
kurang dari normal dengan kategori :
(Bakta, 2007). 1. Anemia bila Hb <
12 gr/dl.
2. Tidak anemia bila
Hb ≥ 12 gr/dl.
2. Umur Umur responden Wawancara dengan Ratio
dalam tahun yang di kuesioner
hitung berdasarkan ……..tahun.
ulang tahun terakhir.
3. Kelas Tingkatan kelas yang Wawancara dengan Ordinal
diduduki reponden kuesioner
saat wawancara 1. kelas VII.
dilakukan. 2. kelas VIII.
3. kelas IX.
4. Derajat Tingkat keparahan Pemeriksaan kadar Hb Ordinal
Anemia anemia di lihat dari darah dengan metode
kadar hemoglobin Sianmethemoglobin,
(Bakta, 2007). dengan kategori :
1. Ringan bila kadar
Hb antara 10 g/dl-
12g/dl.
2. Sedang bila kadar
Hb antara 7 g/dl –
10 g/dl.
3. Berat bila kadar Hb
< 7 g/dl.
5. Lama Jumlah hari yang di Wawancara dengan Ordinal
menstruasi perlukan mulai saat kuesioner
datangnya haid Kriteria :
sampai dengan saat 1. < 3 hari.
bersihnya yang 2. 3-7 hari.
dialami dalam periode 3. > 7 hari.
1 bulan terakhir
(http://pusat
bahasa.diknas.go.id/
glosarium/).

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
44

Nama
No Definisi Operasional Cara Pengukuran Skala
Variabel
6. Frekuensi Kekerapan terjadinya Wawancara dengan Nominal
menstruasi menstruasi kuesioner
(http://pusat Kriteria :
bahasa.diknas 1. Sebulan
.go.id/glosarium/). Sekali.
2. Sebulan 2 kali.
3. 2-3 bulan
sekali.
7. Penyakit Penyakit yang pernah Wawancara dengan Nominal
yang di derita 1 bulan kuesioner. Jenis
diderita terakhir pertanyaan terbuka.
(Faustinus, 1994).
8. Pekerjaan Pekerjaan yang Wawancara dengan Nominal
ditekuni orang tua kuesioner
responden pada saat 1. PNS.
penelitian ini 2. Pegawai
(Tim Penyusun swasta.
Kamus Pusat 3. Wiraswasta.
Pembinaan dan 4. Buruh.
Pengembangan 5. Tidak bekerja.
Bahasa, 1996).
9. Alat Panduan pertanyaan Wawancara dengan Nominal
Skrining dan pengamatan yang kuesioner dan
berkaitan dengan 8 pengamatan langsung
gejala klinis anemia oleh peneliti:
yang meliputi kelopak 1. Positif, bila
mata pucat, lidah terdapat minimal
pucat, kuku pucat, 3 gejala klinis dari
kuku mudah rusak, 8 gejala klinis
berkunang-kunang, anemia yang
pusing, lemah, lelah diamati.
(www.gizi.net). 2. Negatif, bila tidak
terdapat minimal
3 gejala klinis dari
8 gejala klinis
anemia yang
diamati
(www.gizi.net).
10. Kelopak Kelopak mata bawah Pengamatan langsung Nominal
mata bagian dalam oleh peneliti:
bawah berwarna putih pudar 1. Ya, jika kelopak
pucat (Faustinus, 1994). mata bawah bagian
dalam berwarna
putih pudar.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
45

Nama
No Definisi Operasional Cara Pengukuran Skala
Variabel
2. Tidak, jika kelopak
mata bawah bagian
dalam berwarna
normal (merah
jambu).
11. Lidah Lidah tampak berubah Pengamatan langsung Nominal
pucat warna menjadi oleh peneliti:
keputihan akibat 1. Ya, jika lidah
berkurangnya pigmen tampak berubah
(Dorland, 1998). warna menjadi
keputihan akibat
berkurangnya
pigmen.
2. Tidak, jika lidah
tidak tampak
berubah warna
menjadi keputihan
akibat berkurangnya
pigmen.

12. Kuku Kuku di tekan akan Pengamatan langsung Nominal


pucat berwarna putih pudar oleh peneliti:
dan jika tekanan di 1. Ya, jika kuku di
lepas warna kuku tekan akan
tidak kembali dengan berwarna putih
cepat seperti warna pudar dan jika
sebelum di tekan tekanan di lepas
(Faustinus, 1994). warna kuku tidak
kembali dengan
cepat seperti warna
sebelum di tekan.
2. Tidak, jika kuku
ditekan dan dilepas
warna kuku akan
kembali dengan
cepat seperti warna
sebelum ditekan.

13. Kuku Bentuk kuku seperti Pengamatan langsung Nominal


mudah sendok, disertai oleh peneliti:
rusak kecembungan 1. Ya, jika bentuk
longitudinal kuku seperti
(Faustinus, 1994). sendok disertai
kecembungan
longotudinal.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
46

Nama
No Definisi Operasional Cara Pengukuran Skala
Variabel
2. Tidak, jika bentuk
kuku tidak seperti
sendok dan tidak
ada kecembungan
longitudinal.

14. Berkunang Merasa seakan akan Wawancara dengan Nominal


-kunang melihat cahaya kuesioner :
berkelip-kelip dan 1. Ya, jika merasa
gelap pada mata dari seakan akan melihat
keadaan cahaya berkelip-
duduk/berbaring ke kelip dan gelap
posisi berdiri (Ramali pada mata dari
dan Pamoentjak, keadaan duduk /
2003). berbaring ke posisi
berdiri.
2. Tidak, jika tidak
merasa seakan akan
melihat cahaya
berkelip-kelip dan
gelap pada mata
dari keadaan duduk
/ berbaring ke posisi
berdiri.

15. Pusing Merasa seakan-akan Wawancara dengan Nominal


semua di sekitar badan kuesioner
berputar 1. Ya, jika merasa
(Ramali dan seakan-akan
Pamoentjak, 2003). semua di sekitar
badan berputar.
2. Tidak, jika tidak
merasa seakan-
akan semua di
sekitar badan
berputar.
16. Lemah Merasa tidak Wawancara dengan Nominal
bertenaga dan tidak kuesioner :
kuat melakukan 1. Ya, jika merasa
kegiatan apapun tidak bertenaga
(Ramali dan dan tidak kuat
Pamoentjak, 2003). melakukan
kegiatan apapun.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
47

Nama
No Definisi Operasional Cara Pengukuran Skala
Variabel
2. Tidak, jika merasa
bertenaga dan kuat
melakukan
kegiatan apapun.
17. Lelah Merasa cepat capek Wawancara dengan Nominal
dalam melakukan kuesioner :
kegiatan apapun 1.Ya, jika merasa
(Tim Penyusun cepat capek dalam
Kamus Pusat melakukan kegiatan
Pembinaan dan apapun.
Pengembangan 2.Tidak, jika merasa
Bahasa, 1996). tidak cepat capek
dalam melakukan
kegiatan apapun.

5.7 Teknik dan Instrumen Pengambilan Data

5.7.1 Data Primer

Data yang dikumpulkan meliputi umur, tingkat kelas, pekerjaan orang tua,

penyakit yang diderita oleh peneliti, serta gejala anemia yang diperoleh dari

observasi meliputi tanda-tanda yang dapat diamati antara lain kelopak bawah

mata pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, dan tanda-tanda yang

dilakukan dengan menanyakan gejala yang dirasakan oleh responden dengan

kuesioner yang meliputi berkunang-kunang, pusing, lemah dan cepat lelah yang

dilakukan oleh Kunarsono Sulistyono, Amd.G (petugas gizi dari Puskesmas

Mulyorejo), sedangkan untuk pemeriksaan hemoglobin darah dilakukan pada

subjek penelitian dengan menggunakan metode Sianmethemoglobin sebagai gold

stándar untuk memperoleh kejadian anemia dan derajat dari anemia tersebut oleh

Yuni Melasari Amd. AnKes (petugas laboratorium Puskesmas Mulyorejo).

Pemeriksaan hemoglobin darah dilakukan dua kali oleh pemeriksa yang sama,

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
48

pada obyek yang sama, dan pada waktu yang sama untuk menilai reliabilitas hasil

pemeriksaan.

5.7.2 Data Sekunder

Diambil dari bagian tata usaha dari masing-masing Sekolah Menengah

Pertama di Kecamatan Mulyorejo, profil Puskesmas Mulyorejo tahun 2005 s/d

2008 dan profil Kecamatan Mulyorejo tahun 2008 meliputi keadaan geografis

dan demografis.

5.7.3 Instrumen Pengambilan Data

Instrumen yang dipakai adalah :

1. Kuesioner dengan melakukan wawancara untuk mengetahui karakteristik

siswi yang meliputi tingkat kelas, umur, penyakit yang pernah diderita,

pekerjaan orang tua responden oleh peneliti, serta gejala klinis anemia yang

dilakukan oleh Kunarsono Sulistyono, Amd.G (petugas gizi dari Puskesmas

Mulyorejo).

2. Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan kadar hemoglobin darah dengan

menggunakan metode Sianmethemoglobin sebagai gold standart oleh Yuni

Melasari Amd. AnKes (petugas laboratorium Puskesmas Mulyorejo).

5.8 Teknik Pengolahan data

Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel, grafik

dan narasi untuk mengetahui karekteristik responden (meliputi umur, dan tingkat

kelas), gejala anemia (meliputi gejala : kelopak mata pucat, lidah pucat, kuku

pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan lelah),

mengetahui derajat anemia serta prevalensi anemia pada siswi Sekolah Menengah

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
49

pertama di Kecamatan Mulyorejo Surabaya dengan membandingkan hasil

pemeriksaan darah yang positif dengan subjek yang di skrining. Selain itu di

hitung juga sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value, dan negative

predictive value dengan menggunakan teknik validitas uji skrining dan menilai

reliabilitas dengan menggunakan tabel 2x2. Untuk memperoleh hasil akhir

sehingga dapat dilakukan penarikan kesimpulan terhadap penelitian yang telah

dilakukan, maka data yang diperoleh dari hasil tabel 2 x 2 dianalisis.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB VI
HASIL PENELITIAN

6.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

Kecamatan Mulyorejo merupakan salah satu Kecamatan yang ada di

Wilayah Surabaya Timur yang mempunyai wilayah kerja 1.295,18 Ha dan

terbagi menjadi 6 Kelurahan, 278 RT dan 54 RW yaitu :

1. Kelurahan Mulyorejo : 324 Ha

2. Kelurahan Manyar Sabrangan : 152,43 Ha

3. Kelurahan Kejawan Putih Tambak : 222,84 Ha

4. Kelurahan Dukuh Sutorejo : 214,716 Ha

5. Kelurahan Kalijudan : 131,330 Ha

6. Kelurahan Kalisari : 213,330 Ha

Kecamatan yang memiliki jumlah kepala keluarga sebanyak 20.931 KK

dan jumlah keluarga miskin sebesar 9828 KK ini mempunyai batas-batas

geografis sebagai berikut :

a. Sebelah utara : Kecamatan Bulak

b. Sebelah timur : Selat Madura

c. Sebelah selatan : Kecamatan Sukolilo

d. Sebelah barat : Kecamatan Tambaksari dan Kecamatan Gubeng

Jumlah penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin di Kecamatan

Mulyorejo tahun 2008 adalah sebagai berikut :

50
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
51

Tabel 6.1 Distribusi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin tahun 2008
Kecamatan Mulyorejo

Jumlah Penduduk Tahun 2008


No Umur (Tahun)
Laki-laki Perempuan
1. <1 1124 1272
2. 1−4 2674 2377
3. 5−9 2102 2103
4. 10−14 3381 3117
5. 15−19 6814 6652
6. 20−24 4153 3868
7. 25−29 1273 1427
8. 30−34 1632 1211
9. 35−39 1827 1607
10. 40−44 3453 3444
11. 45−49 1162 1782
12. 50−54 2124 1372
13. 55−59 3404 4088
14. 60−64 1107 1820
15. > 65 1472 1240
TOTAL 37702 37380
Sumber : Profil Kecamatan Mulyorejo 2008

Sarana pendidikan yang ada di Kecamatan Mulyorejo terdiri dari : 40

buah Taman kanak–kanak, 35 buah SD/MI , 13 buah SMP/MT , 7 buah

SMU/MA, 2 buah akademi, 3 buah perguruan tinggi dan 1 pondok pesantren.

Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Mulyorejo tahun

2008 adalah sebagai berikut :

a. Belum sekolah :14.310 orang

b. Tidak tamat sekolah : -

c. Tamat SD/sederajat : 16.194 orang

d. Tamat SMP/sederajat : 9.095 orang

e. Tamat SMU/sederajat : 23.462 orang

f. Tamat akademi/sederajat : 3.564 orang

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
52

g. Tamat perguruan tinggi/sederajat : 13.544 orang

h. Buta huruf : -

Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Kecamatan Mulyorejo

tahun 2008 adalah sebagai berikut :

a. Petani : 112 orang

b. Pemilik tanah : 9 orang

c. Penggarap tanah : 75 orang

d. Nelayan : 115 orang

e. Pengusaha sedang/besar : 40 orang

f. Pengrajin/industrial : 34 orang

g. Buruh bangunan : 1.115 orang

h. Buruh industri : 400 orang

i. Pedagang : 356 orang

j. Pengangkutan : 221 orang

k. PNS : 22.041 orang

l. ABRI : 165 orang

m. Peternak : 10 orang

Sarana kesehatan yang ada di Kecamatan Mulyorejo terdiri dari 1 buah

puskesmas, 3 buah puskesmas pembantu, 1 buah pusling, 4 buah poliklinik

umum 24 Jam, 1 buah klinik/praktek bersama, 30 orang dokter praktek swasta

umum, 27 orang dokter praktek swasta spesialis, 21 orang dokter gigi praktek

swasta, 3 buah optik, 14 buah apotik, 1 buah toko obat, 5 buah salon/klinik

kecantikan, 11 orang bidan praktek swasta, dan 56 posyandu.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
53

Puskesmas Mulyorejo satu-satunya puskesmas yang ada di Kecamatan

Mulyorejo. Puskesmas ini terletak di Jl. Mulyorejo Utara 201 Kelurahan

Mulyorejo Kecamatan Mulyorejo Surabaya. Puskesmas yang berdiri tahun 1987

ini mempunyai sumber daya manusia sebanyak 36 pegawai yang terdiri dari

dokter, dokter gigi, sarjana kesehatan masyarakat, bidan, bidan di desa, perawat,

perawat gigi, sanitarian, petugas gizi, asisten apoteker, analis laboratorium, juru

imunisasi/juru malaria, tenaga administrasi, sopir dan penjaga.

Puskesmas sebagai pelaku pelayanan kesehatan terdepan yang

merupakan pusat pengembangan dan pembinaan serta memberikan pelayanan

kesehatan secara menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya. Agar dapat

mewujudkan maksud dan tujuan misi hidup sehat, mandiri dan bahagia bagi

semua orang menuju Indonesia Sehat 2010 maka Puskesmas Mulyorejo

mempunyai visi, dan misi sebagai berikut :

a. Visi

” Pelayanan kesehatan masyarakat yang optimal dan holistik sehingga

tercapai kecamatan sehat ”

b. Misi

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan

2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat

3. Memelihara dan meningkatkan mutu dan keterjangkauan pelayanan

4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, kesehatan keluarga

dan masyarakat beserta lingkungannya.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
54

Puskesmas Mulyorejo melaksanakan 3 (tiga) fungsi utama puskesmas,

yakni sebagai :

1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan.

2. Pusat pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.

3. Pusat pelayanan kesehatan tingkat dasar/strata pertama.

Upaya pelayanan kesehatan tingkat dasar yang dilaksanakan Puskesmas

Mulyorejo meliputi :

1. Pelayanan kesehatan perorangan.

2. Pelayanan kesehatan masyarakat.

Dari upaya pelayanan kesehatan perorangan dan upaya kesehatan

masyarakat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yakni :

1. Upaya kesehatan wajib meliputi

a. Upaya promosi kesehatan.

b. Upaya kesehatan lingkungan.

c. Upaya kesehatan ibu dan anak serta KB.

d. Upaya perbaikan gizi masyarakat.

e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

f. Upaya pengobatan.

2. Upaya kesehatan pengembangan

Upaya pengembangan adalah juga merupakan upaya kesehatan pokok

Puskesmas yang telah ada, yakni :

a. Upaya kesehatan sekolah.

b. Upaya kesehatan olah raga.

c. Upaya perawatan kesehatan masyarakat.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
55

d. Upaya kesehatan kerja.

e. Upaya kesehatan gigi dan mulut.

f. Upaya kesehatan jiwa.

g. Upaya kesehatan mata.

h. Upaya kesehatan usia lanjut.

i. Upaya pembinaan pengobatan tradisional.

6.2 Gambaran Umum SMP Al-Huda

SMP Al-Huda beralamat di Jl. Kalisari Damen 32 Surabaya. Terletak di

Kelurahan Kalisari Kecamatan Mulyorejo, lokasinya tidak di pinggir jalan raya

melainkan harus masuk jalan kecil terlebih dahulu. Sekolah yang telah

terakreditasi dengan nilai A ini menyelenggarakan kegiatan belajar mengajarnya

pada pagi hari. Jumlah siswa yang bersekolah di SMP Al-Huda dapat dilihat pada

tabel dibawah ini :

Tabel 6.2 Distribusi jumlah siswa di SMP Al – Huda Surabaya tahun 2008–2009

Jumlah Siswa Tahun 2008–2009


No Kelas
Laki-Laki Perempuan
1. VII 35 45
2. VIII 29 25
3. IX 26 23
Total 90 93
Sumber: Tata Usaha SMP Al-Huda Surabaya 2009

Tidak ada perbedaan yang mencolok dari jumlah siswa laki-laki dan

perempuan pada tahun 2008–2009 di SMP ini. Jumlah Guru tetap yang berstatus

Pegawai Negeri Sipil di SMP ini berjumlah 1 orang, guru tidak tetap berjumlah

18 orang, seorang tata usaha dan seorang penjaga sekolah. SMP Al-Huda berada

satu bangunan dengan TK dan SD Al-Huda. Sekolah ini mempunyai 7 ruangan

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
56

yaitu ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, ruang tamu, ruang

perpustakaan, ruang laboratorium IPA dan ruang komputer.

6.3 Gambaran Umum SMP Hidayatul Ummah

SMP Hidayatul Ummah terletak di Kelurahan Mulyorejo tepatnya

beralamat di Jl. Mulyorejo No 78 Surabaya. SMP ini berdiri tahun 1979 diatas

tanah wakaf seluas 2400 m2. Sekolah Menengah Pertama ini menyelenggarakan

kegiatan belajar mengajarnya pada pagi hari. Jumlah siswa pada tahun 2008–

2009 dapat dilihat pada table di bawah ini :

Tabel 6.3 Distribusi jumlah siswa di SMP Hidayatul Ummah Surabaya tahun
2008–2009

Jumlah Siswa Tahun 2008–2009


No Kelas
Laki-Laki Perempuan
1. VII 48 50
2. VIII 60 58
3. IX 48 56
Total 156 164
Sumber: Tata Usaha SMP Hidayatul Ummah Surabaya 2009

Jumlah siswa tiap kelas di bagi menjadi beberapa rombongan belajar.

Kelas VII di bagi menjadi 2 rombongan belajar. Kelas VIII dan IX di bagi

menjadi 3 rombongan belajar. Jumlah guru seluruhnya di SMP ini sebanyak 23

orang yang terdiri dari 3 orang PNS, 20 orang guru tidak tetap, 1 orang tata usaha

dan 1 orang penjaga sekolah. Fasilitas-fasilitas di sekolah yang terakreditasi

dengan nilai B ini antara lain ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru,

ruang tamu, ruang perpustakaan, ruang laboratorium IPA, ruang komputer,

masjid dan ruang BP. SMP Hidayatul Ummah berada 1 kompleks dengan TK dan

SD Hidayatul Ummah.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
57

6.4 Gambaran Umum SMP Institut Indonesia

SMP Institut Indonesia beralamat di Jl. Mulyosari Utara I No 37–39.

Lokasinya berada di tengah-tengah kompleks perumahan Mulyosari. Jumlah

siswa yang bersekolah di SMP Institut Indonesia dapat dilihat pada tabel di

bawah ini :

Tabel 6.4 Distribusi jumlah siswa di SMP Institut Indonesia Surabaya tahun
2008–2009

Jumlah Siswa Tahun 2008–2009


No Kelas
Laki-Laki Perempuan
1. VII 26 16
2. VIII 22 10
3. IX 13 20
Total 61 46
Sumber: Tata Usaha SMP Institut Indonesia Surabaya 2009

SMP yang libur pada hari sabtu ini mempunyai jumlah guru sebanyak 22

orang yang terdiri dari 16 guru tetap (PNS) dan 6 orang guru tidak tetap.

6.5 Gambaran Umum SMP Muhammadiyah 10

SMP Muhammadiyah 10 terletak tepat di pinggir jalan Sutorejo 98–100

Surabaya, masuk dalam Kelurahan Sutorejo Kecamatan Mulyorejo Surabaya.

Sekolah yang terkreditasi dengan nilai A ini berada satu kompleks dengan SMU

Muhammadiyah 8. Jumlah siswa yang bersekolah di SMP ini dapat dilihat pada

tabel di bawah ini :

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
58

Tabel 6.5 Distribusi jumlah siswa di SMP Muhammadiyah 10 Surabaya tahun


2008–2009

Jumlah Siswa Tahun 2008–2009


No Kelas
Laki-Laki Perempuan
1. VII 44 33
2. VIII 23 25
3. IX 30 32
Total 97 90
Sumber: Tata Usaha SMP Muhammadiyah 10 Surabaya 2009

Jumlah guru seluruhnya di SMP Muhammadiyah 10 ini adalah 22 orang

yang terdiri dari guru tetap (PNS) sebanyak 10 orang dan guru tidak tetap

sebanyak 12 orang. Ruangan yang terdapat di sekolah ini antara lain ruang kepala

sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, perpustakaan, laboratorium IPA,

laboratorium bahasa, laboratorium komputer, ruang keterampilan dan kesenian.

6.6 Karakteristik Responden

6.6.1 Sekolah Responden

Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 40 siswi dari 65 siswi di 5

Sekolah Menengah Pertama di Mulyorejo yaitu SMP Al-Huda, SMP Arief

Rahman Hakim, SMP Hidayatul Ummah, SMP Institut Indonesia, dan SMP

Muhammadiyah 10 yang menstruasinya kurang dari 1 tahun pada bulan Mei 2009

dan memenuhi kriteria inklusi. Pada tabel di bawah ini dapat di lihat banyaknya

populasi dan responden masing-masing sekolah.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
59

Tabel 6.6 Distribusi jumlah populasi dan jumlah responden di masing-masing


SMP di Kecamatan Mulyorejo

Jumlah siswi
yang Jumlah
menstruasi di siswi yang Persentase
No Nama SMP
tahun menjadi (%)
pertama responden
(populasi)
1. SMP Al-Huda 17 12 30
2. SMP Arief Rahman Hakim 1 0 0
3. SMP Hidayatul Ummah 27 16 40
4. SMP Institut Indonesia 7 4 10
5. SMP Muhammadiyah 10 13 8 20
Total 65 40 100
Sumber: data primer (kuesioner)

Paling banyak responden terdapat di SMP Hidayatul Ummah yaitu

sebanyak 40%, dan yang paling sedikit terdapat di SMP Institut Indonesia yaitu

sebanyak 10%. Sementara tidak terdapat responden di SMP Arief Rahman

Hakim.

6.6.2 Tingkat Kelas Responden

Berdasarkan tingkat kelas, responden paling banyak terdapat di kelas VII

yaitu sebesar 60% dan yang paling sedikit responden duduk di kelas IX yaitu

sebesar 5%. Untuk lebih rincinya dapat dilihat pada grambar di bawah ini :

5%

35%
60%

VII
VIII
IX

Sumber: data primer (kuesioner)

Gambar 6.1 Distribusi tingkat kelas reponden di 5 SMP Kecamatan Mulyorejo


Surabaya

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
60

6.6.3 Umur Responden

Jumlah responden di 5 SMP di Mulyorejo mempunyai rentang umur

antara 12–15 tahun, paling banyak terdapat pada umur 13 tahun yaitu sebesar

40%, dan paling sedikit terdapat pada umur 15 tahun yaitu sebesar 2,5%. Untuk

lebih rincinya dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 6.2 Diagram batang distribusi umur reponden di 5 SMP Kecamatan


Mulyorejo Surabaya

40

30
Jumlah siswi

20

10

0
12 13 14 15
Persentase 37.5 40 20 2.5
Umur ( Th ) Persentase

Sumber: data primer (kuesioner)

6.6.4 Penyakit Yang Pernah Diderita Responden

Penyakit-penyakit yang diderita oleh respnden selama 1 bulan terakhir

dapat di lihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 6.7 Jenis penyakit yang diderita Reponden di 5 SMP Kecamatan Mulyorejo
Surabaya

No Penyakit Jumlah Persentase (%)


1. Influenza 10 25
2. Batuk 1 2,5
3. Tipes 2 5
4. Panas 2 5
5. Diare 1 2,5
6. Tidak Sakit 24 60
Total 40 100
Sumber: data primer (kuesioner)

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
61

Penyakit terbanyak yang diderita oleh reponden selama sebulan terakhir

adalah influenza yaitu sebanyak 25% dan paling sedikit adalah penyakit batuk

dan diare yang masing-masing sebanyak 2,5%, namun sebagian besar (60%)

responden mengaku tidak sakit selama sebulan terakhir ini.

6.6.5 Pekerjaan Orang tua Responden

Dari 40 orang tua responden sebagian besar ayah mereka bekerja sebagai

pegawai swasta yaitu sebesar 37,5% dan paling sedikit adalah PNS yaitu sebesar

5% sedangkan ibu mereka sebagian besar tidak bekerja atau sebagai ibu rumah

tangga yaitu 60% dan paling sedikit bekerja sebagai PNS yaitu 5%. Beberapa

ayah responden memiliki pekerjaan lain yaitu tukang jagal binatang, tukang sol

sepatu, pemain musik, pemulung, dan ada juga responden yang sudah tidak

mempunyai ayah. Untuk lebih rincinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 6.8 Distribusi Pekerjaan Orang Tua Reponden di 5 SMP Kecamatan


Mulyorejo Surabaya

Persentase Persentase
No Pekerjaan Ayah Ibu
(%) (%)
1. PNS 2 5 2 5
2. Pegawai swasta 15 37,5 4 10
3. Wiraswasta 10 25 10 25
4. Buruh 6 15 0 0
5. Tidak bekerja 2 5 24 60
6. Lain-lain 5 12,5 0 0
Total 40 100 40 100
Sumber: data primer (kuesioner)

6.6.6 Gejala Klinis Responden

Dari delapan gejala klinis yang diderita responden yaitu kelopak mata

pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing,

lemah dan lelah, diperoleh gejala yang paling sering diderita oleh responden

adalah pusing dan lelah yang masing-masing sebesar 60%, sementara gejala yang

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
62

paling sedikit diderita responden adalah lidah pucat dan kuku pucat yang masing-

masing sebesar 20%, dan dalam penelitian ini tidak ditemukan gejala klinis kuku

mudah rusak. Untuk lebih rincinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 6.9 Distribusi Gejala Klinis Reponden di 5 SMP Kecamatan Mulyorejo


Surabaya

No Gejala Klinis Jumlah Persentase (%)


1. Kelopak Mata Pucat 14 35
2. Lidah Pucat 8 20
3. Kuku Pucat 8 20
4. Kuku Mudah Rusak 0 0
5. Berkunang-kunang 19 47,5
6. Pusing 24 60
7. Lemah 18 45
8. Lelah 24 60
Sumber: data primer (kuesioner)

6.7 Prevalensi Anemia

Semua responden yang terdiri dari 40 siswi dari 4 Sekolah Menengah

Pertama di Kecamatan Mulyorejo dilakukan skrining dengan menggunakan

gejala klinis anemia dan pemeriksaan darah di laboratorium dengan

menggunakan metode Sianmethemoglobin sebagai gold standart. Dari 40 siswi

dalam penelitian ini ditemukan responden yang positif anemia ditandai dengan

kadar Hb < 12 gr/dl hanya 11 responden. Sehingga prevalensi anemia terhadap

remaja putri pada tahun pertama menstruasi di Kecamatan Mulyorejo ini adalah

27,5%. Untuk lebih rincinya akan dijelaskan masing-masing prevalensi anemia

menurut sekolah, tingkat kelas, dan umur.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
63

6.7.1 Prevalensi Anemia berdasarkan Sekolah

Berdasarkan tempat penderita bersekolah, penderita terbanyak terdapat di

SMP Al-Huda yaitu sebesar 36,3%. Sementara prevalensi anemia tertinggi

terdapat di SMP Institut Indonesia yaitu sebesar 50%. Untuk lebih rincinya dapat

dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 6.10 Distribusi penderita anemia di 5 SMP Kecamatan Mulyorejo Surabaya

No Sekolah Jumlah Persentase (%)


1. SMP Arief Rahman Hakim 0 0
2. SMP Al-Huda 4 36,3
3. SMP Hidayatul Ummah 3 27,3
4. SMP Institut Indonesia 2 18,2
5. SMP Muhammadiyah 10 2 18,2
Total 11 100
Sumber: data primer (kuesioner)

Tabel 6.11 Prevalensi Anemia Menurut Sekolah Responden di 5 SMP Kecamatan


Mulyorejo Surabaya

Status Anemia
Jumlah
No Sekolah Anemia Normal
n % N % n %
1. SMP Al-Huda 4 33.33 8 66.67 12 100
2. SMP Arief Rahman Hakim 0 0.00 0 0.00 0 0
3. SMP Hidayatul Ummah 3 18.75 13 81.25 16 100
4. SMP Institut Indonesia 2 50.00 2 50.00 4 100
5. SMP Muhammadiyah 10 2 25.00 6 75.00 8 100
Total 11 27.50 29 72.5 40 100
Sumber: data primer (kuesioner)

6.7.2 Prevalensi Anemia Berdasarkan Tingkat Kelas

Berdasarkan tingkat kelas penderita anemia terbanyak terdapat di kelas

VII dan VIII yaitu masing-masing sebesar 45,45%. Sementara prevalensi

tertinggi terdapat di kelas IX yaitu sebesar 50%. Untuk lebih rincinya dapat di

lihat pada tabel di bawah ini :

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
64

Tabel 6.12 Distibusi penderita anemia berdasarkan tingkat kelas di 5 SMP


Kecamatan Mulyorejo Surabaya

No Tingkat Kelas Jumlah Persentase (%)


1. VII 5 45,45
2. VIII 5 45,45
3. IX 1 9,1
Total 11 100
Sumber: data primer (kuesioner)

Tabel 6.13 Prevalensi anemia menurut tingkat kelas responden di 5 SMP


Kecamatan Mulyorejo Surabaya

Status Anemia
Jumlah
No Tingkat Kelas Anemia Normal
N % n % N %
1. VII 5 20,83 19 79,17 24 100
2. VIII 5 35,71 9 64,29 14 100
3. IX 1 50,00 1 50,00 2 100
Total 11 27,50 29 72,50 40 100
Sumber: data primer (kuesioner)

6.7.3 Prevalensi Anemia Berdasarkan Umur

Berdasarkan umur penderita anemia dalam penelitian ini terbanyak

terdapat pada umur 13 tahun yaitu sebanyak 45,4%. Sementara prevalensi anemia

tertinggi terdapat pada umur 15 tahun yaitu sebesar 100%. Untuk lebih rincinya

dapat di lihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 6.14 Distribusi penderita anemia berdasarkan umur di 5 SMP Kecamatan


Mulyorejo Surabaya

No Umur Jumlah Persentase (%)


1. 12 3 27,3
2. 13 5 45,4
3. 14 2 18,2
4. 15 1 9,1
Total 11 100
Sumber: data primer (kuesioner)

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
65

Tabel 6.15 Prevalensi anemia menurut umur responden di 5 SMP Kecamatan


Mulyorejo Surabaya

Status Anemia
Jumlah
No Umur Anemia Normal
n % N % N %
1. 12 3 20.00 12 80 15 100
2. 13 5 31.25 11 68.75 16 100
3. 14 2 25.00 6 75 8 100
4. 15 1 100.00 0 0 1 100
Total 11 27.50 29 72.5 40 100
Sumber: data primer (kuesioner)

6.8 Derajat Anemia

Semua penderita anemia dalam penelitian ini termasuk dalam derajat

anemia ringan dengan kadar Hb antara 10 – 12 gr/dl. Tidak di temukan derajat

anemia sedang maupun berat dalam penelitian ini.

6.9 Validitas Alat Skrining

Untuk mengetahui validitas skrining dilakukan dengan membandingkan

alat skrining (dikatakan positif jika terdapat minimal 3 gejala klinis dari 8 gejala

klinis yang di amati seperti kelopak mata pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku

mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan lelah) dengan pemeriksaan

laboratorium darah dengan metode Sianmethemoglobin sebagai gold standart.

Didapatkan hasil pada tabel 2x2 seperti di bawah ini :

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
66

Tabel 6.16 Validitas skrining anemia pada responden di 5 SMP Kecamatan


Mulyorejo Surabaya

Metode Sianmethemoglobin
Total
+ -
+ 8 16 24
Gejala Klinis
- 3 13 16
Total 11 29 40
Sumber: data primer (kuesioner)

Sensitivitas = 72,73%

Spesivisitas = 44,83%

PPV = 33,33%

NPV = 81,25%

6.10 Reliabilitas Hasil Pemeriksaan Anemia

Untuk mengetahui reliabilitas hasil pemeriksaan laboratorium darah

digunakan metode Sianmethemoglobin yang dilakukan oleh pembantu peneliti

yaitu seorang petugas laboratorium dari Puskesmas Mulyorejo, maka

pemeriksaan darah dilakukan sebanyak dua kali oleh pemeriksa yang sama,

waktu yang sama dan pada sampel yang sama pula. Adapun hasil kesepakatan

pemeriksaan laboratorium darah yang dilakukan, terdapat pada tabel 2x2 sebagai

berikut :

Tabel 6.17 Reliabilitas hasil pemeriksaan kadar hemoglobin darah dengan


metode Sianmethemoglobin Pada Siswi 5 SMP di Kecamatan
Mulyorejo

Pemeriksaan II
Total
+ -
+ 10 1 11
Pemeriksaan I
- 1 28 29
Total 11 29 40
Sumber: data primer (kuesioner)

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
67

Koefisien Kappa = 0,87 (Menunjukkan kesepakatan yang sangat baik

antara pemeriksaan I dan pemeriksaan II)

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB VII

PEMBAHASAN

7.1 Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini berjumlah 40 orang yang berumur antara

12–15 tahun dari 65 siswi di 5 Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan

Mulyorejo kelas VII–IX yang sudah mengalami menstruasi namun belum

mencapai 1 tahun pada saat pemeriksaan darah dilakukan pada bulan Mei 2009

berdasarkan kriteria inklusi. Kelima SMP tersebut adalah SMP Al- Huda, SMP

Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul Ummah, SMP Institut Indonesia, dan SMP

Muhammadiyah 10 yang merupakan SMP tujuan dalam pemeriksaan kesehatan

yang dilakukan Puskesmas Mulyorejo tahun 2008.

Tabel 6.6 menunjukkan sebanyak 40% responden dalam penelitian ini

berasal dari SMP Hidayatul Ummah dan responden paling sedikit bersekolah di

SMP Institut Indonesia. Hal ini disebabkan karena jumlah siswa di SMP

Hidayatul Ummah lebih banyak daripada SMP-SMP yang lain sehingga

menyumbang lebih banyak populasi.

Gambar 6.1 menunjukkan responden paling banyak duduk di kelas VII

yaitu sebesar 60% sedangkan yang paling sedikit responden duduk di kelas IX

yaitu sebanyak 5%. Sedangkan dari Gambar 6.2 dapat diketahui reponden

sebagian besar berumur 13 tahun yaitu sebesar 40% disusul dengan umur 12

tahun yaitu sebesar 37,5% dan paling sedikit berumur 15 tahun yaitu sebesar

2,5%. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Llewellyn dan Jones, usia

datangnya minarche antara 10–14 tahun. Remaja dengan rentang usia 10–14

68
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
69

tahun sebagian besar duduk di kelas akhir Sekolah Dasar dan kelas awal Sekolah

Menengah Pertama. Responden dalam penelitian ini paling banyak berumur 13

dan 12 tahun dan sebagian dari mereka masih duduk di kelas VII.

Dewasa ini usia minarche remaja putri jauh lebih dini. Banyak anak-anak

sekarang yang duduk di Sekolah Dasar sudah menstruasi, dan diprediksikan

wanita kota lebih awal dari pada wanita desa karena lingkungan pergaulannya

yang lebih bebas. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi datangnya minarche

antara lain kesehatan dan perkembangan fisik yang optimal akan lebih cepat

mengalami menstruasi dari pada anak dengan perkembangan fisik yang lambat,

pengaruh lingkungan terhadap perkembangan jiwa anak meliputi emosi dan

psycoseksual, faktor keturunan juga ikut menentukan cepat lambatnya datangnya

minarche, anak yang ibunya mengalami minarche cepat cenderung juga

mengalami minarche cepat pula (Pidada, 2005).

Selain itu menurut Pidada (2005), kemampuan ekonomi keluarga secara

tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan dan

perkembangan fisik anak. Berdasarkan Tabel 6.8 sebagian besar pekerjaan ayah

responden (37,5%) adalah pegawai swasta dan sebagian besar ibu mereka (60%)

tidak bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Anemia sering terjadi pada

golongan ekonomi rendah, karena pada kelompok masyarakat dengan tingkat

sosial ekonomi rendah kurang bisa untuk menjangkau sistem pelayanan yang ada

dan umumnya kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan makanan sumber zat

besi yang harganya relatif mahal (Walujani, 2001).

Makanan yang banyak mengandung zat besi yang diperlukan tubuh antara

lain ikan, daging, hati, ayam dan telur. Makanan nabati seperti bayam, daun

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
70

singkong dan kankung juga mengandung zat besi namun hanya sedikit yang bisa

diserap dengan baik oleh usus (Arisman, 2004).

Sedangkan menurut Depkes (1999), anemia tidak hanya dikarenakan oleh

ketersediaan makanan yang kurang akan tetapi terdapat beberapa faktor antara

lain kebiasaan makan remaja putri itu sendiri, kebanyakan remaja putri lebih

jarang mengkonsumsi makanan hewani dan sering melakukan diet pengurangan

makan karena ingin langsing, bisa juga mereka sudah mengonsumsi makanan

yang banyak mengandung zat besi, tetapi terjadi gangguan absorsi dalam usus

karena ada cacing atau gangguan pencernaan, kebiasaan minum teh dan kopi juga

dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh, serta mengalami haid setiap

bulan, sehingga membutuhkan zat besi dua kali lebih banyak dari pada pria, oleh

karena itu wanita lebih sering terkena anemia dari pada pria.

Berdasarkan Tabel 6.7 penyakit yang diderita responden dalam sebulan

terakhir paling banyak adalah influenza yaitu sebesar 25% dan sebesar 60%

responden tidak mengalami sakit dalam sebulan terakhir ini. Tidak ada satupun

penyakit yang diderita responden yang dapat memperberat terjadinya anemia.

Menurut Dinkes Provinsi Jawa Timur (2001), penyakit yang dapat memperberat

terjadinya anemia adalah penyakit TBC, malaria dan kecacingan. Penyakit

tersebut menyebabkan banyak darah keluar, sehingga mengganggu keseimbangan

zat besi, dimana zat besi yang dikeluarkan lebih banyak daripada zat besi yang

masuk.

Gejala klinis yang paling banyak dialami oleh reponden berdasarkan

Tabel 6.9 adalah pusing dan lelah yang masing-masing sebesar 60%. Tanda dan

gejala anemia defisiensi besi biasanya tidak khas dan sering tidak jelas. Tanda

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
71

yang khas antara lain angular stomatis, glositis, disfagia, hipoklorida, koilonikia,

dan pagofagia. Sedangkan tanda yang kurang khas berupa kelelahan, anoreksia,

kepekaan terhadap infeksi meningkat, kelelahan perilaku tertentu, kinerja

intelektual serta kemampuan kerja menyusut (Arisman, 2004).

7.2 Prevalensi Anemia

Setelah dilakukan pemeriksaan hemoglobin darah dengan metode

Sianmethemoglobin kepada 40 responden dari 5 SMP di Kecamatan Mulyorejo,

didapatkan responden yang menderita anemia ditandai dengan kadar Hb < 12

gr/dl sebanyak 11 orang sehingga prevalensi anemia pada penelitian kali ini

sebesar 27,5%. Prevalensi anemia ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan

prevalensi anemia nasional sebesar 14,8% dan prevalensi anemia pada remaja

putri di Kenya Barat yaitu sebesar 21,1% berdasarkan penelitian yang dilakukan

oleh Leenstra 2004 terhadap remaja putri berusia 12–18 tahun, serta lebih tinggi

jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kriviene dan Rageline

pada tahun 2006 terhadap remaja putri berusia 13–16 tahun di Lithuania yang

memperoleh prevalensi anemia sebesar 17,8% dan serta lebih tinggi pula dari

penelitian yang dilakukan oleh Nadhiroh 2005 pada santriwati di pondok

pesantren di daerah pesisir yaitu sebesar 19,5%. Namun nilai ini lebih rendah dari

prevalensi remaja putri yang disebutkan oleh Dinkes Provinsi Jawa Timur pada

tahun 2001 yaitu sebesar 30%, lebih rendah pula dari penelitian anemia yang

dilakukan oleh Susanti tahun 2004 yang menyebutkan prevalensi anemia pada

remaja putri sebesar 48,67% dan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tarigan

tahun 2005 pada remaja putri di Nusa Tenggara Timur yaitu sebesar 61,7%.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
72

Lebih rendahnya angka prevalensi pada penelitian ini disebabkan karena

skrining ini dikhususkan hanya pada kelompok remaja putri yang menstruasinya

kurang dari satu tahun, tidak seperti penelitian lain yang dilakukan pada populasi

lebih luas. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi penurunan prevalensi menurut

Syahrul dan Hidajah (2002) antara lain durasi penyakit yang lebih pendek,

meningkatnya tingkat fatalitas kasus akibat dari penyakit, menurunnya kasus-

kasus baru, migrasi kedalam dari orang-orang sehat, migrasi keluar dari kasus-

kasus, meningkatnya tingkat kesembuhan untuk kasus-kasus penyakit

Berdasarkan Tabel 6.10 prevalensi anemia berdasarkan Sekolah paling

banyak terdapat di SMP Institut Indonesia yaitu sebesar 50%, 2 dari 4 reponden

di sekolah tersebut mempunyai kadar hemoglobin < 12 gr/dl. Berdasarkan Tabel

6.13 prevalensi anemia menurut tingkatan kelas paling banyak terdapat di kelas

IX sebesar 50%. Prevalensi menurut tingkat kelas berbeda dengan penelitian

yang dilakukan oleh Tarigan 2005 yang menunjukan prevalensi anemia terbanyak

terdapat di kelas VII yaitu sebesar 59%. Berbeda pula jika dibandingkan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Astuti pada tahun 2001, prevalensi anemia

terbesar ada pada kelas VIII yaitu sebesar 43,75%.

Sedangkan berdasarkan Tabel 6.15 prevalensi anemia menurut umur

paling banyak terdapat pada umur 15 tahun, yaitu sebesar 100%. Prevalensi

anemia menurut umur pada penelitian ini berbeda dengan penelitian yang

dilakukan oleh Leenstra 2004 yang menyebutkan prevalensi anemia tertinggi

terdapat pada umur 12 dan 13 tahun yaitu masing-masing sebesar 23,2%.

Prevalensi ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Tarigan 2005 yang

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
73

menyatakan kelompok umur terbanyak yang menderita anemia antara 15–16

tahun yaitu sebesar 67,6%.

Semua kelas dan semua umur mempunyai risiko yang sama terkena

anemia. Anemia pada kelompok usia sekolah berdampak pada menurunkan

kemampuan dan konsentrasi belajar, menggangu pertumbuhan sehingga tinggi

badan tidak mencapai optimal, menurunkan kemampuan fisik olahragawan,

mengakibatkan muka pucat. Apalagi remaja putri merupakan calon ibu yang

harus memiliki tubuh yang sehat agar bisa melahirkan bayi yang sehat pula

(Depkes, 1999).

Jumlah darah yang hilang selama 1 periode haid berkisar antara 20–25 cc.

Jumlah ini menyiratkan kehilangan besi sebesar 12,5–15 mg/bulan atau kira-kira

sama dengan 0,4–0,5 mg sehari. Jika jumlah tersebut ditambah dengan

kehilangan basal, jumlah total zat besi yang hilang sebesar 1,25 mg perhari

(Arisman, 2004). Perempuan yang mengalami menstruasi akan kehilangan darah

yang berarti akan mengeluarkan zat besi di dalam darah, akibatnya akan

menurunkan daya tahan tubuh dan menurunkan kebugaran. Seorang remaja putri

yang mengalami menstruasi banyak selama lebih dari 5 hari dikhawatirkan akan

kehilangan zat besi lebih banyak daripada remaja putri yang menstruasinya hanya

3 hari dan sedikit (Walujani, 2001).

Menurut Indarti (2008), hal yang membuat wanita sangat rentan

menderita anemia juga karena siklus menstruasi yang tidak normal. Siklus

menstruasi normal berkisar antara 22–35 hari dihitung dari hari pertama

menstruasi hingga bulan berikutnya. Lama menstruasi yang normal antara 3–7

hari. Siklus menstuasi yang tidak normal memicu terjadinya anemia seperti

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
74

hipermenorhea (haid yang lebih lama dan lebih banyak dari jumlah normal) atau

haid lebih dari 8 hari. Sedangkan menurut Djauzi (2007), menstruasi yang lebih

banyak dan lebih lama dapat menimbulkan anemia. Jika hanya tidak teratur saja

tetapi jumlah perdarahannya tidak banyak, biasanya tidak menyebabkan anemia.

Pada penelitian ini populasinya dibatasi pada remaja putri yang menstruasinya

kurang dari setahun, dan lebih dari 67,5% mengalami menstruasi relatif normal

yaitu sebulan sekali dengan lama 3–7 hari setiap periodenya. Sehingga risiko

kehilangan darah dalam jumlah yang banyak relatif lebih kecil.

7.3 Derajat Anemia

Pada penelitian ini, semua responden yang menderita anemia termasuk

dalam kategori derajat anemia ringan (10–12 gr/dl) yaitu sebanyak 100%. Tidak

ditemukan derajat anemia sedang maupun berat. Berbeda dengan penelitian yang

dilakukan oleh Susanti tahun 2004 pada remaja putri di Madiun, derajat anemia

paling banyak yang diperoleh pada penelitian tersebut adalah derajat anemia

sedang yaitu sebanyak 41,67%, ringan 36% dan ditemukan derajat anemia berat

sebesar 22,33%. Derajat anemia terkait dengan tanda dan gejala yang timbul pada

penderita anemia. Gejala anemia ringan sering tidak menimbulkan gejala (Indarti,

2008)

7.4 Validitas Skrining

7.4.1 Validitas Alat Skrining

Validitas skrining mempunyai empat komponen yaitu sensitivitas,

spesifisitas, positive predictive value dan negative predictive value. Berdasarkan

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
75

Tabel 6.16 tentang validitas alat skrining anemia dengan menggunakan gejala

klinis sebagai uji penyaringan dan pemeriksaan laboratorium darah dengan

metode Sianmethemoglobin sebagai gold standart, didapatkan nilai sensitivitas,

spesifisitas, positive predictive value dan negative predictive value dari masing-

masing gejala klinis maupun dari gabungan gejala klinis.

Validitas dari alat skrining (dikatakan positif jika terdapat minimal 3

gejala klinis dari 8 gejala klinis yang diamati seperti kelopak mata pucat, lidah

pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan

lelah) bila dibandingkan dengan gold standart didapatkan nilai sensitivitas dari

alat skrining sebesar 72,73%, artinya kemampuan alat skrining (dikatakan positif

jika terdapat minimal 3 gejala klinis dari 8 gejala klinis yang diamati seperti

kelopak mata pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-

kunang, pusing, lemah dan lelah) untuk mengidentifikasi secara benar orang-

orang yang mempunyai penyakit anemia sebesar 72,73% bila dibandingkan

dengan gold standart. Sedangkan nilai spesifisitas sebesar 44,83%, yang berarti

kemampuan alat skrining (dikatakan positif jika terdapat minimal 3 gejala klinis

dari 8 gejala klinis yang diamati seperti kelopak mata pucat, lidah pucat, kuku

pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan lelah) untuk

mengidentifikasi secara benar orang-orang yang tidak menderita anemia sebesar

44,83% dibandingkan dengan gold standart.

PPV untuk alat skrining dengan gejala klinis anemia (dikatakan positif

jika terdapat minimal 3 gejala klinis dari 8 gejala klinis yang diamati seperti

kelopak mata pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-

kunang, pusing, lemah dan lelah) sebesar 33,33%, artinya kemungkinan orang-

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
76

orang dengan gejala klinis anemia (dikatakan positif jika terdapat minimal 3

gejala klinis dari 8 gejala klinis yang diamati seperti kelopak mata pucat, lidah

pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan

lelah) akan menderita penyakit anemia sebesar 33,33%. Sedangkan NPV untuk

alat skrining dengan gejala klinis anemia (dikatakan positif jika terdapat minimal

3 gejala klinis dari 8 gejala klinis yang diamati seperti kelopak mata pucat, lidah

pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan

lelah) sebesar 81,25%, artinya kemungkinan orang-orang yang tidak mengalami

gejala klinis (dikatakan positif jika terdapat minimal 3 gejala klinis dari 8 gejala

klinis yang diamati seperti kelopak mata pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku

mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan lelah) tidak akan menderita

anemia sebesar 81,25%.

Dari data diatas, alat skrining (dikatakan positif jika terdapat minimal 3

gejala klinis dari 8 gejala klinis yang diamati seperti kelopak mata pucat, lidah

pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-kunang, pusing, lemah dan

lelah) memiliki nilai sensitivitas yang tinggi yaitu sebesar 72,73% dan nilai PPV

33,33% sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi orang yang menderita

anemia. Orang yang memiliki tiga gejala atau lebih dapat dikatakan terkena

anemia dengan kemungkinan benar 33,33% (33 orang benar-benar menderita

anemia dari 100 orang yang tesnya positif) ( Budiarto dan Anggraeni, 2002).

7.4.2 Validitas Masing-Masing Gejala Klinis

Validitas dari masing-masing gejala klinis anemia dibandingkan dengan

gold standart seperti yang dapat dilihat pada Lampiran 10 diperoleh gejala klinis

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
77

dengan nilai sensitivitas yang paling tinggi adalah lelah (H) sebesar 72,73%,

artinya kemampuan dari gejala klinis lelah untuk mengidentifikasi secara benar

orang-orang yang menderita penyakit anemia sebesar 72,73% jika dibandingkan

dengan 120 gejala klinis lainnya. Seperti yang dikatakan Tan (1996), kelelahan

adalah gejala paling umum dari kekurangan zat besi. Nilai spesifisitas paling

tinggi adalah 96,55% terdapat di beberapa gejala klinis maupun gabungan dari

beberapa gejala klinis yang berarti kemampuan dari gejala klinis tersebut untuk

mengidentifikasi secara benar orang-orang yang tidak menderita penyakit anemia

sebesar 96,55% jika dibandingkan dengan 88 gejala klinis yang lain. Untuk lebih

rincinya ke 33 gejala klinis maupun gabungan gejala klinis yang mempunyai nilai

spesifisitas 96,55% dapat dilihat pada Lampiran 11.

Dari Lampiran 10 dapat diketahui nilai sensitivitas gejala klinis kelopak

mata pucat (A) adalah sebesar 54,55% yang artinya kemampuan gejala klinis

kelopak mata pucat untuk mengidentifikasi secara benar orang-orang yang

menderita penyakit anemia sebesar 54,55% jika dibandingkan dengan gold

standart. Gejala klinis kelopak mata pucat ini mempunyai nilai spesifisitas

sebesar 72,41% yang artinya kemampuan dari gejala klinis kelopak mata pucat

untuk mengidentifikasi secara benar orang-orang yang tidak menderita penyakit

anemia sebesar 72,41% jika dibandingkan dengan gold standart. Sementara

gejala klinis lemah (G) mempunyai nilai sensitivitas 45,45% yang artinya

kemampuan gejala klinis lemah untuk mengidentifikasi dengan benar orang-

orang yang menderita penyakit anemia sebesar 45,45% jika dibandingkan dengan

gold standart dan mempunyai nilai spesifisitas 55,17%, artinya kemampuan

gejala klinis lemah untuk mengidentifikasikan dengan benar-benar orang yang

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
78

tidak menderita penyakit anemia sebesar 55,17% jika dibandingkan dengan gold

standart. Dari kedua jenis gejala klinis anemia di atas, konsep sensitivitas dan

spesifisitas dari skrining yang sahih adalah yang nilai sensitivitas dan

spesifisitasnya masing-masing bernilai 100%, namun keadaan ini tidak mungkin

tercapai tapi bisa didekati (Murti, 1997). Hal ini berhubungan dengan derajat

anemia yang ada pada penelitian ini yaitu derajat anemia ringan saja sehingga

mempunyai nilai sensitivitas yang relatif kecil jadi sering tidak menimbulkan

gejala yang berarti pada penderita. Menurut Bakta (2007), berat ringannya gejala

tergantung oleh beratnya penurunan kadar Hb. Selain itu, umur juga berpengaruh

terhadap berat ringannya gejala, adaptasi orang tua lebih jelek sehingga gejala

lebih mudah timbul.

Gabungan dari gejala klinis yang valid untuk mendiagnosa penyakit

anemia secara gejala klinis dapat dilihat dari gejala klinis yang mempunyai nilai

sensitivitas yang paling tinggi diantara gejala klinis yang lain, baru dilihat nilai

spesifisitas, PPV dan NPV paling tinggi diantara gejala klinis yang lain. Pada

skrining kali ini diperoleh gejala klinis gabungan yang mempunyai nilai

sensitivitas paling tinggi diantara gabungan gejala klinis yang lainnya yaitu pada

gejala klinis kelopak mata pucat dan lelah (A + H) yang mempunyai nilai

sensitivitas sebesar 45,45%, artinya kemampuan gejala klinis kelopak mata pucat

dan lelah (A + H) untuk mengidentifikasi secara benar orang–orang yang

mempunyai penyakit anemia adalah sebesar 45,45% jika dibandingakan dengan

gold standart. Nilai spesifisitas gejala ini sebesar 79,31%, artinya kemampuan

gejala klinis kelopak mata pucat dan lelah (A + H) untuk mengidentifikasi secara

benar orang-orang yang tidak mempunyai penyakit anemia sebesar 79,31% jika

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
79

dibandingkan dengan gold standart. Sedangkan nilai PPV-nya sebesar 45,45%,

artinya kemungkinan orang-orang dengan gejala klinis kelopak mata pucat dan

lelah (A + H) menderita penyakit anemia sebesar 45,45% jika dibandingkan

dengan gold standart dan nilai NPV sebesar 79,31% yang berarti kemungkinan

orang-orang yang tidak mempunyai gejala klinis kelopak mata pucat dan lelah

tidak akan menderita penyakit anemia sebesar 79,31% dibandingkan dengan gold

standart. Gejala klinis kelopak mata pucat + lelah (A + H) ini dapat digunakan

untuk mendeteksi secara dini penyakit anemia karena mempunyai nilai

sensitivitas paling tinggi diantara gejala klinis yang lain meskipun ada gejala

klinis lain yang mempunyai nilai sensitivitas sama besar yaitu gejala klinis lemah

dan lelah (G + H), namun nilai spesifisitas gejala klinis G + H lebih rendah dari

nilai spesifisitas gejala klinis A + H yaitu hanya sebesar 58,62%. Gejala ini

berbeda dengan gejala klinis menurut penelitian Zucker (1997) dalam Arisman

(2004) yang menyebutkan bahwa gejala klinis yang paling sensitif dan spesifik

adalah kepucatan kuku dan telapak tangan yaitu masing-masing sebesar 62% dan

60%.

Nilai PPV yang paling besar adalah pada gejala klinis lidah pucat + lemah

(B + G) yaitu sebesar 75% artinya kemungkinan orang-orang dengan gejala klinis

lidah pucat + lemah akan menderita penyakit anemia sebesar 75%. Sedangkan

nilai NPV paling tinggi terdapat pada gejala klinis kuku pucat + pusing + lelah (C

+ F + H) dengan nilai 87,5% yang artinya kemungkinan orang-orang tanpa gejala

klinis kuku pucat + pusing + lelah (C + F + H) tidak akan menderita penyakit

anemia sebesar 87,5%. Kedua nilai prediktif tersebut dipengaruhi oleh besarnya

prevalensi yang ada di masyarakat, semakin tinggi nilai prevalensi semakin tinggi

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
80

nilai prediktif positifnya. PPV dan NPV dapat digunakan untuk mencerminkan

nilai sensitivitas dan spesifisitas, semakin tinggi nilai sensitivitas maka semakin

tinggi pula nilai predictif negatifnya (NPV) karena semakin kecil orang yang

tidak mempunyai gejala klinis menderita suatu penyakit. Semakin tinggi nilai

spesifisitasnya maka semakin tinggi pula nilai predictif positifnya (PPV) karena

semakin besar orang yang mempunyai gejala klinis terkena suatu penyakit

(Budiarto dan Anggraeni, 2002).

Dari 121 gejala klinis baik satu gejala maupun gabungan gejala klinis

didapatkan nilai sensitivitas dan spesifisitas yang selalu berkebalikan. Seperti

gejala klinis lelah (H) memiliki nilai sensitivitas sebesar 72,73% dan nilai

spesifisitas sebesar 44,83%, gejala klinis kelopak mata pucat (A) memiliki nilai

sensitivitas 54,55% dan nilai spesifisitas 74,51%, sedangkan gejala klinis lemah

(G) memiliki nilai sensitivitas 45,45% dan nilai spesifisitas 55,17%. Menurut

Murti (1997), meningkatnya nilai sensitivitas akan menurunkan spesifisitas dan

sebaliknya meningkatnya spesifisitas akan menurunkan sensitivitas sebab pada

kenyataannya tes klinik tidak hanya menunjukkan dengan jelas subyek-subjek

yang masuk dalam kategori normal maupun tidak normal, melainkan juga

menunjukkan subjek-subjek yang berada pada daerah perbatasan. Karena

klasifikasi kasus hanya dibedakan menjadi 2 kategori maka subjek-subjek di

daerah perbatasan dapat dimasukkan kedalam ketegori normal maupun tidak

normal. Ketika kita melonggarkan kriteria positivitas maka subjek-subjek yang

berada di perbatasan cenderung akan masuk ke kategori sakit (meningkatkan

sensitivitas), tetapi jika kita mempersempit kriteria positivitas maka subjek-

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
81

subjek yang berada di perbatasan cenderung akan masuk ke kategori tidak normal

(meningkatkan spesifisitas).

Selama ini skrining yang dilakukan oleh Puskesmas Mulyorejo hanya

dilihat pada pemeriksaan fisik saja yang meliputi kuku tipis, kuku pucat, kuku

rusak, pusing dan gampang mengantuk (Profil Puskesmas Mulyorejo, 2008).

Puskesmas Mulyorejo tidak melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin darah,

padahal dengan pemeriksaan kadar hemoglobin darah dapat diketahui derajat

anemia anak. Dengan pemeriksaan fisik saja, anemia sering tidak dapat

terdeteksi, mengingat derajat anemia ringan sering tidak menimbulkan gejala.

Setelah didapatkan gejala klinis dengan nilai sensitivitas tertinggi sebesar

45,45% yaitu kelopak mata pucat + lelah (A + H) dan ni;ai PPV-nya 45,45%

yang berarti orang yang memiliki gejala klinis kelopak mata pucat + lelah (A +

H) dapat dikatakan terkena anemia dengan kemungkinan benar 45,45% (45 orang

benar-benar menderita anemia dari 100 orang yang tesnya positif), maka gejala

tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi penderita anemia ( Budiarto dan

Anggraeni, 2002). Pemeriksaan kesehatan di puskesmas terutama untuk masalah

anemia di SMP Al- Huda, SMP Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul Ummah,

SMP Institut Indonesia, dan SMP Muhammadiyah 10 yang hanya mengandalkan

pemeriksaan fisik saja dapat lebih ditekankan pada kedua gejala klinis tersebut

agar dapat lebih banyak menjaring siswi yang terkena anemia. Upaya pelayanan

kesehatan tingkat dasar meliputi upaya pelayanan kesehatan perorangan dan

upaya kesehatan masyarakat yang telah dilakukan Puskesmas Mulyorejo seperti

berbagai macam bentuk penyuluhan yang dilakukan di SMP Al- Huda, SMP

Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul Ummah, SMP Institut Indonesia, dan SMP

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
82

Muhammadiyah 10 yang bertujuan untuk melakukan upaya promosi kesehatan,

upaya kesehatan ibu dan anak, upaya perbaikan gizi masyarakat, dan upaya

kesehatan sekolah yang apabila terdapat materi anemia biasanya hanya berisikan

bahaya anemia, tanda-tanda anemia secara umum, penyebab anemia, cara

pencegahan dan pengobatan anemia, namun kedepannya dapat digunakan sebagai

media informasi kepada warga sekolah dalam memperkenalkan gejala kelopak

mata pucat + lelah sebagai gejala klinis yang paling sensitif untuk

mengidentifikasi penyakit anemia ditempat tersebut. Warga sekolah lebih mudah

melakukannya tanpa harus melakukan pemeriksaan darah namun hanya dengan 2

gejala klinis saja masyarakat dapat mengidentifikasi ada tidaknya penyakit

anemia. Tentunya diperlukan pelatihan yang rutin untuk dapat membedakan

gejala klinis tersebut, maka dari itu pelatihan guru/petugas UKS dapat digunakan

sebagai media untuk melatih para guru yang lain dalam membedakan gejala

klinis anemia tersebut untuk selanjutnya para guru berkewajiban menularkan

ilmunya kepada murid-muridnya, dengan memasukkan penyuluhan ke mata

pelajaran seperti penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan) atau biologi. Jika

orang-orang disekitar mereka mengalami kedua gejala tersebut maka mereka

dapat melaporkan kepada guru UKS dan berobat ke puskesmas atau dokter

terdekat dan segera mendapatkan penanganan sehingga prevalensi anemia dapat

dikurangi.

7.5 Reliabilitas Hasil Pemeriksaan Anemia

Pada penelitian kali ini, untuk memperoleh nilai reliabilitas (keajegan)

digunakan koefisien Kappa untuk menilai kesepakatan antara kedua hasil

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
83

pemeriksaan kadar hemoglobin darah yang diukur dengan menggunakan metode

Sianmethemoglobin (Tabel 6.17). Pemeriksaan kadar hemoglobin darah

dilakukan oleh seorang pemeriksa dan pemeriksaan dilakukan dua kali oleh

pemeriksa yang sama, pada obyek yang sama, dan pada waktu yang sama. Hasil

koefisien Kappa pada pemeriksaan ini sebesar 0,87. Koefisien Kappa sendiri

mempunyai nilai maksimum 1 (kesepakatan sempurna) dan nilai minimum 0

(tidak ada kesepakatan sama sekali). Dengan demikian koefisien Kappa sebesar

0,87 pada pemeriksaan kadar hemoglobin darah yang dilakukan oleh seorang

pemeriksa dan dilakukan sebanyak dua kali ini menunjukkan adanya kesepakatan

yang sangat baik antara pemeriksaan I dan pemeriksaan II meskipun belum

mencapai kesepakatan sempurna.

Reliabilitas hasil pemeriksaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara

lain:

1. Variabilitas alat yang dapat ditimbulkan oleh stabilitas reagen dan stabilitas

alat ukur yang digunakan.

2. Variabilitas orang yang diperiksa meliputi kondisi fisik dan psikis. Variasi ini

susah diukur terutama faktor psikis.

3. Variabilitas pemeriksa, yang termasuk variasi internal yaitu variasi yang

terjadi pada hasil pemeriksaan yang dilakukan berulang-ulang oleh orang

yang sama.

Upaya untuk mengurangi berbagai variasi diatas dapat dilakukan dengan

mengadakan standarisasi reagen dan alat ukur, latihan intensif pemeriksa,

penentuan kriteria yang jelas, penerangan kepada orang yang diperiksa,

pemeriksaan dilakukan dengan cepat (Budiarto dan Anggraeni, 2002).

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB VIII

KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian skrining anemia terhadap remaja putri pada

tahun pertama menstruasi yang dilakukan di 5 Sekolah Menengah Pertama di

Kecamatan Mulyorejo yaitu SMP Al- Huda, SMP Arief Rahman Hakim, SMP

Hidayatul Ummah, SMP Institut Indonesia, dan SMP Muhammadiyah 10 dengan

menggunakan alat skrining gejala klinis dan pemeriksaan kadar hemoglobin

darah dengan menggunakan menggunakan metode Sianmethemoglobin sebagai

gold standart maka dapat di simpulkan antara lain sebagai berikut :

1. Dari 40 responden diketahui bahwa sebagian besar bersekolah di SMP

Hidayatul Ummah (40%), sebagian besar duduk di kelas VII (60%), dan

sebagian besar berumur 13 tahun (40%).

2. Prevalensi anemia pada siswi SMP yang menstruasi kurang dari satu tahun

sebesar 27,5%, penderita terbanyak terdapat di SMP Al-Huda sebesar 36,3%,

sebagian besar duduk di kelas VII dan VIII masing-masing sebesar 45,45%,

dan sebagian besar berumur 13 tahun yaitu sebesar 45,45%.

3. Derajat anemia pada skrining ini adalah derajat anemia ringan yaitu sebesar

100%, tidak ditemukan derajat anemia sedang dan berat.

4. Validitas dari alat skrining gejala klinis skrining (dikatakan positif jika

terdapat minimal 3 gejala klinis dari 8 gejala klinis yang diamati seperti

kelopak mata pucat, lidah pucat, kuku pucat, kuku mudah rusak, berkunang-

kunang, pusing, lemah dan lelah) dibandingkan dengan gold standart

84
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
85

didapatkan nilai sensitivitas sebesar 72,73%, nilai spesifisitas sebesar 44,83%,

PPV sebesar 33,33% dan NPV sebesar 81,25%.

5. Reliabilitas hasil pemeriksaan anemia yang diukur oleh seorang pemeriksa

dari Puskesmas Mulyorejo sebanyak dua kali diperoleh koefisien Kappa 0,87

yang menunjukkan kesepakatan yang sangat baik antara pemeriksaan I dan

pemeriksaan II.

8.2 Saran

1. Kepada pihak Puskesmas Mulyorejo

a. Puskesmas setempat perlu menjalin kerjasama yang lebih mendalam

dengan pihak Sekolah Menengah Pertama dalam meningkatkan

pengetahuan dan status kesehatan siswa. Intervensi kesehatan dapat

dilakukan dengan penyuluhan mengenai gejala klinis kelopak mata pucat

+ lelah dan pemeriksaan kadar hemoglobin darah mengingat derajat

anemia yang ditemukan adalah derajat anemia ringan serta pemberian

tablet penambah darah untuk siswi yang positif menderita anemia.

b. Puskesmas dalam melakukan pemeriksaan kesehatan selanjutnya di SMP

Al- Huda, SMP Arief Rahman Hakim, SMP Hidayatul Ummah, SMP

Institut Indonesia, dan SMP Muhammadiyah 10 dapat menggunakan

gejala klinis yang diperoleh yaitu kelopak mata pucat + lelah agar dapat

menjaring lebih banyak siswi yang terkena anemia.

2. Kepada pihak Sekolah Menengah Pertama

Peningkatan pengetahuan gizi siswa melalui program UKS (Usaha

Kesehatan Sekolah) terutama perbaikan materi penyuluhan yang lebih

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
86

menekankan tentang gejala klinis yang dapat digunakan untuk

mengidentifikasi penyakit anemia yaitu kelopak mata pucat + lelah.

3. Kepada para siswi

a. Siswa harus membiasakan diri dengan pola hidup sehat seperti sarapan

pagi, olah raga teratur dan menjaga kebersihan.

b. Bila mendapatkan teman sekolah dengan gejala kelopak mata pucat +

lelah segera melaporkan ke bapak/ibu guru.

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S., 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Anonim, 2007/ Riskesdas 2007. http : // www. litbang .depkes .go.id /Simnas 4 /
Day2 / MORTALITAS.pdf (Sitasi 22 Januari 2009)

Anonim, 2008/ Anemia. http: // 74.125.153.132/ search? q= cache :HUO nw C8R


va EJ :bumikupijak .com/index2. php%3Foption%3 Dcom_content% 26
dopdf%3D1%26id%3D59+Depkes+RI+1999,+anemia&cd=5&hl=id&ct=c
lnk&gl=id&client=firefox-a (sitasi 13 Mei 2009)

Anonim, 2008/ Kamus Glosarium. http://pusatbahasa.diknas.go.id/glosarium/


(Sitasi 18 Januari 2009)

Arisman, M.B., 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta

Astuti, E.W., 2001. Anemia Defisiensi Zat Besi dan Prestasi Belajar Siswa SLTP
Wisma Surya Surabaya. Skripsi. Surabaya, Universitas Airlangga

Bakta, 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Jakarta

Basuki, H., Chatarina, U.W., 2002/ Peranan Pola Makan terhadap Anemia Gizi
pada Remaja Putri Pondok Pesantren di Surabaya. http: //
www.adln.lib.unair .ac.id/go.php?id=jiptunair-gdl-res-2004-wahyuni2c-
876- anemia&PHPSE SSID=acb136f94b88ddf2ae4b9b36bdf ab975 (sitasi
12 Desember 2008)

Budiarto, E., Anggraeni, D., 2002. Pengantar Epidemiologi. Penerbit Buku


Kedokteran EGC. Jakarta

Concrad, 2003/ Anemia Defisiensi Besi. http://www.bluefame.com/lofiversion


/index. php/t82117.html (sitasi 28 Oktober 2008)

87
Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
88

Depkes. R.I., 1999. Pedoman Pemberian Zat Besi dan Sirup Besi bagi Petugas.
Jakarta; Direktorat Bina Gizi

Depkes. R.I., 2003. Pedoman Penanggulangan Anemia Besi pada Wanita Usia
Subur. Jakarta; Direktorat Bina Gizi

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Indonesia, 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat.
Rajagrafindo Persada. Jakarta

Dinkes Propinsi Jawa Timur, 2001. Pencegahan dan Penanggulangan Anemia


Gizi bagi Petugas Kesehatan. Proyek Perbaikan Gizi

Djauzi, S., 2007/ Remaja Kurang Darah. http: // www2.kompas.com/kompas-


cetak /0711/18/konsultasi/3989610.htm (sitasi 18 Oktober 2008)

Dorland, 1998. Kamus Saku Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Jakarta

Faustinus, W., 1994. Manual Diagnostik Fisik pada Anak. Bina Rupa Aksara.
Jakarta

Firman, 2008/ Angka Prevalensi Anemia pada Balita Tertinggi. http: //


202.158.39.26 /pdpers/?show=detailnews&kode=4793&tbl=cakrawala
(sitasi 12 Desember 2008)

Gandasoebrata, 2001. Penentuan Laboratorium Klinik. Dian Rakyat. Jakarta.

Gunarsa, S., 2003. Psikologi Perkembangan anak dan remaja. PT BPK Gunung
Mulia. Jakarta

Indarti, J., 2008/ Anemia 'Mengintai' Wanita. http://www.diskes.jabarprov.


go.id/index. php?mod=pubArtikel&idMenuKiri=10&idArtikel=58 (sitasi
20 Mei 2009)

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
89

Krivien, I., Rageline, L., 2006/ The Prevalence of Anemia among School
children in Siauliai Region of Lithuania. http: // 74.125.153. 132/ search
?q=cache :juLnN2RH6n8J :images. katalogas. lt/maleidykla /Act61/ Act
Med_056_059.pdf+journal,+Symptoms+of+anemia+in+young+girls&cd=5
&hl=id&ct=clnk&gl=id (sitasi 10 Mei 2009)

Kusumaningtyas, W.G., 2006. Skrining Anemia pada Siswa Sekolah Dasar Studi
Kasus di Sekolah Dasar Negeri Mulyorejo II Surabaya. Skripsi. Surabaya,
Universitas Airlangga

Leenstra, T., 2004/ Prevalence and Severity of Anemia and Iron Deficiency:
Cross –Sectional Studies in Adolescent Schoolgirls in Western Kenya.
http://www.nature.com/ejcn/journal/v58/n4/full/1601865a.html (sitasi 10
Mei 2009)

Llewellyn, D., Jones, 2005. Setiap Wanita. Delapratasa Publishing. Indonesia

Murti, B., 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta

Murti, B., 1997. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta

Nadhiroh, S.R., 2005. Perbedaan Prevalensi Anemi dan Tingkat Kesegaran


Jasmani antara Santriwati di Pondok Pesantren Pesisir dan Non Pesisir
(Studi di PP Al Amanah Al Fathimiyah Tambak Beras Jombang dan PP
Mazra'atul Ulum Paciran Lamongan). Tesis. Surabaya ; Universitas
Airlangga

Nazir, M., 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta

Notoatmodjo, S., 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta

Pillitteri, A., 2002. Buku Saku Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
90

Rachmawati, E., 2007/ Kurang Darah Anak Bisa Memble. http: // www2.kompas
.com/kompas-cetak/0703/30/kesehatan/3416921.htm (sitasi 28 Oktober
2008)

Ramali, A., Pamoentjak disempurnakan oleh Laksman, H., 2003. Kamus


Kedokteran Arti dan Keterangan Istilah. Djambatan. Jakarta

Pidada, R., 2005. Sistem Reproduksi. Jurusan Biologi FMIPA UNAIR. Surabaya

Sediaoetama, A.D., 1999. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Dian Rakyat.
Jakarta

Siswono, 2008/ 30 Persen Penduduk Dunia Menderita Anemia. http: // www.gizi.


net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1200971406,90904. (sitasi 18
Oktober 2008)

Suhardjo, C., Kusharto, M., 1999. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Kanisius.


Yogyakarta

Supariasa, I., 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta

Suparyono, 1998. Buku Petunjuk Pelaksanaan Program Kecacingan dan Anemia


bagi Anak Usia Sekolah. Kemitraan TP UKS Jawa Timur dengan PT
Wigindo AG. Surabaya

Susanti, S., 2004. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada
Remaja Putri. Skripsi. Surabaya, Universitas Airlangga

Subeno, B., 2007/ Anemia Defisiensi Besi pada Anak Sekolah. http: // www.
suaramerdeka.com/harian/0706/25/ragam01.htm (sitasi 28 Oktober 2008)

Syahrul, F., Hidajah, A., 2002. Dasar Epidemiologi. Bagian Epidemiologi FKM
UNAIR. Surabaya

Tan, A., 1996. Wanita dan Nutrisi. Bumi Aksara. Jakarta

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga
91

Tarigan, C., 2005. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Anemia


pada remaja putri studi pada remaja putri di SMUN 2 Ruteng Kabupaten
Manggarai Propinsi Nusa Tenggara Timur. Skripsi. Surabaya, Universitas
Airlangga

Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1996. Kamus


Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta

Untoro, R., 2005/ Anemia Gizi Anak Salah Satu Masalah Gizi Utama Di
Indonesia.http: //202.155.5.44/ index.php ?option=news &task=viewarticle
&sid=1100&Itemid=2 (sitasi 15 Oktober 2008)

Walujani, A., 2001/ Anemia Ancam Kualitas Sumber Daya Manusia. http: //
www2.kompas.com/kompas-cetak/0102/01/IPTEK/anem08.htm (sitasi 18
Oktober 2008 )

Wirjatmadi, B., Andriani, M., 2006. Penentuan Status Gizi. Bagian Gizi FKM
UNAIR. Surabaya

Wirjatmadi, B., Andriani, M., 2005. Pengantar Gizi Masyarakat. Bagian Gizi
FKM UNAIR. Surabaya

Skripsi Skrining anemia..... Aprilia Wahyu H.