Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Cedera Kepala

1.1 Definisi Cedera Kepala

Cedera kepala atau Trauma Kepala merupakan trauma yang

mengenai otak yang dapat mengakibatkan perubahan fisik

intelektual, emosional, dan sosial. Trauma tenaga dari luar yang

mengakibatkan berkurang atau tergangguanya status kesadaran dan

perubahan kemampuan kognitif, fungsi fisik dan emosional (Judha

& Rahil, 2017).

Cedera kepala atau Trauma kepala yaitu adanya deformasi berupa

penyimpanan atau penyimpanan garis pada tulang tengkorak,

percepatan dan perlambatan yang merupakan perubahan bentuk di

pengaruhi oleh perubahan dan percepatan faktor dan penurunan

kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan

juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan

( Rendy, 2017).
1.2 Klasifikasi Cedera Kepala

Tabel 2.1 Klasifikasi Cedera kepala berdasarkan kerusakan jaringan otak

No Jenis Pengertian

1 Komosio Serebri Gangguan fungsi neurologi

tanpa adanya kerusakan otak

yang terjadi hilangnya

kesadaran kurang 10 menit atau

tanpa disertai amnesia

retrograde, mual, muntah

2 Kontusio serebri Gangguan fungsi neurologi

disertai kerusakan jaringan otak

tetapi kontinuitas otak masih

utuh, hilangnya kesadaran lebih

dari 10 menit

3 Laserio serebri Gangguan fungsi neurologi

disertai kerusakan otak yang

berat dengan fraktur tengkorak

terbuka

(Sjahrir, 2017 )
Tabel 2.2 Klasifikasi Trauma Kepala berdasarkan tingkat keparahan

Ringan Tidak ada Fraktur tengkorak, tidak ada kontusio

serebri hematom, GCS antara 13-15 serta

kehilangan kesadaran kurang dari 30 menit

Sedang Kehilangan kesadaran lebih dari 30 menit,

muntah, GCS antara 9-12 dan dapat mengalami

fraktur pada tengkorak

Berat GCS 3 -8 dan hilang kesadaran lebih dari 24 jam

serta adanya kontusio serebri dan laserasi

(Saatman dkk, 2016)

Tabel 2.3 Klasifikasi Trauma kepala berdasarkan jenisnya

Terbuka Menyebabkan fraktur pada ujung tengkorak

jaringan otak

Tertutup Seperti keluhan gegar otak ringan dan edema

serebral yang luas

(George, 2016).

1.3 Etiologi (Yuniarti, 2017)

1) Trauma Tajam

Trauma oleh benda tajam menyebabkan trauma setempat dan menimbulkan

trauma local, kerusakan lokal meliputi Contusio serebral, hematom

serebral, kerusakan otak sekunder yang disebabkan perluasan masa lesi,

pergeseran otak atau hernia.


2) Trauma Tumpul

Trauma oleh benda tumpul dan menyebabkan trauma menyeluruh

kerusakannya menyebar secara luas dan terjadi dalam 4 bentuk: cedera

akson, kerusakan otak hipoksia, pembekakan otak menyebar, hemoragi

kecil multiple pada otak koma terjadi karena cedera menyebar pada

hemisfer serebral, batang otak atau kedua - duanya. Akibat trauma

tergantung pada :

a) Kekuatan benturan

b) Akselerasi dan deselerasi

c) Cup dan kotra cup

1.4 Patifisiologi dan Patway Cedera Kepala

Adannya trauma dapat mengakibatkan gangguan atau kerusakan

struktur misalnya kerusakan pada perenkim otak, kerusakan pembuluh darah,

pendarahan edema dan gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosine

tripospat dalam mitokondria, perubahan permebilitas vaskuler.

Pendarahan otak menimbulkan hematom, misalnya pada epidural

hematom yaitu berkumpulnya darah antara lapisan periosteum, tengkorak

dengan durameter, subdural hematom di akibatkan berkumpulmya darah pada

ruang antara dua mater dengan subarahmoid dan intraserebral hematom adalah

berkumpulnya darah pada jaringan. (Kusuma & Nurarif, 2015)


1.5 Manifestasi Klinis (Waty& Lusiana, 2015)

1) Pendarahan epidural / Hematoma Epidural

a) Suatu akumulasi darah pada ruang antara tulang tengkorak bagian dalam

dan meningkat paling luar.

b) Gejala penurunan kesadaran ringan, gangguan neurologis, kacau mental

sampai koma.

c) Peningkatan tekanan intrakranial yang mengakibatkan gangguan

pernafasan, bradikardi, penurunan TTV.

d) Herniasi otak yang menimbulkan dilatasi pupil dan reaksi cahaya hilang,

isokor dan anisokor, ptosis.

2) Hematoma subduralakumulasi darah antara durameter dan araknoid karena

robekan dengan gejala sakit latergi dan kejang.

3) Hematoma subduralakut dengan gejala 24 - 48 jam setelah cedera, sub akut

gejala terjadi 2 hari sampai 2 minggu, kronis 2 minggu sampai dengan 3 – 4

bulan setalah trauma.

4) Hematoma intracranial

a) Penggumpalan darah lebih dari 25 ml dalam perenkim otak.

b) Penyebab fraktur depresi tulang tengkorak, trauma penetrasi peluru,

gerakan akselerasi dan deselerasi secara tiba-tiba.

5) Fraktur tengkorak

a) Fraktur liner melibatkan os temporal dan parietal, jika garis fraktur

meluas kearah orbital/ sinus paranasal.


b) Fraktur basiler fraktur pada dasar tengkorak Biasanya menimbulkan

cairan Serebrospinal (CSS) dengan sinus dan memungkinkan bakteri

masuk.

1.7 Pemeriksaan penunjang (Herdman, 2015) :

1) Pemeriksaan diagnostic

a) CT scan.

b) MRI dengan / tanpa menggunakan kontras.

c) Angiografi serebral menunjukan kelainan sirkulasi serebral.

d) EEG memperhatikan keadaan atau berkembangnya gelombang

patologis.

e) BAER menetukan fungsi korteks dan batang otak.

f) PET menunjukan perubahan aktivitas metabolisme pada otak.

2. Pemeriksaan laboraorium (Mutaqqin, 2008)

a) AGD (PO2,PH,HCO3) untuk mengkaji keadekutan ventiliasi agar

AGD dalam rentang normal untuk menjamin aliran darah serebral

adekuat atau dapat juga untuk melihat masalah oksigensasi yang dapat

meningkatkan tekanan intrakranial.

b) Elektrolit serum

c) Hematologi meliputi leukosit, HB, albumin, globulin, Protein serum

d) Cairan serebrospinal (CSS) untuk menentukan kemungkinan adanya

perdarahan subaracnoid (warna, komposisi, Tekanan).

e) Pemeriksaan tolsikologi untuk mendeteksi obat yang mengakibatkan

penurunan kesadaran.
f) Kadar antikonvulsam darah untuk mengetahui tingkat terapi yang

cukup efektif untuk mengatasi kejang. (Herdman 2014).

1.8 Komplikasi Trauma Kepala (Herdman, 2014 )

1) Defisit neurologi local

2) Kejang

3) Pnemonia

4) Perdarahan gastrointestinal

5) Distrimia jantung

6) Syndrome of inappropriate secretion of antidiuretic hormone.

7) Hidrosepalus

8) Kerusakan control respirasi

9) Inkontinesiabladder dan bowel

1.9 Penatalaksaan Trauma Kepala (Miranda, 2014 )

1) Penatalaksaan umum

a) Monitor respirasi

b) Monitor tekanan intrakranial

c) Atasi syok bila ada

d) Kontrol tanda vital

e) Keseimbangan cairan dan elektrolit

2) Operasi

Dilakukan untuk mengeluarkan darah pada intraserebral, debridemen

luka, Kranioplasti, Prosedur shunting pada hidrocepalus, kraniotomi.

3) Pengobatan
a) Diuretik untuk mengurangi edema serebral misalnya monitol 20 %,

furidemid (lasik).

b) Antikonvulson untuk menghentikan kejang misalnya dengan dilantin,

tegretol, valium.

c) Kortokosteroid untuk menghambat pembentukan edema misalnya

deksametason.

d) Antagoris hisyamin untuk mencegah terjadinya iritasi lambung karena

hipersekresi akibat efek trauma kepala misalnya dengan cemetidin,

ranitifine.

e) Antibiotik jika terjadi luka yang besar.

1.10 Penanganan Pertama untuk kasus Cedera Kepala

Pertolongan pertama dengan trauma kepala yaitu mengikuti standart yang

telah ditetapkan dalam ATLS yang meliputi anamnesia sampai pemeriksaan

fisik secara seksama dan stimulant pemeriksaan fisik meliputi airway,

breathing, circulasi, disability, (ATLS 2010). Pada pemeriksaan airway

usahakan jalan nafas stabil, dengan cara kelapa miring, buka mulut, bersihkan

muntahan darah, adanya benda asing. Perhatikan tulang leher, imobilisasi,

cegah gerakan hiperekstensi, hiperfleksi ataupun rotasi. Semua penderita

trauma kepala yang tidak sadar harus di anggap disertai cedera vertebra

cervical sampai terbukti tidak adanya trauma cervical pasang collar barce.

Jika sudah stabil tentukan saturasi oksigen minimal saturasinya di atas 90%,

jika tidak usahakan dilakukan intubasi dan support pernafasan. Setalah jalan

nafas sudah terbebas dapat memungkinkan pernafasannya diperhatikan

frekuensinya normal antara 16-18x/menit, dengarkan suara napas bersih, jika


tidak ada nafas dilakukan nafas buatan, kalau bisa lakukan monitor terhadap

gas darah dan pertahankan PCO2 antara 28-35 mmg karena jika lebih dari 35

mmhg kan terjadinya vasodilatasi yang berakibat terjadinya edema serebri.

1.11 Diagnosa Keparawatan

a. Ketidakefektifan perfusi jaringan (spesifik serebral) b.d aliran arteri dan


atau vena terputus,
b. Nyeri akut b.d dengan agen injuri fisik,
c. Defisit self care b.d de-ngan kelelahan,

INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan dan kriteria


No Intervensi
Keperawatan hasil
1 Ketidakefektifan NOC: Monitor Tekanan Intra Kranial
perfusi jaringan1. Status sirkulasi 1. Catat perubahan respon klien
(spesifik serebral)2. Perfusi jaringan terhadap stimulus / rangsangan
b.d aliran arteri dan serebral 2. Monitor TIK klien dan respon
atau vena terputus. neurologis terhadap aktivitas
Setelah dilakukan 3. Monitor intake dan output
tindakan keperawatan 4. Pasang restrain, jika perlu
selama ….x 24 jam, 5. Monitor suhu dan angka leukosit
klien mampu men- 6. Kaji adanya kaku kuduk
capai : 7. Kelola pemberian antibiotik
1. Status sirkulasi 8. Berikan posisi dengan kepala
dengan indikator: elevasi 30-40O dengan leher dalam
· Tekanan darah sis- posisi netral
tolik dan diastolik 9. Minimalkan stimulus dari lingkungan
dalam rentang yang 10. Beri jarak antar tindakan
diharapkan keperawatan untuk meminimalkan
· Tidak ada ortostatik peningkatan TIK
hipotensi 11. Kelola obat obat untuk
· Tidak ada tanda tan- mempertahankan TIK dalam batas
da PTIK spesifik
2. Perfusi jaringan
serebral, dengan Monitoring Neurologis (2620)
indicator : 1. Monitor ukuran, kesimetrisan, reaksi
· Klien mampu berko- dan bentuk pupil
munikasi dengan je-las 2. Monitor tingkat kesadaran klien
dan sesuai ke- 3. Monitor tanda-tanda vital
mampuan 4. Monitor keluhan nyeri kepala, mual,
· Klien menunjukkan dan muntah
perhatian, konsen- 5. Monitor respon klien terhadap
trasi, dan orientasi pengobatan
· Klien mampu mem- 6. Hindari aktivitas jika TIK meningkat
proses informasi 7. Observasi kondisi fisik klien
· Klien mampu mem-
buat keputusan de- Terapi Oksigen (3320)
ngan benar 1. Bersihkan jalan nafas dari secret
· Tingkat kesadaran 2. Pertahankan jalan nafas tetap efektif
klien membaik 3. Berikan oksigen sesuai instruksi
4. Monitor aliran oksigen, kanul
oksigen, dan humidifier
5. Beri penjelasan kepada klien tentang
pentingnya pemberian oksigen
6. Observasi tanda-tanda hipoventilasi
7. Monitor respon klien terhadap
pemberian oksigen
8. 8Anjurkan klien untuk tetap memakai
oksigen selama aktivitas dan tidur

2 Nyeri akut b.d NOC: Manajemen nyeri (1400)


dengan agen injuri1. Nyeri terkontrol 1. Kaji keluhan nyeri, lokasi, karakteristik,
fisik. 2. Tingkat Nyeri onset/durasi, frekuensi, kualitas, dan
3. Tingkat kenyamanan beratnya nyeri.
2. Observasi respon ketidaknyamanan
Setelah dilakukan secara verbal dan non verbal.
asuhan keperawatan3. Pastikan klien menerima perawatan
selama …. x 24 jam, analgetik dg tepat.
klien dapat : 4. Gunakan strategi komunikasi yang
1. Mengontrol nyeri, de- efektif untuk mengetahui respon
ngan indikator: penerimaan klien terhadap nyeri.
- Mengenal faktor-5. Evaluasi keefektifan penggunaan
faktor penyebab kontrol nyeri
- Mengenal onset6. Monitoring perubahan nyeri baik aktual
nyeri maupun potensial.
- Tindakan pertolong-7. Sediakan lingkungan yang nyaman.
an non farmakologi 8. Kurangi faktor-faktor yang dapat
- Menggunakan anal- menambah ungkapan nyeri.
getik 9. Ajarkan penggunaan tehnik relaksasi
- Melaporkan gejala- sebelum atau sesudah nyeri
gejala nyeri kepada tim berlangsung.
kesehatan. 10. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
- Nyeri terkontrol untuk memilih tindakan selain obat
untuk meringankan nyeri.
2. Menunjukkan tingkat11. Tingkatkan istirahat yang adekuat
nyeri, dengan untuk meringankan nyeri.
indikator:
- Melaporkan nyeri Manajemen pengobatan (2380)
- Frekuensi nyeri 1. Tentukan obat yang dibutuhkan klien
- Lamanya episode dan cara mengelola sesuai dengan
nyeri anjuran/ dosis.
- Ekspresi nyeri; wa-2. Monitor efek teraupetik dari
jah pengobatan.
- Perubahan3. Monitor tanda, gejala dan efek samping
respirasi rate obat.
- Perubahan tekanan4. Monitor interaksi obat.
darah 5. Ajarkan pada klien / keluarga cara
- Kehilangan nafsu mengatasi efek samping pengobatan.
makan 6. Jelaskan manfaat pengobatan yg dapat
mempengaruhi gaya hidup klien.
3. Tingkat kenyamanan,
dengan indicator : Pengelolaan analgetik (2210)
- Klien melaporkan1. Periksa perintah medis tentang obat,
kebutuhan tidur dan dosis & frekuensi obat analgetik.
istirahat tercukupi 2. Periksa riwayat alergi klien.
3. Pilih obat berdasarkan tipe dan
beratnya nyeri.
4. Pilih cara pemberian IV atau IM untuk
pengobatan, jika mungkin.
5. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgetik.
6. Kelola jadwal pemberian analgetik
yang sesuai.
7. Evaluasi efektifitas dosis analgetik,
observasi tanda dan gejala efek
samping, misal depresi pernafasan,
mual dan muntah, mulut kering, &
konstipasi.
8. Kolaborasi dgn dokter untuk obat,
dosis & cara pemberian yg
diindikasikan.
9. Tentukan lokasi nyeri, karakteristik,
kualitas, dan keparahan sebelum
pengobatan.
10. Berikan obat dengan prinsip 5 benar
11. Dokumentasikan respon dari analgetik
dan efek yang tidak diinginkan
3 Defisit self careNOC:
b.d
de-ngan kelelahan,
Perawatan diri : NIC: Membantu perawatan diri klien
nyeri. (mandi, Makan Mandi dan toiletting
Toiletting, berpakaian) Aktifitas:
1. Tempatkan alat-alat mandi di tempat
Setelah diberi motivasi yang mudah dikenali dan mudah
perawatan selama dijangkau klien
….x24 jam, ps2. Libatkan klien dan dampingi
mengerti cara3. Berikan bantuan selama klien masih
memenuhi ADL secara mampu mengerjakan sendiri
bertahap sesuai NIC: ADL Berpakaian
kemam-puan, dengan
Aktifitas:
kriteria : 1. Informasikan pada klien dalam memilih
· Mengerti secara pakaian selama perawatan
seder-hana cara2. Sediakan pakaian di tempat yang
mandi, makan, mudah dijangkau
toileting, dan3. Bantu berpakaian yang sesuai
berpakaian serta mau4. Jaga privcy klien
mencoba se-cara5. Berikan pakaian pribadi yg digemari
aman tanpa cemas dan sesuai
· Klien mau
berpartisipasi dengan NIC: ADL Makan
senang hati tanpa1. Anjurkan duduk dan berdo’a bersama
keluhan dalam teman
memenuhi ADL
2. Dampingi saat makan
3. Bantu jika klien belum mampu dan beri
contoh
4. Beri rasa nyaman saat makan
1.
DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer. 2016. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius

Brunner & Suddart . 2017. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

Carolyn M. Hudak. 2016. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume II. Alih
Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC

Carpenito, L.J. 2016. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan dan Masalah
Kolaborasi. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Corwin, E.J. 2018. Handbook of Pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC

Diagnosa NANDA (NIC & NOC) Disertai Dengan Dischange Planning. 2017-2018. Jakarta:
EGC

Price, S.A. & Wilson, L.M. 2018. Pathophysiology : Clinical Concept of Disease Processes. 4th
Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC

Sandra M. Nettina. 2018. Pedoman Praktik Keperawatan, Jakarta: EGC

Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. 2018. Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical – Surgical
Nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC

Suyono, S, et al. 2017. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI