Anda di halaman 1dari 26

PENGELOLAAN KEPERAWATAN HIPERTERMI PADA ANAK DENGAN DENGUE

HAEMORRHAGIC FEVER (DHF) DI RSUD BATANG

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan

Ni’ma Salisa
NIM. P1337420317104

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN PEKALONGAN


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019
PENGELOLAAN KEPERAWATAN HIPERTERMI PADA ANAK DENGAN DENGUE
HAEMORRHAGIC FEVER (DHF) DI RSUD BATANG

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH


Disusun Untuk Memenuhi sebagai Syarat Mata Kulian Karya Tulis Ilmiah Pada Program Studi
DIII Keperawatan Pekalongan

Ni’ma Salisa
NIM. P1337420317104

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN PEKALONGAN


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019
PENGELOLAAN KEPERAWATAN HIPERTERMI PADA ANAK DENGAN DENGUE
HAEMORRHAGIC FEVER (DHF) DI RSUD BATANG

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH


Disusun Untuk Memenuhi sebagai Syarat Mata Kulian Karya Tulis Ilmiah Pada Program Studi
DIII Keperawatan Pekalongan

Ni’ma Salisa
NIM. P1337420317104

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN PEKALONGAN


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019
PENELITIAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Ni’ma Salisa

NIM : P1337420317104

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa KTI yang saya tulis ini adalah merupakan hasil karya saya
sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai
hasil tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan laporan pengelolaan kasus ini adalah hasil
jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

Pekalongan,…………....

Yang membuat pernyataan,

Tanda tangan

Ni;ma Salisa

NIM. P1337420317104
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal karya tulis ilmiah oleh Ni’ma Salisa, NIM. P1337420317104, dengan judul Pengelolaan
Keperawatan Hipertermi pasa Anak dengan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) di RSUD Batang
ini telah diperiksa dan disetujui untuk diuji.

Pekalongan,

Pembimbing I Pembimbing II

Hj. Rr, Sri Sedjati, SST, M. Kes Mardi Hartono, S.Kep, Ns, M.Kes

NIP. NIP.

Tanggal : Tanggal :
LEMBAR PENGESAHAN

Proposal Karya Tulis Ilmiah oleh Ni’ma Salisa, NIM. P1337420317104, dengan judul
Pengelolaan Keperawatan Hipertermi pada Anak dengan Dengue Haemorrhagic Fever
(DHF) di RSUD Batang ini telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal….

Dewan penguji

Tri Anonim Ketua (……………………)

NIP.

Hj. Rr, Sri Sedjati, SST, M. Kes Anggota (……………………)

NIP.

Mardi Hartono, Skep. Ns. M. Kes Anggota (…………………….)

NIP. 19720325 199803 1 003

Mengetahui,

Ketua Program Studi DIII Keperawatan Pekalongan

Ketua,

Hj. Hartati, S.Kep. Ns. M. Kes

NIP. 19681007 198803 2 001


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, dengan memanjatkan segala puji kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat, taufiq,
dan hidayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah tentang
Pengelolaan Keperawatan Hipertermi pada Anak dengan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) di
RSUD Batang. Sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.

Penulis menyadari bahwa kegiatan penulisan ini dapat diselesaikan berkat adanya dukungan dari
berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan
terimakasih kepada Direktur Politeknik Kesehatan Semarang, Direktur RSUD Batang, dank lien
yang dengan sukarela berpartisipasi dalam asuhan keperawatan.

Peneliti berharap semoga hasil penulisan ini dapat memberikan manfaat khusunya untuk
pengelolaan klien dengan masalah hipertermi karena dengue haemorrhagic fever (DHF). Penulis
menyadari bahwa Proposal Karya Tulis Ilmiah masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
masukan dan kritik untuk perbaikan penulisan karya ilmiah pada masa mendatang sangat penulis
harapkan.

Pekalongan

Ni’ma Salisa

NIM. P1337420317104
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN PENULIS

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


B. Tujuan Penulisan
C. Manfaat Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar DHF
1. Pengertian
2. Klasifikasi
3. Etiologi
4. Manifestasi Klinis
5. Patofisiologi
6. Pathways
7. Komplikasi
B. Konsep Dasar Hipertermi
1. Pengertian
2. Proses Terjadinya Hipertermi
3. Batasan Karakteristik
4. Faktor – factor yang berhubungan
C. Konsep Asuhan Keperawatan Hipertermi dengan DHF
1. Pengkajian
2. Diagnosa Keperawatan
3. Perencanaan Keperawatan
4. Implementasi
5. Evaluasi
D. Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
1. Pengertian
2. Faktor – factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
3. Teori Perkembangan menurut…
BAB III METODE PENULISAN
A. Rancangan Penelitian
B. Subjek Penelitian
C. Tempat dan waktu
D. Definisi Operasioanl
E. Teknik Pengumpulan Data
F. Teknik Analisis Data
G. Etika Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) di temukan di seluruh dunia,
terutama di negara-negara tropic dan sub tropic baik sebagai penyakit endemic maupun
empidemik. Hasil epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit DHF sebagian besar
menyerang anak usia <15 tahun, namun dapat juga menyerang orang dewasa. Dengue
biasanya terjadi pada musim penghujan, dimana banyak genangan air yang dapat
menyebabkan jentik-jentik nyamuk berkembang biak dan hidup. Penularan penyakit DHF
dapat menular melalui vektor gigitan nyamuk aedes aeygepti.
Demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit
infeksi yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) dengan manifestasi klinis demam
selama 2-7 hari, nyeri otot dan/nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia dan ditesis hemoragik. Sindrom renjatan dengue (dengue shock
syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok. (Sudoyo
Aru, dkk, 2009 dalam buku NANDA NIC-NOC, 2015).
Nyamuk yang paling cepat berkembang di dunia ini telah menyebabkan hampir 390
juta orang terinfeksi setiap tahunnya. Beberapa jenis nyamuk menularkan atau
menyebarkan virus dengue. Virus dengue ditemukan di daerah tropic dan sub tropic
kebanyakan di wilayah perkotaan dan pinggiran kota di dunia ini. (Kemenkes RI, 2017).
Menurut data Word Health Organization (2017). Asia pacific menanggung 75
persen dari beban dengue di dunia antara tahun 2004 dan 2010. Dari data tersebut juga
menetapkan bahwa Indonesia dilaporkan sebagai negara ke-2 dengan kasus DBD terbesar
diantara 30 negara di wilayah endemis. Pada tahun 2017 jumlah kasus DBD yang
dilaporkan sebanyak 68.407 kasus dengan jumlah kasus meninggal sebanyak 493 orang
dan IR 26,12 per 100.000 penduduk, dibandingkan tahun 2016 dengan kasus sebanyak
204.171 serta IR 78.85 per 100.000 penduduk. Terjadi penurunan kasus pada tahun 2017.
(Kemenkes RI, 2017). Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi
Jawa tengah, terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD. Angka
kesakitan/Insiden Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018 sebesar 10,2
per 100.000 penduduk, mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2017 yaitu 21,68
per 100.000 penduduk. Hal ini berarti bahwa IR DBD di Jawa Tengah lebih rendah dari
target nasional (<51/.100.000) penduduk dan target Renstra (<46/100.000 ) penduduk.
(Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2018).
Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Kabupaten Batang Tahun 2017 diperoleh
data bahwa jumlah kasus DBD di Kabupaten Batang tahun 2017 sebesar 52
kasus,menurun bila dibandingkan dengan tahun 2016 sebesar 688 kasus. Angka kesakitan
(insiden Rate) DBD tahun 2017 sebesar 6,88 per 100.000 penduduk, terjadi penurunan
bila dibandingkan tahun 2016 sebesar 91,77 per 100.000 penduduk, angka ini dibawah
Jawa Tengah tahun 2017 sebesar 21,7 per 100.000 penduduk. Kasus penderita demam
berdarah di Kabupaten Batang terus meningkat. Berdasarkan data dari dinkes Batang pada
bulan Januari sudah ditemukan 31 kasus penderita DBD dengan satu orang meninggal.
Hingga awal Februari ini RSUD Kalisari Batang, penderita DBD yang dirawat sudah
mencapai 41 orang dan mayoritas anak-anak. Jadi jumlah penderita DBD dari Januari
hingga Febriari tercatat sudah ada 41 orang. Anak-anak 34 orang sisanya 7 orang dewasa.
Kasi Pelayanan RSUD Kalisari Batang Nur Hidayati dalam
(https://jateng.tribunnews.com/2019/02/08/pasien-dbd-di-rsud-batang-meningkat-
mayoritas-anak-anak). Diakses pada tanggal 12 Agustus 2019 pukul 20:30 WIB.
Masuknya virus dengue pada seseorang, dapat menimbulkan demam mendadak dan
tinggi (39˚C-40˚C). Biasanya demam berlangsung selama 2-7 hari, Demam disertai
dengan gejala lain yang sering ditemukan seperti muka kemerahan, anoreksia, dan
artralgia. Gejala lain dapat berupa nyeri epigastric, mual, muntah,nyeri di daerah subkostal
kanan atau nyeri abdomen difus, kadang disertai sakit tenggorok, dan dapat juga disertai
dengan kejang demam jika demam mencapai suhu 40˚C. Masalah utama yang sering
membuat pasien tidak nyaman adalah hipertermi. (Sri Rejeki Hadinegoro, 2014).
Hipertermi merupakan peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal. (Amin Huda
Nurarif & Hardi Kusuma, 2015).
Berdasarkan teori, dalam penanganan hipertermi secara farmakologis yaitu dengan
pemberian antipiretik seperti paracetamol dan antibiotic untuk mengatasi infeksi bakteri.
Sedangkan secara non farmakologisnya yaitu dengan mengobservasi TTV pasien tiap 2
jam, menganjurkan pasien untuk menggunakan pakaian tipis untuk menyerap keringat,
menganjurkan pasien untuk banyak minum air putih sesuai dengan kebutuhan cairan
sehari-hari, dan memberikan kompres hangat pada lipatan paha dan aksila. (Amin Huda
Nurarif dan Hardi kusuma, 2015). Pemberian kompres hangat sangat efektif terutama
setelah pemberian obat. Jangan berikan kompres dingin karena akan menyebabkan
keadaan menggigil dan meningkatkan kembali suhu inti. (Hermayudi & Ayu Putri Ariani,
2017).
Menurut pengalaman penulis saat praktik klinik keperawatan di Rumah Sakit,
dalam penanganan hipertermi pada pasien DBD perawat lebih cenderung ke tindakan
farmakologis yaitu dengan pemberian antipiretik. Dan kurang memperhatikan tindakan-
tindakan non farmakologis. Berdasarkan permasalahan diatas, penulis tertarik untuk
mengambil studi kasus “Pengelolaan Keperawatan Hipertermi pada Pasien Anak dengan
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)”.

B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Menggambarkan tentang cara pengelolaan keperawatan hipertermi pada pasien anak
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian masalah keperawatan hipertermi pada pasien anak
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
b. Menyusun masalah keperawatan hipertermi pada pasien anak Dengue
Haemorrhagic Fever (DHF).
c. Membuat perencanaan untuk mengatasi hipertermi pada pasien anak Dengue
Haemorrhagic Fever (DHF).
d. Melakukan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah
hipertermi pada pasien anak Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
e. Melakukan evaluasi masalah keperawatan hipertermi pada pasien anak Dengue
Haemorrhagic Fever (DHF).
f. Melakukan pembahasan hasil pengkajian, masalah keperawatan, perencanaan,
tindakan yang ditekankan pada prosedur keperawatan, SOP, dan evaluasi dari
tindakan yang dilakukan untuk mengatasi hipertermi pada pasien anak dengan
Dengue Haemorrhagic fever (DHF).

C. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada
orang lain untuk meningkatkan pengetahuan terutama dalam pengelolaan
keperawatan hipertermi pada pasien anak dengan Dengue Haemorrhagic Fever
(DHF).
2. Manfaat Praktis
a. Peningkatan Pelayanan Kesehatan
Hasil Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dalam pengelolaan keperawatan
khusunya bagi pasien anak dengan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).

a. Peningkatan Kesehatan Masyarakat


Hasil Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
peningkatan status kesehatan khusunya bagi pasien anak dengan Dengue
Haemorrhagic Fever (DHF).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)


1. Definisi
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti.
(Suriadi dan Rita Yuliani, 2010).
Penyakit DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan
ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty, yang ditandai dengan demam mendadak 2-7
hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, perdarahan, lebam / ruam. Kadang-kadang
mimisan, bercak darah, muntah darah, dan kesadaran menurun atau shock (Depkes RI,
2000 dalam buku KMB 2, 2015).
Menurut Hermayudi (2017) Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah jenis
penyakit demam akut yang disebabkan oleh salah satu dari serotipe virus lagi dengan
genus flavivirus yang dikenal dengan nama Virus Dengue yang ditandai dengan
demam berdarah 2-7 hari tanpa sebab yang jelas, lemas, lesu, gelisah, nyeri ulu hati
disertai tanpa perdarahan di kulit berupa bitnik perdarahan.

2. Klasifikasi
Menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2010), Derajat Dengue Haemorrhagic Fever
(DHF) ada 4, diantaranya yaitu :
a. Derajat 1 : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji
turniket positif, Trombositopenia dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II : Derajat 1 disertai perdarahan spontan di kulit dana tau perdarahan
lain.
c. Derajat III : Kegagalan sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin
lembab, gelisah.
d. Derahat IV : renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darahtidak dapat diukur.

3. Etiologi
Virus dengue termasuk genus flavivirus, keluarga flaviridae. Terdapat 4
serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Keempatnya ditemukan di
Indonesia dengan den-3 serotype terbanyak. Infeksi salah satu serotipe akan
menimbulkan antibody terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibody
yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat
memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain tersebut. Seseorang
yang tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama
hidupnya. Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di
Indonesia. (Sudoyo Aru, dkk 2009 dalam buku NANDA NIC-NOC, 2015)

4. Manifestasi Klinis
a. Demam tinggi secara mendadak
b. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit : ptechie, ekhimosis, hematoma.
c. Epistaksis, hematemis, melena, hematuri.
d. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan. Diare, konstipasi
e. Nyeri otot, tulang sendi, abdomen, dan ulu hati
f. Sakit kepala
g. Pembengkakan sekitar mata
h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab, dan dingin, tekanan darah
menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

5. Patofisiologi
Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes
aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks
virus antibody, dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplement. Akibat
aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang dapat untuk
melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningginya
permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel
dinding itu. Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya
permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya
hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Serta adanya renjatan terjadi
secara akut. Nilai hematocrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma
melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien
mengalami hypovolemic. Apabila tidak diatasi bias terjadi anoksia jaringan,
asidosis metabolic dan kematian.

6. Pathways Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

Virus
Virus

Nyamuk Aedes Aegypty


Nyamuk Aedes Aegypty

Inkubasi Virus
Inkubasi Virus

SistemIntegumen
Sistem integumen

Infeksi Virus
Infeksi VirusDengue
Dengue
Termoregulasi
Termoregulasi

Demam
Demam

Hipertermi

Gambar 2.1 Pathways Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

(Sujono Riyadi dan Suharsono, 2010)

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Darah lengkap : hemokonsentrasi (hematocrit meningkat 20% atau
lebih), trombositopenia (100.000/mm3 atau kurang)
b. Serologi : uji HI (hemoaglutination inhabitation test)
c. Rontgen Thorax : effuse pleura. (Suriadi & Rita Yuliani, 2010)
d. Urinalisis : Mungkin ditemukan albuminuria ringan
e. Uji sum-sum tulang : Pada awal sakit biasanya hipaseluler kemudian
menjadi hiperseluler. (Andra Saferi Wijaya & Yessie Mariza Putri, 2015).

8. Penatalaksanaan
a. Berikan minum banyak 1,5-2 liter/24 jam
b. Antipiretik jika terdapat demam
c. Antikonvulsan jika terdapat kejang
d. Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan
minum dan nilai hematocrit cenderung meningkat (Suriadi & Rita Yuliani,
2010).
e. Kompres hangat (Hermayudi & Ayu Putri Ariani, 2017)
f. Tirah baring
g. Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres
h. Observasi keadaan umum (tanda-tanda vital). (Sujono Riyadi & Suharsosno,
2010).

9. Komplikasi

10. Pencegahan DHF


Menghindari atau mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegepty dengan
cara:
a. Rumah selalu terang
b. Tidak menggantung pakaian
c. Bak/tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal
4 hari sekali
d. Kubur barang-barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat
terkumpulnya air hujan
e. Tutup tempat penampungan air. (Padila, 2017)

11. Discharge Planning


a. Minum yang cukup, diselingi minuman sari buah-buahan(tidak harus jus
jambu)
b. Upayakan untuk makan dan istirahat yang cukup
c. Untuk perlindungan, gunakanlah obat anti nyamuk yang mengandung DEET
saat mengunjungi tempat endemic dengue
d. Cegah perkembangbiakan nyamuk dan kenali tanda dan gejalanya
e. Buang sampah pada tempatnya dan perbaiki tempat penyimpanan air untuk
mencegah nyamuk berkembang biak dengan menutup tempat penampungan,
mengosongkan air tergenang dari ban bekas, kaleng bekas, dan pot bunga.
(Amin Huda Nurarif & Hardi kusuma, 2015).
B. Konsep Dasar Hipertermi
1. Definisi
Menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2010), Hipertermi adalah kondisi dimana
meningkatnya temperature tubuh dari keadaan normal dengan gejala demam,
temperature 38,9˚C-40˚C serta menggigil.
Hipertermi merupakan peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal.
(Amin Huda Nurarif dan Hardi Kusuma, 2015).
2. Proses terjadinya hipertermi
3. Batasan karakteristik
Batasan karakteristik menurut Amin Huda Nurarif dan Hardi Kusuma
(2015) adalah sebagai berikut :
a. Konvulsi
b. Kulit Kemerahan
c. Peningkatan Suhu tubuh diatas kisaran normal
d. Kejang
e. Takikardi
f. Takipnea
g. Kulit terasa hangat
4. Faktor yang berhubungan
Menurut Amin Huda Nurarif dan Hardi Kusuma (2015) factor yang
berhubungan dengan hipertermi diantaranya ;
a. Anastesia
b. Penurunan respirasi
c. Dehidrasi
d. Pemajanan lingkungan yang panas
e. Penyakit
f. Pemakaian pakaian yang tidak sesuai dengan suhu lingkungan
g. Peningkatan laju metabolisme
h. Medikasi
i. Trauma
j. Aktivitas berlebihan
C. Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Tumbuh kembang merupakan manifestasi yang kompleks dari perubahan
morfologi, biokimia, dan fisiologi yang terjadi sejak konsepsi dan terus berlangsung
sampai dewasa. Banyak orang menggunakan istilah “tumbuh” dan “kembang” secara
sendiri-sendiri atau bahkan ditukar-tukar. Istilah tumbuh kembang sebenarnya
mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan tidak dapat
dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
1. Definisi pertumbuhan dan perkembangan
Pertumbuhan (growth) adalah perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu
bertambahnya jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ maupun individu.
Anak tidak hanya bertambah besar secara fisik, melainkan juga ukuran dan
struktur organ-organ tubuh dan otak. (Soetjiningsih, 2016)
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai
hasil dari proses pematangan, perkembangan menyangkut diferensiasi sel-sel
tubuh, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistem organ yang berkembang
sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi fungsinya. (Dian Adriana, 2013).

2. Teori Perkembangan menurut…


D. Cara Pengukuran Tumbuh dan Kembang Anak
1. Pemantauan Pertumbuhan Fisik Anak
a. Ukuran Antropometrik
Dari beberapa pengukuran antropometri, yang sering digunakan dalam
menentukan keadaan pertumbuhan pada masa balita yaitu :
1) Berat badan
Antara Usia 0 dan 6 bulan, berat bayi bertambah 682 gram per
bulan. Berat badan lahir bayi meningkat dua kali lipat ketika usia 5 bulan.
Antara usia 6 dan 12 bulan, berat bayi bertambah 341 g per bulan. Berat
lahir bayi meningkat tiga kali lipat saat berusia 12 bulan. Berat badan akan
menjadi 4 kali berat badan lahir pada umur 2 tahun. Pada masa prasekolah
kenaikan berat badan rata-rata 2 kg/tahun.
Kenaikan berat badan anak pada tahun pertama kehidupan jika
mendapat gizi yang baik berkisar sebagai berikut.
a. 700-1000 g/bulan pada triwulan 1
b. 500-600 g/bulan pada triwulan II.
c. 350-450 g/bulan pada triwulan III.
d. 250-350 g/bulan pada triwulan IV.
Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman (1992) untuk
memperkirakan berat badan anak seperti berikut ini.
Tabel 2.1 Perkiraan Berat badan dalam Kilogram

Lahir 3,25 kg
3-12 bulan Umur (bulan) + 9
2

1-6 tahun Umur (tahun) x 2 + 8

6-12 tahun Umur (tahun) x 7-5

2) Tinggi Badan
Tinggi badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. Secara garis
besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan, sebagai berikut.
a. 1 tahun : 1,5 x TB lahir
b. 4 tahun : 2 x TB lahir
c. 6 tahun : 1,5 x TB setahun
d. 13 tahun : 3 x TB lahir
e. Dewasa : 3,5 x TB lahir (2 x TB 2 tahun)
Atau gunakan rumus dari Behrman, 1992 sebagai berikut.
Tabel 2.2 Perkiraan Tinggi Badan dalam Sentimeter

Lahir 50 cm
1 tahun 75 cm
2-12 ahun umur (tahun) x 6 + 77
3) Lingkar Kepala
Lingkar kepala pada waktu lahir rata-rata 34 cm. Antara usia 0 dan
6 bulan, lingkar kepala bertambah 1,32 cm per bulan. Antara usia 6 dan 12
bulan, lingkar kepala meningkat 0,44 cm per bulan, LK meningkat
sepertiganya dan berat otak bertambah 2,5 kali dari berat lahir. Pada umur
6 bulan lingkar kepala rata-rata adalah 44 cm, umur 1 tahun 47 cm, umur
2 tahun 49 cm, dan dewasa 54 cm.
4) Perubahan Fontanel
Saat lahir, bagian terlebar fontanel anterior yang berbentuk berlian
berukuran sekitar 4-5 cm, fontanel ini menutup pada usia 12 dan 18 bulan,
sedangkan bagian terlebar fontanel posterior yang berbentuk segitiga
sekitar 0,5-1 cm, fontanel ini menutup pada usia 2 bulan.
5) Lingkar Dada
Ukuran normal lingkar dada sekitar 2 cm lebih kecil dari lingkar
kepala. Pengukuran dilakukan dengan mengukur lingkar dada sejajar
dengan putting.
(Dian Adriana, 2011).
2. Pemantauan Perkembangan Pada Anak
a. Metode KPSP
1) Definisi
KPSP (Kuesioner Pra Skrinning Perkembangan) adalah kuesioner
yang berisi 9-10 pertanyaan untuk setiap kelompok umur kepada orangtua
oleh paramedic maupun oleh dokter yang bertujuan untuk mengetahui
seberapa kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak apakah
normal atau ada penyimpangan.
2) Alat KPSP
a) Formulir KPSP menurut umur
b) Sasaran KPSP anak umur 0-72 bulan
c) Skrinning kit atau alat bantu pemeriksaan berupa : pensil, kertas, bola
sebesar bola tenis, kerincingan, kubus warna merah-kuning-hijau-
biru, berukuran sisi 2,5 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang
tanah,potongan biscuit kecil berukuran 0,5 – 1 cm.
3) Prosedur KPSP
Cara mengggunakan KPSP :
a) Pada waktu pemeriksaan/skrinning, anak harus dibawa. Tentukan
umur anak. Bila umur anak lebih dari 16 hari dibulatkan menjadi 1
bulan. Contoh : bayi berumur 3 bulan 16 hari, dibulatkan menjadi 4
bulan. Bila umur bayi 3 bulan 15 hari dibulatkan menjadi 3 bulan.
b) Pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak
c) Jelaskan kepada orang tua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab,
oleh karena itu pastikan ibu/pengasuh anak mengerti apa yang
ditanyakan kepadanya.
d) Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu per satu. Setiap
pertanyaan hanya ada 1 jawaban, “Ya” atau “Tidak”. Catat jawaban
tersebut di dalam formulir
e) Teliti kembali apakah semua pertanyaan sudah dijawab.
4) Interpretasi hasil KPSP
a) Jawaban ”Ya”, bila ibu/pengasuh anak menjawab : anak “Bisa” atau
“Pernah” melakukannya
b) Jawaban ”Tidak”, bila ibu/pengasuh anak menjawab “ Belum Pernah”
melakukan atau “Tidak Pernah” melakukan atau “Tidak Tahu”
c) Hitunglah berapa jawaban “Ya”
(1) 9 atau 10 : Sesuai dengan tahapan perkembangan (S)
(2) 7 atau 8 : Perkembangan anak meragukan (M)
(3) 6 atau kurang : Kemungkinan ada penyimpangan (P)
d) Perinci jumlah jawaban “Tidak” menurut jenis keterlambatan (gerak
kasar, gerak halus, bicara dan Bahasa, sosialisasi dan kemandirian).
(IG.N. GDE RANUH, 2013)
5) Tindak Lanjut KPSP
E. Asuhan Keperawatan Hipertermi Pada Klien Dengan DHF
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia
kurang dari 15 tahun). Alamat, status, jenis kelamin, diagnose medis,
tanggal MRS, keluarga yang dapat dihubungi, catatan kedatangan, no MR.
b. Riwayat kesehatan klien
1) Keluhan Utama
Anak mengalami panas dan suhu tubuh diatas normal
2) Riwayat penyakit sekarang
Adanya keluhan suhu tubuh meningkat sehingga menggigil yang
menyebabkan sakit kepala.
3) Riwayat penyakit dahulu
Penyakit apa saja yang pernah diderita pasien apakah pernah menderita
DHF sebelumnya, apakah terdapat riwayat kurang gizi, bagaimana pola
hidup pasien tersebut.
4) Riwayat kesehatan, meliputi
a) Riwayat Imunisasi
b) Riwayat Alergi terhadap makanan ataupun obat-obatan
5) Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum : Sedang
b) Kesadaran : Composmentis
c) Tanda-tanda vital
(1) Suhu : >38˚C
(2) Nadi : Takikardi
(3) RR : Adanya peningkatan nafas
d) Mulut : mukosa bibir kering
e) Kulit : Teraba hangat, hiperemi (berwarna kemerahan), ptekie
f) Muskuloskeletal : Nyeri sendi & otot

(Andra Saferi Wijaya & Yessie Mariza Putri, 2015)


2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang muncul pada Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
yang berhubungan dengan masalah hipertermi adalah hipertermi berhubungan
dengan proses infeksi virus dengue.(Amin Huda Nurarif & Hardi Kusuma, 2015)

3. Perencanaan Keperawatan
f. NOC (Nursing Outcomes Classification)
Thermoregulation
Kriteria Hasil :
1) Suhu tubuh dalam rentang normal
2) Nadi dan RR dalam batas normal
3) Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
g. NIC (Nursing Interventions Classification)
1) Fever Treatment
a) Monitor suhu sesering mungkin
b) Monitor warna dan suhu kulit
c) Monitor tekanan darah, nadi, dan RR
d) Kompres pasien pada lipat paha dan aksila.
2) Temperature Regulation
a) Monitor suhu minimal tiap 2 jam
b) Monitor TD, nadi, dan RR
c) Monitor warna dan suhu kulit
d) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
e) Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh
f) Berikan antipiretik jika perlu

4. Implementasi
5. Evaluasi