Anda di halaman 1dari 2

KEMENTERTAN HUKUM DAN HAM RT

BADAN PEMBTNAAN HUKUM NASIONAL


Pusat Dokumentasi dan Jaringan Informasi Hukum Nasional
JI.May.Jen. Sutoyo -Cililitan- Jakarta Timur

Somber: Hlm/Kol: ·uJ,.- 3


Subjek: f2.G-vrS( I Bidang: A.

Revisi KUHP dan KUHAP


• AGUS RIEWANTO
Dosen Program Pascasarjana llmu Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret {UNS) Surakarta

ari-hari ini publik di- penyidikan; (5) masa penahanan singkat;

H
suguhi kontroversi re- (6) penyadapan dan penyitaan harus izin
visi Kitab Undang-Un- hakim; (7) terhadap putusan bebas tidak
dang Hukum Pidana dapat diajukan kasasi ke MA; (8) putus-
(KUHP) dan Kitab Un- an MA tidak boleh lebih berat dari pada
dang-Undang Hukum putusan PT; (9) korupsi tidak masuk
Acara Pidana (KUHAP). Sejumlah ka- kejahatan luar biasa; dan (10) suap a tau
langan menolak revisi terhadap dua ki- gratifikasi tidak masuk delik korupsi,
tab undang-undang (UU) ini, karena di- tapi masuk delik tindak pi dana jabatan.
tengarai materinya tak sensitif terhadap Jika dilihat dari 10 pasal dalam DIM
agenda pemberantasan korupsi, bahkan itu tampaklah bahwa draf revisi KUHP
melemahkan posisi KPK. dan KUHAP ini lemah dari aspek poli-
KUHP dan KUHAP adalah UU yang tical will untuk memberantas korupsi.
paling tua usianya dibandingkan dengan Karena harus diakui kinerja KPK dalam
UU yang lain. Bahkan KUHP adalah pemberantasan korupsi selama ini ber-
warisan produk hukum Belanda. Se- hasil mengikis perilaku korupsi pejabat
dangkan KUHAP, walaupun produk asli negara dan memenjarakannya. .
Indonesia, namun juga telah berusia sen- KUHP dan KUHAP adalah UU in-
ja 32 tahun (dibuat tahun 1981). Itulah duk yang merupakan hasil kodifikasi
sebabnya mengapa kita harus merevisi dan unifikasi materi hukum pidana yang
kedua kitab ini untuk dapat berkores- tersebar dalam berbagai produk UU
podensi dan berkesinambungan dengan yang lain. Karena itu, kedua UU tersebut
semangat zaman reformasi. diharapkan menjadi produk pamungkas
Sejarah mencatat keinginan untuk untuk dapat menampung segala model
merevisi KUHP dan KUHAP ini bukan dan varian kejahatan tindak pidana.
baru kali ini menjadi perdebatan, namun RUU ini diharapkan pula menjadi
telah terjadi sejak era Orde Baru dengan produk hukum pidana yang seragam
berbagai macam variasi kontroversinya. dalam rangka memperkuat kebijakan
Akibatnya, selalu gagal disahkan menja- politik hukum di Indonesia yang menem-
di UU baru. Tentu publik tak berharap patkan negara sebagai agen tunggal ma-
revisi kali ini juga akan gagal kembali. najemen pembuatan hukum di tengah
Membaca teks draf revisi kedua RUU pluralisme hukum. Meminjam ungkapan
ini yang jumlahnya 766 pasal, memang John Griffiths dalam Ratno Lukito (2006:
harus diakui ada kesan yang amat kuat 81) disebut state law pluralism atau
untuk melucuti eksistensi KPK dalam weak legal pluralism, di mana kehidup-
pemberantasan korupsi. Paling tidak, an pluralisme hukum dalam nation state
terdapat 10 (sepuluh) daftar inventaris dimungkinkan eksistensinya, namun
masalah (DIM) yang hendak mengam- negaralah yang selalu berperan sebagai
putasi kewenangan KPK dan berpotensi agen tunggal dalam proses katalisasi
pada tak sensitifnya terhadap pembe- maupun legalisasinya.
rantasan korupsi, yaitu: (1) penghapusan Jika dibaca menyeluruh pasal-pasal
ketentuan penyidikan; (2) KUHAP ber- dalam draf RUU KUHP dan KUHAP ini
laku terhadap tindak pi dana yang diatur harus diakui cukup sempurna jika diban-
di luar KUHP; (3) hakim pemeriksa pen- dingkan dengan produk RUU di tahun-
dahuluan (hakim komisaris) berwenang tahun sebelurnnya. Terutama dilihat dari
menghentikan penuntutan; (4) tidak aspek perlindungan hak asasi manusia
berwenang memperpanjang penahanan (HAM) terhadap subjek hukum pidana.

.....
Sambungan
Sumber: Ilari/Tgl: Illm/Kol:

Oleh karena itu tak ada alasan cukup


kuat untuk menunda proses revisi terha-
dap KUHP dan KUHAP ini dilihat dari
tiga aspek subjek hukum pidana ini. Kri-
tik banyak kalangan agar prioritas revisi
hanya pada KUHP, agak sulit diterima,
sebab antara KUHP dan KUHAP adalah
ibarat sekeping mata uang, keduanya
tak bisa dipisahkan sebagai satu kesa-
tuan sistem.
Di titik ini DPR dan presiden perlu
mendengarkan masukan KPK, bahkan
DPR dan presiden perlu mengundang
KPK untuk hadir dalam pembahasan
revisi terhadap RUU ini. Kendati secara
normatif berdasarkan Pasal 20 UUD
1945 yang berhak mengajukan, memba-
has, dan mengajukan RUU adalah DPR
dan presiden.
Tak ada salahnya jika KPK dilibat-
kan dalam tahap-tahap awal pembahas-
an draf revisi RUU ini. Tentu bukan di-
maksudkan sebagai intervensi KPK ter-
hadap DPR dan presiden dalam proses
pembuatan UU, namun sebagai upaya
untuk memastikan bahwa DPR dan pre-
siden memiliki sensitivitas terhadap
pemberantasan korupsi.
Sisa waktu masa kerja DPR yang ku-
rang dari 100 hari tak cukup menjadl
alasan untuk menunda revisi kedua RUU
ini sepanjang DPR dapat berkonsentrasi
dalam pembahasannya. Bukankah draf
revisi RUU ini telah lama disiapkan oleh
sejumlah tim ahli, baik dari unsur pe-
merintah maupun DPR.
Agar kinerja dan anggaran APBN
yang dipergunakan dalam menyiapkan
proses RUU ini tidak sia-sia, maka revisi
RUU ini perlu terus dilanjutkan. Untuk
itu yang perlu dilakukan dalam waktu
dekat ini adalah kesediaan DPR dan pre-
siden untuk lebih terbuka menerima ma-
sukan, saran, dan kritik untuk memper-
baiki sejumlah pasal dalam RUU ini yang
tak sensitif terhadap pemberantasan ko-
rupsi dan melemahkan fungsi KPK. •