Anda di halaman 1dari 32

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Endometriosis adalah kelainan ginekologi jinak yang sering diderita oleh
perempuan usia reproduksi yang di tandai dengan adanya glandula dan stroma
endometrium di luar letaknya yang normal.1
Penyakit ini cendrung memberat akibat imbas siklus haid yang berulang-
ulang. Kasus ini menyerang wanita mulai dari remaja, usia reproduksi, hingga
pasca menopause, tetapi terjadi secara menonjol pada wanita usia reproduksi dari
semua kelompok etnik dan sosial.
Endometriosis terjadi ketika suatu jaringan normal dari lapisan uterus yaitu
endometrium menyerang organ-organ di rongga pelvis dan tumbuh di sana.
Jaringan endometrium yang salah tempat ini menyebabkan iritasi di rongga pelvis
dan menimbulkan gejala nyeri serta infertilitas.2
Jaringan endometriosis memiliki gambaran bercak kecil, datar, gelembung
atau flek-flek yang tumbuh di permukaan organ-organ di rongga pelvis. Flek-flek
ini bisa berwarna bening, putih, coklat, merah, hitam, atau biru. Endometriosis
bisa tumbuh di permukaan ovarium atau menyerang bagian dalam ovarium dan
membentuk kista berisi darah yang disebut sebagai kista endometriosis kista
coklat. Kista ini disebut kista coklat karena terdapat penumpukan darah berwarna
merah coklat hingga gelap. Kista ini bisa berukuran kecil seukuran kacang dan
bisa tumbuh lebih besar dari buah anggur. Endometriosis dapat mengiritasi
jaringan di sekitarnya dan dapat menyebabkan perlekatan (adhesi) akibat jaringan
parut yang ditimbulkannya.3
Endometriosis terjadi pada 2 sampai 22 % tergantung pada populasinya.
Oleh karena berkaitan dengan infertilitas dan rasa sakit di rongga panggul
prevalensinya bisa meningkat 20 sampai 50 %. Selain itu banyak sekali penderita
endometriosis yang tak – bergejala, sehingga tidak waspada akan keadaanya.
Meski endometriosis sering terkaint infertilitas, tetapi banyak pula penderita

1
endometriosis mencapai kehamilan tanpa penanganan, sehingga penyakit itu tidak
sempat terdiagnosa.1
Sampai saat ini penatalaksanaan endometriosis lebih banyak berdasarkan
pada keluhan dan gejala pada penderitanya saja tanpa menyentuh sisi
patogenesisnya, hal ini karena masih banyak yang belum terungkap pada
endometriosis. Penatalaksanaan pada kasus ini terdiri dari 3 bagian, yaitu
medikamentosa, terapi bedah, dan teknologi reproduksi berbantu. Penanganan
endometriosis baik secara medikamentosa maupun operatif tidak memberikan
hasil yang memuaskan disebabkan patogenesis penyakit tersebut belum
terungkap secara tuntas. Keberhasilan penanganan endometriosis hanya dapat
dievaluasi saat ini dengan mempergunakan laparoskopi. Laparoskopi
merupakan tindakan yang minimal invasif tetapi memerlukan keterampilan
operator, biaya tinggi dan kemungkinan dapat terjadi komplikasi dari yang
ringan sampai berat. Alasan yang dikemukakan tadi menyebabkan banyak
penderita endometriosis yang tidak mau dilakukan pemeriksaan laparoskopi
untuk mengetahui apakah endometriosis sudah berhasil diobati atau tidak.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Endometriosis


Endometriosis yaitu suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang
masih berfungsi berada di luar kavum uteri. Jaringan ini terdiri atas kelenjar dan
stroma, terdapat di dalam endometrium ataupun di luar uterus. Bila jaringan
endometrium terdapat di dalam miometrium disebut adenomiosis, bila berada
diluar uterus disebut endometriosis. Pembagian ini sudah tidak dianut lagi, karena
secara patologik, klinik, ataupun etiologic adenomiosis berbeda dengan
endometriosis. Adenomiosis secara klinis lebih banyak persamaan dengan mioma
uteri. Adenomiosis sering ditemukan pada multipara dalam masa premenopause,
sedangkan endometriosis terdapat pada wanita yang lebih muda dan yang
infertile.1 Terdapat kurang lebih 15% wanita reproduksi dan pada 30% dari wanita
yang mengalami infertilitas. Kebanyakan endometriosis tumbuh di bagian-bagian
tertentu pelvis wanita. Lokasi anatomis yang paling umum terkena endometriosis
tersebut adalah organ-organ pelvik (ovarium, tubafalopi) pada 60% penderita
ovariumnya terlibat, biasanya bilateral. Sisi yang kurang umum adalah kandung
kemih, ginjal, serosa kolon sigmoid, rektum, serviks, vagina, vulva, umbilikus,
dan kantong hernia inguinal dan organ-organ yang jarang adalah pleura, paru,
payudara, parut abdominal, dan daerah perianal.2
Penampakan kasarnya bisa dalam bentuk luka berupa sebuah peninggian
atau kista yang berisi darah baru, merah atau biru-hitam. Karena termakan waktu,
luka tersebut berubah menjadi lebih rata dan berwarna coklat tua. Ukuran luka
dapat berkisar dari luka kecil dari 10 cm.3

2.2 Etiologi Endometriosis


Beberapa ahli mencoba menerangkan kejadian endometriosis yaitu berupa
beberapa teori,antara lain:
a. Teori Implantasi dan Regurgitasi.

3
Teori pertama yaitu teori implantasi jaringan endometrium yang viable (hidup)
dari Sampson. Teori ini didasari atas 3 asumsi:
1. Terdapat darah haid berbalik melewati tuba falopii
2. Sel-sel endometrium yang mengalami refluks tersebut hidup dalam rongga
peritoneum
3. Sel-sel endometrium yang mengalami refluks tersebut dapat menempel ke
peritoneum dengan melakukan invasi, implantasi dan proliferasi.5,6
Teori diatas berdasarkan penemuan:
1. Penelitian dengan memakai laparoskopi saat pasien sedang haid, ditemukan
darah haid berbalik dalam cairan peritoneum pada 75-90% wanita dengan
tuba falopii paten.
2. Sel-sel endometrium dari darah haid berbalik tersebut diambil dari cairan
peritoneum dan dilakukan kultur sel ternyata ditemukan hidup dan dapat
melekat serta menembus permukaan mesotelial dari peritoneum.
3. Endometriosis lebih sering timbul pada wanita dengan sumbatan kelainan
mulerian daripada perempuan dengan malformasi yang tidak menyumbat
saluran keluar dari darah haid.
4. Insiden endometriosis meningkat pada wanita dengan permulaan menars,
siklus haid yang pendek atau menoragia.5,6
b. Teori Metaplasia.
Teori ini pertama kali diperkenalkan pada abad ke-20 oleh Meyer. Teori ini
menyatakan bahwa endometriosis berasal dari perubahan metaplasia spontan
dalam sel-sel mesotelial yang berasal dari epitel soelom (terletak dalam
peritoneum dan pleura). Perubahan metaplasia ini dirangsang sebelumnya oleh
beberapa faktor seperti infeksi, hormonal dan rangsangan induksi lainnya. Teori
ini dapat menerangkan endometriosis yang ditemukan pada laki-laki, sebelum
pubertas dan gadis remaja, pada wanita yang tidak pernah menstruasi, serta yang
terdapat di tempat yang tidak biasanya seperti di pelvik, rongga toraks, saluran
kencing dan saluran pencernaan, kanalis inguinalis, umbilikus, dimana faktor lain
juga berperan seperti transpor vaskular dan limfatik dari sel endometrium.5,6
c. Teori Induksi.

4
Kelanjutan teori metaplasia, di mana faktor biokimia endogen menginduksi
perkembangan sel peritoneal yang tidak berdiferensiasi menjadi jaringan
endometrium.1

2.3 Faktor Resiko Endometriosis


Faktor resiko untuk endometriosis antara lain:
a) Riwayat Keluarga Endometriosis
b) Menarke (menstruasi yang pertama) terjadi pada usia relatif muda (< 11 thn)
c) Obstruksi mekanis haid pada remaja
d) Haid tanpa jeda dan siklus yang tiak teratur.
e) Infertilitas
f) Usia 25-40 tahun

2.4 Jenis- jenis Endometriosis


Berdasarkan lokasi tempat endometriosis dibagi menjadi :
a. Endometriosis Interna (adenomiosi uteri)
Fokus Endometriosis berada multilokuler di dalam otot uterus. Akan terjadi
penebalan atau pembesaran uterus. Gejala yang timbul hampir tidak ada. Ada
dua gejala yang khas buat adenomiosis uterus, yaitu:
- Nyeri saat haid.
- Perdarahan haid yang banyak atau haid yang memanjang.
b. Endometriosis Ovarium
Akibat adanya endometriosis pada ovarium akan terbentuk kista coklat. Kista
coklat ini sering mengadakan perlekatan dengan organ-organ di sekitarnya dan
membentuk suatu konglomerasi.
c. Endometriosis Retroservikalis.
Pada rectal toucher sering teraba benjolan yang nyeri pada cavum Douglas.
Benjolan-benjolan ini akan melekat dengan uterus dan rectum, akibatnya
adalah:
- Nyeri pada saat haid.
- Nyeri pada saat senggama.

5
Diagnosa banding yang perlu diperhatikan adalah:
- Karsinoma ovarium.
- Metastasis di kavum Douglas.
- Mioma multiple.
- Karsinoma rectum.
d. Endometriosis Ekstragenital.
Setiap nyeri yang timbul pada organ tubuh tertentu pada organ tubuh tertentu
bersamaan dengan datangnya haid harus dipikirkan adanya endometriosis.

2.5 Klasifikasi Endometriosis


Endometriosis dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori berdasarkan lokasi
dan tipe lesi, yaitu:7
1. Peritoneal endometriosis
Pada awalnya lesi di peritoneum akan banyak tumbuh vaskularisasi
sehingga menimbulkan perdarahan saat menstruasi. Lesi yang aktif akan
menyebabkan timbulnya perdarahan kronik rekuren dan reaksi inflamasi sehingga
tumbuh jaringan fibrosis dan sembuh. Lesi berwarna merah dapat berubah
menjadi lesi hitam tipikal dan setelah itu lesi akan berubah menjadi lesi putih
yang miskin vaskularisasi dan ditemukan debris glandular.
2. Ovarian Endometrial Cysts (Endometrioma)
Ovarian endometrioma diduga terbentuk akibat invaginasi dari korteks
ovarium setelah penimbunan debris menstruasi dari perdarahan jaringan
endometriosis. Kista endometrium bisa besar (>3cm) dan multilokus, dan bisa
tampak seperti kista coklat karena penimbunan darah dan debris ke dalam rongga
kista.
3. Deep Nodular Endometriosis
Pada endometriosis jenis ini, jaringan ektopik menginfiltrasi septum
rektovaginal atau struktur fibromuskuler pelvis seperti uterosakral dan
ligamentum utero-ovarium. Nodul-nodul dibentuk oleh hiperplasia otot polos dan
jaringan fibrosis di sekitar jaringan yang menginfiltrasi. Jaringan endometriosis

6
akan tertutup sebagai nodul, dan tidak ada perdarahan secara klinis yang
berhubungan dengan endomeriosis nodular dalam.
Ada banyak klasifikasi stadium yang digunakan untuk mengelompokkan
endometriosis dari ringan hingga berat, dan yang paling sering digunakan adalah
sistem American Fertility Society (AFS) yang telah direvisi (Tabel 1). Klasifikasi
ini menjelaskan tentang lokasi dan kedalaman penyakit berikut jenis dan
perluasan adhesi yang dibuat dalam sistem skor. Berikut adalah skor yang
digunakan untuk mengklasifikasikan stadium:8
- Skor 1-5: Stadium I (penyakit minimal)
- Skor 6-15: Stadium II (penyakit sedang)
- Skor 16-40: Stadium III (penyakit berat)
- Skor >40: Stadium IV (penyakit sangat berat)
Tabel 1. Derajat endometriosis berdasarkan skoring dari Revisi AFS
Endometriosis <1 cm 1-3 cm >3 cm
Peritone
um

Permukaan 1 2 4
Dalam 2 4 6
Kanan Permukaan 1 2 4
Ovarium

Dalam 4 16 20
Kiri Permukaan 1 2 4
Dalam 4 16 20
Perlekatan kavum Douglasi Sebagian Komplit
4 40
Perlekatan <1/3 1/3-2/3 >2/3
Ovarium

Tipis 1 2 4
Kanan Tebal 4 8 16
Kiri Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16
Kanan Tipis 1 2 4
Tuba

Tebal 4 8 16
Tipis 1 2 4
Kiri Tebal 4 8 16
Martin pada tahun 2006 mengusulkan sistem kalsifikasi stadium untuk
mengetahui tingkat kepercayaan dari tindakan laparaskopi diagnostik terhadap
endometriosis. Tingkat kepercayaan laparaskopi terdiri atas 4 tingkatan:10
Tingkat 1: Mungkin endometriosis – Vesikel peritoneal, polip merah, polip
kuning,

7
hipervaskularisasi, jaringan parut, adhesi
Tingkat 2: Diduga endometriosis – Kista coklat dengan aliran bebas dari cairan
coklat.
Tingkat 3: Pasti endometriosis – Lesi jaringan parut gelap, lesi merah dengan latar
belakang jaringan ikat sebagai jaringan parut, kista coklat dengan area
mottle merah dan gelap dengan latar belakang putih.
Tingkat 4: Endometriosis – Lesi gelap dan jaringan parut pada pembedahan
pertama.

2.6 Patologi Endometriosis


Endometrium ektopik dapat memperlihatkan adanya perubahan dengan
seiring dengan adanya siklus haid, umunya jaringan ini bereaksi dengan estrogen
tapi tidak dengan progesteron. lokasi yang dikelilingi stroma, mengadakan
implantasi dan membentuk kista kecil, yang berespon terhadap sekresi estrogen
dan progesterone secara siklik, sama seperti yang terjadi di dalam endometrium
uteri. Selama menstruasi, terjadi perdarahan di dalam kista. Darah, jaringan
endometrium dan cairan jaringan terperangkap di dalam kista tersebut. Pada siklus
berikutnya cairan jaringan dan plasma darah diabsorpsi, sehingga meninggalkan
darah kental berwarna coklat. Ukuran maksimal kista tergantung lokasinya. Kista
kecil mungkin tetap kecil atau diserang makrofag dan menjadi luka fibrotic kecil.
Kista cenderung lebih besar dari pada kista lainnya, tetapi biasanya tidak lebih
besar dari pada jeruk berukuran sedang. Ketika kista tumbuh, tekanan internal
mungkin merusak dinding endometrium yang aktif, sehingga kista tida berfungsi
lagi. Tidak jarang terjadi rupture dari kista yang kecil. Darah kental yang keluar
sangat iritatif dan mengakibatkan perlengketan multiple disekeliling kista.

8
9
2.7 Tanda dan Gejala Endometriosis
 Gejala Endometriosis
Penderita endometriosis bisa datang dengan keluhan nyeri panggul,
terutama bila datang haid, infertilitas, disparenia, perdarahan uterus abnormal,
rasa nyeri atau berdarah ketika kencing atau pada rectum dalam masa haid.
Gejala-gejala endometriosisi datangnya berkala dan bervariasi sesuai datangnya
haid tetapi bisa menetap. Banyak penderita endometriosis yang tidak bergejala,
dan terdapat sedikit korelasi antara hebatnya gejala dengan beratnya penyakit.
Adapun gambaran klinis endometriosis menurut Sarwono yaitu :
a. Dismenore
Dismenore merupakan nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang
terjadi pada dan selama haid . Hal ini disebabkan oleh reaksi peradangan akibat
reaksi peradangan akibat sekresi sitokin dalam rongga peritonium, akibat
perdarahan lokal pada sarang endometriosis dan oleh adanya infiltrasi
endometriosis ke dalam syaraf pada rongga panggul.
b. Dispareunia
Merupakan keadaan yang sering dijumpai disebabkan oleh karena adanya
endometriosis di kavum douglasi dan ligamentum sakrouterina dan terjadi
perlengketan sehingga uterus dalam posisi retrofleksi.
c. Nyeri pada saat defekasi
Defekasi yang sukar dan sakit terutama pada waktu haid disebabkan oleh
karena adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid.
d. Gangguan Haid (Polimenorea dan hipermenorea)
Gangguan haid dan siklusnya terjadi apabila kelainan pada ovarium demikian
luasnya sehingga fungsi ovarium terganggu.Menstruasi tidak teratur terdapat pada
60% penderita wanita. Pasien mungkin mengeluhkan bercak merah premenstruasi,
perdarahan menstruasi dalam jumlah banyak (menoragia), atau frekuensi
menstruasi yang lebih sering dan banyak mengeluarkan darah.
e. Infertilitas
Penderita endometriosis yang infertil seringkali tidak menampilkan gejala nyeri,
sehingga penyakitnya baru terliput ketika dilakukan pemeriksaan diagnostik untuk

10
infertilisasi. Kecurigaan ke arah endometriosis akan semakin besar apabila disertai
keluhan disminore dan dispareunia. 1-4
 Tanda Endometriosis
Tanda-tanda dari endometriosis yaitu siklus haid yang terganggu di sertai
nyeri haid. Nyeri yang terjadi timbul di luar siklus haid seperti dispareunia, nyeri
BAK dan BAB. Selain itu terdapat Luka yang terlihat pada pemeriksaan speculum
adalah sangat menunjukan endometriosis, dan jika ada harus dilakukan
pemeriksaan biopsy.

2.8 Diagnosis Endometriosis


Tidak ada pemeiksaan yang sederhana untuk mendiagnosis endometriosis. Semua
keluhan penderita endometriosis penting dicatat dengan cermat, karena
endometriosis dapat berdampak terhadap kesejahtraan fisis umum, mental, dan
sosial. Adapun langkah-langkah untuk mendiagnosa endometriosis adalah:
1) Anamnesis dan pemeriksaan fisik
2) Kajian pencitraan ( USG, Resonansai Magnetik)
3) Laparoskopi
4) Pemeriksaan Histopatologik
5) Pengukuran kadar CA-125 (jika ada kista ovarium )
6) Klasifikasi penyakit.
7) Pengukuran kadar komponen biokimiawi.
Dalam kenyataannya, satu-satunya cara untuk mendiagnosis pasti
endometriosis adalah dengan melakukan laparoskopi dan melakukan biopsi
jaringan. Pemeriksaan ini merupakan standar emas dalam mendiagnosis
endometriosis.9
Endometriosis dicurigai bila ditemukan adanya gejala nyeri di daerah pelvis
dan adanya penemuan-penemuan yang bermakna selama pemeriksaan fisik.
Melalui pemeriksaan rektovaginal (satu jari di dalam vagina dan satu jari lagi di
dalam rectum) akan teraba nodul (jaringan endometrium) di belakang uterus dan
di sepanjang ligamentum yang menyerang dinding pelvis. Suatu saat bisa saja

11
nodul tidak teraba, tetapi pemeriksaan ini sendiri dapat menyebabkan rasa nyeri
dan tidak nyaman
Keragaman tampilan klinis dan keluhan pada endometriosis bergantung
pada lokasi dan luasnya lesi. Lesi tersebar menyebabkan tampilannya banyak
gejala yang tumpang tindih atau mirip penyakit lain. Sebagian wanita mengidap
endometriosis bahkan sama sekali tak bergejal, akibatnya sringkali ada
keterlambatan antara awitan gejala dan diagnosis pasti.
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosis endometriosis
adalah:
1. Tampilan klinis dan keluhan endometriosis sangat beragam (tak bergejala,
ringan, berat )
2. Endometriosis tidak dapat didiagnosis hanya dengan riwayat penyakit saja
3. Pemeriksaan pelvis yang amat jelas sekalipun tidak dapat dianggap
patognomonik.
 Pemeriksaan Penunjang Endometrisis
- Laparoskopi
Bila ada kecurigaan endometriosis panggul , maka untuk menegakan
diagnosis yang akurat diperlukan pemeriksaan secara langsung ke rongga
abdomen per laparoskopi. Pada lapang pandang laparoskopi tampak pulau-pulau
endometriosis yang berwarna kebiruan yang biasanya berkapsul. Pemeriksaan
laparoskopi sangat diperlukan untuk mendiagnosis pasti endometriosis, guna
menyingkirkan diagnosis banding antara radang panggul dan keganasan di daerah
pelviks. Moeloek mendiagnosis pasien dengan adneksitis pada pemeriksaam
dalam, ternyata dengan laparoskopi kekeliruan diagnosisnya 54%, sedangkan
terhadap pasien yang dicurigai endometriosis, kesesuaian dengan pemeriksaan
laparoskopi adalah 70,8%.

12
Gambar contoh Laparoskopi :

- Pemeriksaan Ultrasonografi
Secara pemeriksaan, USG tidak dapat membantu menentukan adanya
endometriosis, kecuali ditemukan massa kistik di daerah parametrium, maka pada
pemeriksaan USG didapatkan gambaran sonolusen dengan echo dasar kuat tanpa
gambaran yang spesifik untuk endometriosis.
Contoh gambar USG :

13
2.9 Penanganan Endometriosis
Sampai saat ini penatalaksanaan endometriosis lebih banyak berdasarkan
pada keluhan dan gejala pada penderitanya saja tanpa menyentuh sisi
patogenesisnya, hal ini karena masih banyak yang belum terungkap pada
endometriosis. Penatalaksanaan endometriosis terdiri dari 2 bagian yaitu,
Medikamentosa dan terapi bedah.1-4
a. Mediakamentosa
Tujuan utama terapi medikamentosa pada endometriosis adalah
menghentikan pertumbuhan dan aktivitas lesi endometriosis. Obat konvesional
yang dipakai pada terapi ini adalah pil kontrasepsi kombinasi, progesteron, derivat
androgen dan GnRH agonist.
Pil kontrasepsi kombinasi untuk terapi endometriosis dapat diberikan dalam
bentuk siklik atau kontinyu. Pil kontrasepsi kombinasi akan bekerka mengubah
keseimbangan hormon pada siklus haid hingga terjadi anovulasi kronis yang
selanjutnya menyebabkan
terjadinya desidualisasidan atrofi jaringan endometrium. Keunggulan Pil
kontrasepsi kombinasi dibandingkan terapi lain adalah dapat digunakan jangka
panjang dengan aman.
Progesteron mekanisme kerjanya sama dengan Pil kontrasepsi kombinasi
yaitu membuat desidualisasidan atrofi jaringan endometrium. selain itu
progesteron mampu menekan aktivitas matriks metalloproteinase, suatu enzim
yang berperan penting pada pertumbuhan dan implantasi endometrium ektopik
Danazol merupakan derivat sering digunakan untuk terpai endometriosis.
Bekerja dengan menghambat lonjakan hormon LH dan menghambat
steroidogensis. Selain itu juga danazol memberikan hasil yang sama dengan MPA
unutk mengatasi nyeri pasca operasi.
GnRH agonist merupakan terapi pilihan untuk Endometriosis karena akan
menduduki reseptor di hipofise selanjutnya akan menyebabkan down regulation
sehingga terjadi suasana hipoestrogen yang akan menekan penyakit
endometriosis. Selain itu obat ini memberikan hasil lebih unggul di bandingkan

14
pil kontrasepsi dan lebih baik dari danazol untuk mengurangi volume implan
endometriosis.4
b. Terapi Bedah
Pembedahan bertujuan menghilangkan gejala, meningkatkan kesuburan,
menghilangkan bintik-bintik, dan kista Endometriosis, serta menahan laju
kekambuhan.
 Penanganan pembedahan konservatif
Bertujuan untuk mengangkat semua serang endometriosis dan melepaskan
perlengketan dan memperbaiki kembali struktur anatomi reproduksi. Sarang
dibersihkan dengan eksisi, ablasi kauter, dinding kista. Penanganan pembedahan
dapat dilakukan dengan laparotomi ataupun laparoskopi.
 Penanganan pembedahan radikal
- Histerektomi total dengan ooforektomi bilateral dan sitoreduksi dari
endometrium yang terlihat. Adhesiolisis ditujukan untuk memungkinkan mobilitas
dan menormalkan kembali hubungan antara organ-organ di dalam rongga pelvis.
- Obstruksi ureter memerlukan tindakan bedah untuk mengeksisi begian
yang mengalami kerusakan. Pada endometriosis dengan obstruksi usus dilakukan
reseksi anastomosis jika obstruksi berada di rektosigmoid anterior.
Dilakukan dengan histerektomi total dan bilateral salpingo-ooforektomi.
Ditujukan pada perempuan yang mengalami penanganan medis ataupun bedah
konservatif gagal dan tidak membutuhkan fungsi reproduksi. Cara ini di tujukan
untuk penderita dengan nyeri yang tak tertahankan dan tak menginginkan lagi
kehamilan.5,6,7

15
Gambar 5. Algoritma Penatalaksanaan Endometriosis

16
BAB III

KESIMPULAN

Endometriosis yaitu suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang


masih berfungsi berada di luar kavum uteri. endometriosis terdapat pada wanita
yang lebih muda dan yang infertile. Terdapat kurang lebih 15% wanita reproduksi
dan pada 30% dari wanita yang mengalami infertilitas. Kebanyakan endometriosis
tumbuh di bagian-bagian tertentu pelvis wanita. Lokasi anatomis yang paling
umum terkena endometriosis tersebut adalah organ-organ pelvik (ovarium,
tubafalopi) pada 60% penderita ovariumnya terlibat, biasanya bilateral. Sisi yang
kurang umum adalah kandung kemih, ginjal, serosa kolon sigmoid, rektum,
serviks, vagina, vulva, umbilikus, dan kantong hernia inguinal dan organ-organ
yang jarang adalah pleura, paru, payudara, parut abdominal, dan daerah perianal.
Endometriosis dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori berdasarkan lokasi
dan tipe lesi, yaitu:Peritoneal endometriosis, Ovarian Endometrial Cysts
(Endometrioma) dan Deep Nodular Endometriosis.Gejala-gejala yang sering
ditemukan pada penyakit ini adalah nyeri perut bawah yang progresif dan dekat
paha yang terjadi pada dan selama haid (dismonore),dispereunia,nyeri waktu
defekasi,khususnya pada waktu haid,poli dan hipermenorea dan infertilitas.
Sampai saat ini penatalaksanaan endometriosis lebih banyak berdasarkan
pada keluhan dan gejala pada penderitanya saja tanpa menyentuh sisi
patogenesisnya, hal ini karena masih banyak yang belum terungkap pada
endometriosis. Penatalaksanaan endometriosis terdiri dari 2 bagian yaitu,
Medikamentosa dan terapi bedah.

17
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. DFH
Umur : 43 tahun
Agama : Islam
Suku : Mandailing
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMA
Alamat : Jl. Tuasan No. 71 Medan Tembung

Nama Suami : Tn. S


Umur : 45 tahun
Agama : Islam
Suku : Mandailing
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Masuk RS : 29 April 2019
Pukul : 11.00 WIB

B. ANAMNESIS
Seorang pasien Perempuan usia 43 tahun, P2A0, Mandailing, Islam,
SMA, i/d Tn.S, 45 tahun, Mandailing, Islam, SMA, Wiraswasta, datang ke
RSU Haji Medan pada tanggal 29 April 2019 pukul 11.00 WIB dengan
keluhan Keluar darah dari kemaluan

18
Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan Utama : Keluar darah dari kemaluan
Telaah : Pasien datang ke RS Haji Medan dengan keluhan keluar
darah dari kemaluan secara terus menerus ± 11 hari ini,
pasien mengatakan bahwa ia dapat mengganti duk ± 4x
ganti per hari, terdapat bekuan darah, dan dalam 1 bulan
pasien 2x haid ± sudah 5 bulan ini, pasien mengeluhkan
terdapat nyeri perut, BAB (N) BAK (N), lemas dan ada
penurunan nafsu makan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengaku tidak pernah mengalami gejala seperti ini
sebelumnya, dan tidak memiliki riwayat hipertensi (-), diabetes mellitus (-),
asthma (-), maupun penyakit berat lainnya.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien menyangkal adanya keluarga pasien yang pernah mengalami
gejala serupa. riwayat hipertensi (-), diabetes mellitus (-), asthma (-), maupun
penyakit berat lainnya di keluarganya.

Riwayat Pengobatan
Os Lupa nama obatnya

Riwayat Alergi
 Alergi makanan disangkal
 Alergi obat ibu tidak tahu

Riwayat Perkawinan dan Seksual


Status Perkawinan : Kawin
Berapa Kali : 1 Kali
Umur Kawin : 25 tahun

19
Lama Kawin : 18 tahun
Kemandulan :-
Frigiditas / Vaginismus : -
Libido : kurang / sedang / kuat / hiperseksual.
Frekuensi koitus : 2-3 kali/minggu
Orgasmus : Tidak di tanyakan
Dispareuni :-

Riwayat Haid
 Menarche : 12 tahun
 Siklus : tidak teratur
 Lama Haid : ±7 hari
 Banyak darah : ± 4 kali ganti duk/hari
 Dysmenorrhea :+
 Darah beku :+
 Metrorrhagia :+
 Menorrhagia :-
 Spotting :+
 Contact bledding :-
 Climacterium :-

Riwayat Keputihan
Jumlah :-
Warna :-
Bau :-
Konsistensi :-
Gatal (pruritusvulvae) :-

20
Riwayat Kehamilan danPersalinan yang lalu: P2A0
No Tempat Penolong Thn Aterm Jenis Penyulit Anak
bersalin Persalinan JK Keadaan
BB
1 RB Bidan 2000 + Spontan - ♂ 3300 Meninggal
2 RB Bidan 2003 + Spontan - ♀ 3300 Baik

Riwayat penggunaan kontrasepsi (-)


Gizi dan Kebiasaan
Nafsu makan : Menurun
Perubahan berat badan :-
Merokok :-
Alkohol :-
Kebiasaan makan obat :-
Obat yang dimasukkan ke dalam vagina : -

C. PEMERIKSAAN FISIK UMUM


1. Status Present
KU : Baik, Tampak sedikit pucat
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36,80 C
BB : 65 kg
TB : 168 cm

2. Status Generalisata
Kepala : normochepal, tidak ada kelainan
Rambut : hitam, tidak mudah dicabut
Mata : anemis (+/+), sklera ikterik (-).

21
Telinga : tidak ditemukan kelainan
Hidung : tidak ditemukan kelainan
Tenggorok : tidak ditemukan kelainan
Gigi dan Mulut : Karies (-)
Leher : KGB tidak teraba, JVP tidak meningkat

Thoraks
Paru
 Inspeksi : Normochest, gerakan paru simetris kiri = kanan
 Palpasi : Fremitus kiri = kanan
 Perkusi : Sonor diseluruh lapangan paru
 Auskultasi : Vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung
 Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
 Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
 Perkusi : Batas jantung dalam batas normal

Abdomen
 Inspeksi : Tidak ada tanda-tanda peradangan, bekas operasi (-)
 Palpasi : Teraba massa padat dengan pole atas 2 jari di bawah pusat
dan pole bawah 1 jari diatas simfisis pubis, konsistensi
kenyal, mobile dan rata. Tidak ada nyeri tekan.

Ekstremitas
Akral hangat :+
Edema :-

22
3. Status Ginekologi
PEMERIKSAAN INSPEKULO
Portio
- Erosi :-
- Ectropion :-
- Laserasi :-
- Ovula naboti :-
- Polip :-
- Bunga kol (exophytik) :-
- Leukoplakia :-
- Schiller test :-
- Darah : Tampak darah mengenang di ferniks
posterior, dibersihkan, kesan : tidak aktif

PEMERIKSAAN DALAM (VT)


Uterus
- Posisi : Antefleksi
- Besarnya : Sebesar kepalan tangan orang dewasa
- Mobilitas : Mobile
- Konsistensi : Kenyal, Permukaan Rata
- Nyeri Tekan : (-)
Cavum Douglas
- Douglas crise : (-)
- Menonjol / tidak : Tidak
Parametrium
- Parametrium kanan/kiri : Lemas
Adnexa
- Adnexa kanan/kiri : Tidak ditemukan kelainan

Rektovaginal : Tidak dilakukan

23
D. DIAGNOSIS BANDING
1. Mioma Uteri
2. Kista / Neoplasma Ovarium
3. Adenomiosis

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 HEMATOLOGI
Hematologi
Darah rutin Nilai Nilai Rujukan satuan
Hemoglobin 11,6 12 – 16 g/dl
Hitung eritrosit 4,3 3,8 - 5,2 10*5/µl
Hitung leukosit 13.610 4,000- 11,000 /µl
Hematokrit 35,0 35-47 %
Hitung trombosit 326.000 150,000-450,000 /µl

Index eritrosit
MCV 79.5 80 – 100 fL
MCH 27,3 26 – 34 pg
MCHC 34,3 32 – 36 %

Hitung jenis leukosit


Eosinofil 2 1–3 %
Basofil 0 0–1 %
N.Stab 0 2– 6 %
N. Seg 65 53–75 %
Limfosit 28 20–45 %
Monosit 5 4–8 %
LED 11 0-20 mm/jam

24
 USG
- Kandung Kemih : terisi baik
- Uterus : Uterus sulit dinilai, tampak masa hipercor
berbentuk kumparan
- Adnexa : kanan dan kiri dalam batas normal
- Cairan bebas : (-)
Kesan : Mioma Uteri
og
 Hasil pemeriksaan Skrining Kanker :
Tidak dilakukan pemeriksaan

F. DIAGNOSIS KERJA
 Mioma Uteri

G. TERAPI
- IVFD RL 20 gtt/menit
- Inj. Ceftriaxon 1gr/12jam
- Inj. Ketorolak 30 mg/8jam
- Inj. Ranitidin 50 mg/8jam

H. RENCANA TINDAKAN
Operasi tanggal 30 april 2019 Pukul 09.30 WIB, Jenis operasi : TAH – BSO
(Total Abdominal Histerektomi – Bilateral Salpingo Oopharectomy).

I. PERSIAPAN PRE OPERASI


- Informed Consent
- Surat izin operasi
- Konsul dokter anestesi dan persiapan anestesi,
- IVFD RL terpasang abocath no.18
- Kateter urine terpasang.
- Pasien tidak makan dan minum 8 jam sebelum jadwal operasi.

25
- Pantau Vital Sign
- Hasil pemeriksaan laboratorium
- Hasil pemeriksaan USG

J. LAPORAN OPERASI
Supervisor : dr. H. Muslich Perangin-angin, Sp.OG
Tanggal : 1 Juli 2019
Jam : 09.30 WIB
Jenis Operasi : TAH – BSO (Total Abdominal Histerektomi – Bilateral
Salpingo Oophorectomy).

 Ibu dibaringkan di meja operasi posisi supine, dengan infuse dan keteter
terpasang baik.
 Dibawah spinal anastesi dilakukan tindakan septik dan aseptik pada
lapangan operasi, kemudian ditutup dengan duk steril, kecuali lapangan
operasi.
 Dibuat insisi mediana / Plannensteil ± 10 cm. Insisi dilakukan sampai
menembus peritonium.
 Setelah peritonium dibuka, dilakukan eksplorasi, tampak uterus, tuba
dan ovarium.
 Diputuskan melakukan histerektomi total.
 Uterus dikeluarkan dari rongga abdomen dan dipasang untuk
melindungi usus, ligamen rotundum kiri di identifikasi, di klem pada
dua tempat, dipotong dan diikat dilakukan hal yang sama pada bagian
kanan. Plika vesika uterina dibebaskan.
 Lembaran belakang ligamentum latum kanan dan kiri dibuka secara
tajam dengan gunting sedekat mungkin dengan uterus. Menyisih sisi
uterus sampai setinggi ligamentumsakraouterina.
 Plika vesika uterina dibuka melintang dengan gunting, vesika uterina
dibebaskan secara tumpul dari serviks dan dipotong kebawah dengan

26
jari yang dibungkus kain kasa sekaligus dilepaskan dari bagian bawah
uterus.
 Jaringan ligamentum yang terbuka di dorong ke lateral untuk menjauhi
ureter.
 Peritonium dilapisan belakang ligamentum digunting pada pinggir
uterus lalu vasauterina kanan dan kiri dengan cabang- cabangnya dijepit
didekat uterus, digunting dan diikat.
 Serviks bagian atas dijepit 2 cunam lalu di potong diantara 2 cunam
tersebut luka yang terbentuk dijahit.
 Setelah diyakini tidak ada perdarahan, ligamentum sakraouterina,
pangkal tuba, ligamen Ovarii propium dan ligamentum rotundum
diikatkan kesudut puncak vagina yang sepihak, dan semua ujung yang
ditahan, diklem dan di potong.
 Dilakukan reperitonealisasi, diyakini tidak ada perdarahan lagi, maka
dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.
 Operasi selesai, didapat masa dengan berat ± 200 gram.

K. POST OPERASI
- Tindakan operasi : TAH –BSO
- Temuan pada operasi : Ditemukan Massa Tumor

L. TERAPI DAN RENCANA POST OPERASI


Terapi
- IVFD RL 20 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
- Inj. Ranitidine 50 mg/12 jam
Intruksi Post Op
 Observasi TTV dan perdarahan
 Pemeriksaan darah rutin post operasi
 Pemeriksaan histopatology jaringan post operasi

27
M. PEMERIKSAAN PATOLOGI ANATOMI
Makroskopis :
 Diterima jaringan dari uterus dengan kedua ovarium.
 Pada pemotongan tampak massa tumor berwarna putih keabuan.
Mikroskopis :
 Sediaan jaringan dari seviks dalam batas normal.
 Sediaan jaringan dari massa tumor tampak gambaran sel-sel bentuk
spindel yang tersusun sejajar ke segala arah dan sebagian berbentuk
kumparan.
 Sediaan jaringan dari ovarium tampak gambaran kista yang dilapisi
oleh epitel dengan inti kromatin masih dalam batas normal.
Kesimpulan : Suatu Mioma Uteri

N. FOLLOW UP
Tanggal : 30 Ap2019
S : Nyeri diluka operasi, Pusing (+)
O : Sensorium : CM
TD : 100/70 mmHg
HR : 86 x/i
RR : 24 x/i
Temp : 37.20 C
SL : Abdomen : Soepel, peristaltik (+)
P/V : (-)
L/O : Tertutupverban
BAK : (+) Via Kateter
BAB : (-)
Flatus : (-)
A : Post TAH a/i Mioma Uteri
P :
 IVFD RL 20 gtt/menit
 Inj. Ceftriaxon 1gr/ 12 jam

28
 Inj. Ranitidin 50 mg/ 8 jam
 Inj. Ketorolac 30 mg/ 8 jam

Tanggal : 1 Mei 2019


S : Nyeri diluka operasi, Pusing (-)
O : Sensorium : CM
TD : 100/80 mmHg
HR : 78 x/i
RR : 24 x/i
Temp : 36.8 C
SL : Abdomen : Soepel, peristaltik (+)
P/V : (-)
L/O : Tertutup verban
BAK : (+) Via Kateter
BAB : (-)
Flatus : (-)
A : Post TAH a/i Mioma Uteri
P :
 IVFD RL 20 gtt/menit
 Inj. Ceftriaxon 1gr / 12 jam
 Inj. Ranitidin 50 mg / 8 jam
 Inj. Ketorolac 30 mg / 8 jam

Tanggal 2 Mei 2019


S : Nyeri diluka operasi berkurang,
O : Sensorium : CM
TD : 110/70 mmHg
HR : 72 x/i
RR : 24 x/i
Temp : 37. C
SL : Abdomen : Soepel, peristaltik (+)

29
P/V : (-)
L/O : Tertutup verban
BAK : (+) Via Kateter
BAB : (-)
Flatus : (-)
A : Post TAH a/i Mioma Uteri
P :
 IVFD RL 20 gtt/menit
 Inj. Ceftriaxon 1gr / 12 jam
 Inj. Ranitidin 50 mg / 8 jam
 Inj. Ketorolac 30 mg / 8 jam

Tanggal 3 Mei 2019


S :-
O : Sensorium : CM
TD : 120/80 mmHg
HR : 76 x/i
RR : 22 x/i
Temp : 36,5. C
SL : Abdomen : Soepel, peristaltik (+)
P/V : (-)
L/O : Tertutup verban
BAK : (+) Via Kateter
BAB : (-)
Flatus : (-)
A : Post TAH a/i Mioma Uteri
P :
 IVFD RL 20 gtt/menit
 Inj. Ceftriaxon 1gr / 12 jam
 Inj. Ranitidin 50 mg / 8 jam
 Inj. Ketorolac 30 mg / 8 jam

30
Tanggal 4 Mei 2019
S :-
O : Sensorium : CM
TD : 120/80 mmHg
HR : 78 x/i
RR : 20 x/i
Temp : 36,5. C
SL : Abdomen : Soepel, peristaltik (+)
P/V : (-)
L/O : Tertutup verban
BAK : (+) Via Kateter
BAB : (-)
Flatus : (-)
A : Post TAH a/i mioma uteri
P :

 IVFD RL 20 gtt/menit
 Inj. Ceftriaxon 1gr / 12 jam
 Inj. Ranitidin 50 mg / 8 jam
 Inj. Ketorolac 30 mg / 8 jam

R : - Aff Infus
- Aff Kateter
- PBJ

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo PB pustaka sarwono. Ilmu kandungan. Jakarta; 2011. p. 239.


2. Z JT, W. H. Penanganan Endometriosis Panduan Klinis dan algoritma. Seto S,
editor. Jakarta; 2009.
3. I Gusti Agung Putra Mahautama. Laporan kasus ginekologi kista
endometriosis. Fakultas kedokteran Universitas Mataram RSUP NTB dan RSUP
Praya Mataram; 2012.
4. Djuwantono T, Hartanto B, Wiriyawan P. Penanganan Kelainan Endokrinologi
Reproduksi dan Fertilitas Dalam Praktik Sehari-hari. 1st ed. Jakarta: Sagung Seto;
2012. p. 253–83.
5. American Society. Endometriosis a guide for patient
http://www.asrm.org/Patients/patientbooklets/endometriosis.pdf
6. Oepomo TD. Concentration of TNF-α in the peritoneal fluid and serum of
endometrioticpatients. http://www.unsjournals.com/DD0703D070302.pdf
7. NHS Evidence, Annual Evidence Update on Endometriosis –Epidemiology
andaetiology.http://www.library.nhs.uk/womenshealth/ViewResource.aspx?resID
=258981&tabID=290&catID=11472
8. Sampson JA. Peritoneal endometriosis due to menstrual dissemination of
endometrial tissue into peritoneal cavity. Am J Obstet Gynecol 1927; No. 14: 69-
422.http://content.nejm.org/cgi/external_ref?access_num=000202353400057&lin
k_type=ISI.
9. Kapoor D, Davila. Endometriosis: Treatment & Medication.
http//www.emedicine.com

32