Anda di halaman 1dari 43

MODUL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Tujuan

Setelah membaca modul ini diharapkan Anda memiliki kemampuan berikut.

a. Menjelaskan konsep dasar PTK


b. Menjelaskan langkah melaksanakan PTK

c. Melakukan observasi untuk mengidentifikasi fokus masalah, merinci fokus


masalah, menganalisis sebab terjadinya masalah dengan menggunakan teori
dan data empiris yang relevan

d. Memilih teori dan kajian empiris terdahulu untuk merancang tindakan yang
sesuai dengan masalah

e. Menjelaskan cara menyusun komponen proposal PTK

f. Menyusun proposal PTK berdasarkan hasil identifikasi masalah, analisis


sebab, dan alternatif solusi yang telah dilakukan

g. Menjelaskan karakteristik dan sistematika laporan PTK

Pengantar

Dalam Standar Tenaga Pendidik dipaparkan bahwa salah satu kompetensi


profesional guru adalah kemampuan melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan
kualitas pembelajaran. Kompetensi tersebut di ingkat SD/ MI dirinci menjadi (a)
kemampuan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan, (b)
kemampuan memanfaatkan hasil refleksi untuk perbaikan dan pengembangan lima
mata pelajaran SD/MI, dan (c) kemampuan melakukan penelitian tindakan kelas untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran lima mata pelajaran SD/MI.

Sementara pada Standar tenaga Pendidik sekolah menengah dipaparkan


adanya kompetensi profesional guru yang berupa kemampuan mengembangkan
keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
Kompetensi tersebut mencakup (a) kemampuan melakukan refleksi terhadap kinerja
sendiri secara\ terus menerus, (b) memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka
peningkatan keprofesionalan, (c) melakukan penelitian tindakan kelas untuk
peningkatan keprofesionalan, dan (d) kemampuan mengikuti kemajuan zaman
dengan belajar dari berbagai sumber. Dari kedua uraian tersebut dapat disimpulkan
bahwa kemampuan melakukan penelitian tindakan kelas merupakan kompetensi
yang harus dimiliki seorang guru dalam rangka meningkatkan profesionalitasnya.
Modul ini berisi paparan dan latihan yang akan membekali para guru untuk
memahami konsep dasar, langkah PTK, serta menerapkannya untuk menyusun
proposal maupun melaksanakan PTK . Secara rinci modul ini terdiri atas empat
kegiatan yaitu (a) pemahaman konsep dasar PTK (definisi, karakteristik, dan langkah
melakukan PTK), (b) pemahaman langkah dan komponen dalam menyusun proposal
PTK, (c) praktik mengidentifikasi masalah, analisis, penentuan sebab dan tindakan
dilanjutkan praktik menyusun proposal yang sesuai, dan (d) pemahaman ciri dan
sistematika laporan PTK. Diharapkan dengan modul ini guru terpandu untuk menyusun
proposal PTK dengan langkah yang tepat.

Kegiatan 1: Pemahaman Konsep dasar PTK

1. Pengertian PTK

Penelitian tindakan kelas (selanjutnya disebut penelitian tindakan) diartikan oleh


Kemmis dan Mc Taggart (1988) sebagai bentuk refleksi diri dengan melibatkan
partisipan secara kolektif dalam suatu situasi social untuk mengembangkan
rasionalisasi dan justifikasi dari praktik pendidikan. Refleksi diri dilaksanakan secara
sistematis dan terbuka. Partisipan berupa komponen pelaku pendidikan yang terdiri
atas guru, siswa, kepala sekolah, pustakawan, dan anggota masyarakat.
Rasionalisasi dan justifikasi didasari fakta-fakta empiric dari praktik pendidikan
sehari-hari.
McNiff (1992) mengartikan penelitian tindakan sebagai pendidikan yang
mendorong guru untuk menjadi refleksi terhadap p0raktik mengajarnya demi
meningkatkan kualitas pendidikan baik untuk dirinya maupun untuk siswanya.
Bentuk refleksi diri banyak digunakan dalam pengembangan kurikulum berbasis
sekolah, skema pengembangan sekolah, dan pengembangan professional yang
secara aktif melbatkan guru sebagai partisipan dalam proses pembelajarannya
sendiri. Penelitian tindakan memandang pembelajaran sebagai praktik terpadu, guru
sebagai juri terbaik dalam praktik pembelajarannya di kelas.

2. Apa karakteristik PTK?

PTK memiliki sejumlah karakteristik berikut.

- Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan,


pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku
penelitian.
- Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka
waktu tertentu secara kontinyu untuk memperoleh data
yang diperlukan, bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.
- Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan
generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak
untuk digenaralisasi meskipun
mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya
mirip.

- Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus


pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru
berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang
diteliti pula.
- Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran
menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang
diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan
hal yang diteliti.
- Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK
selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan
pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
- Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau
tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh
guru;
- Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang
pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi
kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.
- Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk
mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan
jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut
penggunaan statistik yang sederhana bukan yang rumit.
- Bertujuan mengubah kenyataan dan situasi pembelajaran menjadi
lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori
dan menguji hipotesis.

3. Bagaimana Langkah Melaksanakan PTK?

Kemmis dan McTaggart (1999) mengatakan bahwa penelitian tindakan


adalah suatu siklus spiral yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan
tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi, yang selanjutnya mungkin
diikuti dengan siklus spiral berikutnya.Dalam pelaksanaan penelitian
tindakan kelas adalah mungkin peneliti telah mempunyai seperangkat
rencana tindakan (yang didasarkan pada pengalaman) sehingga dapat
langsung memulai tahap tindakan. Ada juga peneliti yang telah memiliki
seperangkat data, sehingga mereka memulai kegiatan pertamanya dengan
kegiatan refleksi. Kebanyakan penelitian tindakan kelas mulai dari fase
refleksi awal untuk melakukan studi pendahuluan sebagai dasar dalam
merumuskan masalah penelitian. Langkah selanjutnya adalah perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi. Berikut akan coba diuraikan langkah
melakukan penelitian tindakan.

LANGKAH PERTAMA: REFLEKSI AWAL

Refleksi awal merupakan kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk


mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema
penelitian. Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan
untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil
refleksi awal dapat dilakukan pemfokusan masalah yang selanjutnya
dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut
maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi
awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan
dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan
masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual
dari penelitian.

Refleksi awal berisi identifikasi masalah dan analisis masalah. Analisis


masalah perlu dilakukan untuk mengetahui dimensi-dimensi masalah yang
mungkin ada untuk mengidentifikasikan aspek-aspek pentingnya dan untuk
memberikan penekanan yang memadai. Analisis masalah melibatkan
beberapa jenis kegiatan, bergantung pada kesulitan yang ditunjukkan dalam
pertanyaan masalahnya. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan melalui
diskusi di antara para peserta penelitian dan fasilitatornya, juga kajian
pustaka yang berhubungan.

Mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dianggap penting dan


kritis yang harus segera dicarikan penyelesaian dalam pembelajaran
seharihari, antara lain meliputi ruang lingkup masalah, identifikasi masalah
dan perumusan masalah.

LANGKAH KEDUA: PENYUSUNAN PERENCANAAN

Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal.


Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk
memperbaiki, meningkatkan atau merubah perilaku dan sikap yang
diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perlu disadari
bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai
dengan kondisi nyata yang ada.
LANGKAH KETIGA: PELAKSANAAN TINDAKAN

Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya


perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada
rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya
selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empirik agar hasil yang
diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.

LANGKAH KEEMPAT: OBSERVASI (PENGAMATAN)

Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan


pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti
mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau
dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang
dikumpulkan melalui teknik observasi.

LANGKAH KELIMA: REFLEKSI

Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis,


interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan.
Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-
hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu
dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau
hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi yang mendalam
dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam. Refleksi merupakan bagian
yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan
hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang
dilakukan.

Pada hakekatnya langkah-langkah PTK model Kemmis dan Taggart


berupa siklus dengan setiap siklus terdiri dari empat komponen yaitu
perencanaan, pelaksanaan (tindakan), pengamatan (observasi), dan refleksi
yang dipandang sebagai satu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung
dari permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan. Pada umumnya
terjadi lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh
para guru di sekolah saat ini pada umumnya berdasarkan model PTK Kemmis
dan McTaggart ini.

Hampir sama dengan langkah yang dikemukakan Kemmis,


dikemukakan langkah PTK lain yang lebih rinci.
LANGKAH PERTAMA: MENGIDENTIFIKASI DAN MERUMUSKAN
MASALAH

Mengidentifikasi dilakukan dengan menganalisis kesenjangan antara


harapan/ kondisi seharusnya dan kondisi sekarang. Mengidentifikasi dan
merumuskan masalah yang dianggap penting dan kritis yang harus segera
dicarikan penyelesaian dalam pembelajaran seharihari, antara lain meliputi
ruang lingkup masalah, identifikasi masalah dan perumusan masalah.

LANGKAH KEDUA: MENGANALISIS SEBAB DAN TINDAKAN YANG


SESUAI

Masalah yang sudah diidentifikasi dianalisis sebab-sebabnya. Disini


guru mengkaji berbagai teori dan konteks pelaksanaan pembelajaran.

LANGKAH KETIGA: MERUMUSKAN HIPOTESIS TINDAKAN

Hipotesis dalam PTK bukan hipotesis perbedaan atau hubungan, melainkan


hipotesis tindakan. Rumusan hipotesis tindakan memuat jawaban sementara
terhadap persoalan yang diajukan dalam PTK. Jawaban itu masih bersifat
teoritik dan dianggap benar sebelum terbukti salah melalui pembuktian
dengan menggunakan data dari PTK.

LANGKAH KEEMPAT: MEMBUAT RENCANA TINDAKAN DAN


PEMANTAUAN

Rencana tindakan memuat informasi-informasi tentang hal-hal sebagai


berikut: (a) apa yang diperlukan untuk menentukan kemungkinan pemecahan
masalah yang telah dirumuskan; (b) alat-alat dan teknik yang diperlukan
untuk mengumpulkan data; (c) rencana pencatatan data dan pengolahannya;
(d) rencana untuk melaksanakan tindakan dan evaluasi hasil.

Rencana tindakan perlu dilengkapi dengan pernyataan tentang indikator-


indikator peningkatan yang akan dicapai. Misalnya, indikator untuk
peningkatan keterlibatan murid adalah peningkatan jumlah murid yang
melakukan sesuatu dalam pembelajaran, seperti bertanya, mengusulkan
pendapat, mengungkapkan kesetujuan, mengungkapkan kesenangan,
mengungkapkan penolakan dan sebagainya . Indikator aspek afektif juga
dapat dirumuskan secara kuantitatif. Misalnya, 70% siswa terlibat aktif
bertanya, mengerjakan tugas, dan mengkritisi karya temannya. Misalnya,
indikator kemampuan menulis cerpen adalah (a) kemampuan menentukan
ide penulisan, (b) menyusun sinopsis cerita dengan alur yang menarik, (c)
mengembangkan cerpen dengan alur yang utuh , (d) mengembangkan tokoh
dengan berbagai teknik pengembangan, (e) mengembangkan setting yang
sesuai, (e) menggunakan gaya bahasa yang unik dan sesuai isi cerita. Indikator
juga dapat dispesifikasikan dalam bentuk kuantitatif. Kemampuan menulis
cerpen siswa mencapai skor minimal 75.

LANGKAH KELIMA: PELAKSANAAN TINDAKAN DAN PENCATATAN

Pelaksanaan tindakan yang telah direncanakan hendaknya cukup fleksibel


untuk mencapai perbaikan yang diinginkan. Dalam hal ini jika sesuatu terjadi
dan memerlukan perubahan karena tuntutan situasi (pada saat pelaksanaan
tindakan), maka peneliti hendaknya siap melakukan perubahan asal
perubahan tersebut mendukung tercapainya tujuan PTK. Pada saat
pelaksanaan tindakan berarti pengumpulan data mulai dilakukan. Data yang
dikumpulkan mencakup semua yang dilakukan oleh tim peneliti yang terkait
dalam PTK, antara lain melalui angket, catatan lapangan, wawancara,
rekaman video, foto, dan slide.

Tindakan hendaknya dituntun oleh rencana yang telah dibuat, tetapi


perlu diingat bahwa tindakan itu tidak secara mutlak dikendalikan oleh
rencana, mengingat dinamikan proses pembelajaran di kelas Anda, yang
menuntut penyesuaian. Oleh karena itu, Anda perlu bersikap fleksibel dan
siap mengubah rencana tindakan sesuai dengan keadaan yang ada. Semua
perubahan/penyesuaian yang terjadi perlu dicatat karena kelak harus
dilaporkan.

Pelaksanaan rencana tindakan memiliki karakter perjuangan materiil,


sosial, dan politis ke arah perbaikan. Mungkin negosiasi dan kompromi
diperlukan, tetapi kompromi harus juga dilihat dalam konteks strateginya.
Nilai tambah taraf sedang mungkin cukup untuk sementara waktu, dan nilai
tambah ini kemudian mendasari tindakan berikutnya.

Dalam pelaksanaan tindakan, kegiatan utama peneliti adalah


melakukan observasi. Observasi tindakan di kelas Anda berfungsi untuk
mendokumentasikan pengaruh tindakan bersama prosesnya. Observasi itu
berorientasi ke depan, tetapi memberikan dasar bagi refleksi sekarang, lebih-
lebih lagi ketika putaran atau siklus terkait masih berlangsung. Perlu dijaga
agar observasi: (1) direncanakan agar (a) ada dokumen sebagai dasar refleksi
berikutnya dan (b) fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal yang tak
terduga; (2) dilakukan secara cermat karena tindakan Anda di kelas selalu
akan dibatasi oleh kendala realitas kelas yang dinamis, diwarnai dengan hal-
hal tak terduga; (3) bersifat responsif, terbuka pandangan dan pikirannya.

Hal yang diamati dalam pelaksanaan PTK adalah (1) proses


tindakannya, (b) pengaruh tindakan (yang disengaja dan tak sengaja), (c)
keadaan dan kendala tindakan, (d) bagaimana keadaan dan kendala tersebut
menghambat atau mempermudah tindakan yang telah direncanakan dan
pengaruhnya, dan (e) persoalan lain yang tim

LANGKAH KEENAM: REFLEKSI

Isi semua catatan hendaknya dilihat dan dijadikan landasan untuk


refleksi. Dalam hal ini peneliti harus membandingkan isi catatan yang
dilakukan tim untuk menentukan hasil temuan. Semua yang terjadi baik yang
direncanakan maupun yang tidak direncanakan perlu dianalisis untuk
menentukan apakah ada perubahan yang signifikan ke arah perbaikan.

Yang dimaksud dengan refleksi adalah mengingat dan merenungkan


kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi.
Lewat refleksi Anda berusaha (1) memahami proses, masalah, persoalan, dan
kendala yang nyata dalam tindakan strategik, dengan mempertimbangkan
ragam perspektif yang mungkin ada dalam situasi pembelejaran kelas, dan (2)
memahami persoalan pembelajaran dan keadaan kelas di mana pembelajan
dilaksanakan. Dalam melakukan refleksi, Anda sebaiknya juga berdiskusi
dengan sejawat Anda, untuk menghasilkan rekonstruksi makna situasi
pembelajaran kelas Anda dan memberikan dasar perbaikan rencana siklus
berikutnya. Refleksi memiliki aspek evaluatif; dalam melakukan refleksi, Anda
hendaknya menimbang-nimbang pengalaman menyelenggarakan
pembelajaran di kelas, untuk menilai apakah pengaruh (persoalan yang
timbul) memang diinginkan, dan memberikan saran-saran tentang cara-cara
untuk meneruskan pekerjaan. Tetapi dalam pengertian bahwa refleksi itu
deskriptif, Anda meninjau ulang, mengembangkan gambaran agar lebih lebih
hidup (a) tentang proses pembelajaran kelas Anda, (b) tentang kendala yang
dihadapi dalam melakukan tindakan di kelas, dan, yang lebih penting lagi, (c)
tentang apa yang sekarang mungkin dilakukan untuk para siswa Anda agar
mencapai tujuan perbaikan pembelajaran.

PTK Anda merupakan proses dinamis, dengan empat momen dalam


spiral perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Proses dasar tersebut
dapat diringkas sebagai berikut (Kemmis dkk. (1982). Dalam praktik, proses
PTK Anda mulai dengan ide umum bahwa Anda menginginkan perubahan
atau perbaikan pembelajaran di kelas Anda. Inilah keputusan tentang letak di
mana dampak tindakan itu mungkin diperoleh. Setelah memutuskan
medannya dan melakukan peninjauan awal, Anda bersama kolaborator
sebagai peneliti tindakan memutuskan rencana umum tindakan. Dengan
menjabarkan rencana umum ke dalam langkah-langkah yang dapat dilakukan,
Anda memasuki langkah pertama, yakni perubahan dalam strategi yang
ditujukan bukan saja untuk mencapai perbaikan, tetapi juga pemahaman lebih
baik tentang apa yang mungkin dicapai kemudian. Sebelum mengambil
langkah pertama, Anda harus lebih berhati-hati dan merencanakan cara untuk
memantau pengaruh langkah tindakan pertama, keadaan kelas Anda, dan apa
yang mulai dilihat oleh strategi dalam praktik. Jika mungkin
mempertahankan pencarian fakta dengan memantau tindakannya, langkah
pertama diambil. Pada waktu langkah itu dilaksanakan, data baru mulai
masuk, dan keadaan, tindakan, dan pengaruhnya dapat dideskripsikan dan
dievaluasi. Tahap evaluasi ini menjadi peninjauan yang segar yang dapat
dipakai untuk menyiapkan cara untuk perencanaan baru (Kemmis dkk., 1982:
6-7).

Kegiatan 2: Mengamati Praktik Menyusun Proposal PTK

Guru yang melakukan PTK ibarat dokter yang sedang mendiagnosis penyakit
paisiennya dan mencari tindakan yang relevan sehingga dicapai kondisi
terbaik dari pasiennya. Demikian juga guru dalam melakukan PTK perlu
mendiagnosis dulu apa masalah yang terjadi, seberapa dalam masalah itu, apa
sebab masalah, dan menentukan tindakan yang sesuai. Rencana tindakan
dilaksanakan dan diamati keberhasilannya dalam memecahkan masalah.
Tindakan yang dilakukan dicatat kelemahan dan kelebihannya untuk
diperbaiki pada pelaksanaan tindakan berikutnya.

Dokter mendiagnosis pasien


Guru mengamati proses dan hasil pembelajaran
untuk mendiagnosis masalah

Bagaimana Prosedur Menyusun Proposal PTK?

Menyusun proposal PTK tidak bisa dilakukan dengan langsung


menentukan metode yang akan diterapkan dalam penelitiannya karena
menganggap metode itu metode baru. Ibarat dokter tidak bisa kita langsung
mementukan obatnya tanpa mengetahui detail penyakit yang dialami pasien.
Demikian juga dengan peneliti PTK. Peneliti PTK diawali dengan
merefleksikan masalah (identifikasi dan analisis masalah), menentukan
alternatif solusi berdarkan kajian teoritis maupun empiris Amati dua proses
penentuan PTK dari dua kasus berikut.

Bagaimana guru bisa menemukan permasalahan dan dapat


mengindentifikasikan permasalahan?

Untuk mengindentifikasikan permasalahan yang akan diteliti bagi guru


sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan, dengan syarat guru rajin – rajin
untuk membuat catatan – catatan setiap sesi pembelajaran. Dengan catatan –
catatan tersebut guru bisa merenungkan dan memikirkan kekurangan
ataupun kelebihan guru dalam penyampaian materi pembelajaran.
Kekurangan-kekurangan itulah yang akan menjadi bahan PTK. Sebab
permasalahan bisa datang dari siswa maupun dari guru itu sendiri, disini guru
dituntut untuk jujur dalam arti jika dalam sistem pembelajaran kekurangan
datangnya dari guru itu sendiri, guru harus mengakuinya.

Amati contoh tahap persiapan akan menyusun proposal PTK dengan


melakukan identifikasi masalah dan analisis masalah.

Contoh Penerapan Menyusun Proposal PTK dalam Pembelajaran

TAHAP PERSIAPAN

Menyusun proposal PTK tidak bisa dilakukan dengan langsung


menentukan judul atau metode yang akan diterapkan dalam penelitiannya
karena menganggap metode itu metode baru. Ibarat dokter, untuk melakukan
tindakan tidak bisa langsung mementukan obatnya tanpa mengetahui detail
penyakit yang dialami pasien. Demikian juga dengan peneliti PTK. Peneliti
PTK perlu melalui tahap persiapan dengan melakukan kegiatan identifikasi
masalah (identifikasi dan analisis masalah). Dari identifikasi masalah
ditentukan kemungkinan sebab-sebabnya kenudian menentukan alternatif
solusi berdarkan kajian teoritis maupun empiris. Secara ringkas diagram
berikut menggambarkan persiapan apa yang perlu dilakukan guru sebelum
menyusun proposal PTK. Guru sebelum menyusun proposal perlu
merefleksikan pembelajaran untuk mengidentifikasi masalah, analisis sebab,
dan menentukan obat/ tindakan yang sesuai.
Diagram alur identifikasi dan analisis masalah PTK

Alur pada diagram tersebut dilakukan sebagai bahan persiapan


sebelum seorang guru dalam menyusun proposal PTK. Jabaran alur
identifikasi masalah, analisis masalah, dan penentuan tindakan dicontohkan
berikut.

Identifikasi Masalah

Tahap awal PTK adalah merefleksikan masalah. Pada tahap ini guru
mengidentifikasi masalah yaitu kesenjangan antara harapan / yang
seharusnya terjadi dengan kondisi riil yang ada).

Kapan pembelajaran Anda dianggap bermasalah?

a. Dianggap bermasalah jika rata-rata siswa tidak mencapai ketuntasan


KD (tidak mampu berpidato, tidak mampu memahami isi teks, tidak
mampu
b. Siswa sebagian besar belum menunjukkan pencapaian afektif dan
perilaku ke arah Standar Kompetensi Lulusan (tidak menunjukkan
kepercayaan diri secara konsisten, tidak gemar membaca dan menulis,
tidak menunjukkan sikap bekerjasama, tidak mandiri dalam belajar,
belum mampu berpikir kritis, logis, dan kreatif)
c. Siswa belum terlibat aktif, tidak tertarik dengan pembelajaran, kurang
mampu menyimpulkan, kurang mampu

Mengklasifikasi/ merinci masalah

a. Masalah apa yang dirasakan dari segi pencapaian kompetensi (rata-


rata siswa tidak mampu menulis cerpen dengan ide orisinal dan konflik
yang memadai, cerpen yang disusun seperti percakapan sehari-hari,
penggunaan bahasa)
b. Masalah afektif apa yang dialami sebagian besar siswa dalam proses
menulis cerita (takut hasilnya jelek/ tidak percaya diri, kurang berminat)

c. Seberapa dalam masalah yang berhubungan dengan pencapaian hasil


(dari 38 siswa 60% dialog drama tanpa konflik, penggunaan penanda
laku belum muncul, teknik memberikan lakuan 75% belum menguasai)

d. Seberapa dalam masalah afektif dalam proses pembelajaran ( sebagian


besar siswa secara konsisten menunjukkan ketidakpercayaan diri
dalam berkarya, lebih suka mencontek

Menelaah sebab masalah

Setelah mengidentifikasi masalah dan merinci masalah, pada tahap


selanjutnya ibarat dokter guru mencari literatur dan menganalisis konteks
untuk menemukan sebab-sebab timbulnya kondisi-kondisi yang kurang baik
pada sebagian besar siswa. Dalam konteks masalah di atas, secara khusus
guru mencari informasi apa yang menyebabkan ide penulisan cerita kering,
apa yang menyebabkan siswa suka menjiplak dan mengumpulkan sebagai
tugas individu, mengapa siswa kurang berminat terhadap penulisan karya
sastra. Dalam mendiagnosis guru merefeksikan hasil pengamatan terhadap
hasil bejar siswa, proses belajar yang dilakukan, dan media yang digunakan
serta model penilaian yang dilakukan. Berdasarkan hasil refleksi tulisan
karya siswa ( analisis dokumen karya siswa/ daftar nilai) dan refleksi langkah
pembelajaran dirangkum pada tabel hasil diagnosis berikut.
Aspek Seharusnya Kondisi sekarang

Pencapaian Kompetensi Siswa mampu menulis


dasar menulis karya ilmiah dengan ide
penulisan yang sesuai,
pengembangan isi utuh
dan padu, penggunaan
bahasa ragam baku,
penggunaan tanda baca
dan ejaan

Aspek afektif yang Seharusnya


ditumbuhkan pembelajaran menulis
menumbuhkan pikiran
logis, kritis, senang
menulis, kejujuran
berkarya

Seharusnya
Proses pembelajaran pembelajaran
mendorong interaksi
multiarah sehingga
siswa aktif
mengeksplorasi,
mengelaborasi,
mendapatkan balikan,
menumbuhkan motivasi
berprestasi

Analisis masalah dilanjutkan dengan merinci masalah kesenjangan kondisi


sekarang dan menganalisis sebab-sebab masalah muncul. Amati tabel
berikut!
Masalah Rincian Analisis Sebab
(kesenjangan
harapan dan
kondisi sekarang)
Sebagian besar Belum mampu
siswa (55%) belum menemukan ide, Menjiplak karena
mampu menyusun garis belum mampu
mengembangkan besar ide, membuat sendiri
karya sastra mengembangkan dan waktu tidak
secara orisinal ide menjadi karya cukup.
(mencontek/ sastra Ketidakmampuan
mengumpulkan siswa karena
hasil karya orang pembelajaran baru
lain) menyuruh membuat
tetapi tidak
Beberapa siswa membelajarkan
membuat sendiri bagaimana
tetapi belum membuat dan tugas
memadai dilakukan di rumah
(tidak dikendalikan
guru)

Proses Kurang mandiri Merasa tidak


pembelajaran dalam menggali mampu membuat
belum dapat ide dan dan belajar dari
menumbuhkan mengembangkan masa lalu kalau hasil
kepercayaan diri ide kreasi kurang bagus
siswa Siswa kurang diberi skor rendah
percaya diri (kurang dan dimarahi
mandiri dalam
membuat)

Proses Kurang berminat


pembelajaran karena dirasa
kurang berminat berat/jenuh dengan
terhadap tugas menulis karya
pembelajaran sastra terutama
menulis karya cerpen
sastra

Menentukan Tindakan atau Obat yang sesuai

Untuk nenentukan obat/ solusi yang sesuai untuk masalah yang ditemukan,
guru perlu membekali diri dengan wawasan berbagai karakteristik model
pembelajaran, model penilaian, media, bahan ajar dalam kaitannya untuk
meningkatkan hasil dan proses pembelajaran. Dari berbagai kajian teori atau
refleksi empiris ditentukan kemungkinan tindakan/ obat yang dianggap
relevan. Dari identifikasi masalah dan diagnosis masalah tersebut
dicontohkan penentuan solusi/ obat yang dianggap sesuai oleh peneliti.

Analisis sebab dilanjutkan dan diperbaiki dengan mengajukan tinadakan


yang relevan. Amati contoh!

Masalah Rincian Analisis Sebab Obat yang


umuml sesuai (dari
kajian teori
maupun
empiris)
Siswa belum Belum mampu Scafolding
mampu menemukan ide, belum mampu (membantu
menulis menyusun garis membuat siswa secara
cerpen besar ide, membuat cerpen bertahap
mengembangkan secara mandiri berlatih
karena kurang
ide menjadi menguasai
cerpen latihan keterampilan
terbimbing dan dengan kendali
rangsangan ide guru sehingga
kurang siswa dapat
menyentuh diketahui jika
emosi siswa. mencontek
Ketidakmampuan karya orang
siswa karena lain)
pembelajaran
baru menyuruh Modelling
membuat tetapi bervariasi
tidak (untuk
membelajarkan meningkatkan
bagaimana keterampilan
membuat kompleks
dengan
memberi
kesempatan
siswa
mengkreasikan)

Menggunakan
media rangsang
emotif karena
menulis kreatif
sastra berkaitan
dengan emosi.
Menulis dengan
keterlibatan
emosi
meningkatkan
pengembangan
ide.
Menjiplak karena
Proses Kurang mandiri belum mampu Menciptakan
pembelajaran dalam menggali membuat sendiri kondisi nyaman
belum dapat ide dan dan waktu tidak tetapi
menumbuhkan mengembangkan cukup. dikendalikan
kepercayaan ide secara Ketidakmampuan dengan model
diri siswa orisinal siswa karena penilaian sendir
untuk pembelajaran i dan tidak
membuat baru menyuruh menghakimi
membuat tetapi
sendiri. Siswa tidak
kurang membelajarkan
percaya diri bagaimana
(kurang membuat dan
mandiri dalam tugas dilakukan
membuat) di rumah (tidak
sehingga dikendalikan
karya siswa guru)
banyak yang
mencontek Merasa tidak
cerpen orang mampu membuat
lain dan belajar dari
masa lalu kalau
hasil kreasi
kurang bagus
diberi skor
rendah dan
dimarahi

Proses Kurang berminat Menciptakan


pembelajaran karena dirasa tugas menulis
kurang berat/jenuh dengan
berminat dengan tugas rangsang minat
terhadap menulis karya personal/
pembelajaran sastra terutama kebutuhan
menulis karya cerpen emosionalnya
sastra (tema tulisan
yang dipilih
sendiri dan
melibatkan
emosi siswa
dapat
menumbuhkan
minat dan
kesenangan

Dari diagnosis pada tabel di atas peneliti dapat memilih solusi/ obat
yang menggabungkan model pembelajaran, media, dan model penilaian yang
sesuai. Peneliti berpikir bahwa dengan menerapkan metode pemodelan
proses siswa dapat dibimbing per tahap untuk menulis sehingga membuat
siswa memiliki keterampilan yang memadai menemukan ide, merencanakan
garis besar isi, dan mengembangkan isi serta menyunting karyanya. Dengan
keterampilan yang memadai dan proses yang terkendali siswa tidak serta
merta mencontek milik orang lain. Media rangsang emotif dan personal dapat
merangsang siswa menemukan ide dan lancar mengembangkan ide karena
berkaitan dengan emosi yang dirasakan siswa. Balikan reflektif dilakukan
untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan sekaligus meningkatkan
pemahaman serta keterampilan siswa dalam menulis. Solusi yang dipikirkan
peneliti dan alasan-alasannya dirumuskan menjadi hipotesis tindakan.

Guru dapat menentukan alternatif tindakan yang sesuai jika guru


memiliki wawasan yang luas tentang karakteristik model pembelajaran,
media, model bahan ajar, dan model penilaian dalam kaitannya dengan
peningkatan hasil dan proses pembelajaran tertentu. Baca dan lengkapi
tabel berikut! Tabel berikut berisi wawasan tentang model pembelajaran,
model penilaian, model bahan ajar, dan media dalam kaitannya dengan
fungsinya untuk meningkatkan hasil dan proses pembelajaran.

Bekal apa yang diperlukan guru untuk merancang

Seperti halnya seorang dokter, guru perlu dibekali kemampuan


mendiagnosis masalah dan wawasan/ kemampuan obat-obat/ solusi yang
sesuai dengan masalah yang dihadapi. Wawasan tentang tanda-tanda
masalah yang dihadapi siswa dan model pembelajaran serta model
penilaian yang cocok untuk mengatasi masalah tertentu. Jadi, tidak benar
jika guru langsung mencobakan sebuah metode baru untuk mengatasi
masalah yang tidak cocok. Wawasan karakteristik model pembelajaran dan
model penilaian dalam kaitannya dengan masalah di kelas diperlukan guru
sebelum menentukan judul PTK.

Untuk menambah wawasan isilah tabel berikut berdasarkan kesesuaian karakteristik


obat (tindakan) dan penyakitnya (masalahnya)!

Model pembelajaran Karakteristik/ Fungsi Cocok untuk mengatasi


masalah

Scaffolding Membimbing per tahap Kurangnya pencapaian


yang dibutuhkan siswa kompetensi dasar yang
untuk mencapai berupa keterampilan
keterampilan
Kurangnya pencapaian
Modelling proses dan Memberi contoh kompetensi dasar yang
modelling produk prosedur menghasilkan berupa keterampilan
suatu produk dan
memberi berbagai
contoh

Model Pembelajaran Memberi wawasan isi Sesuai untuk mengatasi


pengaktifan skemata isi tentang topik yang akan macetnya
(membaca multiteks dari diproduksi (ditulis atau pengembangan ide
topik yang akan ditulis, dijadikan bahan siswa dalam menulis
review buku sesuai pembicaraan) maupun berbicara
topik)
Memberi rangsangan
Pemecahan masalah untuk mengembangkan Sesuai untuk mengatasi
isi berdasarkan kurang tercapainya
eksplorasi jawaban dari hasil penulisan yang
masalah yang diajukan

Menumbuhkan sikap
ingin tahu
Menambah
Model penilaian sendiri pemahaman/ Meningkatkan
atau penilaian teman peningkatan keterampilan melakukan
keterampilan secara suatu keterampilan dan
terstruktur kurangnya sikap kritis

Menumbuhkan sikap
kritis dan terbuka
terhadap kritik

Meningkatkan
Model penilaian dengan pemahaman dan
koreksi langsung/ tidak keterampilan melalukan
langsung sesuai kaidah

Menumbuhkan
Model Pembelajaran tanggung jawab dan
Kooperatif kemandirian
Sebagai pengayaan bacalah tabel berikut sebagai panduan kasar
karakteristik tindakan yang berupa metode, bahan ajar, media, maupun model
penilaian dalam kaitannya dengan pencapaian hasil belajar siswa.

JENIS TINDAKAN DAN FUNGSINYA


No. Jenis tindakan Fungsi
1. Siklus belajar 3 tahap / 5 Peningkatan pemahaman
tahap( Eksplorasi, Elaborasi, konsep, peningkatan
Ekspansi Konfirmasi, Evaluasi) kemampuan menerapkan
suatu konsep/ prosedur
2. Metode nyanyian bermakna Meningkatkan hafalan
dengan pengaitan
3. Model berstruktur (model Meningkatkan
dengan arah gerakan, model keterampilan mekanis,
dengan tahapan) (menulis huruf
hijaiyah/latin, aksara
Jawa)
4. Penginderaan benda autentik Meningkatkan
dan penginderaan pemahaman isi dan
pengembangan ide
tulisan, ketahanan
ingatan kosakata, dan
menumbuhkan minat
5. Analisis model (proses dan Meningkatkan
produk) pemahaman,
keterampilan
menghasilkan karya
(kebanggaan berkarya)
8. Metode kooperatif (TGT, Meningkatkan
STAD, Jigsaw, ) pemahaman melalui
kegiatan mengkonstruk
bersama, kerjasama,
tanggung jawab bersama/
individu
9. Metode personal dengan kartu Meningkatkan keaktifan
kasus individu (baca, dan pembimbingan siswa
menyusun pertanyaan, dan yang memiliki
jawaban) karakteristik beragam
10. Gambar emotif, gambar berseri, Kreativitas, kemampuan
foto orang tercinta, foto menulis
kegiatan berkesan
11. Kartu kasus dan problem Meningkatkan
possing pemahaman, kekritisan
12. Permainan/kuis Peningkatan pemahaman
dengan banyak contoh
pada permainan,
meningkatkan
antusiasme/minat, dan
kerjasama
13. Model penilaian, model koreksi Peningkatan
(penilaian sendiri, penilaian keterampilan,
sejawat, penilaian guru, pemahaman kelemahan
kerjasama guru dan orangtua) dan kekuatan
kebiasaan /sikap kritis
14. Pembiasaan terstruktur coba
melakukan, memahami,
menyimpulkan
15. Pemetaan konsep, pemetaan Meningkatkan
kata yang berkiatan dengan pemahaman, kosakata,
topikr (kartu kata, kartu penalaran penggalian ide
kalimat, gambar, short card)
16. outdoor activity Meningkatkan
pemahaman minat,
penggalian ide
18. Metode pemecahan masalah Penggalian ide autentik,
meningkatkan motivasi
belajar,
19. Model pembelajaran PAKEM Meningkatkan keaktifan
siswa, minat belajar,
kekreatifan dan
kekritisan siswa
20. Media audio –visual terfokus Meningkatkan
pemahaman,perhatian,
konsentrasi
21. Metode simulasi pemahaman dan
perubahan sikap
22. Menu / bahan ajar berjenjang Meningkatkan
pemahaman individu
sesuai kemampuan,
minat belajar
23. Pembelajaran berbasis tugas Meningkatkan
keterampilan siswa,
meningkatkan tanggung
jawab
24. Pujian, sanksi, komitmen/ Mengubah perilaku yang
kontrak belajar diharapkan
25. Outdoor activity Pemahaman, minat,
kemampuan menulis
(membuat laporan)
26. Penampilan bersama dan Meningkatkan
penilaian berjenjang keberanian dan
kepercayaan diri
27. Model penilaian sendiri dan Meningkatkan
penilaian sejawat keterampilan, kekritisan,
keaktifan, pemahaman
terhadap penerapan yang
salah dan yang benar
28 Webbing kata/ pemetaan kata Mengatasi kurangnya
yang sesuai topik kosakata, peningkatan
pemahaman dalam
membaca

PENERAPAN PADA KOMPONEN PROPOSAL PTK

Setelah melakukan identikasi masalah, analisis sebab, dan beberapa


tindakan yang sesuai pada tahap persiapan tersebut, peneliti dapat menyusun
komponen-komponen proposal PTK berikut.

A. PENDAHULUAN

Penentuan Judul

Secara umum judul PTK harus menggambarkan tema, mengisyaratkan


masalah penelitian, dan berupa frase benda. Secara khusus kriteria rumusan judul
PTK adalah (a) rincian hal yang akan ditingkatkan dirumuskan secara jelas, (b)
tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan masalah dan dirumuskan secara jelas
, dan (c) mencantumkan konteks pelaksanaan PTK (dimana).

Contoh rumusan judul dan masalah yang sesuai dengan diagnosis yang telah
dilakukan dicontohkan berikut.

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MENULIS KARYA SASTRA MELALUI METODE


PEMODELAN BERVARIASI DENGAN RANGSANG EMOTIF DAN BALIKAN
REFLEKTIF PADA SISWA KELAS ... MALANG
PENERAPAN METODE PEMODELAN BERVARIASI DENGAN RANGSANG
EMOTIF DALAM UPAYA PENINGKATAN PEMBELAJARAN MENULIS DRAMA
PADA SISWA KELAS ... SMA ....

2.Penentuan Latar Belakang

Latar belakang harus menyajikan hal-hal faktual, empiris, dan teoritis. Hasil
analisis observasi awal pada tahap persiapan menjadi modal utama untuk menulis
latar belakang PTK. Kondisi masalah yang telah diidentifikasi pada tahap persiapan
dipaparkan secara faktual. Secara rinci kondisi ideal dan kesenjangan yang ada
dipaparkan. Kajian teori tentang kemungkinan kesesuaian tindakan dengan
masalah yang dihadapi perlu juga dipaparkan pada latar belakang. Kajian empiris
(penelitian eksprimen atau eksplanatoris lain) yang menunjukkan keampuhan
pengaruh tindakan terhadap masalah juga perlu dipaparkan. Seara ringkas latar
belakang PTK berisi hal-hal berikut.
 Tujuan pembelajaran menulis karya sastra. Kondisi ideal yang seharusnya
dipenuhi pembelajaran menulis karya sastra
 Kemampuan menulis karya sastra yang dicapai saat ini masih rendah (belum
sesuai dengan harapan)
 Karakteristik hasil kurang sesuai dengan harapan (masih mencontek karya
orang lain)
 Proses pembelajaran yang dilakukan dan konteks yang melingkupi
 Analisis sebab dari berbagai sudut pandang (teori maupun empiris)
 Karakteristik tindakan yang dipilih dan argumentasi teori kesesuaian tindakan
yang dipilih dengan masalah yang dihadapi
 Penelitian terdahulu atau kajian teori yang mendukung keampuhan tindakan
 Kekhasan penelitian ini, perbedaannya dengan penelitian lain yang telah
dilakukan (jika ada)

3. Perumusan masalah

Berdasarkan analisis dimensi hasil dan proses masalah dapat dirumuskan.


dimensi-dimensi. Berikut dipaparkan contoh rincian rumusan masalah yang sesuai
dengan hasil tahap persiapan yang telah diuraikan di atas. Striger (2004)
memberikan arahan untuk memfokuskan penelitian dengan jelas setelah
melakukan refleksi mengenai apa yang terjadi yang memunculkan masalah
dan apa isu serta peristiwa yang terkait dengan masalah. Isu atau masalah itu
harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang dapat diteliti dan
diidentifikasi tujuan meneliti masalah tersebut.
 Isu atau topik yang ingin diteliti: definisikan apa isu atau peristiwa yang
menimbulkan permasalahan.
 Masalah penelitian: nyatakan isu sebagai suatu masalah.
 Rumusan masalah: tuliskan masalah dalam bentuk pertanyaan.
 Tujuan penelitian:deskripsikan apa yang diharapkan dapat diperoleh
dengan meneliti masalah ini.
Misalnya dipilih masalah sebagai berikut.

Contoh rumusan masalah dengan sasaran beberapa kompetensi dasar yang


hampir sama

a. Bagaimanakah meningkatkan kemampuan menemukan ide kreatif dalam


menulis karya sastra melalui penerapan metode pemodelan bervariasi
dengan rangsang emotif dan balikan reflektif?
b. Bagaimanakah meningkatkan kemampuan mengembangkan ide menjadi
karya sastra secara utuh melalui penerapan metode pemodelan bervariasi
dengan rangsang emotif dan balikan reflektif?

c. Bagaimanakah meningkatkan aspek afektif siswa dalam menulis karya


sastra melalui penerapan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang
emotif dan balikan reflektif?

d. Bagaimanakah meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis karya


sastra melalui penerapan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang
emotif dan balikan reflektif?

Contoh rumusan masalah dengan sasaran terfokus pada kompetensi dasar tertentu

a. Bagaimanakah meningkatkan kemampuan menemukan ide kreatif dalam


menulis naskah drama melalui penerapan metode pemodelan bervariasi
dengan rangsang emotif dan balikan reflektif?
b. Bagaimanakah meningkatkan kemampuan mengembangkan ide menjadi
naskah drama secara utuh melalui penerapan metode pemodelan bervariasi
dengan rangsang emotif dan balikan reflektif?

c. Bagaimanakah meningkatkan aspek afektif siswa dalam menulis naskah


drama melalui penerapan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang
emotif dan balikan reflektif?

d. Bagaimanakah meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis naskah


drama melalui penerapan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang
emotif dan balikan reflektif?
Contoh rumusan masalah dengan penyederhanaan sasaran

a. Bagaimanakah meningkatkan hasil dalam menulis naskah drama melalui


penerapan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif dan
balikan reflektif?
b. Bagaimanakah meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis naskah
drama dengan menerapkan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang
emotif dan balikan reflektif?

1. Menentukan Tujuan Penelitian

Menurut Striger (2004) tujuan penelitian tindakan berkaitan dengan


deskripsi apa yang diharapkan dapat diperoleh dengan melakukan
PTK. Tujuan PTK adalah meningkatkan hasil maupun proses pembelajaran.
Rumusan tujuan PTK sesuai dengan analisis masalah di atas dicontohkan berikut.

Contoh 1 (tujuan untuk rumusan masalah umum)

a. mendeskripsikan peningkatan hasil pembelajaran menulis cerpen dengan


menerapkan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif dan
balikan reflektif
b. mendeskripsikan peningkatan kualitas proses pembelajaran menulis cerpen
dengan menerapkan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif
dan balikan reflektif

Contoh 2 (tujuan untuk rumusan masalah yang rinci

a. mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa mengembangkan sinopsis


garis besar cerita yang akan ditulis menjadi cerpen dengan menerapkan
metode pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif dan balikan reflektif.
b. mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa mengembangkan cerpen
secara utuh dengan alur yang sesuai.dengan menerapkan metode
pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif dan balikan reflektif.

c. mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa mengembangkan tokoh


dalam cerpen yang ditulis dengan menerapkan metode pemodelan
bervariasi dengan rangsang emotif dan balikan reflektif.

d. .........................
Dan seterusnya sesuai dengan rincian masalah yang telah dikembangkan.

2. Menentukan Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dirumuskan berdasarkan kajian empiris dan teoritis sehingga


peneliti menduga bahwa dengan tindakan yang diajukan dapat mengatasi masalah
yang ada.

Contoh hipotesis tindakan

a. Dengan menerapkan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif


dan balikan reflektif akan mampu meningkatkan kemampuan siswa
menggali ide penulisan, merencanakan tulisan, dan mengembangkan isi
tulisan
b. Dengan menerapkan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif
dan balikan reflektif akan mampu meningkatkan kemandirian siswa untuk
menghasilkan karya orisinal (karya bukan contekan karya orang lain)

c. Dengan menerapkan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif


dan balikan reflektif akan mampu meningkatkan minat siswa dalam
pembelajaran menulis karya sastra

d. Dengan menerapkan metode pemodelan bervariasi dengan rangsang emotif


dan balikan reflektif akan mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa
dalam pembelajaran.

3. Penentual Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual berisi landasan teori atau kerangka pikir yang mendukung
argumen kesesuaian penggunaan tindakan untuk memecahkan masalah. Misalnya,
dalam konteks masalah pembelajaran penulisan cerpen perlu dikaji teori-teori
berikut.
- proses menulis kreatif dan hubungannya dengan rangsang emotif
- karakteristik metode modelling proses dikaitkan dengan proses siswa
menjadi terampil menyusun cerpen dengan bimbingan terpandu
- karakteristik penilaian diri dalam kaitannya membuat orang semakin terampil
tanpa tekanan, dan seterusnya

Amati contoh berikut.

Kegiatan menulis kreatif melibatkan aspek penggalian ide, pematangan ide,


dan pengembangan ide. Menulis kreatif melibatkan aspek emosi sehingga dalam
pembelajarannya perlu melibatkan emosi siswa. Menulis hal-hal yang bersifat
personal dengan pelibatan emosi akan mampu meningkatkan pengembangan ide
dalam penulisan cerpen. Kemampuan menulis secara umum melibatkan
kemampuan penggunaan bahasa (diksi, kalimat, paragrapf, ejaan) dan penataan isi
(pemilihan topik, pengembangan gagasan, organisasi gagasan). Menulis cerpen
mensyaratkan dipenuhinya karakteristik unsur intrinsik cerpen yang mencakup plot,
tema, seting, dan penokohan.
Kekompleksan proses menulis cerpen diperlukan metode yang memandu secara
bertahap yaitu modelling proses. Metode ini memungkinkan diyakini akan
memudahkan seseorang dalam memperoleh bahan tulisan deskripsi secara
memadai. Dalam pembelajarannya, guru dapat menerapkannya secara terpadu
dengan proses menulis (pra-menulis, menulis draf, memperbaiki tulisan).

Pembelajaran pemodelan pada proses belajar keterampilan berupa peniruan


dari model prosedur/ proses, produk, dan gabungan proses dan produk. Metode
pemodelan proses adalah metode pembelajaran yang dimulai dengan
pengamatan demonstrasi proses, peniruan langkah yang didemonstrasikan untuk
menghasilkan suatu produk atau melakukan suatu pekerjaan. Pemodelan jenis ini
disebut metode pemodelan proses. Pemodelan proses diperlukan untuk
pembelajaran yang menuntut ketercapai keterampilan kompleks. Pemodelan
proses dan pemberian tugas terkendali dapat meningkatkan keterampilandan
merangsang kreativitas. Kemampuan melakukan dengan baik menumbuhkan
percaya diri sehingga siswa berminat mencoba dan tidak sekedar menyontek karya
orang lain.

METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
a. Jenis Penelitian: PTK, prosedur, refleksi awal/studi pendahuluan,
perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan, refleksi.
Contoh: Rancangan penelitian tindakan kelas digunakan dalam penelitian ini
berkaitan dengan karakteristik penelitian ini yang terlihat pada: (i) peneliti
melakukan intervensi dalam kegiatan belajar kemampuan berbahasa di kelas,
(ii) konsep yang digunakan untuk memperbaiki pembelajaran bersifat
situasional atau kontekstual, (iii) peneliti berkolaborasi dengan guru dalam
tindakan pembelajaran kemampuan berbahasa di kelas, (iv) peneliti bertindak
sebagai pengamat terlibat dalam implementasi tindakan pembelajaran
kemampuan berbahasa, dan (v) evaluasi dilakukan secara berkelanjutan
(McNiff, 1992; van Lier, 1989; Dick, 2000).
b. Konteks Penelitian
 Lokasi Peneliti: deskripsi fisik dan sosial sekolah terteliti
 Mata Pelajaran: deskripsi bidang studi, aspek, dan kompetensi terteliti
 Kelas Penelitian: deskripsi fisik dan social kelas, level akademik subjek
terteliti
 Mitra Peneliti (kolaborator): karakteristik akademik, kepribadian, dan sosial
kolaborator.
1. Konteks/ setting penelitian pada bagian ini dirinci di mana penelitian
tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari
kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita, latar belakang
kemampuan akademik, kesulitan-kesulitan/kendala-kendala yang
dihadapi siswa dalam pembelajaran, latarbelakang sosial dan ekonomi
yang mungkin relevan dengan permasalahan dan lain sebagainya. Aspek
substantive kompetensi dan permasalahan yang dihadapi siswa dalam
mata pelajaran pada kelas yang diteliti seperti IPA atau IPS atau
Matematika kelas II SMP, juga dikemukakan pada bagian ini. Subjek
Penelitian dijelaskan jumlah dan deskripsi siswa.

c. Rancangan Tindakan: merujuk rumusan masalah


 Rancangan RPP dengan strategi pembelajaran, bahan, KBM, media, dan
evaluasi yang sesuai masalah dan tujuan penelitian.
 Alat perekam data: pedoman pengamatan, catatan lapangan, tes,
pedoman wawancara.
Contoh rancangan tindakan dipaparkan berikut.

Dengan analisis masalah dan kajian teori maupun kajian empiris yang sesuai,
ditentukan alternatif obat/ solusi yang tepat. Sesuai karakteristik masalahnya
tindakan yang dipilih adalah merancang pembelajaran dengan pembelajaran
pemodelan bervariasi dengan tugas emotif dan penilaian sendiri. Perencanaan
tindakan pada PTK adalah upaya menjabarkan langkah pembelajaran sesuai
dengan karakteristik pembelajaran modeling bervariasi dengan tugas emotif.
Dalam penentuan perencanaan tindakan peneliti perlu menjabarkan model
pembelajaran yang ditentukan dengan menyesuaikan alokasi waktu yang tersedia.

Pertemuan 1

Pendahuluan

1. Menunjukkan foto yang paling berkesan dalam hidup guru/


2. Bertanya jawab tentang pengalaman menulis cerita sehingga memotivasi
siswa bahwa menulis cerita itu mudah

3. Pengungkapan tujuan dan manfaat belajar menulis

Inti

1. Guru menuliskan konflik yang pernah dialami yang tidak pernah dilupakan
2. Siswa berpasangan berdiskusi membantu guru membuat garis besar alur
cerita dalam bentuk garis cerita

3. Siswa bersama guru brainstorming untuk membuat sinopsis dari garis cerita
4. Guru memperlihatkan contoh pengembangan cerpen yang telah dibuat
guru dan menjelaskan cara yang ditempuh untuk mengubah dari pengalaman
emotif menjadi sebuah cerita dengan penekanan ternyata mudah membuat
cerpen dari konflik yang pernah dialami.

5. Siswa diminta memilih/ menuliskan beberapa konflik yang paling berkesan


dalam hidupnya

6. Siswa membuat garis alur cerita dengan memberikan peristiwa sebelum


ataupun penyelesaian.

7. Siswa memamerkan garis cerita yang dibuat

8. Siswa ditugaskan mengembangkan menjadi cerpen dengan mengamati


beberapa contoh variatif cara membuka cerpen, mengembangkan peristiwa

9. Siswa dan guru bertanya jawab penyimpulan langkah membuat cerpen dari
konflik personal yang paling berkesan

Penutup

1. Memotivasi siswa untuk membuat cerita secara mandiri. Penekanan bahwa


karya sendiri lebih berharga meskipun tidak terlalu bagus
2. Menjelaskan rencana pertemuan berikutnya (pameran hasil dan siswa akan
menilai karya sendiri)

Pertemuan 2

a. Tanya jawab tugas


b. Cerita suka duka mengerjakan tugas

Inti

a. Bertanya jawab tentang karya yang baik (menekankan pada orisnalitas


sebagai penghargaan utama, kreativitas pengembangan tokoh,
pengembangan alur, dan penggunaan bahasa)
b. Pameran karya yang dihasilkan dan siswa dibagi beberapa kelompok untuk
menjadi komentator dan memilih cerpen tervavorit.

c. Menilai karya yang ditulis dengan rubrik/ pedoman yang disediakan

d. Siswa menuliskan hal-hal yang akan direvisi

e. Merevisi karyanya berdasarkan masukan dari teman, guru, mapun hasil


penilaian sendiri dan menambahkan
f. Guru memberikan penghargaan pada karya yang dibuat sendiri, karya
terfavorit, karya terunik, dan sebagainya (membuat semua karya berharga)

Penutup

a. Refleksi bertanya jawab manfaat yang diperoleh dari pembelajaran menulis


cerpen
b. Penjelasan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya

Siklus 2 dan siklus selanjutnya dilakukan berdasarkan kelemahan dan kelebihan


temuan hasil pengamatan pada siklus 1.

Pada perencanaan tindakan juga ditentukan indikator keberhasilan tindakan


berkaitan dengan rumusan masalah.

Indikator pencapaian kompetensi/ keterampilan

a. Siswa mampu menentukan konflik paling berkesan dalam hidupnya


b. Siswa mampu membuat garis alur cerita secara faktual atau menambahkan
imajinasi berdasarkan konflik yang ditentukan

c. Siswa mampu mengembangkan garis besar alur menjadi jabaran peristiwa


yang runtut

d. Siswa mampu menggunakan gaya bahasa yang sesuai dengan isi cerita dan
kreatif

e. Siswa mampu memberikan imajinasi terhadap tokoh atau alur cerita


sehingga menjadi kreatif

Indikator kualitas pembelajaran

a. Siswa aktif terlibat pada brainstrorming ide pembuatan garis alur cerita
b. Siswa aktif terlibat dalam penyimpulan langkah penulisan cerita

c. Siswa aktif terlibat dalam

d. Siswa melakukan kegiatan menulis dengan senang tanpa tertekan

e. Siswa aktif dan bangga menghasilkan karya sendiri

f. Interaksi kelas multiarah

g. Proses membelajaran mendorong tumbuhnya sikap positif ( bangga berkarya,


percaya diri mencoba, menilai diri sendiri
h. Tahapan pembelajaran dilakukan mendorong keaktifan siswa mencoba
melakukan kompetensi

i. Tahapan proses pembelajaran dilaksanakan secara lancar dan menimbulkan


iklim kelas yang menyenangkan pencapaian ecara efisien sesuai waktu yang
tersedia

Indikator-indikator tersebut yang menjadi fokus utama untuk diamati


ketercapaiannya. Tetapi juga perlu diamati hasil yang tidak direncanakan tetapi
terjadi dalam pelaksanaan tindakan. Alat untuk mengetahui juga perlu ditentukan
berdasarkan karakteristik data yang akan dicapai. Instrumen untuk pengamatan
hasil/ produk yang dihasilkan siswa berupa rubrik penilaian cerpen. Sementara
instrumen kualitas proses dikumpulkan dengan lembar observasi, catatan anekdot,
dan wawancara.

d. Jenis Data: merujuk rumusan masalah


 Data proses: paparan hasil pengamatan, hasil pencatatan lapangan, hasil
wawancara terkait proses pembelajaran
 data hasil: paparan hasil tes yang menggambarkan perkembangan
kemampuan subjek terteliti
e. Pengumpulan dan Perekaman Data
 Pengumpulan Data: deskripsi tugas pengumpul data
 Instrumen: penyiapan instrumen, uji coba instrumen, perbaikan instrumen
 Uji keabsahan data: triangulasi teknik, triangulasi sumber, pengecekan
sejawat (gunakan salah satu)
f. Analisis Data
 Model analisis data proses (dari pengamatan dan wawancara)
 Analisis hasil: dokumen/teks  analisis isi (aspektual)
 Proses: menelaah seluruh data mereduksi data (mengategori,
mengklasifikasi), menyimpulkan dan memverifikasi.
2. Penelitian Pendahuluan
 Pengamatan pembelajaran di kelas: eksplorasi situasi aktual/faktual
 Studi pustaka terkait: kurikulum, teori, hasil penelitian, pendapat ahli
3. Pelaksanaan Penelitian (Siklus ke Siklus)
a. Pengamatan dan Perekaman Data: prosedur, pelaksana, jadwal
b. Diskusi dan Refleksi: temuan sementara (proses, hasil), kendala, dukungan,
respon
c. Perbaikan Rancangan Tindakan: berdasarkan hasil diskusi dan refleksi,
rancangan tindakan direvisi, komponen pembelajaran diperbaiki.

Pada tahap pelaksanaan tindakan guru menerapkan rencana tindakan yang


telaah ada. Guru sambil melaksanakan pembelajaran sekaligus membuat catatan-
catatan dalam pelaksanaan proses. Bagaimana reaksi siswa (apa saja yang
diungkapkan pada awal pembelajaran, apa yang ditanyakan, berapa siswa yang
bertanya, antusiasme siswa pada tahap pendahuluan, inti, penutup)

Dari berbagai komponen proposal PTK tersebut teknik pengumpulan data dan
analisis data merupakan hal penting yang harus dikuasai guru. Pada bagian
teknik pengumpulan data, instrumen, dan analisis data dipaparkan lebih
lanjut. Jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan proses
maupun dampak tindakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif,
atau kombinasi keduanya. Di samping itu, teknik pengumpilan data yang
diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan
partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk
berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan
digunakan)penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik),
pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen dan sebagainya.
Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan
bahwa sebagai pelaku PTK, para guru juga harus aktif sebagai pengumpul
data, bukan semata – mata sebagai sumber data. Akhirnya semua teknologi
pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang
cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin saja
memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik.
Untuk menambah wawasan tentang teknik pengumpulan data dan analisis
data, berikut dipaparkan berbagai jenis teknik pengumpulan data yang dapat
digunakan dalam PTK.

Menurut Herawati (2010) instrumen pengumpul data selain catatan


anekdotal yang dapat digunakan dalam pengumpulan data PTK dapat
berwujud instrumen berikut.

(1) Pedoman Pengamatan.

Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam
proses pelaksanaan tindakan. Pengamatan ini dapat dilaksanakan dengan
pedoman pengamatan (format, daftar cek), catatan lapangan, jurnal harian,
observasi aktivitas di kelas, penggambaran interaksi dalam kelas, alat
perekam elektronik, atau pemetaan kelas (cf. Mills, 2004: 19). Pengamatan
sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan
proses lainnya. Catatan lapangaan sebagai salah satu wujud dari pengamatan
dapat digunakan untuk mencatat data kualitatif, kasus istimewa, atau untuk
melukiskan suatu proses .

(2) Pedoman Wawancara

Untuk memperoleh data dan atau informasi yang lebih rinci dan untuk
melengkapi data hasil observasi, tim peneliti dapat melakukan wawancara
kepada guru, siswa, kepala sekolah dan fasilitator yang berkolaborasi.
Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap,
pendapat, atau wawasan .

Wawancara dapat dilakukan secara bebas atau terstruktur. Wawancara


hendaknya dapat dilakukan dalam situasi informal, wajar, dan peneliti
berperan sebagai mitra. Wawancara hendaknya dilakukan dengan
mempergunakan pedoman wawancara agar semua informasi dapat diperoleh
secara lengkap. Jika dianggap masih ada informasi yang kurang, dapat pula
dilakukan secara bebas. Guru yang berkolaborasi dapat berperan pula sebagai
pewawancara terhadap siswanya. Namun harus dapat menjaga agar hasil
wawancara memiliki objektivitas yang tinggi.

(3) Angket atau kuesioner

Indikator untuk angket atau kuesioner dikembangkan dari permasalahan yang


ingin digali.

(4) Pedoman Pengkajian Data dokumen

Dokumen yang dikaji dapat berupa: daftar hadir, silabus, hasil karya peserta
didik, hasil karya guru, arsip, lembar kerja dll.

(5) Tes dan Asesmen Alternatif

Pengambilan data yang berupa informasi mengenai pengetahuan, sikap, bakat


dan lainnya dapat dilakukan dengan tes atau pengukuran bekal awal atau hasil
belajar dengan berbagai prosedur asesmen (cf. Tim PGSM, 1999; Sumarno,
1997; Mills, 2004).

Analisis Data Penelitian

Tahap-tahap analisis data penelitian meliputi kegiatan berikut.

a. validasi hipotesis dengan menggunakan teknik yang sesuai (saturasi,


triangulasi, atau jika memang perlu uji statistik);

b. interpretasi dengan acuan teori, menumbuhkan praktik, atau pendapat


guru;

c. tindakan untuk perbaikan lebih lanjut yang juga dimonitor dengan teknik
penelitian kelas.

Analisis dilakukan dengan menggunakan hasil pengumpulan informasi yang


telah dilakukan dalam tahap pengumpulan data. Misalnya, dengan memutar
kembali hasil rekaman proses pembelajaran dengan video tape recorder guru
mengamati kegiatan mengajarnya dan membahas masalah-masalah yang
menjadi perhatian penelitian bersama dengan dosen. Pada proses analisis
dibahas apa yang diharapkan terjadi, apa yang kemudian terjadi, mengapa
terjadi tidak seperti yang diharapkan, apa penyebabnya atau ternyata sudah
terjadi seperti yang diharapkan, dan apakah perlu dilakukan tindaklanjut

Validasi hipotesis adalah diterima atau ditolaknya suatu hipotesis.

Jika di dalam desain penelitian tindakan kelas diajukan hipotesis tindakan


yang merupakan keyakinan terhadap tindakan yang akan dilakukan, maka
perlu dilakukan validasi. Validasi ini dimaksudkan untuk menguji atau
memberikan bukti secara empirik apakah pernyataan keyakinan yang
dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan itu benar. Validasi hipotesis
tindakan dengan menggunakan tehnik yang sesuai yaitu: saturasi, triangulasi
dan jika perlu dengan uji statistik tetapi bukan generalisasi atas hasil PTK.
Saturasi, apakah tidak ditemukan lagi data tambahan. Triangulasi,
mempertentangkan persepsi seseorang pelaku dalam situasi tertentu dengan
aktor-aktor lain dalam situasi itu, jadi data atau informasi yang telah
diperoleh divalidasi dengan melakukan cek, recek, dan cek silang dengan
pihak terkait untuk memperoleh kesimpulan yang objektif.

Interpretasi Data Penelitian

Interpretasi berarti mengartikan hasil penelitian berdasarkan pemahaman


yang dimiliki peneliti. Hal ini dilakukan dengan acuan teori, dibandingkan
dengan pengalaman, praktik, atau penilaian dan pendapat guru. Hipotesis
tindakan yang telah divalidasi dicocokkan dengan mengacu pada kriteria,
norma, dan nilai yang telah diterima oleh guru dan siswa yang dikenai
tindakan.

TUGAS

Dari membaca langkah penerapan PTK di atas simpulkan hal-hal berikut.

1) Jelaskan langkah apa yang akan dilakukan pada tahap persiapan sebelum
guru menyusun proposal PTK!
2) Jelaskan kriteria pembuatan judul PTK! Buatlah satu contoh judul yang
memenuhi syarat PTK!

3) Jelaskan apa yang dilakukan guru pada tahap perencanaan tindakan,


pelaksanaan tindakan!
Kegiatan 3: Latihan Menyusun Proposal PTK

a. PRAKTIK IDENTIFIKASI MASALAH, ANALISIS SEBAB, DAN


PENENTUAN ALTERNATIF TINDAKAN

1. Tentukan masalah yang Anda hadapi dalam pembelajaran!

2. Rincilah sebab masalah yang Anda hadapi dan kemungkinan tindakan yang
dilakukan. Bacalah modul tentang model pembelajaran, penilaian, dan media untuk
memberi dasar teori pemilihan tindakan.

Masalah Sebab Tindakan yang sesuai


dengan alasannya
B. PRAKTIK MENYUSUN PROPOSAL .

Praktik penyusunan proposal ini dilakukan berdasarkan identifikasi masalah, analisis sebab
dan penentuan alternatif tindakan yang telah Anda ilakukan.
1. Buatlah rumusan judul berdasarkan kegiatan analisis masalah dan tindakan yang dipilih!

2. Latar Belakang

3. Rumusan Masalah

4. Tujuan

5. Hipotesis Tindakan
6. Kajian teori dan Kerangka konseptual

METODE

Jenis Penelitian

Konteks Penelitian

Rancangan Tindakan
Indikator Keberhasilan Tindakan

Jenis Data

: merujuk rumusan masalah


 Data proses: paparan hasil pengamatan, hasil pencatatan lapangan, hasil
wawancara terkait proses pembelajaran
 data hasil: paparan hasil tes yang menggambarkan perkembangan
kemampuan subjek terteliti

Pengumpulan dan Perekaman Data

Langkah pengumpulan data


instrumen

Trianggulasi/ uji keabsahan data

 Pengumpulan Data: deskripsi tugas pengumpul data


 Instrumen: penyiapan instrumen, uji coba instrumen, perbaikan instrumen
 Uji keabsahan data: triangulasi teknik, triangulasi sumber, pengecekan
sejawat (gunakan salah satu)
Analisis Data
 Model analisis data proses (dari pengamatan dan wawancara)
 Analisis hasil: dokumen/teks  analisis isi (aspektual)
 Proses: menelaah seluruh data mereduksi data (mengategori,
mengklasifikasi), menyimpulkan dan memverifikasi.

Pelaksanaan Penelitian (Siklus ke Siklus)


(jadwal dan rencana pengamatan)

Kegiatan 4: Pemahaman Karakteristik Laporan Penelitian


Tindakan Kelas

Pada bab hasil dan pembahasan penelitian dalam laporan PTK pada
umumnya peneliti terlebih dulu menyajikan paparan data yang
mendeskripsikan secara ringkas apa saja yang dilakukan peneliti sejak
pengamatan awal (sebelum penelitian) yaitu kondisi awal guru dan siswa
diikuti refleksi awal yang merupakan dasar perencanaan tindakan siklus I,
dilanjutkan dengan paparan mengenai pelaksanaan tindakan, hasil observasi
kegiatan guru, observasi situasi dan kondisi kelas dan hasil observasi kegiatan
siswa. Paparan data itu kemudian diringkas dalam bentuk temuan penelitian
yang berisi pokok-pokok hasil observasi dan evaluasi yang disarikan dari
paparan data.

Berikutnya berdasarkan temuan data dilakukan refleksi hasil tindakan siklus 1


yang dijadikan dasar untuk merencanakan tindakan untuk siklus ke 2. Di sini
dapat dibandingkan hasil siklus 1 dengan indikator keberhasilan tindakan
siklus 1 yang telah ditetapkan berdasarkan refleksi awal.
Paparan data siklus dua juga lengkap mulai perencanaan, pelaksanaan,
observasi dan evaluasi. Ringkasan paparan data dicantumkan dalam bentuk
temuan penelitian. Temuan ini menjadi dasar refleksi tindakan siklus ke 2,
termasuk apakah perlu dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan untuk siklus
ke 3. Peneliti dapat membandingkan hasil siklus 2 ini dengan indikator
keberhasilan tindakan siklus 2 yang telah ditetapkan berdasarkan hasil
refleksi tindakan siklus ke 1.

Jadi prosedur analisis dan interpretasi data penelitian dilaksanakan secara


deskriptif kualitatif dengan meringkas data (reduksi data), saturasi dan
triangulasi.

FORMAT PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN


Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Abstrak
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
2. Rumusan Masalah
3. Kerangka Konseptual
4. Hipotesis Tindakan
5. Tujuan Penelitian
6. Signifikansi Penelitian
BAB II PROSEDUR PENELITIAN
1. Pemilihan Setting Penelitian
2. Rancangan Penelitian
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Sajian data penelitian
2. Pengujian Hipotesis Tindakan
3. Pembahasan Implementasi Tindakan
BBAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
2. Saran
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran

Daftar Rujukan

Susilo, Herawati dan Kisyani. Penelitian Tindakan Kerlas.

Depdikbud. 1999. Bahan Pelatihan Penelitian Tindakan. Jakarta: Depdikbud,


Dirjen Dikdasmen, Dikmenum.

Mills, Geoffrey. 2003. Action Research: A Guide for the Teacher Researcher.
New Jersey: Prentice Hall.

Reed, A. J. S. & Bergermann, V.E. 1992. A Guide to Observation and


Participation: In the Classroom. Connecticut: The Dushkin Publishing Group,
Inc.

Stringer, Ernie. 2004. Action Research in Education. Columbus: Pearson,


Menvi Prentice Hall.

Tim PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research).


Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah Menengah. Jakarta: Proyek
PGSM, Dikti.