Anda di halaman 1dari 4

BUDAYA ORGANISASI

Disusun sebagai tugas mata kuliah Manajemen Pendidikan

Disusun Oleh :

Ardiannor : 1787203019

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) MUHAMMADIYAH SAMPIT
TAHUN 2019
Tiap perusahaan pasti memiliki target atau tujuan yang ingin dicapai dalam suatu periode
tertentu untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Target atau tujuan
tersebut tidak akan mungkin tercapai tanpa sumber daya yang memadai. Sumber daya yang
memiliki peran penting dalam pencapaian tujuan perusahaan maupun organisasi adalah sumber
daya manusia (Risha Faiq Fakhri 2015).

Setiap perusahaan berdiri di atas pondasi yang berasal dari pemikiran pentolan-pentolan
di dalamnya. Pemikiran ini lalu diterjemahkan sebagai filosofi perusahaan dan diadopsi sebagai
budaya kerja mereka. Budaya perusahaan itu penting karena ia menentukan etos kerja,
kebiasaan, dan, pada akhirnya, kesuksesan perusahaan itu sendiri. Budaya tiap perusahaan pada
dasarnya memiliki semangat yang sama, bahkan hampir klise: integritas, komunikasi, dan kerja
keras, misalnya. Berbeda dengan Netflix, perusahaan asal Amerika yang sukses di bidang
penyediaan konten online (film & acara TV) ini.

Beberapa budaya Netflix sangat kontrovesial: mengizinkan karyawan untuk berlibur selama yang
ia mau, misalnya. Namun, kesuksesan mereka menguasai pasar di Amerika dan sebagian Eropa
membuat banyak perusahaan-perusahaan lain, baik saingan maupun bukan, ingin menyontek
kultur kerja yang mereka terapkan. Bagusnya, Netflix tidak segan berbagi rahasia sukses mereka
(ketidak seganan ini mungkin adalah bagian budaya Netflix juga). Perusahaan yang pada
awalnya adalah penyedia jasa sewa DVD Via pos ini merilis dokumen kultur perusahaan yang
disebut seorang pejabat Facebook sebagai dokumen paling penting di Silicon Valley.

Budaya Perusahaan Netflix :

1. Hanya Mempekerjakan Orang yang Luar Biasa Kompeten

Mencari pegawai yang cukup kompeten di bidangnya tidak cukup bagi Netflix.
Perusahaan ini selalu mencari orang yang berkemampuan luar biasa. Tujuannya, agar
tercipta lingkungan kerja yang unggul. Jika kamu bekerja dengan orang yang sangat unggul
di bidangnya, kamu jauh lebih bahagia dan produktif di tempat kerja.

Netflix juga tidak segan menugaskan seorang manajer menyelesaikan sendirian


sebuah pekerjaan yang seharusnya dikerjakan bersama 2 bawahan, kalau si manajer lebih
produktif bekerja solo daripada berkutat bersama 2 orang yang kemampuannya hanya ‘rata-
rata’.

2. Mengambil Kebijakan Berdasarkan Nalar

Netflix mengedepankan peraturan berdasar akal, nalar, dan kedewasaan daripada


peraturan formal tertulis. Mereka tidak memiliki staf SDM yang kerjanya terus memantau
performa pegawai lain. Sementara, kebanyakan perusahaan lain membuang uang dan waktu
dalam upaya untuk menegakkan kebijakan perusahaan.
Netflix memiliki staf yang berpikir dewasa untuk selalu mendahulukan kepentingan
perusahaan. Staf-staf ini didorong untuk berpikir secara logis dalam menghadapi masalah di
tempat kerja. Mereka terbuka bicara soal kenaikan gaji, rekan kerja, dan penugasan dengan
atasan masing-masing. Dengan penalaran para manajer bisa menyelesaikan masalah secara
kasus-per-kasus. Fleksibel, tidak kaku. Bahkan Netflix akan mengizinkan karyawannya
mengambil liburan jika itu dipandang perlu demi ‘kepentingan’ Netflix.

3. Singkirkan Evaluasi Kerja

Seringkali sebuah perusahaan akan mengevaluasi kinerja karyawannya secara


berkala (mingguan, bulanan, tahunan). Netflix menganggap ini hanya sebagai sebuah ritual.
Evaluasi berkala menyebabkan masalah yang harusnya segera diselesaikan jadi tertunda.
Dan terkadang, evaluasi kerja yang negatif membuat karyawan menjadi negatif. Menurut
Netflix, melakukan evaluasi dan mengukur kinerja karyawan secara berkala tidak akam
membuat mereka jadi lebih baik.

Sebagai gantinya, Netflix akan memberi feedback secara langsung ketika


dibutuhkan. Feedback disampaikan dengan santai (informal) jika dipandang perlu, bukan
diumumkan secara terang-terangan di depan seluruh karyawan.

4. Rencana Perbaikan Kinerja Tidak Ada Gunanya

Netflix tidak suka dengan istilah Rencana Perbaikan Kinerja (Performance


Improvement Plans) karena tidak seperti namanya, teknik ini sebenarnya tidak memperbaiki
kinerja sama sekali. Staf yang kerjanya tidak bagus ditegur manajer, lalu dipecat, dan
pemecatannya akan didengar seluruh anggota staf yang lainnya. Pola semacam itu dinilai
tidak bagus untuk lingkungan kantor. Belum lagi kalau staf yang dipecat mengajukan
tuntutan hukum.

Sebaiknya jujur pada staf bahwa dia tidak memenuhi standar lagi atau tenaganya
sudah tidak dibutuhkan lagi. Beri pesangon yang pantas. Dengan begitu perusahaan
membuang waktu untuk meladeni pengadilan.

5. Bonus Tahunan Dihapus

Seperti tadi disebutkan, Netflix sudah diisi oleh staf-staf berpikiran dewasa dan logis.
Jika mereka sudah berada di puncak kemampuannya, maka bonus tahunan yang berfungsi
untuk memicu performa staf tidak akan ada gunanya lagi. Mereka tidak akan jadi lebih
pintar atau lebih jago. Sebaliknya, Netflix hanya akan menyediakan kompensasi sejumlah
uang yang akan dibayar kepada mereka jika mereka meninggalkan Netflix. Netflix juga
tidak mau menahan karyawan yang ingin pindah kerja tempat lain. Jika mereka mendapat
tawaran lebih baik di tempat lain, jangan tahan mereka seperti tawanan.
6. Pastikan Seluruh Staf Berkinerja Baik

Karyawan Netflix diberi pemahaman bahwa perusahaan ini membutuhkan mereka


untuk melakukan pekerjaan dengan baik, berkualitas tinggi. Karena lingkungan kerja yang
baik dan asyik, memiliki area rekreasi dan pesta setiap weekend tidak ada gunanya jika
perusahaan tidak berjalan dengan baik.