Anda di halaman 1dari 5

SISTEM PRODUKSI KERAJINAN

Sistem produksi merupakan sistem integral yang mempunyai komponen struktural dan
fungsional. Komponen struktural yang membentuk sistem produksi terdiri dari: bahan
(material), mesin dan peralatan, tenaga kerja modal, energi, informasi, tanah dan lain-lain.
Sedangkan komponen fungsional terdiri dari supervisi, perencanaan, pengendalian, koordinasi
dan kepemimpinan, yang kesemuanya berkaitan dengan manajemen dan organisasi.
Suatu sistem produksi selalu berada dalam lingkungan sehingga aspek-aspek
lingkungan seperti perkembangan teknologi, sosial dan ekonomi, serta kebijakan pemerintah
sangat mempengaruhi keberadaan sistem produksi itu. Produk kerajinan umumnya diproduksi
ulang atau diperbanyak dalam skala home industry. Oleh karena itu, dibutuhkan persyaratan-
persyaratan tertentu yang harus dipenuhi dalam proses perancangannya.

a. Menentukan Bahan/Material Produksi


Pada karya seni kerajinan, seorang pengrajin harus mampu menghubungkan bentuk dan fungsi
sehingga karya yang dihasilkan dapat memenuhi fungsi, sementara bentuknya tetap indah.
Pemilihan bahan/material dalam pembuatan karya kerajinan sangat terkait dengan sasaran
pasar, karena material akan mendukung nilai bentuk, kenyamanan terutama dalam
menggunakan benda terapan dan juga akan mempengaruhi kualitas dari barang tersebut.
Bentuk selalu bergantung pada sentuhan keindahan (estetika) karena itu dalam penciptaannya,
seorang pengrajin harus menguasai unsur-unsur seni rupa seperti garis, bentuk, warna,
komposisi dan lain-lain.

b. Menentukan Teknik Produksi


Mewujudkan sebuah produk kerajinan haruslah menggunakan cara atau teknik tertentu sesuai
dengan bahan dasar kerajinan. Penguasaan teknik dalam berkarya kerajinan akan menentukan
kualitas produk kerajinan yang dibuat. Beberapa jenis kerajinan memiliki alat dan ketrampilan
khusus untuk mewujudkannya. Teknik produksi kerajinan disesuaikan dengan bahan, alat dan
cara yang digunakan.

Teknik Produksi
Teknik adalah cara yang digunakan, sedangkan tahapan adalah urutan proses pembuatan.
Dalam produksi kerajinan fungsional berbahan limbah dibutuhkan teknik-teknik dan tahapan-
tahapan produksi. Tahapan produksi kerajinan fungsional terdiri dari pembahanan,
pembentukan, perakitan, dan finishing. Sedangkan teknik yang digunakan diantaranya adalah
penyambungan dengan anyaman dan potongan, penyambungan, dan teknik finishing. Masing-
masing teknik maupun tahapan tersebut memiliki cara yang berbeda dalam pelaksanaannya
sehingga dibutuhkan pemahaman yang baik terhadap tahap dan teknik yang digunakan.

Tahapan Produksi
1. Planning atau perencanaan
Tahapan ini menentukan produk apa yang akan dibuat, berapa jumlah bahan baku, biaya dan
jumlah tenaga kerja yang diperlukan. Dalam tahapan ini juga dilakukan perancangan terhadap
bentuk barang. Untuk melakukan perencanaan diperlukan pengetahuan yang baik tentang jenis
barang produksi dan kebutuhannya, serta kemampuan produsen.

2. Routing atau penentuan alur


Dalam tahapan ini ditentukan alur produksi mulai pengolahan awal bahan baku, pembentukan,
pemolesan, penyelesaian, pengawasan mutu hingga distribusi hasil produksi.
Dalam routing harus ditentukan secara tepat urutan produksi dan pekerja yang melakukan
setiap alur.

3. Scheduling atau penjadwalan


Scheduling adalah menjadwalkan kapan produksi dilakukan setelah alurnya dibuat.
Penjadwalan dilakukan dengan mempertimbangkan jam kerja pekerja dan lama dari setiap alur
produksi. Dalam tahapan ini dibuat master schedule atau jadwal utama yang kemudian dipecah
menjadi jadwal yang lebih terperinci.

4. Duspatching atau perintah mulai produksi


Setelah dijadwalkan produksi dijalankan dengan dispatching. Dalam dispatching dicantumkan
hasil perencanaan dan penkadwalan yang telah dilakukan pada tahapan sebelumnya, seperti
berapa jumlah bahan baku yang digunakan, tahapan pembuatan hinhga waktu produksi sesuai
dengan hasil scheduling atau penjadwalan.
Teknik dan Tahap Produksi Kerajinan Fungsional Berbahan Limbah
Teknik adalah cara yang digunakan, sedangkan tahapan adalah urutan proses pembuatan. Dalam
produksi kerajinan fungsional berbahan limbah dibutuhkan teknik-teknik dan tahapan-tahapan
produksi. Tahapan produksi kerajinan fungsional terdiri dari pembahanan, pembentukan,
perakitan, dan finishing. Sedangkan teknik yang digunakan diantaranya adalah penyambungan
dengan anyaman dan potongan, penyambungan, dan teknik finishing. Masing-masing teknik
maupun tahapan tersebut memiliki cara yang berbeda dalam pelaksanaannya sehingga
dibutuhkan pemahaman yang baik terhadap tahap dan teknik yang digunakan.

1. Tahapan Produksi
Dalam proses pembuatan kerajinan fungsional berbahan limbah diperlukan tahapan atau urutan
pembuatan agar proses produksi dapat berjalan dengan baik. Tahapan produksi baik untuk produk
hiasan maupun produk fungsional terbagi atas 4 tahap yaitu pengolahan bahan atau pembahanan,
pembentukan, perakitan, dan finishing. Keempat tahapan tersebut harus dilakukan secara urut
dalam pembuatan kerajinan. Teknik yang dilakukan pada keempat tahap tersebut berbeda-beda
bergantung dari material yang digunakan dan rancangan produk yang akan dibuat. Berikut ini
keempat tahapan dalam pembuatan kerajinan fungsional berbahan limbah.
 Tahap pembahanan adalah mempersiapkan bahan baku agar siap diproduksi. Contohnya pada
pembuatan sendok dari batok kelapa. Material yang digunakan adalah batok kelapa dan
potongan kayu. Pembahanan batok kelapa yaitu membersihkan batok kelapa dari sabutnya
dengan menggunakan pisau dan amplas. Pembahanan kayu adalah memotong kayu dengan
ukuran sesuai kebutuhan proses pembentukan.
 Proses pembentukan batok kelapa untuk sendok adalah membentuk batok kelapa menjadi elips
dengan menggunakan gergaji pita. Pada proses pembentukan ini harus dibantu dengan gambar
pola. Pola menjadi patokan pembentukan setiap produk, sehingga dihasilkan produk yang sama
satu dengan lainnya.
 Perakitan pada pembuatan sendok dari batok kelapa adalah menghubungkan antara bagian
sendok yang terbuat dari batok kelapa dengan pegangan yang terbuat dari kayu.
 Finishing dilakukan sebagai tahap terakhir sebelum produk tersebut dimasukan ke dalam
kemasan. Finishing pada produk sendok yang terbuat dari batok kelapa adalah dengan amplas,
dan tidak perlu pelapisan pada bagian batok kelapa karena batok kelapa yang tua lama kelamaan
akan mengeluarkan minyak yang melapisi permukannya. Pelapisan pada bagian pegangan kayu
harus menggunakan bahan yang tidak berbahaya bagi kesehatan karena produk ini akan
digunakan untuk makan.

2. Teknik dan Alat Produksi


Dalam proses pembuatan kerajinan fungsional berbahan limbah dibutuhkan teknik yang
digunakan selama proses produksi. Seperti tahapan yang digunakan, teknik dan alat yang
digunakan untuk pembahanan, pembentukan, perakitan, dan •nishing, bergantung dari material
dan rancangan produk fungisonal yang akan dibuat. Teknik produksi yang digunakan untuk
membuat produk fungsional berperan penting dalam menghasilkan kekuatan konstruksi dan
keawetan produk tersebut. Teknik pembahanan, pembentukan, perakitan, dan •finishing yang
dapat digunakan di antaranya adalah sebagai berikut.
 Teknik Pembentukan dengan Penganyaman. Teknik anyaman digunakan untuk material
lembaran seperti kertas, karton, daun kering, maupun yang membentuk silinder seperti
potongan kemasan sachet.
 Teknik Pembentukan dengan Potongan. Material solid seperti kayu, bambu, batok kelapa, dan
plastik tebal dapat dipotong menggunakan gergaji. Batok kelapa dan bambu dapat pula dibentuk
dengan menggunakan golok dan pisau raut. Material plastik tipis dan kertas dapat dipotong
dengan penggunakan gunting atau pisau cutter. Cutter digunakan untuk pemotongan lurus,
sedangkan gunting untuk memotong dengan arah yang melengkung. Pada pembentukan
material serat alami dan tekstil, pada umumnya menggunakan gunting. Pembentukan juga dapat
dilakukan dengan bantuan mesin gerinda atau bor. Amplas digunakan untuk merapikan bekas
potongan.
 Teknik Penyambungan. Pada proses perakitan, bagian-bagian produk disambungkan.
Sambungan merupakan bagian penting yang menentukan kekuatan konstruksi. Teknik
sambungan yang baik akan menghasilkan konstruksi yang kuat. Teknik sambungan diantaranya
dengan pasak, lem, dan benang. Beberapa jenis lem yang umum digunakan adalah lem kuning,
lem putih, dan lem panas (glue gun). Pilih lem yang sesuai dengan material yang akan direkatkan
 Teknik Finishing. Finishing dilakukan pada permukaan produk agar rapi, menarik, dan awet.
Finishing produk dari limbah plastik pada hanya dengan merapikan bagian-bagian produk dari
lem atau material yang tidak rapi. Finishing berupa pelapisan permukaan pada umumnya
dilakukan pada material alami seperti kayu, serat eceng gondok, dan batang pisang. Pelapis yang
digunakan sebaiknya berbahan dasar air (water based) agar lebih aman untuk pekerja maupun
pengguna produk. Pelapisan dapat menggunakan kuas atau teknik semprot. Untuk hasil
pelapisan yang rapi, sapuan kuas maupun semprotan jangan terlalu tebal. Lebih baik tipis dan
berulang-ulang daripada lapisan yang langsung tebal.
Teknik Anyaman

3. Metode Produksi dan Keselamatan Kerja


Produksi dapat dilakukan dengan metode tradisional atau modern. Metode modern atau sering
juga disebut dengan metode ‘ban berjalan' lebih efisien dalam penggunaan waktu dibandingkan
metode tradisional sehingga sesuai untuk produksi dalam jumlah banyak. Metode tradisional
kurang tepat digunakan untuk produksi dalam jumlah banyak karena produk yang dihasilkan sulit
untuk mencapai standar bentuk yang sama.

Kelancaran produksi juga ditentukan oleh cara kerja yang memperhatikan K3 (Kesehatan dan
Keselamatan Kerja). Proses pembahanan dan pembentukan material solid seringkali
menghasilkan sisa potongan atau debu yang dapat melukai bagian tubuh pekerjanya, maka
dibutuhkan alat keselamatan kerja berupa kaca mata melindung dan masker. Proses pembahanan
dan •finishing, apabila menggunakan bahan kimia yang berbahaya bagi kulit dan pernafasan,
maka pekerja harus menggunakan sarung tangan dan masker. Selain alat keselamatan kerja, juga
dibutuhkan sikap kerja yang rapi, hati-hati, teliti, dan penuh konsentrasi.