Anda di halaman 1dari 4

Analisis Teks Editorial / Tajuk Rencana

Teks
"Asa Kita kepada Pemerintah Baru"

Presiden dan wakil presiden hasil pemilihan umum 2019, Joko Widodo-Ma'ruf Amin,
Minggu (20/10), dilantik MPR di gedung DPR/MPR, Jakarta. Presiden selanjutnya menyusun
kabinet untuk menjalankan pemerintahan.
Lazimnya kemunculan pemerintah baru, timbul pula harapan baru di benak masyarakat.
Seiring pelantunan doa dan lagu kebangsaan pada akhir acara pelantikan, tersemat pula beban
kepada presiden dan wakil presiden baru untuk mewujudkan asa rakyat. Kepada mereka, rakyat
menggantungkan harapan baru terwujudnya Indonesia yang lebih baik. Meskipun tak sedikit
catatan positif dari masa pemerintahan Presiden Joko Widodo periode pertama bersama Wakil
Presiden Jusuf Kalla, banyak pula catatan negatif terpampang.
Rakyat tentu berharap pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin meneruskan catatan - catatan
positif demi menuju Indonesia yang lebih berdaya dan lebih baik. Sebaliknya, catatan - catatan
negatif tentu harus dipupuskan. Optimisme memang harus menjadi kredo pemerintah baru untuk
mengoreksi semua catatan negatif itu. Duet Jokowi-Ma'ruf Amin yang menang dalam pemilu
2019 belakangan hari ini merengkuh hampir semua parpol untuk mendukung semua kabinet.
Dominasi kekuatan politik semacam itu memang tak terlalu baik bagi iklim demokrasi
karena barisan penyeimbang di parlemen diperlukan berbagai kekuatan koreksi atas kebijakan
pemerintah. Kondisi tanpa oposisi tentu sangat menguntungkan untuk fondasi pemerintahan,
walau tak sehat. Pemerintah yang dominan wajib membuka diri pada kritik yang muncul dari
elemen masyarakat sipil. Kritik ini akan mewujud dalam aneka gerakan : daring dan luring.
Kritik ini harus didengar.
Yang pasti, pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin wajib bekerja keras dengan melibatkan
semua sektor untuk menepis semua kritik. Kegaduhan politik adalah keniscayaan dalam
demokrasi, namun dalam hasil kerja nyata yang didasari kecerdasan dan kewaspadaan, tentu
semua kritik itu terpupuskan dan Indonesia akan menjadi lebih baik.

Sumber : Solopos,
Senin, 21 Oktober 2019
ANALISIS
1. Struktur
a. Tesis
Presiden dan wakil presiden hasil pemilihan umum 2019, Joko Widodo-Ma'ruf
Amin, Minggu (20/10), dilantik MPR di gedung DPR/MPR, Jakarta. Presiden
selanjutnya menyusun kabinet untuk menjalankan pemerintahan.

b. Argumen
Lazimnya kemunculan pemrintah baru, timbul pula harapan baru di benak
masyarakat. Seiring pelantunan doa dan lagu kebangsaan pada akhir acara pelantikan,
tersemat pula beban kepada presiden dan wakil presiden baru untuk mewujudkan asa
rakyat. Kepada mereka, rakyatmenggantungkan harapan baru terwujudnya Indonesia
yang lebih baik. Meskipuntak sedikit catatan positif dari masa pemerintahan Presiden
Joko Widodo periodepertama bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, banyak pula
catatan negatif terpampang.
Rakyat tentu berharap pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin meneruskan catatan-
catatan positif demi menuju Indonesia yang lebih berdaya dan lebih baik. Sebaliknya,
catatan- catatan negatif tentu harus dipupuskan. Optimisme memang harus menjadi
kredo pemerintah baru untuk mengoreksi semua catatan negatif itu. Duet Jokowi-
Ma'rufAmin yang menang dalam pemilu 2019 belakangan hari ini merengkuh hampir
semua parpoluntuk mendukung semua kabinet.
Dominasi kekuatan politik semacam itumemang tak terlalu baik bagi iklim
demokrasi karena barisan penyeimbang di parlemen diperlukan berbagai kekuatan
koreksi ataskebijakan pemerintah. Kondisi tanpa oposisi tentu sangat menguntungkan
untuk fondasi pemerintahan, walau tak sehat. Pemerintah yang dominan wajib
membuka diri pada kritik yang muncul dari elemen masyarakat sipil. Kritik ini akan
mewujud dalam aneka gerakan : daring dan luring. Kritik ini harus didengar.
c. Penegasan Ulang
Yang pasti, pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin wajib bekerja keras dengan
melibatkan semua sektor untuk menepis semua kritik. Kegaduhan politik adalah
keniscayaan dalam demokrasi, namun dalam hasil kerja nyata yang didasari
kecerdasan dan kewaspadaan, tentu semua kritik itu terpupuskan dan Indonesia akan
menjadi lebih baik.
2. Opini

Fakta Penilaian Kritik Prediksi Harapan Saran

Presiden dan Meskipuntak Dominasi Lazimnya Kepada mereka, Sebaliknya,


wakil sedikit kekuatan kemunculan rakyat catatan-
presiden catatan politik pemrintah menggantungkan catatan
hasil positif dari semacam baru, timbul harapan baru negatif tentu
pemilihan masa itumemang pula harapan terwujudnya harus
umum 2019, pemerintaha tak terlalu baru di benak Indonesia yang dipupuskan.
Joko n Presiden baik bagi masyarakat. lebih baik.
Widodo- Joko Widodo iklim
Ma'ruf Amin, periodeperta demokrasi
Minggu ma bersama karena
(20/10), Wakil barisan
dilantik MPR Presiden penyeimban
di gedung Jusuf Kalla, g di
DPR/MPR, banyak pula parlemen
Jakarta. catatan diperlukan
negatif berbagai
terpampang. kekuatan
koreksi
ataskebijaka
n
pemerintah.

Presiden Kondisi - - Rakyat tentu Kritik ini


selanjutnya tanpa oposisi berharap harus
menyusun tentu sangat pemerintahan didengar.
kabinet menguntung Jokowi-Ma'ruf
untuk kan untuk Amin meneruskan
menjalankan fondasi catatan-catatan
pemerintahan pemerintaha positif demi
. n, walau tak menuju Indonesia
sehat. yang lebihberdaya
dan lebih baik.

Duet Jokowi- Optimisme - - - Yang pasti,


Ma'rufAmin memang pemerintaha
yang menang harus n Jokowi-
dalam menjadi Ma'ruf
pemilu 2019 kredo Amin wajib
belakangan pemerintah bekerja
hari ini baru untuk keras
merengkuh mengoreksi dengan
hampir semua melibatkan
semua catatan semua
parpoluntuk negatif itu. sektor untuk
mendukung menepis
semua semua
kabinet. kritik.

3. Kaidah Kebahasaan
Kalimat retoris : -
Kata populer : lazim, tersemat, dipupuskan, pelantunan.
Kata ganti penunjuk :
 Kepada mereka, rakyat menggantungkan harapan baru terwujudnya Indonesia
yang lebih baik.
 Optimisme memang harus menjadi kredo pemerintah baru untuk mengoreksi
semua catatan negatif itu.
 Dominasi kekuatan politik semacam itu memang tak terlalu baik bagi iklim
demokrasi karena barisan penyeimbang di parlemen diperlukan berbagai
kekuatan koreksi ataskebijakan pemerintah.
Konjungsi kausalitas
 Dominasi kekuatan politik semacam itumemang tak terlalu baik bagi iklim
demokrasi karena barisan penyeimbang di parlemen diperlukan berbagai
kekuatan koreksi ataskebijakan pemerintah.
 Rakyat tentu berharap pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin meneruskan catatan-
catatan positif demi menuju Indonesia yang lebihberdaya dan lebih baik.