Anda di halaman 1dari 7

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Keluarga Sejahtera


2.1.1 Pengertian Keluarga Sejahtera
Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah,
mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang
/maha Esa, memiliki hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang antar anggota dan antar keluarga
dengan masyarakat dan lingkungan (BKKBN, 2010)
Kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material, maupun
spiritual yang diliputi rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir batin yang
memungkinkan setiap warga negara untuk mengadakan usaha-usaha pemenuhan kebutuhan
jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, rumahtangga, serta masyarakat (Rambe
2010).
Konsep keluarga sejahtera menurut UU No. 10 Tahun 1982 adalah keluarga yang dibentuk
atau perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak,
bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota
dana antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya. Sedangkan BKKBN merumuskan
pengertian keluarga sejahtera sebagai keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan anggotanya baik
kebutuhan sandang, pangan, perumahan, social dan agama, keluarga yang mempunyai
keseimbangan antara penghasilan keluarga dengan jumlah anggota keluarga. Keluarga yang dapat
memenuhi kebutuhan kesehatan anggota keluarga, kehidupan bersama , dengan masyarakat
sekitar, beribadah khsusuk disamping terpenuhnya kebutuhan pokok.

2.1.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan


1. Faktor intern keluarga
a. Jumlah anggota keluarga
Pada zaman seperti sekarang ini tuntutan keluarga semakin meningkat tidak hanya cukup
dengan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan, pendidikan, dan saran pendidikan) tetapi
kebutuhan lainya seperti hiburan, rekreasi, sarana ibadah, saran untuk transportasi dan lingkungan
yang serasi. Kebutuhan diatas akan lebih memungkinkan dapat terpenuhi jika jumlah anggota
dalam keluarga sejumlah kecil.
b. Tempat tinggal
Suasana tempat tinggal sangat mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Keadaan tempat
tinggal yang diatur sesuai dengan selera keindahan penghuninya, akan lebih menimbulkan suasana
yang tenang dan mengembirakan serta menyejukan hati. Sebaliknya tempat tinggal yang tidak
teratur, tidak jarang meninbulkan kebosanan untuk menempati. Kadang-kadang sering terjadi
ketegangan antara anggota keluarga yang disebabkan kekacauan pikiran karena tidak memperoleh
rasa nyaman dan tentram akibat tidak teraturnya sasaran dan keadaan tempat tinggal.
c. Keadaan sosial ekonomi kelurga.
Untuk mendapatkan kesejahteraan kelurga alasan yang paling kuat adalah keadaan sosial
dalam keluarga. Keadaan sosial dalam keluarga dapat dikatakan baik atau harmonis, bilamana ada
hubungan yang baik dan benar-benar didasari ketulusan hati dan rasa kasih sayang antara anggota
keluarga.manifestasi daripada hubungan yang benar-benar didasari ketulusan hati dan rasa penuh
kasih sayang, nampak dengan adanya saling hormat, menghormati, toleransi, bantu-membantu dan
saling mempercayai.
d. Keadaan ekonomi keluarga.
Ekonomi dalam keluarga meliputi keuangan dan sumber-sumber yang dapat meningkatkan
taraf hidup anggota kelurga makin terang pula cahaya kehidupan keluarga. Jadi semakin banyak
sumber-sumber keuangan pendapatan yang diterima, maka akan meningkatkan taraf hidup
keluarga. Adapun sumber-sumber keuangan pendapatan dapat diperoleh dari menyewakan tanah,
pekerjaan lain diluar berdagang.

b. Faktor ekstern
Kesejahteraan keluarga perlu dipelihara dan terus dikembangan terjadinya kegoncangan
dan ketegangan jiwa diantara anggota keluarga perlu di hindarkan, karena hal ini dapat menggagu
ketentraman dan kenyamanan kehidupan dan kesejahteraan keluarga.
Faktor yang dapat mengakibatkan kegoncangan jiwa dan ketentraman batin anggota
keluarga yang datangnya dari luar lingkungan keluarga antara lain:
 Faktor manusia: iri hati, dan fitnah, ancaman fisik, pelanggaran norma.
 Faktor alam: bahaya alam, kerusuhan dan berbagai macam virus penyakit.
 Faktor ekonomi negara: pendapatan tiap penduduk atau income perkapita rendah, inflasi.

2.1.3 Tahapan-Tahapan Kesejahteraan


1. Keluarga pra sejahtera
Yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic need) secara
minimal, seperti kebutuhan akan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB.
a. Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masinganggota keluarga
b. Pada umunya seluruh anggota keluarga, makan dua kali atau lebih dalam sehari.
c. Seluruh anggota keluarga mempunyai pakaian berbeda di rumah, bekerja, sekolah atau
berpergian.
d. Bagian yang terluas dari lantai bukan dari tanah.
e. Bila anak sakit dan atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sasaran kesehatan.
2. Keluarga Sejahtera I
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhnan dasarnya secara minimal tetapi belum
dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi
lingkungan tempat tinggal dan trasportasi. Pada keluarga sejahtera I kebutuhan dasar (a s/d e) telah
terpenuhi namun kebutuhan sosial psikologi belum terpenuhi yaitu:
a. Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
b. Paling kurang sekali seminggu, keluarga menyadiakan daging, ikan atau telur.
c. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang 1 stel pakaian baru pertahun
d. Luas lantai rumah paling kurang 8 meter persegi untuk tiap pengguna rumah
e. Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam kedaan sehat
f. Paling kurang satu anggota 15 tahun keatas, penghasilan tetap.
g. Seluruh anggota kelurga yang berumur 10-16 tahun bisa baca tulis huruf latin.
h. Seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini
i. Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga pasang yang usia subur memakai kontrasepsi (kecuali
sedang hamil)
3. Keluarga Sejahtera II
Keluarga disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasasrnya, juga telah dapat memenuhi
kebutuhan pengembangannya seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.
Pada keluarga sejahtera II kebutuhan fisik dan sosial psikologis telah terpenuhi (a s/d n telah
terpenuhi) namun kebutuhan pengembangan belum yaitu:
a. Mempunyai upaya untuk meningkatkan agama.
b. Sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.
c. Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan ini dapat dimanfaatkan
untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
d. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat dilingkungan keluarga.
e. Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang 1 kali perbulan.
f. Dapat memperoleh berita dan surat kabar, radio, televisi atau majalah.
g. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana trasportasi sesuai kondisi daerah.
4. Keluarga Sejahtera III
Keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis
dan perkembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi
masyarakat seperti sumbangan materi dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
Pada keluarga sejahtera III kebutuhan fisik, sosial psikologis dan pengembangan telah
terpenuhi (a s/d u) telah terpenuhi) namun kepedulian belum yaitu:
a. Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi
kegiatan sosial/masyarakat dalam bentuk material.
b. Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan atau yayasan
atau instansi masyarakat.
c. Kesejahteraan pada hakekatnya dapat terpenuhinya kebutuhan (pangan, sandang, dan papan)
yang harus dipenuhi dengan kekayaan atau pendapatan yang dimiliki barulah dikatakan
makmur dan sejahtera
4. Keluarga Sejahtera III plus
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan pengembangan,
dan telah dapat memberikan sumbangan yang teratur dan berperan aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan atau memiliki kepedulian social yang tinggi.

2.2 Peran Perawat


Pembinaan keluarga terutama ditujukan pada keluarga prasejahtera dan sejahtera tahap I. Di
dalam pembinaan terhadap keluarga tersebut, perawat mempunyai beberapa peran antara lain :
1. Pemberi informasi
Dalam hal ini perawat memberitahukan kepada keluarga tentang segala sesuatu, khususnya
yang berkaitan dengan kesehatan.
2. Penyuluh
Agar keluarga yang dibinanya mengetahui lebih mendalam tentang kesehatan dan tertarik
untuk melaksanakan maka perawat harus memberikan penyuluhan baik kepada perorangan dalam
keluarga ataupun kelompok dalam masyarakat.
3. Pendidik
Tujuan utama dari pembangunan kesehatan adalah membantu individu, keluarga dan
masyarakat untuk berperilaku hidup sehat sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara
mandiri. Untuk mencapai tujuan tersebut perawat hares mendidik keluarga agar berperilaku sehat
dan selalu memberikan contoh yang positif tentang kesehatan.
4. Motivator
Apabila keluarga telah mengetahui, dan mencoba melaksanakan perilaku positif dalam
kesehatan, harus terus didorong agar konsisten dan lebih berkembang. Dalam hal inilah perawat
berperan sebagai motivator.
5. Penghubung keluarga dengan saran
Pelayanan kesehatan adalah wajib bagi setiap perawat untuk memperkenalkan sarana
pelayanan kesehatan kepada keluarga khususnya untuk yang belum pernah menggunakan sarana
pelayanan kesehatan dan pada keadaan salah satu/lebih anggota keluarga perlu dirujuk ke sarana
pelayanan kesehatan.
6. Penghubung keluarga dengan sektor terkait
Adakalanya masalah kesehatan yang ditemukan bukanlah disebabkan oleh faktor penyebab yang
murni dari kesehatan tetapi disebabkan oleh faktor lain. Dalam hal ini perawat hares menghubungi
sektor terkait.
7 Pemberi pelayanan kesehatan.
Sesuai dengan tugas perawat yaitu memberi Asuhan Keperawatan yang profesional kepada
individu, keluarga dan masyarakat. Pelayanan yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan
mental, keterbataan pengetahuan, serta kurangnya keamanan menuju kemampuan melaksanakan
kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan bersifat "promotif', `preventif',
"curatif' serta "rehabilitatif' melalui proses keperawatan yaitu metodologi pendekatan pemecahan
masalah secara ilmiah dan terdiri dari langkah-langkah sebagai subproses. Kegiatan tersebut
dilaksanakan secara profesional, artinya tindakan, pelayanan, tingkah laku serta penampilan
dilakukan secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab atas pekerjaan, jabatan, bekerja keras
dalam penampilan dan mendemontrasikan " SENCE OF ETHICS ".
8. Membantu keluarga dengan mengenal kekuatan mereka dan menggunakan kekuatan mereka
untuk memenuhi kebutuhan kesehatannya
9. Pengkaji data individu, keluarga dan masyarakat sehingga didapat data yang akurat dan
dapat dilakukan suatu intervensi yang tepat.
Peran-peran tersebut di atas dapat dilaksanakan secara terpisah atau bersama-sama
tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material, maupun
spiritual yang diliputi rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir batin yang
memungkinkan setiap warga negara untuk mengadakan usaha-usaha pemenuhan kebutuhan
jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, rumahtangga, serta masyarakat.
Konsep keluarga sejahtera menurut UU No. 10 Tahun 1982 adalah keluarga yang dibentuk
atau perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak,
bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota
dana antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya.
Keluarga sejahtera dalam arti ekonomi adalah keluarga yang cukup sandang, pangan, dan
perumahan.
Perawat mempunyai peran dan andil yang cukup besar dalam pembangunan suatu negara
melalui pembinaan kesehatan keluarga, namun dalam pelaksanaannya masih ditemukan banyak
masalah sehingga perlu dilakukan berbagai upaya penanggulangannya.

3.2 Saran
Perubahan-perubahan perlu segera dilakukan khususnya dalam manajemen keperawatan
sebagai upaya peningkatan mutu Asuhan Keperawatan kepada individu, keluarga maupun
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Bailon, S.G. dan Maglaya, A.S.,. 1997. Family health Nursing: The Process. Philiphines: UP
College on Nursing Diliman
Bakri, Muhammad. 1995. Pengantar Keluarga. Penerbit, IKIP Malang
Noor, Arifin. 1997. Ilmu Sosial Dasar. CV Pustaka Setia: Bandung.
Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik.
Jakarta: EGC
Shirley, M. H. H. 1996. Family Health Care Nursing : Theory, Practice, and Research.
Philadelphia : F. A Davis Company
Sudiharto, S.kep.,M.kes. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan
Keperawatan Transkultural. Jakarta: EGC
Syaripudin, Tatang. 2008. Pedagogik Teoritis Sistematis. Percikan Ilmu:Bandung.