Anda di halaman 1dari 28

MAKALH

ASUHAN KEPERAWATAN EPILEFSI

OLEH :

1. BAQIATUS SHOLEHA
2. HOFIZAH ASTUTIK
3. LIA APRILIA LESTARI
4. MAULINDA YULIANTARI
5. DIDIK SUPRIANTO

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


DINAS KESEHATANAKADEMI PERAWAT KESEHATAN
2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis
masih diberikan kesehatan sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari mata kuliah KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDAH II AKPER KESEHATAN PROVINSI NTB.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini
dimasa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya
dan masyarakat pada umumnya. Dan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan
untuk menambah pengetahuan para mahasiswa, pembaca, dan masyarakat.

Sakra, 27 Agustus 2019

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul………………………………………………………………………………...1

KATA PENGANTAR………………………………………………………….....................2

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………....3

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………....4

A. Latar Belakang………………………………………………………………………...4
B. Rumusan Masalah…………………………………………………………………......4
C. Tujuan………………………………………………………………………………....5

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………..………....6

A. Pengertian Epilepsi........................................................................................................6
B. Etiologi epilepsi ............................................................................................................7
C. Klasipikasi.....................................................................................................................9
D. Patopisiologi ...............................................................................................................13
E. Manifestasi klinis ........................................................................................................14
F. Pemeriksaan diagnostik...............................................................................................15
G. Pemeriksaan penunjamg .............................................................................................15
H. Penatalaksanaan ..........................................................................................................16
I. Pencegahan .................................................................................................................20

BAB III ASUHAN KEPERAWATN………………………………………………………21

A. Pengkajian....................................................................................................................21
B. Diagnosa kperawatan...................................................................................................22
C. Intervensi ....................................................................................................................23
BAB IV PENUTUP ...............................................................................................................27
D. Kesimpulan…………………………………………………………………………..27
E. Saran…………………………………………………………………………………27

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………......................28

BAB I
PENDAHULUAN

3
A. Latar Belakang
Epilepsi dikenal sebagai salah satu penyakit tertua di Dunia (2000 tahun SM)
dan menempati urutan kedua dari penyakit saraf setelah gangguan peredaran darah otak
(Harsono, 1996). Dengan tatalaksana yang baik sebagian besar penderita dapat
terbebaskan dari penyakitnya, namun masih ditemukan banyak kendala, di Indonesia
diantaranya kurangnya dokter spesialis saraf, kurangnya keterampilan dokter dan tim
medis dalam menangani dan menanggulangi penyakit ini. Walaupun penyakit ini telah
dikenal lama oleh masyarakat, namun masih saja banyak istilah-istilah untuk penyakit
ini karena beragamnya kebudayaan, seperti sawan, ayan, sekalor, dll. Akan tetapi
pengertian penyakit ini masih kurang bahkan salah sehingga penderita masih saja
digolongkan dalam penyakit gila, kutukan, dan turunan sehingga penderita tidak diobati
atau bahkan disembunyikan. Akibatnya banyak penderita epilepsi yang tidak
terdiagnosis dan mendapat pengobatan yang tidak tepat sehingga menimbulkan dampak
klinik dan psikososial yang merugikan baik bagi penderita maupun keluarganya.
Di Indonesia belum ada data epidermiologis yang pasti tetapi diperkirakan ada
900.000- 1.800.000 penderita, sedangkan penanggulangan penyakit ini belum
merupakan prioritas dalam sistem kesehatan Nasional. Oleh karena pentingnya
pengetahuan untuk mengobati dan mencegah terjadinya penyakit ini sejak dini serta
masih melekatnya faktor kebudayaan yang salah pada penderita epilepsi, maka perlu
dibahas asuhan keperawatan pada kasus epilepsi lebih dalam. Gangguan ini sangat
penting untuk dibahas karena sangat dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari.
Gangguan ini tentu bisa merusak aspek psikologi dan psikososial penderita dan
diperlukan asuhan keperawatan yang holistik sebagai sarana promotif, prevetif dan
kuratif yang efektif sehingga dapat menurunkan risiko gangguan sistem saraf.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari Epilepsi?
2. Apakah penyebab terjadinya Epilepsi?
3. Bagaimana patofisiologi terjadinya Epilepsi?
4. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan penyakit Epilepsi?

C. Tujuan
a. Tujuan Umum
4
Mengetahui konsep dan asuhan keperawatan gangguan pada saraf “Epilepsi”.

b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi dan klasifikasi tentang epilepsi
2. Mengetahui dan memahami tentang patofisiologi epilepsi.
3. Mengetahui dan memahami tentang manifestasi klinis epilepsi.
4. Mengetahui dan memahami tentang penatalaksanaan medis epilepsi
5. Mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada epilepsi

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang


akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto,
2007).

Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala


yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan
listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi
(Arif, 2000).

Epilepsi merupakan sindrom yang ditandai oleh kejang yang terjadi berulang-
ulang. Diagnosa ditegakkan bila seseorang mengalami paling tidak dua kali kejang
tanpa penyebabnya (jastermski,1998). Kejang disebabkan oleh kontak neuron serebral
yang tidak beraturan, cepat dan tiba-tiba. Tidak seperti anggapan selama ini ,kejang
tidak menyebabkan gangguan neurologis, bukan merupakan pengaruh roh ataupun
tidak merupakan indikasi bahwa mentalnya terganggu atau mengarah pada retardasi
mental (Jastremski,1998).

Epilepsy adalah sindrom klinis yang ditandai dengan dua atau lebih
bangkitan. Sebagai besar timbul tanpa provokasi akibat kelainan abnormal primer
diotak dan bukan sekunder oleh sebab sistemik. Penyakit epilepsi telah dikenal lama di
masyarakat (terbukti dengan adanya istilah-istilah bahasa daerah untuk penyakit
tersebut seperti sawam, ayan, sekalor, dan celengan), tapi pengertian akan penyakit
tersebut masih kurang bahkan salah sehingga penderita digolongkan dalam penyakit
gila, kutukan dan turunan akibatnya penderita tidak diobati atau bahkan
disembunyikan. Harsono (2007) menambahkan bahwa hal tersebut mengakibatnya
banyak penderita epilepsi tidak terdiagnosis dan mendapat pengobatan yang tidak tepat
sehingga menimbulkan dampak klinik dan psikososial yang merugikan baik bagi
penderita maupun keluarganya.

Harsono (2004) memaparkan bahwa masyarakat awam menganggap epilepsi atau


ayan merupakan penyakit akibat adanya gangguan di otak atau disebabkan oleh

6
kekuatan supranatural, dan tiap jenis serangan dikaitkan dengan nama roh atau setan
sehingga terapinya juga didasarkan atas kekuatan spriritual. Masyarakat juga
menganggap epilepsi sebagai penyakit yang memalukan atau menakutkan karena
dianggap menular melalui buih yang keluar dari mulut penderita yang terkena serangan.
Sedangkan menurut (kumala et al,1998) Epilepsi adalah kelompok sindrom yang
ditandai dengan gangguan otak sementara yang bersifat paroksimal yang
dimanefestasikan berupa gangguan atau penurunan kesadaran yang episodic, fenomena
motorik yang opnormal, gangguan psikis, sensorik, dan system otonom, gejala-
gejalanya disebabkan oleh aktifitas listrik otak. Manifestasi serangan atau bangkitan
epilepsi secara klinis dapat dicirikan sebagai berikut yaitu gejala yang timbulnya
mendadak, hilang spontan dan cenderung untuk berulang. Sedangkan gejala dan tanda-
tanda klinis tersebut sangat bervariasi dapat berupa gangguan tingkat penurunan
kesadaran, gangguan sensorik (subyektif), gangguan motorik atau kejang (obyektif),
gangguan otonom (vegetatif) dan perubahan tingkah laku (psikologis). Semuanya itu
tergantung dari letak fokus epileptogenesis atau sarang epileptogen dan penjalarannya
sehingga dikenallah bermacam jenis epilepsi

Banyaknya masalah psikologis bagi penderita epilepsi yang disebabkan karena


tekanan internal maupun tekanan eksternal akan beresiko mengalami gangguan
keberfungsian dalam hidup, baik di sekolah, di tempat kerja maupun di tempat umum
lainnya. Hal ini disebabkan karena penderita epilepsi selalu merasa cemas kalau
serangan epilepsinya akan kumat ditambah lagi persepsi masyarakat yang negatif
terhadap penyakit epilepsi.

B. Etiologi

Terdapat beberapa factor yang dapat menyebabkan epilepsy, yaitu

1. Factor fisiologis
2. Factor biokimiawi
3. Factor anatomis
4. Gabungan factor-faktor diatas
5. Penyakit yang pernah diterima (trauma lahir, trauma kapitis, radang otak, tumor
otak, gangguan peredaran darah, hipoksia, anomaly kongenital otak, degenerasi
susunan saraf pusat, gangguan metabolism, gangguan elektrolit, keracunan obat
atau zat kimia, jaringan parut factor herediter).

7
Epilepsi sebagai gejala klinis bisa bersumber pada banyak penyakit di otak.
Sekitar 70% kasus epilepsi yang tidak diketahui sebabnya dikelompokkan sebagai
epilepsi idiopatik dan 30% yang diketahui sebabnya dikelompokkan sebagai epilepsi
simptomatik, misalnya trauma kepala, infeksi, kongenital, lesi desak ruang, gangguan
peredaran darah otak, toksik dan metabolik. Epilepsi kriptogenik dianggap sebagai
simptomatik tetapi penyebabnya belum diketahui, misalnya West syndrome dan
Lennox Gastaut syndrome. Bila salah satu orang tua epilepsi (epilepsyi idiopatik)
maka kemungkinan 4% anaknya epilepsi, sedangkan bila kedua orang tuanya epilepsi
maka kemungkinan anaknya epilepsi menjadi 20%-30%. Beberapa jenis hormon
dapat mempengaruhi serangan epilepsi seperti hormon estrogen, hormon tiroid
(hipotiroid dan hipertiroid) meningkatkan kepekaan terjadinya serangan epilepsi,
sebaliknya hormon progesteron, ACTH, kortikosteroid dan testosteron dapat
menurunkan kepekaan terjadinya serangan epilepsi. Kita ketahui bahwa setiap wanita
di dalam kehidupannya mengalami perubahan keadaan hormon (estrogen dan
progesteron), misalnya dalam masa haid, kehamilan dan menopause. Perubahan kadar
hormon ini dapat mempengaruhi frekwensi serangan epilepsi.
Tabel Penyebab- penyebab kejang pada epilepsi
Bayi (0- 2 th) 1. Hipoksia dan iskemia paranatal
2. Cedera lahir intrakranial
3. Infeksi akut
4. Gangguan metabolik
(hipoglikemia, hipokalsemia,
hipomagnesmia, defisiensi
piridoksin)
5. Malformasi kongenital
6. Gangguan genetic

Anak (2- 12 th) 1. Idiopatik


2. Infeksi akut
3. Trauma
4. Kejang demam
Remaja (12- 18 th) 1. Idiopatik
2. Trauma

8
3. Gejala putus obat dan alcohol
4. Malformasi anteriovena
Dewasa Muda (18- 35 th) 1. Trauma
2. Alkoholisme
3. Tumor otak
Dewasa lanjut (> 35) 1. Tumor otak
2. Penyakit serebrovaskular
3. Gangguan metabolik (uremia,
gagal hepatik, dll )
4. Alkoholisme

C. Klasifikasi
Epilepsi diklasifikasikan menjadi dua pokok umum yaitu klasifikasi epilepsi
dengan sindrom epilepsi dan klasifikasi berdasarkan tipe kejang
a) klasifikasi epilepsi dan sindrom epilepsi
Berdasarkan penyebab

1. Epilepsi idiopatik: bila tidak diketahui penyebabnya, epilepsi pada anak


dengan paroksimal oksipital
2. Simtomatik: bila ada penyebabnya, letak fokus pada pada semua lobus otak
b) klasifikasi tipe kejang epilepsi (browne, 2008)
1. Epilepsi kejang parsial (lokal, fokal)
a. Epilepsi parsial sederhana, yaitu epilepsi parsial dengan kesadaran tetap
normal
Dengan gejala motorik:

 Fokal motorik tidak menjalar: epilepsi terbatas pada satu bagian tubuh
saja
 Fokal motorik menjalar: epilepsi dimulai dari satu bagian tubuh dan
menjalar meluas ke daerah lain. Disebut juga epilepsi Jackson.
 Versif: epilepsi disertai gerakan memutar kepala, mata, tuibuh.
 Postural: epilepsi disertai dengan lengan atau tungkai kaku dalam sikap
tertentu

9
 Disertai gangguan fonasi: epilepsi disertai arus bicara yang terhenti atau
pasien mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu
Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial (epilepsi disertai
halusinasi sederhana yang mengenai kelima panca indera dan bangkitan yang
disertai vertigo).

 Somatosensoris: timbul rasa kesemuatan atau seperti ditusuk-tusuk


jarum.
 Visual: terlihat cahaya
 Auditoris: terdengar sesuatu
 Olfaktoris: terhidu sesuatu
 Gustatoris: terkecap sesuatu
 Disertai vertigo
Dengan gejala atau tanda gangguan saraf otonom (sensasi epigastrium, pucat,
berkeringat, membera, piloereksi, dilatasi pupil).

Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur)

 Disfagia: gangguan bicara, misalnya mengulang suatu suku kata, kata


atau bagian kalimat.
 Dimensia: gangguan proses ingatan misalnya merasa seperti sudah
mengalami, mendengar, melihat, atau sebaliknya. Mungkin mendadak
mengingat suatu peristiwa di masa lalu, merasa seperti melihatnya lagi.
 Kognitif: gangguan orientasi waktu, merasa diri berubah.
 Afektif : merasa sangat senang, susah, marah, takut.
 Ilusi: perubahan persepsi benda yang dilihat tampak lebih kecil atau
lebih besar.
 Halusinasi kompleks (berstruktur): mendengar ada yang bicara, musik,
melihat suatu fenomena tertentu, dll.
b. Epilepsi parsial kompleks, yaitu kejang disertai gangguan kesadaran.
Serangan parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran : kesadaran
mula-mula baik kemudian baru menurun.

 Dengan gejala parsial sederhana A1-A4. Gejala-gejala seperti pada


golongan A1-A4 diikuti dengan menurunnya kesadaran.

10
 Dengan automatisme. Yaitu gerakan-gerakan, perilaku yang timbul
dengan sendirinya, misalnya gerakan mengunyah, menelan, raut muka
berubah seringkali seperti ketakutan, menata sesuatu, memegang kancing
baju, berjalan, mengembara tak menentu, dll.
Dengan penurunan kesadaran sejak serangan; kesadaran menurun sejak
permulaan kesadaran.

 Hanya dengan penurunan kesadaran


 Dengan automatisme
c. Epilepsi Parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik,
tonik, klonik).
Epilepsi parsial sederhana yang berkembang menjadi bangkitan umum.

Epilepsi parsial kompleks yang berkembang menjadi bangkitan umum.

Epilepsi parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial kompleks lalu

berkembang menjadi bangkitan umum.

2. Epilepsi kejang umum


a. Lena Atau Kejang absant (Petit mal)
Lena khas (tipical absence)

Pada epilepsi ini, kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, muka


tampak membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tak ada reaksi bila
diajak bicara. Biasanya epilepsi ini berlangsung selama ¼ – ½ menit dan
biasanya dijumpai pada anak.

 Hanya penurunan kesadaran


 Dengan komponen klonik ringan. Gerakan klonis ringan, biasanya
dijumpai pada kelopak mata atas, sudut mulut, atau otot-otot lainnya
bilateral.
 Dengan komponen atonik. Pada epilepsi ini dijumpai otot-otot leher,
lengan, tangan, tubuh mendadak melemas sehingga tampak mengulai.
 Dengan komponen klonik. Pada epilepsi ini, dijumpai otot-otot
ekstremitas, leher atau punggung mendadak mengejang, kepala, badan

11
menjadi melengkung ke belakang, lengan dapat mengetul atau
mengedang.
 Dengan automatisme
 Dengan komponen autonom.
Lena tak khas (atipical absence)

Dapat disertai:

 Gangguan tonus yang lebih jelas.


 Permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak mendadak.
b. Grand Mal
 Kejang mioklonik

Pada epilepsi mioklonik terjadi kontraksi mendadak, sebentar,


dapat kuat atau lemah sebagian otot atau semua otot, seringkali atau
berulang-ulang. Bangkitan ini dapat dijumpai pada semua umur.

 Kejang klonik

Pada epilepsi ini tidak terjadi gerakan menyentak, repetitif,


tajam, lambat, dan tunggal multiple di lengan, tungkai atau torso.
Dijumpai terutama sekali pada anak.

 Kejang tonik

Pada epilepsi ini tidak ada komponen klonik, otot-otot hanya


menjadi kaku pada wajah dan bagian tubuh bagian atas, flaksi lengan
dan ekstensi tungkai. Epilepsi ini juga terjadi pada anak.

 Kejang tonik- klonik

Epilepsi ini sering dijumpai pada umur di atas balita yang


terkenal dengan nama grand mal. Serangan dapat diawali dengan aura,
yaitu tanda-tanda yang mendahului suatu epilepsi. Pasien mendadak
jatuh pingsan, otot-otot seluruh badan kaku. Kejang kaku berlangsung
kira-kira ¼ – ½ menit diikutti kejang kejang kelojot seluruh tubuh.
Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri. Tarikan napas menjadi dalam
beberapa saat lamanya. Bila pembentukan ludah ketika kejang

12
meningkat, mulut menjadi berbusa karena hembusan napas. Mungkin
pula pasien kencing ketika mendapat serangan. Setelah kejang berhenti
pasien tidur beberapa lamanya, dapat pula bangun dengan kesadaran
yang masih rendah, atau langsung menjadi sadar dengan keluhan badan
pegal-pegal, lelah, nyeri kepala.

 Kejang atonik

Pada keadaan ini otot-otot seluruh badan mendadak melemas


sehingga pasien terjatuh. Kesadaran dapat tetap baik atau menurun
sebentar. Epilepsi ini terutama sekali dijumpai pada anak.

3. Epilepsi kejang tak tergolongkan


Termasuk golongan ini ialah bangkitan pada bayi berupa
gerakan bola mata yang ritmik, mengunyah, gerakan seperti berenang,
menggigil, atau pernapasan yang mendadak berhenti sederhana.
D. Patopisiologi

Adanya predisposisi yang memungkinkan gangguan pada sistem listrik dari


sel-sel saraf pusat pada suatu bagian otak akan menjadikan sel-sel tersebut
memberikan muatan listrik yang abnormal, berlebihan, secara berulang, dan tidak
terkontrol (disritmia). Aktivitas serangan epilepsi dapat terjadi sesudah gangguan
pada otak dan sebagian ditentukan oleh derajat dan lokasi dari lesi. Lesi pada
mesenfalon, talamus, dan korteks serebri kemungkinan besar bersifat epiloptogenik,
sedangkan lesi pada serebelum dan batang otak biasanya tidak menimbulkan serangan
epilepsi.
Pada tingkat membran sel, neuron epileptik ditandai oleh fenomena biokimia
tertentu. Beberapa diantaranya adalah ketidakstabilan membran sel saraf sehingga sel
lebih mudah diaktifkan. Neuron hipersensitif dengan ambang yang menurun,
sehingga mudah terangsang, dan terangsang secara berlebihan.
Situasi ini akan menyebabkan kondisi yang tidak terkontrol, pelepasan
abnormal terjadi dengan cepat, dan seseorang dikatakan menuju ke arah epilepsi.
Gerakan-gerakan fisik yang tidak teratur disebut kejang. Akibat adanya disritmia
muatan listrik pada bagian otak tertentu ini mmemberikan manifestasi pada serangan

13
awal kejang sederhana sampai gerakan konvulsif memanjang dengan penurunan
kesadaran.
Status epilepsi menimbulkan kebutuhan metabolik besar dan dapat
mempengaruhi pernapasan.. terdapat beberapa kejadian henti napas pada puncak
setiap kejang yang menimbulkan kongesti vena dan hipoksia otak. Episode berulng
anoksia dan pembengkakan serebral dapat menimbulkan kerusakan otak janin yang
tak reversibel dan fatal. Faktor-faktor pencetus epilepsi meliputi gejala putus obat
antikonvulsan, demam, dan infeksi penyerta.
Secara patologi, fenomena biokimia sel saraf yang menandai epilepsi:
1. Ketidakstabilan membran sel saraf.
2. Neuron hypersensitif dengan ambang menurun.
3. Polarisasi abnormal.
4. Ketidakseimbangan ion.
E. Manifestasi Klinik
a. Kehilangan kesadaran
b. Aktivitas motorik
1) Tonik klonik
2) Gerakan sentakan, tepukan atau menggarau
3) Kontraksi singkat dan mendadak disekelompok otot
4) Kedipan kelopak mata
5) Sentakan wajah
6) Bibir mengecap – ecap
7) Kepala dan mata menyimpang ke satu sisi
c. Fungsi pernafasan
1) Takipnea
2) Apnea
3) Kesulitan bernafas
4) Jalan nafas tersumbat
(Tucker, 1998 : 432 )
Sedangkan manifestasi klinik berdasarkan proses terjadinya keadaan
epilepsi yang dialami pada penderita dengan gejala yang timbul berturut-turut
meliputi di saat serangan, penyandang epilepsi tidak dapat bicara secara tiba-
tiba. Kesadaran menghilang dan tidak mampu bereaksi terhadap rangsangan.
Tidak ada respon terhadap rangsangan baik rangsang pendengaran,

14
penglihatan, maupun rangsang nyeri. Badan tertarik ke segala penjuru. Kedua
lengan dan tangannya kejang, sementara tungkainya menendang-nendang.
Gigi geliginya terkancing. Hitam bola mata berputar-putar. Dari liang mulut
keluar busa. Napasnya sesak dan jantung berdebar. Raut mukanya pucat dan
badannya berlumuran keringat. Terkadang diikuti dengan buang air kecil.
Manifestasi tersebut dimungkinkan karena terdapat sekelompok sel-sel otak
yang secara spontan, di luar kehendak, tiba-tiba melepaskan muatan listrik.
F. pemeriksaan Diagnostik
a. CT Scan dan Magnetik resonance imaging (MRI) untuk mendeteksi lesi pada
otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif
serebral. Epilepsi simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang
tampak jelas pada CT scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun
kerusakan otak yang tak jelas tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal
atau perinatal dengan defisit neurologik yang jelas
b. Elektroensefalogram(EEG) untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan
c. Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.
 mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah
 menilai fungsi hati dan ginjal
 menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan
adanya infeksi).
 Pungsi lumbal utnuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain:
 Elektrolit (natrim dan kalium), ketidak seimbangan pada 𝑁𝑎+ dan 𝐾 + dapat
berpengaruh atau menjadi predisposisi pada aktivitas kejang
 Glukosa, hipolegikemia dapat menjadi presipitasi ( percetus ) kejang
 Ureum atau creatinin, meningkat dapat meningkatkan resiko timbulnya
aktivitas kejang atau mungkin sebagai indikasi nefrofoksik yang berhubungan
dengan pengobatan
 Sel darah merah, anemia aplestin mungkin sebagai akibat dari therapy obat
 Kadar obat pada serum : untuk membuktikan batas obat anti epilepsi yang
teurapetik

15
 Fungsi lumbal, untuk mendeteksi tekanan abnormal, tanda infeksi,
perdarahan\Foto rontgen kepala, untuk mengidentifikasi adanya sel, fraktur
 DET ( Position Emission Hemography ), mendemonstrasikan perubahan
metabolik( Dongoes, 2000 : 202 )
H. Penatalaksanaan

Prinsip terapi epilepsi

 Pemilihan obat. Disesuaikan dengan keadaan klinis, efek samping, interna atas-OAE
(obat anti epilepsi), dan harga obat.
 Strategi pengobatan. Dimulai dengan monoterapi OAE lini pertama sesuai dosis,
kemudian ditingkatkan dosisnya sampai bangkitan teratasi/didapat hasil yag optimal
dan konsentrasi plasma OAE pada kadar yang maksimal. Jika bangkitan tidak teratasi,
secara bertahap ganti ke OAE lini kedua sebelum pemberian politerapi.
 Konseling. Beritahukan pada keluarga dan pasien bahwa penggunaan OAE jangka
lama tidak akan menimbulkan perlambatan mental permanen (meskipun penyebab
dasara kejang dapat menimbulkan keadaan demikian) dan pencegahan kejang 1-2
tahun dapat menurunkan kemungkinan bangkitan berulang. Perubahan obat atau dosis
harus sepengetahuan dokter.
 Tindak lanjut. Periksa pasien secara berkala, dan awasi adanya toksisitas OAE.
Pemeriksaan darah dan uji fungsi hati harus dilakukan secara periodik pada beberapa
OAE. Penting juga dilakukan evaluasi ulang fungsi neurologis secara rutin.
 Penangan jangka panjag. Teruskan pengobatan OAE sampai pasien bebas bangkitan
sekura ng-kurangnya 1-2 tahun.
 Penghentian pengobatan. Dilakukan secara bertahap. Jika penghentian pengobatan
dilakukan secara tiba-tiba, pasien harus dalam pengawasan ketat karena dapat
mencetuskan bangkitanatau bahkan status epileptikus. Jika bangkitan timbul selama
atau sesudah penghentian pengobatan, OAE harus diberikan lagi sekurang-kurangnya
1-2 tahun.
Untuk keberhasilan pengobata epilepsi, disamping etepatan diagnosa dan jenis OAE,
diperlukan juga kepatuhan, sikap dan pengetahuan penderita menghadapi penyakit
epilepsi.

16
Memulai pengobatan.
 Pengobatan OAE dapat dimulai bila terjadi kedua kali bangkitan dalam selang waktu
yang tidak lama (maksimum 1 tahun)
 Pada umumnya bangkitan tunggal tidak memerlukan terapi OAE, kecuali bila terdapat
kemungkinan berulang yang tinggi.
 Bangkitan parsial sederhana tipe sensorik/psikis biasanya tidak perlu OAE, kecuali
mengganggu penderita.

Obat-obat anti epilepsi.


1. Karbamezepin. Efektif untuk epilepsi parsial terutama epilepsi parsial kompleks,
epilepsi umum tonik-klonik, maupun kombinasi kedua jenis epilepsi ini.
Karbamazepin tidak efektif untuk epilepsi absens, epilepsi atonik.
 Mekanisme kerja : inhibisi kanal Na+ dan inhibisi Ca+ tipe L.
 Dosis dan pemberian : untuk menghindari efek samping, titrasi untuk
mencapai
kadar terapeutik harus dilakukan perlahan.
a. Dewasa: dimulai dari dosis 100-200 mg pada malam hari atau 2 dd 100
mg, kemudian setelah 3-7 hari ditingkatkan menjadi 2 dd 200 mg.
setelah 1 minggu, kadar karmazepin darah diperiksa dan dosis dapat
dinaikkan setiap interval 3-7 hari untuk mencapai kadar 4-12 µg/L.
kadar dalam darah sebaiknya diperiksa setiap 4-6 minggu karena
terdapat kemungkinan terjadiautoinduksi metabolisme, sehingga dosis
perlu ditingkatkan.
Dosis: rumatan untuk dewasa: 600-1600 mg/hari, maksimal 2400
mg/hari.
b. Anak-anak: dosis awal 5-10 mg/kg/hari. Pemberian: 2 kali sehari.
Kadar terapeutik : 4-12 µg/L
 Efek samping
a. Berkaitan dengan dosis : pusng, diplopia, mual, muntah, sedasi,
leukopenia ringan, hiponatremia, dan bradiaritmia (pada oang tua)
b. Idosinkratk : ruam (termasuk sindrom steven-john-son), agranulositis,
gagal hati, pankreatitis, dan lupus-like syndrome.

17
c. Kronis : ostopnia (mungkin dapat dicegah dengan pemberian vitamin
D dan kalsium).
d. Teratogenik
 Interaksi
a. Karbamezepin mengurangi efektifitas klonazepam, etosuksimid,
primidon, valproat, topiromat, fenitonin, fenobarbitalkontraseps oral,
disopyramide, rifampin, ketoconozale, meperidine, warfarin,
tacrolimus, proteas inhibitor, trazodone, and quinidine.
b. Kadar karmazepin diturunkka oleh fermobital dan fenitonin.
c. Kadar karmazepin ditingkatkan oleh eritromisin dan propoxyphne
hydrochloride
2. Fenitonin. Efektif untuk epilepsi parsial dan tonik klonik tidak efektif untuk
absens dan epilepsi mioklonik. Mekanisme kerjanya mirip dengna karbamazepin.
 Dosis pemberian :
a. Dewasa : loading dose oral 2 dd 500 mg atau 3 dd 300 mg. Rumatan
: 300-400 mg/hari dibagi 2.
b. Anak-anak. 4-5 mg/kg/hari, makslam 8 mg/kg.
Pemberian : biasanya 2 kali sehari, tetapi dapat juga 1 kali sehari.
Kadar terapeutik : 10-20 µg
 Efek samping :
Berkaitan dengan dosis : pusing, ataksia, diplopia, dan mual.
Idionsinkratik
Kronis : hiperplasi gusi, hisrutisme, ostpnea, dan pseudolimfoma.
Teratogenik.
3. Benzodiazepin:
a. Diazepam. jarang digunakan per oral, tetapi sering diguanakan secara
intravena atau per rektal untuk pengobatan status epileptikus. Apabila
diberikan secara intravena, onset kerjanya seitar 1-2 menit, tetapi masa
kerjanya hanya 15-20 menit.
Dosis dan pemberian :
Dewasa : 5-20 mg/hari
Anak-anak : 0,3-0,5 mg/kg/hari.

18
Efek samping : mengantuk kelemahan otot, depresi pernafasan, konfusi,
konstipasi, depresi, diplopia, disartria, nyeri kepala, hipotensi, mual,
inkontinensia, vertigo, dan pandangan kabur.
4. Klonazepam : merupakan terapi tambahan untuk epilepsi mioklonik atau atonik.
Dan kadang-kadang untuk epilepsi parsial. Waktu paruhnya 20-40 jam, mungkin
lebih ;pendek apabila diberikan bersama penginduksi enzim.
5. Fenorbital : fenorbital dapat diberikan pada epilepsi umu, tetapi bukan
merupakan obat pilihan pertama sebab efek sampingnya berupa penurunan fungsi
kognitif.
6. Valporat : dikenal dengan OAE spektrum luas, efektif untuk epilepsi tipe lena,
epilepsi mioklinik, epilepsi umum tonik maupun tonik-klonik.
Efek samping : berkaitan dengan dosis gangguan pencernaan, anoreksa, tremor,
dan trombositopeni. Idiosinkiratik. Kenaikan berat badan, kerontoka rambut dan
perubahan struktur kulit. Teratogenik.
1. Selama kejang
a) Berikan privasi dan perlindungan pada pasien dari penonton yang ingin tahu
b) Mengamankan pasien di lantai jika memungkinkan
c) Hindarkan benturan kepala atau bagian tubuh lainnya dari bendar keras, tajam
atau panas. Jauhkan ia dari tempat / benda berbahaya.
d) Longgarkan baju . Bila mungkin, miringkan kepalanya kesamping untuk
mencegah lidahnya menutupi jalan pernapasan.
e) Biarkan kejang berlangsung. Jangan memasukkan benda keras diantara
giginya, karena dapat mengakibatkan gigi patah. Untuk mencegah gigi klien
melukai lidah, dapat diselipkan kain lunak disela mulut penderita tapi jangan
sampai menutupi jalan pernapasannya.
f) Ajarkan penderita untuk mengenali tanda2 awal munculnya epilepsi atau yg
biasa disebut "aura". Aura ini bisa ditandai dengan sensasi aneh seperti
perasaan bingung, melayang2, tidak fokus pada aktivitas, mengantuk, dan
mendengar bunyi yang melengking di telinga. Jika Penderita mulai merasakan
aura, maka sebaiknya berhenti melakukan aktivitas apapun pada saat itu dan
anjurkan untuk langsung beristirahat atau tidur.
g) Bila serangan berulang-ulang dalam waktu singkat atau penyandang terluka
berat, bawa ia ke dokter atau rumah sakit terdekat.`

19
2. Setelah kejang
a) Penderita akan bingung atau mengantuk setelah kejang terjadi.
b) Pertahankan pasien pada salah satu sisi untuk mencegah aspirasi. Yakinkan
bahwa jalan napas paten.
c) Biasanya terdapat periode ekonfusi setelah kejang grand mal
d) Periode apnea pendek dapat terjadi selama atau secara tiba- tiba setelah kejang
e) Pasien pada saaat bangun, harus diorientasikan terhadap lingkungan
f) Beri penderita minum untuk mengembalikan energi yg hilang selama kejang
dan biarkan penderita beristirahat.
g) Jika pasien mengalami serangan berat setelah kejang (postiktal), coba untuk
menangani situasi dengan pendekatan yang lembut dan member restrein yang
lembut
h) Laporkan adanya serangan pada kerabat terdekatnya. Ini penting untuk
pemberian pengobatan oleh dokter.
I. Pencegahan
Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan
untuk pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang
menggunakan obat antikonvulsi (konvulsi: spasma autau kekejangan kontruksi
otot keras dan terlalu banyak disebabkan oleh proses pada sistem saraf pusat,
yang menimbulkan pula kekejangan pada bagian tubuh) yang digunakan
sepanjang kehamilan.
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah.
Melalui program yang memberi keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan
yang aman, yaitu tidak hanya dapat hidup aman, tetapi juga mengembangkan
pencegahan epilepsi akibat cedera kepala. Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi
(tenaga kerja, wanita dengan latar belakang sukar melahirkan, pengguna obat-
obatan, diabetes, atau hipertensi) harus di identifikasi dan dipantau ketat selama
hamil karena lesi pada otak atau cedera akhirnya menyebabkan kejang yang
sering terjadi pada janin selama kehamilan dan persalinan.
Program skrining untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia
dini, dan program pencegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat
anti konvulsan secara bijaksana dan memodifikasi gaya hidup merupakan bagian
dari rencana pencegahan ini.

20
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat adanya faktor-faktor penyebab
a. Idiapotik-tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi
b. Pasca trauma-cedera kepala, lesi otak yang menyebabkan desak ruang (tumor,
aneurisma, hematoma), inflamasi selaput otak, demam tinggi, dan gangguan
metabolik
2. Dapatkan riwayat kejang. Pasien mungkin tidak dapat memberikan informasi
tentang perilakunya selama atau setelah kejang kecuali ada saksi yang memberitahu
pasien. Bila mungkin, bicaralah dengan orang yang menyaksikan. Tanya pasien hal-
hal berikut:
 Berkaitan dengan kejang
a. Pernahkah anda mengalami kejang? Jika Ya apa yang terjadi selama
kejang dan berapa lama berakhir?
b. Apakah anda mengalami aura (sensasi atau tingkah laku yang tidak
biasa) sebelum kejang?
c. Apakah yang terjadi selama kejang?
d. Seberapa seringkah Anda mengalami kejang?
e. Adakah sesuatu yang khusus yang menyebabkan kejang?
f. Kapan kejang terakhir yang Anda alami?
g. Apakah setelah kejang berakhir, Anda menyadari kalau baru saja
mengalami kejang?
h. Apakah yang anda rasakan setelah kejang?
 Berkaitan dengan obat-obatan
a. Obat apakah yang Anda gunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
b. Kapan obat terakhir digunakan untuk mengontrol aktivitas kejang?
c. Apakah Anda juga menggunakan obat-obat yang lain?
3. Pemeriksaan diagnostik:
 EEG, skan CT atau MRI (magneticresonanceimaging), dan pemeriksaan
metabolisme menggambarkan kondisi patologis.
 Kadar antikonvulsanserum (bila digunakan) diperiksa untuk menentukan
adekuat-tidaknya terapi obat
4. Gali informasi tentang perubahan gaya hidup yang mungkin mencetuskan
kejang/serangan
5. Kaji pemahaman tentang kondisi, pengobatan dan kemandirian-Nya setelah pulang
6. Kaji perasaan pasien tentang kondisinya dan dampaknya terhadap gaya hidup

21
B. Diagnosa keperawatan
a. Diagnosa keperawatan: resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan
faktor aktivitas kejang.
Batasan karakteristik: laporan jatuh pada saat kejang terjadi, memar, aktivitas
jejak keras saat kejang.
Hasil yang diharapkan: tidak ada cidera fisik. Kriteria evaluasi tidak ada
memar, tidak jatuh
b. Diagnosa keperawatan : resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan
pemeliharaan dirumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
kondisi dan rencana penangananya, tidak efektifnya koping terhadap kondisi
kroniknya.
Batasan karakteristik : ungkapan kurangnya pemahaman ,keluhan,tidak
mampu mengatasi masalah-masalah pada saat yang lalu,mengungkapkan
kesulitan koping terhadap kondisi kronisnya.
Hasil yang diharapkan :mengungkapkan pemahaman terhadap
kondisinya,pengobatan,tindakan,pencegahan; mengungkapkan kepuasannya
dengan rencana terapi; mengungkapkan rencana yang realistis.

22
C. INTERVENSI
a. Diagnosa keperawatan: resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan faktor
aktivitas kejang.

NO Intervensi Rasional
1 Pantau: Untuk mengidentifikasi
 Hasil darah menunjukkan terapi perkembangan atau
antikonvulsan penyimpangan hasil yang
 Status neurologis (Apendiks J) diharapkan
setiap 8 jam.
2 Lakukan kewaspadaan yang tepat bila Tindakan-tindakan khusus
terjadi kejang membantu mengenali jenis kejang
 Kaji fungsi saluran pernapasan. dan melindungi pasien dari cidera
Gunakan ambu-bag bila perlu fisik. Untuk mengontrol dari
sebagai pentilasi. Masukan alat aktivitas kejang . keutuhsn jalan
untuk pernapasan mulut hanya nafas dapat terganggu dengan
bila serangan dengan status aktivitas kejang yang
epileptikus reda sejenak. berkepanjangan ,yang mengurangi
Lakukan pengisapan bila perlu. suplai oksigen ke otak.
 Pasang infus untuk sarana
pengobatan, berikan
antikonvulsan sesuai program.
3 Segera beri tahu dokter bila kejang Temuan ini merupakan satus
melebihi 10 menit dan individu tidak indikasi epileptikus
sadar.
4 Apabila kejang berakhir Dokumentasi merupakan catatan
 Catat lamanya kkejang, uraikan tetap dari riwayat kondisi
pergerakan tubuh selama kesehatan pasien sebagai rujukan
kejang, dan prilaku pasien untuk masa depan. Selama
setelah kejang. kejang pasien menghabiskan
 Ukur tanda vital energi dan menyebabkan
 Berikan kesempatan pada kelelahan. Individu juga
pasien untuk beristirahat, kehilangn kesaddaran dan tidak

23
khususnya setelah kejang dapat mengingat serangan
umum. dialami.
 Tanyakan pada pasien bila ada
perasaan yang tidak biasa yang
dialami beberapa saat sebelum
kejang.
 Ber tahu pasien tentang kejadian
kejang.
5 Bila pasien dirawat di rumah sakit Penjagaan untuk keamanan harus
dengan kejang yang tidak terkontrol; dilakukan untuk mencegah cidera.
 Pasang penghalang tempat Pemasangan infus atau heparin-
tidur lok memungkinkan untuk
 Tempelkan tulisan pada pemberian obat secara cepat bila
tempat tidur “kewaspadaan terjadi kedaduratan.
kejang”
 Pastikan alat penghisap lendir
siap dipergunakan bila pasien
mengalami serangan grand-
mal.
 Pastikan infus terpasang atau
heprain-lok terpasang.
 Siapkan spatel lidah atau mayo
disamping trmpat tidur
6 Bila pasien dirawat dengan serangan Kadar antikonvulsan dalam darah
kejang berikan tanda pada kardex atau yang konsisten penting ntk
status, pastikan pasien mendapatkan pengontrolan kejang secara
program pengobatan untuk efektif.
mengontrol kejang bila individu sudah
berobat sebelum di rawat.
7 Berikan antikonvulsan sesuai Ini merupakan indikasi perlu
program. Beritahu dokter bila adanya perubahan terapi untuk
aktivitas kejang masih tetap atau pemeriksaan diagnosa lebih
memburuk. lanjut.

24
b. Diagnosa keperawatan : resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan
pemeliharaan dirumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
kondisi dan rencana penangananya, tidak efektifnya koping terhadap kondisi
kroniknya.
No Intervensi Rasional
1 Berikan informasi tentang Pasien lebih mungkin mentaati bila
 Mekanisme patologi yang mereka memahami kondisi mereka
mengakibatkan aktivitas dan bagimana tindakan yang
kejang ditentukan akan membantu mereka
 Tujuan dari program
penanganan
 Program pengobatan
termasuk
nama,dosis,jadwal,tujuan,
dan kemungkinan efek
samping.
 Pemeriksaan diagnostik
termasuk
A. Uraian singkat
B. Tujuan pemeriksaan
C. Persiapan sebelum
pemeriksaan
D. Perawatan sebelum
pemeriksaan
2 Ajarkan pada pasien untuk Instruksi-instruksi ini di rancang
peraawatan mandiri terhadap kejang. untuk menjamin keselamatan
 Pada saat terjadi serangan cari pasien
tempat yang aman dan
berbaring
 Gunakan obat sesuai program
 Pakai gelang atau kalung

25
waspada medis
 Hindari konsumsi alkohol
sementara sedang dalam
pengobatan antikonvulsan
 Pekerjaan tetap dilakukan
apabila keamanannya terjamin.
Hindari pekerjaan-pekerjaan
yang berada di tempat
ketinggian atau air.
 Taati peraturan pengemudi. Di
banyak daerah mengharuskan
seseorang bebas dari serangan
kejang paling tidak dalam dua
tahun terakhir untuk
mendapatkan surat izin
mengemudi
3 Ajarkan kepada anggota keluarga apa Perubahan dalam pola serangan
yang harus dilakukan bila terjadi merupakan peringatan untuk
kejang. Jelaskan bahwa perlu untuk evaluasi secara teliti.kadar anti
mencari bantuan darurat setiap konvulsan di dalam serum dan
serangan karna polanya selalu sama. pemeriksaan neurologis.
Anjurkan untuk menghubungi dokter
bila kejang menjadi lebih kuat dan
sering
4 Berikan kesempatan pada pasien dan Mengungkapkan perasaan
keluarga untuk mengungkapkan menbantu memudahkan koping
perasaan-perasaannya tentang dan memungkinkan pemberian
perawatan kejang. Koreksi bila ada bantuan untuk mengenali dan
kekeliruan konsep mengoreksi adanya kekeliruan
konsep

26
BAB IV

PENUTUP

E. Kesimpulan

Epilepsi adalah kelompok sindrom yang ditandai dengan gangguan otak sementara
yang bersifat paroksimal yang dimanefestasikan berupa gangguan atau penurunan
kesadaran yang episodic, fenomena motorik yang opnormal, gangguan psikis,
sensorik, dan system otonom, gejala-gejalanya disebabkan oleh aktifitas listrik otak.
Epilepsi dapat disebabkan oleh:

1. Factor fisiologis
2. Factor biokimiawi
3. Factor anatomis
4. Gabungan factor-faktor diatas
5. Penyakit yang pernah diterima

F. Saran

setelah disusun makalah ini, diharapkan mahasiswa dan masyarakat mengetahui apa
itu penyakit epilepsi dan bagaiman asuhan keperawatannya, karena melihat bahwa
penyakit epilepsi adalah penyakit yang dipandang sebelah mata di masyarakat
sehingga berdampak buruk bagi penderitanya. Dengan mengetahui tentang konsep
keperawatn pada penyakit epilepsi, diharapkan dapat meningkatkan kehidupan sosial
bagi penderita

27
DAFTAR PUSTAKA

Sloane, ethel. 2003. Anatomi dan fisiologi untuk pemula: Jakarta. EGC

Wade, Carole dan Travis carol. 2001. Psikologi edisi 9: Jakarta. Erlangga

Dewanto, George & Budi, Riyanto dkk. 2007. Diagnosis & Tata laksana penyakit saraf:
Jakarta. EGC

Harsono. 2007. Neurologi Edisi ke 2: Yogyakarta. Gadjah Mada University Press

Markam, Soemarmo. 2009. Penuntun Neurologi: Tangerang. Binarupa Aksara

Battica, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan gangguan System Persarafan:
Jakarta. Salemba Medika

Lynda Juall C. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC.

Marilyn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 volume 3. Jakarta: EGC.

Carpenito, Lynda Jual-Moyet. 2008. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta :
EGC.

Doengoes, M. E., Moorhouse, M. F., & Geissler, A.C. 2000. Rencana asuhan keperawatan.
(Edisi 3). Jakarta: EGC

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika

28