Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)


STIMULASI PERSEPSI SENSORI
(HALUSINASI)

Di Susun Oleh :
Eka Widyawati

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan
hidayahnya saya dapat menyelesaikan Proposal TAK ini dengan baik.
Proposal TAK yang berjudul ”Stimulasi Sensori ( Halusinasi )” disusun
untuk memenuhi tugas profesi saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun. Saya
harapkan demi kesempurnaan proposal TAK ini Kedepan.
Akhir kata, semoga proposal ini berguna dan bermanfaat bagi semua pihak
yang membaca, serta dapat dijadikan sebagai bahan untuk menambah
pengetahuan para mahasiswa, dan pembaca.

Bogor, 27 September 2019

Penyusun
Eka Widyawati

PPN UIN JAKARTA Page 2


TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)
STIMULASI PERSEPSI SENSORI (HALUSINASI)

A. Latar Belakang
Terapi Aktivitas Kelompol (TAK): sosialisasi TAK adalah upaya
memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan
sosial. Salah satu gangguan hubungan sosial pada pasien gangguan jiwa
adalah gangguan persepsi sensori: Halusinasi merupakan salah satu masalah
keperawatan yang dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa. Halusinasi
adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan
sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang
sebetulnya tidak ada. Dampak dari halusinasi yang diderita klien diantaranya
dapat menyebabkan klien tidak mempunyai teman dan asyik dengan fikirannya
sendiri. Salah satu penanganannya yaitu dengan melakukan Terapi Aktivitas
Kelompok yang bertujuan untuk mengidentifikasi halusinasi dan mengontrol
halusinasi yang dialaminya.
Dari beberapa kasus gangguan jiwa yang ada di RS.H. Marzoeki Mahdi
khususnya Ruang Bratasena sebagian besar pasien menderita halusinasi. Oleh
karena itu, perlu diadakan Terapi Aktivitas Kelompok tentang halusinasi.

B. Landasan Teori
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang
menggunakan aktivitas yang menggunakan aktivitas mempersepsikan
berbagai stimulasi yang terkait dengan pengalaman dengan kehidupan untuk
didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa
kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.
Dalam terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi dibagi
dalam 5 sesi, yaitu:

1. Sesi I : Klien mengenal halusinasi


2. Sesi II : Mengontrol halusinasi dengan cara menghardik

PPN UIN JAKARTA Page 3


3. Sesi III : Mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap
dengan orang lain
4. Sesi IV : Mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas
terjadwal
5. Sesi V : Mengontrol halusinasi dengan cara patuh minum obat.

C. Sesi yang digunakan


Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sesi II : Mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik

D. Tujuan
a) TUJUAN UMUM
Setelah dilakukan TAK sesi II diharapkan klien dapat mengontrol
halusinasinya dengan cara menghardik.
b) TUJUAN KHUSUS
1. Klien dapat menjelaskan cara yang selama ini dilakukan untuk
mengatasi halusina
2. Klien dapat memahami cara menghardik halusinasi
3. Klien dapat memperagakan cara menghardik halusinasi

E. Klien
1. Kriteria klien
a. Klien gangguan orientasi realita yang mulai terkontrol
b.Klien yang mengalami perubahan persepsi.
2. Proses seleksi
a. Mengobservasi klien yang masuk kriteria.
b.Mengidentifikasi klien yang masuk kriteria.
c. Mengumpulkan klien yang masuk kriteria.
d.Membuat kontrak dengan klien yang setuju ikut TAK, meliputi:
menjelaskan tujuan TAK pada klien, rencana kegiatan kelompok dan
aturan main dalam kelompok

PPN UIN JAKARTA Page 4


F. Kriteria Hasil
1. Evaluasi Struktur
a. Kondisi lingkungan tenang, dilakukan ditempat tertutup dan
memungkinkan klien untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan
b. Posisi tempat dikursi
c. Peserta sepakat untuk mengikuti kegiatan
d. Alat yang digunakan dalam kondisi baik
e. Leader, Co-leader, Fasilitator, observer berperan sebagaimana
mestinya.
2. Evaluasi Proses
a. Leader dapat mengkoordinasi seluruh kegiatan dari awal hingga
akhir.
b. Leader mampu memimpin acara.
c. Co-leader membantu mengkoordinasi seluruh kegiatan.
d. Fasilitator mampu memotivasi peserta dalam kegiatan.
e. Fasilitator membantu leader melaksanakan kegiatan dan
bertanggung jawab dalam antisipasi masalah.
f. Observer sebagai pengamat melaporkan hasil pengamatan kepada
kelompok yang berfungsi sebagai evaluator kelompok
g. Peserta mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akhir
3. Evaluasi Hasil
Diharapkan 75% dari kelompok mampu:
a. Menjelaskan apa yang sudah digambarkan dan apa yang dilihat
b. Menyampaikan halusinasi yang dirasakan dengan jelas

G. Antisipasi Masalah
1. Penanganan terhadap klien yang tidak aktif dalam aktivitas
a. Memanggil klien
b. Memberi kesempatan pada klien untuk menjawab sapaan perawat
atau klien lain
2. Bila klien meninggalkan kegiatan tanpa izin
a. Panggil nama klien

PPN UIN JAKARTA Page 5


b. Tanyakan alasan klien meninggalkan kegiatan
3. Bila klien lain ingin ikut
a. Berikan penjelasan bahwa kegiatan ini ditujukan kepada klien
yang telah dipilih
b. Katakan pada klien bahwa ada kegiatan lain yang mungkin
didikuti oleh klien tersebut
c. Jika klien memaksa beri kesempatan untuk masuk dengan tidak
memberi pesan pada kegiatan.
H. Metode Dan Media
a. Metode
1. Diskusi
2. Bermain peran/stimulasi
b. Media
1. Papan nama
2. Spidol

I. Pengorganisasian
 Waktu
Tanggal : 30 September 2019
Hari : senin
Jam : 10.00 WIB
Lama kegiatan : 20 menit
Tim terapis
a. Leader : Eka Widyawati
 Mengkoordinasi seluruh kegiatan
 Memimpin jalannya terapi kelompok
 Memimpin diskusi

b. Co.leader : Gema Putri Handayani


 Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan
 Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang
 Membantu memimpin jalannya kegiatan

PPN UIN JAKARTA Page 6


 Menggantikan leader jika terhalang tugas

c. Fasilitator :
 Hilda Hidayani
 John Faisal N
 Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok
 Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan
 Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk melaksanakan
kegiatan
 Membimbing kelompok selama permainan diskusi
 Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan
 Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah

d. Observer : Kurnia auliya wati


 Mengamati semua proses kegiatan yang berkaitan dengan waktu,
tempat dan jalannya acara
 Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua angota
kelompok denga evaluasi kelompok

 Seetting tempat :
a) terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
b) tempat tenang dan nyaman.

PPN UIN JAKARTA Page 7


Gambar Setting Tempat

L CL

O K K

K K

F K F

Keterangan gambar:

L
: Leader : Kursi

CL : Co-Leader

O : Observer

F : Fasilitator

K
: Klien

PPN UIN JAKARTA Page 8


J. Proses Pelaksanaa
 Persiapan
 Mengingatkan kontrak kepada klien yang telah mengikuti sesi I
 Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
 Orientasi
a. Salam terapeutik
 Salam terapeutik
 Klien dan terapis pakai papan nama
b. Evaluasi/Validasi
 Leader menanyakan perasaan klien saat ini
 Leader menanyakan pengalaman halusinasi yang terjadi: isi, waktu,
situasi dan perasaan
c. Kontrak
 Menjelaskan tujuan kegiatan: latihan cara mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik
 Menjelaskan aturan main
 Jika ada yang ingin meninggalkan kelompok harus meminta izin
kepada leader
 Lama kegiatan 20 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
 Tahap keja
a. Leader meminta klien menceritakan apa yang dilakukan pada saat
mengalami halusinasi dan bagaimana hasilnya . Ulangi sampai semua
pasien mendapat giliran
b. Berikan pujian setiap klien selesai bercerita
c. Leader menjelaskan cara mengatasi halusinasi dengan menghardik
halusinasi pada saat halusinasi muncul
d. Co-Leader memperagakan cara menghardik halusinasi yaitu: ”Pergi,
pergi jangan ganggu saya, kamu suara palsu...”
e. Leader meminta masing-masing klien memperagakan cara
menghardik halusinasi

PPN UIN JAKARTA Page 9


f. Leader memberikan pujian dan mengajak semua klien bertepuk tangan
setiap klien memperagakan menghardik halusinasi
 Tahap terminasi
a. Evaluasi
 Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
 Leader memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak Lanjut
 Leader mengajarkan klien untuk menerapkan cara yang telah dipelajari
jika halusinasi muncul
 Memasukkan kegiatan menghardik ke dalam jadwal kegiatan harian
klien
c. Kontrak yang akan datang
 Leader membuat kesepakatan dengan klien untuk TAK berikutnya
yaitu cara mengontrol halusinasi dengan melakukan bercakap-cakap
dengan orang lain
 Leader membuat kesepakatan waktu dan tempat TAK berikutnya

K. Evaluasi dan Dokumentasi


a. Evaluasi
Formulir yang dievaluasi :
SESI II : TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)
STIMULASI PERSEPSI SENSORI : Mengontrol Halusinasi Dengan
Cara Menghardik

PPN UIN JAKARTA Page 10


Nama Pasien
No. Aspek Yang Dinilai

1 Menyebutkan cara yang


selama ini digunakan untuk
mengatasi halusinasi
2 Menyebutkan efektivitas
cara yang digunakan
3 Menyebutkan cara
mengatasi halusinasi
dengan menghardik
4 Memperagakan cara
menghardik halusinasi

a. Petunjuk:
 Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama
 Untuk setiap klien beri penilaian kemampuan menyebutkan; cara yang
biasa digunakan untuk mengatasi halusinasi, efektifitas cara yang
digunakan, cara mengatasi halusinasi dengan menghardik dan
memperagakan cara menghardik halusinasi. Beri tanda √ jika klien
mampu dan berikan tanda X jika klien tidak mampu.
b. Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan
proses keperawatan setiap klien. Contoh: klien mengikuti TAK stimulasi
persepsi sensori. Klien mampu memperagakan cara menghardik
halusinasi, anjurkan klien mengguanakannnya jika halusinasi muncul.

PPN UIN JAKARTA Page 11


DAFTAR PUSTAKA

Ah. Yusuf, dkk. 2015. Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta : Salemba
medika
Dalami. 2016. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa. Jakarta :
CV Trans info media
Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa.
Bandung : Refika Aditama
Kusumawati F dan Hartono Y. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Jakarta : Salemba Medika.
Maramis, W.F. 2010. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Ed. 2. Surabaya :
Airlangga University Press.
S. N. Ade Herma Direja. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:
Nuha. Medika
Stuart, G.W. 2013. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5 Revisi. Jakarta:
EGC
Yosep, I. (2011). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama

PPN UIN JAKARTA Page 12