Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Korupsi kini merupakan permasalahan yang menjadi perbincangan pada
semua kalangan masyarakat. Korupsi dianggap merusakkan sendi kehidupan
masyarakat dan bernegara karena sifatnya yang merugikan. Perilaku korupsi di
Indonesia sudah merupakan hal yang biasa bahkan sudah membudaya, padahal
korupsi merupakan prilaku yang bertentangan dan melanggar moral serta hukum.
Tingginya angka korupsi di Indonesia membuat pemerintah Indonesia membuat
berbagai usaha dalam pencegahan atau upata pemberantasan korupsi. Korupsi
adalah salah satu factor yang menyebabkan suatu kemunduran suatu negara
sehingga sangat penting untuk menanamkan sifat/sikap anti korupsi sejak dini.
Korupsi tidak hanya berdampak terhadap satu aspek kehidupan saja.
Korupsi memiliki berbagai efek penghancuran yang hebat, khususnya
dalam sisi ekonomi sebagai pendorong utama kesejahteraan masyarakat. Pada
keadaan ini, inefisensi terjadi, yaitu ketika pemerintah mengeluarkan lebih
banyak kebijakan namun disertai dengan marakhya praktek korupsi, bukannya
memberikan nilai positif yang semakin tertata, namun memberikan efek negative
bagi perekonomian secara umum. Salah satu upaya jangka panjang yang terbaik
mengatasi korupsi adalah dengan memberikan pendidikan anti korupsi dini
kepada kalangan generasi muda sekarang khususnya mahasiswa di Perguruan
tinggi. Karena merekalah generasi penerus yang akan menggatikan kedudukan
para pejabat terdahulu.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari korupsi ?
2. Apa saja faktor internal dan eksternal anti korupsi ?
3. Apa saja nilai nilai anti korupsi?
4. Apa saja prinsip prinsip anti korupsi ?
1.3 TUJUAN

1
1. Untuk mengetahui apa definisi dari korupsi
2. Untuk mengetahui faktor internal dan eksternal penyebab korupsi
3. Untuk mengetahui nilai nilai anti korupsi
4. Untuk mengetahui prinsip prinsip anti korupsi
1.4 MANFAAT
1. Agar dapat memahami definisi dari korupsi
2. Agar dapat memahami faktor internal dan eksternal anti korupsi
3. Agar dapat memahami nilai anti korupsi
4. Agar dapat memahami prinsip anti korupsi

BAB II
PEMBAHASAN

2
2.1 DEFINISI KORUPSI
Korupsi adalah tindakan menguntungkan diri sendiri dan orang lain yang
bersifat busuk, jahat, dan merusakkan karena merugikan negara dan masyarakat
luas. Pelaku korupsi dianggap telah melalukan penyelewengan dalam hal
keuangan atau kekuasaan, pengkhianatan amanat terkait pada tanggung jawab
dan wewenang yang diberikan kepadanya, serta pelanggaran hukum.
2.2 FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL KORUPSI
Korupsi disebabkan oleh adanya dua faktor, yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal dan eksternal penyebab korupsi faktor
penyebabnya bisa dari internal pelaku-pelaku korupsi, tetapi bisa juga bisa
berasal dari situasi lingkngan yang kondusif bagi seseorang untuk melakukan
korupsi.
 Faktor Internal
Merupakan faktor pendorong korupsi dari dalam diri, yang dapat dirinci
menjadi :
A. Aspek prilaku individu
1) Sifat tamak/ rakus manusia. Korupsi bukan kejahatan
kecil kecilan karena mereka membutuhkan makan.
Korupsi adalah kejahatan orang professional yang rakus.
Sudah bercukupan, tapi serakah. Mempunyai hasrat besar
untuk memperkaya diri. Unsure penyebab korupsi pada
pelaku semacam itu dating dari dalam diri sendiri, yaitu
sifat lemak dan rakus. Maka tindakan keras tanpa
kompromi, wajib hukumnya.
2) Moral yang kurang kuat seorang yang moralnya tidak kuat
cenderung mudah tergoda untuk melakukan korupsi.
Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat,
bawahannya, atau pihak yang lain member kesempatan
untuk itu.

3
3) Gaya hidup yang konsumtif kehidupan di kota kota besar
sering mendorong gaya hidup seorang konsumtif. Perilaku
konsumtif bila tidak diimbangi dengan pendapatan yang
memadai akan membuka peluang seorang untuk
melakukan berbagai tindakan untuk memenuhi hajatnya.
Salah satu kemungkinan tindakan itu adalah dengan
korupsi.
B. Aspek Sosial
Aspek social prilak korupsi dapat terjadi karena dorongan
keluarga. Kaum behavioris mengtakan bahwa lingkungangan
keluargalah yang secara kuat memberikan dorongan bagi orang
korupsi dan mengalahkan sifat baik seseorang yang mudah
menjadi traits pribadinya. Lingkungan dalam hal ini malah
memberikan dorongan dan bukan memberikan hukuman pada
orang ketika ia menyalahgunakan kekuasaannya.
 Faktor eksternal
Pemicu prilaku korup yang disebabkan oleh faktor diluar diri pelaku.
A. Aspek sikap masyarakat terhadap korupsi. Pada umumnya jajaran
manajemen selalu menutupi tindak korupsi yang dilakukan oleh
segelintir oknum dalam organisasi. Akibat sifat tertutup ini
pelanggaran korupsi justru terus berjalan dengan berbagai bentuk.
Oleh karena itu sikap masyarakat yang berpotensi menyuburka
tindak korupsi terjadi karena :
1) Nilai nilai di masyarakat kondusif untuk terjadinya
korupsi. Korupsi bisa ditimbulkan oleh budaya
masyarakat. Misalnya, masyarakat menghargai seseorang
karena kekayaan yang dimilikinya. Sikap ini seringkali
membuat masyarakat tidak kritis pada kondisi,misalnya
darimana kekayaan itu didapatkan.

4
2) Masyarakat kurang menyadari bahwa korban utama
korupsi adalah masyarakat sendiri. Anggapan masyarakat
umum terhadap peristiwa korupsi, sosok yang paling
dirugkan adalah negara. Padahal bila negara merugi,
esensinya yang paling rugi adalah masyarakat juga , karea
proses anggaran pembangunan bisa berkurang sebagai
akibat dari perbuatan korupsi.
3) Masyarakat kurang menyadari bila dirinya terlibat
korupsi. Setiap perbuatan korupsi pasti melibatkan
anggota masyarakat. Hal ini kurang disadari oleh
masyarakat. Bahkan seringkali masyarakat sudah terbiasa
terlibat pada kegiatan korupsi sehari-hari dengan cara-cara
terbuka namun tidak disdari.
4) Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi akan bisa
dicegah dan diberantas bila masyarakat ikut aktif dalam
agenda pencegahan dan pemberantasan.
B. Aspek ekonomi
Pendapatan tidak mencukupi kebutuhan. Dalam rentang
kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi
terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu membuka ruang
bagi seseorang untuk mengambil jalan pintas diantaranya dengan
melakukan korupsi.
C. Aspek politis
Bahwa kontrol social adalah suatu proses yang dilakukan untuk
mempengaruhi orang-orang agar bertingkah laku sesuai dengan
harapan masyarakat. Kontrol social tersebut dijalankan dengan
menggerakkan berbagi aktivitas yang melibatkan penggunaan
kekuasaan negara sebagai suatu lembaga yang diorganisasikan
secara politik,melalui lembaga lembaga yang dibentukya dengan
demikian instailitas politik, kepentingan politis, meraih dan

5
mempertahankan kekuasaan sangat potensi menyebablkan prilaku
korupsi.
D. Aspek organisasi
1) Kurang adanya sikap keteladanan pimpinan posisi
pemimpin dalam suatu lembaga formal maupun informal
mempunyai pengaruh penting bagi bawahannya.
2) Tidak adanya kultur organisasi yang benar kultur
organisasi biasanya punya pengaruh kuat terhadap
anggotanya. Apabila kultur organisasi tidak dikelola
dengan baik, akan menimbulkan berbagai situasi tidak
kondusif mewarnai kehidupan organisasi.
3) Kurang memadainya system akuntabilitas institusi
pemerintahan umumnya pada satu sisi belum dirumuskan
dengan jlas visi dan misi yang diembannya ,dan belum
dirumuskan tujuan dan sasaran yang harus dicapai dalam
periode tertentu guna mencapai hal tersebut.
4) Kelemahan system pengendalian manajemen merupakan
salah satu syarat bagi tindak pelanggaran korupsi dalam
sebuah organisasi. Semakin longgar/lemah pengendalian
manajemen sebuah organisasi akan semakin terbuka
perbuatan tindak korupsi anggota atau pegawai
didalamnya.
5) Lemahnya pengawasan. Secara umum pengawasan
terbagi menjadi dua, yaitu pengawasan internal
(pengawasan fungsional dan pengawasan langsung oleh
pimpinan) dan pengawasn bersifat eksternal (pengawasan
dari legislative dan masyarakat). Peengawasan ini kurang
bisa efektif karena beberapa faktor, diantaranya adanya
tumpang tindih pengawasan pada berbagai instansi,
kurangnya professional pengawas serta kurangnya

6
kepatuhan pada etika hukum maupun pemerintahan oleh
pengawas sendiri.
2.3 NILAI ANTI KORUPSI
Ada Sembilan nilai anti korupsi yang penting ditanamkan pada semua
individu, kesembilan nilai anti korupsi tersebut diantaranya :
1. Jujur
Jujur didefinisikan sebagai lurus hati, tidak berbohong dan tidak
curang. Jujur adalah salah satu sifat yang sangat penting bagi kehidupan
mahasiswa, tanpa sifat jujur mahasiswa tidak akan percaya dalam
kehidupan sosisalnya. Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi
landassan utama bagi penegakan integritas diri seseorang. Tanpa adanya
kejujursn mustahil seseorang bisa menjadi pribadi pribadi yang
berinegritas. Seseorang dituntut untuk bisa berkata jujur dan transparan
serta tidak berdusta baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Kejujuran juga akan terbawa dalam bekerja sehingga akan membentengi
diri terhadap godaan untuk berbuat curang atau berbohong. Contoh dari
jujur yaitu tidak mencontek, tidak menjiplak/plagiarism, dan tidak
menitip absen.
2. Disiplin
Disiplin adalah ketaatan atau kepatuhan kepada peraturan.
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang, ketekunan dan konsisten
untuk terus mengembangkan potensi diri membuar seseorang akan selalu
mampu memberdayakan dirinya dalam menjalani tugasnya. Kepatuhan
pada prinsip kebaikan dan kebenaran menjadi pegangan utama dalam
bekerja. Seseorang yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai
kedisiplinan tidak akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan
kekayaan dengan cara mudah. Contoh dari disiplin, yaitu mengatur dan
mengelolah waktu untuk menyelesaikan tugas baik dalam lingkup
akademik maupun sosial kampus dan kepatuhan pada seluruh peraturan

7
dan ketentuan yang berlaku di kampus, mengerjakan sesuatunya tepat
waktu, dan fokus pada perkuliahan.
3. Tanggung jawab
Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala
sesuatunya atau kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan dan
diperkarakan. Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan
menyadari bahwa keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk
melakukan perbuatan baik demi kemaslahatan sesame manusia, segala
tindak tanduk dan kegiataan yang dilakukan akan
dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada kepada Tuhan Yang Maha
Esa, masyarakat, negara, dan bangsanya. Dengan kesadaran seperti ini
maka seseorang tidak akan tergelincir dalam perbuatan tercela dan nista.
Contoh dari tanggung jawab yaitu mengikuti semua kegiatan yang telah
dijadwalkan oleh kapus yaitu ikut praktikum laboratorium di kampus; praktik
klinik di rumah sakit, puskesmas dan komunitas; ujian dan mengerjakan semua
tugas in atau out, menyelesaikan tugas pembelajaran dan praktik secara individu
dan kelompok yang diberikan oleh dosen dengan baik dan tepat waktu.
4. Adil
Adil adalah sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak.
Keadilan adalah penilaian dengan memberikan kepada siapapun sesuai
dengan apa yang menjadi haknya, yakni dengan bertindak proporsional
dan tidak melanggar hukum. Prinadi dengan karakter yang baik akan
menyadari bahwa apa yang dia terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia
tidak akan menuntut untuk mendapatkan lebih dari apa yang ia sudah
upayakan. Jika ia seorang pimpinan, ia akan memberikan kompenssasi
yang adil kepada bawaannya sesuai dengan kinerjanya, ia juga ingin
mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi masyrakat dan bangsanya.
Contohnya adalah memberiakan kompensasi yang adil kepada
bawahannya sesuai dengan kinerjanya dan memberikan pelayanan

8
perawatan yang sama kepada semua klian (tidak membedakan status
sosial, agama, ras/suku, bangsa, dll).
5. Berani
Seorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian
untuk menyatakan kebenaran, berani mengaku kesalahan, berani
bertanggung jawab, dan berani menolak kebatilan. Ia tidak akan
menoleransi adanya penyimpangan dan berani menyatakan penyangkalan
secara tegas. Ia juga berani berdiri sendirian dalam kebemaran walaupun
semua kolega dan teman sejawatnya melakukan perbuatan yang
menyimpang dari hal yang semestinya. Ia tidak takut dimusiho dan tidak
takt tidak memilki teman ternyata mereka mengajak kepada hal hal yang
menyimpang. Keberanian sangat diperlkan untuk mencapai kesuksesan,
serta keberanian akan semakin matang jika diiringi dengan keyainan serta
kerta keyakinan akan semakin kuat jika pengetahuanna juga kuat. Contoh
dari berani yaitu berani mengemukakan pendapat secara
bertanggungjawab ketikak berdiskusi atau berani maju ke depan untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan, melaporkan temannya yang
membuat tugat atau makalah dengan cara copy paste dari sumber lain
tanpa memperhatikan kaidah penulisan ilmiah atau meyadur dari makalah
yang sudah jadi ( yang dibuat sendiri maupun orang lain), melaporkan
jika dirinya sendiri atau teman mengalami intimidasi atau kekerasan dari
teman atau orang lain, mengakui kesalahan yang dilakukan dan
bertanggungjawab untuk memperbaiki kesalahan serta berjanji tidak
mengulangi kesalahan yang sama.
6. Peduli
Peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan menghiraukan
Kepedulian social kepada sesama menjadikan seseorang memiliki sifat
kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa social tinggi akan
memperhatikan lingkungan sekelilingnya dimana masih terdapat banyak
orang yang tidak mampu, menderita, dan membutuhan uluran tangan.

9
Pribadi dengan jiwa social tidak akan tergoda untuk memperkaya diri
sendiri dengan cara tidak benar, tetapi ia malah berupaya untuk
menyisihkan sebagian penghasilnya untuk membantu sesama. Contoh
dari peduli yaitu jika ada teman atau orang lain yang tertimpa musibah,
mahasiswa dengan suka rela dengan mengumpulkan bantuan dana dan
barang, atau mungkin memantau dengan tenaga langsung sesuai
kebutuhan yang terkena musibah.
7. Kerja keras
Bekerja keras didasari dengan adanya kemauan. Kemauan
menimbulkan asosiasi dengan keteladan, ketekunan, daya tahan, daya
kerja, pendirian, pengendalian diri, keberanian, ketabahan, ketegujan, dan
pantang mundur. Perbedaan nyata akan jelas terlihat antara seorang yang
mempunyai etor kerja dengan yang tidak memilikinya, indivodu beretos
kerja akan selalu berupaya meningkatkan kualitas hasil kerjanya demi
terwujudnya kemanfaaan public yang sebesar-besarnya. Ia mencurahkan
daya piker dan kemampuannya untuk melaksanakan tugas dan berkarya
dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan mau memperoleh sesuatu tanpa
mengeluarkan keringat. Bekerja keras merupakan hasil yang sesuai
dengan target. Contohnya belajar dengan sungguh-sungguh untuk meraih
cita-cita, tidak mudah putus asa dalam mengerjakan tugas yang diberikan
dosen, tidak tergantung kepada orang lain didalam mengerjakan tugas-
tugas kampus, rajin megikuti kegiatan ekstra kulikuler untuk
meningkatkan prestasi diri, tidak membuang waktu untuk melakukan
sesuatu yang tidak berguna.
8. Kesederhanaan
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang
menyadari kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya dengan
semestinya tanpa berlebih-lebihan. Dengan gaya hidup sederhana,
seseorang dibiasakan untuk tidak hidup boros yang tidak sesuai dengan
kemampuannya. Selain itu seseorang yang bergaya hidup sederhana juga

10
akan memprioritaskan kebutuhan diatas keinginannya dan tidak tergoda
untuk hidup dengan gemilang kemewahan. Contohnya berpakaian yang
sopan dan sesuai aturan yang di tetapkan, merasa cukup dengan apa yang
ada, bukan lantaran pasrah, melainkan telah berusaha menyempurkana
usaha, tidak sombong atau menonjolkan diri dalam pergaulan (dalam arti
negatif), sekalipun ia mempunyai kelebihan atau kemampuan,
menyelaraskan antara kebutuhan atau keinginan dengan kemampuan
secara realitas dan proporsional.
9. Mandiri
Mandiri berarti dapat berdiri di atas kaki sendiri, artinya tidak
banyak bergantung kepada orang lain dalam berbagai hal. Kemandirian
dianggap sebagai suatu hal yang penting dan harus dimiiliki oleh seorang
pemimpin, karena tanpa kemandirian seseorang yang tidak akan mampu
memimpin orang lain. Kemandirian seseorang untuk menjadi tidak
tergantng terlalu banyak pada orang lain. Contohnya dapat menentukan
keputusan dan berpikir pijak dalam keadaan terdesak, tidak terlalu banyak
bergantung kepada bantuan orang lain, mengerjakan soal ujian secara
mandiri, mengerjakan tugas-tugas akademik secara mandiri.

2.4 PRINSIP ANTI KORUPSI


Setelah memahami nilai-nilai anti korupsi yang penting untuk mencegah
faktor internal terjadinya korupsi, berikut akan dibahas prinsip-prinsip Anti-
korupsi yang meliputi akuntabilitas, transparansi, kewajaran, kebijakan, dan
kontrol kebijakan, untuk mencegah faktor eksternal penyebab korupsi.

 Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kesesuaian antara aturan dan pelaksanaan kerja.
Semua lembaga mempertanggung jawabkan kinerjanya sesuai aturan
main baik dalam bentuk konvensi (de facto) maupun konstitusi (de jure),
baik pada level budaya (individu dengan individu) maupun pada level

11
lembaga. Lembaga-lembaga tersebut berperan dalam sektor bisnis,
masyarakat, publik, maupun interaksi antara ketiga sektor.
Akuntabilitas publik secara tradisional dipahami sebagai alat yang
digunakan untuk mengawasi dan mengarahkan perilaku administrasi
dengan cara memberikan kewajiban untuk dapat memberikan
jawaban (answerability) kepada sejumlah otoritas eksternal. Selain itu
akuntabilitas publik dalam arti yang paling fundamental merujuk kepada
kemampuan menjawab kepada seseorang terkait dengan kinerja yang
diharapkan. Seseorang yang diberikan jawaban ini haruslah seseorang
yang memiliki legitimasi untuk melakukan pengawasan dan
mengharapkan kinerja. Akuntabilitas publik memiliki pola-pola tertentu
dalam mekanismenya, antara lain adalah akuntabilitas program,
akuntabilitas proses, akuntabilitas keuangan, akuntabilitas outcome,
akuntabilitas hukum, dan akuntabilitas politik. Dalam pelaksanaannya,
akuntabilitas harus dapat diukur dan dipertanggungjawabkan melalui
mekanisme pelaporan dan pertanggungjawaban atas semua kegiatan yang
dilakukan. Evaluasi atas kinerja administrasi, proses pelaksanaan,
dampak dan manfaat yang diperoleh masyarakat baik secara langsung
maupun manfaat jangka panjang dari sebuah kegiatan.
 Transparansi
Salah satu prinsip penting anti korupsi lainnya adalah transparansi.
Prinsip transparansi ini penting karena pemberantasan korupsi dimulai
dari transparansi dan mengharuskan semua proses kebijakan dilakukan
secara terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan dapat diketahui
oleh publik. Selain itu transparansi menjadi pintu masuk sekaligus kontrol
bagi seluruh proses dinamika struktural kelembagaan. Dalam bentuk
yang paling sederhana, transparansi mengacu pada keterbukaan dan
kejujuran untuk saling menjunjung tinggi kepercayaan (trust) karena
kepercayaan, keterbukaan, dan kejujuran ini merupakan modal awal yang

12
sangat berharga bagi para mahasiswa untuk dapat melanjutkan tugas dan
tanggungjawabnya pada masa kini dan masa mendatang.
Dalam prosesnya, transparansi dibagi menjadi lima yaitu proses
penganggaran, proses penyusunan kegiatan, proses pembahasan, proses
pengawasan, dan proses evaluasi. Proses penganggaran bersifat bottom
up, mulai dari perencanaan, implementasi, laporan pertanggungjawaban
dan penilaian (evaluasi) terhadap kinerja anggaran. Di dalam proses
penyusunan kegiatan atau proyek pembangunan terkait dengan proses
pembahasan tentang sumber-sumber pendanaan (anggaran pendapatan)
dan alokasi anggaran (anggaran belanja).
Proses pembahasan membahas tentang pembuatan rancangan peraturan
yang berkaitan dengan strategi penggalangan (pemungutan) dana,
mekanisme pengelolaan proyek mulai dari pelaksanaan tender,
pengerjaan teknis, pelaporan finansial dan pertanggungjawaban secara
teknis. Proses pengawasan dalam pelaksanaan program dan proyek
pembangunan berkaitan dengan kepentingan publik dan yang lebih
khusus lagi adalah proyek-proyek yang diusulkan oleh masyarakat
sendiri. Proses lainnya yang penting adalah proses evaluasi. Proses
evaluasi ini berlaku terhadap penyelenggaraan proyek dijalankan secara
terbuka dan bukan hanya pertanggungjawaban secara administratif, tapi
juga secara teknis dan fisik dari setiap out put kerja-kerja pembangunan.
 Kewajaran
Prinsip anti korupsi lainnya adalah prinsip kewajaran. Prinsip fairness
atau kewajaran ini ditujukan untuk mencegah terjadinya manipulasi
(ketidakwajaran) dalam penganggaran, baik dalam bentuk mark
up maupun ketidakwajaran lainnya. Sifat-sifat prinsip kewajaran ini
terdiri dari lima hal penting yaitu komprehensif dan disiplin, fleksibilitas,
terprediksi, kejujuran, dan informatif.
Komprehensif dan disiplin berarti mempertimbangkan keseluruhan
aspek, berkesinambungan, taat asas, prinsip pembebanan, pengeluaran

13
dan tidak melampaui batas (off budget), sedangkan fleksibilitas artinya
adalah adanya kebijakan tertentu untuk mencapai efisiensi dan efektifitas.
Terprediksi berarti adanya ketetapan dalam perencanaan atas dasar asas
value for money untuk menghindari defisit dalam tahun anggaran
berjalan. Anggaran yang terprediksi merupakan cerminan dari adanya
prinsip fairness di dalam proses perencanaan pembangunan. Selain itu,
sifat penting lainnya adalah kejujuran. Kejujuran tersebut mengandung
arti tidak adanya bias perkiraan penerimaan maupun pengeluaran yang
disengaja, yang berasal dari pertimbangan teknis maupun politis.
Kejujuran merupakan bagian pokok dari prinsip fairness. Sifat yang
terakhir dalam prinsip kewajaran adalah informatif. Tujuan dari sifat ini
adalah dapat tercapainya sistem informasi pelaporan yang teratur dan
informatif. Sifat informatif ini dijadikan sebagai dasar penilaian kinerja,
kejujuran dan proses pengambilan keputusan selain itu sifat ini
merupakan ciri khas dari kejujuran. Dalam penerapannya pada
mahasiswa, prinsip ini dapat dijadikan rambu-rambu agar dapat bersikap
lebih waspada dalam mengatur beberapa aspek kehidupan mahasiswa
seperti penganggaran, perkuliahan, sistem belajar maupun dalam
organisasi. Selain itu, setelah pembahasan ini, mahasiswa juga
diharapkan memiliki kualitas moral yang lebih baik dimana kejujuran
merupakan bagian pokok dalam prinsip ini.
 Kebijakan
Prinsip anti korupsi yang keempat adalah prinsip kebijakan. Pembahasan
mengenai prinsip ini ditujukan agar mahasiswa dapat mengetahui dan
memahami kebijakan anti korupsi. Kebijakan ini berperan untuk
mengatur tata interaksi agar tidak terjadi penyimpangan yang dapat
merugikan negara dan masyarakat. Kebijakan anti korupsi ini tidak selalu
identik dengan undang-undang anti-korupsi, namun bisa berupa undang-
undang kebebasan mengakses informasi, undang-undang desentralisasi,
undang-undang anti-monopoli, maupun lainnya yang dapat memudahkan

14
masyarakat mengetahui sekaligus mengontrol terhadap kinerja dan
penggunaan anggaran negara oleh para pejabat negara. Aspek-aspek
kebijakan terdiri dari isi kebijakan, pembuat kebijakan, pelaksana
kebijakan, kultur kebijakan. Kebijakan anti-korupsi akan efektif apabila
di dalamnya terkandung unsur-unsur yang terkait dengan persoalan
korupsi dan kualitas dari isi kebijakan tergantung pada kualitas dan
integritas pembuatnya. Kebijakan yang telah dibuat dapat berfungsi
apabila didukung oleh aktor-aktor penegak kebijakan yaitu kepolisian,
kejaksaan, pengadilan, pengacara, dan lembaga pemasyarakatan.
Eksistensi sebuah kebijakan tersebut terkait dengan nilai-nilai,
pemahaman, sikap, persepsi, dan kesadaran masyarakat terhadap hukum
atau undang-undang anti korupsi. Lebih jauh lagi, kultur kebijakan ini
akan menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemberantasan
korupsi.
 Kontrol Kebijakan
Prinsip terakhir anti korupsi adalah kontrol kebijakan. Kontrol kebijakan
merupakan upaya agar kebijakan yang dibuat betul-betul efektif dan
mengeliminasi semua bentuk korupsi. Pada prinsip ini, akan dibahas
mengenai lembaga-lembaga pengawasan di Indonesia, self-evaluating
organization, reformasi sistem pengawasan di Indonesia, problematika
pengawasan di Indonesia. Bentuk kontrol kebijakan berupa partisipasi,
evolusi dan reformasi. Kontrol kebijakan berupa partisipasi yaitu
melakukan kontrol terhadap kebijakan dengan ikut serta dalam
penyusunan dan pelaksanaannya dan kontrol kebijakan berupa oposisi
yaitu mengontrol dengan menawarkan alternatif kebijakan baru yang
dianggap lebih layak. Sedangkan kontrol kebijakan berupa revolusi yaitu
mengontrol dengan mengganti kebijakan yang dianggap tidak sesuai.
Setelah memahami prinsip yang terakhir ini, mahasiswa kemudian
diarahkan agar dapat berperan aktif dalam melakukan tindakan kontrol
kebijakan baik berupa partisipasi, evolusi maupun reformasi pada

15
kebijakan-kebijakan kehidupan mahasiswa dimana peran mahasiswa
adalah sebagai individu dan juga sebagai bagian dari masyarakat,
organisasi, maupun institusi.

BAB III
PENUTUP

3.1 SIMPULAN
Korupsi disebabkan oleh adanya dua faktor, yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal merupakan penyebab korupsi dari faktor
individu, sedangkan faktor eksternal berasal dari lingkunga atau system. Upaya
pencegahan korupsi pada dasarnya dapat dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan faktor penyebab korupsi. Nilai nilai anti korupsi yang meliputi
kejujuran, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, keras, sederhana,
keberanian, dan keadilan, harus dimiliki oleh tiap tiap individu untuk
menghindari munculnya faktor internal sehingga korupsi tidak terjadi. Sementara

16
itu, untuk mencegah faktior eksternal penyebab korupsi, selain harus memiliki
nilai-nilai antikorupsi, setiap individu juga harus memahami dengan mendalam
prinsip-prinsip antikorupsi yang meliputi akuntabilitas, transparansi, kewajaran,
kebijakan dan control kebijakan dalam organisasi atau individu atau masyarakat,
3.2 SARAN
Semoga pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami
selaku penulis memohon adanya kritik dan saran yang membangu demi
kesempunaan makalah ini. Dengan mempelajari nilai dan prinsip anti korupsi
setiap individu diharapkan memahami dengan mendalam nilai dan prinsip anti
korupsi.

17