Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

Disusun Oleh :
1. Bela Ariska CKR0170005
2. Dea Awalia. S CKR0170010
3. Fida Farida CKR0170014
4. Garin Nugroho CKR0170015
5. Iin Indriani CKR0170018
6. Inda Indriani CKR0170021
7. Jihan Rintan. A CKR0170024
8. Khaerul Ikbal CKR0170025
9. Lena Meldiana CKR0170027
10. Milasari Dewi CKR0170030
11. Mitha Destiana. P CKR0170031
12. N.S Anggie F. L CKR0170032
13. Ovi Noviyanti CKR0170035
14. Reka Devi CKR0170039
15. Resa Noviani CKR0170041
16. Reswinadayanti CKR0170042
17. Teguh Subagja CKR0170052

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN

2020
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Masalah Utama
Gangguan sensori persepsi : Halusinasi
B. Definisi
Halusinasi adalah gejala gangguan jiwa berupa respons panca indra, yaitu penglihatan,
pendengaran, penciuman, perabaan dan pengecapan terhadap sumber yang tidak nyata (Keliat
dkk, 2017).
Halusinasi adalah gangguan persepsi panca indra tanpa adanya rangsangan dari luar yang
terjadi pada sistem penginderaan dimana pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik.
(Nasution, 2003).
Halusinasi adalah individu menginterprestasikan stressor yang tidak ada stimulus dari
lingkungan. (Depkes RI, 2000).
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera (Isaacs, 2002).
C. Klasifikasi Halusinasi
Menurut Rasmun 2001, pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan
karakteristik tertentu, diantaranya :
a. Halusinasi pendengaran : karakteristik ditandai dengan mendengar suara manusia, hewan,
mesin, barang atau musik
b. Halusinasi penglihatan : karakteristik ditandai dengan melihat bendayang tak berbentuk,
berbentuk, baik berwarna ataupun tidak.
c. Halusinasi penciuman : karakteristik ditandai dengan mencium bau sesuatu seperti adanya
bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses dan kadang –
kadang tercium bau harum.
d. Halusinasi perabaan : karakteristik ditandai dengan terasa di raba, di sentuh atau di tiup.
e. Halusinasi pengecapan : karakteristik ditandai dengan sebuah persepsi yang salah
mengenai rasa.
D. Tanda dan Gejala

Jenis Halusinasi Data Objektif Data Subjeltif


Halusinasi Pendengaran a. Berbicara atau tertawa sendiri a. Mendengarkan
b. Marah-marah tanpa sebab suara/kegaduhan
c. Mendekatkan telinga ke arah b. Mendengar suara yang
suara mengajak bercakap-cakap
d. Menutup telinga c. Mendengar suara yang
menyuruh melakukan
sesuatu yang berbahaya
Halusinasi Penglihatan a. Menunjuk-nunjuk ke arah a. Melihat bayangan, sinar
sesuatu b. Melihat hantu atau monster
b. Ketakutan pada sesuatu yang
tidak jelas
Halusinasi Penciuman a. Mengendus-ngendus seperti a. Membau-baui seperti bau
sedang membau-bauan darah, urin, feses, atau
tertentu kadang bau tersebut
b. Menutup hidung menyenangkan bagi klien
Halusinasi Pengecapan a. Sering meludah a. Merasakan rasa seperti
b. Muntah darah, urin, atau feses
Halusinasi Perabaan a. Menggaruk-garuk permukaan a. Mengatakan ada serangga di
kulit permukaan kulit, merasa
seperti tersengat listrik.
Sumber : (Stuart & Sundeen, 1998).

E. Etiologi Halusinasi
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang
dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari klien maupun
keluarganya. Faktor predisposisi dapat meliputi faktor perkembangan, sosiokultural, biokimia,
psikologis, dan genetik ( Yosep, 2010).
1) Faktor Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami penghambatan dan hubungan interpersonal
terganggu maka individu akan mengalami stress dan kecemasan.
2) Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seseorang merasa disingkirkan
sehingga ruang tersebut merasa kesepian di lingkungan yang membesarkannya.
3) Faktor Biokimia
Mempengaruhi pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa seseorang mengalami
stress yang berlebihan maka di dalam tubuhnya akan di hasilkan zat yang bersifat
halusinogenik neurokimia seperti buffefenon dan dimethytranierase.
4) Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda bertentangan
yang sering diterima oleh seseorang akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang
tinggi dan berakhir pada gangguan orientasi realitas.
5) Faktor Genetik
Gen yang berpengaruh dalam hal ini belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukan
bahwa faktor keluarga menunjukan hub yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
b. Faktor Presipitasi
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, penasaran, tidak aman,
gelisah, bingung, dan lainnya. Menurut Rawins dan Heacock 1993, halusinasi dapat dilihat
dari lima dimensi, yaitu :
1) Dimensi Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar
biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan
kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.
2) Dimensi Emosional
Perasaan cemat yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi
meryupakan penyebab halusinasi.
3) Dimensi Sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase awal dan comforting. Klien
menganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam nyata sangat membahayakan.
4) Dimensi Spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kemampuan hidup, rutinitas tidak
bermakna, hilangnya aktivitas ibadah, dan jarang berupaya secara spiritual untuk
menyesuaikan diri.
5) Dimensi Intelektual
Halusinasi merupakan usaha dari ego untuk melawan impuls yang menekan merupakan
suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian
klien.

F. Rentang Respon

Adaptif Maladaptif

Respon Adaptif Distorsi Pikiran Gejala Pikiran


- Respon logis - Distorsi pikiran - Delusi halusinasi
- Persepsi akurat - Perilaku aneh/tidak - Perilaku disorganisasi
- Perilaku sesuai sesuai - Sulit berespon dengan
- Emosi sosial - Menarik diri pengalaman
- Emosi berlebih
G. Proses Terjadinya Masalah
Comforting

Condeming
Self Disorder

Conquering Controlling

H. Pohon Masalah
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan (Akibat)

Perubahan Sensori Persepsi : Halusinasi (Masalah Utama)

Isolasi sosial : Menarik Diri (Penyebab)


I. Masalah Keparawatan
1. Resiko tinggi perilaku kekerasan
2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi
3. Isolasi sosial
4. Harga diri rendah
J. Analisa Data
Masalah Keperawatan Data yang perlu di kaji
Perubahan persepsi sensori : halusinasi Data Subjektif :
 Klien mengatakan mendengar sesuatu
 Klien mengatakan melihat bayangan
 Klien mengatakan dirinya seperti disengat
listrik
 Klien mengatakan mencium bau-bauan
 Klien mengatakan kepalanya melayang di
udara
 Klien mengatakan dirinya ada sesuatu yang
beda
Data Objektif :
 Klien terlihat bicara/tertawa sendiri saat dikaji
 Klien seperti mendengar sendiri
 Berhenti bicara ditengah kalimat untuk
mendengarkan sesuatu
 Disorientasi
 Konsentrasi rendah
 Pikiran cepat berubah-berubah
 Kekacauan alur fikir
K. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
L. Rencana Tindakan Keperawatan
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan
Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

Gangguan persepsi Pasien mampu : Setelah...pertemuan klien SP 1


sensori : halusinasi
 Mengenali dapat menyebutkan : 1. Bantu pasien mengenal
halusinasi yang  Isi, waktu, frekuensi, halusinasi :
dialaminya situasi pencetus,  Isi
 Mengontrol perasaan.  Jenis
halusinasinya  Mampu  Frekuensi
 Mengikuti memperagakan cara  Waktu terjadinya
program dalam mengontrol  Situasi pencetus
pengobatan halusinasi  Perasaan saat terjadi
secara optimal halusinasi.
2. Latih cara mengontrol
halusinasi dengan cara
menghardik. Tahapan
tindakannya meliputi :
 Jelaskan cara
menghardik
halusinasi
 Peragakan cara
menghardik
 Minta pasien
memperagakan ulang
 Pantau penerapan
cara ini, beri
penguatan perilaku
pasien
 Masukan dalam
jadwal kegiatan
pasien.
Setelah............pertemuan SP 2
pasien mampu : 1. Evaluasi kegiatan yang
 Menyebutkan lalu ( SP 1)
kegiatan yang sudah 2. Latihan berbicara/
dilakukan bercakap-cakap dengan
 Memperagakan cara orang lain saat
bercakap-cakap halusinasi muncul
dengan orang lain. 3. Masukan dalam jadwal
kegiatan pasien.
Setelah............pertemuan SP 3
pasien mampu : 1. Evaluasikegiatan yang
 Menyebutkan lalu ( SP 1 & 2)
kegiatan yang sudah 2. Latih kegiatan agar
dilakukan. halusinasi tidak muncul.
 Membuat jadwal Tahapannya :
kegiatan sehari-hari  Jelaskan
dan mampu pentingnya aktivitas
memperagakannya. yang teratur untuk
mengatasi
halusinasi.
 Diskusikan aktivitas
yang biasa
dilakukan oleh
pasien.
 Latih pasien
melakukan aktivitas
 Susun jadwal
aktivitas sehari-hari
sesuai dengan
aktivitas yang telah
dilatih ( dari bangun
pagi sampai tidur
malam)
3. Pantau pelaksanaan
jadwal kegiatan. Berikan
penguatan terhadap
perilaku pasien yang (-)
Setelah............pertemuan SP 4
pasien mampu : 1. Evaluasi kegiatan yang
 Menyebutkan lalu ( SP 1, 2 & 3)
kegiatan yang sudah 2. Tanyakan program
dilakukan. kegiatan
 Menyebutkan 3. Jelaskan pentingnya
manfaat dari pengguanaan obat pada
program gangguan jiwa.
pengobatan. 4. Jelaskan akibat bila
tidak digunakan sesuai
program.
5. Jelaskan akibat bila
putus obat.
6. Jelaskan cara
mendapatkan
obat/berobat.
7. Jelaskan pengobatan 6
benar
8. Latih pasien minum obat
9. Masukan dalam jadwal
harian pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Achir Yani. 2000. Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan
Keperawatan. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Keliat, Budi Anna. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Isaacs, Ann. 2005. Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri Edisi 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Stuart, GW, Sundeen, JS. 1998. Keperawatan Jiwa, alih bahasa : Achir Yani Edisi III. Jakarta : EGC.
Iyus, Yosep. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung : Refia Aditama.