Anda di halaman 1dari 4

2020

Exercise is Culture
“The World Confederation for Physical Therapy (WCPT) believes
that with growing numbers of people leading increasingly sedentary
lifestyles and that physical inactivity is one of the leading risk
factors for non-communicable diseases leading to morbidity,
disability and mortality, it is imperative that effective strategies for
exercise across the lifespan are implemented. As experts in
movement and exercise and with a thorough knowledge of risk
factors and pathology and their effects on all systems, physical
therapists are the ideal professionals to promote, guide, prescribe
and manage exercise activities and efforts” ________

2020 : Gerak adalah Kebudayaan


Konfederasi Fisioterapi Dunia (WCPT) meyakini bahwa makin besar jumlah
manusia bergaya hidup sedentary dan kurang bergerak merupakan faktor
resiko utama munculnya penyakit kronis yang menyababkan kesakitan,

Jl Srengseng Raya 8E, kecacatan dan kematian. Pada kondisi seperti ini, sesungguhnya excecise
Kembangan, Jakarta Barat,
adalah strategi yang paling efektif untuk dilakukan sepanjang daur
Indonesia
kehidupan.

021-5847248
Sebagai profesi yang ahli dalam ilmu gerak dan latihan dengan seluruh
pengetahuannya yang mendalam tentang faktor resiko, patologi dan
pp-ifi@yahoo.co.id pengearuhnya terhadap seluruh sistem, fisioterapis adalah profesi yang
paling ideal untuk mempromosikan, mengarahkan dan meresepkan serta
mengelola upaya dan kegiatan latihan.
https://ifi.or.id

1
Selamat pagi dan selamat tahun baru 2020 sejawat fisioterapis di
seluruh Indonesia !

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Ilahi Robbi, karena berkat rahmat-
Nya kita semua berhasil melewati tahun 2019 dengan baik dan selamat.
Teriring doa semoga di tahun 2020 ini profesi kita semakin baik dalam
berkontribusi kepada masyarakat luas. Tetap bergerak, bermanfaat
dan bermartabat.

Di tahun 2019 lalu kita membangun semangat kita dengan


mengusung tema Pilih Fisioterapi, semangat ini tetap akan kita
teruskan di tahun ini sebagai ekspresi kita bahwa kita adalah profesi
yang paling layak untuk dipilih dalam rangka pencegahan penyakit
kronis (non communicable disease). Pilih Fisioterapi juga merupakan
kesiapan fisioterapi yang selalu bekerja berbasis bukti untuk menjadi
bagian dari tim kesehatan kolaboratif.

Tahun ini tag line Pilih Fisioterapi kita perkuat dengan menambah
Gerak adalah Budaya / Exercise is Culture. Kenapa frase ini kita pilih?
Seperti dalam pembukaan tulisan ini, bahwa sesungguhnya profesi
fisioterapi adalah profesi yang paling ideal disebut sebagai movement
expert. Fisioterapilah - baik di dalam kurikulum maupun di dalam
praxisnya mempelajari gerak sebagai fenomena paling esensial dalam
kehidupan. Gerak yang dilihat oleh seorang fisioterapis berjenjang,
dari gerak pada level yang paling kecil yaitu gerak biologi (molekuler)
hingga gerak pada level individu dalam komunitas sosiologis. Gerak
bagi fisioterapis tidak saja dilihat sebagai hasil dari dari keinginan akan
tetapi juga dilihat dari fungsi gerak itu bagi kelestarian kehidupan.

Dalam beberapa tahun terahir kita banyak menemukan para peneliti


fisioterapi dan peneliti ilmu kesehatan yang mengkaji gerak / exercise /

2
latihan dengan berbagai variasinya dan pengaruhnya bagi kesehatan.
Maka, kita bisa temukan berbagai forum baik di dalam negeri maupun
dunia internasional dengan topik “exercise is medicine”. Minimal ada
dua penemuan mendasar untuk membangun argumentasi ini :

Pertama, otot adalah organ indocrine yang apabila dia berkontraksi


maka akan menghasilkan hormone yang disebut myokine dalam
sebuah orchestra biokimia di dalam sel tubuh dengan membangun
sebuah endocrine cellular communication. Setiap kontraksi otot akan
merangsang munculnya zat anti inflamasi sebagai bagian dari
tersekresinya interleukin. Dari fakta ini kita menyimpulkan bahwa
exercise / gerak adalah anti peradangan. Kedua, riset membuktikan
bahwa sel tubuh kita sangat peka (memiliki reseptor) terhadap
rangsang mekanik (mechano receptor). Setiap rangsang mekanik
seminimal apapun akan ditangkap oleh sel sebagai stimulant dan
rangsang mekanik itu kemudian dirubah bentuk menjadi mechano
transduction yang akan mempengaruhi gene expression. Melalui
mekanisme inilah setiap gerak tubuh memiliki manfaat yang
fundamental bagi kehidupan.

Alasan lain kenapa kita membuat frase Gerak adalah Budaya adalah
sesungguhnya core dari seluruh modalitas yang digunakan oleh
fisioterapi dalam menangani kondisi kesehatan apapun adalah
exercise therapy. Peresepan, pelatihan dan pengawasan suatu exercise
yang dilakukan oleh seorang fisioterapis menjadi sangat penting bagi
kesembuhan pasien. Fisioterapi adalah ahli gerak. Exercise adalah
nafas bagi Fisioterpis. Exercise bukan saja modalitas intervensi akan
tetapi exercise juga adalah strategi assessment. Fisioterapi tanpa
exercise maka akan mati! Maka mulai tahun ini mari kita canangkan
budaya exercise kembali dalam dunia keseharian fisioterapis. Dalam

3
frase “exercise is culture“ seorang fisioterapis tidak saja mengajak
masyarkat untuk kembali bergerak, akan tetapi juga membawa
budaya klinis kedalam praktik fisioterapi dengan menerapkan exercise
dengan benar.

Exercise juga merupakan jawaban dari kerisauan akan kepunahan


profesi fisioterapi ditengah berkembang pesatnya teknologi
kesehatan dan bertumbuhnya berbagai profesi kesehatan di
Indonesia. Exercise merupakan daya survive bagi fisioterapis.

Dengan dicanangkannya “Exercise is Culture / Latihan adalah Budaya”


maka akan kita teguhkan kembali bahwa ‘gerak’ dan ‘latihan’ adalah
inti dari pelayanan fisioterapi di tahun 2020 ini.

Gerak adalah bukti hidup, seluruh ekspresi spiritual manusia dalam


memuji kebesaran Tuhan adalah melalui gerak. Demensi gerak pada
anak anak itu diwujudkan dalam gerak dinamis permainan yang
menimbulkan keceriaan, rasa percaya diri dan memahami sesama.
Demensi gerak pada manusia dewasa adalah melalui olah tubuh,
gerak tari baik yang menghentak atau yang lemah gemulai yang tidak
saja merekatkan pergaulan akan tetapi juga expresi cinta dan
keluhuran. Sesungguhnya gerak ibadah, gerak hidup dan gerak
kematian hanyalah karena Tuhan alam semesta. Gerak adalah sehat,
gerak adalah sepiritual gerak adalah budaya.

Depok, 1 Januari 2020

M Ali Imron, SMPh, S.Sos, M.Fis


Ketua Umum Ikatan Fisioterapi Indonesia