Anda di halaman 1dari 4

Sosialisasi Pencegahan Demam Berdarah Dengue Di Desa

Pandanmulyo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang


Mahfirani Ayuningrum
Fakultas Kedokteran dan Ilmu – Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
maghfirania@gmail.com

Abstrak
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) termasuk salah satu penyakit endemik
yang perlu di waspadai karena dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini termasuk salah
satu penyakit menular yang sebagian besar penderitanya anak-anak, namun tidak menutup
kemungkinan orang dewasa dapat terjangkit penyakit ini. Demam Berdarah disebabkan
karena virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus. Untuk mengetahui apakah seseorang terjangkit penyakit ini, harus melalui
pemeriksaan dokter dan juga laboraturium. Biasanya seorang yang terjangkit DBD
memiliki gejala seperti demam dan timbul ruam merah pada kulit.
Daerah pedesaan merupakan salah satu daerah yang berpotensi sebagai tempat
penyebaran DBD, salah satunya di Desa Pandanmulyo Kecamatan Tajinan. Oleh karena
itu, pencegahan DBD diperlukan untuk mencegah penyakit ini agar tidak berkembang luas
di masyarakat dan dapat menyebabkan wabah. Salah satu metode pendekatan yang dapat
dilakukan adalah penyuluhan atau sosialisasi DBD pada masyarakat sekitar. Penyuluhan ini
bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada masyarakat awam mengenai bahaya dan
pentingnya pencegahan DBD.

Kata Kunci: DBD; Pencegahan; Dengue; Nyamuk Aedes


Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di
dunia. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak wabah maupun penyakit
yang menyerang penduduknya. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai
adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini termasuk penyakit
endemik yang menular dan dapat menyebabkan kematian. Kasus DBD
banyak terjadi pada saat musim hujan. Hal ini dikarenakan salah satu
penyebab utama dari DBD adalah kurangnya menjaga kebersihan
lingkungan. Menurut warga Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan kasus
DBD pernah terjadi di desa tersebut dan bahkan telah menjadi Wabah. Hingga
saat ini terdapat 20 provinsi di Indonesia yang melaporkan kasus difteri. 1
Wabah ini kemungkinan masih akan terus merambah mengingat musim
pancaroba sedang terjadi di Indonesia. Semakin maraknya wabah ini,
membuat dinas kesehatan dan berbagai pelayanan kesehatan bergerak
1
Supriadin, Jayadi. Waspada, Wabah Difteri Belum Belum Berlalu.
http://regional.liputan6.com/read/3197671/waspada-wabah-difteri-belum-berlalu
cepat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan cek kesehatan
kepada warga sekitar dan juga anak-anak di sekolahan
Pengobatan difteri dapat dilakukan dengan perawatan intensif dan juga
vaksinisasi. Selain tiu, madu juga dapat digunakan untuk mencegah
sekaligus meminimalisirkan penyakit ini. Madu terbukti mengandung bahan
anti bakteri yang dapat menghambat serta membunuh pertumbuhan bakteri
di dalam tubuh.2 Karena difteri merupakan suatu penyakit akibat infeksi
bakteri, maka madu dapat meminimalisir pertumbuhan bakteri tersebut.
Oleh karena itu, artikel ini dibuat untuk menjelaskan secara rinci
menggenai pengobatan difteri dengan terapi madu. Di dalam artikel berisi
penjelasan mengenai penyakit difteri serta bagaimana cara melakukan
terapi madu untuk mengatasinya.

Hasil dan Pembahasan


Penyakit Difteri
Difteri adalah salah satu penyakit infeksi akut yang sangat menular dan disebabkan oleh
Corynebacterium diptheriae dengan ditandai oleh pembentukan pseudomembran pada kulit atau
mukosa.3 Infeksi ini biasanya terjadi pada faring, laring, hidung, telinga dan dapat juga pada
kulit. Infeksi ini dapat menyebabkan gejala-gejala seperti batuk, pilek, demam, radang
tenggorokan dan bullneck yaitu oembesaran kelenjar pada bagian leher.
Di Indonesia, difteri banyak terdapat di daerah-daerah berpenduduk padat dengan angka
kematian yang cukup tinggi.4 Saat ini kasus difteri sedang marak terjadi dan bahkan menelan
korban jiwa. Setidaknya 20 provinsi di Indonesia telah melaporkan kasus ini kepada dinas
kesehatan.
Difteri termasuk dalam salah satu penyakit menular. Penyakit ini dapat menular melalui
percikan ludah penderita saat bersin maupun batuk, sentuhan langsung pada luka akibat difteri
pada kulit penderita ataupun pada barang- barang yang telah terkontaminasi bakteri seperti
handuk. Oleh karena itu, kebersihan harus selalu diperhatikan agar bakteri difteri tidak masuk ke
dalam tubuh.
Bakteri difteri yang masuk ke dalam tubuh akan menghasilkan toksin yang membuat sel-
sel sehat dalam tubuh kita mati. Sel- sel yang mati akan membentuk membran (lapisan tipis)
berwarna abu – abu pada tenggorokan. Jika dibiarkan terus menerus, maka toksin akan menyebar
dalam aliran darah dan merusak organ tubuh terutama jantung, saraf dan ginjal. Biasanya hal ini
terjadi setelah 3-7 minggu terjadinya infeksi.
Penyakit difteri dapat diketahui jika telah melakukan pemeriksaan laboraturium. Namun,
diagnosis perlu dilakukan untuk mencegah keterlembatan pemberian antitoksin yang dapat
mempengaruhi prognosis penderita.5 Biasanya diagnosis dilakukan dengan melihat bagian
tenggorokan penderita apakah ditemui adanya membran yang berwarna keabu-abuan dan

2
VIVA, Tim. Bangkitnya Difteri dari ‘Kubur. http://www.viva.co.id/indepth/sorot/988086-bangkitnya-difteri-dari-
kubur
3
Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. ( Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2008). Hal.2
4
Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. ( Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2008). Hal.2
5
Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. ( Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2008). Hal. 7-8
melekat pada mukosa. Selain itu, jika difteri menyerang pada bagian kulit maka dilakukan tes
shick, yaitu menyuntikkan antitoksin pada penderita.
Pengobatan difteri dapat dilakukan dengan perawatan yang baik, istirahat total, isolasi
penderita dan makanan lunak yang dapat mudah dicerna, cukup mengandung protein dan kalori 6.
Selain itu, ditunjang dengan pengobatan seperti antitoksi, antibiotik dan vaksin. Sebenarnya
difteri dapat dicegah dengan melakukan imunisasi DPT pada usia 2,4, dan 6 bulan. Namun
karena kurang sadarnya masyarakat Indonesia tentang kesehatan maka tidak banyak orang yang
melakukan imunisasi ini.
Terapi Madu
Madu telah dijadikan sebagai obat sejak masa Nabi Muhammad Saw.
Banyak hadist yang menerangkan mengenai pengobatan menggunakan
madu, salah satunya adalah hadist dari Abu Sa’id Al-Khudri yang
mengatakan bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah
dan berkata bahwa saudaranya mengeluhkan sakit kemudia Rasulullah
menjawab dengan berkata “ Minumkanlah padanya madu” (HR. Bukhari dan
Muslim)7. Selain itu, terdapat suatu hadist yang di riwayatkan oleh Bukhari
bahwasanya kesembuhan terdapat dalam 3 hal, yang pertama ialah
meminum madu.
Madu mengandung air, glukosa, fruktosa, sukrosa, asam amino, asam
lemak yang membantu proses penyerapan vitamin di dalam usus, dan
beberapa zat mineral seperti kalsium, fosfor, potassium, sodium, zat besi,
mangan dan tembaga.8 Selain itu, banyak penelitian di laboraturium yang
menunjukkan bahwa madu memiliki khasiat dapat membunuh bakteri
(antimicrobial). Sampai saat ini belum diketahui zat apakah yang membuat
madu dapat membunuh bakteri, hanya saja terdapat penelitian yang
membandingkan antara zat gula pada larutan gula dengan madu yang
kemudian diteteskan pada bakteri, hasilnya bakteri yang ditetesi madu
pertumbuhannya terhenti sedangkan hal sebaliknya terjadi pada bakteri
yang ditetesi larutan gula.
Dari penelitian para ahli, dapat diketahui bahwasanya madu dapat
menghentikan pertumbuhan bakteri. Difteri merupakan suatu penyakit yang
disebabkan oleh bakteri. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin bahwa madu
dapat meminimalisir penyakit ini.
Pengobatan penyakit difteri memang dapat melalui medis, namun efek
yang ditimbulkan dari penggunaan obat-obat kimia sangat berbahaya
terutama bagi ginjal. Oleh karena itu, jika bahan alami seperti madu
mengandung khasiat yang baik bagi kesehatan, tentu tidak ada salahnya
kita melakukakannya. Dari berbagai penelitian, presentase pasien yang
berhasil disembuhkan dengan menggunakan terapi madu mencapai 83%
dimana kondisi kejiwaan dan kesehatan mereka benar-benar membaik.9

6
Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. ( Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2008). Hal.12
7
Hamad, Sa’id. Terapi Madu. terj. Fuad Syaifudin Nur. (Depok : Pustaka Iman, 2007). Hal. 16
8
Hamad, Sa’id. Terapi Madu. terj. Fuad Syaifudin Nur. (Depok : Pustaka Iman, 2007). Hal. 30
9
Hamad, Sa’id. Terapi Madu. terj. Fuad Syaifudin Nur. (Depok : Pustaka Iman, 2007). Hal. 111
Terapi madu bagi penderita difteri dapat dilakukan dengan cara
mengonsumsi satu sendok makan madu setiap 2 jam sebelum makan. Selain
itu, untuk difteri pada kulit dapat dioleskan madu pada bagian yang luka
kemudian ditutup dengan kasa, dan dilakukan selama 3 kali sehari. Hal
tersebut dilakukan sampai kondisi penderita stabil. Namun sebaiknya
disarankan untuk mengkonsumsi madu sebulan 3 kali, karena madu dapat
mencegah timbulnya penyakit dengan membentuk antibodi. Hal ini sesuai
dengan sabda Rasulullah Saw, “Barang siapa yang minum madu 3 tegukan
dalam setiap bulannya, dia tidak akan terkena bala’ yang besar” (HR Ibnu
Majah).10 Tetapi ada satu hal yang perlu kita yakini, bahwa segala penyakit
dan kesembuhannya datang dari Allah Swt. Oleh sebab itu, selain berusaha
kita juga harus meminta kesembuhan pada Allah Swt. dengan cara berikhtiar
dan berdoa.
Kesimpulan
Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Saat
ini pengobatan difteri dapat dilakukan secara medis maupun non-medis.
Salah satu pengobatan non-medis adalah terapi madu. Madu mengadung zat
antibakteri yang dapat mematikan dan menghambat pertumbuhan bakteri.
Terapi madu bagi penderita difteri dapat dilakukan dengan mengkonsumsi
satu sendok makan madu 2 jam sebelum makan sampai kondisi tubuh
kembali stabil.
Pengobatan difteri secara non-medis mungkin tidak hanya
menggunakan madu saja. Namun juga dapat dari bahan-bahan alam lainnya
seperti jinten hitam. Pengembangan serta penelitian lebih lanjut dibutuhkan
untuk mengetahui hal tersebut.
Daftar Pustaka:
Hamad, Sa’id.Terapi Madu. Terj Fuad Syaifudin Nur. Depok: Penerbit Pustaka Iman, 2007.
Rampengan,T.H. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC ,
2008.
Supriadin, Jayadi. Waspada, Wabah Difteri Belum Belum Berlalu.
http://regional.liputan6.com/read/3197671/waspada-wabah-difteri-
belum-berlalu Diakses pada Minggu, 17 Desember 2017 pukul 16.11

VIVA, Tim. Bangkitnya Difteri dari ‘Kubur.


http://www.viva.co.id/indepth/sorot/988086-bangkitnya-difteri-dari-kubur
Diakses pada Senin, 18 Desember 2017 pukul 06.43
http://www.alodokter.com/difteri Diakses pada Sabtu, 16 Desember 2017
pukul 19.27

10
Hamad, Sa’id. Terapi Madu. terj. Fuad Syaifudin Nur. (Depok : Pustaka Iman, 2007). Hal. 18-19