Anda di halaman 1dari 6

PENGERTIAN UMMUL HADITS…………………………………….........

a. Pengertian Ilmu Hadits Riwayah................................................................ 3

b. Pengertian Ilmu Hadits Dirayah................................................................. 5

B. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU HADITS........................................... 6

C. CABANG_CABANG ILMU HADITS ………………………....................... 9

a. Ilmu Rijalul Hadits..................................................................................... 9

b. Ilmu Tarikh Rijal Al-Hadits........................................................................ 9

c. Ilmu al-Jarh wa al-Ta`dil............................................................................ 9

d. Ilmu Mukhtalif al-Hadits.......................................................................... 10

e. Ilmu `Ilalil Hadits..................................................................................... 11

f. Ilmu Gharibul-Hadits................................................................................ 11

g. Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadits............................................................ 11

h. Ilmu Asbab Wurud al-Hadits (sebab-sebab munculnya Hadits).............. 12

i. Ilmu Mushthalah Hadits........................

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN UMMUL HADITS

Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan,
perbuatan, taqrir (persetujuan), atau sifat.1[1]

Hadits menurut bahasa artinya baru. Hadits juga secara bahasa berarti “sesuatu yang dibicarakan
dan dinukil”, juga “sesuatu yang sedikit dan banyak”. Bentuk jamaknya adalah ahadits. Adapun
firman Allah Ta’ala,

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka
berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada hadits ini” (Al-Kahfi [18] : 6). Maksud hadits
dalam ayat ini adalah Al-Qur’an.

Juga firman Allah,


“Dan adapun nikmat Tuhanmu, maka sampaikanlah.” (Adh-Dhuha [93] : 11). Maksudnya: sampaikan
risalahmu, wahai Muhammad.

Haditst menurut istilah ahli, hadits adalah: Apa yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian
atau sesudahnya.

Sedangkan menurut ahli ushul fisih, hadits adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan yang
disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah kenabiannya. Adapun sebelum
kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan hadits adalah mengerjakan
apa yang menjadi setelah kenabian.2[2]

Kata “al hadits” dapat juga dipandang sebagai istilah yang lebih umum dari kata “as sunnah”. Yang
mencakup seluruh yang berhubungan dan disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan
istilah “as sunnah” digunakan untuk perbuatan (‘amal) dari Nabi SAW saja.3[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Buku-buku yang di dalamnya berisi tentang khabar
Rasulullah, antara lain adalah Tafsir, Sirah dan Maghazi (peperangan Nabi –Edt, dan Hadits. Buku-
buku hadits adalah lebih khusu berisi tentang hal-hal sesudah kenabian, meskipun berita tersebut
terjadi sebelum kenabian. Namun itu tidak disebutkan untuk dijadikan landasan amal dan
syariat.4[4]

Ulumul Hadits adalah istilah Ilmu Hadits di dalam tradisi Ulama Hadits (Arabnya : ‘Ulum al Hadits).
‘Ulum al Hadits terdiri atas dua kata yaitu ‘Ulumu dan al Hadits. Kata ‘Ulum dalam bahasa Arab
adalah bentuk jamak dari ‘ilm jadi berarti “ilmu-imu”. sedangkan al Hadits di kalangan Ulama’ Hadits
berarti segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dari perkataan, perbuatan, taqri atau
sifat”. Dengan demikian ‘Ulum al Hadits mengandung pengertian ilmu-ilmu yang membahas atau
berkaitan dengan Hadits Nabi”.

Secara umum para ulama Hadits membagi Ilmu Hadits kepada dua bagian, yaitu Ilmu Hadits Riwayah
(‘ilm al Hadits Riwayah) dan Hadits Dirayah (‘ilm al Hadits Dirayah):

a. Pengertian Ilmu Hadits Riwayah


Ilmu hadits riwayah adalah ilmu yang mengandung pembicaraan tentang penukilan sabda-sabda
Nabi, perbuatan-perbuatan beliau, hal-hal yang beliau benarkan, atau sifat-sifat beliau sendiri,
secara detail dan dapat dipertanggungjawabkan.5[5]

Menurut Ibn al-Akfani, sebagaimana yang di kutip oleh Al-Suyuthi, yaitu Ilmu Hadits yang khusus
berhubungan dengan riwayah adalah ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi
SAW dan perbuatannya, pencatatannya, serta periwayatannya, dan penguraian lafaz-lafznya.

Menurut Muhammad `Ajjaj al-Khathib, yaitu Ilmu yang membahas tentang pemindahan
(periwayatan) segala sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW, berupa perkataan, perbuatan,
taqrir (ketetapan atau pengakuan), sifat jasmaniah, atau tingkah laku (akhlak) dengan cara yang teliti
dan terperinci.

Menurut Zhafar Ahmad ibn lathif al-`Utsmani al-Tahanawi di dalam


Qawa`id fi `Ulum al-Hadits, yaitu Ilmu Hadits yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat
diketahui dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rosul SAW serta periwayatan,
pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadits Nabi SAW serta periwayatan, pencatatan, dan
penguraian lafaz-lafaznya.

Dari ketiga definisi di atas dapat di pahami bahwa Ilmu Hadits Riwayah pada dasarnya adalah
membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan hadits
Nabi SAW.

Objek kajian Ilmu Hadits Riwayah adalah Hadits Nabi SAW dari segi periwayatannya dan
pemeliharaannya. Hal tersebut mencakup:

- Cara periwayatan Hadits, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara
penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lainnya;

- Cara pemeliharaan Hadits, Yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan dan pembukuannya.

Sedangkan tujuan dan urgensi ilmu ini adalah: pemeliharaan terhadap Hadits Nabi SAW agar tidak
lenyap dan sia-sia, serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam proses periwayatannya atau
dalam penulisan dan pembukuannya.

b. Pengertian Ilmu Hadits Dirayah

Ilmu hadits dirayah yaitu satu ilmu yang mempunyai beberapa kaidah (patokan), yang dengan
kaidah-kaidah itu dapat diketahui keadaan perawi (sanad) dan diriwayatkan (marwiy) dari segi
diterima atau ditolaknya.6[6]
Para ulama memberikan definisi yang bervariasi terhadap Ilmu Hadits Dirayah ini. Akan tetapi,
apabila di cermati definisi-definisi yang mereka kemukakan, terdapat titik persamaan di antara satu
dan yang lainnya, terutama dari segi sasaran kajian dan pokok bahasannya.

Menurut ibnu al-Akfani, ilmu hadits yang khusus tentang Dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk
mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya, keadaan para
perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan
dengannya.

Menurut Imam al-Suyuti merupakan uraian dan elaborasi dari definisi diatas, yaitu Hakikat Riwayat
adalah kegiatan periwayatan sunnah (Hadits) dan penyandarannya kepada orang yang
meriwayatkannya dengan kalimat tahdits, yaitu perkataan seorang perawi “haddatsana
fulan”, (telah menceritakan kepada kami si fulan), atau ikhbar, seperti perkataannya“akhbarana
fulan”, (telah mengabarkan kepada kami si fulan).

Menurut M. `Ajjaj al-Khatib dengan definisi yang lebih ringkas dan komprehensif, yaitu Ilmu Hadits
Dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan
marwi dari segi di terima atau ditolaknya.

Al-rawi atau perawi adalah orang yang meriwayatkan atau menyampaikan Hadits dari satu orang
kepada yang lainnya.

Al-marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan, yaitu sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi
SAW atau kepada yang lainnya seperti Sahabat atau Tabi`in.

Keadaan perawi dari segi diterima atau ditolaknya adalah mengetahui keadaan para perawi dari
segi jarh danta`dil ketika tahammul dan adda` al-Hadits, dan segala sesuatu yang berhubungan
dengannya dalam kaitannya dengan periwayatan Hadits.

Keadaan marwi adalah segala sesuatu yang berhubungan denganittishal al-


sanad (persambungan sanad) atau terputusnya, adanya `illat atau tidak, yang menentukan diterima
atau ditolaknya suatu Hadits.

B. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU HADITS

Selama dua puluh tiga tahun Rasulullah SAW mencurahkan segala aktifitasnya untuk mendakwahkan
Islam kepada umat manusia sehingga belahan dunia (Arab) tersinari oleh agama yang hanif ini.7[7]

Perkembangan ilmu hadits selalu beriringan dengan pertumbuhan pembinaan hadits itu sendiri.
Hanya saja ia belum wujud sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pada saat Rasulullah SAW
masih hidup ditengah-tengah kaum muslimin, ilmu ini masih wujud dalam bentuk prinsip-prinsip
dasar, yang merupakan embrio bagi pertumbuhan ilmu hadits dikemudian hari. Misalnya tentang
pentingnya pemeriksaan dan tabayyun, terhadap setiap berita yang didengar, atau pentingnya
persaksian orang adil dan sebagainya. Firman Allah dalam (Al-Hujurat [49] : 6) menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka
periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”

Demikian pula dalam (Al-Thalaq [65] : 2)

...‫َّللا يَجْ عَ ْل لَهُ َم ْخ َر ًجا‬


َ َّ ‫ق‬ِ َّ ‫اّلِل َو ْاليَ ْو ِم ْاْلخِ ِر ۚ َو َم ْن يَت‬
ِ َّ ِ‫ظ بِ ِه َم ْن َكانَ يُؤْ مِ نُ ب‬ َ ‫ش َها َدة َ ِ َّّلِلِ ۚ َٰذَ ِل ُك ْم يُو‬
ُ ‫ع‬ َّ ‫ع ْد ٍل مِ ْن ُك ْم َوأَقِي ُموا ال‬ ْ ‫َوأ َ ْش ِهدُوا ذَ َو‬
َ ‫ي‬

“.......persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu
tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman
kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan ke luar.”

Ayat di atas jelas memberikan perintah kepada kaum muslimin supaya memeriksa, meneliti
dan mengkaji berita yang dating, khususnya berita yang dibawa oleh orang-orang fasiq. Tidak semua
berita yang datang pasti diterima sebelum diperiksa siapa pembawanya dan apa materi isinya. Jika
pembawanya orang terpercaya dan adil, maka pasti diterima. Tetapi sabaliknya, jika mereka tidak
jujur dan fasik, tidak obyektif, maka berita akan ditolak.

Sepeninggal Rasulullah SAW, para sahabat Nabi sangat hati-hati dalam periwayatan hadits,
karena konsentrasi mereka masih banyak tercurahkan kepada al-Qur’an, yang baru mulai dibukukan
pada zaman khalifah Abu Bakar dan disempurnakan pada saat sahabat Utsman bin Affan menjadi
Khalifah. Selanjutnya ketika mulai terjadi konflik politik, yang memicu munculnya firqah di kalangan
kaum muslimin ; Syi’ah, Murji’ah dan Jama’ah, dan pada gilirannya mendorong timbulnya
periwayatan yang dimanipulasi, dipalsukan dan direkayasa, maka para ulama bangkit untuk
membendung pemalsuan dan menjaga kemurnian hadits Nabi. Dari usaha ini, terbentuklah teori-
teori tentang periwayatan. Keharusan menyertakan sanad menjadi bagian penting yang
dipersyaratakan dalam setiap periwayatan. Hal ini telah dilakukan antara lain oleh Ibnu Syihab al-
Zuhri ketika menghimpun hadits dari para ulama.

Ketika para ulama hadits membahas tentang kemampuan hafalan / daya ingat para perawi
(dhabit), membahas bagaimana system penerimaan dan penyampaian yang dipergunakan
(tahammul wa ada’ al-hadits), bagaimana cara menyelesaikan hadits yang tampak kotradiktif,
bagaimana memahami hadits yang musykil dan sebagainya, maka perkembangan ilmu hadits
semakin meningkat. Ketika Imam al-Syafi’i (wafat 204 H) menulis kitab al-Risalah, sebenarnya ilmu
hadits telah mengalami perkembangan lebih maju, sebab di dalam kitab tersebut telah dibahas
kaidah-kaidah tentang periwayatan, hanya saja masih bercampur dengan kaidah ushul fiqih.
Demikian pula dalam kitab al-Umm. Di sana telah ditulis pula kaidah yang berkaitan dengan cara
menyelesaikan haadits-hadits yang bertentangan, tetapi masih bercampur dengan fiqih. Artinya ilmu
hadits pada saat itu sudah mulai tampak bentuknya, tetapi masih belum terpisah dengan ilmu lain,
belum menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri.

Sesudah generasi al-Syafi’i, banyak sekali para ulama yang menulis ilmu hadits, misalnya Ali
bin al-Madini menulis kitab Mukhtalif al-Hadits, Ibnu Qutaibah (wafat 276 H ) menyusun kitab Ta’wil
Mukhtalif al-Hadits. Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab shahihnya, Al-Turmudzi menulis al-
Asma’ wa al-Kuna, Muhammad bin Sa’ad menulis al-Thabaqat al-Kubra. Demikian pula al-Bukhari
menulis tentang rawi-rawi yang lemah dalam kitab al-Dlu’afa’. Dengan banyaknya ulama yang
menulis tentang persoalan yang menyangkut ilmu hadits pada abad III H ini, maka dapat difahami
mengapa abad ini disebut sebagai awal kelahiran Ilmu Hadits, walaupun tulisan yang ada belum
membahas ilmu hadits secara lengkap dan sempurna.

Penulisan ilmu hadits secara lebih lengkap baru terjadi ketika Al-Qadli Abu Muhammad al-
Hasan bin Abd. Rahman al-Ramahurmudzi (wafat 360 H) menulis buku Al-Muhaddits al-Fashil Baina
al-Rawi wa al-Wa’i. Kemudian disusul al-Hakim al-Naisaburi (wafat 405 H) menulis Ma’rifatu Ulum al-
Hadits,al-Khathib Abu Bakar al-Baghdadi menulis kitab Al-Jami’ li Adab al-Syaikh wa al-Sami’, al-
Kifayah fi Ilmi al-Riwayat dan al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’.