Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

KONSEP KEBUTUHAN DASAR SEKSUAL

DISUSUN OLEH:

DANIS IMFROATUL KUSNIA ( P07220419007)


INDAH NURFADHILLA ( P07220419020)
NURUL ALIFAH ( P07220419031)
RIDA NUR FATIKHA ( P07220419037)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN TK.1

TAHUN AJARAN 2019-2020

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga kami bisa selesaikan makalah mengenai
konsep dasar kebutuhan seksual

Makalah ini sudah selesai kami susun dengan maksimal dengan bantuan pertolongan
dari berbagai sumber sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Saya menyadari seutuhnya bahwa masih jauh dari kata
sempurna baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.Oleh karena itu, kami
terbuka untuk menerima segala masukan dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca
sehingga kami bisa melakukan perbaikan makalah sehingga menjadi makalah yang baik dan
benar.

Akhir kata kami meminta semoga makalah tentang konsep dasar kebutuhan seksual
ini bisa memberi manfaat utaupun inpirasi pada pembaca.

. Samarinda, 25 Agustus 2019

. Penyusun

2
DAFTAR ISI

COVER…………………………………………………………………………………..1
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………2
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………..3
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………..4
A. LATAR BELAKANG……………………………………………………………4
B. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………4
C. TUJUAN…………………………………………………………………………4
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………….5
A. PENGERTIAN SEKSUALITAS…………………………………………………5
B. PERKEMBANGAN SEKSUALITAS……………………………….…………..5
C. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPEGARUHI KESALAHAN SEKSUAL….9
D. ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH SEKSUAL………………….12
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………….14
A. KESIMPULAN………….………………………………………………………..14
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….15
FOOT NOTE……………………………………………………………………………..16

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Seksualitas di
defenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati
paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai
mahluk seksual. Karena itu pengertian dari seksualitas merupakan sesuatu yang lebih luas
dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan kegiatan fisik hubungan seksual.
Seksualitas merupakan aspek yang sering di bicarakan dari bagian personalitas total manusia,
dan berkembang terus dari mulai lahir sampai kematian. Banyak elemen-elemen yang terkait
dengan keseimbangan seks dan seksualitas. Elemen-elemen tersebut termasuk elemen
biologis; yang terkait dengan identitas dan peran gender berdasarkan ciri seks sekundernya
dipandang dari aspek biologis. Elemen sosiokultural, yang terkait dengan pandangan
masyarakat akibat pengaruh kultur terhadap peran dan kegiatan seksualitas yang dilakukan
individu. Sedangkan elemen yang terakhir adalah elemen perkembangan psikososial laki-laki
dan perempuan. Hal ini dikemukakan berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang kaitannya
antara identitas dan peran gender dari aspek psikososial. Termasuk tahapan perkembangan
psikososial yang harus dilalui oleh oleh individu berdasarkan gendernya.
Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering
disebut jenis kelamin yaitu penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan. Seksualitas
menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi biologis, sosial, perilaku dan
kultural. Seksualitas dari dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat
kelamin, termasuk bagaimana menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ
reproduksi dan dorongan seksual . Seksualitas dari dimensi psikologis erat kaitannya dengan
bagaimana menjalankan fungsi sebagai mahluk seksual, identitas peran atau jenis.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana definisi tantang seksualitas
b. Apa saja faktor yang mempengaruhi seksualitas
c. Apa saja gangguan pada seksualitas
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui tentang seksualitas
b. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi seksualitas
c. Untuk mengetahui gangguan pada seksualitas
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN SEKSUALITAS
Seksualitas merupakan bagian dari kepribadian seseorang secara menyeluruh.
Meskipun keterbukaan dan diskusi akan topik-topik seksual mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun,tetapi masih banyak individu dewasa yang kekurangan pengetahuan tentang
seksualitas dan enggan untuk mengangkat pertanyaan terkait seksualitas. Seksualitas lebih
dari sekadar aktivitas fisik, melainkan perasaan kewanitaan dan kelakian baik secara
biologis,sosiologis,psikologis,spiritual dan dimensi budaya dari setiap individu Selain itu,
nilai - nilai sikap , perilaku, hubungan dengan orang lain, dan kebutuhan untuk membangun
kedekatan emosional dengan orang lain akan mempengaruhi seksualitas .Menurut world
Health Organization kesehatan seksual adalah suatu keadaan kesejahteraan
fisik,emosional,mental,dan sosial yang berhubungan dengan seksualitas tidak hanya sekadar
bebas dari penyakit,disfungsi,atau kelemahan. Individu yang sehat secara seksual memiliki
cara pendekatan yang positif dan penuh rasa hormat terhadap seksualitas dan hubungan
seksual.Mereka juga berpotensi untuk merasakan kesenangan dan pengalaman seksual yang
aman dan bebas dari paksaan,diskriminasi,dan kekerasan.
TINJAUAN SEKSUAL DARI BEBERAPA ASPEK
Makna seksual dapat ditinjau dari beberapa aspek,diantaranya:
1. Aspek Biologis, aspek ini memandang dari segi biologi seperti pandangan anatomi dan
fisiologi dari sistem reproduksi(seksual), kemampuan organ seks,adanya hormonal serta
sistem saraf yang brfungsi atau berhubungan dengan kebutuhan seksual.
2. Aspek psikologis, aspek ini merupakan pandangan terhadap identitas jenis kelamin,sebuah
perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya, serta memandang gambaran
seksual atau bentuk konsep diri yang lain.
3. Aspek Sosial Budaya, aspek ini merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku
dimasyarakat.
B. PERKEMBANGAN SEKSUALITAS
Seksualitas mengalami perubahan sejalan dengan individu yang terus bertumbuh dan
berkembang.Setiap tahap perkembangan memberikan perubahan pada fungsi dan peran
seksual dalam hubungan.Perkembangan seksual diawali dari infantil dan masa kanak-kanak
awal,usia sekolah,pubertas/masa remaja, masa dewasa muda,masa dewasa menengah,masa
lansia.

5
a. Masa Pranatal Bayi
Pada masa ini komponen fisik atau biologis sudah mulai berkembang. Berkembangnya
organ seksual mampu merespons rangsangan, seperti adanya ereksi penis pada laki – laki dan
adanya pelumas vagina pada wanita. Perilaku ini terjadi ketika mandi, bayi merasakan adanya
perasaan senang. Menurut sigmund freud, thap perkembangan psikosekseksual pada masa ini
adalah :
1. Tahap oral
Terjadi pada tahun 0-1 tahun. Kepuasan, kesenangan dan kenikmatan dapat dicapai
dengan cara menghisap, menggigit mengunyah, atau bersuara. Anak memilii ketergantungan
sangat tinggi dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang
diperoleh pada masa ini adalah masalah menyapih dan makan.
2. Tahap anal
Terjadi pada tahun 1-3 tahun. Kepuasan pada tahap ini terjadi pada saat pengeluaran
feses. Anak mulai menunjukan kelakuannya, sikap sangat narsistik ( cinta terhadap diri
sendiri ), dan egois. Anak juga mulai mempelajari struktur tubuhnya. Pada saat ini anak
sudah dapat dilatih dalam hal kebersihan.
b. Infantil dan Masa Kanak-kanak Awal
sejak lahir anak-anak dirawat secara berbeda sesuai dengan gendernya.Tiga tahun
pertama kehidupan.Tiga tahun pertama kehidupan merupakan masa penting dalam
perkembangan identitas gender. Seorang anak memihak pada orang tua yang memiliki gender
yang sama dan membangun sebuah hubungan yang berisi puji-pujian dengan orang tua yang
berlainan gender.Anak-anak menyadari akan perbedaan antara jenis kelamin, mulai merasa
bahwa mereka adalah pria dan wanita, dan menginterprestasikan perilaku orang lain sebagai
perilaku yang sesuai untuk seorang pria dan wanita.

c. Usia Sekolah
selama usia sekolah,orang tua,guru-guru, dan kelompok teman sebaya berperan sebagai
model peran dan mengajarkan tentang bagaimana pria dan wanita bertindak dan berhubungan
dengan setiap orang. Anak-anak usia sekolah biasanya mempunyai pertanyaan tentang aspek
fisik dan emosional yang berkaitan dengan seksual. Mereka memerlukan informasi yang
akurat dari rumah dan sekolah tentang perubahan pada tubuh dan emosi mereka selama
periode ini dan apa yang diharapkan saat mereka berpindah ke tahap pubertas.Pengetahuan
tentang emosi yang normal danperubahan fisik yang berhubungan dengan pubertas akan
mengurangi kecemasan selama perubahan tersebut mulai terjadi. Menstruasi atau mimpi
6
basah terkadang sangat menakutkan bagi anak-anak yang kurang informasi,dan beberapa
mengagapnya sebagai tanda dari suatu penyakit yang sangat menakutkan.
d. Pubertas/Masa Remaja
Perubahan emosional selama pubertas dan masa remaja sama dramatisnya dengan
perubahan fisik. Remaja bekerja dalam sebuah kelompok teman sebaya yang sangat
kuat,dengan kecemasan yang selalu ada.Remaja menghadapi banyak keputusan dan
memerlukan banyak informasi yang akurat mengenai topik-topik seperti perubahan tubuh,
aktivitas seksual, respons emosi terhadap hubungan intim seksual,PMS, 1kontrasepsi dan
kehamilan.
Di Amerika Serikat,dilaporkan bahwa kira-kira 47% dari siswa sma telah melakukan
hubungan melakukan intim seksual minimal satu kali.Salah satu alasan mengapa mereka
melakukan hubungan intim seksual membantu mereka mencapai tujuan keintiman,status
sosial, dan kesenangan. Banyak remaja yang melakukan hubungan seks tidak melindungi diri
mereka dari kehamilan atau PMS. Dinamika risiko hubungan seks tidak sepenuhnya
dimengerti tapi beberapa penelitian telah mendapatkan hubungan antara pemakaian
obat/alkohol,pelecehan seksual,dan hubungan seksual yang tidak aman.Remaja cenderung
berpikir bahwa mereka tidak terkalahkan dan percaya bahwa kehamilan yang tidak
diingankan PMS,dan hasil negatif lainya dari perilaku seks tidak akan terjadi pada
mereka.Orang tua harus memahami pentingnya memberikan informasi faktual,membagi
nilai-nilai yang mereka punyai dan meningkatkan ketrampilan membuat keputusan yang
tegas.
Masa remaja merupakan masa di mana individu menggali orientasi seksual primer
mereka.Kebanyakan remaja akan mengalami minimal satu pengalaman homoseksual dengan
seseorang atau dalam sebuah kelompok.Remaja biasanya merasa takut pengalaman tersebut
akan menentukan seksualitasnya totalnya sebagai homoseksual. Hal ini tidak benar. Banyak
individu yang melanjutka orientasi seksual mereka sebagai menakutkan dan mereka sebagai
homoseksual dengan jelas.Hal ini menakutkan dan membingungkan bagi seorang
remaja.Dukungan untuk identitas seksual remaja dari penasihat
sekolah,pendeta,keluarga,perawat, dan profesi kesehatan lainnya penting selama periode ini.
e. Masa Dewasa Muda
Meskipun individu dewasa muda telah memiliki kematangan secara fisik,mereka harus
terus menggali dan mematangkan hubungan secara emosional.Keintiman dan seksualitas
merupakan bagi semua individu dewasa muda ,apakah mereka melakukan hubungan seks
tetap memilih hidup sendiri,menjadi homoseksual,atau menjadi janda.Individu sehat secara
7
seksual dalam berbagai cara.Aktivitas seksual sering didefinisikan sebagai dasa
kebutuhan,dan keinginan sepanjang kehidupan.
Sebagai individu yang aktif secara seksual yang membangun hubungan intim,mereka
mempelajari teknik stimulasi yang dapat memuaskan diri sendiri dan pasangan seksual
mereka.beberapa individu dewasa memerlukan izin atau penegasan bahwa cara alternatif
untuk mengungkapkan seks selain hubungan penis dan vagina adalah normal.Individu lain
membutuhkan edukasi dan terapi yang signifikan untuk mencapai hubungan seksual yang
memuaskan dan bermutu. Individu dewasa muda,terutama mereka dengan status sosial
ekonomi yang rendah,memiliki risiko tinggi mengalami PMS.

f. Masa Dewasa Menengah


Perubahan dalam penampilan fisik pada masa dewasa menengah terkadang
menimbulkan masalah dalam ketertarikan seksual.Selain itu perubahan fisik aktual
berhubungan dengan proses penuaan memengaruhi fungsi seksual. Penurunan kadar estrogen
pada wanita perimenopause menyebabkan kurangnya lubrikasi dan elastisitasvagina.Kedua
perubahan ini sering menyebabkan dispareunia atau rasa nyeri selama berhubungan
seks.Penurunan kadar estrogen juga menyebabkan menurunnya keinginan untuk melakukan
aktivitas seksual. Pada pria,mereka cenderung mengalami perubahan seperti peningkatan
periode refrakter pasca ejakulasi dan penundaan ejakulasi.Untuk mengurangi masalah dalam
fungsi seksual, petunjuk antisipasi terhadap perubahan normal ini,menggunakan cairan
lubrikasi vagina dan menciptakan waktu untuk bercumbu dan kelembutan dapat
diterapkan.Beberapa individu dewasa juga memerlukan penyesuaian diri terhadap dampak
penyakit kronis,obat-obatan ,rasa sakit,nyeri dan masalah kesehatan lainya yang terkait
dengan seksualitas.
Pada usia dewasa beberapa individu harus menyesuaikan diri dengan perubahan
sosial dan emosi yang terjadi karena anak-anak yang keluar dari rumah. Kondisi ini dapat
memberikan waktu untuk memperbaharui keintiman antar-pasangan saat pasangan menyadari
bahwa mereka tidak saling peduli atau mempunyai perasaan yang sudah biasa-biasa saja.Pada
kasus lain,waktu dimana anak-anak meninggalkan rumah biasanya menciptakan suatu
perubahan dalam hubungan intim.
g. Masa Lansia
Perubahan yang terjadi pada tahap ini pada wanita di antaranya adalah atropi pada vagina
dan jaringan payudara,penurunan cairan vagina,dan penurunan intensitas orgasme pada

8
wanita ,sedangkan pada pria akan mengalami penurunan produksi sperma,berkurangnya
intensitas orgasme terlambatnya pencapaian ereksi dan pembesaran kelenjar prostat.
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MASALAH SEKSUAL
Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi gangguan dalam fungsi seksual,di
antaranya:
1. Tidak adanya panutan (role model)
2. Gangguan struktur dan fungsi tubuh, seperti adanya trauma,obat, kehamilan,atau
abnormalitas anatomi genitalia
3. Kurang pengetahuan atau informasi yang salah mengenai masalah seksual
4. Penganiayaan secara fisik
5. Adanya penyimpangan psikoseksual
6. Kehilangan pasangan karena perpisahan atau kematian

Secara umum bentuk-bentuk gangguan seksual manusia dikelompokan atas tiga bagian,yaitu:
1. Gangguan Identitas Seksual ( gender identity disorder )
2. Disfungsional Seksual (disfunctional sexual)
3. Parafilia

a. Ganguaan Identitas Seksual


Adalah ketidakpuasan terhadap jenis kelamin biologis sendiri dan ketidakpuasan
psikologis atau perasaan diri sebenarnya memiliki jenis kelamin yang berlawanan dengan
realitas (gangguan sense identity) pada seks biologisnya.
Ciri-ciri dari gangguan identitas seksual yaitu:
 Dapat kelihatan pada usia 18 bulan hinggaa 3 tahun
 Gangguan tidak secara spesifik bersifat seksual tetapi berupa sense identitas seseorang
sebagai laki-laki atau perempuan
 Gender fisik tidak konsisten.Esensi maskulin atau feminimnya seseorang tertanam
pada perasaan pribadi yang sangat mendalam pada diri seseorang
 Tujuan utamanya bukan rangsangan seksual, namun lebih berupa keinginan untuk
menjalani kehidupan lawan jenisnya disebut juga sebagai transeksualisme

Secara umum bentuk-bentuk dari gangguan identitas seksual( transeksual)yaitu:

9
1) Transvestite fetishism (fetisisme transvestisme) adalah rangsangan seksual dengan prefensi
lawan jenisnya untuk mendapatkan kepuasaan seks dengan menggunakan cross-dressing
(pakaian lawan jenis)
2) Male to female adalah laki-laki yang memiliki identitas gender feminim, tertarik secara
seksual perempuan dan membuat teknik rangsangan seks bersifat homoseksual. Merupakan
suatu keinginan pria untuk menjadi perempuan
3) Female to male adalah perempuan yang memiliki identitas gender maskulin,dan tertarik
secara seksual laki-laki dan membuat rangsangan seks bersifat lesbian.Merupakan suatu
keinginan seorang wanita untuk menjadi laki-laki
4) Intersexed individual (hermafrodit) adalah seseorang yang lahir dengan alat kelamin yang
tidak jelas atau adanya abnormal hormonaln dan abnormal fisik lainya

b. Gangguan Disfungsi Seksual (disfunction sexual)


Adalah gangguan seksual dimana seseorang mengalami gangguan atau kesulitan
untuk berfungsi secara adekuat selama berhubungan seks.
Secara umum bentuk-bentuk disfungsi seksual yaitu :
1) Gangguan nafsu seksual hipoaktif yaitu jenis disfungsi seksual yang ditandai dengan
kurang adanya minat melakukan hubungan seksual dalam kurun waktu yang berulang-ulang
sebagai akibat distres yang signifikan atau kesulitan dalam hubungan interpersonal
2) Gangguan aversi seksual adalah jenis disfungsi seksual yang ditandai dengan perasaan
tidak suka yang persisten dan ekstrem terhadap hubungan seksual sebagai akibat kecemasan
yang memicu kepanikan dalam kontak seksual sehingga timbul rasa muak dalam hubungan
seks
3) Gangguan rangsangan seksual adalah jenis disfungsi seksual yang ditandai dengan adanya
gangguan ereksi atau impotensi dan gangguan frigiditas, pada pria disebut gangguan ereksi
sedangkan pada wanita lubrikasi vagina
4) Gangguan orgasme seksual pada pria disebut sebagai ejakulasi sedangkan pada wanita
disebut hambatan orgasme

c. Gangguan Seks Parafilia


Istilah parafilia terdiri dari kata para= ketertarikan yang abnormal ,dan filia=rasa kuat
yang tidak semestinya.jadi parafilia adalah penyimpangan seks dimana keterangsangan seks
timbul terutama dalam konteks objek-objek / individu yang tidak semestinya.
Ciri-ciri gangguan parafilia yaitu:
10
Ø Diferensiasi yang sudah ada sebelumnya
Ø Unsur sama-sama suka sehingga Para penderita memperoleh ketrampilan objek seksual
menurut stimulus yang diterima dari orang dewasa pada masa kanak-kanak
Ø Fantasi seks masa kanak-kanak yang selalu diperkuat dengan kegiatan masturbasi dan
dorongan seks ekstrem kuat yang dikombinasi berpikir yang abnormal

Secara umum bentuk-bentuk dari parafilia adalah:


1) Fatisme adalah dorongan ,fantasi dan perilaku seks yang melibatkan benda-benda mati dan
tidak lazim
2) Voyeurisme adalah dorongan fantasi dan perilaku seks muncul dengan cara mengintip
orang lain melakukan hubungan seks
3) Pedofilia adalah fantasi dorongan dan perilaku seksual terangsang melalui hubungan seks
dengan anak-anak
4) Incest adalah fantasi dorongan dan perilaku seksual yang terangsang terhadap sesama
anggota keluarga

Gangguan Seksualitas Lainnya


 Sodomi
Sodomi Kepuasan seksual dicapai bila berhubungan melalui anus. Hal ini sangat
berbahaya bagi perempuan bisa terjadi perdarahan karena pecahnya pembuluh darah pada
anus, dan bahaya pada laki-laki bisa terjadi infeksi karena anus adalah tempat tinja yang
semua orang tahu banyak bakteri terdapat disana.
 Masokisme
Masokisme adalah Kepuasan seksual dicapai dengan kekerasan. Maksudnya dengan
melakukan kekerasan terhadap pasangannyalah kepuasan seksual dapat tercapai.
 Homoseksual dan lesbianisme
penyimpangan seksual ditandai dengan ketertarikan fisik maupun emosi kepada
sesama jenis. Maksudnya laki-laki tertarik pada laki-laki juga, dan perempuan tertarik pada
perempuan juga.

11
Masalah Keperawatan pada Seksualitas
Masalah keperawatan yang terjadi pada kebutuhan seksual adalah pola seksual
dan perubahan disfungsi seksual. Pola seksual mengandung arti bahwa suatu kondisi
seorang individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan kesehatan
seksual,sedangkan kesehatan seksual sendiri adalah integrasi dari aspek
somatis,emosional,intelektual,dan sosial dari keberadaan seksual yang dapat
meningkatkan rasa cinta,komunikasi dan kepribadian.Disfungsi seksual adalah keadaan
dimana seorang mengalami atau berisiko mengalami perubahan fungsi sosial yang
negatif,yang dipandang sebagai tidak berharga dan tidak memadainya fungsi seksual.

D. ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH SEKSUAL


A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan meng indentifikasi status kesehatan pada pasien.
 Mengkaji tahap perkembangan klien dalam hal seksualitas
 Melakukan pengkajian fisik pada area urogenitalia
 Menentukan masalah seksual klien
 Mengkaji adanya perilaku resko tinggi, menggunakan praktek sek yang aman dan
kontrasepsi
 Mengkaji kondisi medis dan obat obatan yang dapat mempengaruhi fungsi seksual

B. Diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan yang dapat terjadi pada seksualitas antara lain:
 Perubahsn disfungsi seksual dan pola seksual berhubungan dengan stress
 Efek penyakit angkut dan kronis
 Perubahan atau kehilangan anggota tubuh
 Perubahan pascapartum
 Perasaan takut hamil
 Penyakit hubungan seksual
 Ketakutan terhadap efek koitus (adanya serangan jantung)
 Trauma tulang belakang
 Perubahan neurologi seperti impotensi

12
 Pandangan negatif terhadap perubahan tubuh seperti (masektomi)
 Kurangnya pengetahuan tentang penyakit karena hubungan seksual
 Ketakutan bayi cacat akibat koitus
 Penggunaan alkohol yang berlebihan
 Perasaan yang bersalah
 Pengalaman traumatic
 Ketakutan ketidakmampuan memuaskan pasangan
 Rasa nyeri karena tidak cukupnya cairan vagina.
C. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan
Tahap perencanaan yang dilakukan adalah penentuan tujuan dan masalah yang
hendak diatasi ,dengan tujuan agar pasien mampu mempertahankan atau menolong
individu untuk mencapai integritas seksual serta dapat mengembangkan kesadaran
diri terhadap sikap ,keyakinan dan pengetahuan tentang seksual,memahami berbagai
informasi dan pendidikan seksual yang akurat, mampu mengidentifikasi masalah
seksual, dan meningkatkan body image serta harga diri pasien.Kemudian,rencana dan
intervensi yang dapat dilakukan adalah:
 Memberikan pendidikan dan konseling tentang kebutuhan dan masalah
seksuaL
 Mencegah isolasi social
 Mengurangi dorongan seksual
 Meningkatkan citra diri dan harga diri pasien

D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah seksual secara umum dapat dinilai dari kemampuan untuk
melakukan hubungan seksual,percaya diri akan adanya kepuasan hubungan seksual,dan
mampu mengekspresikan perasaan tentang kebutuhan seksual, mampu
meningkatkan fungsi peran serta konsep diri.
 Evaluasi persepsi klien terhadap fungsi seksual
 Minta klien untuk mendiskusikan praktik seks yang aman
 Tanyakan apakah harapan klien telah terpenuhi

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seksualitas merupakan bagian dari kepribadian seseorang secara
menyeluruh.Seksualitas lebih dari sekadar aktivitas fisik, melainkan perasaan kewanitaan dan
kelakian baik secara biologis,sosiologis,psikologis,spiritual dan dimensi budaya dari setiap
individuMenurut world Health Organization kesehatan seksual adalah suatu keadaan
kesejahteraan fisik,emosional,mental,dan sosial yang berhubungan dengan seksualitas tidak
hanya sekadar bebas dari penyakit,disfungsi,atau kelemahan Tinjauan seksualitas terdapat 3
aspek yaitu biologis, psikologis dan sosial budaya.

Secara umum bentuk-bentuk gangguan seksual manusia dikelompokan atas tiga bagian,yaitu:
a. Gangguan Identitas Seksual ( gender identity disorder )
b. Disfungsional Seksual (disfunctional sexual)
c. Parafilia

ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH SEKSUAL


a. Pengkajian Keperawatan
b. Diagnosis keperawatan
c. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan
d. Evaluasi Keperawatan

14
DAFTAR PUSTAKA

Potter and Perry Volume 2.2006.Fundamental Keperawatan.EGC:Jakarta.


Herri Zan Pieter dan Namora Lumonggo Lubis.2010.Pengantar Psikologi dalam
Keperawatan.Prenada Media:Jakarta.
Mi Ja Kim,Gertrude K.MeFarland dan Audrey M.Mclane.1993.Diagnosa
Keperawatan.EGC:Jakarta.
Hidayat,A.Aziz Alimul.2006.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia;Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan;Buku1.Salemba Medika:Jakarta.

Carpenito,lynda juall.1998.Diagnosis Keperawatan Buku Saku Edisi 6.Penerbit


Kedokteran:Jakarta.

15
FOOT NOTE

 Penyimpangan sosial berupa pedofilia

16