Anda di halaman 1dari 7

Dongeng Rapunzel

Suatu ketika tersebutlah pasangan suami istri yang sangat mendambakan seorang anak. Rasa
sedih dan sepi selalu menyelimuti mereka saat itu. Sekian lama berlalu, sang istri pun
akhirnya mengandung. Mereka pun sangat senang akan hal itu.

Pada suatu hari saat sang istri melihat keluar jendela dia melihat kebun selada yang cantik
sekali milik tetangganya. Sejak saat itu dia selalu membayangkan dirinya memakan selada
tersebut.
Istri : mas aku ingin sekali memakan selada dari rumah sebelah
Suami : tapi sayang bagaimana caranya penghuni rumah itu tidak pernah terlihat oleh kita.
Istri : aku mau selada itu mas kalau tidak aku akan sakit.

Sang suami yang mendengar perkataan istrinya pun menjadi tidak tega. Ia pun akhirnya pergi
untuk mengambil selada tersebut. Ternyata tempat dimana selada tersebut tumbuh merupakan
kebun dari seorang penyihir jahat. Sang suami pun tidak mempuyai pilihan lain, jika dia
tidak mendapatkan bunga tersebut istrinya akan jatuh sakit. Dia akhirnya memberanikan diri
untuk mengambil selada tersebut. Tapi sayang usahanya gagal, penyihir jahat pemilik kebun
tersebut memergoki sang suami sedang mencuri selada dikebunya.

Penyihir: "Berani sekali kamu, mencuri selada di kebun kesayangan ku!!!" Kata sang
penyihir murka.
Suami : "Ku mohon ampunilah saya. Istri saya sedang mengandung dan sekarang sedang
jatuh sakit. Hanya bunga selada ini lah yang bisa menyembuhkannnya." Sang suami
memohon

Penyihir: "Hahahahahha... Hahahahah... Hahahahah..." (tiba-tiba sang penyihir tersebut


tertawa). "Kamu boleh membawa selada dari kebun ku sebanyak yang kamu butuhkan. Dan
saya juga memaafkan atas tidakkan mu ini. Tapi dengan satu syarat. Kamu harus
menyerahkan anak yang kelak lahir kepada ku. Tenang saja, saya akan memperlakukan anak
itu seperti anak ku sendiri" Kata sang penyihir.

Sang suami pun bingung. Akhirnya dia memilih untuk menyetujui syarat tersebut untuk
keselamatan istri, dirinya sendiri dan anak yang kelak lahir. Dan ketika bayinya lahir, sang
penyihir pun muncul dan memberi bayi tersebut nama Rapunzel dan mengambilnya dari
pelukan orang tuanya.

Rapunzel tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Ketika dia berumur 12 tahun, sang
penyihir mengurungnya di sebuah menara di tengah hutan. Menara tersbut tidak memiliki
tangga atau pintu, hanya sebuah jenela kecil di bagian atas menara. Dan ketika sang penyihir
datang berkunjung, dia memerintahkan Rapunzel untuk menurunkan rambutnya.

Yup, Rapunzel dikaruniai rambut yang sangat cantik, panjang dan berkilau seperti emas.
Rapunzel harus menurukan rambutnya tersebut melalui jendela ke bawah dan dengan rambut
Rapunzel itu lah sang penyihir bisa naik ke atas menara.

Setelah beberapa tahun hidup dalam menara. Seorang pangeran tampan yang sendang
berburu di hutan tanpa sengaja mendengar nyanyian merdu yang berasal dari menara
tersebut. Dia mencoba mencari tahu dan ingin masuk ke dalam menara tersebut tapi dai tidak
menemukan pintu atau tangga untuk naik ke atas. Sang pangeran pun putus asa dan
memutuskan untuk pulang. Tapi nanyian yang dia dengar menyentuh hatinya. Oleh karena itu
setiap hari dia pergi ke hutan dan mendengarnya. Suatu waktu dia melihat seorang penyihir
datang ke menara tersebut dan berkata:
"Rapunzel, Rapunzel,, Ulurkan rambutmu ke bawah untuk saya." Seperti biasa Rapunzel pun
menurunkan rambutnya untuk penyihir tersebut naik ke atas.

Ke esokan harinya, sang pangeran pun datang dan mecoba cara yang sama seperti yang si
penyihir itu lakukan. Dia berkata
"Rapunzel, Rapunzel,, Ulurkan rambutmu ke bawah untuk saya."
Berhasi! Rambut Rapunzel pun jatuh kebawah dan sang pangeran pun memanjat ke atas.

Rapuzel pun terkejut dan takut ketika ternyata sang pangeranlah yang naik ke atas. Rapunzel
belum pernah bertemu dengan orang selain si penyihir. Tapi tutur kata sang pangeran yang
halus dan sipatnya yang bershabat, rasa takut Rapunzel pun hilang. Sang pangeran pun
menceritakan kenpa dia sampai berani masuk ke menara tersebut. Rapunzel sangat terkejut
saat kemudian sang pangeran memintanya untuk menikah dengannya. Dan Rapunzel pun
berkata iya.

"Saya akan pergi bersama kamu, tapi saya tidak tahu bagaimana keluar dari sini. Bawakan
saya sebuah gulungan sutra setiap kamu datang. Dan aku akan menenun tali dari sutra
tersebut. Ketika tali itu sudah siap, saya akan turun dan bawa aku ke istana."

Mereka pun setuju dan meminta sang pangeran untuk datang malam hari karena sang
penyihir akan datang di siang hari. Tapi suatu ketika, ketika sang penyihir memanjat ke atas,
Rapunzel mengeira itu merupakan sang pangeran yang dia sayangi.

"Pangeran ku sayang, kenapa kamu begitu berat hari ini?" Rapunzel berkata.

"Pangeran???" sang penyihir terkejut. "Saya kira, saya sudah memisahkan mu dari dunia luar.
Ternyata saya salah." Kata sang penyihir dengan marah.

Dengan murka sang penyihir mengambil gunting dan munggunting rambut panjang Rapuzel
dan membuang Rapuzel ke gurun pasir. Kemudian sang penyihir mengikatkan rambut
Rapunzel di jendela untuk mencari tahu siapa orang yang mengunjungi Rapunzel setiap hari.
Benar saja sang pangeran pun datang, sang penyihir pun menurunkan rambut Rapunzel yang
telah dipotong tersebut.

Ketika sang pangeran naik ke atas, dia terkejut, bukan Rapunzel yang dia temukan malah
penyihir jahat yang ada.
"Ahhha..Rapunzel telah pergi. Kamu tidak akan pernah menjumpainya lagi." Kata penyihir
dengan jahat.

Sang pangeran sedih dan merasa putus asa. Akhirnya dia melompat dari menara untuk lari
dari penyihir tersebut. Tapi sayang, duri menusuk ke dua matanya ketika jatuh. Sang
pangeran pun menjadi buta. Dia merasa terluka dan berjalan tak tentu arah meratapi nasibnya
yang kehilangan wanita yang dia cintai. Sekian lama berjalan tak tentu arah, samapi
membawanya ke gurun pasir dimana Rapunzel di buang. Di situlah sang pangeran mendengar
nyanyian merdu yang tidak akan pernah dilupakannya. Ya, nyanyian merdu itu milik
kekasihnya, Rapuzel.
Mereka berdua pun akhirnya dipertemukan kembali. Rapuzel tidak berhenti-hentinya
menangis, kondisi pangeran yang dia cintai penuh luka dan buta. Keajaiban pun terjadi, air
mata Rapunzel menetes ke mata sang pangeran, dan dengan ajaibnya ke dua mata sang
pangeran membuka dan bisa melihat kembali. Sang pangeran pun membawa Rapuzel pulang
ke istana dan mereka berdua hidup bahagia untuk selamanya.
Sepasang Sendal Yang Serakah (Parabel)

Kisah ini bukanlah tentang sandal biasa, tapi tentang sepasang sandal istimewa milik seorang
raja. Dulunya sandal ini terbuat dari kulit kerbau. Kulit kerbau jantan yang bernama Papuq
Mame dibuat sandal sebelah kanan, sedangkan kulit dari kerbau betina yang bernama Papuq
Mime di buat untuk sandal sebelah kiri. Karena terbuat dari kulit kerbau pilihan inilah sang
raja sangat menyanyangi keduanya, ditambah lagi keduan sandal ini nyaman ketika di pakai.
Walaupun ada banyak sandal di istana, tapi sang raja lebih senang memakai sandal kulit
kerbau ini, yang pada akhirnya sandal tersebut menjadi lusuh , bahkan berbau. Kalau sudah
seperti ini biasanya tikus suka mengendus-endus baunya ketika malam hari tiba.

Saat itu sang raja sudah tertidur dengan lelapnya dan sandal diletakkan begitu saja
dilantai.Tentu saja kedua sandal ini merasa jijik. “Ih.... dasar tikus rakus, apa dia tidak pernah
diberi makan sehingga suka sekali mengendus-endus kita. Jangan-jangan ia akan memakan
kita.” Kata Papuq Mime dengan marah. “Aku juga risih setiap hari didekati tikus tanpa bisa
berbuat apa-apa. Apa sebaiknya kita menjadi tikus saja agar bisa membalas perlakuan buruk
tikus pada kita.”usul Papuq Mame. Setelah berbincang keduanya sepakat untuk berdoa
memohon pada Tuhan agar mereka diubah wujudnya menjadi tikus. Singkat cerita keduanya
kini telah berubah menjadi sepasang tikus besar yang ditakuti oleh tikus-tikus lain di istana.

Suatu ketika raja merasa bahwa sudah terlalu banyak tikus berkeliaran di istana hingga
mengganggu kenyamanan. Akhirnya raja memerintahkan untuk mendatangkan kucing guna
memberantas tikus. Selama berhari-hari terjadi kejar mengejar antara kucing dan tikus,
termasuk tikus besar penjelmaan PApuq MAme dan PApuq mime. Merasa kelelahan dan
hidup mereka tidak nyaman, keduanya berdoa kembali agar wujudnya dirubah menjadi
kucing. Kali ini pun doa mereka terkabul. Keduanya berubah menjadi dua ekor kucing yang
berbulu sangat indah. Karena keindahan bulunya itulah permaisuri sangat menyayangi nya.
Setiap hari keduanya selalu berada di dekat permaisuri yang sangat senang mengelus-elus
bulu mereka. Makanan yang diberikan pun merupakan makanan pilihan yang tentu saja lezat
rasanya. Lama-kelamaan mereka merasa bosan karena hanya permaisuri sajalah yang
menyayanginya. Kedua nya iri pada anjing yang selalu dibawa oleh raja ketika berburu.

Maka mereka kembali memohon pada Tuhan untuk dijadikan anjing. Tak lama berselang
keduanya berubah menjadi anjing pemburu yang sangat tangkas dan disayang oleh raja.
Berkali-kali mereka bisa menangkap kijang ataupun babi hutan dengan cara menggigit
buruannya, setelah itu barulah raja memanah binatang tersebut hingga mati. Menjadi anjing
buruan yang disayang oleh raja memang menyenangkan. Akan tetapi kesenangan itu tidak
ada artinya jika harus selalu tinggal dalam kandang. Mereka hanya bisa keluar ketika akan
diajak berburu oleh raja.

Seperti yang sudah-sudah PApuq MAme dan Papuq Mime berdoa memohon pada Tuhan,
kali ini keduanya minta dijadikan raja. Alkisah permohonan mereka dikabulkan. Kini kedua
suami istri itu telah menjadi raja kerajaan Baru. Pada awalnya mereka menikmati kehidupan
mewah sebagai raja. Lama kelamaan berbagai masalah mulai muncul baik dari dalam
kerajaan maupun dari luar kerajaan. Hingga suatu ketika kerajaan Baru diserang oleh
kerajaan Lombok. Karena jumlah prajurit yang tidak seimbang maka kerajaan Baru dengan
mudah dikalahkan oleh kerajaan Lombok. Raja PApuq Mame beserta dengan permaisuri
PApuq Mime melarikan diri ke tengah hutan. Hidup mereka terlunta-lunta. Hingga pada
akhirnya keduanya sudah tidak tahan lagi menjalani kesulitan hidup. Keduanya berencana
untuk berdoa pada Tuhan. ” Istriku setiap kali kita berdoa selalu dikabulkan oleh Tuhan.
Alangkah menyenangkan seandainya kita jadi Tuhan.” Kata Papuq MAme suatu hari. MAka
keduanya kembali berdoa,” Ya Tuhanku selama ini Engkau sungguh baik kepada kami.
Sekarang kami kembali memohon kebaikanmu, jadikanlah kami Tuhan seperti halnya
dirimu.”. Setelah selesai berdoa keduanya berubah kembali pada asalnya yaitu lembaran kulit
kerbau yang tidak tahu akan dijadikan apa oleh manusia.

• PESAN MORAL: Papuq Mame dan Papuq Mime adalah gambaran makhluk Tuhan yang
tidak pernah puas atas nikmat Tuhan yang diberikan padanya sehingga ia dijatuhkan dari
tingkatan tertinggi sebagai raja menjadi tingkatan terendah, lebih rendah dari sebelumnya
sebagai sandal Sang Raja yaitu menjadi kulit kerbau
DONGENG TIKUS KOTA DAN TIKUS DESA ( Fabel)

Suatu hari seekor Tikus Kota pergi mengunjungi sepupunya yang tinggal di suatu desa.

T.Kota : “Huuu peerkampuungan ini kumuh sekali ya, bau. Ini menjijikan. Tapi aku harus
tetap melewatinya agar dapaat bertemu dengan kawanku.”

Walaupun mereka begitu berbeda, si Tikus Desa menyambut tamunya dengan antusias.
Ditawarkannya makanan paling enak yang dia punya, kacang dan daging, keju dan roti,
semuanya! Si Tikus Kota boleh mengambil yang mana saja sepuasnya.

T. Desa : Selamat datang kawan terbaik ku, makanlah terlebih dahulu. Kau pasti lapar sekali.

T.Kota : aku merindukanmu kawanku. Wow kau pasti memasak makanan yang lezat.

T. Desa : ahh ini hanya makanan sederhana dari kebun.

Seusai makan Tikus Kota, dengan sedikit angkuh berkata kepada kawannyanya,

T.Kota : "Aku tidak bisa mengerti, bagaimana kamu dapat hidup dengan makanan yang
buruk seperti ini, tapi tentu saja kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang lebih baik di desa.
Bukankah begitu? Mari ikutlah aku dan aku akan menunjukkan kepadamu apa itu hidup yang
sesungguhnya. Kalau kamu telah merasakan hidup di kota barang seminggu saja, aku
yakin, kamu akan lupa pada kehidupanmu yang di desa sekarang ini. Bahkan mungkin kamu
akan bertanya-tanya bagaimana kamu pernah bisa hidup di desa. "

Tak lama kemudian, kedua tikus itu berangkat ke kota dan tiba di kediaman Si Tikus Kota
larut malam.

"Kamu pasti lapar, setelah perjalanan yang cukup panjang tadi. Mari kita menyegarkan diri
sedikit," kata Tikus Kota dengan sopan, dan membawa temannya ke suatu ruang makan yang
besar dan mewah. Di sana mereka menemukan sisa-sisa pesta, dan segera dua tikus itu
memakan jeli dan kue yang semua enak sekali.

Tiba-tiba mereka mendengar ada yang menggeram dan menggonggong.

"Apa itu?" tanya Tikus Desa.

"Ah, hanya seekor anjing saja," jawab yang lain.

"Saja?!" teriak si Tikus Desa. "Aku tak suka musik jenis ini di acara makan malamku."

Tepat pada saat itu pintu terbuka, di datang dua ekor anjing penjaga besar, dan dua tikus itu
segera turun dari meja dan berlari cepat menyelamatkan diri.

T. Desa :"Selamat tinggal kawan aku harus balik ke desa" kata si Tikus Desa.

T.Kota : "Apa?! Pergi begitu cepat?" tanya yang lain.


T.Desa : "Ya," jawabnya, "Lebih baik kacang dan daging, namun disantap dengan damai
daripada kue dan anggur dalam ketakutan."

"Kamu mungkin memiliki kemewahan dan segala sesuatu yang lezat yang tidak saya miliki,"
kata tikus desa sambil beranjak pergi tergesa-gesa, "Tetapi saya lebih memilih makanan dan
kehidupan sederhana di desa dengan segala kedamaian dan ketenangan di sana."

Kehidupan sederhana yang aman lebih baik dibandingkan kehidupan mewah yang dikelilingi
oleh rasa takut dan ketidak-pastian.