Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Bidai atau spalk adalah alat dari kayu, anyaman kawat atau bahan lain yang kuat tetapi ringan
yang digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian tulang yang patah tidak bergerak
(immobilisasi) yang bertujuan Mencegah pergerakan / pergeseran dari ujung tulang yang patah,
Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang patah, Memberi istirahat pada
anggota badan yang patah, Mengurangi rasa nyeri dan Mempercepat penyembuhan Pada saat
kita melakukan suatu kegiatan, tidak jarang kita akan mengalami kecelakaan. Misal, saat
melakukan perkemahan. jika di dalam perkemahan itu tidak ada dokter maka yang bertugas
untuk melakukan pertolongan pertama pada teman/ salah seorang dari anggota perkemahan
cidera atau terluka adalah kita. Jadi kita harus mengetahui bagaimana cara dalam melakukan
P3K. Salah satu P3K pada pramuka adalah PEMBIDAIAN. Untuk itu dalam makalah ini akan
dijelaskan tentang pembidaian.

2. Rumusan masalah
a.Apa itu pembidaian ?
b. Apa itu transportasi ?

3. Tujuan
a. Untuk mengetahui pembidaian
b. untuk mengatahui transportasi

1
BAB II
PEMBAHASAN

1.1 BALUT BIDAI


A. PENGERTIAN
Balut bidai adalah penanganan umum trauma ekstremitas atau imobilisasi dari
lokasi trauma dengan menggunakan penyangga misalnya splinting (spalk).

B. TUJUAN BALUT BIDAI


1. Mempertahankan posisi bagian tulang yang patah agar tidak bergerak
2. Memberikan tekanan
3. Melindungi bagian tubuh yang cedera
4. Memberikan penyokong pada bagian tubuh yang cedera.
5. Mencegah terjadinya pembengkakan
6. Mencegah terjadinya kontaminasi dan komplikasi
7. Memudahkan dalam transportasi penderita.

Indikasi Pembidaian

1. Adanya fraktur, baik terbuka maupun tertutup


2. Adanya kecurigaan terjadinya fraktur
3. Dislokasi persendian

Kecurigaan adanya fraktur bisa dimunculkan jika pada salah satu bagian tubuh
ditemukan :
1. Pasien merasakan tulangnya terasa patah atau mendengar bunyi krek.
2. Ekstremitas yang cedera lebih pendek dari yang sehat, atau mengalami
angulasi abnormal
3. Pasien tidak mampu menggerakkan ekstremitas yang cedera
4. Posisi ekstremitas yang abnormal
5. Memar
6. Bengkak
7. Perubahan bentuk
8. Nyeri gerak aktif dan pasif
9. Nyeri sumbu
10. Pasien merasakan sensasi seperti jeruji ketika menggerakkan
ekstremitasyang mengalami cedera (Krepitasi)
11. Perdarahan bisa ada atau tidak
12. Hilangnya denyut nadi atau rasa raba pada distal lokasi cedera
13. Kram otot di sekitar lokasi cedera

2
Kontra Indikasi Pembidaian

Pembidaian baru boleh dilaksanakan jika kondisi saluran napas, pernapasandan sirkulasi
penderita sudah distabilisasi. Jika terdapat gangguan sirkulasidan atau gangguan
persyarafan yang berat pada distal daerah fraktur, jika ada resiko memperlambat
sampainya penderita ke rumah sakit, sebaiknyapembidaian tidak perlu dilakukan.

Komplikasi Pembidaian dan pembalutan

Jika dilakukan tidak sesuai dengan standar tindakan, beberapa hal berikut bisa
ditimbulkan oleh tindakan pembidaian :
1. Cedera pembuluh darah, saraf atau jaringan lain di sekitar fraktur oleh ujung fragmen
fraktur, jika dilakukan upaya meluruskan atau manipulasilainnya pada bagian tubuh
yang mengalami fraktur saat memasang bidai.
2. Gangguan sirkulasi atau saraf akibat pembidaian yang terlalu ketat.
3. Keterlambatan transport penderita ke rumah sakit, jika penderitamenunggu
terlalu lama selama proses pembidaian.

Pembalutan yang kurang tepat dapat mnimbulkan brbagai komplikasi. Jika balutan
yang di pakai menggunakan kain yang tidak steril maka dapat terjadi infeksi,selain itu
kuat lemahnya ikatan pembalut juga dapat menyebabkan komplikasi,jika pembalutan
terlalu kencang maka akan menghambat aliraan darah sehingga dapat menyebabkan
kerusakan pada syaraf dan pembuluh darah,namun ketika pembalutan terlalu kendor
dapat mengakibatkan pendarahan yang berlebih pada vena.

Jenis Pembidaian

1. Pembidaian sebagai tindakan pertolongan sementara


Dilakukan di tempat cedera sebelum penderita dibawa ke rumah sakit.Bahan untuk bidai
bersifat sederhana dan apa adanya.Bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri dan
menghindarkan kerusakan yang lebihberat.B i s a d i l a k u k a n o l e h s i a p a p u n
y a n g s u d a h m e n g e t a h u i p r i n s i p d a n t e k n i k d a s a r pembidaian.

2. Pembidaian sebagai tindakan pertolongan definitif


Dilakukan di fasilitas layanan kesehatan (klinik atau rumah sakit).Pembidaian dilakukan
untuk proses penyembuhan fraktur/dislokasi.Menggunakan alat dan bahan khusus sesuai
standar pelayanan (gips, dll).Harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih

C. PRINSIP PEMASANGAN BALUT BIDAI


1. Bahan yang digunakan sebagai bidai tidak mudah patah atau tidak terlalu lentur
2. Panjang bidai mencakup dua sendi
3. Ikatan pada bidai paling sedikit dua sendi terikat, bila bisa lebih dari dua ikatan lebih
baik.
4. Ikatan tidak boleh terlalu kencang atau terlalu longgar.
5. Prinsip pertolongan pertama pada patah tulang

3
6. Pertahankan posisi
7. Cegah infeksi
8. Atasi syok dan perdarahan
9. Imobilisasi (fiksasi dengan pembidaian)
10. Pengobatan :
a. Antibiotika
b. ATS (Anti Tetanus Serum)
c. Anti inflamasi (anti radang)
d. Analgetik/ pengurang rasa sakit

D. SYARAT – SYARAT BALUT BIDAI :

1. Cukup kuat untuk menyokong


2. Cukup panjang
3. Diberi bantalan kapas
4. Ikat diatas dan dibawah garis fraktur (garis patah)
5. Ikatan tidak boleh terlalu kencang atau terlalu kendur.

E. MACAM-MACAM PEMASANGAN BALUT BIDAI


1. Spalk kayu
2. Pneuma splint
3. Traksi
4. Vacuum matras
5. Neck collar.

F. FRAKTUR
1. Pengertian
a. Fraktur adalah Putusnya hubungan tulang yang diakibatkan karena ruda paksa/
benturan.
2. Patah Tulang Lengan Atas
3. Tindakan :
a. Letakkan lengan bawah di dada dengan telapak tangan menghadap ke dalam
b. Pasang bidai dari siku sampai ke atas bahu
c. Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah

4
d. Lengan bawah di gendong.
e. Jika siku juga patah dan tangan tak dapat di lipat, pasang bidai sampai kelengan
bawah dan biarkan tangan tergantung tidak usah digendong
f. Bawah korban ke rumah sakit

4. Patah Tulang Lengan Bawah


5. Tindakan :
a. Letakkan tangan pada dada.
b. Pasang bidai dari siku sampai punggung tangan
c. Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah
d. Lengan di gendong
e. Kirim korban ke rumah sakit.

6. Patah Tulang Paha


a. Tindakan :
b. Pasang 2 bidai dari:
i. Ketiak sampai sedikit melewati mata kaki
ii. Lipat selangkangan sampai sedikit melewati mata kaki
c. b.Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah. Bila
perlu ikat kedua kaki di atas lutut dengan pembalut untuk mengurangi
pergerakan.
7. Patah Tulang Betis
a. Tindakan :
b. Pembidaian 2 buah mulai dari mata kaki sampai atas lutut
c. Diikat
d. Beri bantalan di bawah lutut dan di bawah mata kaki

5
e.

A. PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN


1. Mitela yaitu pembalut berbentuk segitiga
2. Dasi yaitu mitela yang telipat-lipat sehingga berbentuk dasi
3. Pita yaitu penbalut berperekat
4. Pembalut yang spesifik
5. Kassa steril
6. Sarung tangan steril bila perlu.
B. PROSEDUR KERJA
1. Jelaskan prosedur kepada klien dan tanyakan keluhan klien
2. Cuci tangan dan gunakan handscoen steril
3. Jaga privasi klien
4. Lihat bagian tubuh yang akan dibidai
5. Atur posisi klien tanpa menutupi bagian yang akan dilakukan tindakan
6. Lepaskan pakaian atau perhiasan yang menutupi tenpat untuk mengambil tindakan.
7. Perhatikan tempat yang akan dibalut:
a. Bagian tubuh yang mana
b. Apakah ada bagian luka terbuka atau tidak
c. Bagaimana luas luka.
d. Apakah perlu membatasi gerak bagian tertentu atau tidak
8. Lakukan balut bidai dengan melewati dua sendi
9. Hasil balut bidai:
a. Harus cukup jumlahnya, dimulai dari bagian bawah tempat yang patah

6
b. Tidak kendor dan keras.
10. Rapikan alat-alat yang tidak pergunakan.
11. Buka sarung tangan jika dipakai dan cuci tangan
12. Evaluasi dan dokumentasi tindakan.
C. PERHATIAN
1. Pemasangan hati-hati
2. Ingat nyeri dan kemungkinan syok

Jenis- jenis pembalut dan bidai

Pembalut :

1. Pembalutan cepat,dapat dipasang secara cepat,pembalutan menggunakan pembalut


gulung dan kain steril
2. Pembalut segitiga yang disebut Mitela,terbuat dari kain tipis dengan ukuran 125 cm dan
tinggi 50 cm. mitela dapat dilipat-lipat sehingga dapat digunakan sesuai kebutuhan.
3. Pembalut gulung atau pita,mempunyai berbagai macam ukuran sesuai tempat luka.

Bidai :

1. Bidai rigid : bidai ini terbuat dari baahan yang keras seperti kayu atau
aluminium,mnggunakan bidai ini harus dilapisi terlebih dahulu menggunakan kain agar
bidai tidak menambah luka pada korban
2. Bidai soft : bidai ini terbuat dari bahan yang lunak contohnya handuk,bantal atau
selimut
3. Bidai traksi : untuk menstabilkan tulang yang patah.

7
1.2 TRANSPORTASI

Pengertian

Transportasi pasien adalah sarana yang digunakan untuk mengangkut penderita/korban dari
lokasi bencana kesarana kesehatan yang memadai dengan aman tanpa memperberat keadaan
penderita ke sarana kesehatan yang memadai.
Seperti contohnya alat transportasi yang digunakan untuk memindahkan korban dari lokasi
bencana ke RS atau dari RS yang satu ke RS yang lainnya. Pada setiap alat transportasi minimal
terdiri dari 2 orang paramedic dan 1 pengemudi (bila memungkinkan ada 1 orang dokter).

Persiapan Transportasi

 Penderita
Seorang penderita gawat darurat dapat ditransportasikan bila penderita tersebut siap
(memenuhi syarat) untuk ditransportasikan yaitu:
1. Gangguan pernapasan dan kardiovaskuler telah ditanggulangi -resusitasi:bila
diperlukan
2. Perdarahan dihentikan
3. Luka tertutup
4. Patah tulang di fiksasi

 Tempat tujuan
Tempat dan tujuannya sudah jelas
a. Sarana alat
b. Personil
c. Penilaian layak pindah : kondisi stabil

Prinsip dasar pemindahan penderita gawat darurat


Ada banyak prinsip yang dapat dijadikan panduan dalam perawatan pra rumah
sakit,namun aspek yang utama adalah “ DO NOT FULTHER HARM” atau “ JANGAN
MEMBUAT CEDERA SEMAKIN PARAH”

Prosedur Transport Pasien


Prosedur untuk transport pasien antara lain:
1. lakukan pemeriksaan menyeluruh
Pastikan bahwa pasien yang sadar bias bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan diatas
usungan. jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas(airway)
2. Amankan posisi tandu di dalam ambulans
Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisi aman selama perjalanan ke rumah sakit.
3. Posisikan dan amankan pasien
Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan.
4. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu, Tali ikat keamanan digunakan ketika
pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans sesuaikan kekecangan tali pengikat sehingga
dapat menahan pasien dengan aman.
5. Persiapkan jika timbul komplikasi pernapasan dan jantung jika kondisi pasien cenderung
berkembang ke arah henti jantung letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah
matras sebelum ambulans dijalankan.
6. Melonggarkan pakaian yang ketat
7. Periksa perbannya

8
8. Periksa bidainya
9. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien
10. Naikkan barang-barang pribadi
11. Tenangkan pasien.

Alat-alat transportasi
1. Long spine board
Alat ini biasanya terbuat dari kayu/fiber yang tidak menyerap cairan. Biasanya ada
lubang dibagian sisinya untuk tali pengikat.
Indikasi : untuk pasien yang dicurigai cidera tulang belakang.
2. Brankard
Hal yang harus diperhatikan :
a. Sedapat mungkin dilakukan fiksasi supaya posisi penderita mantap
b. Jangan meninggalkan penderita sendiri di atas brankard. Penderita mungkin
akan berusaha membalik yang berakibat pada terbaliknya brankar.
3. Tandu sekop
Tandu sekop memiliki bentuk yang berbeda ,bagian alas tandu skop berbentuk cekung.
Meski bentuknya demikian,tetap membuat orang yang ditandu berada dalam posisi
nyaman.

Teknik Pemindahan Pada Pasien


Teknik pemindahan pada klien termasuk dalam transport pasien seperti pemindahan
pasien dari satu tempat ke tempat lain baik menggunakan alat transport seperti ambulance dan
branker yang berguna sebagai pengangkut pasien gawat darurat.
1. Pemindahan klien dari tempat tidur ke brankar
Memindahkan klien dri tempat tidur ke brankar oleh perawat membutuhkan bantuan
klien.Pada pemindahan klien ke brankar menggunakan penarik atau kain yang ditarik untuk
memindahkan klien dari tempat tidur ke branker. Brankar dan tempat tidur ditempatkan
berdampingan sehingga klien dapat dipindahkan dengan cepat dan mudah dengan
menggunakan kain pengangkat Pemindahan pada klien membutuhkan tiga orang pengangkat.
2. Pemindahan klien dari tempat tidur ke kursi
men.elaskan prosedur terlebih dahulu pada klien sebelum pemindahan Kursi
ditempatkan dekat dengan tempat tidur dengan punggung kursi sejajar dengan bagian kepala
tempat tidur.Pemindahan yang aman adalah prioritas pertama ketika memindahkan klien dari
tempat tidur ke kursi roda perawat harus menggunakan mekanika tubuh yang tepat.
3. Pemindahan pasien ke posisi lateral atau prone ditempat tidur
a. Pindahkan pasien dari ke posisi yang berlawanan
b. Letakan tangan pasien yang dekat dengan perawat ke dada dan tangan yang jauh dari
perawat sedikit kedapan badan pasien
c. Letakan kaki pasien yang terjauh dengan perawat menyilang di atas kaki yang
terdekat
d. Tempatkan diri perawat sedekat mungkin dengan pasien
e. Tempatkan tangan perawat di bokong dan bantu pasien
f. Tarik badan pasien Beri bantal pada tempat yang diperlukan.

Jenis-Jenis Transportasi Pasien

9
Transportasi pasien pada umumnya terbagi atas dua : Transportasi gawat darurat dan kritis
a. transportasi gawat darurat
Setelah penderita diletakan diatas tandu (atau long Spine Board jika diduga patah tulang
belakang) penderita dapat diangkut ke rumah sakit Sepanjang perjalanan dilakukan Survei
Primer resusitasi jika perlu.
1. Mekanika Tubuh saat pengangkatan
Tulang yang paling kuat ditubuh manusia adalah tulang panjang dan yang paling kuat
diantaranya adalah tulang paha (femur) otot-otot yang beraksi pada tulang tersebut juga paling
kuat.
Dengan demikian maka pengangkatan harus dilakukan dengan tenaga terutama pada
paha dan bukan dengan membungkuk angkatlah dengan paha bukan dengan punggung.

Pemindahan tidak darurat oleh satu orang penolong :


1. Human crutch ( memapah)
Berdirilah disamping korban disisi yang cidera atau yang lemah merangkulkan satu lengan
penderita pada leher penolong dan gaitlah tangan korban atau pergelangannya rangkulkan
tangan penolong yang lain dari arah belakang mengait pinggang korban.Bergeraklah pelan-
pelan maju.
2. cara cradle (dibopong)
Jongkoklah disamping korban letakkan satu lengan penolong merangkul dibawah punggung
korban sedikit diatas pinggang letakan tangan yang lain dibawah paha korban tepat dilipatan
lutut Berdirilah pelan-pelan dan bersamaan mengangkat korban.
3. cara pick a back (menggendong)
Jongkoklah didepan korban dengan punggung menghadap korban,anjurkan korban meletakkan
kedua tangannya merangkul diatas pundak penolong,Gapailah dan peganglah paha korban
,Berdirilah pelan-pelan dan bersamaan mengangkat korban.

Pemindahan tidak darurat oleh dua orang penolong :


1. cara ditandu dengan kedua lengan penolong (the two+handed seat)
Kedua penolong jongkok dan saling berhadapan disamping kiri dan kanan korban lengan kanan
penolong kiri dan lengan kiri penolong kanan menyilang dibelakang punggung korban, Kedua
tangan penolong yang menerobos dibawah lutut korban saling bergandengan dan mengait
dengan cara saling memegang pergelangan tangan,Makin mendekatlah para penolong, Tahan
dan aturlah punggung penolong selalu tegap,Berdirilah secara pelan pelan bersamaan dengan
mengangkat korban.
2. Cara the fore and aft carry
Dudukan korban, Kedua lengan menyilang didada,rangkul dengan menyusupkan lengan
penolong dibawah ketiak korban,Pegang pergelangan tangan kiri oleh tangan kanan penolong
dan tangan kanan penolong ketangan kiri korban, Penolong yang lain jongkok disamping
korban setinggi lutut dan mencoba mengangkat kedua paha korban

Teknik angkat langsung dengan tiga penolong :


•Ketiga penolong berlutut pada salah satu sisi penderita jika memungkinkan beradalah pada
sisi yang paling sedikit cidera
•Penolong pertama menyisipkan satu lengan dibawah leher dan bahu,lengan yang satu
disisipkan dibawah punggu penderita
•Penolong kedua menyisipkan tangan punggung dan bokong penderita
•Penolong ketiga menyisipkan lengan dibawah bokong dan dibawah lutut penderita.

10
• Penderita siap diangkat dengan satu perintah
• Angkat penderita diatas lutut ketiga penolong secara bersamaan
• Sisipkan tandu yang akan digunakan dan atur letaknya oleh penolong yang lain
• Letakan kembali penderita penderita diatas tandu dengan satu perintah yang tepat
• Jika akan berjalan tanpa memakai tandu dari langkah no 6 terus dengan memiringkan
penderita kedada penolong
• Penolong berdiri secara bersamaan dengan satu perintah.

b.Transportasi Kritis
Pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada satu atau lebih sistem tubuh
tergantung pada penggunaan peralatan monitoring dan terapi. Transport intra hospital pasien
kritis harus mengikuti beberapa aturan yaitu:
1. Koordinasi sebelum transport
•Informasi bahwa area tempat pasien akan dipindahkan telah siap untuk menerima pasien
tersebut serta membuat rencana terapi
•Dokter yang bertugas harus menemani pasien dan komunikasi antar dokter dan perawat juga
harus terjalin mengenai situasi medis pasien
•Tuliskan dalam rekam medis kejadian yang berlangsung selama transport dan evaluasi kondisi
pasien.

2. Profesional beserta dengan pasien: profesional (dokter atau perawat) harus menemani pasien
dalam kondisi serius.
• Salah satu profesional adalah perawat yang bertugas dengan pengalaman CPR atau khusus
terlatih pada transport pasien kondisi kritis
• Profesional kedua dapat dokter atau perawat Seorang dokter harus menemani pasien dengan
instabilitas fisiologik dan pasien yang membutuhkan urgent action.

3. Peralatan untuk menujang pasien


• Transport monitor
• Blood presure reader
• Sumber oksigen dengan kapasitas prediksi transport dengan tambahan cadangan 30 menit
• Ventilator portable dengan kemampuan untuk menentukan volume/menit pressure FiO2 of
100% and PEEP with disconnection alarm and high airway pressure alarm
• Mesin suction dengan kateter suction
• Obat untuk resusitasi: adrenalin lignocaine, atropine dan sodium bicarbonat
• Cairan intravena dan infus obat dengan sringe atau pompa infus dengan baterai
• Pengobatan tambahan sesuai dengan resep obat pasien tersebut.

11
SOAL :

1. Mana yang termasuk dalam indikasi pembidaian ?

a. Adanya fraktur, baik terbuka maupun tertutup


b. Adanya kecurigaan terjadinya fraktur
c. Dislokasi persendian
d. semua benar ‘

2. Jika dilakukan tidak sesuai dengan standar tindakan dalam melakukan pembidaian maka
yang akan terjadi adalah ?
a. Salah paham
b. gangguan rasa aman dan nyaman
c. Gangguan sirkulasi atau saraf akibat pembidaian yang terlalu ketat’
d. Membuat korban dalam bahya

3. Dalam pembebidaian terdapat dua jenis yaitu ?


a. Pembidaian sebagai tindakan pertolongan sementara dan Pembidaian sebagai tindakan
pertolongan definitif’
b. Human crutch ( memapah)
c. Cara the fore and aft carry
d. Blood presure reader

4. Ada berapa macam dalam melakukan balut bidai ?


a. 3
b. 5’
c. 4
d. 6

5. Salah satu syarat balut bidai ?


a. Ikatan tidak boleh terlalu kencang atau terlalu kendur’
b. Amankan posisi tandu di dalam ambulans
c. Melonggarkan pakaian yang ketat
d. Periksa perbannya

6. Adapun tujuan dalam melakukan balut bidai yaitu ?


a. Posisikan dan amankan pasien
b. Tenangkan pasien.
c. Panjang bidai mencakup dua sendi
d. Mempertahankan posisi bagian tulang yang patah agar tidak bergerak’

7. Prosedur untuk transport pasien antara lain ?


a. Pertahankan posisi
b. Memudahkan dalam transportasi penderita
c. lakukan pemeriksaan menyeluruh’

12
d. Cukup kuat untuk menyokong

8. Pemindahan tidak darurat oleh satu orang penolong ada tiga cara, salah satunya yaitu ?
a. Vacuum matras
b. cara pick a back’
c. Neck collar.
d. Spalk kayu

9. Transport intra hospital pasien kritis harus mengikuti beberapa aturan yaitu Koordinasi
sebelum transport, Profesional beserta dengan pasien: profesional (dokter atau perawat)
harus menemani pasien dalam kondisi serius, Peralatan untuk menujang pasien termasuk
dalam transportasi ?
a. Transportasi Kritis’
b. Transportasi gawat darurat
c. Transportasi ambulans
d. Transportasi klinis

10. Prinsip dasar pemindahan penderita gawat darurat ?


a. Long spine board
b. Profesional beserta dengan pasien
c. DO NOT FULTHER HARM’
d. Mekanika Tubuh saat pengangkatan

13
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Balut bidai ialah pertolongan pertama dgn pengembalian anggota tubuh yg dirasakancukup
nyaman & pengiriman korban tiada gangguan rasa nyeri. (Muriel Street, 1995)
Balut bidai ialah suatu cara buat menstabilkan/menunjang persendian dlm
memanfaatkansendi yg benar/melindungi trauma dari luar (Barbara C Long, 1996)
Jadi balut bidai ialah suatu balutan yg dibalutkan pada area tubuh tertentu dgnmemanfaatkan
perban/mitela yg biasanya disangga balok kayu ataupun besi tujuannya buatmelindungi
trauma, mengurangi pergerakan pada daerah patah / retak

B. SARAN
Dalam melakukan tindakan balut bidai dan dalam melakukan transpotasi korban/pasien kita
harus mengerti prinsip-prinsipnya agar korban selamat dan penolong juga selamat.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. ↑ http://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/getting-stitches-and-caring-
for-stitches?page=2
2. ↑ http://www.medicinenet.com/stitches/page5.htm
3. Perry, Peterson, Potter; Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar
Azis Alimul Hidayat, S.Kp; Buku Saku Praktikum KDM
4. DepartemenKesehatan RI. Penanggulangan Penderita Gawat
Darurat.Jakarta.Departemen Kesehatan. 20032.
5. Stone,Keith. Current Diagnosisi & Treatment: Emergency Medicine. 6th Ed.
Lange.20083.
6. Schwartz. Principle of Surgery. Mc Graw Hill. Eight edition. 20054

15