Anda di halaman 1dari 4

Kriteria inklusi berikut digunakan untuk memilih pasien:

1. didiagnosis dengan gagal jantung oleh dokter

2. fraksi ejeksi kurang dari 35%, ekspresi perasaan lelah oleh pasien, sadar dan mampu
bekerja sama dengan peneliti

3. tidak memiliki masalah pendengaran menurut laporan pasien

4. tidak memiliki gangguan kognitif-mental dan gangguan neuromuskuler

5. tidak memiliki kecanduan obat

6. obat penenang, dan alkohol

7. tidak memiliki pengalaman menggunakan teknik relaksasi[

Latihan dapat memiliki efek menguntungkan pada hasil fisik pasien dengan gagal jantung.
Efek fisiologis dari relaksasi membantu dengan pengobatan gagal jantung seperti memblokir
aktivitas kronis sistem simpatis. 28 Relaksasi otot Benson mengurangi ketegangan otot,
denyut jantung, tingkat kortisol, laju pernapasan, dan laktat darah melalui penciptaan suasana
yang santai. 29 Ini akibatnya mengurangi kelelahan. Yu et al 30 menyoroti bahwa relaksasi
otot progresif mengurangi tekanan psikologis, tetapi efektivitasnya pada kelelahan pada
pasien dengan gagal jantung tidak terbukti. Hasil ini dapat dikaitkan dengan rendahnya
kekuatan penelitian dalam identifikasi efek intervensi. Selain itu, perbedaan hadir dalam hasil
Yu et al ‘s studi 30 dan penelitian ini dapat dicari dalam perbedaan antara jenis teknik
relaksasi dan sampel. Efek dari teknik relaksasi otot Benson atau teknik relaksasi lainnya
pada pasien dengan kondisi kronis dikonfirmasi oleh penelitian sebelumnya. Koushan et al 31
melaporkan bahwa penerapan relaksasi otot Benson dua kali sehari (pagi dan sore) selama 20
menit selama 1 bulan mengurangi pengurangan kelelahan di antara pasien hemodialisis.

Efek relaksasi otot progresif pada kualitas tidur dan kelelahan dilaporkan pada pasien dengan
kanker payudara yang menjalani kemoterapi, 32 penyakit paru obstruktif kronis, 33 dan
multiple sclerosis. 34 Bjorneklett¨ et al 35 menyatakan bahwa intervensi yang mendukung
seperti pendidikan, visualisasi mental, relaksasi otot, dan komunikasi nonverbal untuk 1
minggu, dengan tindak lanjut 4 hari, meningkatkan kualitas hidup pada pasien dengan kanker
payudara dan mengurangi kelelahan setelah 2 bulan dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Meskipun demikian, tidak jelas bahwa apakah temuan penelitian dengan Bjorneklett¨ et al 35
adalah disebabkan oleh metode tertentu atau apakah itu disebabkan oleh efek sinergis dari
berbagai intervensi. Pada hari pertama penelitian, pada kelompok relaksasi Benson, relaksasi
otot Benson dideskripsikan kepada pasien melalui metode tatap muka. Seorang peneliti yang
berpendidikan dan bersertifikat menjelaskan prosedur kepada pasien dalam sesi 30-45 menit
dan ambiguitas apa pun diklarifikasi. Dari hari kedua, pasien diminta untuk melakukan teknik
ini. Para pasien diberikan file audio melalui headphone menggunakan pemutar MP3. Dalam
file audio ini, instruksi disajikan dalam 20 menit tanpa perlu mengatur alarm untuk

1
menentukan durasi prosedur. Dalam file ini, 30 detik sebelum akhir prosedur, sebuah musik
ringan diputar untuk memberi tahu pasien tentang akhir prosedur. Untuk melakukan relaksasi
otot, pasien diminta untuk duduk atau berbaring dalam posisi yang nyaman di tempat tidur
dan menutup mata mereka. Selama intervensi, peserta diminta untuk memblokir pikiran
mengganggu dari pikiran sebanyak mungkin dan memilih kata yang menenangkan, yang
selalu menjadi pengingat ketenangan (misalnya, cinta dan laut) dan mulai bernapas dalam-
dalam dan teratur. Pasien harus menarik napas melalui hidung dan menghembuskan napas
melalui mulut, sambil mengulangi kata yang menenangkan. Para pasien diminta untuk
mengendurkan semua otot mereka, mulai dari kaki mereka dan maju ke tubuh bagian atas dan
kepala sampai semua otot mereka rileks. Mereka dapat menghentikan prosedur kapan pun
mereka mau atau tidak nyaman. Selanjutnya, pasien diminta untuk membuka mata mereka
dan tetap dalam keadaan istirahat sampai mencapai kecepatan relaksasi yang diinginkan. Para
peserta mengikuti prosedur ini di pagi hari (sekitar 8 hingga 10 pagi ) dan pada malam hari
(sekitar pukul 6 hingga 8 malam ) dua kali sehari selama 3 hari berturut-turut. Investigator
koin memonitor dan mengikuti proses melakukan teknik relaksasi oleh pasien.

Kelelahan merupakan permasalahan fisik maupun psikologis yang ditemukan pada pasien
gagal jantung. Kelelahan adalah ketidakberdayaan secara fisik maupun psikologis sehingga
menyulitkan pasien untuk beraktifitas yang pada akhirnya akan terjadi penurunan
produktifitas dan kualitas hidup pasien. Kelelahan terjadi akibat penurunan jumlah energi
strategis tubuh sebagai konsekuensi dari penurunan sirkulasi di jaringan.

Menurut penelitian Woung-Ru, T., Chiung-Yao, Y., & San-Jou, Y. (2010) menjelaskan
bahwa salah satu prediktor kelelahan pada pasien gagal jantung adalah kecemasan.
Kecemasan merupakan masalah psikologis penyebab fatigue (Evangelista, Lorraine S.,
2008). Selain masalah psikologis, kelelahan pada pasien gagal jantung juga disebabkan oleh
masalah fisiologis yang terjadi akibat penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan.

Gangguan sirkulasi terjadi akibat kegagalan jantung dalam memompa, gangguan


vaskulasrisasi dan gangguan metabolism pembentukan energi (Andrea, F., & da Cruz, D. M.,
2009). Penurunan produktivitas pada pasien gagal jantung disebabkan oleh kelelahan.

Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen karena jantung gagal


mempertahankan sirkulasi mengakibatkan terjadinya kelelahan (Smith, Kupper, De Jonge, &
Denollet, 2010). Kelelahan terjadi akibat penurunan kapasitas fisik pasien gagal jantung
dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang berakibat menurunnya kemampuan pasien
dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Kelelahan merupakan salah satu gejala gagal jantung
(Li-Huan, Chung-Yi, Shyh-Ming, Wei-Hsian, & Ai-Fu, 2010). Pada pasien gagal jantung
terjadi perubahan neurobiokimiawi sebagai respon kompensasi akibat gangguan yang terjadi.
Penurunan curah jantung akan menyebabkan vasokonstriksi yang memperburuk sirkulasi
sehingga kondisi perfusi perifer mengalami penurunan. Kondisi tersebut akan menyebabkan
kelelahan pada pasien gagal jantung (Woung-Ru, Chiung-Yao, & San-Jou, 2010). Respon
psikologis yang terjadi akibat gagal jantung adalah ansietas dan atau depresi (Chen, Liu,
Yeh, Chiang, & Hsieh, 2013). Gangguan psikologis terjadi akibat aktivitas sitokin serta
akibat dari respon simpatis yang akan memicu neurotransmiter seperti serotonin dan

2
katekolamin sebagai respon adaptif dari gagal jantung. Sebanyak 76% penderita gagal
jantung mengalami depresi dan kecemasan yang mengarah pada kelelahan. Penelitian lain
menemukan bahwa 75% pasien gagal jantung mengalami kelelahan (Evangelista, 2008).
Angka ini terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia pasien. Selain gangguan fisik,
gangguan psikologis juga turut berperan dalam menyebabkan kelelahan (Smith, van den
Broek, Renkens, & Denollet, 2008).

Teknik relaksasi merupakan intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah
terutama akibat respon saraf simpatis.

Dengan dilakukannya teknik relaksasi, diharapkan dapat menstimulasi saraf parasimpatis


yang akan meredakan ketegangan otot, vasodilatasi, dan yang paling utama adalah dapat
mengatasi kelelahan.

Beberapa penelitian menunjukan bahwa teknik relaksasi dapat menekan respon simpatis dan
menstimulasi respon parasimpatis. Hasil penelitian menunjukan bahwa relaksasi otot
progresif secara efektif dapat menurunkan tekanan darah, baik sistolik maupun
diastolik.Teknik relaksasi juga sering dilakukan pada pasien dengan penyakit jantung,
terutama untuk meredakan kecemasan yang akan menyebabkan respon simpatis serta menjadi
salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kelelahan berkaitan dengan perubahan
neurohormonal pada penderita gagal jantung adanya relaksasi maka pembuluh darah
diharapkan dapat dilatasi yang berimplikasi pada menurunnya resistensi perifer yang secara
langsung akan menurunkan beban kerja jantung. Dilatasi pembuluh darah terjadi akibat
sekresi agen vasoaktif yang jumlahnya akan meningkat jika tubuh berada pada kondisi
relaksasi.

Penurunan beban kerja jantung akan memberikan dampak posistif pada pasien gagal jantung
dengan memberikan kesempatan pada miokard untuk relaksasi (Figueroa, Michael, & Peters,
2006).

efek relaksasi dengan cara menstimulasi pengeluaran endorfin di otak yang berefek menekan
aktifitas saraf simpatis dan menstimulasi aktivasi saraf parasimpatis (Chen et al., 2013). maka
pembuluh darah akan dilatasi, otot akan relaksasi, serta kondisi psikologis akan lebih baik
karena peningkatan endorfin dan serotonin di otak. Pada fase tersebut, maka sirkulasi ke
jaringan sistemik akan mengalami perbaikan meskipun jantung mengalami penurunan dalam
aspek kontraktilitas maupun curah jantung.

Perbaikan sirkulasi akan mengatasi kelelahan yang dialami. Katabolisme akan terjadi,
glukoneogenesis berlangsung dengan baik sehingga jaringan mendapatkan energi.

Peningkatan jumlah energi strategis dalam tubuh akan secara langsung mengatasi kelelahan
yang d ialami pasien dengan catatan pasien beraktivitas sesuai toleransinya.

mengatasi kelelahan adalah dengan cara merelaksasikan beberapa kumpulan otot di area
punggung yang akan merangsang sistem limbik di hipotalamus untuk mengeluarkan

3
corticotropin releasing factor (CRF). Substansi tersebut akan menstimulasi hipofisis untuk
meningkatkan sekresi endorfin dan pro opioid melano cortin (POMC) yang akan
meningkatkan produksi ensefalin oleh medula adrenal sehingga akan memengaruhi suasana
hati dan member

Newberg dan Waldman (2013) yang menemukan bahwa perasaan nyaman, baik secara fisik
maupun psikologis, merupakan respon dari pengeluaran hormon endorfin.

Relaksasi akan memicu pengeluaran hormon endorfin. Hormon tersebut berbentuk


polipeptida yang mengandung 30 unit asam amino yang mengikat pada reseptor opiat di otak.
Hormon ini bertindak seperti morphine, bahkan dikatakan 200 kali lebih efektif dari
morphine. Endorfin mampu menimbulkan perasaan euforia, bahagia, nyaman, menciptakan
ketenangan dan memperbaiki suasana hati seseorang hingga membuat seseorang rileks.
Relaksasi akan memicu limbik sistem dan memicu hipotalamus untuk

mensekresikan endorfin. Dalam kondisi tersebut, maka konsentrasi endorfin di otak akan
meningkat.

Peningkatan endorfin di otak akan menciptakan perasaan rileks secara fisik. Dengan
meningkatnya endorfin maka sekresi kortisol akan ditekan sehingga pasien akan merasakan
sensasi rileks secara psikologis. Peningkatan endorfin setelah dilakukan pijat punggung akan
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah yang berimplikasi pada perbaikan sirkulasi
dimana terjadi perbaikan suplai oksigen dan energi. Selain itu, perasaan rileks akan
menurunkan laju metabolisme serta menurunkan kebutuhan energi.

Peningkatan endorfin akan diikuti dengan penekanan kortisol secara simultan. Dengan
menurunnya kortisol, maka akan mengurangi masalah psikologis seperti depresi dan
kecemasan. Kecemasan merupakan salah satu prediktor terjadinya kelelahan pada pasien
gagal jantung. Jika kecemasan dapat teratasi, maka skor kelelahan akan mengalami
penurunan. Hal ini berkaitan dengan stres hormon yang akan meningkat selama terjadinya
kecemasan.

Perbaikan kondisi psikologis pada pasien gagal jantung mengarah pada penurunan skor
fatigue terlebih jika diikuti dengan perbaikan pada parameter fisiologis. Teknik relaksasi
dapat memengaruhi parameter fisiologis seperti tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan,
suhu, dan saturasi oksigen.

Penurunan skor kecemasan akan menciptakan kenyamanan fisik dan psikologis. Dengan
meningkatnya kenyamanan, maka kualitas istirahat pasien akan lebih baik sehingga proses
konservasi energi akan lebih optimal. Manfaat berikutnya adalah penurunan beban kerja
jantung pada fase after load dikarenakan vasodilatasi pembuluh darah dan penurunan tekanan
darah pada pasien gagal jantung setelah dilakukan intervensi.