Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dermatitis adalah suatu reaksi peradangan kulit yang karakteristik terhadap
berbagai rangsangan endogen maupun eksogen. Penyakit ini sangat sering dijumpai.
Pravalensi dari bentuk dermatitis adalah 4,66%, termasuk dermatitis atopik 0,69 % ,
dermatitis seboroik 2.82 %. Dermatitis menggambarkan kelompok penyakit dengan
gambaran histologik dan klinis yang bervariasi tergantung dari stadium penyakitnya.
Istilah dermatitis berasal dari bahasa yunani, yang menggambarkan bahwa epidermis
mengalami spongiosis, yakni adanya vesikula intraepidermal yang terjadi karena
adanya edema interseluler. Spongiosis ini merupakan gambaran karakteristik dari
stadium tertentu pada beberapa penyakit dan dermatitis (peradangan kulit)`
Klasifikasi dermatitis didasarkan atas kriteria patogenik, walaupun
kebanyakan bentuk penyakit tidak diketahui. Dermatitis dibagi atas 2 tipe : endogen
(konstitusional) dan eksogen. Ada lagi yang membaginya tiga : endogen, eksogen,
dan penyebabnya yang tidak diketahui. Contoh dermatitis endogen adalah dermatitis
atopik, dermatitis seboroik, liken simplek kronis, dermatitis nonspesifik (pompoliks,
dermatitis numuler, dernatitis xerotik, dermatitis otosensitisasi), dan dermatitis karena
obta, sedangkan dermatitis eksogen adalah dermatitis kontak iritan,dermatitis kontak
alergik, dermatitis fotoalergik,dermatitis infektif, dan dermatofitid. Beberapa buku
memasukkan dermatitis atopik, dermatitis seboroik, iken simlek kronik, dermatitis
stasis, pompoliks, dan dermatitis numularis pada dermatitis yang tak diketahui
penyebabnya. Ada juga pembagian lain yang saling tumpang tindih.
Selama 30 tahun terakhir, peningkatan prevalensi dari penyakit atopic
dermatitis (AD) di dunia mencapai 18 % pada anak-anak dan 5 % pada orang dewasa.
Selain itu Allergic Contact Dermatitis (ACD) terjadi sekitar 7 % dari populasi umum,
diantaranya 3-24 % pada anak dan 33-64 % pada lansia (Silny dkk,2013).
Gambaran sepuluh (10) penyakit terbanyak pada penderita rawat jalan di
Rumah sakit umum di Indonesia yang diperoleh dari Ditjen Pelayanan Medik
Departemen Kesehatan tahun 2009, ditemukan jumlah kasus penyakit kulit dan
jaringan subkutan lainnya yakni sebesar 247.256 kasus diantaranya 99.303 kasus pada
laki-laki dan 147.953 kasus pada perempuan (Ahmad dkk, 2009). Dan pada tahun
2010 terdapat 122.076 kasus diantaranya 48.576 kasus pada laki-laki dan 73.500

1
kasus pada perempuan (Ahmad,dkk 2010). Untuk itu, pada kasus penyakit dermatitis
yang semakin membludak ,diperlukannya asuhan keperawatan yang adekuat.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Menjelaskan mengenai penyakit dermatitis atau peradangan kulit dan asuhan
keperawatan pada pasien dermatitis.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti pembelajaran mahasiswa mampu menjelaskan :
a. Anatomi fisiologi kulit
b. Pengertian dermatitis
c. Macam-macam dermatitis
d. Penyebab dermatitis
e. Patofisiologi dermatitis
f. Manifestasi klinik dermatitis
g. Pemeriksaan diagnostik dermatitis
h. Penatalaksanaan medik dermatitis
i. Komplikasi dermatitis
j. Asuhan keperawatan secara umum
k. Asuhan keperawatan kasus

C. Sistematika Penulisan
Penulis membagi penulisan laporan yang terdiri dari bab 1 yaitu pendahuluan
yang berisi latar belakang, tujuan penulisan makalah, dan sistematika penulisan. Lalu
bab 2 yaitu konsep dasar penyakit dermatitis yang berisi anatomi fisiologi kulit,
pengertian, macam-macam dermatitis, penyebab, patofisiologi, manifestasi klinik,
pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medik, dan komplikasi pada dermatitis.
Selanjutnya bab 3 yaitu konsep asuhan keperawatan secara umum pada pasien
dermatitis. Lalu di bab 4 yaitu asuhan keperawatan kasus dermatitis pada Ny.I beserta
pembahasan kasus. Terakhir bab 5 yaitu kesimpulan dan saran.

2
BAB II

KONSEP DASAR PENYAKIT DERMATITIS

A. Anatomi Fisiologi Kulit

1. Anatomi Kulit
Kulit adalah suatu organ yang paling luas permukaannya sebagai
pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, kulit merupakan organ terberat dan
terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang
dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi.
Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari
letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis,
labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat
pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong.
Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar
adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ektoderm sedangkan
lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang
merupakan suatu lapisan jaringan ikat.
a. Epidermis
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri
dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans
dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh,
paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5
% dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu.
Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang
terdalam) :

3
1) Stratum Korneum
Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti.
2) Stratum Lusidum
Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak
kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.
3) Stratum Granulosum
Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah
dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula
keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel
Langerhans.
4) Stratum Spinosum
Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril,
dianggap filamenfilamen tersebut memegang peranan penting untuk
mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi.
Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan
mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum
basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel
Langerhans.
5) Stratum Basale (Stratum Germinativum)
Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam
pembaharuan sel epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap
28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan
faktor lain. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit.

Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan


sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan
alergen (sel Langerhans).

b. Dermis
Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap
sebagai “True Skin”. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan
menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang
paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. Dermis terdiri dari dua lapisan :
 Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.
 Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat.
4
Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang
dengan bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan
menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus
sampai dewasa. Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah
besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan
kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput.

Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga


mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea
dan kelenjar keringat. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat
epidermis di dalam dermis.

Fungsi Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi,


menahan shearing forces dan respon inflamasi

c. Subkutis
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari
lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit
secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-
beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi
menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.
Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas,
cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber.
2. Vaskularisasi Kulit
Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara
lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan
subkutis. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis,
tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. Pada
epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis
melalui membran epidermis.
3. Fisiologi Kulit
Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh
diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan,
sebagai barrier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi
dan metabolisme. Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan

5
dari elektrolit, bahaya bahan kimia, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier
dari invasi mikroorganisme pathogen serta menjaga keseimbangan antara tubuh
dan lingkungan.
Kulit merupakan indikator bagi seseorang untuk memperoleh kesan
umum. Dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit, misalnya menjadi
pucat, kekuning-kuningan, kemerah-merahan, atau suhu kulit meningkat,
memperlihatkan adanya kelainan yang terjadi pada tubuh atau gangguan kulit
karena penyakit tertentu. Gangguan psikis juga dapat menyebabkan kelainan atau
perubahan pada kulit, misalnya karena stress, ketakutan atau dalam keadaan
marah akan terjadi perubahan pada kulit wajah. Perasaan pada kulit adalah
perasaan reseptornya yang berada di dalam kulit. Perasaan visceral berhubungan
dengan persepsi keadaan intern yang digolongkan sebagai perasaan visceral. Pada
organ sensorik kulit terdapat 4 perasaan, yaitu rasa raba/tekan, dingin, panas dan
sakit.
Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit dalam merespon
rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada daerah bibir, puting
dan ujung jari.
Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan cairan elektrolit.
Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus. Temperatur perifer mengalami proses
keseimbangan melalui keringat, insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa
bukal. Temperatur kulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah
kulit. Bila temperature meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah, kemudian
tubuh akan mengurangi temperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara
mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di kulit. Pada
temperatur yang menurun, pembuluh darah kulit akan vasokontriksi yang
kemudian akan mempertahankan panas.

B. Pengertian Dermatitis
Dermatitis adalah suatu reaksi peradangan kulit (inflamasi) yang karakteristik
terhadap berbagai rangsangan endogen maupun eksogen. Dermatitis dapat akut atau
kronis. Biasanya berhubungan dengan penyakit atopik lainnya. Jenis penyakit kulit ini
kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kulit kering, variasi gen,
disfungsi sistem imun, bakteri pada kulit dan faktor lingkungan.

6
C. Macam-Macam Dermatitis
1. Dermatitis Atopik (Eksim)
Jenis penyakit kulit ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor,
termasuk kulit kering, variasi gen, disfungsi sistem imun, bakteri pada kulit dan
faktor lingkungan. Dermatitis atopik dan kelainan atopik lainnya dapat
dipindahkan melalui transplantasi sumsum tulang. Hal ini menegaskan bahwa sel
darah merupakan vektor untuk manifestasi kelainan kulit.
2. Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau
substansi yang menempel pada kulit dan dikenal dua macam dermatitis kontak
yaitu dermatitis kontak iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergik (DKA),
keduanya dapat bersifat akut maupun kronik. Dermatitis kontak iritan merupakan
reaksi peradangan kulit nonimunologik, jadi kerusakan kulit terjadi langsung
tanpa diketahui proses sensitasi. ‘Eksim tangan’ atau dermatitis kontak iritan
dapat terjadi saat kulit mengalami kontak dengan bahan yang kurang mengiritasi,
seperti sabun atau air, terlalu sering. Sedangkan dermatitis kontak alergik adalah
peradangan kulit yang terjadi setelah kulit terpajan dengan bahan alergen melalui
proses hipersensitivitas tipe lambat. Terjadinya DKA sangat tergantung dari
kemampuan suatu bahan untuk mensensitisasi, tingkat paparan dan kemampuan
masuknya bahan tersebut dalam kulit, oleh karena itu seseorang dapat terkena
DKA apabila terjadi sensitisasi terlebih dahulu oleh bahan alergenik.
Sekitar 80-90% kasus dermatitis kontak iritan (DKI) disebabkan oleh
paparan iritan berupa bahan kimia dan pelarut. Inflamasi dapat terjadi setelah satu
kali pemaparan ataupun pemaparan berulang (keefner, 2004). Dermatitis kontak
alergik terjadi saat kulit mengalami kontak dengan bahan beracun atau bahan
alergen.
3. Dermatitis Fotokontak
Dermatitis ini dapat berbentuk dermatitis toksik ataupun alergik, tergantung
pada jenis bahan yang berkontak. Setelah berkontak dengan bahan tersebut dan di
sinar dengan sinar ultraviolet (UVA), kulit mengalami peradangan dengan
manifestasi eczema. Fotokontak ini sering disebabkan dari efek samping
pengobatan termasuk penggunaan antibiotik, kemoterapi dan diuretik.
Tanda dan gejala dermatitis fotokontak ini antara satu orang dan orang
lainnya berbeda keparahannya. Gejala yang sering muncul adalah muncul ruam

7
kulit dan tampakan kulit terbakar yang membesar. Ruam ini bisa gatal bisa tidak
gatal.
4. Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik adalah penyakit kulit yang biasanya mengenai kulit
kepala dan area tubuh yang berminyak, seperti punggung, dahi , pangkal paha,
serta dada bagian atas. Pada kulit kepala, penyakit ini menyebabkan kulit
berwarna merah, berketombe, dan bersisik. Selain ketombe, dermatitis seboroik
juga sering disebut dengan psoriasis seboroik dan eksim seboroik. Sedangkan
dermatitis seboroik yang menjangkiti bayi disebut dengan cradle cap.
Penyebab pasti terjadinya dermatitis seboroik masih belum diketahui,
namun kemungkinan berkaitan dengan jamur malassezia yang terdapat pada
pelepasan minyak di permukaan kulit. Selain itu, peradangan yang terkait dengan
psoriasis juga bisa menjadi penyebab dermatitis seboroik.
5. Dermatitis Statis
Dermatitis stasis merupakan penyakit inflamasi kulit yang sering terjadi di
ekstremitas bawah (tungkai) pada pasien dengan insufisiensi dan hipertensi vena.
Penyakit ini umumnya menyerang pada usia pertengahan dan usia lanjut serta
jarang terjadi sebelum dekade kelima kehidupan.
Mekanisme terjadinya penyakit dermatitis stasis belum sepenuhnya
dipahami. Terdapat beberapa teori (hipotesis) yang menerangkan proses terjadinya
penyakit ini. Teori pertama mengatakan bahwa terjadi peningkatan tekanan
hidrostatik pada vena sehingga terjadi kebocoran fibrinogen ke dalam dermis.
Fibrinogen ini akan berpolimerasi membentuk selubung fibrinogen perikapiler dan
interstisial sehingga menghalangi difusi oksigen dan nutrisi menuju kulit.
6. Dermatitis Dishidrosis/Pompholyx
Dermatitis dishidrosis merupakan dermatitis vesikular palmoplantar yang
bersifat rekuren atau kronik, di mana etiologinya belum diketahui secara pasti.
Dermatitis dishidrosis disebut juga pompholyx, yang diambil dari istilah Yunani
‘cheiropompholyx’ yang artinya ‘tangan dan gelembung’.
Mekanisme mengenai terjadinya dermatitis dishidrosis sendiri masih belum
jelas. Hipotesis paling awal mengemukakan bahwa lesi-lesi vesikel yang timbul
pada dermatitis dishidrosis disebabkan oleh ekskresi keringat yang berlebihan
(excessive sweating).

8
7. Dermatitis Nummular
Dermatitis nummular adalah dermatitis yang bentuk lesinya yang bulat
seperti uang logam.
Penyebabnya tidak diketahui dengan jelas. Banyak factor berperan untuk
terjadinya dermatitis ini. Kolonisasi lesi oleh stafilokokus dapat memperberat
penyakit meskipun tanpa tanda-tanda infeksi. Meskipun demikian, sensitivitas
alergik terhadap stafilokokus dapat menyebabkan perluasan.

D. Penyebab Dermatitis
1. Penyebab pasti tidak diketahui
2. Mungkin disebabkan kondisi metabolik atau biokimia yang mendasari
3. Mungkin terkait genetik karena peningkatan kadar IgE serum
4. Mungkin defektif fungsi sel T
5. Faktor presipitasi :
 Infeksi
 Alergen
 Suhu yang ekstrem
 Kelembapan
 Berkeringat
 Stres

9
E. Patofisiologi

1. Mekanisme hipersensitivitas alergi yang menyebabkan pelepasan mediator


inflamasi melalui antibodi immunoglobulin (Ig) E sensitisasi.
2. Histamin dan sitokin lainnya memicu respons inflamasi yang menyebabkan
edema, rusaknya integritas kulit, dan pruritus.

10
F. Manifestasi Klinis
Subyektif ada tanda-tanda radang akut terutama triritus (sebagai pengganti
dolor). Selain itu, terdapat pula kenaikan suhu (kalor), kemerahan (rubor), edema atau
pembengkakan dan gangguan fungsi kulit.
Obyektif, biasanya batas kelainan tidak terdapat lesi polimorfi yang dapat
timbul secara serentak atau berturut-turut. Pada permulaan eritema dan edema. Edema
sangat jelas pada kulit yang longgar misalnya muka (terutama palpebra dan bibir) dan
genetalia eksterna. Infiltrasi biasanya terdiri atas papul.
Dermatitis basah berarti terdapat eksudasi. Disana sini terdapat sumber
dermatitis, artinya tedapat fesikel-fesikel fungtiformis yang berkelompok yang
kemudian membesar. Kelainan tersebut dapat disertai bula atau pustule, jika disertai
infeksi. Dermatitis sika atau kering berarti tidak madidans bila gelembung-gelembung
mongering maka akan terlihat erosi atau ekskoriasi dengan krusta. Pada stadium
tersebut terjadi deskuamasi, artinya timbul sisik. Bila proses menjadi kronis tampak
likenifikasi dan sebagai sekuele terlihat hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
 Analisis serum menunjukkan peningkatan kadar IgE
 Kultur jaringan dapat meniadakan superinfeksi bakteri, virus, atau jamur.
 Pemeriksaan alergi dapat mengidentifikasi rhinitis alergik atau asma
alergik.
2. Prosedur Diagnostik
 Uji tempel dan distribusi lesi digunakan untuk menunjukkan alergen
pemicu.
3. Pemeriksaan Lain
 Usap kuat kulit pasien dengan instrumen tumpul menyebabkan urtikaria
berwarna putih, tidak memerah, muncul pada kulit dari 70% pasien dengan
dermatitis atopik.
 Diet dengan menyingkirkan salah satu makanan dapat membantu
mengidentifikasi sedikitnya satu allergen.

11
H. Penatalaksanaan Medik
1. Umum
 Bergantung pada tipe dermatitis
 Menyingkirkan allergen
 Menghindari faktor presipitasi
 Terapi sinar ultraviolet B untuk meningkatkan ketebalan stratum korneum
 Menghindari allergen makanan
 Mengindari kondisi yang terlalu panas
2. Pengobatan
 Anthistamin, seperti difenihidramin
 Kortikosteroid, seperti betametason dan hidrokortison
 Antibiotik, seperti gentamisin
 Antijamur, seperti ketokonazol
 Antivirus, seperti asiklovir
 Antipruritik, seperti hidroksizin hidroklorida
3. Pembedahan
 Stripping (pelucutan) vena, skleroterapi, atau tandur kulit pada dermatitis
statis

I. Komplikasi
1. Kerusakan integritas kulit permanen
2. Likenifikasi
3. Gangguan pigmentasi
4. Luka parut
5. Infeksi bakteri, jamur, dan virus
6. Erupsi variseliformis kaposi

12
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN SECARA UMUM PADA PASIEN


DERMATITIS

A. Pengkajian Data
1. Identitas klien (nama,umur,jenis kelamin dan alamat)
2. Keluhan utama (gatal dan nyeri)
3. Riwayat penyakit (faktor penyebab)
 Riwayat makanan : telur dan ikan kering
 Riwayat alergi : terhadap penyinaran cuaca, deterjen dan air.
 Riwayat keluarga : apakah ada keluarga yang menderita (pernah) penyakit
yang sama?
 Riwayat pengobatan : obat-obatan apa saja yang pernah dikonsumsi dan
bagaimana reaksi obat.
4. Pemeriksaan fisik
a. Kulit
 Warna : kemerahan (rubor)
 Tekstur : kasar,tebal dan tipis
 Kelembaban : kering atau lembab
 Temperatur : dingin,hangat dan panas.
b. Sirkulasi
 Apakah ada eritema?

c. Lesi primer dan sekunder


 Jenis, lokasi, warna, bentuk, ukuran

B. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri b.d reaksi peradangan
2. Kerusakan integritas kulit b.d lesi permukaan kulit.
3. Gangguan konsep diri b.d perubahan penampilan kulit.
4. Infeksi b.d port di entri kuman.
5. Ansietas b.d koping individu inefektif
6. Kurang informasi b.d kurang terpajannya informasi

13
C. Intervensi keperawatan
1. Dx. 1 : Nyeri b.d reaksi peradangan
a. Tujuan : Klien menyatakan bahwa rasa nyeri telah terkontrol atau hilang
b. Kriteria Hasil : Klien tampak rileks, dapat beristirahat/tidur, dapat bergerak
dengan normal.
c. Intervensi :
1) Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10) catat factor-
faktor yang mempercepat dan tanda-tanda sakit nonverbal
R/. Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi
tentang kemajuan/perbaikan penyakit.
2) Berikan matras/kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen-linen tempat
tidur biar sesuai kebutuhan.
R/. Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan Posisi
netral
3) Mendorong pasien untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk
bergerak ditempat tidur. Sokong sendi yang sakit diatas dan dibawah,
hindari gerakan yang menyentak.
R/. Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekuatan sendi
menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/rasa sakit pada sendi.
4) Dorong menggunakan teknik relaksasi, contoh bimbingan imajinasi,
visualisasi, latihan nafas dalam.
R/. Meningkatkan relaksasi, memusatkan kembali perhatian dan dapat
meningkatkan koping.
5) Kolaborasi pemberian obat-obatan Aspirin NSAID sesuai kebutuhan.
R/. Membantu mempercepat proses penyembuhan dengan terapi.
2. Dx.2 : Kerusakan integritas kulit b.d lesi permukaan kulit
a. Tujuan : Klien akan menunjukan tidak terjadinya kerusakan kulit/minimum
b. Kriteria Hasil : Kerusakan kulit berkurang dan kulit tetap utuh
c. Intervensi :
1) Kaji tingkat kerusakan kulit
R/. Memudahkan dalam mengambil tindakan selanjutnya.
2) Hindari bahan bahan iritasi.
R/. Meminimalkan iritasi
3) Rendam bagian luka dengan air dingin atau kompres.

14
R/. Mempercepat proses penguapan secara berangsur-angsur dan
menghilangkan gatal.
4) Berikan lotion atau salep yang sesuai dengan instruksi dokter.
R/. Meminimalkan kerusakan kulit.
3. Dx.3 : Gangguan konsep diri b.d perubahan penampilan kulit.
a. Tujuan : Klien akan dapat menerima keadaan
b. Kriteria Hasil : Dapat bersosialisasi dengan orang lain
c. Intervensi :
1) Bantu klien untuk menerima pengobatan lama.
R/. Kooperatif klien akan mempercepat proses penyembuhan
2) Dengarkan dengan empati keluhan dari klien
R/. Perhatian yang diberikan akan membuat klien lebih terbuka.
3) Dampingi klien yang cemas untuk mengungkapkan perasaannya.
R/. Perhatian yang diberikan membuat klien merasa dihargai.
4) Berikan supoort mental.
R/. Dukungan akan meningkatkan harga diri.
4. Dx 4 : Infeksi b.d port di entry kuman.
a. Tujuan : Klien akan menunjukan tidak terjadinya infeksi
b. Kriteria Hasil : Tidak ada tanda peradangan
c. Intervensi :
1) Kaji tanda infeksi
R/. Membantu dalam mengambil tindakan selanjutnya
2) Pertahankan sterilisasi dalam merawat luka
R/. Meminimalkan iritasi/infeksi kuman
3) Kolaborasi pemberian antibiotik
R/. Membantu membunuh kuman
5. Dx 5. Ansietas orang tua b.d koping inefektif
a. Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien melaporkan
ansietsnya berkurang
b. Kriteria Hasil : Klien tampak rileks
c. Intervensi :
1) Kaji tingkat ansietas dan diskusi penyebabnya bila mungkin.
R/. Identifikasi masalah spesifik akan meningkatkan kemampuan individu
untuk menghadapinya dengan realitas.

15
2) Kaji status emosional
R/. Ansietas merupakan reaksi yang umum terhadap perubahan.
3) Sediakan waktu untuk mendengarkan pasien.
R/. Akan lebih membantu jika mengikuti persaan untuk diekspresikan.
4) Kolaborasi
Rujuk pada sumber-sumber lain sesuai indikasi
R/. Mungkin membutuhkan bantuan yang lebih untuk memecahkan
masalah.
6. Dx 6. Kurang pengetahuan b.d kurang terpaparnya informasi
a. Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang penyakitnya bertambah
b. Kriteria Hasil : Pemahaman klien tentang penyakitnya bertambah
c. Intervensi :
1) Tinjauan proses penyakit, prognosis dan harapan masa depan
R/. Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat
keputusan berdasarkan informasi
2) Berikan informasi pada klien tentang perjalanan penyakitnya
R/. Meningkatkan pemahaman klien tentang kondisi kesehatan
3) Libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien
R/. Meningkatkan kerja sama dengan terapi, meningkatkan penyembuhan
dan proses perbaikan
4) Berikan informasi penyakit pada klien tentang komplikasi penyakit
R/. Membantu meningkatkan pengetahuan klien tentang penyakitnya

D. Evaluasi Keperawatan
1. Rasa nyeri pasien telah terkontrol, pasien menunjukkan :
a. Tampak rileks
b. Dapat beristirahat/tidur
c. Dapat bergerak secara normal
2. Tidak terjadinya kerusakan kulit/kerusakan minimum, pasien menunjukkan :
a. Kerusakan kulit berkurang
b. Kulit tetap utuh
3. Pasien dapat menerima keadaan, pasien menunjukkan sudah dapat bersosialisasi
dengan orang lain.

16
4. Tidak terjadinya infeksi pada pasien, pasien menunjukkan tidak adanya tanda-
tanda peradangan.
5. Ansietas pasien berkurang, pasien tampak rileks.
6. Informasi terpaparkan, pemahaman pasien tentang penyakitnya bertambah, pasien
menunjukkan bahwa pasien dapat menjawab pertanyaan mengenai penyakitnya.

17
BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS DERMATITIS

A. Kasus Fiktif
Di suatu desa Kecamatan Mirit Desa Ngabean terdapat satu keluarga petani
yang tinggal di daerah desa tersebut, yang bernama Ny.I. Ny.I datang ke suatu rumah
sakit A dengan keluhan gatal-gatal sejak seminggu yang lalu. Ia mengatakan bahwa
tangannya gatal-gatal dan sering digaruk-garuk menggunakan tangan saat gatal
menyerang. Kulit dalam keadaan terkelupas dan warnanya putih dan setelah digaruk-
garuk warnanya menjadi merah-merah di sekitar kulit yang digaruk-garuk. Padahal
klien sudah pernah membeli obat namun sampai saat ini belum ada yang cocok untuk
mengobati penyakitnya.

B. Pembahasan Kasus
1. Pengkajian Data
Nama : Ny. I
Alamat : KEC. Mirit, Desa Ngabean
Usia : 55 Tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMA
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku Bangsa : Indonesia
No. Data Fokus Masalah Etiologi
1. Ds. Kerusakan Broblitus
Ny. I mengatakan intergritas kulit
tanganya gatal-gatal dan
sering digaruk-garuk
mengunakan tangan saat
gatal menyerang.
Do.
Kulit terlihat terkelupas
dan warnanya putih dan

18
setelah digaruk-garuk
warnaya menjadi merah
merah
disekitar kulit
yang digaruk-garuk.
2. Ds. Kurang Penyakit
Klien mengatakan belum pengetahuan
tahu tentang obat yang
cocok untuk penyakitnya
Do.
Klien terlihat cemas dengan
penyakitnya

2. Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan intergrits kulit b.d kekeringan pada kulit
b. Kurang pengetahuan tentang penyakit

3. Perencanaan/Intervensi Keperawatan
Data Diagnosa Tujuan NOC NIC
Keperawatan
Ds. Tidak ada Kerusakan Setelah dilakukan 1. Tidak ada tanda- 1. Mandi paling
integritas kulit intervensi tanda infeksi. tidak sekali sehari
Do. Ny.I
b.d kekeringan keperawatan Kriteria selama 15 – 20
Kulit terlihat 2. Menunjukan
pada kulit hasil menit. Segera
terkelupas pemahaman dalam
oleskan salep atau
1. Berkurangnya proses perbaikan
krim yang telah
derajat pengelupasan kulit
diresepkan setelah
kulit, berkurangnya
mandi. Mandi lebih
3. Menunjukan
kemerahan,
sering jika tanda dan
terjadinya proses
berkurangnya lecet
gejala meningkat.
penyembuhan luka
karena garukan,
penyembuhan area 2. Gunakan air
kulit yang telah hangat jangan panas.
rusak

19
3. Gunakan sabun
yang mengandung
pelembab atau sabun
untuk kulit sensitive.
Hindari mandi busa.

4. Kolaborasi:
oleskan/berikan
salep atau krim yang
telah diresepkan 2
atau tiga kali perhari.
Ds. Ny.I Kurang Setelah dilakukan 1. Self-care bathing 1. Ny. I tahu cara
mengatakan pengetahuan b.d keperawatan dengan mengurangi rasa
2. Self-care
belum tahu penyakit kriteria hasil gatal-gatal di kedua
hygiene
cara tangan
1. Ny I akan
pengobatan
mengetahui cara 2. Ny. I tahu cara
gatal-gatal
merawat kulit mencegah rasa gatal-
yang dialami.
gatal timbul
2. Ny. I tahu cara
Do. Pasien
cuci tangan 3. Ny. I tahu cara
belum
cuci tangan yang
melakukan
benar
perawatan
atau
pengobatan
apapun.

4. Implementasi Keperawatan
No. Implementasi Paraf
1. 08:00 Memonitor kulit adanya kemerahan
12:00 Memonitor nutrisi
17:00 Megoleskap salep
2. 08:30 Mengkaji verbal dan nonverbal respon pasien
terhadap tubuhnya

20
09:00 Memonitor frekuensi mengkritik dirinya
10:00 Menjelaskan tentang pengobatan, perawatan penyakit
10:30 Mendorong pasien mengungkapkan perasaannya
3. 16:00 Mengkaji apakah klien memahami dan mengerti tentang
penyakitnya.
16:30 Menjaga agar klien mendapatkan informasi
yang benar, memperbaiki kesalahan konsepsi/informasi.
17:30 Member tahu cara terapi seperti, mandi dan penggunaan
obat-obatan lainnya.
17:35 Menasihati klien agar selalu menjaga hygiene pribadi juga
lingkungan.
4. 08:00 Memonitor kulit adanya kemerahan
12:00 Memonitor nutrisi
5. 08:30 Mengkaji respon pasien terhadap tubuhnya
09:00 Memonitor frekuensi mengkritik dirinya
10:00 Menjelaskan tentang pengobatan, perawatan penyakit
10:30 Mendorong pasien mengungkapkan perasaannya
6. 16:00 Mengkaji apakah klien memahami dan mengerti tentang
penyakitnya.
16:30 Menjaga agar klien mendapat kan informasi
yang benar, memperbaiki kesalahan konsepsi/informasi.

5. Evaluasi Keperawatan
- S : Ny I (55 tahun) mengatakan tanganya gatal sudah lama sudah membeli obat
salap gatal untuk mengobati gatal-gatalnya tapi belum juga kunjung sembuh. Ny I
jarang kumpul dengan tetangga karena gatal yang tidak membuat nyaman rasanya
ingin mengaruknya.
- O : Ny I (55 tahun) sering mengunakan baju yang dapat menutupi tubuhnya
karena Ny T merasa minder dengan rasa gatal-gatal tang ada di tubuhnnya
terutama kedua tangan dan kaki.
- A : Kerusakan intergritas kulit
- P : Lanjutkan intervensi gunakan salap gatal setelah mandi mencuci tangan
mengunakan air bersih serta mengunakan sabun jaga kebersihan tubuh.

21
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dermatitis adalah suatu reaksi peradangan kulit yang karakteristik terhadap
berbagai rangsangan endogen maupun eksogen. Dermatitis yang terjadi pada Ny.I
termasuk ke dalam dermatitis atopik yang dikarenakan faktor lingkungan. Gejala yang
ditimbulkan sama seperti gejala yang tertera pada teori yaitu gatal-gatal sampai kulit
pasien terkelupas. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang dideritanya juga
menyebabkan pasien kurang mengetahui cara merawat diri, seharusnya pasien dengan
dermatitis mandi paling tidak satu sampai dua kali menggunakan air hangat. Pasien
juga tidak mengetahui jenis pengobatan apa yang pasien butuhkan, maka dari itu
peran perawat sebagai edukator sangat penting dalam kasus ini.

B. Saran
1. Bagi institusi. Disarankan kepada institusi agar menyediakan buku/sumber yang
lebih banyak mengenai gangguan pada kulit karena kami sebagai penulis kesluitan
menemukan buku tentang gangguan kulit yaitu dermatitis.
2. Bagi penulis. Makalah kami jauh dari kata sempurna, kami berharap kami dapat
menerima saran dari pembaca sekalian.
3. Bagi masyarakat. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami
(mahasiswa) dan bagi masyarakat yang membacanya. Disarankan kepada
masyarakat untuk membaca berbagai pengetahuan tentang kesehatan salah satu
contohnya dermatitis ini, agar masyarakat lebih mengenal berbagai jenis penyakit
dan tahu harus bagaimana cara mengatasinya.
4. Bagi tenaga kesehatan. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk selalu
mengembangkan ilmu dan kemampuan demi memberi layanan yang lebih baik
kepada pasien.

22
DAFTAR PUSTAKA

Aditya. 2010. “Dermatitis Statis dan Dermatitis Dishirosis Pompholyx”. Diunduh dari

https://aditya1986.wordpress.com/2010/08/06/dermatitis-statis-dan-dermatitis-
dishidrosis-pompholyx/5/2/2019.

A.J. Biolitta, Kimberly. 2011. Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi Keperawatan.

Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Braunwald, Fauci, Isselbacher, Kasper, Martin, Wilson. 1999. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu

Penyakit Dalam. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Gurning, Baginda. 2019. “Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka”. Diunduh dari

https://www.academia.edu/13370401/ANATOMI_FISIOLOGI_KULIT_DAN_PENYE
MBUHAN_LUKA/12/02/2019.

Pertiwi, Dian. 2016. "Analisis Asuhan Keperawatan Dermatitis". Diunduh dari

http://elib.stikesmuhgombong.ac.id/127/5/2/2019.

Syaifuddin. 2000. Fungsi Sistem Tubuh Manusia. Jakarta: Penerbit Widya Medika.

23