Anda di halaman 1dari 15

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGOLAHAN LIMBAH DAN UTILITAS

SEDIMENTASI

DISUSUN OLEH :
NAMA / NIM : 1. RISMA FEBRYANI 17 644 025
2. KARINA NUR EKA PUTRI 17 644 027
3. NURTADLY DHIKA ARISANDI 17 644 037
4. RISKHIANA FARAH NURDEWANTI 17 644 049
5. ANUGRAH MASSOLO 17 644 056
KELAS :VB
KELOMPOK : 4 (EMPAT)
PROGRAM STUDI : S1 TERAPAN TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal………………………………2019


Mengesahkan dan Menyetujui
Dosen Pembimbing

Dr. Ramli Thahir, S.T., M. T


NIP. 19710721 200112 1 003
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Mengenal alat sedimentadi sederhana dalam proses pengendapan melalui
percobaan system batch dalam suatu bak berbentuk silinder.
2. Dapat menjelaskan bagaimana hubungan antara konsentrasi padatan
dengan laju sedimentasi.

1.2 Dasar Teori


1.2.1 Sedimentasi
Sedimentasi adalah suatu proses yang bertujuan
memisahkan/mengendapkan zat-zat padat atau suspensi non-koloidal dalam
air. Pengendapan dapat dilakukan dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Cara
yang sederhana adalah dengan membiarkan padatan mengendap dengan
sendirinya. Setelah partikel-partikel mengendap, maka air yang jernih dapat
dipisahkan dari padatan yang semula tersuspensi di dalamnya. Cara lain yang
lebih cepat adalah dengan melewatkan air pada sebuah bak dengan
kecepatan tertentu sehingga padatannya terpisah dari aliran air dan jatuh ke
dalam bak pengendap tersebut. Kecepatan pengendapan partikel-partikel yang
terdapat di dalam air bergantung kepada berat jenis, bentuk dan ukuran
partikel, viskositas air dan kecepatan aliran dalam bak pengendap.
Pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan setelah proses koagulasi
dan flokulasi dimana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan
sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat.
Setelah melewati proses destabilisasi partikel koloid melalui unit koagulasi
dan unit flokulasi, selanjutnya perjalanan air akan masuk ke dalam unit
sedimentasi. Unit ini berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel koloid
yang sudah didestabilisasi oleh unit sebelumnya.Unit ini menggunakan
prinsip berat jenis. Berat jenis partikel koloid (biasanya berupa lumpur) akan
lebih besar daripada berat jenis air. Dalam bak sedimentasi, akan terpisah
antara air dan lumpur. Gabungan unit koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi
disebut unit aselator. Pada pengolahan air minum, terapan sedimentasi
khususnya untuk :
1. Pengendapan air permukaan, khususnya untuk pengolahan dengan filter
pasir cepat.
2. Pengendapan flok hasil koagulasi-flokulasi, khususnya sebelum disaring
dengan filter pasir cepat.
3. Pengendapan flok hasil penurunan kesadahan menggunakan soda-kapur.
4. Pengendapan lumpur pada penyisihan besi dan mangan.

1.2.2 Koagulasi – Flokulasi


Koagulasi-flokulasi merupakan dua proses yang terangkai menjadi
kesatuan proses tak terpisahkan. Pada proses koagulasi terjadi destabilisasi
koloid dan partikel dalam air sebagai akibat dari pengadukan cepat dan
pembubuhan bahan kimia (disebut koagulan). Akibat pengadukan cepat,
koloid dan partikel yang stabil berubah menjadi tidak stabil karena terurai
menjadi partikel yang bermuatan positif dan negatif. Pembentukan ion positif
dan negatif juga dihasilkan dari proses penguraian koagulan. Proses ini
berlanjut dengan pembentukan ikatan antara ion positif dari koagulan (misal
Al3+) dengan ion negatif dari partikel (misal OH-) dan antara ion positif dari
partikel (misal Ca2+) dengan ion negatif dari koagulan (misal SO42-) yang
menyebabkan pembentukan inti flok (presipitat).
Segera setelah terbentuk inti flok, diikuti oleh proses flokulasi, yaitu
penggabungan inti flok menjadi flok berukuran lebih besar yang
memungkinkan partikel dapat mengendap. Penggabungan flok kecil menjadi
flok besar terjadi karena adanya tumbukan antar flok.Tumbukan ini terjadi
akibat adanya pengadukan lambat.
Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan
pengaduk lambat. Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan koagulan. Pada bak
pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok yang berukuran besar hingga
mudah diendapkan pada bak sedimentasi.
Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalah
aluminium sulfat atau garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-
pembantu, seperti poli elektrolit dibutuhkan untuk memproduksi flok yang
lebih besar atau lebih cepat mengendap. Faktor utama yang mempengaruhi
proses koagulasi-flokulasi air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi,
temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi dan
tingkat agitasi selama koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika
diperlukan, koagulan-pembantu. Pemilihan koagulan dan konsentrasinya
dapat ditentukan berdasarkan studi laboratorium menggunakan jar test
apparatus untuk mendapatkan kondisi optimum. Reaksi kimia untuk
menghasilkan flok adalah:
Al2(SO4)3.14H2O + 3Ca(HCO3)2→ 2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14H2O +6CO2
Pada air yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi
dengan alumunium, maka perlu ditambahkan alkalinitas dengan menambah
kalsium hidroksida.
Al2(SO4)3.14H2O + 3Ca(OH)2→ 2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14H2O
Derajat pH yang optimum untuk alum berkisar 4,5 hingga 8, karena
aluminium hidroksida relatif tidak terlarut. Besi sulfat membutuhkan
alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida agar menghasilkan reaksi yang cepat.
Untuk itu, Ca(OH)2 ditambahkan untuk mendapatkan pH pada level di mana
ion besi diendapkan sebagai Fe(OH)3. Pada reaksi di atas adalah reaksi
oksidasi-reduksi yang membutuhkan oksigen terlarut dalam air. Dalam reaksi
koagulasi, oksigen direduksi dan ion besi dioksidasi menjadi ferri, di mana
akan mengendap sebagai Fe(OH)3.
2FeSO4.7H2O + 2Ca(OH)2 + ½ O2→ 2Fe(OH)3 + 2CaSO4 + 13H2O
Untuk berlangsungnya reaksi ini, pH harus sekitar 9,5 dan kadang-
kadang stabilisasi membutuhkan kapur berlebih.Penggunaan ferri sulfat
sebagai koagulan berlangsung mengikuti reaksi:
Fe2(SO4)3 + 3Ca(HCO3)2→ 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6CO2
Reaksi ini biasanya menghasilkan flok yang padat dan cepat
mengendap. Jika alkalinitas alami tidak cukup untuk reaksi, diperlukan
penambahan kapur. Rentang pH optimum adalah sekitar 4 hingga 12, karena
ferri hidroksida relatif tidak larut dalam rentang pH ini. Reaksi ferri klorida
sebagai koagulan berlangsung sebagai berikut:
2FeCl3 + 3Ca(HCO3)2→ 2Fe(OH)3 + 3CaCl2 + 6CO2
Penambahan kapur diperlukan bila alkalinitas alami tidak mencukupi.
2FeCl3 + 3Ca(OH)2→ 2Fe(OH)3 + 3CaCl2
Reaksi ferri klorida berlangsung pada pH optimum 4 sampai 12. Flok
yang terbentuk umumnya padat dan cepat mengendap.

1.2.3 Tawas
Tawas (Alum) adalah kelompok garam rangkap berhidrat berupa kristal
dan bersifat isomorf. Kristal tawas ini cukup mudah larut dalam air, dan
kelarutannya berbeda-beda tergantung pada jenis logam dan suhu.
Alum merupakan salah satu senyawa kimia yang dibuat dari dari
molekul air dan dua jenis garam, salah satunya biasanya Al2(SO4)3. Alum
kalium, juga sering dikenal dengan alum, mempunyai rumus formula yaitu
K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O. Alum kalium merupakan jenis alum yang paling
penting. Alum kalium merupakan senyawa yang tidak berwarna dan
mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan
aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan didinginkan.
Pada umumnya bahan seperti Aluminium sulfat [Al2(SO4)3.18H2O] atau
sering disebut alum atau tawas, fero sulfat, Poly Aluminium Chlorida (PAC)
dan poli elektrolit organik dapat digunakan sebagai koagulan. Untuk
menentukan dosis yang optimal, koagulan yang sesuai dan pH yang akan
digunakan dalam proses penjernihan air, secara sederhana dapat dilakukan
dalam laboratorium dengan menggunakan tes yang sederhana.
Prinsip penjernihan air adalah dengan menggunakan stabilitas partikel-
partikel bahan pencemar dalam bentuk koloid. Tawas sebagai koagulan di
dalam pengolahan air maupun limbah. Sebagai koagulan alum sulfat sangat
efektif untuk mengendapkan partikel yang melayang baik dalam bentuk
koloid maupun suspensi.
1.2.4 Kapur
CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus
hidroksil yaitu Ca(OH)2Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk
yaitu CaO dan Ca(OH)2 yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang
tinggi. Menurut (Tarmiji, 1986), penggunaan dari kapur antara lain dibidang
kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor, air limbah maupun industri
lainnya. Pada pengolahan air kotor, kapur dapat mengurangi kandungan
bahan-bahan organik. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk
mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sehingga menyebabkan
pengendapan. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH
air antara 6 – 8 (Considine). Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime :
a. Bentuk kristal, powder.
b. Warna, sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tingkat tinggi
dapat Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air,
sehingga terbentuk Ca(OH)berwarna abu-abu.
c. Kepadatan, Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira
2,3 g/gm.
d. Kelarutan, tingkat kelarutan dari kira-kira 1,85 Ca(OH)2/l air pada suhu
00C sampai 0,7 g/l pada suhu 1000C.
e. Netralisasi asam , Hydrate lime siap bereaksi dengan basa dan gas
sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam.

1.2.5 Air
Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan
sehari-hari setelah udara. Sekitar tiga perempat bagian dari tubuh manusia
terdiri dari air. Air digunakan untuk mendukung hampir seluruh
kegiatan manusia. Air dibutuhkan organ tubuh serta keperluan
industri, pertanian, sebagai sarana hiburan serta dalam hal kesehatan. Ilmu
kimia terkait erat dengan kehidupan manusia sehari -hari. Mulai
dari urusan sandang dan pangan yang memiliki komponen seperti
air, mineral, vitamin, d a n p r o t e i n . I l m u i n i j u g a m e l i p u t i
b a g a i m a n s u a t u p r o d u k p a n g a n m e n g a l a m i perubahan akibat
berbagai metode pemprosesan makanan dan cara untuk meningkatkan
maupun mencegah terjadinya perubahan. Sesuai dengan sifatnya
air digolongkan dalam sifat fisika dan sifat kimia.
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O, satu molekul air
tersusun atas dua hydrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom
oksigen. Dalam lingkup kesehatan, kimia air sangat sesuai untuk
kehidupan. Di antara sifat kimia air, yang terutama adalah bahwa
air merupakan pelarut yang baik. Hampir semua zat kimia bisa
dilarutkan dalam air bahkan yang terdapat dalam tubuh sehingga air
sering disebut pelarut universal. Air juga mempercepat & mengkatalisis
hampir semua reaksi kimia yang diketahui. Sifat kimia air yang
penting lainnya adalah reaktivitas kimianya ada pada tingkat yang ideal.
Air tidak terlalu reaktif yang membuatnya berpotensi merusak & seperti asam
sulfat dan tidak juga terlalu lamban & seperti argon yang tidak bereaksi
kimia.
Dilihat dari kegunaannya kimia air memang sangat bermanfaat dalam
kehidupan, namun terkadang pula dari manfaat yang dihasilkan tersebut
muncul pulahal yang tidak diinginkan yang akan merusak misalnya
pencemaran air atau dampak lain yang merugikan bagi kehidupan karena jika
kita tidak teliti dan lebih memahami tentang kimia air ini bukannya
bermanfaat melainkan membawa bencana bagi kehidupan.
BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


2.2 Uraian Proses
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Pengamatan


3.2 Pembahasan
Pada praktikum sedimentasi ini bertujuan untuk mengenal alat
sedimentasi sederhana dalam proses pengendapan melalui percobaan sistem
batch dalam suatu bak berbentuk silinder, dapat menjelaskan bagaimana
hubungan antara konsentrasi padatan dengan laju sedimentasi, dapat
membandingkan proses sedimentasi secara manual dan otomatis, serta
menghitung laju sedimentasi dengan menggunakan variasi kapur tanpa
adanya penambahan flokulan dan adanya penambahan flokulan.
Sedimentasi adalah suatu proses yang bertujuan memisahkan atau
mengendapkan zat-zat padat atau suspensi non-koloidal dalam air.
Pengendapan dapat dilakukan dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Pada
praktikum ini menggunakan variasi massa CaCO3 yang berbeda - beda yaitu
20 gram, 40 gram, 60 gram dan 80 gram yang dimasukan didalam tabung
berbeda–beda dengan Tawas sebesar 100 gram, setelah itu dilakukan
pengocokan atau pengadukan. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap
kecepatan pengendapan partikel tersuspensi setiap 2 menit sekali.
Dalam menentukan kecepatan pengendapan CaCO3, ditambahkan
tawas sebagai koagulan. Massa koagulan yang ditambahkan adalah 100 gr
kedalam masing – masing tabung.Fungsi ditambahkannya tawas sebagai
koagulan agar terjadi penggumpalan antara tawas dan flok – flok yang ada
didalam air sehingga membuat flok - flok tersebut menjadi lebih besar dan
relatif lebih berat sehingga menyebabkan partikel tersuspensi mengendap
lebih cepat dengan ditambahkannya tawas. Dari praktikum yang dilakukan,
semakin banyak CaCO3 yang di masukan maka semakin lama waktu
pengendapan yang terjadi.
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

Andri, 2010, Pengertian Sedimentasi, http://id.wikipedia.org/wiki/Pengertian


Sedimentasi. (Diakses tanggal 6 Oktober 2019).

Anonim. 2019. Tawas. https://id.wikipedia.org/wiki/Tawas. (Diakses tanggal 6


Oktober 2019).

Budi, S. S. 2006. Penurunan Fosfat Dengan Penambahan Kapur (Lime), Tawas


Dan Filtrasi Zeolit Pada Limbah Cair ( Studi Kasus Rs Bethesda
Yogyakarta ). Universitas Diponegoro. Semarang.

Hardyanti, 2019. Kimia Air. https://www.academia.edu/30275138/KIMIA_AIR.


(Diakses pada 6 Oktober 2019).

Tim Laboratorium Operasi Teknik Kimia 2019. Penuntun Praktikum Limbah dan
Utilitas. Samarinda: Politeknik Negeri Samarinda.
LAMPIRAN
GRAFIK

Perubahan Tinggi Endapan vs Waktu


pada 100 gr tawas + 3000 ml air + 0 gr kapur
Tinggi Endapan (cm)

1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 2 4 6 8 10 12
Waktu (menit)

Perubahan Tinggi Endapan vs Waktu


pada 100 gr tawas + 3000 ml air + 20 gr kapur
70
Tinggi Endapan (cm)

60

50

40

30

20

10

0
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu (menit)
Perubahan Tinggi Endapan vs Waktu
pada 100 gr tawas + 3000 ml air + 40 gr kapur
70
Tinggi Endapan (cm)

60

50

40

30

20

10

0
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

Perubahan Tinggi Endapan vs Waktu


pada 100 gr tawas + 3000 ml air + 60 gr kapur

70
Tinggi Endapan (cm)

60

50

40

30

20

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Waktu (menit)
Perubahan Tinggi Endapan vs Waktu
pada 100 gr tawas + 3000 ml air + 80 gr kapur
70

60
Tinggi Endapan (cm)

50

40

30

20

10

0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (menit)