Anda di halaman 1dari 89

EVAPOTRANSPIRASI DAN PERTUMBUHAN ANAKAN

Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex. Benth, Paraserianthes falcataria (L)


Nielsen, Swietenia macrophylla King DAN Shorea selanica BL.
PADA BERBAGAI KADAR AIR TANAH

SKRIPSI
DIAN HUDAYANA

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007
RINGKASAN

DIAN HUDAYANA. E34102030. 2007. Evapotranspirasi dan Pertumbuhan


Anakan Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex. Benth, Paraserianthes falcataria (L)
Nielsen, Swietenia macrophylla King dan Shorea selanica BL. Pada Berbagai
Kadar Air Tanah. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan
Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Ir. Siti Badriyah Rushayati, MSi


Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Sriwilarso Raharjo, MS

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan yang
cukup luas, sehingga hutan di Indonesia memiliki fungsi dan peranan yang cukup
penting untuk kesejahteraan dan kelangsungan semua makhluk hidup. Akan tetapi
pada saat ini kondisi hutan di Indonesia sangat memprihatinkan. Usaha pemerintah
dalam mengurangi kerusakan hutan yang lebih parah adalah salah satunya dengan
melaksanakan program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL).
Jenis-jenis pohon yang sering digunakan dalam kegiatan rehabilitasi hutan
dan lahan di Indonesia diantaranya adalah mahoni (Swietenia macrophylla), akasia
(acacia crassicarpa), sengon (Paraserianthes falcataria), dan meranti merah
(Shorea selanica)
Pengukuran proses evapotranspirasi dan pertumbuhan dari keempat tanaman
tersebut diharapkan dapat memberikan masukan dan pertimbangan dalam kegiatan
rehabilitasi hutan dan lahan yang dilaksanakan di Indonesia sebagai jenis tanaman
yang paling optimal pertumbuhannya pada tingkat kadar air tanah tertentu yang
disesuaikan dengan kondisi iklim di Indonesia yang bervariasi pada berbagai tempat.
Setiap jenis tanaman ditanam di dalam ember (volume 4078,085 cm3) dengan
tanah sebagai medianya. Tanaman ini dibagi menjadi empat perlakuan yaitu tingkat
kadar air tanah 100%, 75%, 50%, dan 25% yang terdiri dari empat ulangan. Setiap
dua hari sekali dilakukan penimbangan untuk menghitung proses evapotranspirasi
dan setiap seminggu sekali untuk menghitung pertumbuhannya. Data parameternya
diolah dengan menggunakan program SPSS 11.0.
Jenis tanaman sengon menunjukkan nilai rata-rata harian dan jumlah total
evapotranspirasi yang paling tinggi, diikuti oleh jenis tanaman mahoni, akasia dan
meranti merah. Hal ini dikarenakan sengon memiliki sifat-sifat fisiologis yang
memungkinkan untuk berevapotranspirasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan
ketiga jenis lainnya.
Dilihat dari pertumbuhannya, hampir semua jenis tanaman menunjukkan
pertumbuhan yang optimal pada tingkat kadar air tanah 50%-100%. Hal ini
dikarenakan pada selang tersebut, air masih cukup tersedia untuk diproses oleh
tanaman. Sedangkan untuk tingkat kadar air tanah 25%, pertumbuhan tanaman
kurang begitu optimal karena kekurangan air pada tanaman mengakibatkan
berkurangnya turgor pada sel-sel penutup. Apabila sel-sel penutup kendur, maka
stomata akan menutup. Jika air kurang dan terang (sinar) cukup. maka stomata akan
tetap tertutup.
Berdasarkan hasil pengukuran berat basah dan berat kering, berat kering
turun drastis dari berat basahnya. Hal ini menunjukan kecenderungan anakan tersebut
yang memiliki kandungan air yang tinggi. Berat basah dan berat kering totalnya

i
menunjukkan bahwa jenis tanaman sengon memiliki nilai berat yang paling tinggi
yang kemudian diikuti oleh jenis tanaman mahoni, akasia dan meranti. Nilai rata-rata
rasio pucuk-akar pada jenis tanaman meranti untuk perlakuan tingkat kadar air tanah
50% memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi. Sedangkan untuk jenis tanaman
meranti pada perlakuan tingkat kadar air tanah 25% memiliki nilai rata-rata rasio
pucuk-akar yang paling rendah.
Rasio tinggi-diameter yang paling tinggi adalah jenis tanaman meranti pada
perlakuan tingkat kadar air tanah 25%. Sedangkan nilai rata-rata rasio tinggi-
diameter yang paling rendah adalah jenis tanaman mahoni pada perlakuan tingkat
kadar air tanah 75%. Nilai rasio tinggi-diameter yang lebih rendah menyatakan
tingkat kekokohan yang lebih tinggi, yang berarti menandakan diameter batang yang
lebih besar.
Anakan akasia pertumbuhan optimalnya pada kisaran perlakuan tingkat kadar
air tanah 50% - 75%. Jenis tanaman akasia mengalami kehilangan air melalui proses
evapotranspirasi rata-rata setiap hari dan totalnya yang paling tinggi adalah pada
tingkat kadar air tanah 75%. Anakan sengon dapat hidup dengan optimal pada
perlakuan tingkat kadar air tanah 75% - 100%. Rata-rata kadar air yang hilang
melalui proses evapotranspirasi setiap hari dan totalnya yang paling tinggi adalah
pada tingkat kadar air tanah 75%. Jenis tanaman mahoni pertumbuhan optimalnya
ditunjukan pada kisaran tingkat kadar air tanah 50% - 75%. Berdasarkan pengukuran,
tingkat kadar air yang hilang melalui proses evapotranspirasi setiap hari rata-rata
yang paling tinggi adalah pada tingkat kadar air tanah 75%. Anakan meranti rata-rata
kehilangan air melalui proses evapotranspirasi setiap hari yang paling tinggi adalah
pada tingkat kadar air tanah 75%. Pertumbuhan yang optimal pada anakan meranti
yaitu pada perlakuan tingkat kadar air tanah 50% - 100%. Perlakuan tingkat kadar air
tanah 25%, semua jenis anakan tidak bisa tumbuh dengan baik dan optimal.
Penanaman keempat jenis anakan (akasia, sengon, mahoni dan meranti) akan
lebih baik jika ditanam di lapangan pada tingkat kadar air tanah yang tinggi (75% -
100%). Penanaman di lapangan harus lebih memperhatikan aspek curah hujan dan
tipe-tipe tanah supaya dapat diketahui jenis yang optimal dalam pertumbuhannya.
Selain itu harus ada penelitian lebih lanjut dengan menggunakan faktor koreksi tiap
jenis tanaman.

Kata-kata kunci : Hutan, GNRHL, Evapotranspirasi, Tingkat Kadar Air Tanah

ii
ABSTRACT

Evapotranspiration and growth of Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex. Benth,


Paraserianthes falcataria (L) Nielsen, Swietenia macrophylla King and Shorea
selanica BL. Seedlings in some Soil Water Contents

D. Hudayana, S. B. Rushayati and S. W. B. Raharjo


Indonesian relative vary climate promote rainy season and dry season time uncertain
in several places, so it is influential to trees species are going to be planted in the
land for forests and land rehabilitation program. The trees species such as mahagoni
(Swietenia macrophylla), acacia (Acacia crassicarpa), sengon (Paraserianthes
falcataria), and meranti merah (Shorea selanica) are used in rehabilitation program
in Indonesia. Evapotranspiration and growth measurement from the tree species is
expected to give input and recommendation about trees species which are able to
growth well in some soil water contents. All of the plants are planted in a pull
(volume 4078,085 cm3) with soil media. These plants are divided in four treatments;
soil water content 100%, 75%, 50%, and 25% consist four repetitions. Parameter
data measurement used SPSS 11.0 program. Sengon show the highest daily-value
and total of evapotranspiration, followed by mahagoni, acacia, and meranti merah. It
is caused by sengon physiology is possible for higher evapotranspiration than the
others species. Base on the growth, most of species show optimal growth in soil
water content 50-100%. Due to at that water content range the water is still available
enough for plants. However in water content 25% plants growth is not so optimal
because the water less caused decreasing turgor in closer cells. If the closer cells are
loose, stomata will closed. So that although light enough but water less, stomata will
keep close. Base on the wet and dry weight, the dry weight decline drastically that
wet weight. This case shows that seedlings inclination has high water content. Total
of wet and dry weight show that sengon has highest weight score, followed by
mahagoni, acacia, and meranti. The meranti bud-root ratio value average in water
content 50% treatment is the highest whereas in water content 25% is the lowest. The
highest high-diameter ratio value is meranti in water content 25% treatment, and the
lowest is mahagoni with water content 75%. The lower ratio value state the higher
strength, it means that diameter is bigger. Acacia seedlings grow well at water
content range 50-75% treatment. Acacia experienced water loss through
evapotranspiration every day with highest total at water content 75%. Sengon
seedlings grow well at water content 75%-100% treatment. Water loss averages
through evapotranspiration every day and the highest total at water content75%.
Mahagoni seedlings grow well at water content 50-75%. Base on the measurement,
loss water content range through evapotranspiration every day average and the
highest is at water content 75%. Generally meranti seedlings experienced loss water
through evapotranspiration every day with highest total is at water content 75%.
Meranti grow well at water content 50-100% treatment. At water content 25%
treatment, all of the seedlings can not grow normally. The plantation will be better
done in the field with high water content (75-100%). The plantation has to aware to
rainfall and soil type in order to know which of species is able to grow well. And
also required follow up research use correction factor for every tree species.

Keywords : Forests, Evapotranspiration, Soil Water Content.

iii
EVAPOTRANSPIRASI DAN PERTUMBUHAN ANAKAN
Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex. Benth, Paraserianthes falcataria (L)
Nielsen, Swietenia macrophylla King DAN Shorea selanica BL.
PADA BERBAGAI KADAR AIR TANAH

DIAN HUDAYANA
E34102030

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007
EVAPOTRANSPIRASI DAN PERTUMBUHAN ANAKAN
Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex. Benth, Paraserianthes falcataria (L)
Nielsen, Swietenia macrophylla King DAN Shorea selanica BL.
PADA BERBAGAI KADAR AIR TANAH

Oleh
Dian Hudayana
E34102030

Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan


Ujian Sidang Komprehensif pada tanggal 08 Februari 2007

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Ir. Siti Badriyah Rushayati, MSi Dr. Ir. Sriwilarso Raharjo, MS


NIP : 132 257 887 NIP : 131 781 161

Mengetahui,
Dekan Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS


NIP : 131 430 799
Tanggal Lulus :
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ciamis pada tanggal 05 Mei 1984 dari pasangan


Alexander Supriyadi dan Siti Maemunah sebagai anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis memulai pendidikan Taman Kanak-kanak di TK Aisiyah I Cijulang
yang diselesaikan tahun 1991. Pendidikan dasarnya dilaksanakan di Madrasah
Ibtidaiyah PERSIS No.7 Tasikmalaya sampai dengan tahun 1994 dan pindah ke SDN
I Cijulang sampai dengan selesai pada tahun 1996. Pendidikan lanjutan tingkat
pertamanya diselesaikan pada tahun 1999 di SLTPN I Cijulang dan pendidikan
lanjutan menengah atas diselesaikan pada tahun 2002 di SMUN I Parigi.
Penulis diterima sebagai salah satu mahasiswa pada Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur
USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada tahun 2002.
Selama masa perkuliahan, penulis aktif pada kegiatan kemahasiswaan seperti
menjadi anggota divisi infokom Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya
Hutan (HIMAKOVA) pada tahun 2003, menjadi anggota ASEAN FORESTRY
STUDENT ASSOCIATION (AFSA LC IPB) pada tahun 2004 dan menjadi anggota
humas asrama Sylvasari pada tahun 2003-2005.
Penulis melaksanakan Praktek Umum Kehutanan di Baturraden, yaitu di
Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyumas Timur, Bagian Kesatuan Pemangkuan
Hutan Gunung Slamet dan di KPH Banyumas Barat, BKPH Rawa Timur serta
melaksanakan Praktek Umum Pengelolaan Hutan (PUPH) bersama mahasiswa
Universitas Gadjah Mada (UGM) di Getas (KPH) Ngawi pada tahun 2005. Praktek
Kerja Lapang Profesi (PKLP) dilaksanakan di Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango (TNGP) di Cianjur-Jawa Barat pada tahun 2006.
Salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan maka pada
tahun 2006 penulis melaksanakan praktek khusus penyusunan skripsi dengan judul
“Evapotranspirasi dan Pertumbuhan Anakan Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex.
Benth, Paraserianthes falcataria (L) Nielsen, Swietenia macrophylla King dan
Shorea selanica BL. Pada Berbagai Kadar Air Tanah” dibawah bimbingan ibu Ir.
Siti Badriyah Rushayati, MSi dan bapak Dr. Ir. Sri Wilarso Raharjo, MS.

iv
KATA PENGANTAR

Kondisi iklim di Indonesia yang relatif bervariasi menyebabkan tidak


meratanya lama waktu musim hujan dan musim kemarau di setiap tempat. Hal ini
berpengaruh terhadap jenis-jenis tanaman kehutanan yang akan ditanam dalam suatu
kegiatan program rehabilitasi hutan dan lahan. Oleh sebab itu perlu adanya kajian
penelitian mengenai jenis-jenis tanaman yang optimal pertumbuhannya pada
berbagai tingkat kadar air tanah.
Berkenaan dengan hal tersebut sangat perlu untuk memberikan suatu
gambaran mengenai jenis-jenis tanaman kehutanan yang optimal pertumbuhannya
dengan melalui suatu penelitian yang mengukur tingkat evapotranspirasinya dan
pertumbuhannya.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini kualitasnya masih jauh dari
sempurna dan penulis mengharapkan masukan-masukan yang bersifat membangun
yang dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi penyusunan laporan ini dimasa
yang akan datang dengan dikembangkan kembali konsep yang lebih lengkap dan luas
lagi.
Demikian pengantar ini penulis sampaikan, mudah-mudahan penulisan
skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bogor, Januari 2007

Penulis

v
DAFTAR ISI

Halaman
RINGKASAN ........................................................................................ i
ABSTRACT ........................................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP ............................................................................... iv
KATA PENGANTAR ........................................................................... v
DAFTAR ISI .......................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xi
PENDAHULUAN ................................................................................. 1
Latar Belakang ............................................................................ 1
Tujuan ......................................................................................... 2
Manfaat ....................................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 3
Sifat-sifat Botanis Spesies .......................................................... 3
Mahoni Daun Besar (Swietenia macrophylla King.) ...... 3
Meranti Merah (Shorea selanica BI.) .............................. 4
Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Neilsen) ............. 4
Akasia (Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex Benth) ............ 5
Ketersediaan Air ......................................................................... 6
Hubungan Air dengan Tanaman ................................................. 6
Evaporasi .................................................................................... 7
Transpirasi .................................................................................. 8
Evapotranspirasi .......................................................................... 9
METODOLOGI ..................................................................................... 12
Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 12
Bahan dan Alat Penelitian ........................................................... 12
Metode Pelaksanaan Percobaan dan Pengambilan Data ............. 12
Persiapan .......................................................................... 12
Penanaman dan Pemberian Kadar Air ............................. 13
Pemeliharaan dan Penimbangan Bobot Anakan .............. 13
Pengamatan Lapang ......................................................... 13
Rancangan Penelitian .................................................................. 15
Analisis Data ............................................................................... 15
HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 16
Hasil ............................................................................................ 16
Keadaan Umum Lokasi ................................................... 16
Evapotranspirasi ............................................................... 17
Respon Pertumbuhan ....................................................... 20
Tinggi Tanaman .................................................... 21

vi
Diameter Tanaman ................................................ 22
Pertambahan Jumlah daun .................................... 23
Berat Basah Daun ................................................. 24
Berat Basah Batang ............................................... 26
Berat Basah Akar .................................................. 27
Berat Kering Daun ................................................ 28
Berat Kering Batang ............................................. 29
Berat Kering Akar.................................................. 30
Berat Basah Total .................................................. 32
Berat Kering Total ................................................ 33
Rasio Pucuk-Akar ................................................. 34
Rasio Tinggi-Diameter ......................................... 36
Pembahasan ................................................................................ 37
Evapotranspirasi ............................................................... 37
Respon Pertumbuhan ....................................................... 38
Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex Benth ................ 40
Paraserianthes falcataria (L) Neilsen .................. 40
Swietenia macrophylla King ................................. 40
Shorea selanica BI ................................................ 41
KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 44
Kesimpulan ................................................................................. 44
Saran ........................................................................................... 44
UCAPAN TERIMA KASIH .................................................................. 45
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 46
LAMPIRAN ........................................................................................... 48

vii
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Alat yang digunakan dalam penelitian .......................................... 12
2. Rekapitulasi analisis sidik ragam (Nilai Pr>F) pengaruh
jenis dan tingkat pemberian kadar air tanah terhadap
parameter pertumbuhan dan parameter produksi berat
basah dan berat kering, RPA, dan RTD. ....................................... 20

viii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
o
1. Grafik rata-rata suhu udara harian (per minggu) ( C) ................... 16
2. Grafik rata-rata kelembaban udara harian (per minggu) (%) ....... 16
3. Grafik nilai total evapotranspirasi (selama 70 hari)
pada setiap tingkat kadar air tanah (mm) ...................................... 17
4. Grafik nilai rata-rata harian evapotranspirasi
pada setiap tingkat kadar air tanah (mm) ...................................... 17
5. Grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh harian
pada tingkat kadar air tanah 25% (mm) ........................................ 18
6. Grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh harian
pada tingkat kadar air tanah 50% (mm) ........................................ 18
7. Grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh harian
pada tingkat kadar air tanah 75% (mm) ........................................ 18
8. Grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh hari
pada tingkat kadar air tanah 100% (mm) ...................................... 19
9. Grafik rata-rata pertambahan tinggi tanaman
untuk setiap jenis (cm) .................................................................. 21
10. Grafik rata-rata pertambahan tinggi tanaman
pada setiap tingkat kadar air tanah (cm) ....................................... 21
11. Grafik pertambahan diameter batang
pada setiap jenis tanaman (mm) .................................................... 22
12. Grafik pertambahan diameter batang
pada setiap tingkat kadar air tanah (mm) ...................................... 23
13. Grafik rata-rata pertambahan daun
untuk setiap jenis tanaman ............................................................ 24
14. Grafik rata-rata pertambahan daun
pada setiap tingkat kadar air tanah ................................................ 24
15. Grafik berat basah daun pada setiap jenis tanaman (gr) ............... 25
16. Grafik berat basah daun pada setiap tingkat kadar air tanah (gr) . 25
17. Grafik berat basah batang pada setiap jenis tanaman (gr) ............ 26
18. Grafik berat basah batang pada setiap tingkat
kadar air tanah (gr) ....................................................................... 26
19. Grafik berat basah akar pada setiap jenis tanaman (gram) ........... 27
20. Grafik berat basah akar pada setiap tingkat
kadar air tanah (gram) ................................................................... 27
21. Grafik berat kering daun pada setiap jenis tanaman (gram) ......... 28

ix
22. Grafik berat kering daun pada setiap tingkat
kadar air tanah (gram) ................................................................... 29
23. Grafik berat kering batang pada setiap jenis tanaman (gram) ...... 29
24. Grafik berat kering batang pada setiap tingkat
kadar air tanah (gram) ................................................................... 30
25. Grafik berat kering akar pada setiap jenis tanaman (gram) .......... 31
26. Grafik berat kering akar pada setiap tingkat
kadar air tanah (gram) ................................................................... 31
27. Grafik berat basah total pada setiap jenis tanaman (gram) ........... 32
28. Grafik berat basah total pada setiap tingkat
kadar air tanah (gram) ................................................................... 32
29. Grafik berat kering total pada setiap jenis tanaman (gram) .......... 33
30. Grafik berat kering total pada setiap tingkat
kadar air tanah (gram) ................................................................... 34
31. Grafik rasio pucuk-akar pada setiap jenis tanaman. ..................... 35
32. Grafik rasio pucuk-akar pada setiap tingkat kadar air tanah ........ 35
33. Grafik rasio tinggi-diameter pada setiap jenis tanaman ................ 36
34. Grafik rasio tinggi-diameter pada setiap tingkat kadar air tanah... 36

x
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Nilai Rata-rata Pertambahan Tinggi Total Tanaman (cm) ........... 51
2. Nilai Rata-rata Pertambahan Total Diameter batang (mm) .......... 51
3. Nilai Rata-rata Total Jumlah Daun ............................................... 51
4. Nilai Rata-rata Penyusutan Bobot Anakan Tiap dua Harian (kg) 52
5. Hasil Uji Sidik Ragam dan Uji Duncan ....................................... 54
6. Rata-rata Suhu Udara dan Kelembaban Udara
Harian di dalam rumah kaca (oC) ................................................. 68
7. Rata-rata Suhu Udara dan Kelembaban Udara
Harian di luar rumah kaca Harian (oC) ......................................... 69
8. Rekapitulasi dan Hasil Uji Duncan
Nilai Rata-Rata Pertumbuhan,
Produksi Berat Basah-Berat Kering, RPA dan RTD ................... 72
9. Lay Out Posisi Tanaman dan Perlakuan ....................................... 76
10. Penentuan Volume Ember ........................................................... 77
11. Gambar Anakan
(a) Tingkat Kadar Air tanah100%
(b) Tingkat Kadar Air tanah 75%
(c) Tingkat Kadar Air tanah 50%
(d) Tingkat Kadar Air tanah 25% ................................................ 78
12. Nilai Rata-rata Berat Basah (gram) ............................................. 79
13. Nilai Rata-rata Berat Kering ........................................................ 80

xi
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi dan
peranan sangat penting dalam kehidupan manusia. Menurut Manan (1998) fungsi
hutan antara lain untuk produksi kayu dan hasil hutan non kayu, mengatur tata air
dan pengawetan tanah, sumber makanan ternak dan hutan untuk keperluan wisata.
Selain itu, sumberdaya hutan juga merupakan sumber keanekaragaman jenis flora
dan fauna, pengatur iklim mikro, pendaurulangan CO2, gudang plasma nutfah dan
masih banyak yang lainnya.
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan yang
cukup luas, sehingga hutan di Indonesia memiliki fungsi dan peranan yang cukup
penting untuk kesejahteraan dan kelangsungan semua makhluk hidup. Akan tetapi
pada saat ini kondisi hutan di Indonesia sangat memprihatinkan yang disebabkan
oleh penggundulan hutan, banjir dimusim hujan dan kekeringan dimusim kemarau.
Dampak dari kerusakan ini sering kita lihat pada akhir-akhir ini bahwa negara kita
sering mengalami bencana alam.
Salah satu upaya Departemen Kehutanan untuk mengurangi bencana dan
kerusakan hutan dan lahan diantaranya adalah dengan merehabilitasi hutan dan lahan
seluas 3 juta hektar selama lima tahun. Rehabilitasi ini diartikan sebagai penanaman
hutan dengan jenis asli dan jenis eksotik untuk menciptakan kembali ekosistem yang
ada di hutan dengan tujuan untuk mengembalikan hutan pada kondisi yang lebih
baik.
Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan ini akan tercapai apabila penguasaan
terhadap faktor internal (karakter jenis) dan lingkungan yang mempengaruhi
pertumbuhan pohon telah siap. Seperti kesesuaian antara jenis pohon yang akan
ditanam di suatu tempat dengan kondisi kadar air tanah yang berbeda-beda agar
kedepannya nanti dapat diperoleh jenis pohon yang pertumbuhannya optimal pada
lahan tersebut.
Jenis-jenis pohon seperti Mahoni (Swietenia macrophylla) dijadikan prioritas
utama dalam rangka pembangunan hutan buatan (Manan, 1998). Selain itu, pohon
mahoni juga merupakan tanaman hutan kota yang biasa dijadikan sebagai tanaman
peneduh jalan (Dahlan, 1992). Meranti merah (Shorea selanica) merupakan salah
satu jenis tanaman hutan untuk Pembangunan Hutan Tanaman Meranti (PHTM)
dalam rangka Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Selain itu
Meranti juga merupakan spesies asli tanaman Indonesia. Sengon (Paraserianthes
falcataria) juga menjadi prioritas pembangunan hutan buatan dan hutan rakyat dan
dimanfaatkan untuk penghijauan dan reboisasi serta pelindung atau penyubur tanah
(Sentosa, 1992; Atmosuseno, 1997; Manan, 1998). Sedangkan Akasia merupakan
salah satu jenis populer yang digunakan untuk pembangunan Hutan Tanaman
Industri (HTI).
Kondisi iklim di Indonesia yang relatif bervariasi menyebabkan tidak
menentunya lama waktu musim hujan dan musim kemarau pada setiap tempat
sehingga diperlukan kajian dari pengaruh perlakuan pembedaan pemberian tingkat
kadar air untuk menghitung laju evapotranspirasi terhadap pertumbuhan jenis-jenis
tersebut yang diharapkan dapat memberikan pertimbangan dalam kegiatan
rehabilitasi hutan dan lahan yang dilaksanakan di Indonesia.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji serta mengukur evapotranspirasi dan
pertumbuhan anakan Mahoni (Swietenia macrophylla king.), Meranti merah (Shorea
selanica bi.), Sengon (Paraserianthes falcataria (l) nielsen) dan Akasia (Acacia
crassicarpa A. Cunn. Ex Benth) pada berbagai kadar air tanah.

Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pertumbuhan yang optimal untuk
setiap jenis anakan pada berbagai tingkat kadar air tanah sehingga kedepannya nanti
dapat memberikan masukan kepada pihak yang terkait dalam pelaksanaan gerakan
rehabilitasi hutan dan lahan. Selain itu, penelitian ini juga dapat bermanfaat dalam
pemilihan jenis yang lebih baik dan optimal pertumbuhannya pada berbagai tingkat
kadar air tanah.

2
TINJAUAN PUSTAKA

Sifat-Sifat Botani Spesies

Mahoni Daun Besar (Swietenia macrophylla King.)


Menurut Mayhem dan Newton (1998), Swietenia macrophylla King
merupakan pohon yang hidup di dua musim dengan berukuran besar. Bentuk tajuk
seperti payung. Biasanya tingginya melebihi 30 meter dan lingkar diameter dadanya
lebih dari 1,5 meter. Sebelum populasi ini menjadi langka karena pembalakan yang
ekstensif, tingginya bisa mencapai 45-60 meter dengan diameter 2,5-3,5 meter.
Mahoni adalah jenis pohon dengan tipe kanopi mencuat (emergent). Di
Bolivia, pohon mahoni mencuat dari kanopi rata-rata ketika tingginya mencapai 20-
25 meter dan pohon tertingginya mencapai 25 meter dari kanopi. Taksiran umur
mahoni tidak diketahui, walaupun masing-masing individu pohon dapat hidup
selama beberapa abad. Batang pohon ini berbentuk silindris dan bentuk pangkal
(buttresed). Tajuk dari pohon muda cenderung sempit, tetapi tajuk pohon tua
biasanya lebar, padat dan bercabang tinggi.
Jenis mahoni tergolong tanaman yang tahan naungan (tolerance species) yang
mampu bersaing dengan alang-alang ataupun semak belukar dalam memperoleh
sinar matahari, sehingga cocok untuk tanaman reboisasi pada areal alang-alang yang
rapat. Karena sifat daunnya yang sukar terbakar, mahoni cocok digunakan sebagai
jenis tanaman reboisasi di areal alang-alang yang peka terhadap bahaya kebakaran
(Siregar 1991, diacu dalam Samsi 2000).
Mahoni banyak digunakan sebagai bahan kayu pelapis (Veneer) yang mewah.
Selain itu, mahoni juga digunakan untuk bahan bangunan, mebel, lantai, perkakas,
papan dinding, rangka pintu, patung, ukiran dan kerajinan lainnya. Buahnya dapat
digunakan sebagai bahan obat-obatan (Samingan, 1980). Kayu mahoni dihargai
khususnya karena warna dan kegunaanya. Kayu ini pada dasarnya digunakan untuk
kontruksi, furniture bernilai tinggi dan keperluan interior. Warna dan kepadatan kayu
ini bervariasi, tergantung kepada asal geografis lingkungan tempat tumbuhnya
(Mayhem dan Newton, 1998).
Meranti Merah (Shorea selanica BI.)
Menurut Heyne (1987) dalam Safitri (2004), meranti ini merupakan salah
satu famili Dipterorpaceae yang bernilai ekonomis tinggi. Jenis ini merupakan jenis
asli Indonesia yang berasal dari Pulau Buru (Maluku) dengan tinggi rata-rata 20
meter berwarna kulit coklat kehitam-hitaman.
Shorea selanica merupakan jenis meranti yang pertumbuhannya cepat dan
tumbuh dalam hutan tropis dengan tipe curah hujan B, tanah latosol, podsolik merah-
kuning dan podsolik kuning, pada ketinggian sampai 1300 m dpl (Sudrajat 2003
dalam Safitri 2004). Kayunya dapat dipakai sebagai bahan untuk membuat veneer,
kayu lapis, disamping itu juga dapat dipakai untuk bahan bangunan maupun kayu
perkapalan (Al Rasyid et al., 1989 dalam Safitri 2004).

Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Neilsen)


Sengon dalam bahasa latin disebut Albazia falcataria, termasuk famili
Mimosaceae, keluarga petai – petaian. Di Indonesia, sengon memiliki beberapa nama
daerah seperti berikut : jeunjing, jeungjing laut (Sunda), kalbi, sengon landi, sengon
laut, sengon sabrang (Jawa), seja (Ambon), sikat (Banda), tawa (Ternate) dan gosui
(Tidore) (Lablink, 2006).
Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman sengon
adalah kayunya. Pohonnya dapat mencapai tinggi sekitar 30–45 meter dengan
diameter batang sekitar 70 – 80 cm. Bentuk batang sengon bulat dan tidak berbanir.
Kulit luarnya berwarna putih atau kelabu, tidak beralur dan tidak mengelupas. Berat
jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV - V.
Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, peti
kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak korek api, pulp, kertas dan
lain-lainnya.
Tajuk tanaman sengon berbentuk menyerupai payung dengan rimbun daun
yang tidak terlalu lebat. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan
anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok. Warna daun sengon hijau pupus,
berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan
karbon dioksida dari udara bebas.
Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus ke dalam tanah,
akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol ke permukaan

4
tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu
tanah di sekitar pohon sengon menjadi subur.
Pohon sengon banyak ditanam di tepi kawasan yang mudah terkena erosi dan
menjadi salah satu kebijakan pemerintah melalui DEPHUTBUN untuk menggalakan
‘Sengonisasi’ di sekitar daerah aliran sungai (DAS) di Jawa, Bali dan Sumatra.
(Lablink, 2006).

Akasia (Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex Benth)


Akasia (Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex Benth) termasuk pohon yang
mempunyai tinggi diatas 20 m dan kadang-kadang bisa mencapai 30 m (Doran
danTurnbull, 1997). Pohon ini mempunyai diameter batang diatas 50 cm, kulit
batang berwarna gelap atau coklat abu-abu, kasar, beralur vertikal, kulit bagian
dalam berwarna merah dan berserat. Fillodia berwarna hijau abu-abu, glabrous
mempunyai 3-5 pembuluh primer, berwarna kekuning-kuningan, longitudinal;
pembuluh sekunder berbentuk paralel (Hanum dan Van der Messen dalam Nurazizah
2004).
Jenis akasia ini dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan keasaman yang
kuat (podsolik merah kuning) dan pada tanah dengan drainase tidak sempurna yang
bisa tergenang pada musim hujan dan akan kering pada musim kemarau, misalnya
pada daerah rawa (Doran dan Turnbull, 1997).
A. crassicarpa banyak dijumpai di daerah beriklim humid dan subhumid yang
memiliki suhu maksimum rata-rata pada musim panas sebesar 32-340C, suhu
minimum rata-rata pada musim dingin sebesar 12-210C. Kebanyakan daerah
sebarannya adalah bebas kabut (frost) yang mempunyai selang rata-rata curah hujan
tahunan sebesar 1000 – 3500 mm (Doran dan Turnbull, 1997).
A. crassicarpa dapat digunakan sebagai pelindung dan naungan, fiksasi
nitrogen udara dan perlindungan tanah dalam mencegah erosi. Kayunya dapat
digunakan untuk kayu energi, baik kayu bakar maupun pembuatan arang dan untuk
konstruksi berat, meubel. Selain itu, jenis ini juga dapat ditanam untuk mengontrol
pertumbuhan gulma. A. crassicarpa merupakan spesies yang efektif untuk
rehabilitasi lahan yang banyak ditumbuhi oleh Imperata cylindrica (L.) Raeuschel
(Hanum dan Van der Messen dalam Nurazizah 2004).

5
Ketersediaan Air
Ketersediaan air di dalam tanah sangat ditentukan oleh kemampuan tanah
dalam memegang air. Sebagai contoh tanah berpasir memiliki drainase dan aerasi
yang baik tetapi kapasitas memegang airnya lebih rendah dari pada tanah debu dan
tanah liat.
Karakteristik tanah yang berhubungan dengan ketersediaan air biasanya
dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas lapang (KL) dan titik layu
permanen (TLP). Kondisi KL ini menyatakan jumlah air maksimal yang tertinggal
sehabis air yang keluar dari dalam tanah akibat adanya gaya berat. Sedangkan TLP
menggambarkan kondisi menyusutnya air sampai tanaman tidak mampu lagi
mengambil air tersedia, akibatnya tanaman mengalami kelayuan yang tidak dapat
balik secara permanen.
Selisih antara kandungan air pada kondisi KL dan TLP disebut air tersedia.
Adanya kandungan air tersedia yang maksimum memungkinkan bagi tanaman
mengabsorbsi air tersebut untuk digunakan secara optimal. Total jumlah air yang
tersedia bagi tanaman tergantung dari beberapa faktor diantaranya tipe, dan
kedalaman perakaran, tanah, laju kehilangan air oleh penguapan dan transpirasi, suhu
dan laju penambahan air itu sendiri (Choiruni, 2002 diacu dalam Siddik, 2006).

Hubungan Air dengan Tanaman


Air menyusun lebih dari 80% pada kehidupan dan pertumbuhan sel tanaman.
Menurut Slatyev (1967) dalam Thorne dan Thorne (1979), kehidupan tanaman selalu
membutuhkan air. Air penting untuk kesatuan struktural dari sel-sel, jaringan dan
organnya secara keseluruhan.
Pertumbuhan tanaman membutuhkan jumlah air yang cukup besar.
Tumbuhan mengabsorbsi air dari tanah kemudian diangkut ke seluruh bagian tubuh
tanaman. Air yang hilang ke atmosfer pada tanaman lebih besar dibandingkan
dengan air yang dipergunakan untuk proses metabolismenya. Kehilangan air ini
dinamakan dengan proses transpirasi yang terjadi karena tuntutan penguapan secara
alami ke atmosfer.
Kehilangan air dari tanaman terjadi melalui stomata atau pori-pori daun.
Stomata harus terbuka untuk mengambil CO2 yang diperlukan dalam proses
fotosintesis. Jika evaporasi di atmosfer tinggi, maka stomata akan menutup

6
seluruhnya atau sebagian untuk mengurangi kehilangan air (Thorne dan Thorne,
1979).
Pertumbuhan tanaman akan dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan air dalam
tanah. Tanaman dapat tumbuh dengan baik dalam kapasitas lapang, tetapi saat kadar
air berada pada titik layu permanen pertumbuhan tanaman menjadi terganggu.
Tingkat respon tanaman terhadap air dipengaruhi oleh jenis tanaman dan sistem
perakaran saat terjadi kekurangan air pada periode pertumbuhan.
Hubungan air dengan pertumbuhan tanaman untuk melihatnya diperlukan
suatu pemahaman tentang respon tanaman terhadap air. Menurut Kramer (1969), air
pada tanaman akan berfungsi sebagai : (1) penyusun utama jaringan tanaman, (2)
pelarut garam, gula, dan senyawa lain sehingga larutan tersebut dapat bergerak dari
satu sel ke sel lain, (3) pengatur suhu, (4) mempertahankan turgor tanaman, (5)
pereaksi dalam fotosintesis dan dalam hidrolitik. Selain itu air juga berperan dalam
proses tranpirasi yang secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
Kekurangan air pada tanaman tidak hanya mengurangi produksi tanaman, tetapi juga
merubah pola pertumbuhan tanaman.

Evaporasi
Menurut Islami dan Utomo (1995), budidaya tanaman di lapangan akan
kehilangan air dari permukaan tanah yang disebut evaporasi disamping melalui
proses transpirasi. Dalam banyak kasus biasanya evaporasi diartikan sebagai
kehilangan air dalam bentuk uap dari permukaan air. Tetapi dalam hubungannya
dengan kegiatan pertanian yang dimaksud dengan evaporasi adalah kehilangan air
dari permukaan tanah.
Evaporasi dipengaruhi oleh kondisi iklim, terutama temperatur, kelembaban
udara, radiasi uadara dan kecepatan angin serta kandungan air tanah. Evaporasi akan
menyebabkan kandungan air tanah turun, sehingga kecepatan evaporasi juga akan
turun.
Kemampuan tanaman untuk merubah radiasi total yang diterima menjadi
tingkat pertumbuhan dan hasil tanaman pada suatu tingkat radiasi dan temperatur
tertentu akan berbeda diantara satu spesies dan spesies yang lain. Perbedaan ini
merupakan salah satu faktor penting yang sangat menentukan efisiensi penggunaan
air.

7
Transpirasi
Transpirasi adalah evaporasi air dari tumbuhan termasuk gerakan air melalui
seluruh kesatuan tanah, tumbuhan dan atmosfer. Hilangnya air dari daun melalui
evaporasi menyebabkan tambahan air diserap batang dan melewati akar dalam
bentuk kolom yang kontinyu.
Kejadian yang jarang terjadi bila transpirasi sangat lambat terutama bila tanah
lembab dan level air atmosfer tinggi, air didorong lewat tumbuhan oleh tekanan akar.
(Daniel et al., 1989).
Menurut Dwijoseputro (1980), hilangnya molekul-molekul air dari tubuh
tanaman sebagian besar adalah melewati daun. Hal ini disebabkan karena luasnya
permukaan daun dan juga karena daun-daun itu lebih tersentuh udara dari pada
bagian-bagian lain dari suatu tanaman. Penguapan yang terjadi di daun yang kita
kenal adalah melalui kutikula dan stoma.
Kegiatan transpirasi terpengaruh oleh banyak faktor, baik faktor-faktor
dalam maupun faktor-faktor luar. Yang terhitung sebagai faktor-faktor dalam ialah
besar-kecilnya daun, tebal-tipisnya daun, berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan
daun, banyak-sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stoma,
bentuk dan lokasi stomata. Disamping itu faktor-faktor luar seperti radiasi,
temperatur, kebasahan udara, tekanan udara, angin dan keadaan air di dalam tanah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi transpirasi adalah :
1) Sinar matahari. Terang menyebabkan membukanya stoma, sedangkan gelap
menyebabkan menutupnya stoma sehingga semakin banyak sinar berarti akan
mempercepat transpirasi.
2) Temperatur. Kenaikan temperatur akan menambah tekanan uap di dalam daun.
3) Kebasahan udara. Udara yang basah menghambat transpirasi, sedangkan udara
yang kering melancarkan transpirasi.
4) Angin. Angin yang sedang pada umumnya menambah kegiatan transpirasi karena
angin membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stoma. Dengan
demikian uap yang masih ada di dalam daun akan mendapat kesempatan untuk
berdifusi ke luar.

8
5) Keadaan air di dalam tanah. Air di dalam tanah merupakan sumber pokok jika
dibandingkan dengan absorpsi air lewat bagian-bagian lain yang ada di atas tanah
seperti batang dan daun.

Evapotranspirasi
Evapotranspirasi merupakan kombinasi antara proses evaporasi dari seluruh
permukaan dengan proses transpirasi tanaman. Menurut Rodda et al., (1976),
evaporasi didefinisikan sebagai proses perubahan air dari bentuk cair menjadi bentuk
uap yang terjadi dengan bantuan energi. Evaporasi dapat terjadi pada permukaan
tanah yang basah, salju, permukaan es dan dari tanaman yang terbasahi oleh hujan.
Sedangkan, transpirasi merupakan proses penguapan air yang terkandung di dalam
tanaman dan berpindah menuju atmosfir.
Jumlah total air yang hilang dari lapangan karena evaporasi tanah dan
transpirasi tanaman secara bersama disebut evapotranspirasi (ET). Evaporasi
merupakan suatu proses yang tergantung energi yang meliputi perubahan sifat dari
fase cairan ke fase gas. Laju transpirasi merupakan fungsi dari landaian tekanan uap,
tahanan terhadap aliran, dan kemampuan tanaman dan tanah untuk mentranspor air
ke tempat terjadinya transpirasi. Kehilangan air ke atmosfer ditentukan oleh faktor-
faktor lingkungan dan faktor dalam tanaman. Pengaruh lingkungan terhadap ET
disebut tuntutan atmosfer atau tuntutan evaporisasi (Lubis, 2000).
Proses evaporasi dan transpirasi terjadi secara simultan dan tidak mudah
untuk membedakan air yang hilang dari kedua proses itu. Oleh karena itu digunakan
istilah umum evapotranspirasi untuk menggambarkan total air yang berubah menjadi
uap air dari permukaan tanah dan tanaman menuju atmosfer (Rosenberg et al., 1983
dalam Irawan 2003).
Rodda et al.,(1976) juga mengemukakan bahwa proses evaporasi dipengaruhi
oleh faktor ketersediaan energi untuk mengubah molekul air dari bentuk cair menjadi
uap. Sumber energi yang digunakan dapat berasal dari radiasi surya, suhu permukaan
udara dan suhu permukaan evaporasi. Jumlah air yang terevaporasi dari permukaan
air juga ditentukan oleh kecepatan angin dan pergerakan angin tersebut mengangkut
molekul air dari tempat yang banyak mengandung uap air ke tempat yang sedikit
mengandung uap air.

9
Di lapangan proses transpirasi dan evaporasi terjadi secara bersamaan dan
sulit untuk dipisahkan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, kehilangan air
lewat kedua proses ini pada umumnya dijadikan satu dan disebut “evapotranspirasi
(ET)”. Dengan demikian evapotranspirasi merupakan jumlah air yang diperlukan
oleh tanaman (Islami dan Utomo, 1995)
Seperti halnya evaporasi, transpirasi juga membutuhkan suplai energi untuk
mengubah air menjadi bentuk uap. Oleh sebab itu, suhu udara, kelembaban relatif
(RH), penyinaran matahari dan kecepatan angin diperhatikan juga dalam penetapan
transpirasi. Suplai energi dalam proses transpirasi ditentukan oleh gradien tekanan
uap dan angin (Allen et al., 1998 dalam Irawan, 2003).
Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi evavotranspirasi (Lubis, 2000)
yaitu:
1) Radiasi matahari. Dari radiasi matahari yang diserap oleh daun, 1-5%
digunakan untuk fotosintesis dan 75-85% digunakan untuk memanaskan daun
dan untuk transpirasi.
2) Temperatur. Peningkatan temperatur meningkatkan kapasitas udara untuk
menyimpan air, yang berarti tuntutan atmosfer yang lebih besar.
3) Kelembaban relatif. Makin besar kandungan air di udara, makin tinggi
kelembaban udara, yang berarti tuntutan atmosfer menurun dengan
meningkatnya kelembapan relatif.
4) Angin. Transpirasi terjadi apabila air berdifusi melalui stomata. Apabila
aliran udara (angin) menghembus udara lembab di permukaan daun,
perbedaan potensial air di dalam dan tepat di luar lubang stomata akan
meningkat dan difusi bersih air dari daun juga meningkat.
Faktor-faktor tanaman yang mempengaruhi evapotranspirasi (Lubis, 2000)
yaitu :
1) Penutupan stomata. Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena
kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang
terjadi apabila stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih
banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit
untuk masing-masing satuan penambahan lebar stomata Faktor utama yang

10
mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan
ialah tingkat cahaya dan kelembaban.
2) Jumlah dan ukuran stomata. Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh
genotipe dan lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap
transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan stomata.
3) Jumlah daun. Makin luas daerah permukaan daun, makin besar
evapotranspirasi.
4) Penggulungan atau pelipatan daun. Banyak tanaman mempunyai mekanisme
dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan
air terbatas.
5) Kedalaman dan proliferasi akar. Ketersedian dan pengambilan kelembapan
tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan
proliferasi akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air,
dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah) meningkatkan
pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan
permanen (Gardner, et.al., 1991 ).

11
METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Silvikultur Fakultas
Kehutanan IPB. Pelaksanaannya dilakukan selama 70 hari atau sepuluh minggu
mulai dari bulan 17 Juli – 24 September 2006.

Bahan dan Alat Penelitian


Bahan yang digunakan dalam penelitian, yaitu :
1. Anakan mahoni ( Swietenia macrophylla) usia 4 bulan, meranti merah (Shorea
selanica) usia 5 bulan, sengon (Paraserianthes falcataria) usia 4 bulan dan
akasia (Acacia crassicarpa) usia 5 bulan yang merupakan anakan siap tanam di
lapangan. Keempat anakan jenis bahan penelitian berasal dari perkecambahan
benih.
2. Tanah top soil yang telah dicampur dengan pupuk kandang sebagai media anakan
yang ditempatkan dengan menggunakan sistem square plot seperti yang tersaji
pada lampiran 9.
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan ini tersaji pada Tabel 1:
Tabel 1. Alat yang akan digunakan dalam penelitian
No Nama alat Fungsi
Termometer bola basah dan bola Mengukur kelembaban udara (%) dan suhu
1
kering udara(0C)
2 Ember Tempat menyimpan media anakan
3 Kaliper Mengukur diameter batang tanaman (mm)
4 Alat ukur/mistar Mengukur tinggi tanaman (cm)
5 Alat tulis dan tally sheet Mencatat hasil perlakuan
6 Kamera Dokumentasi
7 Timbangan Menimbang bobot anakan dalam ember

Metode Pelaksanaan Percobaan dan Pengambilan Data

Persiapan
Tanaman dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan perbedaan pemberian
tingkat kadar air yaitu dengan perlakuan 100%, 75%, 50%, dan 25%. Di dalam satu
kelompok, terdapat empat jenis tanaman. Tiap jenis terdiri atas empat ulangan, tiap
ulangan terdiri atas empat individu tanaman. Langkah berikutnya ialah
mempersiapkan media tanam yaitu tanah yang telah dicampur dengan pupuk
kandang kemudian dimasukan ke dalam ember yang volumenya sebesar 4078,085
cm3. Tanah yang diambil adalah lapisan tanah bagian atas pada kedalaman 0-20 cm.

Penanaman dan Pemberian Kadar Air


Nilai KAT (Kapasitas Air Tanah) untuk tingkat kadar air 100% diperoleh dari
hasil analisa tanah di laboratorium fisik di Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. Nilai KAT ini merupakan acuan nilai kadar air yang diberikan setiap dua hari
sekali melalui penyiraman dan dipertahankan nilainya sampai dengan akhir
penelitian. Nilai kadar air ini dipertahankan dengan menambahkan air setelah melihat
nilai dari penyusutan bobot anakan setiap dua hari sekali untuk dikembalikan pada
bobot awal anakan.
Setiap anakan ditanam pada ember yang telah diisi oleh media yang telah
dipersiapkan. Kemudian dilakukan penimbangan bobot awal tiap anakan. Nilai bobot
awal ini merupakan acuan untuk pemberian air berikutnya setelah penyusutan setiap
dua hari sekali.
Nilai volume air yang diberikan pada tiap-tiap tingkat kadar air sebagai
berikut :
¾ Kadar air 100% : 1691,712 ml
¾ Kadar air 75% : 1268,784 ml
¾ Kadar air 50% : 845,856 ml
¾ Kadar air 25% : 422,928 ml

Pemeliharaan dan Penimbangan Bobot Anakan


Pemeliharaan anakan pohon meliputi penyiangan dan penyiraman serta
penimbangan yang dilakukan setiap dua hari sekali pada pukul 16.00 sesuai dengan
perlakuannya.

Pengamatan Lapang, meliputi :


1. Pengukuran Pertumbuhan Tanaman
Pertumbuhan tanaman yang diukur meliputi :
™ Tinggi, diameter batang, dan jumlah daun. Pengukuran dilakukan setiap tujuh
hari. Peubah tinggi yang diukur adalah mulai dari pangkal batang sampai ke

13
ujung titik pertumbuhan batang. Sedangkan peubah diameter diukur dengan
menggunakan kaliper.
™ Perhitungan berat basah dan berat kering anakan serta rasio pucuk-akar
(RPA) dilakukan pada akhir penelitian, dengan pemotongan bagian pangkal
yang mengalami perakaran dan bagian daun/pucuk, masing-masing
dipisahkan, kemudian dilakukan pengovenan pada suhu 1050C selama 24
jam, setelah kering dilakukan penimbangan sehingga akan diperoleh berat
kering akar dan pucuk. Berat kering total diperoleh dari jumlah total berat
daun, batang dan akar, sedangkan rasio pucuk akar dengan membandingkan
berat kering pucuk terhadap berat kering akar.
™ Perhitungan rasio tinggi-diameter (RTD) dilakukan pada akhir penelitian
dengan membandingkan antara tinggi anakan dan diameter batang.
2. Pengukuran Data Bobot Anakan
™ Keseluruhan individu dari keempat jenis anakan ditimbang untuk
mendapatkan data awal bobot anakan.
™ Setiap dua hari sekali dilakukan penimbangan bobot anakan dengan media
tanam dan embernya pada seluruh individu anakan yang bertujuan untuk
mengetahui besarnya nilai penyusutan bobot anakan kemudian dilakukan
penyiraman kembali supaya bobotnya sama dengan bobot awal pengukuran.
3. Pengukuran Kehilangan Air (Evapotranspirasi)
Pengukuran kehilangan air melalui proses evapotranspirasi didasarkan pada
hasil penyusutan dari data bobot anakan setiap dua hari sekali. Penentuan nilai
evapotranspirasi ini dengan cara mengkonversi data bobot anakan dalam satuan
kilogram (kg) menjadi satuan liter (l). Konversi ini berdasarkan pada Sistem
Internasional (SI) baku yang menyatakan bahwa untuk air yaitu 1 kg sama dengan 1
liter.
4. Pengumpulan Data Lingkungan
Data kondisi lingkungan yang diukur meliputi pengukuran suhu dan kelembaban
udara di dalam dan di luar rumah kaca yang dilakukan setiap hari pada pagi hari
pukul 7.30, siang hari pukul 13.30 dan sore hari pada pukul 17.30.

14
Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan faktorial rancangan acak lengkap (RAL) yang
terdiri atas dua faktor percobaan. Faktor pertama, yaitu empat taraf untuk jenis
tanaman, faktor kedua, yaitu empat taraf untuk perbedaan pemberian tingkat kadar
air. Jumlah ulangan masing-masing jenis tanaman adalah empat kali, tiap ulangan
terdiri atas empat individu. Faktor percobaan tersebut sebagai berikut :
Faktor A : jenis tanaman, yaitu :
J1 : Acacia crassicarpa
J2 : Paraserianthes falcataria
J3 : Swietenia macrophylla
J4 : Shorea selanica
Faktor B : tingkat pemberian kadar air, yaitu :
N1 : kadar air kapasitas lapang (100%)
N2 : kadar air 75%
N3 : kadar air 50%
N4 : kadar air 25%
Menurut Hanafiah (2000) bahwa model umum rancangan percobaan yang
digunakan untuk tiap-tiap jenis adalah :

Yijk = μ + αi + βj + (αβ)ij + εijk

Keterangan :
I = 1, 2, 3, 4; j = 1, 2, 3, 4 dan k = 1, 2, 3, 4
Yijk = nilai pengamatan kombinasi perlakuan ij pada satuan percobaan ke-k
μ = rataan umum
αI = pengaruh perlakuan ke-i dari faktor toleransi jenis terhadap pemberian
kadar air
βj = pengaruh perlakuan ke-j dari faktor pemberian kadar air
(αβ)ij = pengaruh interaksi taraf ke-i dan taraf ke-j
εijk = pengaruh acak kombinasi perlakuan ij dari satuan percobaan ke-k

Analisis Data
Data yang diolah adalah pertambahan tinggi, diameter batang, jumlah daun,
berat basah dan berat kering anakan serta rasio pucuk-akar dan rasio tinggi-diameter.
Data diolah dengan menggunakan bantuan program statistika, yaitu program SPSS.
11.0

15
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Keadaan Umum Lokasi


Parameter lingkungan yang diukur dalam penelitian meliputi suhu udara dan
kelembaban udara di dalam rumah kaca yang disajikan pada Gambar 1 dan Gambar
2. Kedua parameter lingkungan ini merupakan nilai suhu udara harian dan
kelembaban udara harian selama penelitian (70 hari).

Rata-rata suhu harian (perminggu)

29.20
Rata-rata Suhu (oC)

29.00
28.80
28.60 Rata-rata suhu harian
28.40
28.20
28.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Minggu Ke-

Gambar 1. Grafik rata-rata suhu udara harian (per minggu) (oC).

Rata-rata Kelembaban Udara Harian (perminggu)


Kelembaban Udara (%)

80.00
75.00
Rata-rata kelembaban harian
70.00
65.00
60.00
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Minggu Ke-

Gambar 2. Grafik rata-rata kelembaban udara harian (per minggu) (%).

Gambar 1 dan 2 merupakan nilai rata-rata suhu udara dan kelembaban udara
harian di dalam rumah kaca yang dirata-ratakan setiap minggunya. Kisaran suhunya
yaitu antara 28,0 – 29,2oC dan kisaran kelembaban udaranya adalah 67 – 82%.
Secara keseluruhan bahwa nilai rata-rata untuk suhu udara ternyata setiap minggunya
yaitu 28,8o C, sedangkan untuk nilai rata-rata kelembaban udara setiap minggunya
adalah sebesar 72%. Selama penelitian berlangsung tidak terjadi perubahan suhu
udara dan kelembaban udara yang terlalu signifikan.
Evapotranspirasi
Faktor jenis dan tingkat kadar air memberikan respon sangat nyata terhadap
nilai evapotranspirasi pada selang kepercayaan 99% (Tabel 2).

600.00
Anakan
500.00 Akasia
Evapotranspirasi (mm)

400.00 Anakan
Sengon
300.00
Anakan
200.00 Mahoni
100.00 Anakan
Meranti
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air

Gambar 3. Grafik nilai total evapotranspirasi (selama 70 hari) pada setiap tingkat
kadar air tanah (mm).

8
7
Evapotranspirasi (mm)

6
Anakan Akasia
5
Anakan Sengon
4
Anakan Mahoni
3
Anakan Meranti
2
1
0
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air

Gambar 4. Grafik nilai rata-rata harian evapotranspirasi pada setiap tingkat kadar air
tanah (mm).

Gambar 3 merupakan nilai jumlah total evapotranspirasi yang dikeluarkan


oleh setiap jenis tanaman pada setiap tingkat kadar air. Jenis tanaman sengon pada
tingkat kadar air 75% memiliki jumlah total evapotranspirasi yang paling tinggi yaitu
sebesar 504.03 mm. Sedangkan untuk jenis tanaman meranti merah pada tingkat
kadar air 25% menunjukkan jumlah evapotranspirasi yang paling rendah yaitu
sebesar 121.40 mm. Sama halnya dengan Gambar 4 yang memperlihatkan nilai rata-
rata harian proses evapotranspirasi bahwa jenis sengon pada tingkat kadar air 75%
memiliki nilai rata-rata harian yang paling tinggi sebesar 7.41 mm/hari, sedangkan
untuk jenis meranti merah pada perlakuan tingkat kadar air 25% memiliki nilai rata-

17
rata kehilangan air melalui proses evapotranspirasi yang paling rendah sebesar 1.79
mm/hari.

Evapotranspirasi (mm)
5.00
4.00 J1N4
3.00 J2N4
2.00 J3N4
1.00
J4N4
0.00
1 2 3 4 5 6 7
Sepuluh Hari Ke-

Gambar 5. Grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh harian pada tingkat
kadar air tanah 25% (mm).

6.00
Evpotranspirasi (mm)

5.00
J1N4
4.00
J2N4
3.00
J3N4
2.00
J4N4
1.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7
Sepuluh Hari Ke-

Gambar 6. Grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh harian pada tingkat
kadar air tanah 50% (mm).

12.00
Evapotranspirasi (mm)

10.00
8.00 J1N4
J2N4
6.00
J3N4
4.00
J4N4
2.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7
Sepuluh Hari Ke-

Gambar 7. Grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh harian pada tingkat
kadar air tanah 75% (mm).

18
10.00

Evapotranspirasi (mm)
8.00
J1N4
6.00 J2N4
4.00 J3N4
J4N4
2.00

0.00
1 2 3 4 5 6 7
Sepuluh Hari Ke-

Gambar 8. Grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh hari pada tingkat kadar
air tanah 100% (mm).

Gambar 5 menunjukkan grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh


harian pada tingkat kadar air 25%. Jenis tanaman mahoni menunjukkan nilai rata-rata
evapotranspirasi yang paling tinggi. Kemudian diikuti oleh sengon, akasia dan
meranti. Nilai rata-rata evapotranspirasi hampir pada semua jenis tanaman terus
semakin meningkat setiap minggunya dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5.
Gambar 6 menunjukkan grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh
harian pada tingkat kadar air 50%. Nilai evapotranspirasi yang paling tinggi
ditunjukkan oleh jenis tanaman akasia, kemudian diikuti oleh jenis meranti, sengon,
dan mahoni. Jenis tanaman akasia sampai minggu ke-4 mengalami peningkatan nilai
rata-rata evapotranspirasinya dan minggu selanjutnya mengalami penurunan yang
cukup tajam. Jenis mahoni dan meranti sampai minggu ke-3 mengalami kenaikan
dan pada minggu berikutnya semakin menurun.
Gambar 7 menunjukkan grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh
harian pada tingkat kadar air 75%. Nilai evapotranspirasi yang paling tinggi
ditunjukkan oleh jenis tanaman sengon, kemudian diikuti oleh jenis mahoni, akasia,
dan meranti. Hampir pada semua jenis tanaman memperlihatkan kenaikan nilai rata-
rata evapotranspirasi pada setiap minggunya, kecuali untuk jenis tanaman meranti.
Gambar 8 menunjukkan grafik nilai rata-rata evapotranspirasi per sepuluh
harian pada tingkat kadar air 100%. Jenis tanaman sengon menunjukkan nilai rata-
rata evapotranspirasi yang paling tinggi. Kemudian diikuti oleh mahoni, akasia dan
meranti. Seluruh jenis tanaman mengalami peningkatan nilai rata-rata
evapotranspirasi pada setiap minggunya.

19
Hasil dari uji Duncan memperlihatkan bahwa jenis tanaman sengon dan
meranti tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 100%, 75%, dan 50%.
Jika dibandingkan dengan perlakuan tingkat kadar air 25%, ketiganya tampak sangat
berbeda nyata.
Jenis tanaman mahoni dan akasia pada perlakuan tingkat kadar air 75% dan
50% tampak tidak berbeda nyata. Sedangkan pada perlakuan tingkat kadar air 100%
dan 25% tampak sedikit saling berbeda nyata. Akan tetapi antara perlakuan tingkat
kadar air 75% dan 50% jika dibandingkan dengan perlakuan tingkat kadar air 100%
dan 25% tampak saling berbeda nyata antara satu dengan yang lainnya.

Respon Pertumbuhan
Respon pertumbuhan yang diukur meliputi pertambahan tinggi, diameter
batang, jumlah daun, berat basah dan berat kering, rasio pucuk-akar dan rasio tinggi-
diameter, serta evapotranspirasi disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Rekapitulasi analisis sidik ragam (Nilai Pr>F) pengaruh jenis dan tingkat
pemberian kadar air terhadap parameter pertumbuhan dan parameter
produksi berat basah dan berat kering, RPA, dan RTD.
Parameter Jenis dan Perlakuan
Tinggi 0,000**
Diameter 0,000**
Jumlah daun 0,000**
Bobot anakan (evapotranspirasi) 0,000**
Berat basah daun 0,000**
Berat basah batang 0,476tn
Berat basah akar 0,000**
Berat basah total 0,000**
Berat kering daun 0,000**
Berat kering batang 0,000**
Berat kering akar 0,000**
Berat kering total 0,000**
Rasio pucuk-akar 0,000*
Rasio Tinggi-diameter 0,443tn
Keterangan :
* : Berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%
** : Berbeda sangat nyata pada selang kepercayaan 99%
tn : Tidak nyata pada selang kepercayaan 95%
Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa semua respon yang diberikan oleh faktor
jenis dan faktor perlakuan kadar air terhadap tiap-tiap parameter pertumbuhan dan
parameter produksi berat basah dan berat kering mempunyai pengaruh yang sangat
nyata pada selang kepercayaan 99%, kecuali parameter rasio pucuk-akar yang

20
berpengaruh nyata hanya pada selang kepercayaan 95%. Sedangkan parameter berat
basah batang serta parameter rasio tinggi-diameter tidak berpengaruh nyata pada
selang kepercayaan 95%.

Tinggi Tanaman. Berdasarkan hasil uji sidik ragam pada Tabel 2 pengaruh faktor
jenis tanaman dan pengaruh faktor kadar air memberikan respon yang sangat nyata
terhadap pertambahan tinggi tanaman pada selang kepercayaan 99%. Hal ini berarti
bahwa perlakuan yang ada memberikan respon yang sangat nyata terhadap
pertambahan tinggi pada tiap-tiap jenis tanaman.
Gambar 9 dan 10 memperlihatkan bahwa jenis tanaman sengon pada
perlakuan tingkat kadar air 75% memiliki nilai rata-rata pertambahan tinggi tanaman
yang paling besar. Sedangkan jenis tanaman meranti pada perlakuan tingkat kadar air
75% dan 25% memiliki nilai rata-rata yang paling rendah.

50.00
Pertambahan Tinggi
Tanaman (cm)

40.00 T ingkat Kadar Air 100%


30.00 T ingkat Kadar Air 75%
20.00 T ingkat Kadar Air 50%
10.00 T ingkat Kadar Air 25%
0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis T anaman

Gambar 9. Grafik rata-rata pertambahan tinggi tanaman untuk setiap jenis (cm).

45.00
Pertambahan Tinggi Tanaman

40.00 Jenis Tanaman Akasia


35.00 Jenis Tanaman Sengon
30.00 Jenis Tanaman Mahoni
(cm)

25.00 Jenis Tanaman Meranti


20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 10. Grafik rata-rata pertambahan tinggi tanaman pada setiap tingkat kadar
air tanah (cm).

Hasil uji Duncan memperlihatkan bahwa Jenis tanaman akasia tampak tidak
berbeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 75% dan 50%. Sedangkan untuk
perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25% tampak berbeda nyata.

21
Respon pertambahan tinggi pada jenis tanaman sengon tampak tidak berbeda
nyata pada perlakuan tingkat kadar air 100% dan 50%. Sedangkan jika keduanya
dibandingkan dengan perlakuan tingkat kadar air 75% dan 25% tampak saling
berbeda nyata.
Pertambahan tinggi mahoni pada perlakuan tingkat kadar air 75% dan 25%
tampak tidak berbeda nyata. Jika keduanya dibandingkan dengan perlakuan tingkat
kadar air 100% dan 50% tampak berbeda nyata.
Jenis tanaman meranti tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 100% dan 50%. Sama halnya juga pada perlakuan tingkat kadar air 75%
dan 25% yang tampak tidak berbeda nyata. Namun antara perlakuan tingkat kadar air
100% dan 50% dengan 75% dan 25% tampak saling berbeda nyata antara satu
dengan yang lainnya.

Diameter Tanaman. Berdasarkan hasil uji sidik ragam pada Tabel 2, pengaruh
faktor jenis tanaman dan pengaruh faktor kadar air memberikan respon yang sangat
nyata terhadap pertambahan diameter tanaman pada selang kepercayaan 99%.
Jenis tanaman sengon pada tingkat kadar air 50% mempunyai nilai rata-rata
pertambahan diameter paling besar. Sebaliknya, jenis tanaman akasia pada tingkat
kadar air 25% mempunyai nilai rata-rata pertambahan diameter yang paling rendah
(Gambar 11 dan 12).

0.50
Batang Tanaman (mm)
Pertambahan Diameter

0.40 Tingkat Kadar Air 100%


0.30 Tingkat Kadar Air 75%
0.20 Tingkat Kadar Air 50%
0.10 Tingkat Kadar Air 25%

0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis Tanaman

Gambar 11. Grafik pertambahan diameter batang pada setiap jenis tanaman (mm).

22
Pertambahan Diameter batang (mm)
0.45
0.40
0.35
0.30 Jenis Tanaman Akasia
0.25 Jenis Tanaman Sengon
0.20 Jenis Tanaman Mahoni
0.15 Jenis Tanaman Meranti
0.10
0.05
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 12. Grafik pertambahan diameter batang pada setiap tingkat kadar air tanah
(mm).

Hasil dari uji Duncan memperlihatkan bahwa jenis tanaman meranti tampak
tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 100% dan 75%. Sedangkan
pada perlakuan tingkat kadar air 50% dan 25% tampak saling berbeda nyata. Namun
antara perlakuan tingkat kadar air 100% dan 75% dengan 50% dan 25% tampak
saling berbeda nyata.
Jenis tanaman mahoni tampak sedikit berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 100% dan 25%, begitupun pada perlakuan tingkat kadar air 50% dan 75%.
Namun antara perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25% dengan 50% dan 75%
tampak saling berbeda nyata.
Respon yang diberikan jenis tanaman sengon tampak berbeda nyata pada
perlakuan tingkat kadar air 100%, 75%, dan 50%. Akan tetapi ketiganya memberikan
respon yang sangat berbeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 25%.
Pertambahan diameter pada jenis akasia memberikan respon tampak sedikit
berbeda nyata pada semua perlakuan tingkat kadar air.

Pertambahan Jumlah daun. Hasil dari rekapitulasi analisis sidik ragam pada Tabel
2 menunjukan bahwa hubungan antara faktor perlakuan dan faktor jenis tanaman
terhadap pertambahan jumlah daun memiliki respon yang sangat nyata pada selang
99%.
Seperti yang terlihat pada Gambar 13 dan 14 bahwa nilai rata-rata
pertambahan jumlah daun yang paling besar adalah pada jenis tanaman sengon pada
perlakuan tingkat kadar air 100%. Sedangkan nilai rata-rata jumlah daun yang paling
rendah adalah pada jenis tanaman meranti pada perlakuan tingkat kadar air 25%.

23
140.00

Pertambahan Jumlah Daun


120.00
100.00 T ingkat Kadar Air 100%
80.00 T ingkat Kadar Air 75%
60.00 T ingkat Kadar Air 50%
40.00 T ingkat Kadar Air 25%
20.00
0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis T anaman

Gambar 13. Grafik rata-rata pertambahan daun untuk setiap jenis tanaman.

140.00
Jenis Tanaman
120.00
Akasia
Jumlah Daun

100.00 Jenis Tanaman


80.00 Sengon
60.00 Jenis Tanaman
40.00 Mahoni
20.00 Jenis Tanaman
0.00 Meranti
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 14. Grafik rata-rata pertambahan daun pada setiap tingkat kadar air tanah.

Berdasarkan hasil uji Duncan menunjukan bahwa jenis tanaman akasia dan
meranti memberikan respon yang tidak berbeda nyata. Respon yang diberikan oleh
kedua jenis tanaman tersebut berbanding terbalik dengan respon yang diberikan oleh
jenis tanaman sengon yang tampak sangat berbeda nyata.
Jenis tanaman mahoni tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 100% dan 50%. Begitu pula pada perlakuan tingkat kadar air 75% dan 25%
yang memberikan respon yang sama. Akan tetapi, antara perlakuan tingkat kadar air
100% dan 50% dengan 75% dan 25% tampak saling berbeda nyata.

Berat Basah Daun. Respon perlakuan yang terdiri atas faktor jenis tanaman dan
faktor perlakuan terhadap parameter berat basah daun secara umum memberikan
pengaruh yang sangat nyata pada selang kepercayaan 99 % (Tabel 2).
Jenis tanaman mahoni pada perlakuan tingkat kadar air 75% memiliki nilai
rata-rata berat basah daun yang paling tinggi. Sedangkan untuk jenis tanaman

24
meranti dengan kadar air 25% memiliki nilai rata-rata berat basah daun yang paling
rendah (Gambar 15 dan 16).

70.00
60.00
Berat Basah Daun (gr)

50.00 Tingkat Kadar Air 100%


40.00 Tingkat Kadar Air 75%
30.00 Tingkat Kadar Air 50%
20.00 Tingkat Kadar Air 25%
10.00
0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis Tanaman

Gambar 15. Grafik berat basah daun pada setiap jenis tanaman (gr).

70.00
Berat Basah Daun (gr

60.00
50.00 Jenis Tanaman Akasia
40.00 Jenis Tanaman Sengon
30.00 Jenis Tanaman Mahoni
20.00 Jenis Tanaman Meranti
10.00
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 16. Grafik berat basah daun pada setiap tingkat kadar air tanah (gr).

Berdasarkan atas uji Duncan bahwa jenis tanaman sengon pada perlakuan
tingkat kadar air 100% dan 75% tampak tidak berbeda nyata. Tingkat kadar air 50%
dan 25% tampak berbeda sangat nyata. Nilai antara perlakuan tingkat kadar air 100%
dan 75% dengan 50% dan 25% tampak berbeda sangat nyata.
Jenis tanaman akasia tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 75% dan 50%. Sedangkan untuk perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25%
tampak sedikit berbeda nyata. Akan tetapi, respon antara tingkat kadar air 75% dan
50% dengan 100% dan 25% tampak berbeda sangat nyata.
Perlakuan tingkat kadar air 75% dan 25% pada jenis tanaman meranti
ternyata memberikan respon tampak tidak berbeda nyata. Lain halnya dengan
perlakuan tingkat kadar air 100% dan 50% yang memberikan respon berbeda nyata.

25
Jika dibandingkan antara perlakuan tingkat kadar air 75% dan 25% dengan 100%
dan 50% tampak berbeda nyata.
Jenis tanaman mahoni tampak berbeda nyata hampir pada seluruh perlakuan
tingkat kadar air.

Berat Basah Batang. Berdasarkan atas Tabel 2 bahwa respon yang diberikan oleh
perlakuan yang terdiri atas faktor jenis tanaman dan faktor tingkat kadar air terhadap
parameter produksi berat basah batang ialah tidak berbeda nyata pada selang
kepercayaan 95%.
Gambar 17 dan 18 menunjukan grafik nilai rata-rata berat basah batang yang
paling besar adalah pada jenis tanaman mahoni pada tingkat kadar air 75%.
Sedangkan nilai rata-rata berat basah batang yang paling rendah adalah jenis tanaman
akasia pada perlakuan tingkat kadar air 25%.

30.00
Berat Basah Batang (gr)

25.00
T ingkat Kadar Air 100%
20.00
T ingkat Kadar Air 75%
15.00
T ingkat Kadar Air 50%
10.00
T ingkat Kadar Air 25%
5.00
0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis T anaman

Gambar 17. Grafik berat basah batang pada setiap jenis tanaman (gram).

30.00
B erat B asah B atan g (g r)

25.00
Jenis Tanaman Akasia
20.00
Jenis Tanaman Sengon
15.00
Jenis Tanaman Mahoni
10.00
Jenis Tanaman Meranti
5.00
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 18. Grafik berat basah batang pada setiap tingkat kadar air tanah (gram).

26
Hasil dari uji Duncan memperlihatkan hampir semua jenis tanaman pada
semua perlakuan memberikan respon yang tidak berbeda nyata. Hanya untuk jenis
tanaman sengon pada perlakuan tingkat kadar air 25% yang memberikan respon
tampak berbeda nyata.

Berat Basah Akar. Tabel 2 memperlihatkan hasil dari uji sidik ragam antara
perlakuan dengan parameter berat basah akar. Ternyata hasilnya ialah faktor
perlakuan memberikan respon yang sangat nyata terhadap parameter berat basah akar
pada selang kepercayaan 99%.
Grafik pada Gambar 19 dan 20 memperlihatkan bahwa jenis tanaman sengon
pada perlakuan kadar air tingkat 75% memiliki nilai rata-rata berat basah yang paling
tinggi. Sedangkan untuk jenis tanaman akasia pada perlakuan tingkat kadar air 25%
memiliki nilai rata-rata berat basah yang paling rendah.

30.00

25.00
Berat Basah Akar (gram)

20.00 Tingkat Kadar Air 100%


Tingkat Kadar Air 75%
15.00
Tingkat Kadar Air 50%
10.00 Tingkat Kadar Air 25%

5.00

0.00
Akas ia Sengon Mahoni Meranti
Jenis Tanaman

Gambar 19. Grafik berat basah akar pada setiap jenis tanaman (gram).

30.00
Berat Basah Akar (gr

25.00
Jenis Tanaman Akasia
20.00
Jenis Tanaman Sengon
15.00
Jenis Tanaman Mahoni
10.00
Jenis Tanaman Meranti
5.00
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 20. Grafik berat basah akar pada setiap tingkat kadar air tanah (gram).

27
Hasil dari uji Duncan memperlihatkan bahwa jenis tanaman sengon tampak
tampak tidak bebeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25%. Begitu
pula pada perlakuan tingkat kadar air 50% dan 75%. Namun, respon yang diberikan
antara perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25% dengan 50% dan 75% tampak
sangat berbeda nyata.
Perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25% pada jenis tanaman akasia
ternyata memberikan respon tampak tidak berbeda nyata. Lain halnya dengan
perlakuan tingkat kadar air 75% dan 50% yang memberikan respon sedikit berbeda
nyata. Jika dibandingkan antara perlakuan tingkat kadar air 75% dan 25% dengan
100% dan 50% tampak berbeda nyata.
Jenis tanaman meranti memberikan respon yang tampak tidak berbeda nyata
pada perlakuan tingkat kadar air 100%, 75%, dan 25%. Ketiga perlakuan tersebut
jika dibandingkan dengan perlakuan tingkat kadar air 50% tampak berbeda nyata.
Jenis tanaman mahoni hampir pada semua perlakuan tingkat kadar air
memberikan respon berbeda nyata.

Berat Kering Daun. Hasil dari uji sidik ragam pada Tabel 2 memperlihatkan bahwa
respon yang diberikan oleh faktor perlakuan terhadap parameter berat kering daun
ialah berbeda sangat nyata pada selang kepercayaan 99%.

25.00
Berat Kering Daun (gram)

20.00

Tingkat Kadar Air 100%


15.00
Tingkat Kadar Air 75%
Tingkat Kadar Air 50%
10.00
Tingkat Kadar Air 25%

5.00

0.00
Akas ia Sengon Mahoni Meranti
Jenis Tanaman

Gambar 21. Grafik berat kering daun pada setiap jenis tanaman (gram).

28
25.00

B erat K ering D aun (gr


20.00 Jenis Tanaman Akasia
15.00 Jenis Tanaman Sengon
10.00 Jenis Tanaman Mahoni
5.00 Jenis Tanaman Meranti

0.00
25% 50% 75% 100%
tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 22. Grafik berat kering daun pada setiap tingkat kadar air tanah (gram).

Gambar 21 dan 22 merupakan grafik nilai rata-rata berat kering daun. Jenis
tanaman yang mempunyai nilai rata-rata berat kering yang paling tinggi adalah
mahoni pada perlakuan kadar air tingkat 75%. Sedangkan jenis tanaman meranti
mempunyai nilai rata-rata berat kering daun yang paling rendah.
Hasil dari uji Duncan memperlihatkan bahwa hampir semua jenis tanaman
memberikan respon yang berbeda nyata.

Berat Kering Batang. Sesuai dengan yang tertera pada Tabel 2 bahwa respon yang
diberikan oleh faktor perlakuan yaitu jenis tanaman dan tingkat kadar air terhadap
parameter berat kering batang adalah berbeda sangat nyata pada selang kepercayaan
99%.

14.00
Berat Kering Batang (gr)

12.00
10.00 Tingkat Kadar Air 100%
8.00 Tingkat Kadar Air 75%
6.00 Tingkat Kadar Air 50%
4.00 Tingkat Kadar Air 25%
2.00
0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis Tanaman

Gambar 23. Grafik berat kering batang pada setiap jenis tanaman (gram).

29
B erat K ering B atan g (g r
15.00
Jenis Tanaman Akasia
10.00
Jenis Tanaman Sengon
Jenis Tanaman Mahoni
5.00
Jenis Tanaman Meranti
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 24. Grafik berat kering batang pada setiap tingkat kadar air tanah (gram).

Grafik pada Gambar 23 dan 24 memperlihatkan bahwa jenis tanaman sengon


dengan perlakuan tingkat kadar air 50% mempunyai nilai rata-rata berat kering
batang yang paling tinggi. Sedangkan untuk jenis tanaman akasia pada tingkat kadar
air 25% mempunyai nilai rata-rata berat kering batang yang paling rendah
Berdasarkan dari hasil uji Duncan bahwa jenis tanaman akasia dan sengon
tampak tidak berbeda nyata pada tingkat kadar air 100% dan 25%. Begitu pula pada
perlakuan tingkat kadar air 75% dan 50% yang tampak tidak berbeda nyata. Akan
tetapi, antara perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25% dengan 75% dan 50%
memberikan respon tampak sangat berbeda nyata.
Perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25% pada jenis tanaman mahoni
ternyata memberikan respon tampak tidak berbeda nyata. Lain halnya dengan
perlakuan tingkat kadar air 75% dan 50% yang memberikan respon berbeda nyata.
Jika dibandingkan antara perlakuan tingkat kadar air 75% dan 25% dengan 100%
dan 50% tampak berbeda nyata.
Jenis meranti memberikan respon yang tampak tidak berbeda nyata pada
perlakuan tingkat kadar air 75% dan 25%. Namun, pada perlakuan tingkat kadar air
100% dan 50% tampak berbeda sangat nyata. Jika dibandingkan antara perlakuan
tingkat kadar air 75% dan 25% dengan 100% dan 50% maka tampak berbeda nyata.

Berat Kering Akar. Hasil uji sidik ragam pada Tabel 2 bahwa respon yang
diberikan oleh perlakuan yang terdiri atas jenis tanaman dan tingkat kadar air
terhadap parameter berat kering akar yaitu berbeda sangat nyata pada selang
kepercayaan 99%.

30
12.00

Berat Kering Akar (gram)


10.00

8.00 Tingkat Kadar Air 100%


Tingkat Kadar Air 75%
6.00
Tingkat Kadar Air 50%
4.00 Tingkat Kadar Air 25%

2.00

0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis tanaman

Gambar 25. Grafik berat kering akar pada setiap jenis tanaman (gram).
B e ra t K e ri n g A k a r (g r)

12.00
10.00 Jenis Tanaman Akasia
8.00 Jenis Tanaman Sengon
6.00
Jenis Tanaman Mahoni
4.00
Jenis Tanaman Meranti
2.00
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 26. Grafik berat kering akar pada setiap tingkat kadar air tanah (gram).

Gambar 25 dan 26 memperlihatkan grafik nilai rata-rata antara jenis tanaman


dengan berat kering akar pada setiap tingkat kadar air. Grafik tersebut
memperlihatkan bahwa jenis tanaman sengon pada kadar air tingkat 75% memiliki
nilai rata-rata berat kering akar yang paling tinggi. Sedangkan untuk jenis tanaman
akasia pada tingkat kadar air 25% memiliki nilai rata-rata berat kering akar yang
paling rendah.
Berdasarkan atas hasil uji Duncan bahwa untuk jenis tanaman akasia dan
mahoni pada tingkat kadar air 100%, 50%, dan 25% tampak tidak berbeda nyata jika
dibandingkan dengan tingkat kadar air 75%. Namun, respon ketiga perlakuan tingkat
kadar air tersebut terhadap tingkat kadar air 75% tampak sangat berbeda nyata.
Jenis tanaman meranti tampak berbeda nyata pada tingkat kadar air 100%
jika dibandingkan dengan ketiga perlakuan tingkat kadar air yang lainnya yang
tampak tidak berbeda nyata.

31
Jenis tanaman sengon tampak berbeda nyata pada semua perlakuan tingkat
kadar airnya.

Berat Basah Total. Respon perlakuan yang terdiri atas faktor jenis dan tingkat kadar
air terhadap parameter berat basah total adalah berbeda sangat nyata pada selang
kepercayaan 99% (Tabel 2).
Grafik pada Gambar 27 dan 28 memperlihatkan bahwa jenis tanaman sengon
pada perlakuan tingkat kadar air 50% memiliki nilai rata-rata berat basah total yang
paling tinggi dan sebaliknya untuk jenis tanaman meranti pada perlakuan tingkat
kadar air 25% memiliki nilai rata-rata berat basah total yang paling rendah.

120.00
Berat Basah Total (gr)

100.00
80.00 Tingkat Kadar Air
100%
60.00 Tingkat Kadar Air
40.00 75%
20.00 Tingkat Kadar Air
50%
0.00
Tingkat Kadar Air
Akasia Sengon Mahoni Meranti 25%
Jenis Tanaman

Gambar 27. Grafik berat basah total pada setiap jenis tanaman (gram).
B e ra t B a sa h T o ta l (g r)

120.00
100.00
Jenis Tanaman Akasia
80.00
Jenis Tanaman Sengon
60.00
40.00 Jenis Tanaman Mahoni
20.00 Jenis Tanaman Meranti
0.00
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 28. Grafik berat basah total pada setiap tingkat kadar air tanah (gram).

Hasil dari uji Duncan memperlihatkan bahwa untuk jenis tanaman mahoni
pada tingkat kadar air 75% dan 50% tampak tidak berbeda nyata. Namun pada
perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25% tampak berbeda nyata.

32
Jenis tanaman meranti tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 100% dan 25%. Akan tetapi tampak berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 75% dan 50%.
Respon yang diberikan oleh jenis tanaman akasia tampak berbeda nyata pada
tingkat kadar air 100% dan 25%. Begitu juga pada perlakuan tingkat kadar air 75%
dan 50%. Untuk jenis tanaman sengon memberikan respon yang tampak berbeda
nyata.

Berat Kering Total. Tabel 2 merupakan hasil dari uji sidik ragam antara perlakuan
dengan parameter berat kering total. Tabel tersebut memperlihatkan respon yang
diberikan oleh perlakuan terhadap parameter berat kering total adalah berbeda nyata
pada selang kepercayaan 99%.
Gambar 29 dan 30 memperlihatkan hubungan antara nilai rata-rata berat
kering total dengan jenis tanaman. Jenis tanaman sengon pada perlakuan tingkat
kadar air 50% mempunyai nilai rata-rata berat kering total yang paling besar.
Sedangkan untuk nilai rata-rata berat kering total terendahnya adalah jenis tanaman
sengon juga pada tingkat kadar air 25% dan jenis tanaman meranti pada tingkat kadar
air 100%.

40.00
Berat Kering Total (gr)

35.00
30.00
Tingkat Kadar Air 100%
25.00
Tingkat Kadar Air 75%
20.00
Tingkat Kadar Air 50%
15.00
10.00 Tingkat Kadar Air 25%
5.00
0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis Tanaman

Gambar 29. Grafik berat kering total pada setiap jenis tanaman (gram).

33
B e r a t K er in g T o tal ( g r )
40

30 Jenis Tanaman Akasia


Jenis Tanaman Sengon
20
Jenis Tanaman Mahoni
10 Jenis Tanaman Meranti
0
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 30. Grafik berat kering total pada setiap tingkat kadar air tanah (gram).

Hasil dari uji Duncan memperlihatkan bahwa untuk jenis tanaman meranti
tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 100%, 75%, dan 25%.
Akan tetapi ketiganya tampak berbeda nyata jika dibandingkan dengan perlakuan
tingkat kadar air 50%.
Jenis tanaman mahoni tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 75% dan 50%. Sedangkan pada perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25%
terlihat tampak berbeda nyata.
Respon yang tampak pada jenis tanaman sengon adalah berbeda nyata pada
perlakuan tingkat kadar air 75% dan 50%. Respon yang sama juga terjadi pada
perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25%.
Jenis tanaman akasia responnya tampak terlihat berbeda nyata ditunjukkan
pada perlakuan tingkat kadar air 100% dan 25%. Begitu juga respon yang sama
diperlihatkan oleh perlakuan tingkat kadar air 75% dan 50%.

Rasio Pucuk-Akar. Berdasarkan atas Tabel 2 bahwa respon yang diberikan oleh
perlakuan terhadap parameter produksi rasio pucuk akar adalah berbeda nyata pada
selang kepercayaan 95%.

34
8.00

Rasio Pucuk-Akar
6.00 Tingkat Kadar Air 100%
Tingkat Kadar Air 75%
4.00
Tingkat Kadar Air 50%
2.00 Tingkat Kadar Air 25%

0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis Tanaman

Gambar 31. Grafik rasio pucuk-akar pada setiap jenis tanaman.

8
Rasio Pucuk-Akar

Jenis Tanaman Akasia


6 Jenis Tanaman Sengon
Jenis Tanaman Mahoni
4
Jenis Tanaman Meranti
2

0
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah
Gambar 32. Grafik rasio pucuk-akar pada setiap tingkat kadar air tanah.

Grafik nilai rata-rata rasio pucuk-akar (Gambar 31 dan 32) memperlihatkan


bahwa jenis tanaman meranti pada perlakuan tingkat kadar air 50% memiliki nilai
rata-rata yang paling tinggi. Sedangkan untuk jenis tanaman meranti pada perlakuan
tingkat kadar air 25% memiliki nilai rata-rata rasio pucuk-akar yang paling rendah.
Berdasarkan hasil uji Duncan bahwa untuk jenis tanaman akasia tampak tidak
berbeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 100%, 75%, dan 25%. Untuk
perlakuan tingkat kadar air 50% terlihat tampak berbeda nyata jika dibandingkan
dengan ketiga perlakuan lainnya.
Jenis tanaman meranti terlihat tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan
tingkat kadar air 75% dan 25%. Sedangkan untuk perlakuan tingkat kadar air 50%
dan 100% terlihat berbeda nyata.
Jenis tanaman mahoni terlihat tampak berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 75% dan 25%. Hal yang sama juga terlihat pada perlakuan tingkat kadar air

35
100% dan 50% yang tampak berbeda nyata. Namun, nilai antara 75% dan 25%
dengan 100% dan 50% tampak sangat berbeda nyata.
Hasil dari uji Duncan juga memperlihatkan bahwa nilai rata-rata jenis
tanaman sengon memberikan respon yang tampak tidak berbeda nyata pada semua
perlakuan tingkat kadar air.

Rasio Tinggi-Diameter. Respon perlakuan yang terdiri atas faktor jenis tanaman dan
kadar air terhadap parameter rasio tinggi-diameter adalah tidak berbeda nyata pada
selang kepercayaan 95% (Tabel 2).

350.00
Rasio Tinggi-Diameter

300.00
250.00 Tingkat Kadar Air 100%
200.00 Tingkat Kadar Air 75%
150.00 Tingkat Kadar Air 50%
100.00 Tingkat Kadar Air 25%
50.00
0.00
Akasia Sengon Mahoni Meranti
Jenis Tanaman

Gambar 33. Grafik rasio tinggi-diameter pada setiap jenis tanaman.

350
Rasio Tinggi-Diameter

300
250 Jenis Tanaman Akasia
200 Jenis Tanaman Sengon
150 Jenis Tanaman Mahoni
100 Jenis Tanaman Meranti
50
0
25% 50% 75% 100%
Tingkat Kadar Air Tanah

Gambar 34. Grafik rasio tinggi-diameter pada setiap tingkat kadar air tanah.

Berdasarkan Gambar 33 dan 34 bahwa nilai rata-rata rasio tinggi-diameter


yang paling tinggi adalah jenis tanaman meranti pada perlakuan tingkat kadar air
25%. Sedangkan nilai rata-rata rasio tinggi-diameter yang paling rendah adalah jenis
tanaman mahoni pada perlakuan tingkat kadar air 75%.
Hasil uji Duncan memperlihatkan bahwa untuk jenis tanaman akasia tampak
tidak berbeda nyata pada semua perlakuan tingkat kadar air.

36
Jenis tanaman sengon tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat
kadar air 100%, 75%, dan 25%. Sedangkan untuk perlakuan tingkat kadar air 50%
nya tampak berbeda nyata.
Respon yang diberikan oleh jenis tanaman mahoni terhadap rasio tinggi-
diameter terlihat tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 100%,
75%, dan 50%. Sedangkan untuk perlakuan 25% terlihat berbeda nyata.
Jenis yang keempat adalah jenis meranti. Jenis tanaman ini memberikan
respon tampak tidak berbeda nyata pada perlakuan tingkat kadar air 100%, 75%, dan
50%. Akan tetapi untuk perlakuan 25% tampak sangat berbeda nyata jika
dibandingkan dengan ketiga perlakuan yang lainnya.

Pembahasan

Evapotranspirasi
Air merupakan salah satu kebutuhan yang sangat vital bagi makhluk hidup.
Begitu pula dengan tanaman yang senantiasa memerlukan air untuk proses-proses
fisiologi, kimiawi, dan metabolisme dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya supaya
dapat tumbuh dan berkembang secara baik. Dengan pemberian perlakuan tingkat
kadar air yang berbeda-beda untuk tiap satu jenis tanaman, ternyata memberikan
respon yang berbeda-beda. Ada jenis tanaman yang pertumbuhannya optimal atau
baik pada kadar air tertentu dan ada pula yang pertumbuhannya yang terganggu atau
bahkan layu dan mati. Salah satu proses kehilangan air dari tanaman dan tanah
adalah melalui proses evapotranspirasi
Menurut Rodda et al., (1976), evapotranspirasi merupakan kombinasi antara
proses evaporasi dari seluruh permukaan tanah dengan proses transpirasi tanaman.
Evaporasi dapat terjadi pada permukaan tanah yang basah, salju, permukaan es dan
dari tanaman yang terbasahi oleh hujan. Sedangkan, transpirasi merupakan proses
penguapan air yang terkandung di dalam tanaman dan berpindah menuju atmosfir.
Proses evapotranspirasi yang terjadi pada tanaman akasia, sengon, mahoni
dan meranti menggambarkan total air yang berubah menjadi uap air dari permukaan
media tanah pada ember dan tanaman itu sendiri. Kehilangan air melalui proses
evapotranspirasi jumlahnya pada setiap jenis tanaman berbeda-beda. Jenis tanaman
sengon pada tingkat kadar air 75% memiliki nilai rata-rata harian dan jumlah total

37
evapotranspirasi yang paling tinggi jika dibandingkan dengan ketiga jenis yang
lainnya. Hal ini dikarenakan jenis tanaman sengon merupakan termasuk jenis
tanaman cepat tumbuh. Selain itu, sengon memiliki sifat-sifat fisik yang
memungkinkan untuk berevapotranspirasi yang lebih besar dengan memiliki tajuk
berbentuk menyerupai payung yang rimbun sehingga proses transpirasi menjadi lebih
besar. Ciri fisik yang lainnya yaitu memiliki akar tunggang yang cukup kuat
menembus ke dalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan
tidak menonjol ke permukaan tanah sehingga kemampuan dalam menyerap air dalam
tanahnya menjadi lebih tinggi. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat
nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.
Nilai rata-rata harian dan jumlah total evapotranspirasi yang paling kecil
adalah jenis tanaman meranti. Sama halnya dengan jenis tanaman sengon, jenis
tanaman meranti merupakan jenis tanaman yang pertumbuhannya cepat. Akan tetapi
jenis tanaman meranti tidak memiliki ciri-ciri fisik seperti halnya sengon.
Kehilangan air pada tanaman melalui proses evapotranspirasi tidak terlepas
pada ketersediaan air di dalam tanah yang sangat ditentukan oleh kemampuan tanah
dalam memegang air. Sedangkan setiap tanaman mutlak untuk tetap menjaga kadar
air yang dibutuhkannya sampai pada titik layu permanen supaya tanaman tetap
hidup. Selisih antara kandungan air pada kondisi KL (kapasitas lapang) dan TLP
(titik layu permanen) disebut air tersedia. Adanya kandungan air tersedia yang
maksimum memungkinkan bagi tanaman mengabsorbsi air tersebut untuk digunakan
secara optimal. Total jumlah air yang tersedia bagi tanaman tergantung dari beberapa
faktor diantaranya tipe, dan kedalaman perakaran, tanah, laju kehilangan air oleh
penguapan dan transpirasi, suhu dan laju penambahan air itu sendiri (Choiruni, 2002
dalam Siddik, 2006).

Respon Pertumbuhan
Radiasi surya merupakan salah satu faktor yang berpengaruh langsung
terhadap proses pertumbuhan. Secara tidak langsung peningkatan intensitas radiasi
surya mempengaruhi suhu dan kelembaban udara yang selanjutnya akan
mempengaruhi anakan pohon (Gambar 1). Suhu dan kelembaban udara akan
mempengaruhi ketersediaan air tanah, sehingga akan berpengaruh terhadap laju
evapotranspirasi setiap anakan atau tanaman. Keterkaitan yang erat antara perbedaan

38
perlakuan tingkat kadar air dengan suhu dan kelembaban udara dapat menimbulkan
pengaruh terhadap pertumbuhan anakan tanaman. Oleh karena itu kemampuan
adaptasi anakan terhadap perbedaan perlakuan tingkat kadar air juga menunjukan
kemampuan adaptasi pada suhu dan kelembaban udara.
Hampir semua faktor perlakuan tingkat kadar air dan faktor jenis tanaman
memberikan respon yang sangat berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan
dan perkembangan tanaman serta semua pengukuran biomassanya. Meskipun begitu,
nilai rata-rata pertumbuhan dan perkembangannya pada tiap tanaman berbeda-beda.
Hal yang menjadikan bervariasinya tingkat atau nilai pertumbuhan dan
perkembangan tanaman adalah faktor sifat genetik dan faktor lingkungan. Kedua
faktor inilah yang sebagian besar cukup mempengaruhi proses-proses fisiologis pada
tiap jenis tanaman.
Faktor eksternal atau lingkungan merupakan suatu faktor yang memberikan
pengaruh terhadap suatu pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang berasal dari
luar tanaman atau lingkungan. Pemberian tingkat kadar air yang berbeda-beda
ternyata memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap parameter-parameter
pertumbuhan dan produksinya. Kramer dan Kozlowski (1960) menjelaskan tentang
betapa pentingnya air bagi tumbuh-tumbuhan; yakni air merupakan bagian dari
protoplasma (85-90%) dari berat keseluruhan bagian hijau tumbuh-tumbuhan
(jaringan yang sedang tumbuh) adalah air. Selanjutnya dikatakan bahwa air
merupakan reagen yang penting dalam proses-proses fotosintesa dan dalam proses-
proses hidrolik. Disamping itu juga merupakan pelarut dari garam-garam, gas-gas
dan material-material yang bergerak kedalam tumbuh-tumbuhan, melalui dinding sel
dan jaringan esensial untuk menjamin adanya turgiditas, pertumbuhan sel, stabilitas
bentuk daun, proses membuka dan menutupnya stomata, kelangsungan gerak struktur
tumbuh-tumbuhan (Ismal dalam Haryati, 1979).
Di dalam sel dan jaringan tanaman, terdapat lebih dari 80% air atau lebih
bekerja dalam proses-proses metabolisme yang aktif. Ini merupakan suatu fase cairan
yang berkesinambungan dalam tanaman dari rambut-rambut akar menuju ke
epidermis daun. Sebagian besar cairan tersebut berasal dari air dalam tanah tempat ia
tumbuh (Slatyer, 1967).

39
Acacia crassicarpa A. Cunn. Ex Benth. Berdasarkan analisis pertambahan tinggi,
diameter batang, jumlah daun, produksi berat basah dan berat kering tanaman, RPA
serta RTD, menunjukan anakan akasia masih dapat tumbuh baik pada perlakuan
tingkat kadar air 25% - 100%, namun yang terbaik pada kisaran perlakuan tingkat
kadar air 50% - 75%.
Jenis tanaman akasia setiap hari mengalami kehilangan air melalui proses
evapotranspirasi yang paling tinggi adalah pada tingkat kadar air 75%. Sedangkan
jumlah terendahnya adalah pada tingkat kadar air 25%. Khusus untuk perlakuan
tingkat kadar air 25% bahwa jenis akasia pertumbuhannya kurang optimal. Hal ini
disebabkan karena tanaman kekurangan air untuk keperluan metabolismenya. Hasil
dari pengamatan bahwa jenis tanaman akasia yang hidup pada tingkat kadar air 25%
banyak yang mengalami kelayuan dan daunnya tampak menguning karena
kekurangan air.

Paraserianthes falcataria (L) Neilsen. Anakan sengon dapat hidup dengan baik
pada perlakuan tingkat kadar air 75% - 100%. Kehilangan kadar air melalui proses
evapotranspirasi pada jenis tanaman sengon adalah yang paling tinggi pada tingkat
kadar air 75%. Sedangkan jumlah terendahnya adalah pada tingkat kadar air 25%
setiap hari. Berdasarkan hasil pengukuran beberapa parameter pertumbuhan
menunjukan pertumbuhan yang optimal pada jenis sengon adalah dengan semakin
tingginya perlakuan tingkat kadar air. Hal ini juga sesuai dengan sifat jenis sengon
yang merupakan tanaman fast growing species yang kondisi pertumbuhannya sangat
memerlukan air banyak. Berdasarkan hasil pengamatan, anakan sengon yang hidup
pada kadar air 25% banyak yang mengalami kekeringan daun sehingga banyak daun
yang menguning dan gugur.
Kehilangan air yang cukup besar pada sengon ini sebagian besar melewati
daun. Hal ini disebabkan banyaknya jumlah daun serta karena daun-daun lebih
tersentuh udara jika dibandingkan dengan bagian-bagian lain dari suatu tanaman.

Swietenia macrophylla King. Jenis tanaman mahoni dapat tumbuh dengan baik pada
semua kisaran tingkat kadar air. Namun pertumbuhan optimalnya ditunjukkan pada
kisaran tingkat kadar air 50% - 75%. Berdasarkan pengukuran bahwa jenis tanaman
mahoni daun besar kehilangan rata-rata kadar air melalui evapotranspirasi yang

40
paling tinggi adalah pada tingkat kadar air 75%. Sedangkan jumlah terendahnya
adalah pada tingkat kadar air 25%. Pertumbuhan pada kadar air 25% terlihat kurang
begitu optimal. Hal ini dikarenakan pada perlakuan tingkat kadar air 25% air tanah
yang diperlukan untuk proses fisiologis dan kimiawi sedikit sehingga
pertumbuhannya menjadi terhambat. Sementara itu, suhu udara yang cukup tinggi
sepanjang hari dan kelembaban yang rendah memaksa tanaman untuk terus
melakukan transpirasi secara berlebihan.

Shorea selanica BI. Berdasarkan pengukuran proses evapotranspirasi untuk anakan


meranti bahwa kehilangan air rata-rata setiap hari yang paling tinggi adalah pada
tingkat kadar air 75%. Sedangkan jumlah terendahnya adalah pada tingkat kadar air
25%. Semakin meningkatnya perlakuan tingkat kadar air, semakin meningkat pula
kehilangan airnya. Pertumbuhan yang optimal pada anakan meranti yaitu pada
perlakuan tingkat kadar air 50% - 100%. Hal ini didasarkan atas nilai rata-rata
pertumbuhannya yang cukup baik pada kisaran perlakuan kadar air tersebut.
Perlakuan pada tingkat kadar air 25%, anakan meranti tidak bisa tumbuh dengan baik
dan optimal dikarenakan air yang diperlukan oleh tanaman tidak bisa digunakan
secara maksimal. Selain itu karena faktor suhu udara yang tinggi dan kelembaban
udara yang cukup rendah.
Berat basah dan berat kering merupakan indikator pertumbuhan yang paling
representatif untuk menggambarkan penampilan keseluruhan pertumbuhan anakan.
Berat basah tanaman lebih menunjukan jumlah kandungan air yang terdapat pada
tanaman, keadaan ini juga dapat mempengaruhi parameter diameter batang. Jadi,
tidak selalu yang memiliki diameter batang lebih besar maka akan memiliki berat
kering batang yang lebih besar pula. Hal ini dikarenakan dipengaruhinya oleh
kandungan air yang terdapat dalam batang. Berdasarkan hasil pengukuran, anakan
yang tumbuh dengan perlakuan tingkat kadar air yang semakin meningkat
pertumbuhan batang lebih cepat dan panjang. Namun berdasarkan hasil pengukuran
berat basah dan berat kering, tampak bahwa berat kering turun drastis dari berat
basahnya. Hal ini menunjukan kecenderungan anakan tersebut yang memiliki
kandungan air yang tinggi.
Berat kering merupakan hasil akhir dari fotosintesis yang dipengaruhi oleh
laju asimilasi bersih dan luas daun per tanaman (Sitompul dan Suritno, 1995 dalam

41
Safitri, 2005). Rendahnya luas daun per tanaman akan mengakibatkan terjadinya
penurunan berat kering anakan. Dengan demikian berat kering anakan pada berbagai
tingkat kadar air diakibatkan luas daun per tanaman yang juga berarti faktor jumlah
daun turut mempengaruhi luas daun pertanaman. Tingkat kadar air yang sedikit atau
rendah, daun menjadi lebih banyak yang layu dan tipis. Sedangkan pada tingkat
kadar air yang semakin tinggi, daun-daun menjadi lebih tebal dan keras.
Sebagian besar anakan pada perlakuan tingkat kadar air 25% pada penelitian
ini menunjukan warna hijau pucat, bahkan ada yang berkerut dengan warna daun
yang kecoklat-coklatan dan kekuning-kuningan dan kemudian daun-daun tersebut
mati. Dengan demikian jumlah daunnya menjadi rendah. Bahkan ada pula tanaman
yang mati karena menggugurkan daunnya. Kejadian ini terjadi pada hampir semua
jenis tanaman, terutama jenis tanaman meranti dan sengon. Menurut Kramer (1969)
air juga berperan dalam proses transpirasi yang secara tidak langsung mempengaruhi
pertumbuhan tanaman. Kekurangan air pada tanaman mengakibatkan berkurangnya
turgor pada sel-sel penutup. Apabila sel-sel penutup kendur, maka stomata akan
menutup. Sehingga meskipun terang (sinar) cukup, akan tetapi jika air kurang, maka
stomata akan tetap tertutup.
Anakan akasia memiliki rasio pucuk-akar (RPA) yang lebih besar pada
perlakuan tingkat kadar air 50% - 100%, yang menandakan bahwa produksi daun
lebih banyak dibandingkan produksi akar pada tingkat kadar air tersebut. Begitu pula
dengan anakan sengon yang menunjukan kecenderungan memproduksi daun yang
lebih besar pada perlakuan tingkat kadar air 50% dan 100%. Sedangkan pada tingkat
kadar air yang rendah kematian daun relatif lebih tinggi, sehingga nilai RPA
menunjukan lebih besarnya berat akar dibandingkan dengan berat daun. Begitu pula
nilai RPA anakan mahoni dan meranti juga menunjukkan kecenderungan lebih
besarnya berat akar pada tingkat kadar air antara 50% - 100%. Anakan jenis tanaman
mahoni pada tingkat kadar air 50% menunjukkan nilai rasio pucuk-akar yang paling
tinggi jika dibandingkan dengan jenis yang lainnya yakni sebesar 6,72. Sedangkan
untuk jenis tanaman meranti merah pada tingkat kadar air 25% menunjukkan nilai
rasio pucuk akar yang paling rendah yaitu sebesar 1,12
Kekokohan merupakan salah satu parameter morfologi yang menjadi
indikator kualitas bibit atau anakan yang dinyatakan dalam rasio tinggi dengan

42
diameter batang. Nilai rasio tinggi-diameter yang lebih rendah menyatakan tingkat
kekokohan yang lebih tinggi, yang berarti menandakan diameter batang yang lebih
besar. Selain menunjukkan kekokohan, diameter batang yang lebih besar berarti
mengandung cadangan makanan yang lebih banyak yang penting bagi regenerasi
akar pada anakan yang dipindahkan ke lapang (Tjondronegoro et al., dalam Safitri,
2005).
Berdasarkan hasil pengukuran, anakan jenis mahoni memiliki nilai rata-rata
RTD yang paling kecil pada perlakuan tingkat kadar air 75% yaitu sebesar 45,7.
Jenis tanaman meranti menunjukkan kecenderungan anakan yang lebih kokoh pada
perlakuan tingkat kadar air 50% sebesar 53,7. Begitu pula dengan jenis tanaman
sengon yang menunjukkan kecenderungan lebih kokoh pada perlakuan tingkat kadar
air 50% yaitu sebesar 45,7 dan untuk jenis tanaman akasia memiliki kecenderungan
lebih kokoh pada perlakuan tingkat kadar air 75% dengan nilai rata-rata RTD
terkecilnya yaitu sebesar 119,5.
Menurut Balai Perbenihan Tanaman Hutan Bandung (1999), syarat nilai
kekokohan bibit untuk anakan akasia adalah 70 – 120, sengon sebesar 51 – 90 dan
anakan meranti merah adalah 63 – 108. Sebagian besar nilai kekokohan anakan
memenuhi syarat.

43
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
a. Anakan akasia masih dapat tumbuh baik pada perlakuan tingkat kadar air 25% -
100%, namun yang terbaik pada kisaran perlakuan tingkat kadar air 50% - 75%.
Jenis tanaman akasia mengalami kehilangan air melalui proses evapotranspirasi
setiap hari rata-rata yang paling tinggi adalah pada tingkat kadar air 75%. Khusus
untuk perlakuan tingkat kadar air 25% bahwa jenis akasia pertumbuhannya
kurang begitu optimal.
b. Anakan sengon dapat hidup dengan baik pada perlakuan tingkat kadar air 75% -
100%. Rata-rata kadar air yang hilang melalui proses evapotranspirasi setiap hari
yang paling tinggi adalah pada tingkat kadar air 75%. Anakan sengon yang hidup
pada kadar air 25% banyak yang mengalami kekeringan daun sehingga banyak
daun yang menguning dan gugur.
c. Jenis tanaman mahoni dapat tumbuh dengan baik pada semua kisaran tingkat
kadar air. Namun pertumbuhan optimalnya ditunjukan pada kisaran tingkat kadar
air 50% - 75%. Berdasarkan pengukuran, tingkat kadar air yang hilang melalui
proses evapotranspirasi setiap hari rata-rata yang paling tinggi adalah pada
tingkat kadar air 75%. Pertumbuhan mahoni pada kadar air 25% terlihat kurang
begitu optimal.
d. Anakan meranti rata-rata kehilangan air melalui proses evapotranspirasi setiap
hari yang paling tinggi adalah pada tingkat kadar air 75%. Pertumbuhan yang
optimal pada anakan meranti yaitu pada perlakuan tingkat kadar air 50% - 100%.
Pada perlakuan tingkat kadar air 25%, anakan meranti tidak bisa tumbuh dengan
baik dan optimal.
Saran
a. Penanaman keempat jenis anakan (akasia, sengon, mahoni dan meranti) akan
lebih baik jika ditanam di lapangan pada tingkat kadar air yang tinggi (75% -
100%).
b. Penanaman untuk di lapangan harus lebih memperhatikan aspek curah hujan dan
tipe-tipe tanah supaya dapat diketahui jenis yang optimal dalam pertumbuhannya.
c. Harus ada penelitian lebih lanjut dengan menggunakan faktor koreksi tiap jenis
tanaman.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Nilai Rata-rata Pertambahan Tinggi Total Tanaman (cm)
Jenis dan Minggu ke-
Perlakuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
J1N1 34,68 35,13 38,75 41,38 45,25 46,25 48,75 50,25 51,75 56,33
J2N1 55,85 61,13 63,75 64,50 66,13 69,50 72,00 75,25 74,33 85,25
J3N1 50,15 50,63 54,13 55,75 57,13 55,33 58,00 58,33 58,67 63,00
J4N1 43,00 43,00 46,25 48,25 50,00 52,00 57,00 53,50 60,50 59,00
J1N2 41,75 42,75 44,25 48,00 51,13 57,50 60,00 63,75 66,75 69,25
J2N2 56,75 57,50 64,50 66,25 68,50 75,13 79,13 83,25 92,25 98,75
J3N2 53,08 54,00 54,75 58,00 61,25 62,88 64,63 66,00 67,38 71,25
J4N2 46,23 46,25 47,75 50,00 51,63 52,17 53,00 53,33 54,00 54,67
J1N3 42,80 45,25 48,25 50,38 53,25 57,75 60,00 63,25 67,50 71,75
J2N3 53,58 55,13 60,00 62,50 65,38 68,50 70,75 73,50 77,00 81,25
J3N3 45,18 46,58 48,00 50,63 52,25 54,75 58,00 60,00 63,00 67,75
J4N3 41,73 43,75 44,25 45,88 47,25 47,50 47,50 48,50 50,33 54,33
J1N4 34,03 35,83 36,38 38,00 41,00 44,33 39,00 44,00 44,25 47,33
J2N4 49,85 50,60 51,25 54,25 57,50 59,25 58,67 61,25 62,00 63,25
J3N4 43,80 45,73 48,25 51,13 51,75 53,00 55,75 56,75 57,75 60,75
J4N4 44,95 46,93 47,50 50,63 51,25 50,33 54,00 52,50 51,00 54,00

Lampiran 2. Nilai Rata-rata Pertambahan Total Diameter batang (mm)


Jenis dan Minggu ke-
Perlakuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
J1N1 0,18 0,18 0,22 0,22 0,24 0,26 0,28 0,31 0,34 0,41
J2N1 0,29 0,32 0,36 0,39 0,41 0,45 0,49 0,55 0,59 0,62
J3N1 0,40 0,41 0,47 0,50 0,53 0,54 0,57 0,57 0,61 0,61
J4N1 0,32 0,34 0,34 0,35 0,37 0,38 0,40 0,42 0,46 0,48
J1N2 0,17 0,19 0,22 0,23 0,27 0,28 0,31 0,36 0,39 0,41
J2N2 0,39 0,41 0,42 0,47 0,49 0,54 0,58 0,64 0,71 0,73
J3N2 0,37 0,41 0,45 0,50 0,54 0,57 0,61 0,67 0,75 0,76
J4N2 0,35 0,39 0,40 0,42 0,44 0,47 0,48 0,49 0,50 0,51
J1N3 0,18 0,20 0,24 0,24 0,27 0,31 0,32 0,36 0,39 0,42
J2N3 0,33 0,38 0,42 0,46 0,51 0,55 0,60 0,65 0,70 0,74
J3N3 0,36 0,41 0,43 0,45 0,50 0,53 0,56 0,60 0,64 0,64
J4N3 0,32 0,35 0,35 0,38 0,43 0,45 0,46 0,49 0,52 0,53
J1N4 0,16 0,17 0,19 0,19 0,21 0,21 0,21 0,23 0,23 0,26
J2N4 0,27 0,29 0,31 0,33 0,34 0,34 0,35 0,37 0,38 0,38
J3N4 0,34 0,35 0,38 0,38 0,44 0,48 0,49 0,53 0,56 0,52
J4N4 0,30 0,33 0,34 0,37 0,39 0,39 0,39 0,40 0,40 0,42

Lampiran 3. Nilai Rata-rata Total Jumlah Daun


Jenis dan Minggu ke-
Perlakuan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
J1N1 6,3 5,8 5,8 5,8 5,8 6,0 6,3 7,0 7,5 9,7
J2N1 70,3 68,3 67,8 67,8 67,8 79,8 90,3 100,0 109,8 128,8
J3N1 38,3 35,8 34,8 34,8 34,8 37,3 41,0 35,7 35,7 36,0
J4N1 6,3 5,5 4,0 4,0 4,0 5,7 7,3 9,0 11,7 13,0
J1N2 7,5 6,8 6,8 6,8 6,8 7,3 7,8 8,8 8,8 9,5

51
J2N2 81,3 81,3 81,3 81,3 81,3 81,5 82,5 84,5 85,8 86,3
J3N2 40,8 40,0 40,0 40,0 40,0 40,0 39,8 40,5 40,8 41,0
J4N2 7,5 6,8 6,8 6,8 6,8 6,3 7,0 7,3 7,7 8,0
J1N3 8,3 7,8 8,0 8,0 8,0 8,0 7,0 8,3 8,8 9,0
J2N3 96,8 95,8 95,8 95,8 95,8 98,8 100,5 102,3 106,0 107,5
J3N3 38,8 38,5 38,5 38,5 38,5 36,8 33,8 30,0 28,8 27,3
J4N3 9,5 9,0 8,3 8,3 8,3 8,3 8,3 9,0 9,7 9,7
J1N4 6,0 5,8 5,8 5,8 5,8 6,0 6,3 6,7 7,0 7,3
J2N4 78,8 60,3 56,3 56,3 56,3 56,5 57,0 59,0 60,8 61,8
J3N4 40,3 40,3 40,0 40,0 40,0 41,0 40,5 42,0 42,3 43,0
J4N4 5,8 5,5 5,3 5,3 5,3 5,3 5,3 6,0 5,7 6,0

Lampiran 4. Nilai Rata-rata Penyusutan Bobot Anakan Tiap dua Harian (kg)
JENIS dan
Awal 1 2 3 4 5 6 7
PERLAKUAN
J1N1 4,98 4,78 4,75 4,75 4,73 4,74 4,83 4,71
J2N1 4,85 4,83 4,65 4,58 4,65 4,59 4,58 4,51
J3N1 4,85 4,73 4,65 4,60 4,60 4,59 4,63 4,54
J4N1 4,35 4,23 4,23 4,15 4,24 4,18 4,23 4,10
J1N2 4,48 4,38 4,25 4,24 4,20 4,25 4,25 4,18
J2N2 4,73 4,53 4,40 4,43 4,45 4,48 4,39 4,34
J3N2 4,45 4,25 4,20 4,23 4,16 4,19 4,15 4,09
J4N2 4,73 4,48 4,58 4,55 4,51 4,50 4,55 4,45
J1N3 3,95 3,83 3,68 3,85 3,74 3,75 3,70 3,68
J2N3 4,45 4,18 4,10 4,18 4,10 4,05 4,03 3,98
J3N3 4,20 4,00 3,93 4,06 3,98 3,99 3,98 3,90
J4N3 4,18 3,85 4,10 4,03 4,00 3,95 3,98 3,96
J1N4 3,78 3,60 3,63 3,65 3,64 3,63 3,60 3,63
J2N4 3,70 3,53 3,53 3,54 3,54 3,55 3,53 3,56
J3N4 3,80 3,63 3,65 3,63 3,64 3,63 3,58 3,59
J4N4 3,68 3,55 3,58 3,58 3,56 3,54 3,53 3,56
Lanjutan Lampiran 4
JENIS dan
8 9 10 11 12 13 14 15 16
PERLAKUAN
J1N1 4,74 4,73 4,71 4,73 4,78 4,63 4,73 4,64 4,70
J2N1 4,71 4,53 4,51 4,41 4,60 4,39 4,50 4,35 4,38
J3N1 4,68 4,54 4,58 4,51 4,66 4,48 4,58 4,51 4,51
J4N1 4,16 4,20 4,16 4,15 4,25 4,13 4,18 4,15 4,15
J1N2 4,31 4,18 4,11 4,19 4,24 4,13 4,20 4,21 4,20
J2N2 4,41 4,29 4,24 4,24 4,30 4,09 4,28 4,13 4,13
J3N2 4,21 4,09 4,01 4,10 4,15 4,00 4,10 4,08 4,06
J4N2 4,59 4,50 4,46 4,50 4,59 4,40 4,55 4,60 4,48
J1N3 3,78 3,65 3,69 3,65 3,75 3,61 3,70 3,76 3,68
J2N3 4,06 3,94 3,93 3,89 4,03 3,83 3,93 3,94 3,89
J3N3 4,00 3,93 3,80 3,90 3,98 3,86 3,95 3,89 3,80
J4N3 4,06 3,98 3,98 3,93 4,03 3,93 3,93 4,14 4,03
J1N4 3,64 3,64 3,56 3,56 3,58 3,63 3,60 3,65 3,64

52
J2N4 3,55 3,50 3,49 3,44 3,53 3,48 3,48 3,54 3,51
J3N4 3,63 3,61 3,56 3,55 3,63 3,55 3,58 3,60 3,58
J4N4 3,55 3,55 3,49 3,50 3,55 3,49 3,45 3,63 3,58
Lanjutan lampiran 4
JENIS dan
17 18 19 20 21 22 23 24 25
PERLAKUAN
J1N1 4,80 4,75 4,78 4,63 4,70 4,73 4,65 4,68 4,73
J2N1 4,48 4,50 4,48 4,30 4,35 4,33 4,33 4,23 4,25
J3N1 4,63 4,60 4,55 4,43 4,45 4,53 4,53 4,43 4,53
J4N1 4,23 4,25 4,18 4,13 4,20 4,18 4,20 4,18 4,15
J1N2 4,25 4,18 4,25 3,98 4,18 4,08 4,18 4,08 4,13
J2N2 4,21 4,20 4,20 3,98 4,08 4,03 4,10 3,98 4,00
J3N2 4,14 4,13 4,13 3,88 4,08 3,98 4,03 3,98 3,93
J4N2 4,58 4,58 4,58 4,43 4,55 4,48 4,58 4,50 4,53
J1N3 3,76 3,68 3,83 3,60 3,66 3,63 3,68 3,55 3,65
J2N3 3,95 3,93 3,98 3,78 3,93 3,85 3,93 3,80 3,80
J3N3 3,93 3,93 3,98 3,73 3,90 3,80 3,88 3,88 3,80
J4N3 4,01 4,03 4,08 3,88 3,99 3,93 4,08 3,90 4,00
J1N4 3,63 3,65 3,68 3,55 3,59 3,60 3,58 3,58 3,50
J2N4 3,55 3,55 3,53 3,50 3,55 3,45 3,45 3,48 3,43
J3N4 3,60 3,65 3,63 3,55 3,50 3,48 3,50 3,55 3,45
J4N4 3,60 3,58 3,58 3,53 3,48 3,50 3,45 3,55 3,48
Lanjutan Lampiran 4
JENIS dan
26 27 28 29 30 31 32 33 34
PERLAKUAN
J1N1 4,70 4,70 4,65 4,73 4,75 4,78 4,63 4,65 4,63
J2N1 4,28 4,18 4,18 4,18 4,35 4,28 4,10 4,15 4,10
J3N1 4,50 4,48 4,45 4,45 4,60 4,50 4,48 4,48 4,48
J4N1 4,23 4,08 4,15 4,08 4,25 4,18 4,20 4,15 3,87
J1N2 4,10 4,08 4,05 4,05 4,10 4,15 4,00 4,15 4,05
J2N2 3,95 3,95 3,95 3,90 4,00 3,98 3,98 3,98 3,98
J3N2 3,98 3,95 3,95 3,98 3,98 4,03 3,95 3,98 3,98
J4N2 4,53 4,58 4,53 4,53 4,60 4,60 4,53 4,57 4,47
J1N3 3,60 3,73 3,65 3,58 3,68 3,65 3,55 3,60 3,55
J2N3 3,78 3,83 3,85 3,78 3,90 3,85 3,83 3,88 3,75
J3N3 3,83 3,90 3,78 3,73 3,88 3,80 3,78 3,80 3,73
J4N3 3,95 4,00 3,95 3,93 4,03 4,05 3,93 3,95 3,93
J1N4 3,73 3,55 3,65 3,63 3,65 3,60 3,63 3,60 3,58
J2N4 3,55 3,43 3,53 3,48 3,55 3,50 3,48 3,50 3,48
J3N4 3,63 3,55 3,53 3,53 3,58 3,58 3,55 3,55 3,53
J4N4 3,60 3,50 3,60 3,55 3,58 3,53 3,55 3,50 3,55

53
Lampiran 7. Hasil Uji Sidik Ragam dan Uji Duncan
™ Tinggi Tanaman

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 5706.394a 15 380.426 6.497 .000
Intercept 23389.879 1 23389.879 399.429 .000
perlakuan 5706.394 15 380.426 6.497 .000
Error 2810.798 48 58.558
Total 31907.070 64
Corrected Total 8517.191 63
a. R Squared = .670 (Adjusted R Squared = .567)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3 4
J4N4 4 8.3000
J4N2 4 8.9000
J4N1 4 10.0000 10.0000
J1N4 4 10.7250 10.7250
J3N1 4 10.8500 10.8500
J4N3 4 11.1500 11.1500
J2N4 4 13.4000 13.4000
J3N4 4 16.9500 16.9500 16.9500
J3N2 4 18.1750 18.1750 18.1750
J1N1 4 19.3250 19.3250 19.3250
J3N3 4 22.5750 22.5750
J1N2 4 27.5000
J2N3 4 27.6750
J1N3 4 28.9500
J2N1 4 29.4000
J2N2 4 42.0000
Sig. .091 .052 .052 1.000
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 58.558.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

54
™ Diameter Tanaman

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Mod .652a 15 .043 9.121 .000
Intercept 3.231 1 3.231 678.130 .000
perlakuan .652 15 .043 9.121 .000
Error .229 48 .005
Total 4.112 64
Corrected Tota .881 63
a. R Squared = .740 (Adjusted R Squared = .659)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakua N 1 2 3 4 5 6 7 8
J1N4 4 .0775
J4N4 4 .0875
J2N4 4 .1075 .1075
J4N1 4 .1350 .1350 .1350
J4N2 4 .1425 .1425 .1425
J1N1 4 .1850 .1850 .1850 .1850
J3N4 4 .1850 .1850 .1850 .1850
J4N3 4 .2125 .2125 .2125
J3N1 4 .2300 .2300 .2300
J1N2 4 .2350 .2350 .2350
J1N3 4 .2400 .2400 .2400 .2400
J3N3 4 .2825 .2825 .2825 .2825
J2N1 4 .3325 .3325 .3325 .3325
J2N2 4 .3450 .3450 .3450
J3N2 4 .3875 .3875
J2N3 4 .4100
Sig. .061 .063 .070 .089 .065 .053 .053 .154
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = .005.
a.Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b.Alpha = .05.

55
™ Jumlah Daun

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Mode 60439.234a 15 4029.282 18.320 .000
Intercept 52842.516 1 52842.516 240.256 .000
perlakuan 60439.234 15 4029.282 18.320 .000
Error 10557.250 48 219.943
Total 123839.000 64
Corrected Total 70996.484 63
a. R Squared = .851 (Adjusted R Squared = .805)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3 4 5
J4N4 4 4.5000
J1N4 4 5.5000
J4N2 4 6.0000
J1N1 4 7.2500
J2N1 4 7.2500
J4N3 4 7.2500
J1N3 4 9.0000
J1N2 4 9.5000
J4N1 4 9.7500
J3N1 4 27.0000 27.0000
J3N3 4 27.2500 27.2500
J3N2 4 41.0000 41.0000
J3N4 4 43.0000 43.0000
J2N4 4 61.7500
J2N2 4 86.2500
J2N3 4 107.5000
Sig. .074 .171 .066 1.000 1.000
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 219.943.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

56
™ Bobot Anakan

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Mode 2.375a 15 .158 7.119 .000
Intercept 9.688 1 9.688 435.604 .000
perlakuan 2.375 15 .158 7.119 .000
Error 1.068 48 .022
Total 13.130 64
Corrected Tota 3.442 63
a. R Squared = .690 (Adjusted R Squared = .593)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3 4
J4N4 4 .1250
J1N4 4 .2000 .2000
J4N1 4 .2250 .2250 .2250
J4N2 4 .2250 .2250 .2250
J2N4 4 .2250 .2250 .2250
J4N3 4 .2500 .2500 .2500
J3N4 4 .2750 .2750 .2750
J1N1 4 .3500 .3500 .3500
J3N1 4 .3750 .3750
J1N3 4 .4000 .4000
J1N2 4 .4250 .4250
J3N2 4 .4750
J3N3 4 .4750
J2N3 4 .7000
J2N1 4 .7500
J2N2 4 .7500
Sig. .072 .077 .051 .659
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = .022.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

57
™ Berat Basah daun

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 24210.117a 15 1614.008 4.597 .000
Intercept 55515.606 1 55515.606 158.104 .000
perlakuan 24210.117 15 1614.008 4.597 .000
Error 16854.394 48 351.133
Total 96580.118 64
Corrected Total 41064.511 63
a. R Squared = .590 (Adjusted R Squared = .461)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3 4 5
J4N4 4 3.8100
J4N2 4 6.2525
J2N4 4 7.1725
J1N4 4 8.3150 8.3150
J4N1 4 8.8675 8.8675
J3N4 4 15.0975 15.0975 15.0975
J1N1 4 21.4700 21.4700 21.4700 21.4700
J4N3 4 22.0900 22.0900 22.0900 22.0900
J3N2 4 37.8675 37.8675 37.8675 37.8675
J3N1 4 38.9950 38.9950 38.9950
J1N3 4 39.7050 39.7050 39.7050
J1N2 4 42.4800 42.4800 42.4800
J2N1 4 46.9725 46.9725
J2N2 4 50.9725 50.9725
J3N3 4 57.3625
J2N3 4 63.8050
Sig. .246 .054 .079 .061 .100
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 351.133.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

58
™ Berat Basah Batang

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 46174885.0a 15 3078325.667 .995 .476
Intercept 3487299.473 1 3487299.473 1.127 .294
perlakuan 46174885.0 15 3078325.667 .995 .476
Error 148546293 48 3094714.447
Total 198208478 64
Corrected Total 194721178 63
a. R Squared = .237 (Adjusted R Squared = -.001)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2
J4N1 4 3.1925
J1N1 4 5.2575
J3N1 4 6.0850
J4N4 4 6.1175
J1N4 4 7.1100
J2N1 4 7.4300
J4N2 4 7.7975
J3N4 4 11.4675
J4N3 4 11.7650
J3N3 4 19.4225
J1N2 4 20.7875
J1N3 4 22.5375
J2N2 4 27.2050
J3N2 4 27.5300
J2N3 4 28.1775
J2N4 4 3522.9800
Sig. .987 1.000
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 3094714.447.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

59
™ Berat Basah Akar

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 4850.766a 15 323.384 8.799 .000
Intercept 11977.387 1 11977.387 325.910 .000
perlakuan 4850.766 15 323.384 8.799 .000
Error 1764.029 48 36.751
Total 18592.181 64
Corrected Total 6614.794 63
a. R Squared = .733 (Adjusted R Squared = .650)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3
J4N1 4 3.1925
J1N1 4 5.2575
J3N1 4 6.0850
J4N4 4 6.1175
J2N4 4 7.0000
J1N4 4 7.1100
J2N1 4 7.4300
J4N2 4 7.7975
J3N4 4 11.4675 11.4675
J4N3 4 11.7650 11.7650
J3N3 4 19.4225 19.4225
J1N2 4 20.7875 20.7875
J1N3 4 22.5375
J2N2 4 27.2050
J3N2 4 27.5300
J2N3 4 28.1775
Sig. .098 .051 .078
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 36.751.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

60
™ Berat Basah Total

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 71731.862a 15 4782.124 6.131 .000
Intercept 185585.409 1 185585.409 237.931 .000
perlakuan 71731.862 15 4782.124 6.131 .000
Error 37439.839 48 779.997
Total 294757.110 64
Corrected Total 109171.701 63
a. R Squared = .657 (Adjusted R Squared = .550)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakua N 1 2 3 4 5 6 7
J4N4 4 13.5500
J4N1 4 14.2675
J2N4 4 17.5250 17.5250
J4N2 4 18.0225 18.0225
J1N4 4 20.2850 20.2850
J1N1 4 34.0650 34.0650 34.0650
J3N4 4 35.0950 35.0950 35.0950
J4N3 4 40.3050 40.3050 40.3050 40.3050
J3N1 4 51.4800 51.4800 51.4800 51.4800 51.4800
J2N1 4 61.8800 61.8800 61.8800 61.8800 61.8800
J1N3 4 71.3775 71.3775 71.3775 71.3775 71.3775
J1N2 4 83.1950 83.1950 83.1950 83.1950
J3N2 4 90.5750 90.5750 90.5750
J3N3 4 93.3875 93.3875 93.3875
J2N2 4 06.3375 06.3375
J2N3 4 10.2450
Sig. .109 .058 .104 .057 .067 .052 .090
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 779.997.
a.Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b.Alpha = .05.

61
™ Berat Kering Daun

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 2292.345a 15 152.823 4.229 .000
Intercept 5804.726 1 5804.726 160.640 .000
perlakuan 2292.345 15 152.823 4.229 .000
Error 1734.483 48 36.135
Total 9831.553 64
Corrected Total 4026.828 63
a. R Squared = .569 (Adjusted R Squared = .435)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3 4 5
J4N4 4 2.0500
J4N2 4 2.1650
J2N4 4 2.5200
J4N1 4 3.2475 3.2475
J1N4 4 3.4650 3.4650
J3N4 4 5.8875 5.8875 5.8875
J1N1 4 5.9725 5.9725 5.9725
J3N1 4 10.6575 10.6575 10.6575 10.6575
J2N1 4 10.8175 10.8175 10.8175 10.8175
J4N3 4 11.5825 11.5825 11.5825 11.5825 11.5825
J3N2 4 11.9375 11.9375 11.9375 11.9375 11.9375
J1N3 4 12.6900 12.6900 12.6900 12.6900
J1N2 4 13.5750 13.5750 13.5750
J2N2 4 14.5225 14.5225 14.5225
J3N3 4 20.2350 20.2350
J2N3 4 21.0525
Sig. .055 .064 .090 .058 .058
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 36.135.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

62
™ Berat Kering Batang

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 873.308a 15 58.221 7.547 .000
Intercept 1999.096 1 1999.096 259.139 .000
perlakuan 873.308 15 58.221 7.547 .000
Error 370.290 48 7.714
Total 3242.694 64
Corrected Total 1243.598 63
a. R Squared = .702 (Adjusted R Squared = .609)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3 4
J4N1 4 1.6475
J2N4 4 1.9975 1.9975
J1N4 4 2.0025 2.0025
J1N1 4 2.2225 2.2225
J3N1 4 2.3900 2.3900
J4N4 4 2.7400 2.7400
J2N1 4 2.8250 2.8250
J3N4 4 3.3675 3.3675
J4N2 4 3.6700 3.6700
J4N3 4 6.4825 6.4825
J1N2 4 7.8425 7.8425
J3N3 4 8.6225 8.6225
J1N3 4 9.5000 9.5000
J2N3 4 10.8925
J2N2 4 11.4075
J3N2 4 11.8125
Sig. .390 .056 .168 .081
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 7.714.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

63
™ Berat Kering Akar

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Mode 426.703a 15 28.447 4.100 .000
Intercept 778.480 1 778.480 112.190 .000
perlakuan 426.703 15 28.447 4.100 .000
Error 333.070 48 6.939
Total 1538.252 64
Corrected Total 759.773 63
a. R Squared = .562 (Adjusted R Squared = .425)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3
J4N1 4 .8575
J2N4 4 1.1750
J4N4 4 1.4100 1.4100
J4N2 4 1.6500 1.6500
J1N4 4 1.7675 1.7675
J3N1 4 1.9750 1.9750
J1N1 4 2.1050 2.1050
J2N1 4 2.5975 2.5975
J4N3 4 2.6200 2.6200
J3N4 4 2.8725 2.8725
J3N3 4 3.0275 3.0275
J1N3 4 3.1475 3.1475
J2N3 4 5.6325 5.6325
J3N2 4 7.5350
J1N2 4 7.8000
J2N2 4 9.6300
Sig. .312 .062 .054
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 6.939.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

64
™ Berat Kering Total

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 8059.758a 15 537.317 5.269 .000
Intercept 22141.812 1 22141.812 217.123 .000
perlakuan 8059.758 15 537.317 5.269 .000
Error 4894.947 48 101.978
Total 35096.517 64
Corrected Total 12954.705 63
a. R Squared = .622 (Adjusted R Squared = .504)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3 4 5 6
J2N4 4 5.6925
J4N1 4 5.7525
J4N4 4 6.2000
J1N4 4 7.2350
J4N2 4 7.4850
J1N1 4 10.3000 10.3000
J3N4 4 12.1275 12.1275
J3N1 4 15.0225 15.0225 15.0225
J2N1 4 16.2400 16.2400 16.2400 16.2400
J4N3 4 20.6850 20.6850 20.6850 20.6850 20.6850
J1N3 4 25.3375 25.3375 25.3375 25.3375 25.3375
J1N2 4 29.2175 29.2175 29.2175 29.2175
J3N2 4 31.2850 31.2850 31.2850
J3N3 4 31.8850 31.8850 31.8850
J2N2 4 35.5600 35.5600
J2N3 4 37.5775
Sig. .082 .069 .081 .059 .072 .140
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 101.978.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

65
™ Rasio Tinggi-Diameter

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 243809.397a 15 16253.960 1.030 .443
Intercept 773540.039 1 773540.039 49.027 .000
perlakuan 243809.397 15 16253.960 1.030 .443
Error 757330.224 48 15777.713
Total 1774679.660 64
Corrected Total 1001139.621 63
a. R Squared = .244 (Adjusted R Squared = .007)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2
J3N2 4 45.7025
J3N1 4 47.2425
J4N3 4 53.7050
J4N1 4 64.9375
J2N3 4 67.7550
J4N2 4 75.5400
J3N3 4 82.9350
J3N4 4 92.0225 92.0225
J2N1 4 94.2125 94.2125
J1N2 4 119.4950 119.4950
J1N3 4 121.2750 121.2750
J1N1 4 124.6300 124.6300
J2N2 4 128.3375 128.3375
J2N4 4 158.2875 158.2875
J1N4 4 187.9300 187.9300
J4N4 4 295.0150
Sig. .193 .056
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 15777.713.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

66
™ Rasio Pucuk-Akar

Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable: respon


Type III Sum
Source of Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Mode 177.897a 15 11.860 4.179 .000
Intercept 579.064 1 579.064 204.020 .000
perlakuan 177.897 15 11.860 4.179 .000
Error 136.237 48 2.838
Total 893.198 64
Corrected Total 314.134 63
a. R Squared = .566 (Adjusted R Squared = .431)

respon
a,b
Duncan
Subset
perlakuan N 1 2 3 4 5
J4N4 4 1.1200
J2N4 4 1.2600
J4N2 4 1.2650
J1N4 4 1.4450 1.4450
J3N2 4 1.5200 1.5200
J2N2 4 1.9725 1.9725
J1N2 4 2.1850 2.1850
J1N1 4 2.3275 2.3275
J3N4 4 2.6825 2.6825 2.6825
J4N1 4 2.8750 2.8750 2.8750 2.8750
J1N3 4 3.9525 3.9525 3.9525 3.9525
J2N3 4 3.9625 3.9625 3.9625 3.9625
J4N3 4 4.1575 4.1575 4.1575 4.1575
J2N1 4 5.2300 5.2300 5.2300
J3N1 4 5.4500 5.4500
J3N3 4 6.7225
Sig. .050 .059 .065 .062 .053
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Based on Type III Sum of Squares
The error term is Mean Square(Error) = 2.838.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.000.
b. Alpha = .05.

67
Lampiran 8. Rata-rata Suhu Udara dan Kelembaban Udara Harian (oC)
Parameter Suhu (°C) Parameter Kelembaban (%)
Hari/Tanggal
Pagi Siang sore Pagi Siang sore
Senin/ 17 Juli 2006 25 35 29 91 56 83
Selasa/ 18 Juli 2006 25 34 30 90 70 79
Rabu/ 19 Juli 2006 26 34 29 90 57 83
Kamis/ 20 Juli 2006 25 33 29 95 56 83
Jumat/ 21 Juli 2006 26 33 30 91 57 64
Sabtu/ 22 Juli 2006 25 33 31 95 59 68
Minggu/ 23 Juli 2006 26 33 30 91 52 60
Senin/ 24 Juli 2006 24 34 31 85 51 66
Selasa/ 25 Juli 2006 25 34 30 90 64 64
Rabu/ 26 Juli 2006 26 33 30 95 56 78
Kamis/ 27 Juli 2006 26 33 31 82 60 72
Jumat/ 28 Juli 2006 25 33 31 95 63 74
Sabtu/ 29 Juli 2006 27 34 31 91 57 72
Minggu/ 30 Juli 2006 26 35 31 82 65 69
Senin/ 31 Juli 2006 24 33 31 90 60 72
Selasa/ 01 Agustus 2006 25 34 31 90 64 58
Rabu/ 02 Agustus 2006 25 34 30 81 54 57
Kamis/ 03 Agustus 2006 26 34 30 82 54 57
Jumat/ 04 Agustus 2006 26 34 30 86 51 60
Sabtu/ 05 Agustus 2006 25 35 30 81 58 60
Minggu / 06 Agustus 2006 26 34 30 82 57 57
Senin/ 07 Agustus 2006 26 34 30 86 57 60
Selasa/ 08 Agustus 2006 25 33 30 90 56 60
Rabu/ 09 Agustus 2006 26 33 30 82 60 57
Kamis/10 Agustus 2006 27 33 31 91 56 69
Jumat/11 Agustus 2006 27 33 31 86 53 65
Sabtu/12 Agustus 2006 27 33 31 91 56 69
Minggu/ 13 Agustus 2006 26 33 31 86 53 69
Senin/ 14 Agustus 2006 26 33 30 86 56 72
Selasa/ 15 Agustus 2006 26 33 29 86 56 59
Rabu/ 16 Agustus 2006 26 34 29 86 57 59
Kamis/ 17 Agustus 2006 27 33 29 82 53 59
Jumat/ 18 Agustus 2006 26 34 30 86 57 60
Sabtu/ 19 Agustus 2006 25 34 30 76 54 57
Minggu/20 Agustus 2006 25 34 30 86 54 57
Senin/ 21 Agustus 2006 26 34 30 86 54 60
Selasa/ 22 Agustus 2006 26 33 30 86 56 60
Rabu/ 23 Agustus 2006 26 33 29 82 56 56
Kamis/ 24 Agustus 2006 25 33 29 81 53 56
Jumat/ 25 Agustus 2006 25 34 29 81 57 52
Sabtu/ 26 Agustus 2006 25 34 29 81 57 56
Minggu/ 27 Agustus 2006 25 34 30 81 54 57
Senin/ 28 Agustus 2006 25 34 30 81 61 57
Selasa/ 29 agustus 2006 26 34 31 91 54 54
Rabu/ 30 Agustus 2006 26 34 31 82 57 58
Kamis/ 31 Agustus 2006 26 33 31 82 60 58
Jumat/ 01 Sept 2006 25 34 31 81 57 51

68
Sabtu/ 02 Sept 2006 26 33 31 82 53 51
Minggu/ 03 Sept 2006 25 33 31 81 56 54
Senin/ 04 Sept 2006 26 33 31 91 56 58
Selasa/ 05 Sept 2006 26 33 31 91 60 54
Rabu/ 06 Sept 2006 26 33 31 91 60 58
Kamis/ 07 Sept 2006 26 33 29 82 56 56
Jumat/ 08 Sept 2006 26 35 29 82 58 56
Sabtu/ 09 Sept 2006 26 33 29 91 56 56
Minggu/ 10 Sept 2006 26 33 29 82 53 52
Senin/ 11 Sept 2006 26 33 29 82 53 63
Selasa/12 Sept 2006 27 33 29 86 53 52
Rabu/ 13 Sept 2006 26 33 29 82 56 52
Kamis/ 14 Sept 2006 26 33 29 82 56 63
Jumat/ 15 Sept 2006 26 33 30 86 56 57
Sabtu/ 16 Sept 2006 26 35 30 86 49 57
Minggu/ 17 Sept 2006 25 35 30 90 46 64
Senin/ 18 Sept 2006 24 36 30 90 47 70
Selasa/ 19 Sept 2006 26 36 30 86 37 70
Rabu/ 20 Sept 2006 26 36 28 86 50 63
Kamis/ 21 Sept 2006 27 36 27 91 43 82
Jumat/ 22 Sept 2006 24 36 29 90 43 75
Sabtu/ 23 Sept 2006 25 35 29 90 41 78
Minggu/ 24 Sept 2006 25 35 29 90 41 82

Lampiran 8. Rata-rata Suhu Udara dan Kelembaban Udara Harian (oC)

Pengukuran suhu dan kelembaban harian diluar ruangan/rumah kaca

Parameter Kelembaban
Hari/Tanggal Parameter Suhu (°C) (%)
Pagi Siang sore Pagi Siang sore
Senin/ 17 Juli 2006 25 30 30 90 70 73
Selasa/ 18 Juli 2006 24 30 29 95 74 73
Rabu/ 19 Juli 2006 26 33 29 91 59 73
Kamis/ 20 Juli 2006 25 32 29 90 57 82
Jumat/ 21 Juli 2006 25 33 30 90 64 68
Sabtu/ 22 Juli 2006 25 32 31 90 63 65
Minggu/ 23 Juli 2006 26 32 29 90 60 66
Senin/ 24 Juli 2006 24 34 31 91 59 74
Selasa/ 25 Juli 2006 23 35 31 90 56 72
Rabu/ 26 Juli 2006 23 34 30 95 56 69
Kamis/ 27 Juli 2006 25 33 29 90 60 72
Jumat/ 28 Juli 2006 26 32 29 95 63 74
Sabtu/ 29 Juli 2006 25 31 31 95 64 74
Minggu/ 30 Juli 2006 25 33 31 90 54 74
Senin/ 31 Juli 2006 25 32 30 95 51 60
Selasa/ 01 Agustus 2006 24 34 31 95 58 60

69
Rabu/ 02 Agustus 2006 23 35 26 95 64 57
Kamis/ 03 Agustus 2006 25 34 30 95 67 57
Jumat/ 04 Agustus 2006 26 34 31 90 51 69
Sabtu/ 05 Agustus 2006 25 31 29 90 58 65
Minggu / 06 Agustus 2006 24 35 28 91 57 57
Senin/ 07 Agustus 2006 24 35 30 90 57 80
Selasa/ 08 Agustus 2006 23 32 31 91 58 69
Rabu/ 09 Agustus 2006 25 33 31 91 54 72
Kamis/10 Agustus 2006 26 34 31 90 54 72
Jumat/11 Agustus 2006 24 30 30 86 54 70
Sabtu/12 Agustus 2006 25 31 29 90 57 69
Minggu/ 13 Agustus 2006 25 31 28 86 58 69
Senin/ 14 Agustus 2006 25 30 30 86 64 72
Selasa/ 15 Agustus 2006 24 34 29 90 56 70
Rabu/ 16 Agustus 2006 24 35 29 90 56 70
Kamis/ 17 Agustus 2006 25 32 30 82 54 72
Jumat/ 18 Agustus 2006 23 33 31 82 60 72
Sabtu/ 19 Agustus 2006 23 33 31 86 60 52
Minggu/20 Agustus 2006 24 32 30 90 60 56
Senin/ 21 Agustus 2006 25 34 30 90 65 56
Selasa/ 22 Agustus 2006 23 35 29 82 68 52
Rabu/ 23 Agustus 2006 25 30 29 82 68 52
Kamis/ 24 Agustus 2006 25 31 29 90 67 57
Jumat/ 25 Agustus 2006 23 32 27 90 67 57
Sabtu/ 26 Agustus 2006 24 35 30 91 46 54
Minggu/ 27 Agustus 2006 24 30 30 95 46 54
Senin/ 28 Agustus 2006 25 34 30 95 50 82
Selasa/ 29 agustus 2006 25 32 31 86 51 82
Rabu/ 30 Agustus 2006 25 34 30 86 52 80
Kamis/ 31 Agustus 2006 24 35 29 90 49 80
Jumat/ 01 Sept 2006 26 32 29 82 58 69
Sabtu/ 02 Sept 2006 26 32 28 86 60 69
Minggu/ 03 Sept 2006 23 34 29 82 61 64
Senin/ 04 Sept 2006 24 34 30 95 46 64
Selasa/ 05 Sept 2006 24 35 30 95 44 58
Rabu/ 06 Sept 2006 23 32 31 95 60 56
Kamis/ 07 Sept 2006 23 30 30 90 61 58
Jumat/ 08 Sept 2006 25 31 30 86 64 59
Sabtu/ 09 Sept 2006 23 32 31 86 64 56
Minggu/ 10 Sept 2006 24 34 29 91 65 54
Senin/ 11 Sept 2006 25 35 28 91 58 52
Selasa/12 Sept 2006 25 32 28 95 57 53
Rabu/ 13 Sept 2006 25 34 29 90 57 56

70
Kamis/ 14 Sept 2006 23 35 30 90 46 55
Jumat/ 15 Sept 2006 23 32 30 90 46 59
Sabtu/ 16 Sept 2006 24 35 29 90 56 79
Minggu/ 17 Sept 2006 25 33 30 86 44 59
Senin/ 18 Sept 2006 24 35 30 90 42 59
Selasa/ 19 Sept 2006 25 34 30 90 32 64
Rabu/ 20 Sept 2006 26 34 29 91 46 64
Kamis/ 21 Sept 2006 25 34 26 91 42 80
Jumat/ 22 Sept 2006 23 35 29 95 44 80
Sabtu/ 23 Sept 2006 24 33 30 91 44 79
Minggu/ 24 Sept 2006 24 34 29 90 46 65

Lampiran 9. Rekapitulasi dan Hasil Uji Duncan Nilai Rata-Rata Pertumbuhan, Produksi Berat Basah-
Berat Kering, RPA dan RTD

Nilai Rata-rata Pertambahan Tinggi Tanaman pada Setiap Tingkat Kadar Air (cm)
Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
Akasia 21.66 abc
27.50 c
28.95 c
13.31ab
Sengon 29.40c 42.00d 27.68c 13.40ab
Mahoni 12.85ab 18.18abc 22.58bc 16.95abc
Meranti 16.00ab 8.44a 12.61ab 9.05a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

Nilai Rata-rata Pertambahan Diameter Tanaman pada Setiap Tingkat Kadar Air (mm)
Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
Akasia 0.23abcd 0.24cde 0.24cdef 0.10a
Sengon 0.33efgh 0.35fgh 0.41h 0.11ab
Mahoni 0.22 cde
0.39 gh
0.28 defg
0.19abcd
Meranti 0.16abc 0.16abc 0.21bcd 0.12a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

Nilai Rata-rata Jumlah Daun pada Setiap Tingkat Kadar Air


Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
a a a
Akasia 10 10 9 7a
Sengon 129a 86d 108e 62c
Mahoni 36ab 41bc 27ab 43bc
Meranti 13a 8a 10a 6a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

71
Nilai Rata-rata Penyusutan Bobot Tanaman pada Setiap Tingkat Kadar Air (kg).
Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
Akasia 0.35abc 0.425bc 0.4bc 0.2ab
Sengon 0.75d 0.75d 0.7d 0.225abc
bc c c
Mahoni 0.375 0.475 0.475 0.275abc
Meranti 0.48abc 0.258abc 0.25abc 0.125a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

Nilai Rata-rata Berat Basah Daun pada Setiap Tingkat Kadar Air (gram)
Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
abcd cde cde
Akasia 21.47 46.97 39.00 8.87ab
Sengon 42.48de 50.97de 37.87e 6.25a
Mahoni 39.71cde 63.81bcde 57.36e 22.09abc
ab a abcd
Meranti 8.32 7.17 15.10 3.81a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

Nilai Rata-rata Berat Basah Batang pada Setiap Tingkat Kadar Air (gram)

Tingkat Kadar Air


Jenis
100% 75% 50% 25%
a a a
Akasia 5.26 7.43 6.09 3.19a
a a a
Sengon 20.79 27.21 27.53 7.80b
Mahoni 22.54a 28.18a 19.42a 11.77a
Meranti 7.11a 7.00a 11.47a 6.12a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

Nilai Rata-rata Berat Basah Akar pada Setiap Tingkat Kadar Air (gram)
Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
a bc c
Akasia 7.34 7.48 6.40 2.21a
Sengon 19.93a 28.16c 25.18c 3.97a
a c bc
Mahoni 9.14 18.26 16.60 6.45ab
Meranti 4.86a 3.35a 8.53ab 3.62a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

Nilai Rata-rata Berat Kering Daun pada Setiap Tingkat Kadar Air (gram)
Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
abc cde bcde
Akasia 5.97 10.82 10.66 3.25ab
Sengon 13.58abcd 14.52cde 11.94e 2.17a
abcd abcde de
Mahoni 12.69 21.05 20.24 11.58abc
Meranti 3.47ab 2.52a 5.89abcde 2.05a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

72
Nilai Rata-rata Berat Kering batang pada Setiap Tingkat Kadar Air (gram)
Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
ab cd cd
Akasia 2.22 2.83 2.39 1.65ab
Sengon 7.85ab 11.41d 11.81d 3.67ab
Mahoni 9.50ab 10.89d 8.62cd 6.48ab
Meranti 2.00a 2.00ab 3.37bc 2.74ab
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)
Nilai Rata-rata Berat Kering Akar pada Setiap Tingkat Kadar Air (gram)
Tingkat Kadar Air
Jenis
100% 75% 50% 25%
ab c ab
Akasia 2.11 2.60 1.98 0.86ab
Sengon 7.80ab 9.63c 7.54bc 1.65a
Mahoni 3.15ab 5.63c 2.92ab 2.62ab
Meranti 1.77a 1.18ab 2.87ab 1.41ab
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)
Nilai Rata-rata Berat Berat Basah Total Tanaman pada Setiap Tingkat Kadar Air (gram)
Kadar air Tanah
Jenis
100% 75% 50% 25%
Akasia 34.07abc 83.20defg 71.38cdefg 20.29ab
Sengon 61.88bcdef 106.34fg 110.25g 17.5ab
Mahoni 51.48abcde 90.58efg 93.39efg 35.10abc
a ab abcd
Meranti 14.27 18.02 40.31 13.55a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)
Nilai Rata-rata Berat Berat Kering Total Tanaman pada Setiap Tingkat Kadar Air (gram)
Kadar air Tanah
Jenis
100% 75% 50% 25%
Akasia 10.30ab 29.22cdef 25.34bcdef 7.24a
Sengon 16.24abcd 35.56ef 37.58f 5.7a
Mahoni 15.02abc 31.29def 31.89def 12.13ab
Meranti 5.75a 7.49a 20.69abcde 6.20a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)
Nilai Rata-rata Rasio Pucuk-Akar Tanaman pada Setiap Tingkat Kadar Air
Kadar air Tanah
Jenis
100% 75% 50% 25%
ab ab abcd
Akasia 2.33 2.18 3.95 1.45ab
Sengon 5.23cde 1.97ab 3.96abcd 1.3a
Mahoni 4.42de 1.52ab 6.72e 2.68abc
Meranti 2.87abcd 1.26a 4.16bcde 1.12a
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

73
Nilai Rata-rata Rasio Tinggi-Diameter Tanaman pada Setiap Tingkat Kadar Air
Kadar air Tanah
Jenis
100% 75% 50% 25%
ab ab ab
Akasia 124.63 119.50 121.27 187.93ab
ab ab a
Sengon 94.21 128.34 67.75 158.29ab
Mahoni 47.24a 45.70a 82.93a 92.02ab
Meranti 64.94a 75.54a 53.70a 295.01b
Catatan : Huruf yang tidak sama menyatakan berbeda nyata pada taraf uji 0,05 (uji Duncan)

Lampiran 9. Nilai Jumlah Total Evapotranspirasi


Tingkat Kadar Anakan
Air Akasia Sengon Mahoni Meranti
100% 79.84 136.1 94.22 64.35
75% 95.68 172.04 119.03 80.4
50% 82.87 161.14 97.7 58.73
25% 49.97 59.18 69.17 41.44

Lampiran 10. Nilai Rata-rata Harian Evpotranspirasi


Tingkat Kadar Anakan
Air Akasia Sengon Mahoni Meranti
100% 1.17 2 1.39 0.95
75% 1.41 2.53 1.75 1.18
50% 1.22 2.37 1.44 0.86
25% 0.73 0.87 1.02 0.61

Lampiran 11. Nilai Rata-rata Mingguan Evapotranspirasi

Minggu Ke 1 Minggu ke 2 Minggu Ke 3 Minggu Ke 4 Minggu ke 5 Minggu ke 6 Minggu ke 7


1.02 1.04 1.25 1.10 1.26 1.21 1.38
0.86 1.27 1.80 1.91 2.49 2.78 3.12
0.98 1.17 1.36 1.38 1.62 1.59 1.66
0.66 0.81 0.81 0.74 0.76 0.88 2.22
0.95 1.21 1.27 1.37 1.57 1.80 1.74
1.21 1.76 2.34 2.62 3.10 3.48 3.37
1.10 1.53 1.64 1.73 2.04 2.18 2.11
0.91 0.97 0.89 0.90 0.90 0.79 3.37
0.82 1.13 1.15 1.09 1.43 1.37 1.63
1.48 2.09 2.38 2.46 2.65 2.81 2.81
0.94 1.26 1.28 1.48 1.57 1.71 1.91
0.85 0.83 0.84 0.77 0.89 0.92 0.95
0.66 0.73 0.77 0.66 0.93 0.61 0.79
0.74 0.79 0.94 0.77 1.03 0.88 0.95
0.75 0.93 0.99 0.90 1.37 1.08 1.12
0.52 0.63 0.69 0.47 0.83 0.49 0.65

74
Lampiran 12. Lay Out Posisi Tanaman dan Perlakuan

100%
J3C3 J2C1 J3C4 J1C2
Keterangan :
™ J1 : Jenis Akasia
J4C1 J3C2 J4C2 J4C3 ™ J2 : Jenis Sengon
™ J3 : Jenis Mahoni
J4C4 J1C4 J2C4 J1C1 ™ J4 : Jenis Meranti Merah

J1C3 J2C2 J3C1 J2C3


™ C1 : Ulangan ke-1
™ C2 : Ulangan ke-2
™ C3 : Ulangan ke-3
75%
J3C2 J4C1 J4C3 J3C3 ™ C4 : Ulangan ke-4

J4C2 J2C3 J1C2 J2C4


U
J2C1 J1C3 J3C1 J4C4

J1C1 J3C4 J2C3 J1C4

50%
J1C1 J2C4 J1C2 J3C1

J4C1 J4C4 J2C3 J1C4

J2C1 J1C3 J3C4 J4C3

J3C3 J4C2 J2C2 J3C2

25%
J3C1 J4C2 J1C2 J4C4

J2C4 J1C1 J3C3 J2C3

J4C1 J3C4 J4C3 J1C3

J1C4 J2C1 J2C2 J3C2

75
Lampiran 13. Penentuan Volume Ember.

RRR
R
Dik : R = 22 cm
r = 15 cm
t = 15 cm
Rata-rata kadar air : 41,483 % (Untuk 100%)
Penyelesaian :

y α
a

x
y b ¾ Volume Kerucut Besar :
¾ = 1 2 1
x a π. r . t = . 3,14. 112. (32,143 + 15)
b+t b 3 3
¾ = 1
Y 2 1 / 2r = . 3,14. 121. 47,143
b + 15 b 3
¾ = = 5970,504 cm3
1 / 2.22 1 / 2.15
¾ (b+15) 7,5 = 11 b ¾ Volume Kerucut Kecil :
¾ 7,5 b+ 112,5 = 11b 1 2 1
¾ 112,5 = 11b – 7,5 b π. r . t = . 3,14. 7,52. 32,143
¾ 112,5 = 3,5 b 3 3
112,5 = 1892,419 cm3
¾ =b
3,5 Jadi Volume Ember :
¾ b = 32,143 cm
Volume Kerucuk Besar - Kerucut Kecil
5970,504 cm3 - 1892,419 cm3
= 4078,085 cm3

76
Lampiran 14. Gambar Anakan (a) Tingkat Kadar Air 100% (b) Tingkat Kadar Air 75% (c) Tingkat
Kadar Air 50% (d) Tingkat Kadar Air 25%

(a) (b)

(c) (d)

77
Lampiran 5. Nilai Rata-rata Berat Basah (gram)
DATA BERAT BASAH ANAKAN
PERLAKUAN (N)

JENIS (J) ULANGAN 100% 75% 50% 25%

DAUN BATANG AKAR DAUN BATANG AKAR DAUN BATANG AKAR DAUN BATANG AKAR

1 22,95 5,33 7,28 73,13 6,19 4,08 30,13 8,9 3,96 10,27 5,38 3,68

2 35,54 8,21 8,58 31,96 5,94 10,69 37,06 5,02 6,05 16,07 4,31 3,26
J1
3 0 0 0 45,08 8,62 7,54 56,87 2,98 10,1 9,13 3,08 1,89

4 27,39 7,49 13 37,72 8,97 7,6 31,92 7,44 5,49 0 0 0

1 39,8 24,49 21,93 47,95 26,69 45,81 71,72 32,36 40,98 4,54 6,73 3,91

2 28,87 11,24 11,85 55,36 28,01 23,78 27,61 34,48 28,01 10,98 6,57 4,32
J2
3 28,95 15,71 11,75 45,12 30,78 30,44 18,61 18,68 13,02 1,47 4,74 3,4
4 72,3 31,71 34,18 55,46 23,34 12,61 33,53 24,6 18,7 8,02 13,15 4,26
1 23,53 22,6 8,96 43,17 18,87 15,38 102,06 30,71 37,68 48,71 18,46 10,05
2 56,7 29,29 13,75 80,96 33,87 17,24 51,41 26,19 12,91 15,55 7,16 4,64
J3
3 11,66 15,77 4,6 110,77 33,96 19,08 51,23 15,17 10,77 19,42 11,64 7,06

4 66,93 22,49 9,23 20,32 26,01 21,35 24,75 5,62 5,05 4,68 9,8 4,05
1 6,13 5,39 3,58 0 0 0 7,66 4,73 2,53 2,67 4,26 5,94
2 13,56 10,21 7,31 14,51 13,92 3,65 18,58 20,04 13,1 6,93 8,8 3,93
J4
3 0 0 0 14,18 14 9,76 18,7 12,97 7,35 0 0 0
4 13,57 12,84 8,55 0 0 0 15,45 8,13 11,14 5,64 11,41 4,62
Lampiran 6. Nilai Rata-rata Berat Kering
BERAT KERING ANAKAN

PERLAKUAN (N)
JENIS
ULANGAN 100% 75% 50% 25%
(J)
DAUN BATANG AKAR DAUN BATANG AKAR DAUN BATANG AKAR DAUN BATANG AKAR

1 6,64 2,47 1,79 15,92 2,54 1,38 8,02 3,66 1,35 3,92 2,88 1,34

2 9,77 3,41 2,62 7,35 1,97 3,53 9,22 2,81 1,84 5,58 2,01 1,18
J1
3 0 0 0 11,26 3,59 3,03 15,98 1,17 3,01 3,49 1,7 0,91

4 7,48 3,01 4 8,74 3,2 2,44 9,41 1,92 1,7 0 0 0

1 13,4 9,18 6,5 13,36 12,38 13,64 23,47 16,12 12,951 1,58 3,36 1,59

2 8 3,95 2,56 14,02 10,51 8,19 9,33 14,19 7,41 3,59 2,9 1,84
J2
3 7,39 4,24 3,38 14,58 13,67 12,71 5,41 6,48 4,54 0,64 2,78 1,47

4 25,51 14 18,76 16,13 9,07 3,98 9,54 10,46 5,24 2,85 5,64 1,7

1 10,17 10,67 2,78 14,73 6,13 3,6 36,15 15,53 4,29 23,56 10,57 3,86

2 15,94 10,27 4,73 29,21 13,9 5,51 18,79 10,8 3,78 6,8 3,96 2,19
J3
3 4,88 8,92 1,89 31,9 12,93 5,97 16,91 5,72 2,38 9,64 6,19 2,87

4 19,77 8,14 3,19 8,37 10,61 7,45 9,09 2,44 1,21 6,33 5,21 1,56

1 2,41 1,72 1,37 0 0 0 2,87 1,46 0,66 2,34 3 2,19

2 4,77 2,42 2,87 3,92 4,03 1,19 6,42 6,38 4,87 2,79 3,05 1,56
J4
3 0 0 0 6,16 4 3,51 6,25 3,29 2,08 0 0 0

4 6,68 3,87 2,83 0 0 0 8,01 2,34 3,88 3,07 4,91 1,89


Keterangan :
J1 : Jenis Tanaman akasia N1 : Perlakuan Tingkat Kadar Air 100%
J2 : Jenis Tanaman sengon N2 : Perlakuan Tingkat Kadar Air 75%
J3 : Jenis Tanaman mahoni N3 : Perlakuan Tingkat Kadar Air 50%
J4 : Jenis Tanaman meranti N4 : Perlakuan Tingkat Kadar Air 25%