Anda di halaman 1dari 45

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Apendisitis adalah suatu kondisi dimana infeksi terjadi di umbai
cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak
kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang
terinfeksi.Sebagai penyakit yang paling sering memerlukan tindakan bedah
kedaruratan, apendisitis merupakan keadaan inflamasi dan obstruksi pada
apendiks vermiformis. Apendiks vermiformis yang disebut pula umbai
cacing atau lebih dikenal dengan nama usus buntu, merupakan kantung
kecil yang buntu dan melekat pada sekum. Apendisitis dapat terjadi pada
segala usia dan megenai laki – laki serta perempuan sama banyak.,
prevalensi apendisitis lebih tinggi pada laki – laki. Sejak terdapat
kemajuan dalam terapi antibiotik, insidensi dan angka kematian karena
apendisitis mengalami penurunan. Apabila tidak ditangani dengan benar,
penyakit ini hampir selalu berkibat fatal (Kowalak, 2011).
Angka kejadian Apendisitis cukup tinggi di dunia. Berdasarkan Word
Health Organisation (2010) yang dikutip oleh Naulibasa (2011), angka
mortalitas akibat Apendisitis adalah 21.000 jiwa, di mana populasi laki-
laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Angka mortalitas Apendisitis
sekitar 12.000 jiwa pada lakilaki dan sekitar 10.000 jiwa pada perempuan.
Di Amerika Serikat terdapat 70.000 kasus Apendisitis setiap tahunnya.
Kejadian Apendisitis di Amerika memiliki insiden 1- 2 kasus per 10.000
anak pertahunya antara kelahiran sampai umur 4 tahun. Apabila dirata-rata
appedisitis 1,1 kasus per 1000 orang pertahun di Amerika
Serikat.(virgianti,2015)
Di Indonesia insiden appendisitis cukup tinggi, terlihat dengan adanya
peningkatan jumlah pasien dari tahun ketahun. Berdasarkan data yang
diperoleh dari (Depkes, 2016), kasus appendisitis pada tahun 2016
sebanyak 65.755 orang dan pada tahun 2017 jumlah pasien appendisitis
sebanyak 75.601 orang. Berdasarkan data rekam medik rumah sakit umum

Stikes Marendeng Majene


2

majene kabupaten majene selama tahun 2016 terdapat 64 kasus ,pada


tahun 2017 terdapat 75 kasus apendistis dan pada tahun 2018 sebanyak
103 kasus.
Salah satu penanganan yang dilakukan untuk penderita apendisitis
adalah operasi pengangkatan apendiks yang disebut apendiktomi. Dalam
penanganan post apendiktomi harus mendapatkan tindakan yang serba
steril. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi dan
mempercepat proses penyembuhan luka(Potter & Perry, 1995).
Cedera medis pada pasien post apendiktomi dapat menimbulkan nyeri,
resiko terjadinya infeksi yang disebabkan karena stress yang sangat serius
yang akan mengakibatkan sistem imun tubuh menurun sehingga tubuh
rentan terkena infeksi seperti peritonitis, abses peritoneal. Oleh karena itu
perlu diberikan informasi kepada pasien dan keluarga agar mampu
mengenali tanda bahaya sehingga dapat dilaporkan kepada petugas medis
(Healthnotes, 2005).
Hasil studi terbaru di rumah sakit Amerika serikat menunjukkan
terdapat 31% Surgical Site Infection (SSI) atau infeksi luka operasi adalah
infeksi yang terjadi setelah operasi. SSI menjadi penyebab terbesar
morbiditas dan mortalitas di rumah sakit dengan tingkat kematian sebesar
3% tidak berhubungan langsung dengan SSI dan sebesar 75% berkaitan
langsung dengan SSI (CDC, 2015). Pada tahun 2011 prevalensi infeksi
bedah terkait dengan operasi rawat inap diperkirakan mencapai 157.500.
Untuk meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien post pembedahan,
(WHO, 2009) menerapkan Surgical Safety Checklist (SSC) di bangsal
bedah dan anestesi untuk meningkatkan kualitas, menurunkan kematian
dan komplikasi akibat pembedahan. SSC adalah sebuah daftar periksa
untuk memberikan pembedahan yang aman dan berkualitas pada pasien
dan merupakan alat komunikasi untuk keselamatan pasien yang digunakan
oleh tim profesional di ruang operasi.
Faktor- faktor yang mempengaruhi proses perawatan pasien pasca-
operasi adalah faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik
meliputi umur, penyakit penyerta, status nutrisi, oksigenasi dan perfusi

Stikes Marendeng Majene


3

jaringan serta merokok. Faktor ekstrinsik terdiri dari teknik


operasi/pembedahan yang buruk, pemenuhan nutrisi yang tidak adekuat,
obat-obatan, manajemen luka yang tidak tepat dan mobilisasi dini (Potter
& Perry, 2006)
Ambulasi dini dapat dilakukan secara bertahap setelah operasi, pada 6
jam pertama pasien harus tirah baring terlebih dahulu. Mobilisasi dini yang
dilakukan adalah menggerakkan lengan, tangan, menggerakkan ujung jari
kaki, dan memutar pergelangan kaki. Setalah 6-10 jam pasien diharuskan
untuk dapat miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah thromboemboli,
setelah 24 jam pasien dianjurkan untuk dapat mulai belajar duduk setelah
pasien dapat duduk, dianjurkan untuk belajar berjalan. Hal tersebut dapat
meningkatkan sirkulasi darah yang memicu penurunan nyeri dan
penyembuhan luka lebih cepat, serta memulihkan fungsi tubuh tidak hanya
pada bagian yang mengalami cedera tapi pada seluruh anggota tubuh
(Widianto, 2014).
Mobilisasi merupakan faktor yang utama dalam mempercepat
pemulihan dan mencegah terjadinya komplikasi post bedah. Mobilisasi
sangat penting dalam percepatan hari rawat dan mengurangi risiko karena
tirah baring lama, seperti terjadinya dekubitus, kekakuan atau penegangan
otot-otot di seluruh tubuh, gangguan sirkulasi darah, gangguan pernapasan,
dan gangguan peristaltik maupun berkemih (Carpenito, 2007). Namun,
bila terlalu dini dilakukan dengan teknik yang salah, mobilisasi dapat
mengakibatkan proses penyembuhan luka menjadi tidak efektif. Oleh
karena itulah, mobilisasi harus dilakukan secara teratur dan bertahap,
diikuti dengan latihan Range Of Motion (ROM) aktif dan pasif (Roper,
2009)
Terdapat penelitian dari Tia tahun 2015 tentang “hubungan mobilisasi
dini dengan lamanya penyembuhan luka pasien pasca operasi apendiktomi
di ruang bedah RSUD Jend. A. Yani Metro”, Hasil penelitian ini dari 15
responden dengan tingkat mobilisasi dini bergerak, memiliki lama
penyembuhan lambatsebanyak 7 orang (87,5%), dan yang memiliki lama
penyembuhan cepat sebanyak 1 orang (12,5%). Sedangkan dari 2

Stikes Marendeng Majene


4

responden yang memiliki tingkat mobilisasi dini tidak bergerak, lamanya


penyembuhan luka lambat 2 orang (28,6%) orang,dan yang cepat
penyembuhan luka sebanyak 5 orang (71,4%)
Berdasarkan data rekam medik rumah sakit umum majene Kabupaten
majene selama tahun 2016 terdapat 57 kasus ,pada tahun 2017 terdapat 63
kasus apendiktomi dan pada tahun 2018 sebanyak 89 kasus.
Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti
”Pengaruh mobilisasi dini post op apendisitis terhadap proses
penyembuhan luka operasi di rumah sakit umum majene tahun 2019.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah
yaitu: “Pengaruh Mobilisasi Dini Post Op Apendisitis Terhadap Proses
Penyembuhan Luka Operasi di RSUD Majene Tahun 2019.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui Pengaruh mobilisasi dini post op apendisitis
terhadap proses penyembuhan luka operasi di rumah sakit umum majene .
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui mobilisasi dini pada post apendisitis di rumah sakit
umum majene.
1.3.2.2 Untuk mengetahui proses penyembuhan luka operasi di rumah sakit umum
majene
1.3.2.3 Untuk mengetahui Pengaruh mobilisasi dini post op apendisitis terhadap
proses penyembuhan luka operasi di rumah sakit umum majene.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Bagi pasien : Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasien tentang pentingnya
melakukan mobilisasi dini setelah menjalani operasi apendistis yang
bermanfaat bagi pemulihan kesehatan fisiknya seperti keadaan semula.
1.4.2 Bagi Ilmu dan Profesi keperawatan : Penelitian ini diharapkan
memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu keperawatan serta

Stikes Marendeng Majene


5

merupakan masukan informasi yang berharga bagi profesi perawat dalam


menyusun program pemberian pendidikan kesehatan tentang pentingnya
melakukan mobilisasi dini setelah menjalani operasi apendisitis.
1.4.3 Bagi Rumah Sakit Umum : Penelitian ini diharapkan dapat digunakan
sebagai penilaian dan pemikiran terhadap pelayanan yang telah diberikan
terutama dalam pemberian asuhan keperawatan kepada pasien post
apendisitis selama perawatan .
1.4.4 Bagi Insititusi Pendidikan : Penelitian ini diharapkan sebagai bahan
perbandingan serta dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa lain yang
ingin melakukan penelitian lanjutan.
1.4.5 Bagi penelitian : Penelitian ini sebagai sarana dalam mengembangkan dan
mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang di dapat selama pendidikan
dengan kenyataan yang ada di lapangan dan pengalaman yang sangat yang
berguna dalam memberikan asuhan keperawatan .

Stikes Marendeng Majene


6

BAB II

TIJAUN PUSTAKA

2.1 Konsep Apendisitis


2.1.1 Defenisi apendistis
Apendisitis merupakan inflamasi akut pada apendisitis verniformis
dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat.
(Brunner&Suddarth, 2014). Appendisitis adalah peradangan akibat infeksi
pada usus buntu atau umbai cacing ( apendiks ). Usus buntu sebenarnya
adalah sekum (caecum). Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut
sehingga memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi
yang umumnya berbahaya. (Wim de Jong et al, 2010). Peradangan
apendiks yang mengenai semua lapisan dinding organ, dimana patogenis
utamanya diduga karena obstruksi pada lumen yang disebabkan oleh
fekalit (feses keras yang terutama disebabkan oleh serat) (Wim De Jong Et
Al, 2010).
Usus buntu atau apendis merupakan bagian usus yang terletak dalam
pencernaan. Untuk fungsinya secara ilmiah belum diketahui secara pasti,
namun usus buntu ini terkadang banyak sekali sel-sel yang berfungsi untuk
mempertahankan atau imunitas tubuh. Dan bila bagian usus ini mengalami
infeksi akan sangat terasa sakit yang luar biasa bagi penderitanya (Saydam
Gozali, 2011).
2.1.2 Etiologi
Penyebab terjadinya apendisitis dapat terjadi karena adanya makanan
keras yang masuk ke dalam usus buntu dan tidak bisa keluar lagi. Setelah
isi usus tercemar dan usus meradang timbulah kuman-kuman yang dapat
memperparah keadaan tadi (Saydam Gozali, 2011).
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. berbagai hal sebagai
faktor pencetusnya:
2.1.2.1 Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor
pencetus disamping hyperplasia jaringan limfe, tumor apendiks dan cacing
askaris.

Stikes Marendeng Majene


7

2.1.2.2 Penyebab lain penyebab apendiks karena parasit seperti E. hystolitica.


2.1.2.3 Penelitian Epidemiologi mengatakan peran kebiasaan makan makanan
yang rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.
Konstipasi akan menarik bagian intrasekal, yang berakibat timbulnya
tekanan intrasekal dan terjadi penyumbatan sehingga meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon (R Tsamsuhidajat & Wim De jong, 2010).
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada
factor prediposisi yaitu:
a. Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya
obstruksi ini terjadi karena:
a) Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab
terbanyak.
b) Adanya fekolit dalam lumen appendiks
c) Adanya benda asing seperti biji-bijian
d) Striktur lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptococcus..
c. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30
tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan
jaringan limpoid pada masa tersebut.
d. Tergantung pada bentuk apendiks:
a) Appendiks yang terlalu panjang
b) Massa appendiks yang pendek
c) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
d) Kelainan katup di pangkal appendiks (Krismanuel, H., 2012).
2.1.3 Patofisiologi
Patofisiologi dari apendisitis dimulai dari terinflamasi dan mengalami
edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat, kemungkinan disebabkan
oleh fekalit (massa keras dari feses), tumor, atau beda asing. Proses
inflamasi ini menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal, sehingga
menimbulkan nyeri abdomen dan menyebar secara hebat dan progresif
dalam beberapa jam terlokalisasi di kuadran kanan bawah abdomen. Hal

Stikes Marendeng Majene


8

tersebut menyebabkan apendik yang terinflamasi tersebut berisi pus


(Smeltzer & Bare, 2002).
2.1.4 Tanda dan gejala
Apendisitis sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh
radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis
ialah nyeri samarsamar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah
epigastrium di sekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan
kadang ada muntah dan umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa
jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik Mc. Burney. Disini
nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan
nyeri somatik setempat (Sjamsuhidayat & de Jong, 1997).
Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan,
mual, dan hilangnya nafsu makan, dan selain itu nyeri tekan lepas juga
sering dijumpai pada klien dengan apendisitis. Nyeri dapat dirasakan saat
defekasi atau pun saat berkemih Nyeri saat defekasi menunjukkan bahwa
ujung apendik berada di dekat rektum, sedangkan nyeri saat berkemih
menunjukkan bahwa letak ujung apendik dekat dengan kandung kemihh
atau ureter (Smeltzer & Bare, 2002).
Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat
menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga
peristaltis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan
berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat
terjadi peningkatan frekuensi kencing karena rangsangan dindingnya
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1997)
2.1.5 Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi apabila terjadi keterlambatan penanganan.
Faktor keterlambatan dapat terjadi dari pasien ataupun tenaga medis.
Faktor penderita dapat berasal dari pengetahuan dan biaya. Faktor tenaga
medis dapat berupa kesalahan dalam mendiagnosa, keterlambatan
mengangani masalah dan keterlambatan dalam merujuk ke rumah sakit
dan penangggulangan. Hal ini dapat memacu meningkatnya angka

Stikes Marendeng Majene


9

morbiditas dan mortalitas. Proporsi yang sering adalah terjadi pada anak
kecil dan orang tua.
2.1.5.1 Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba
massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-
mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung
pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi
oleh omentum
2.1.5.2 Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama
sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat
diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul
lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri
tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN).
Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat
menyebabkan peritonitis.
2.1.5.3 Peritontis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi
berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila
infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya
peritonitis umum. Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus
paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan
dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa
sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan
leukositosis. (Mansjoer, 2009).
2.1.6 Penatalaksanaan
2.1.6.1 Penatalaksanaan Medis
a. Pembedahan (konvensional atau laparaskopi) apabila diagnose
apendisitis telah ditegakan dan harus segera dilakukan untuk
mengurangi risiko perforasi.

Stikes Marendeng Majene


10

b. Berikan obat antibiotik dan cairan IV sampai tindakan pemebedahan


dilakukan.
c. Agen analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakan.
d. Operasi (apendiktomi), bila diagnosa telah ditegakan yang harus
dilakukan adalah operasi membuang apendiks (apendiktomi).
Penundaan apendiktomi dengan cara pemberian antibiotik dapat
mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses apendiks dilakukan
drainage. (Brunner & Suddarth, 2014).
2.2 Konsep apendiktomi
2.2.1 Defenisi apendiktomi
Appendiktomy adalah suatu intervensi bedah untuk melakukan
pengangkatan bagian tubuh yang mengalami masalah atau mempunyai
penyakit (Mutaqin & Sari, 2009).
Appendiktomy adalah pembedahan untuk mengangkat apendiks.
Operasi appendiktomy yaitu pembedahan untuk mengangkat apendiks
yang dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi
(Jitowiyono, 2010).
2.2.2 Tahap Operasi Appendiktomy
2.2.2.1 Pre operasi
a. Observasi
Klien dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda gejala
appendiksitis seringkali masih belum jelas. Observasi dilakukan dengan
meminta klien melakukan tirah baring dan dipuasakan. Pemeriksaan
abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah diulang secara periodik.
Foto abdomen dan toraks dilakukan untuk mencari kemungkinan
adanya penyulit lain. Diagnosa biasanya ditegakkan dengan lokalisasi
nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
b. Intubasi bila perlu
c. Antibiotik dengan spektrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara
intravena

Stikes Marendeng Majene


11

2.2.2.2 Intra Operasi


a. Appendiktomy
b. Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka
abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika
c. Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV, massa mungkin
mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka
waktu beberapa hari. Appendiktomy dilakukan bila abses dilakukan
operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.
2.2.2.3 Post Operasi
Observasi perlu dilakukan seperti tanda tanda vital untuk mengetahui
terjadinya perdarahan didalam, syok, hipertermia, atau gangguan
pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga
aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi
semi fowler. Memberikan minum mulai 15ml/jam selama 4-5 jam lalu
naikkan menjadi 30ml/jam keesokan harinya diberikan makanan saring,
lalu hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pasca operasi
pasien dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini yaitu dengan duduk
tegak ditempat tidur selam 2x30 menit. Hari kedua pasien dapat berdiri
dan duduk dan hari ketujuh jahitan dapat diangkat (Dermawan, 2010).
2.2.3 Teknik Appendiktomy
Menurut Mansjoer (2007) ada tiga cara yang secara teknik operatif
appendiksitis :
2.2.3.1 Insisi menurut Mc Burney (grid incision atau muscle splitting incision).
2.2.3.2 Sayatan dilakukan pada garis yang tegak lurus pada garis yang
menghubungkan spina iliaka superior anterior dengan umbilikus pada
batas sepertiga lateral (titik Mc Burney). Otot-otot dinding perut dibelah
secara tumpul menurut arah serabutnya. Berikut langkah-langkah dalam
teknik apendiktomy Mc Burney :
a. Pasien berbaring terlentang dalam anastesi umum atau regional.
Kemudian dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis pada daerah perut
kanan bawah.

Stikes Marendeng Majene


12

b. Dibuat sayatan menurut Mc Burney sepanjang kurang lebih 10 cm dan


otot-otot dinding perut dibelah secara tumpul menurut arah
serabutnya, sampai akhirnya tampak peritoneum.
c. Peritoneum disayat cukup lebar untuk eksplorasi.
d. Sekum berserta apendiks diluksasi keluar.
e. Mesoapendiks dibebaskan dan dipotong dari apendiks secara biasa.
f. Disiapkan tabac sac mengelilingi basis apendiks dengan sutra, basis
apendiks kemudian dijahit dengan catgut.
g. Dilakukan pemotongan apendiks apikal dari jahitan tersebut.
h. Puntung apendiks diolesi betadin.
i. Jahitan tabac sac disimpulkan dan putung dikuburkan dalam simpul
tersebut. Mesoapendiks diikat dengan sutra.
j. Dilakukan pemeriksaan terhadap rongga peritoneum dan alat-alat
didalamnya.
k. Sekum dikembalikan ke dalam abdomen.
l. Sebelum ditutup, peritoneum dijepit dengan minimal 4 klem dan
didekatkan untuk memudahkan penutupnya. Peritoneum ini dijahit
jelujur dengan dhromic cargut dan otot-otot dikembalikan.
m. Dinding perut ditutup/dijahit lapis demi lapis, fasia dengan sutera,
subkutis dengan catgut dan akhirnya kulit dengan sutera.
n. Luka operasi dibersihkan dan ditutup dengan kasa steril.
2.2.3.3 Insisi menurut Roux (muscle cutting incision).
Lokasi dan arah sayatan sama dengan Mc Burney, hanya sayatannya
langsung menembus otot dinding perut tanpa memperdulikan arah serabut
sampai tampak peritonium.
2.2.3.4 Insisi pararektal.
Teknik ini dipakai pada kasus-kasus appendik yang belum pasti dan
kalau perlu sayatan dapat diperpanjang dengan mudah tetapi sayatan ini
tidak secara langsung mengarah ke appendik atau sekum, kemungkinan
memotong saraf dan pembuluh darah lebih besar, dan untuk menutup luka
operasi diperlukan jahitan penunjang.

Stikes Marendeng Majene


13

2.2.4 Komplikasi Post Apendiktomy


Komplikasi post apendiktomy menurut Courtney (2010) adalah :
2.2.4.1 Infeksi
Infeksi tetap merupakan komplikasi yang paling sering terjadi
pascabedah appendiksitis. Meskipun infeksi dapat terjadi dibanyak tempat,
lokasi pembedahan adalah tempat terjadinya infeksi yang paling menonjol.
2.2.4.2 Obstruksi Usus
2.2.5 Perawatan Post Apendiktomy
Menurut Dermawan (2010), perawatan pasca operasi apendiktomy adalah :

2.2.5.1 Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya


perdarahan, syok, hipertermia, atau gangguan pernapasan.
2.2.5.2 Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan
lambung dapat dicegah.
2.2.5.3 Baringkan pasien dalam posisi fowler.
2.2.5.4 Berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30
ml/jam. Keesokan harinya diberikan makanan saring, dan hari berikutnya
diberikan makanan lunak.
2.2.5.5 jam sampai 8 jam setelah operasi Pergerakan fisik bisa dilakukan di atas
tempat tidur dengan menggerakkan tangan dan kaki yang bisa ditekuk dan
diluruskan, mengkontraksikan otot termasuk juga menggerakkan badan
lainnya, miring ke kiri atau ke kanan
2.2.5.6 Satu hari pascaoperasi pasien dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini
dengan duduk tegak di tempat tidur selama 2x30 menit. Pada hari kedua
pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar.
2.2.5.7 Hari kedua pasien dapat berdiri dan belajar bejalan disekitar tempat tidur.
2.2.5.8 Hari ketiga pasien dapat berjalan ke kamar mandi.
2.2.5.9 Hari ke tujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.
2.3 Konsep Mobilisasi Dini
2.3.1 Definisi mobilisasi dini
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas
dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sehat menuju kemandirian dan

Stikes Marendeng Majene


14

imobilisasi yang mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk


bergerak dengan bebas (Potter & Perry, 2012).
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas,
mudah, dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehat. Setiap orang butuh untuk bergerak. Kehilangan kemampuan untuk
bergerak menyebabkan ketergantungan dan ini membutuhkan tindakan
keperawatan. Mobilisasi diperlukan untuk meningkatkan kemandirian diri,
meningkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya
penyakit degeneratif, dan untuk aktualisasi diri,harga diri dan citra tubuh
(Mubarak dan Chayatin, 2010). Sedangkan,mobilitas fisik adalah
keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri dan terarah pada tubuh
atau satu ekstremitas atau lebih (Wilkinson,2012).
2.3.2 Jenis mobilisasi
Menurut Hidayat, (2009) jenis mobilisasi di bedakan berdasarkan
kemampuan gerakan yang dilakukan oleh seseorang yaitu:
2.3.2.1 Mobilisasi penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak
secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan
menjalankan peran sehari-hari. Mobilisasi penuh ini merupakan fungsi
saraf motorik dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh
seseorang.
2.3.2.2 Mobilisasi sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak
dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena di
pengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik pada area tubuh.
2.3.3 Tujuan mobilisasi dini
Mobilisasi dini bertujuan untuk mengurangi komplikasi pasca bedah,
terutama atelektasis dan pneunomia hipostasis,mempercepat terjadinya
buang air besar dan buang air kecil secara rasa nyeri pasca operasi.
Mobilisasi yang dilakukan untuk meningkatkan ventilasi, mencegah stastis
drah dengan meningkatkan kecepatan sirkulasi pada ekstremitas dan
kecepatan pemulihan pada luka abdomen (Suzanne C, 2010).

Stikes Marendeng Majene


15

2.3.4 Tahap mobilisasi dini klien post operasi


Mobilisasi pasca operasi yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca
pembedahan dimulai dari latihan ringan di atas tempat tidur (latihan
pernapasan, latihan batuk, dan menggerakkan tungkai) sampai dengan
pasien bisa turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan berjalan
keluar kamar (Maryunani, 2014).
Tahap-tahap mobilisasi pada pasien post operasi menurut (Cetrione,
2009) yaitu:
2.3.4.1 Pada saat awal 6 jam sampai 8 jam setelah operasi
Pergerakan fisik bisa dilakukan di atas tempat tidur dengan
menggerakkan tangan dan kaki yang bisa ditekuk dan diluruskan,
mengkontraksikan otot termasuk juga menggerakkan badan lainnya,
miring ke kiri atau ke kanan.
2.3.4.2 Pada 12 sampai 24 jam berikutnya atau bahkan lebih awal lagi Badan
sudah bisa diposisikan duduk, baik bersandar maupun tidak dan fase
selanjutnya duduk diatas tempat tidur dengan kaki yang dijatuhkan atau
ditempatkan di lantai sambil digerak-gerakkan.
2.3.4.3 Pada hari kedua pasca operasi Rata-rata untuk pasien yang dirawat di
kamar atau ruangan dan tidak ada hambatan fisik untuk berjalan,
semestinya memang sudah bisa berdiri dan berjalan di sekitar kamar atau
keluar kamar, misalnya ke toilet atau kamar mandi sendiri. Pasien harus
diusakan untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera mungkin, hal ini perlu
dilakukan sedini mungkin pada pasien pasca operasi untuk mengembalikan
fungsi pasien kembali normal.
2.4 Konsep Penyembuhan Luka
2.4.1 Definisi luka
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan
ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam dan tumpul, perubahan
suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan
(Syamsuhidayat, 2011). Sedangkan menurut Potter, Patricia A, 2006 luka
adalah rusaknya fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang
berasal dari internal maupun external dan mengenai organ tertentu. Dan

Stikes Marendeng Majene


16

luka juga dapat digambarkan sebagai gangguan dalam kontinuitas sel-sel,


kemudian diikuti dengan penyembuhan luka yang merupakan pemulihan
kontinuitas tersebut. Ketika terjadi luka, beragam efek dapat terjadi antara
lain : kehilangan segera atau sebagian fungsi organ, hemorhagia dan
pembekuan darah, kontaminasi bakteri serta kematian sel.
Untuk semua jenis luka, penanganan dan perawatan luka dengan
tekhnik asepsis yang cermat adalah faktor paling penting untuk
meminimalkan dan meningkatkan keberhasilan perawatan luka (Smeltzer,
suzanne. C, 2002)
2.4.2 Klasifikasi luka
Berbagai klasifikasi dapat tumpang tindih satu dengan yang lain.
Beberapa klasifikasi luka antara lain :
2.4.2.1 Berdasarkan penyebab luka
a. Luka insisi
Luka yang dibuat dngan potongan bersih menggunakan instrumen
tajam sebagai contoh, luka yang dibuat oleh ahli bedah dalam setiap
prosedur operasi. Luka bersih (luka yang dibuat secara aseptik)
biasanya ditutup dengan jahitan setelah semua pembuluh yang berdarah
diligasi dengan cermat.
b. Luka kontusi
Luka yang terjadi dengan dorongan tumpul dan ditandai cidera
berat bagian yang lunak, hemorhagi dan pembengkakan.
c. Luka laserasi
Luka dengan bagian tepi jaringan bergerigi, tidak teratur, seperti
luka yang dibuat oleh kaca atau goresan kawat.
d. Luka tusuk
Luka dengan bukaan kecil pada kulit – sebagai contoh, luka yang
dibuat oleh peluru atau tusukan pisau ( Smeltzer, Suzanne. C, 2002)
2.4.2.2 Berdasarkan tingkat kontaminasi
a. Luka bersih
Merupakan luka bedah tidak terinfeksi dimana tidak terdapat
inflamasi dari saluran pernapasan, pencernaan, genital atau saluran

Stikes Marendeng Majene


17

kemih yang tidak terinfeksi, tidak dimasuki. Luka bersih biasanya


dijahit tertutup, jika diperlukan, dengan sistem drainase tertutup
dipasangkan. Kemungkinan relatif dari infeksi luka adalah 1% sampai
5%.
b. Luka kontaminasi-bersih
Adalah luka bedah dimana saluran pernapasan, pencernaan, genital
atau perkemihan dimasuki dibawah kondisi yang terkontrol; tidak
terdapat kontaminasi yang tidak lazim. Kemungkinan relatif dari infeksi
luka adalah 3% sampai 11%.
c. Luka terkontaminasi
Mencakup luka terbuka, luka akibat kecelakaan, dan prosedur
bedah dengan pelanggaran dalam tehnik aseptik atau semburan banyak
dari saluran gastrointestinal, termasuk dalam kategori ini adalah insisi
dimana terdapat inflamasi akut, nonpurulen. Kemungkinan relatif dari
infeksi luka adalah 10% sampai 17%.
d. Luka kotor atau terinfeksi
Merupakan luka dimana organisme yang menyebabkan infeksi
pascaoperatif terdapat dalam lapang operatif sebelum pembedahan. Hal
ini mencakup luka traumatik yang sudah lama dengan jaringanyang
terkelupas tertahan dan luka melibatkan infeksi klinis yang sudah ada
atau visera yang mengalami perforasi. Kemungkinan relatif nfeksi luka
adalah lebih dari 27% (Smeltzer, suzanne. C, 2002).
2.4.3 Fisiologi penyembuhan luka
Beragam proses seluler yang saling tumpang tindih dan terus menerus
memberikan kontribusi terhadap pemulihan luka: regenerasi sel, proliferasi
sel, dan pembentukan kolagen. Respon jaringan terhadap cedera melewati
beberapa fase: inflamasi, proliferatif, dan maturasi.
2.4.3.1 Fase inflamasi
Respon vaskuler dan seluler terjadi ketika jaringan terpotong atau
mengalami cedera. Vasokonstriksi pembuluh terjadi dan bekuan
fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan.
Reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti oleh

Stikes Marendeng Majene


18

vasodilatasi venula. Mikrosirkulasi kehilangan kemampuan


vasokonstriksinya karena norepinefrin dirusak oleh enzim intraseluler.
Juga, histamin dilepaskan, yang meningkatkan permeabilitas kapiler.
Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah seperti
antibodi, plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air menembus
spasium vaskular selama 2-3 hari, menyebabkan edema, teraba hangat,
kemerahan dan nyeri. Netrofil adalah leukosit pertama yang bergerak ke
dalam jaringan yang rusak. Monosit yang berubah menjadi makrofag
menelan debris dan memindahkannya dari area tersebut. Antigen-antibodi
juga timbul. Sel-sel basal pada pinggir luka mengalami mitosis, dan
menghasilkan sel-sel anak yang bermigrasi.
Dengan aktivitas ini, enzim proteolitik disekresikan dan
menghancurkan bagian dasar bekuan darah. Celah antara dua sisi luka
secara progresif terisi, dan sisinya pada akhirnya saling bertemu dalam 24-
48 jam. Pada saat ini, migrasi sel ditingkatkan oleh aktivitas sumsum
tulang hiperplastik.
2.4.3.2 Fase proliferatif
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk sel-
sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggiran
luka, kuncup ini berkembang menjadi kapiler, yang merupakan sumber
nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru.
Kolagen adalah komponen utama dari jaringan ikat yang digantikan.
Fibroblas melakukan sintesis kolagen dan mukopolisakarida. Dalam
periode 2-4 minggu, rantai asam amino membentuk serat-serat dengan
panjang dan diameter yang meningkat. Serat-serat ini menjadi kumpulan
bundel dengan pola yang tersusun baik. Sintesis kolagen menyebabkan
kapiler untuk menurun jumlahnya. Setelah itu, sintesis kolagen menurun
dalam upaya untuk menyeimbangkan jumlah kolagen yanng menurun.
Sintesis dan lisis seperti ini mengakibatkan peningkatan kekuatan.
Setelah 2 minggu luka hanya memiliki 3% sampai 5% dari kekuatan
kulit aslinya. Sampai akhir bulan hanya 35% sampai 59% kekuatan luka
tercapai. Tidak akan lebih dari 70% sampai 80% kekuatan dicapai

Stikes Marendeng Majene


19

kembali. Banyak vitamin, terutama vitamin C, membantu dalam proses


metabolisme yang terlibat dalam penyembuhan luka.
2.4.3.3 Fase maturasi
Sekitar 3 minggu setelah cedera, fibroblas mulai meninggalkan luka.
Jaringan parut tampak besar, sampai fibrin kolagen menyusun ke dalam
posisi yang lebih padat. Hal ini, sejalan dengan dehidrasi, mengurangi
jaringan parut tetapi meningkatkan kekuatannya. Maturasi jaringan seperti
ini terus berlanjut dan mencapai kekuatan maksimum dalam 10 atau 12
minggu, tetapi tidak pernah mencapai kekuatan asalnya dari jaringan
sebelum luka.
Luka dikatakan sembuh apabila permukaannya dapat bersatu kembali
dan didapatkan kekuatan jaringan yang mencapai normal. Luka dapat
dikatakan sembuh dengan baik apabila luka kering dan tidak terdapat
tanda-tanda infeksi. Sedangkan luka dikatakan tidak sembuh apabila luka
masih basah dan ada tanda-tanda infeksi. (Tamher, Sayuti. 2008).
2.4.4 Komplikasi penyembuhan luka
Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi, perdarahan,
dehisensi, dan eviscerasi.
2.4.4.1 Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama
pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul
dalam 2-7 hari setelah pembedahan. Gejala infeksi adanya purulent,
peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak disekeliling luka,
peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih.
2.4.4.2 Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit
membeku pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh
benda asing (seperti drain). Hipovolemia mungkin tidak cepat ada tanda.
Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika mungkin harus sering
dilihat selama 48 jam pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah
itu. Jika perdarahan berlebihan terjadi, penambahan tekanan balutan luka

Stikes Marendeng Majene


20

steril mungkin diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi pembedahan


mungkin diperlukan.
2.4.4.3 Dehisensi dan eviserasi
Dehisensi dan eviserasi adalah komplikasi operasi yang paling serius.
Dehisensi adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviserasi
adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah faktor
meliputi kegemukan, kurang nutrisi, multiple trauma, gagal untuk
menyatu, batuk yang berlebihan, muntah dan dehidrasi, mempertinggi
resiko klien mengalami dehisensi luka. Dehisensi luka dapat terjadi 4-5
hari setelah operasi sebelum kolagen meluas di daerah luka. Ketika
dehisensi dan eviserasi terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan
steril yang lebar, kompres dengan normal saline. Klien disiapkan untuk
segera dilakukan perbaikan pada daerah luka.
2.4.4.4 Fistula
Fistula adalah suatu lintasan abnormal antara dua permukaan epitel
yang menghubungkan satu viksus dengan viksus lainnya atau
menghubungkan satu viksus dengan kulit. Terdapat banyak penyebab
terjadinya fistula. Pembentukan fistula dapat iatrogenik, akibat rusaknya
anastomosis setelah pembedahan atau kerusakan yang disebabkan oleh
posisi drain luka yang buruk.
2.4.5 Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka post
appendictomy
Lama hari rawat pasien post operasi apendisitis dirawat antara 5-7
hari. Menurut mansjoer, Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk
duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien
dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat
dan pasien diperbolehkan pulang. (Mansjoer, 2000). Proses mengangkat
jahitan pada luka post operasi bersih 5-7 hari atau sesuai dengan
penyembuhan luka yang terjadi. (Eny Kusnyati, 2006). Namun teknik
penutupan luka operasi saat ini telah mengalami perkembangan dimana
pada penutupan akhir dinding abdomen yaitu pada penutupan kulit dengan

Stikes Marendeng Majene


21

tekhnik subtikuler dan menggunakan benang yang dapat di absorbsi. Hal


ini tentu akan meningkatkan kenyamanan pasien pasca bedah.
Faktor-faktor yang dapat menghambat penyembuhan luka pasca
operasi ada 2 faktor yaitu faktor intrinsik : umur, penyakit penyerta, status
nutrisi, oksigenasi dan perfusi jaringan, serta merokok. Kemudian faktor
ekstrinsik : teknik pembedahan buruk, mobilisasi, pengobatan, manajemen
luka yang tidak tepat, psikososial dan infeksi. (Potter and Perry, 2006)
2.4.5.1 Usia
Usia merupakan salah satu faktor menentukan proses penyembuhan
luka. Penuaan dapat mengganggu semua tahap penyembuhan luka karena
terjadi perubahan vaskuler yang mengganggu ke daerah luka, penurunan
fungsi hati mengganggu sintesis faktor pembekuan, respon inflamasi
lambat, pembentukan
antibodi dan limfosit menurun, jaringan kolagen kurang lunak dan
jaringan parut kurang elastis (Potter & Perry, 2010). seorang yang
mengalami usia menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup yang
terakhir, pada masa ini akan mengalami kemunduran fisik, mental, dan
sosial, sampai tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi sehingga
bagi kebanyakan orang masa tua itu merupakan masa yang kurang
menyenangkan (Haspari, 2008).
Kulit utuh pada dewasa muda yang sehat merupakan suatu barier yang
baik terhadap trauma mekanis dan juga infeksi, begitupun yang berlaku
pada efisiensi sistem imun, sistem kardiovaskuler, dan sistem respirasi
yang memungkinkan penyembuhan luka terjadi lebih cepat. Seiring
dengan berjalannya usia perubahan yang terjadi dikulit yaitu frekuensi
penggantian sel epidermis, respon inflamasi terhadap cedera, persepsi
sensoris, proteksi mekanis, dan fungsi barier kulit. Beberapa faktor yang
mempengaruhi hal tersebut adalah naiknya frekusensi gangguan patologis
yang berhubungan dengan usia yang dapat memperlambat penyembuhan
luka melalui berbagai mekanisme seperti status nutrisi yang buruk,
defisiensi vitamin dan mineral, anemia, adanya gangguan pernafasan yang
menyebabkan penurunan suplai oksigen sehingga buruknya suplai darah

Stikes Marendeng Majene


22

dan hipoksia disekitar luka, gangguan kardiovaskuler seperti


arteriosklerosis, diabetes, gagal jantung kongestif, selain itu, adanya
arthritis rheumatoid dan uremia (Morison, 2004).
2.4.5.2 Nutrisi
Penyembuhan luka secara normal memerlukan nutrisi yang tepat.
Pada dasarnya nutrien yang berguna ialah protein, karbohidrat, lemak,
vitamin, dan mineral.
a. Protein. Deplesi protein dapat mempengaruhi penyembuhan luka.
Terjadi peningkatan kebutuhan akan protein saat terjadinya luka.
Peningkatan kebutuhan tersebut diperlukan untuk proses inflamasi,
imun, dan perkembangan jaringan granulasi. Protein utama yang
disintesis selama fase penyembuhan luka adalah kolagen. Kekuatan
kolagen menentukan kekuatan kulit luka seusai sembuh. Kekurangan
intake protein prabedah, secara signifikan menunda penyembuhan
luka pascabedah.
b. Karbohidrat. Selama fase hipermetabolik, kebutuhan akan karbohidrat
meningkat. Segala aktifitas seluler dipengaruhi oleh ATP yang
diperoleh dari glukosa (karbohidrat), sehingga penyediaan energi
untuk respons inflamasi dapat berlangsung. Kekurangan karbohidrat
dalam tubuh menyebabkan penghancuran protein untuk keperluan
aktifitas seluler. Dengan kata lain, sedikitnya karbohidrat berpeluang
membuat semakin sedikitnya protein.
c. Lemak. Lemak memiliki peran penting dalam struktur dan fungsi
membran sel. Asam lemak esensial tidak bias disintesis oleh tubuh,
sehingga harus didapatkan dari diet keseharian. Peran asam lemak
esensial untuk penyembuhan luka masih belum begitu dimengerti,
tetapi diketahui bahwa lemak berperan untuk sintesis sel
baru.Kekurangan lemak tubuh dapat menunda penyembuhan luka.
Omega-3 polyunsaturated fatty acids (PUFAs) diketahui lebih
bermanfaat ketimbang omega-6 PUFAs. Omega-3s merupakan anti-
inflamasi yang berguna untuk penyembuhan luka, tetapi

Stikes Marendeng Majene


23

pemakaiannya dapat menghambat pembekuan darah, sehingga dinilai


merugikan.
d. Vitamin. Vitamin B kompleks merupakan kofaktor sejumlah fungsi
metabolik termasuk penyembuhan luka. Selain vitamin B, yang
berperan dalam penyembuhan luka ialah vitamin K. Vitamin K
merupakan kofaktor enzim karboksilase yang mengubah residu
protein berupa asam glutamat (glu) menjadi gamma-karboksiglutamat
(gla). Gla disebut juga gla-protein. Gla protein dapat mengikat ion
kalsium, yang mana kinerja ini merupakan langkah yang esensial
untuk pembekuan darah. Ion kalsium berguna untuk mengaktifkan
faktor pembekuan. Kekurangan vitamin K menyebabkan faktor
pembekuan tidak aktif (darah tidak dapat menggumpal), sehingga
menyebabkan perdarahan pada luka (operasi).
e. Mineral. Mineral yang diketahui bermanfaat untuk penyembuhan luka
ialah besi dan seng. Besi berfungsi sebagai kofaktor pada sintesis
kolagen, sehingga defisiensi besi membuat penyembuhan luka
tertunda. Seng juga berperan dalam penyembuhan luka. Pembahasan
mengenai seng ada pada sub-bab yang lain. Penyembuhan luka secara
normal memerlukan nutrisi yang tepat, karena proses fisiologi
penyembuhan luka bergantung pada tersedianya protein, vitamin
(terutama vitamin A dan C) dan mineral. Kolagen adalah protein yang
terbentuk dari asam amino yang diperoleh fibroblas dari protein yang
dimakan.
f. Vitamin C dibutuhkan untuk mensintesis kolagen. Vitamin A dapat
mengurangi efek negatif steroid pada penyembuhan luka. Elemen
renik zink diperlukan untuk pembentukan epitel, sintesis kolagen
(zink) dan menyatukan serat-serat kolagen. (Potter, 2005 : 1859).
Proses zat gizi dalam penyembuhan luka : protein berfungsi sebagai
pertumbuhan dan pemeliharaan, pembentukan ikatan-ikatan esensial
tubuh, mengatur keseimbangan air, pembentukan antibodi,
mengangkat zat-zat gizi dan sumber energi. Karbohidrat berfungsi
sebagai penyedia energi bagi tubuh. Vitamin A berfungsi sebagai

Stikes Marendeng Majene


24

kekebalan pertumbuhan dan vitamin C berfungsi sebagai sistem


kolagen, mencegah infeksi. Dan air (mineral) berfungsi sebagai bagian
penting dari struktur sel dan jaringan. Zat-zat makanan tersebut dapat
mempercepat pembentukan jaringan baru dalam proses penyembuhan
luka (Potter, 2005 : 1859).
2.4.5.3 Sirkulasi (hipovolemia) dan oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka.
Adanya sejumlah besar lemak subktan dan jaringan lemak (yang memiliki
sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan
luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah
infeksi dan lama untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang
dewasa dan pada orang yang endrita gangguan pembuluh darah perifer,
hipertensi atau diabetes mellitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang
yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok.
2.4.5.4 Obesitas
Sejumlah kondisi fisik yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka.
Misalnya adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang
memiliki sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk
penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih
mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Jaringan lemak kekurangan
persediaan darah yang adekuat untuk menahan infeksi bakteri dan
mengirimkan nutrisi dan elemen-elemen selular untuk penyembuhan.
Apabila jaringan yang rusak tersebut tidak segera mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan maka proses penyembuhan luka juga akan terhambat
(Gitarja dan Hardian, 2011).
2.4.5.5 Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai
darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini
dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi
akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu
sendiri.

Stikes Marendeng Majene


25

2.4.5.6 Benda asing


Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan
terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini
timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan leukosit (sel darah merah),
yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah
(“pus”).
2.4.5.7 Penyakit kronis
Pada pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler, diabetes
mellitus, penyakit paru obstruksi menahun dan insufisiensi ginjal akan
berpengaruh pada proses penyembuhan luka. Hal ini terkait dengan
pemakaian energi kalori untuk penyembuhan primer.
2.4.5.8 Merokok
Pasien dengan riwayat rokok sering mengalami gangguan vaskuler,
terutama terjadi arterosklerosis pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi
pada suplai darah ke daerah luka. Merokok akan mengakibatkan
oksigenasi jaringan yang buruk pada jaringan normal. Pada jaringan yang
mengalami perlukaan, misalnya jaringan yang mengalami sayatan operasi,
kebutuhan oksigen justru menjadi lebih tinggi daripada kebutuhan normal.
Karena itu sel-sel jaringan pada luka operasi orang yang merokok akan
“tersengal-sengal‟ relatif lebih berat karena kekurangan oksigen yang
diharapkan justru mendapat sediaan kadar oksigen yang rendah di dalam
aliran darah. Oleh karena itu, risiko kematian sel-sel kulit dan/atau
jaringan bawah kulit menjadi lebih serius. Adanya jaringan yang non-vital
akan memudahkan tumbuhnya infeksi kuman kulit, dan kedua kondisi
tersebut akan sangat mengancam hasil akhir penyembuhan luka operasi.
Kulit perokok yang biasanya lebih kering dibandingkan kulit normal akan
lebih memperburuk penyembuhan. Kulit yang kering relatif lebih mudah
terpecah-pecah, sehingga masa penyembuhan luka menjadi sangat
memanjang (Fawzy Ahmad, 2012).

Stikes Marendeng Majene


26

2.4.5.9 Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan steroid dapat menyamarkan adanya infeksi
dengan mengganggu respon inflamasi normal dan penggunaan
antikoagulan dapat menyebabkan perdarahan pada luka. Antibiotik, efektif
diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab
kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan
tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskuler.
2.4.5.10 Mobilisasi
Perubahan dalam tingkat mobilisasi fisik dapat mengakibatkan
keterbatasan gerak, dalam bentuk tirah baring, pembatasan gerak fisik
selama penggunaan alat bantu eksternal, pembatasan gerakan volunter
dan kehilangan fungsi motorik (Potter, Patricia. A. 2006). Dengan
mobilisasi dini masa pemulihan untuk mencapai level kondisi seperti pra
pembedahan dapat dipersingkat. Hal ini tentu akan mengurangi waktu
rawat inap di rumah sakit, menekan biaya perawatan dan mengurangi
stres psikis (A. Majid, M. Judha, U. Istianah. 2011).

Stikes Marendeng Majene


27

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka konsep


Variabel independen dalam penelitian artinya variabel yang bebas
maksudnya suatu variabel yang mempengaruhi sedangkan variabel
dependen dalam penelitian artinya variabel yang terikat maksudnya suatu
variabel dalam penelitian variabel yang di pengaruhi (Nursalam,2015) lebih
jelasnya untuk variabel independen yaitu mobilisasi dini sedangkan variabel
dependen proses penyembuhan luka pada apendistis dan dapat dilihat pada
bagan dibawah ini.

USIA

OBAT-OBATAN

SIRKULASI DAN
OKSIGENASI
PROSES
OBESITAS DAN PENYEMBUHA
ISKEMI
N
LUKA OPERASI
BENDA ASING
APENDISITIS
PENYAKIT KRONIS

MEROKOK

MOBILISASI DINI

: Variabel di teliti
: Variebel di teliti
: varieabel tidak diteliti
3.2. Hipotesis
Ada Pengaruh antara mobilisasi dini post op Apendisitis terhadap
proses penyembuhan luka operasi.

Stikes Marendeng Majene


28

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian


Desain penelitian ini adalah pre experimental dengan rancangan
penelitian One Group Pretest Posttest. Rancangan penelitian ini bertujuan
untuk membandingkan keadaan sebelum dan sesudah peneliti memberikan
perlakuan. Dalam rancangan ini tidak terdapat kelompok pembanding
(control) tetapi dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan
peneliti dapat menguji perubahan (Notoatmodjo, 2010). Bentuk
rancangannya adalah sebagai berikut Group
Pre-Test Variabel terikat Post Test
O1 X O2
Keterangan :
X = Mobilisasi dini
O1 = Keadaan Luka Sebelum Melakukan Mobilisasi Dini
O2 = Keadaaan Luka Sesudah Melakukan Mobilisasi Dini
4.2 Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan di rumah sakit umum majene tahun
2019. Penelitian ini dilakukan pada Bulan September sampai Oktober
2019 di rumah sakit umum majene.
4.3 Populasi Dan Sampel
4.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah yaitu seluruh post op apendisitis di
rumah sakit umum majene pada tangal 12 september – 10 oktober 2019.
4.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah klien post operasi apendektomi
pada tanggal 12 september – 13 oktober 2019 di RSUD Majene sebanyak
16 sampel.
4.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan teknik
sampling consecutive sampling. Consecutive sampling merupakan teknik

Stikes Marendeng Majene


29

dengan menetapkan sampling sampai kurun waktu tertentu, sehingga


jumlah klien yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro dan Ismail dalam
Nursalam, 2008). Jenis sampling ini merupakan jenis non-probability
sampling yang terbaik dan merupakan cara yang mudah (Nursalam, 2008).
4.3.4 Kriteria Subjek Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah klien post operasi apendektomi.
Klien yang dijadikan sampel adalah klien yang memenuhi kriteria berikut.
4.3.4.1 Kriteria Inklusi
a. Pasien post op apendisitis 1-3 hari
b. Klien bersedia menjadi responden
4.3.4.2 Kriteria Eksklusi
a. Pasien Apendistis yang ada komplikasi
b. Pasien yang tidak mau menjadi responden

Stikes Marendeng Majene


30

4.4 Defenisi operasional dan kriteria objektik

ALAT
DEPENISI UKUR SKALA
VARIABEL CARAUKUR HASIL UKUR
OPRASIONAL

Mobilisasi Suatu gerakan - - - -


dini yang di lakukan
lebih awal secara
bertahap pada
pasien post
operasi
apendisitis dalam
waktu kurang
dari 6-8 jam
setelah sadar dari
anestesi dengan
miring kanan
miring dan kiri
,berlanjut secara
bertahap sampai
pasien dapat
berjalan
Proses Proses Cara ukur : lembar diukur dari jumlah Numerik
Penyembuha penyembuhan dengan observasi hasil observasi
n luka luka operasi mengalakukan melalu lembar
adalah saat yang observasi observasi dengan
padaa luka
diharapkan untuk nilai jika
penyatuan Ya :1
kembali jaringan Tidak :0
dan kesembuhan 1. Kategori Baik,
jaringan setelah apabila memiliki
dilakukan jumlah jawaban
pembedahan Ya > 5
dengan tujuan 2. Kategori kurang
waktu baik, apabila
kesembuhan memiliki jumlah
menjadi cepat jawaban Ya< 5
dalam waktu
3-4 hari dalam
hitungan 24 jam
penuh .

Stikes Marendeng Majene


31

4.5 Alur Penelitian

Izin Penelitian Dari Kampus

Izin Dari kesbang

Rumah sakit umu


majene

Ruangan

Menentukan sampel

Pengumpulan data

Pengelolaan data

Analisis

Identifikasi hubungan

Penutup

 Kesimpulan
 Saran

4.6 Teknik Pengumpulan Data


4.7.1 Data primer
Data primer di peroleh langsung di lokasi penelitian mengenai
pengaruh mobilisasi dini pada post op apendisitis terhadap proses
penyembuhan luka operasi yang di peroleh langsung melalui angket
responden dengan menggunakan koesioner dan lembar observasi.

Stikes Marendeng Majene


32

4.7 Instrument Penelitian


Intsrument yang dipakai untuk mengumpulkan data dalam penelitian
ini adalah : lembar petunjuk pelaksanaan mobilisasi dini yang diambil dari
Marlitasari (2010), dan Lembar observasi penyembuhan luka pasca
operasi apendiktomi yang diambil dari suryono (2011) dalam buku
kumpulan instrumen penelitian kesehatan dan dimodifikasi dengan
menambahkan beberapa kriteria penyembuhan luka menurut Jong &
Sjamsuhidajat (2004). Untuk mengetahui pasien post op apendisitis di
RSUD Majene.
4.8 Teknis Analisis Data
4.9.1 Editing, yaitu upaya untuk memeriksa daftar pertanyaan dan memeriksa
kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan (Purwanto &
Sulistyastuti, 2007). Dalam penelitian ini dilakukan pemeriksaan terhadap
kelengkapan jawaban, keterbatasan tulisan, kejelasan makna jawaban,
konsistensi jawaban, relevansi jawaban, dan konsistensi satuan data.
4.9.2 Coding, yaitu kegiatan pemberian kode angka terhadap data yang terdiri
atas beberapa ketegori agar mudah di analisis oleh peneliti (Purwanto &
Sulistyastuti, 2007).
4.9.3 Entry data, yaitu kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan
kedalam database komputer. Program yang digunakan peneliti dalam
mengolah data adalah dengan menggunakan software statistik.
4.9.4 Analyzing, yaitu kegiatan menganalisis data yang telah diproses dalam
program statistik. Analisis harus dilakukan terhadap data penelitian dan
akan menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan
yang hendak dianalisis (Hidayat, 2007).
4.9 Etika Penelitian
Dalam sebuah penelitian, peneliti harus memperhatikan beberapa etika
penelitian, yaitu:
4.6.1 Dengan menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human
dignity)
Peneliti mempertimbangkan hak subjek dalam mendapatkan
informasi yang berkaitan dengan berjalannya penelitian. Peneliti

Stikes Marendeng Majene


33

mempersiapkan formulir informed concent dalam menghormati harkat dan


martabat subjek dalam penelitian.
4.6.2 Menjaga privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (respect for privacy
and confidentiality)
Peneliti memperhatikan kerahasiaan data subjek dalam penelitian,
karena tidak semua orang menginginkan informasinya diketahui oleh
orang lain. Dalam pelaksanaan, peneliti tidak menampilkan informasi
mengenai identitas baik nama maupun alamat dalam kuesioner serta alat
ukur apapun dalam menjaga anonimitas dan kerahasiaan identita
subjek.
4.6.3 Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness)
Prinsip keadilan dan keterbukaan dalam penelitian. Prinsip
keterbukaan mencakup kejelasan prosedur penelitian. Prinsip keadilan
menekankan sejauh mana peneliti membagikan keuntungan dan beban
yang secara merata kepada semua subjek yang bersedia dalam penelitian
ini.

Stikes Marendeng Majene


34

BAB V

HASIL PENELITIA DAN PENBAHASAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai hasil penelitian yang telah
dilakukan selama 1 Bulan mulai dari tanggal 12 September sampai dengan 13
Oktober yang bertempat di Rumah Sakit Umum Majene yang berjudul penelitian
“Pengaruh mobilisasi dini post op apendisitis terhadap proses penyembuhan luka
operasi di rumah sakit umum majene tahun 2019”.
5.1 Hasil penelitian
5.1.1 Data demografi
Data demografi responden akan diuraikan sebagai berikut :
5.1.1.1 Distribusi responden berdasarkan umur

Tabel 5.1
Distribusi responden berdasarkan umur di Rumah Sakit Umum Majene
tahun 2019

Umur
Umur (n) Persentasi %
Masa Remaja Awal 12-16 Tahun 3 18,8
Masa Remaja Akhir 17-25 Tahun 10 62,5
Masa Dewasa Awal 26-35 Tahun 3 18,8
Total 16 100,0
Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 16 responden umur
yang terbanyak dengan jumlah 10 orang ( 62,5 %) adalah 17-25 tahun,
sedangkan umur yang jumlahnya sedikit yaitu 3 orang ( 18,8%) adalah
responden dengan berumur 12-16 tahun dan jumlahnya sedikit yaitu 3 orang
( 18,8%) adalah responden 26-35 tahun.

Stikes Marendeng Majene


35

5.1.1.2 Distribusi responden berdasarkan Status Pendidikan

Tabel 5.2
Distribusi responden berdasarkan status pendidikan.

Status Pendidikan
Status pendidkan (n) Persentasi %
Mahasiswa 4 25,0
SMA 10 62,5
SMP 2 12,5
Total 16 100,0
Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 16 responden,
responden dengan Pendidikan SMA yang tertinggi yaitu 10 responden atau
(62,5%) dan yang terendah responden dengan pendidikan SMP sebanyak 2
orang atau (12,5%).
5.1.1.3 Distribusi responden berdasarkan Jenis kelamin
Tabel 5.3
Distribusi responden berdasarkan status pendidikan.
Jenis Kelamin
Jenis Kelamin (n) Persentasi %
Laki-Laki 6 37,5
Perempuan 10 62,5
Total 16 100,0

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 16 responden


jumlah jenis kelamin tertinggi yaitu perempuan sebanyak 10 orang (62,5 %)
dan laki-laki sebanyak 6 orang (37,5%).
5.1.2 Analisi Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mencari proses penyembuhan
luka sebelum dan sesudah di lakukan mobilisasi dini.
5.1.2.1 Distribusi luka sebelum dilakukan mobilisasi dini.
Tabel 5.4
Distribusi responden sebelum dilakukan mobilisasi dini Dirumah Sakit
Umum Daerah Majene tahun 2019

Stikes Marendeng Majene


36

Pre Test
Pre Test Frequency Percent
Baik 0 0%
Kurang 16 100,0
Total 16 100,0

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa responden yang memiliki


luka yang baru yaitu 16 orang atau (100%) .
5.1.2.2 Distribusi Luka setelah dilakukan mobilisasi dini
Tabel 5.4
Distribusi responden setelah dilakukan mobilisasi dini Dirumah Sakit Umum
Daerah Majene tahun 2019

Post Test
Post Test Frequency Percent
Baik 14 87,5
Kurang 2 12,5
Total 16 100,0

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa setelah diberikan


mobilisasi dini pada pasien post op apendisitis tingkat penyembuhan luka
berubah. Data yang didapat pada luka yaitu responden dengan tingkat luka
yang baik dengan jumlah 14 orang (87,5 %), sedangkan jumlah responden
yang yang luka masih kurang baik adalah 2 orang (12,5%).
5.1.3 Analisis Bivariat
Dalam bagian ini akan dibahas mengenai Pengaruh mobilisasi dini
post op apendisitis terhadap proses penyembuhan luka operasi di rumah
sakit umum majene tahun 2019.
Tabel 5.5
Pengaruh mobilisasi dini post op apendisitis terhadap proses penyembuhan
luka operasi di rumah sakit umum majene tahun 2019.
Pre Test Post Test
Pre Test frequency Percent Post Test Frequency Percent
Baik - - Baik 14 87,5
Kurang 16 100,0 Kurang 2 12,5
Total 16 100,0 Total 16 100,0

Stikes Marendeng Majene


37

Berdasarkan diagram diatas menunjukkan nilai rata-rata sebelum dan


sesudah diberikan Mobilisasi dini. Dimana sebelum dilakukan Mobilisasi
dini adalah 16 atau (100%) luka baru belum ada tanda inflamasi setelah
diberikan mobilisasi dini didapatkan proses penyembuhanluka dengan baik
sebanyak 14 (87,5%).
Hasil penelitian data dilakuka uji normalitas terlebih dahulu dan
didapatkan hasil bahwa data tersebut berdistribusi secara tidak normal.
Kemudian data diatas dianalisis menggunakan Uji wilcoxon dengan
memperoleh nilai P-Value = 0,000 (< 0,05) yang berarti ada Pengaruh
mobilisasi dini post op apendisitis terhadap proses penyembuhan luka
operasi di rumah sakit umum majene tahun 2019.
5.2 Penbahasan
5.2.1 Karakteristik Responden
Menurut Santacroce (dalam Muttaqin dan Sari, 2013) mengatakan
bahwa perbandingan kejadian apendisitis adalah 1,4 lebih banyak pria
daripada wanita. insiden apendisitis umumnya sebanding antara laki-laki
dan perempuan (Sjamsuhidajat, 2006). Hasil penelitian yang telah
dilakukan di rumah sakit umum majene berkaitan dengan klien yang
mengalami apendisitis dan menjalani prosedur apendektomi didapatkan
hasil yang berkaitan dengan data karakteristik responden khususnya jenis
kelamin bahwa jenis kelamin responden mayoritas adalah perempuan
dengan total sebanyak 10 orang (62,5 %). Hasil dari penelitian tersebut
menunjukkan bahwa kejadian apendisitis tidak selalu didominasi oleh
jenis kelamin laki-laki, namun dapat pula didominasi oleh jenis kelamin
perempuan, bahkan insiden apendisitis dapat pula sebanding antara
lakilaki dan perempuan. Data tersebut menunjukkan bahwa kejadian
apendisitis yang dilakukan prosedur apendektomi lebih didominasi oleh
perempuan. Hal tersebut dapat disebabkan karena jumlah responden
penelitian hanya16 orang, sehingga jumlah responden penelitian tersebut
tidak dapat menjadi pedoman tentang mayoritas jenis kelamin yang
mengalami apendisitis. Apabila dikaitkan dengan nyeri yang dialami klien

Stikes Marendeng Majene


38

post apendektomi, maka intepretasi proses penyembuhan tersebut tidak


dapat dapat dipengaruhi oleh jenis kelamin.
Apendisitis terjadi pada setiap orang dengan berbagai variasi umur.
Insiden tertingginya terdapat pada laki-laki usia 10-14 tahun dan wanita
yang berusia 15-19 tahun. Apendisitis banyak terjadi pada usia ±25 tahun
(Eylin, 2009). Menurut Mansjoer (2000) kejadian apendisitis dapat terjadi
pada semua umur, namun lebih sering menyerang usia 10-30 tahun. Hal
tersebut juga dipengaruhi dengan faktor pencetus masing-masing.
Kejadian apendisitis juga dapat ditemukan pada semua umur, namun
kejadian apendisitis pada anak di bawah satu tahun sangat jarang
dilaporkan. Insiden tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu
menurun (Sjamsuhidajat, 1997).
Insiden apendisitis yang disebutkan tersebut merupakan gambaran
dari kejadian apendisitis yang pada umumnya terjadi. Berdasarkan data
yang didapat dari Rumah sakit umum majenen, kejadian apendisitis di
Rumah Sakit Umum Majene bervariasi dari berbagai umur, dari umur 9
tahun hingga 80 tahun, namun rata-rata usia yang terbanyak adalah ±35
tahun. Hasil penelitian yang dilakukan pada November-oktober 2019
menunjukkan bahwa rata-rata usia responden yang mengalami apendisitis
dan dilakukan prosedur apendektomi ±25 tahun. Penatalaksanaan
apendisitis tersebut salah satunya adalah melakukan prosedur
apendektomi. Tindakan apendektomi merupakan peristiwa kompleks
sebagai ancaman potensial atau aktual pada integritas seseorang baik
biopsikososial spiritual yang dapat menimbulkan proses penyembuhan
luka salah satu faktor yang menpengaruhi proses penyembuhan luka
adalah usia(Smeltzer & Bare, 2002).
penyembuhan luka. Penuaan dapat mengganggu semua tahap
penyembuhan luka karena terjadi perubahan vaskuler yang mengganggu
ke daerah luka, penurunan fungsi hati mengganggu sintesis faktor
pembekuan, respon inflamasi lambat, pembentukan
antibodi dan limfosit menurun, jaringan kolagen kurang lunak dan
jaringan parut kurang elastis (Potter & Perry, 2010). seorang yang

Stikes Marendeng Majene


39

mengalami usia menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup yang
terakhir, pada masa ini akan mengalami kemunduran fisik, mental, dan
sosial, sampai tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi sehingga
bagi kebanyakan orang masa tua itu merupakan masa yang kurang
menyenangkan (Haspari, 2008).
Kulit utuh pada dewasa muda yang sehat merupakan suatu barier
yang baik terhadap trauma mekanis dan juga infeksi, begitupun yang
berlaku pada efisiensi sistem imun, sistem kardiovaskuler, dan sistem
respirasi yang memungkinkan penyembuhan luka terjadi lebih cepat.
Seiring dengan berjalannya usia perubahan yang terjadi dikulit yaitu
frekuensi penggantian sel epidermis, respon inflamasi terhadap cedera,
persepsi sensoris, proteksi mekanis, dan fungsi barier kulit. Beberapa
faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah naiknya frekusensi
gangguan patologis yang berhubungan dengan usia yang dapat
memperlambat penyembuhan luka melalui berbagai mekanisme seperti
status nutrisi yang buruk, defisiensi vitamin dan mineral, anemia, adanya
gangguan pernafasan yang menyebabkan penurunan suplai oksigen
sehingga buruknya suplai darah dan hipoksia disekitar luka, gangguan
kardiovaskuler seperti arteriosklerosis, diabetes, gagal jantung kongestif,
selain itu, adanya arthritis rheumatoid dan uremia (Morison, 2004).
5.2.2 Keadaan luka sebelum dilakukan mobilisasi dini
tabel 5.4 menunjukkan bahwa responden yang memiliki luka baru
sebelum dilakukan mobilisasi dini yaitu 16 orang atau (100%) luka baru.
Luka baru adalah kondisi rusaknya kontinuitas jaringan tubuh yang ada
pada kulit. Secara alami , tubuh akan menperoses luka sampa timbul
jaringan jaringan baru di area kulit yang terbuka akibat luka tersebut.
Penyembuhan luka dimulai sejak terjadinya cedera pada tubuh
,kulit yang utuh merupakan garis depan perlawanan terhadap masunya
organisme. Luka memiliki tepi yang berlawanan , misalnya luka operasi
sembuh dengan cepat dengan intensitas pertama dan primer.
5.2.3 Keadaan luka sesudah dilakukan mobilisasi dini

Stikes Marendeng Majene


40

Diagram 5.1. menunjukkan nilai rata-rata sebelum dan sesudah


diberikan Mobilisasi dini. Diamana nilai rata-rata sebelum dilakukan
mobilisasi dini adalah 28 setelah diberikan mobilisasi dini nilai rata-rata
meningkat menjadi 90,9.
Akan tetapi jika proses penyembuhan luka dapat dibantu dengan
mobilisasi dini, maka akan dihasilkan proses penyembuhan yang lebih
cepat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mobilisasi dini adalah suatu
upaya mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara
membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis
(Hamilton, 2002).
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Reni
Heryani dkk (2016) yang menyatakan bahwa sebagian besar yang
melakukan mobilisasi dini dapat menercepat penyembuhan luka .
5.2.4 Pengaruh mobilisasi dini terhadap proses penyembuhan luka
Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan nilai rata-rata sebelum
dan sesudah diberikan Mobilisasi dini. Diamana nilai rata-rata sebelum
dilakukan pendidikan kesehatan adalah 28 setelah diberikan pendidikan
kesehatan nilai rata-rata meningkat menjadi 90,9.
Hasil penelitian data dilakuka uji normalitas terlebih dahulu dan
didapatkan hasil bahwa data tersebut berdistribusi secara tidak normal.
Kemudian data diatas dianalisis menggunakan Uji wilcoxon dengan
memperoleh nilai P-Value = 0,000 (< 0,05) yang berarti ada Pengaruh
mobilisasi dini post op apendisitis terhadap proses penyembuhan luka
operasi di rumah sakit umum majene tahun 2019.
Berdasarkan hasil observasi didapatkan dua responden yang
jaringan luka operasi apendisitis tidak menyatu dengan baik, ini
disebabkan karena kurangnya mobilisasi dini terhadap klien.
Setiap orang butuh untuk bergerak. Kehilangan kemampuan untuk
bergerak menyebabkan ketergantungan dan ini membutuhkan tindakan
keperawatan.Sedangkan,mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam
pergerakan fisik secara mandiri dan terarah pada tubuh atau satu
ekstremitas atau lebih (Wilkinson,2012).

Stikes Marendeng Majene


41

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan


Marliza (2010) di RSU Raden Mattaher Jambi tentang hubungan
mobilisasi terhadap penyembuhan luka post operasi yang berdasarkan
hasil uji statistik didapatkan p-value= 0,010 yang berarti terdapat
hubungan yang bermakna antara mobilisasi dini dengan penyembuhan
luka.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Sulistiyawati (2012) di RSUD Arifin Achmad Pekan Baru tentang
efektifitas mobilisasi dini terhadap penyembuhan luka post operasi
apendisitis yang berdasarkan uji statistik mann-whitney didapatkan nilai
p=0,028 berarti ada hubungan signifikan proses penyembuhan luka dengan
mobilisasi dini.
Hal yang sama juga pernah diteliti oleh inayanti (2010) dengan
judul penenlitian ini , pengaruh mobilisasi dini terhadap waktu
kesembuhan luka post operasi, diperoleh hasil penelitian ada pengaruh
mobilisasi dini terhadap waktu penyembuhan luka dengan p Value sebesar
0,009.
Padas saat melakukan obvservasi di rumah sakit umum majene
kebanyakan pasien di berikan pendidikan kesehatan oleh perawat untuk
memotivasi pasien untuk melakukan mobilisasi dini . pada kenyataan saat
peneliti melakukan pengamatan didapatkan bahwa pasien yang telah
melakukan mobilisasi dini mungkin akan tetapi tidak teratur namun
dengan lama hari rawat yang panjang memiliki rasa takut dan kwatir
terhadap luka operasi akan terbuka, selain itu alasan nyeri sehingga tidak
mau melakukan mobilisasi dini secara aktif, mau melakukan mobilisasi
dini jika ada perawat dan dokter yang mendampingi.

Stikes Marendeng Majene


42

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasaan dalam hubungan mobilisasi
dini post apendistis dengan proses penyembuhan luka maka peneliti
menyimpulkan bahwa Hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Majene
Maka peneliti menyimpulkan
6.1.1 Mobilisasi dini merupakan suatu tindakan rehabilitative (pemulihan) yang
dilakukan setelah pasien sadar dari pengaruh anestesi dan sesudah operasi.
Sebanyak 16 pasien melakukan post op apendisitis di Rumah sakit umum daera
majene, 16 di antaranya melakukan mobilisasi dini penyembuhan lukanya juga
baik.
6.1.2 Ada 4 fase penyembuhan luka, inflamasi, prolifeasi, maturasi Perawatan pada
pasien post op apendisiti meliputi perawatan luka insisi, diet, mobilisasi dini,
aspek kontrol ulang, Perawatan pertama selesai operasi adalah pembalutan luka
dengan baik, sebelum penderita dipindahkan dari kamar operasi.
6.1.3 Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat pemulihan
pasca bedah dan dapat mencegah komplikasi pasca bedah. Banyak keuntungan
bisa diraih dari latihan ditempat tidur dan berjalan pada periode dini pasca bedah.
Mobilisasi akan sangat berguna bagi semua sistem tubuh, terutama fungsi usus,
kandung kemih, sirkulasi dan paruparu. Hal tersebut juga membantu mencegah
pembentukan bekuan darah (trombosis) pada pembuluh darah tungkai dan
membantu kemajuan pasien dari ketergantungan peran sakit menjadi peran sehat
dan tidak tergantung namun sebagian pasien enggan untuk melakukan mobilisasi
dini setelah beberapa jam selsai operasi Latihan mobilisasi bermanfaat untuk
mempercepat kesembuhan luka, mencegah terjadinya trombosis dan
tromboemboli, sirkulasi darah normal dan mempercepat pemulihan kekuatan
pasien. Pada pasien diharapkan tidak perlu khawatir dengan adanya jahitan
karena mobilisasi dini baik buat jahitan,agar tidak terjadi pembengkakan akibat
tersumbatnya pembuluh darah.
6.2 Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan proses
penyembuhan luka sebelum dilakukan mobilisasi dini dan setelah dilakukan
mobilisasi dini. Artinya ada Pengaruh mobilisasi dini post op apendisitis
terhadap proses penyembuhan luka operasi di rumah sakit umum majene tahun
2019 .

Stikes Marendeng Majene


43

6.3 Saran
6.2.1 Diharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya RSUD Majene kota Majene
dapat menerapkan mobilisasi dini pada pasien post op apendisitis agar pasien
tidak merasa takut untuk melakukan mobilisasi dini.
6.2.2 Di harapkan bagi pasien post op agar lebih berani untuk melakukan mobilisasi
dini dan mencari tahu infomasi tentang pentingnya mobilisasi dini untuk
menyembuhkan proses luka operasi.
6.2.3 Diharapkan kepada para mahasiswa khususnya peneliti dapat mengaplikasikan
ilmu yang di peroleh selama pendidikan.

Daftar Pustaka

Arfah Noer, Nursiah. 2010. Faktor-faktor yang berhubungan dengan lama hari rawat
pada pasien pasca operasi laparatomy. Jurnal ilmu keperawatan. (online).
(https://www.box.com/s/83103e737c60e4bb29c9, diakses tanggal 10 Juli 2019,
13:10)

Brunner & Suddarth’s.2014, Textbook of Medical-surgical Nursing: Suzanne


C. Smeltzer...[et Al.]: Wolters Kluwer Health.

Carpenito, Lynda Juall. 2009. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi pada Praktik Klinis. Alih
bahasa, Kustini Semarwati Kadar. Edisi 9. Jakarta: EGC.

Stikes Marendeng Majene


44

Deramawan, 2009.keperawatan medikal bedah. Yogyakarta:gosyen publishing

Fawzy, Ahmad. 2012. Sanitasi Dasar (Online).


http://blog.ub.ac.id/fawzy/2013/11/30/sanitasi-dasar/, Diakses tanggal 20 juli
2019 pukul 20:00 WITA. Hidayat 2009. Buku Ajar : Ketrampilan Dasar raktik
Klinik untuk Pendidikan keperawatan. Surabaya :Health Book Publishing

Healthnotes, 2005. Pre and Post-surgery Health. diakses 5 augustus


2019.http://www.puritancom/vf/healthnotes/hn_live /concern/Surgery.htm.

Jitowiyono, S., & Kristiyanasari, W. (2010). Asuhan keperawatan post operasi. Yogya
karta: Nuha Medika.

Kowalak Jennifer P. 2012. Buku Aja FatofisIologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

Majid, A., Judha, M., & Istianah, U. (2011). Keperawatan perioperatif. Yogyakarta:
Gosyen Publishing.

Mansjoer, 2009 . Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam . Edisi Lima , Cetakan Ke dua ,
InternaPublishing,Jakarta.

Mubarak, Wahit Iqbal. dan Chayatin, Nurul. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori
dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif, Konsep,
Proses, Dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.

Morrison, A. P., French, P., Walford, L., Lewis, S. W., Kilcommons, A., Green, J., ... &
Bentall, R. P. (2004). Cognitive therapy for the prevention of psychosis in
people at ultra-high risk: randomised controlled trial. The British Journal of
Psychiatry, 185(4), 291-297.

Smeltzer, S dan Bare, B. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 1, edisi
8. Jakarta: EGC.

Potter, P. A. & Perry, A. G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses
dan Praktik. Volume 1 edisi 4. Jakarta: EGC.

Potter, P. A. & Perry, A. G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses
dan Praktik. Volume 2 edisi 4. Jakarta: EGC.

Roper 2009. Keperawatan medikal bedah. Jakarta : salemba medika

Saydam Gozali, 2011, Pharmacothetrapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition,


Amerika, The Mcgraw-Hill Companies.

Smeltzer, S. C & Brenda G. Bare, 2014, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth’s Edisi 10, Jakarta, EGC.

Sjamsuhidayat & de Jong, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah,EGC, Jakarta

Sjamsuhidajat, R. (2016). Wim de jong. 2005. Buku ajar ilmu bedah edisi, 2.

Stikes Marendeng Majene


45

Tamher, S. (2008). Mikrobiologi untuk mahasiswa keperawatan. Edisi ke‒12. Jakarta:


Trans Info Media.

WHO. 2010. Prevalensi Penyakit Apendiktomi, 18 juli 2019. http//, Angka Kejadian
Apendiktomi.co.id

Widiyanto, B. (2016). Pengaruh Ambulasi Dini Terhadap Peningkatan Activity Of Daily


Living Pada Pasien Post Kateterisasi Jantung Di Rs Telogorejo
Semarang. Karya Ilmiah.

Wim De Jong Et Al, 2010, At A Glance Ilmu Bedah Edisi 3, Jakarta, Erlangga

Stikes Marendeng Majene