Anda di halaman 1dari 3

Latar Belakang

Panggung politik nasional diwaktu tahun 1947-1948 memang terjadi banyak konsfirasi
politis, dergama, agitasi atau sekadar insinuasi yang datang oleh pemerintah maupun
masyarakat saat itu bersamaan dengan konflik senjata yang terjadi di tengah masyarakat. Atas
dasar kondisi dan situasional yang tidak kondusif yang mana Indonesia juga masih berkutat
melawan kembalinya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Ada beberapa peristiwa dan kebijakan yang menjadi pemantik pecahnya peristiwa
pembrontakan Madiun yang terjadi pada 18 September 1948. Salah satunya adalah
diturunkannya kabinet Amir akibat tuntutan yang dilakukan oleh Masyumi yang didukung
oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, yang kemudian Amir
Syarifudin menginisiasi sekaligus pimpinan FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang menjadi
Oposisi. Faktor lainnya sebelum perstiwa di Madiun 1948, adalah masalah mengenai politik
rasionalisasi di bidang militer dari Moh. Hatta sebagai perdana menteri, dimana juga didukung
A.H Nasution, sebagai Staf Umum Angkatan Perang RI. Berbagai aksi perjuangan dilakukan
terhadap program nasional oleh Golongan Kiri/FDR, adanya berbagai tindakan pemogokan
khusunya di Delanggu oleh organisasi buruh Sobsi/Sarbapuri. Politik luar negeri yang
berkorelasi dengan Perang dingin yang sedang memuncak. Dan kembalinya Musso serta
lahirnya Resolusi Konferensi PKI pada 26 dan 27 Agustus 1948 di Yogyakarta, dikenal dengan
“Koreksi Besar Musso”.(Setiawan, Hersi. 2002:1-2)

Pada 23 Januari 1948, Amir Syarifuddin diturunkan dari jabatannya yang disebabkan
oleh penghinaan dari “aksi polisional” pertama dan persetujuan Renville. Kemudian,
ditunjuklah Moh. Hatta sebagai perdana menteri “Kabinet presidentil” darurat yang banyak
diisi oleh orang-orang PNI dan Masyumi. Barisan golongan Kiri sebagai Oposisi pada Februari
1948, Gabungan Sayap Kiri berubah nama menjadi Front Demokrasi Rakyat (FDR). FDR
melakukan usaha-usaha pembentukan organisasi-organisasi petani dan buruh, namun tidak
terlalu efektif bagi gerakan FDR. Di bulan Mei 1948, di Delanggu Jawa Timur terjadi
pemogokan kerja di sebuah pabrik tekstil milik negara. Terjadi aksi kekerasan dalam
pemogokan itu. Para buruh itu mendapat serangan oleh pengikut Masyumi notabene dari para
santri disokong oleh kelompok-kelompok Hizbullah.(Ricklefs, M.C. 2007:456)
Front Demokrasi rakyat ini mengecam program-program kabinet Hatta dan menuntut
kembalinya kabinet yang parlementer, FDR menginginkan adanya program yang revousioner
bagi kemaslahatan bagi kesejahteraan kaum buruh dan tani.

Agustus 1948, keadaan politik pada saat itu ada siasat-siasat politik dari berbagai pihak
dan situasi emergensi di masyarakat di Jawa Tengah, disisi lain tentara-tentara Belanda sudah
menguasai wilayah-wilayah Indonesia. 11 Agustus 1948, kembalinya Musso ke Indonesia.
Musso adalah pimpinan PKI era 1920-an ia berpaham Stalinis yang pro terhadap Uni-Soviet.
Dalam awal bulan September 1948, berbagai partai berpaham kiri yang termasuk di FDR
membubarkan diri untuk kembali bergabung ke dalam PKI.(Ricklefs, M.C. 2007:456)

Musso memiliki gagasan yang dikemukakanya, yakni menghimpun kekuatan komunis


dan juga non komunis dalam wadah Front nasional dalam inferior PKI, meperbarui PKI dengan
paham Marxis-Leninisme yang tunggal, menyelaraskan perjuangan PKI dalam aliansi
pergerakan komunis Internasional. Namun, tawaran PKI untuk mebentuk Front Nasional itu
ditolak oleh Masyumi dan PNI. Selain mengimpun konsolidasi ke dalam, Musso melancarkan
serangan-serangan kepada Hatta, baginya revolusi Indonesia revolusi bukanlah revolusi
defensif melainkan revolusi yang offensif. Ia menuding Hatta berusaha membawa Indonesia
ke kekuatan Imprealis yakni Amerika Serikat. Baginya perjuangan bangsa Indonesia ialah
melawan Imprealis dan berada dalam kekuatan komunis yakni Uni Soviet. (Poesponegoro,
Mawarti Djoened. 2008:240)

Melalui propaganda-propaganda yang dilakukan Musso terhadap pemerintah yang


dianggap sebagai budak Imrealis Amerika Serikat. Namun, Hatta menegaskan bahwa
pemerintahan Indonesia tidak memihak ke salah satu blok, Indonesia harus menentukan
nasibnya sendiri dengan bersikap netralitas, sementara Musso mengingginkan keberpihakan
Indonesia ke Uni Soviet dalam menentang Imprealisme.

Selanjutnya, 1 sepetember PKI membentuk politbiro yang diisi oleh Musso sebagai
pimpinan, Amir Syarifudin menjadi sekretariat pertahanan, beberapa tokoh-tokoh muda yang
bakal menjadi cikal bakal pemimpin PKI di masa mendatang yakni Aidit, Lukman, Njoto
sebagai anggota politbiro.

PKI menstimulasi berbagai unjuk rasa dan pemogokan-pemogokan yang dilakukan


kaum buruh dan petani. Berbagai petani diberbagai daerah-daerah mengambil alih tanah-tanah
pertanian dari tuannya. Masyumi mengecam manuver-manuver komunis tersebut, beberapa
santri yang juga petani dan pemilik tanah menolak dan melawan gerakan pro PKI tersebut.
Pemerintah menyadari akan adanya polemik yang serius, Tan Malaka akhirnya dibebaskan
oleh pemerintah dengan dalih bisa memecahkan kekuatan yang dibangun Musso tetapi tidak
bisa membuat situasi kondusif. .(Ricklefs, M.C. 2007:458)

Di Surakarta meletusnya konflik bersenjata terjadi pada pertengahan September 1948


antara golongan pro-PKI dan golongan yang pro pemerintah, barisan-barisan pro-PKI akhirnya
dipukul mundur oleh divisi. Para pendukung PKI akhirnya mundur ke Madiun disanan mereka
menyiapkan serangan antisipasi perlawanan yang akan dilakukan pemerintah terhadap Madiun.
.(Ricklefs, M.C. 2007:459)

Di awal tahun 1948 terjadi berbagai gesekan-gesekan politik dan juga terjadi berbagai
konfik senjata yang semakin memuncak. Konflik yang berakhir dengan perang antara golongan
Pro-PKI dan pro pemerintah dan pada akhirnya diredam dengan tindakan politik. Peristiwa
Madiun 18 September 1948 adalah akibat dari keinginan golongan PKI dan pendukungnya
yang tidak senang atas kepemimpina Soekarno-Hatta yang dianggap sebagai Pro Amerika.
Kabinet Hatta dianggap tidak melaksanakan program nasional yang diinginkan PKI.

Didalam buku Negara Madiun bahwa Peristiwa Madiun bukan disiapkan untuk
mengudeta pemerintahan Hatta-Sukiman, bahwasanya telah terjadi sama kali berpangkal dari
tindak bagi menolak pengaktualan program Re-Ra yakni program rekonstruksi dan
rasionalisasi dalam memangkas tanggungan negara atas gaji militer pada saat itu. Peristiwa itu
juga bertolak dalam upaya melawan ofensif reaksioner dari pemerintah, Nasution-Siliwangi,
dan Masyumi-Murba. Demikian akar terjadinya konflik politis waktu itu. (Setiawan, Hersi.
2002:19)

DAFTAR PUSTAKA

Poesponegoro, Mawarti Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta:Balai Pustaka.

Ricklefs, M.C. 2007. Sejarah Indonesia Modern (1200-2004). Jakarta:Serambi.

Setiawan, Hersi. 2002. NEGARA MADIUN : Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan.


Jakarta : Forum Studi Perubahan dan Peradaban.