Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Luka bakar (combustion) adalah suatu trauma yang disebabkan oleh
panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan
jaringan yang lebih dalam. Luka bakar yang luas mempengaruhi metabolisme
dan fungsi setiap sel tubuh, semua sistem dapat terganggu, terutama sistem
kardiovaskuler. Luka bakar dibedakan menjadi: derajat pertama, kedua
superfisial, kedua dalam, dan derajat ketiga. Luka bakar derajat satu hanya
mengenai epidermis yang disertai eritema dan nyeri. Luka bakar derajat kedua
superfisial meluas ke epidermis dan sebagian lapisan dermis yang disertai lepuh
dan sangat nyeri. Luka bakar derajat kedua dalam meluas ke seluruh dermis.
Luka bakar derajat ketiga meluas ke epidermis, dermis, dan jaringan subkutis,
seringkali kapiler dan vena hangus dan darah ke jaringan tersebut berkurang.
Penanganan dalam penyembuhan luka bakar antara lain mencegah infeksi dan
memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup
permukaan luka.
Luka bakar pada tubuh terjadi baik karena kondisi panas langsung atau
radiasi elektromagnetik. Sel-sel dapat menahan temperatur sampai 440C tanpa
kerusakan bermakna, kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk tiap
drajat kenaikan temperatur. Saraf dan pembuluh darah merupakan struktur yang
kurang tahan dengan konduksi panas. Kerusakan pembuluh darah ini
mengakibatkan cairan intravaskuler keluar dari lumen pembuluh darah, dalam
hal ini bukan hanya cairan tetapi 12 protein plasma dan elektrolit. Pada luka
bakar ekstensif dengan perubahan permeabilitas yang hampir menyelutruh,
penimbunan jaringan masif di intersitial menyebabakan kondisi hipovolemik.
Volume cairan iuntravaskuler mengalami defisit, timbul ketidak mampuan
menyelenggarakan proses transportasi ke jaringan, kondisi ini dikenal dengan
syok. Luka bakar juga dapat menyebabkan kematian yang disebabkan oleh
kegagalan organ multi sistem. Awal mula terjadi kegagalan organ multi sistem
yaitu terjadinya kerusakan kulit yang mengakibatkan peningkatan pembuluh
darah kapiler, peningkatan ekstrafasasi cairan (H2O, elektrolit dan protein),
sehingga mengakibatkan tekanan onkotik dan tekanan cairan intraseluler
menurun, apabila hal ini terjadi terus menerus dapat mengakibatkan
hipopolemik dan hemokonsentrasi yang mengakibatkan terjadinya gangguan
perfusi jaringan.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan definisi luka?
2. Apa sajakah anatomi fisologi integument?
3. Bagaimanakah patofisiologi luka bakar?
4. Bagaimanakah fase luka bakar?
5. Apa sajakah klasifikasi luka bakar?
6. Bagaimanakah luas luka bakar?
7. Apa sajakah komplikasi luka bakar?
8. Apakah yang dimaksud resusitasi cairan?
9. Bagaimanakah cara pencegahan luka bakar?
10. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan luka bakar?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan definisi luka
2. Untuk mengetahui apa saja anatomi fisologi integument
3. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi luka bakar
4. Untuk mengetahui bagaimana fase luka bakar
5. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi luka bakar
6. Untuk mengetahui bagaimana luas luka bakar
7. Untuk mengetahui apa saja komplikasi luka bakar
8. Untuk mengetahui apa yang dimaksud resusitasi cairan
9. Untuk mengetahui bagaimana cara pencegahan luka bakar
10. Untuk mengetahui bagaimana konsep asuhan keperawatan luka bakar

2
BAB II

KONSEP DASAR PENYAKIT LUKA BAKAR

A. Anatomi Fisiologi Sistem Integumen

Anatomi fisilogi sistem integumen terdiri dari kulit, stuktur


tambahannya, seperti folikel rambut dan kelenjar keringat, dan jaringan
subkutan dibawah kulit. Kulit terbentuk dari berbagai macam jaringan yang
berbeda dan dianggap sebagai suatu organ. Karena kulit menutupi seluruh
permukaan tubuh, salah satu fungsinya sudah jelas terlihat: memisahkan tubuh
dari lingkungan luar dan mencegah masuk berbagai macam zat berbahaya.
Jaringan subkutan yang secara langsung berada dibawah kulit dan
menghubungkan kulit dengan otot serta mempunyai fungsi lain.

1. Lapisan Epidermis

a. Stratum korneum: Lapisan ini terdiri dari banyak lapisan tanduk


(keratinasi), gepeng, kering, tidak berinti, inti selnya sudah mati, dan
megandung zat keratin.

b. Stratum lusidum: Selnya pipih, bedanya dengan stratum granulosum


adalah sel-sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir-butir sel telah
menjadi jernih sekali dan tembus sinar.Lapisan ini hanya terdapat pada
telapak tangan dan telapak kaki

3
c. Stratum granulosum: Lapisan ini terdiri dari 2-3 lapis sel pipih seperti
kumparan dengan inti ditengah dan sitoplasma berisi butiran (granula)
keratohiali atau gabungan keratin dengan hialin. Lapisan ini menghalangi
benda asing, kuman dan bahan kimia masuk ke dalam tubuh.

d. Stratum spinosum/stratum akantosum: Lapisan ini merupakan lapisan


yang paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm terdiri dari 5-8 lapisan .
Lapisan ini berfungsi untuk menahan gesekan dan tekanan dari luar.

e. Disebut stratum basal karena sel-selnya terletak dibagian basal/basis,


stratum germinativum menggantikan sel-sel yang di atasnya dan
merupakan sel-sel induk.
2. Lapisan Dermis
Lapisan dermis dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
a. Bagian atas, Pars Papilaris (stratum papilar).
b. Bagian bawah, Retikularis (stratum retikularis).

B. Definisi

Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan


kontak dengan sumber panas seperti air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi
(Smeltzer,2002). Luka bakar adalah luka yang diakibatkan oleh perpindahan
energi dari sumber panas ke tubuh.Panas tersebut mungkin dipindahkan melalui
konduksi atau radiasi. (Effendi, 1999 : 4). Luka bakar adalah kerusakan jaringan
tubuh terutama kulit akibat langsung atau peratara dengan sumber panas
(thermal), kimia, elektrik, dan radiasi luka bakar adalah luka yang disebabkan
oleh trauma panas yang memberikan gejala, tergantung luas, dalam, dan lokasi
lukanya. (Andara & Yessie, 2013). Jadi dapat disimpulkan bahwa luka bakar
adalah kerusakan jaringan pada tubuh terutama pada kulit baik kontak secara
langsung ataupun radiasi, yang disebabkan oleh panas, listrik, maupun bahan
kimia, yang memberikan gejala tergantung pada luas, kdalaman, dan lokasi
lukanya.

4
C. Patofisiologi
Luka bakar (combustio) pada tubuh dapat terjadi karena konduksi panas
langsung atau radiasi elektromagnetik. Setelah terjadi luka bakar yang parah,
dapat mengakibatkan gangguan hemodinamika, jantung, paru, ginjal serta
metabolik akan berkembang lebih cepat. Dalam beberapa detik saja setelah
terjadi jejas yang bersangkutan, isi curah jantung akan menurun, mungkin
sebagai akibat dari refleks yang berlebihan serta pengembalian vena yang
menurun. Kontaktibilitas miokardium tidak mengalami gangguan.
Segera setelah terjadi jejas, permeabilitas seluruhh pembuluh darah
meningkat, sebagai akibatnya air, elektrolit, serta protein akan hilang dari ruang
pembuluh darah masuk ke dalam jarigan interstisial, baik dalam tempat yang
luka maupun yang tidak mengalami luka. Kehilangan ini terjadi secara
berlebihan dalam 12 jam pertama setelah terjadinya luka dan dapat mencapai
sepertiga dari volume darah. Selama 4 hari yang pertama sebanyak 2 pool
albumin dalam plasma dapat hilang, dengan demikian kekurangan albumin serta
beberapa macam protein plasma lainnya merupakan masalah yang sering
didapatkan.
Dalam jangka waktu beberapa menit setelah luka bakar besar, pengaliran
plasma dan laju filtrasi glomerulus mengalami penurunan, sehingga timbul
oliguria. Sekresi hormon antideuretika dan aldosteron meningkat. Lebih lanjut
lagi mengakibatkan penurunan pembentukan kemih, penyerapan natrium oleh
tubulus dirangsang, ekskresi kalium diperbesar dan kemih dikonsentrasikan
secara maksimal. Albumin dalam plasma dapat hilang, dengan demikian
kekurangan albumin serta beberapa macam protein plasma lainnya merupakan
masalah yang sering didapatkan.

5
6
D. Manifestasi Klinis

Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan penyebab, kedalaman luka dan


keseriusan luka, yakni
1. Berdasarkan penyebab
a. Luka bakar karena api
b. Luka bakar karena air panas
c. Luka bakar karena bahan kimia
d. Luka bakar karena listrik
e. Luka bakar karena radiasi
f. Luka bakar karena suhu rendah (Frost bite)
2. Berdasarkan kedalaman luka bakar
a. Luka bakar derajat I: luka bakar yang terjadi pada lapisama epidermis
atau lapisan kulit luar saja. Secara klinis, tandanya berupa kulit yang
tampak merah, kering, dan terasa sakit. Contohnya, luka bakar yang
disebabkan oleh sinar matahari.

b. Luka bakar derajat II: luka bakar yang terjadi di lapisan epidermis dan
sebagian dermis, inflamasi disertai proses eksudasi. Secara klinis,
tandanya berupa luka berwarna merah pucat, sering terletak lebih tinggi
diatas kulit normal. Luka bakar derajat II dibagi 2, yaitu:

7
1) Derajat II Dangkal(Superficial): kerusakan mengenai bagian
superfisial dari dermis. Organ-organ kulit seperti folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.
Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.

2) Derajat II Dalam(Deep): kerusakan mengenai hampir seluruh bagian


dermis. Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang
tersisa. (lebih dari satu bulan).
c. Luka bakar derajat III: Kerusakan jaringan mengenai seluruh lapisan
epidermis dan dermis, atau lebih dalam lagi. Secara klinis kulit tampak
putih, kasar, namun juga dapat terlihat hangus, dan mati rasa. Operasi
atau bedah menjadi pilihan utama untuk menangani luka bakar pada
derajat ini.

d. Luka bakar derajat IV: Luka bakar semakin parah dan merusak jaringan
tubuh yang semakin banyak, seperti otot, tendon, bahkan tulang. Pasien
tidak akan merasakan rasa apapun karena pada tahap ini kerusakan sudah
mencapai sel saraf.

8
3. Berdasarkan tingkat keseriusan luka
a. Luka bakar mayor: Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada orang
dewasa dan lebih dari 20% pada anak-anak. Luka bakar fullthickness
lebih dari 20%. Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga,
kaki, dan perineum. Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa
memperhitungkan derajat dan luasnya luka. Terdapat luka bakar listrik
bertegangan tinggi.
b. Luka bakar moderat: Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa
dan 10-20% pada anak-anak. Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.
Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan
perineum.
c. Luka bakar Minor: Luka bakar minor seperti yang didefinisikan oleh
Trofino (1991) dan Griglak (1992) adalah Luka bakar dengan luas kurang
dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 10 % pada anak-anak. Luka
bakar fullthickness kurang dari 2%. Tidak terdapat luka bakar di daerah
wajah, tangan, dan kaki. Luka tidak sirkumfer. Tidak terdapat trauma
inhalasi, elektrik, fraktur.
E. Fase Luka Bakar
1. Fase akut.
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita
akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething
(mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak
hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih
dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72

9
jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama
penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak
sistemik.
2. Fase sub akut.
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah
kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka
yang terjadi menyebabkan:
a. Proses inflamasi dan infeksi.
b. Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang
atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ –
organ fungsional.
c. Keadaan hipermetabolisme.
3. Fase lanjut.
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat
luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul
pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid,
gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.
F. Klasifikasi Luka Bakar
Kedalaman Penyebab Penampilan Warna Perasaan
Ketebalan Jilatan api, sinar Kering tidak ada Bertambah Nyeri
partial ultra violet gelembung. merah.
superfisial (terbakar oleh Odem minimal atau tidak
(tingkat I) matahari). ada.
Pucat bila ditekan dengan
ujung jari, berisi kembali
bila tekanan dilepas.

10
Lebih dalam Kontak dengan Blister besar dan lembab Berbintik- Sangat
dari ketebalan bahan air atau yang ukurannya bintik yang nyeri
partial bahan padat. bertambah besar. kurang jelas,
(tingkat II) Jilatan api Pucat bial ditekan dengan putih, coklat,
- Superfi kepada pakaian. ujung jari, bila tekanan pink, daerah
sial Jilatan langsung dilepas berisi kembali. merah coklat.
- Dalam kimiawi.
Sinar ultra violet.

Ketebalan Kontak dengan Kering disertai kulit Putih, kering, Tidak sakit,
sepenuhnya bahan cair atau mengelupas. hitam, coklat sedikit
(tingkat III) padat. Pembuluh darah seperti tua. sakit.
Nyala api. arang terlihat dibawah Hitam. Rambut
Kimia. kulit yang mengelupas. Merah. mudah
Kontak dengan Gelembung jarang, lepas bila
arus listrik. dindingnya sangat tipis, dicabut.
tidak membesar.
Tidak pucat bila ditekan.

G. Luas luka bakar


Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal
dengan nama rule of nine atua rule of wallace yaitu:
1. Kepala dan leher : 9%
2. Lengan masing-masing 9% : 18%
3. Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%
4. Tungkai maisng-masing 18% : 36%
5. Genetalia/perineum : 1%

Total : 100%

American college of surgeon membagi dalam:

1. Parah – critical:
a. Tingkat II : 30% atau lebih.

11
b. Tingkat III: 10% atau lebih.
c. Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah
d. Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft
tissue yang luas.
2. Sedang – moderate:
a. Tingkat II : 15 – 30%
b. Tingkat III : 1 – 10%
3. Ringan – minor:
a. Tingkat II : kurang 15%
b. Tingkat III : kurang 1%
H. Komplikasi
Luka bakar bisa menimbulkan kondisi yang lebih serius jika dibiarkan saja.
Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat luka bakar.
a. Bekas Luka
Luka bakar bisa menyebabkan bekas luka dan juga keloid. Keloid adalah
pertumbuhan jaringan bekas luka yang berlebih di atas kulit. Luka bakar
ringan biasanya hanya meninggalkan bekas luka yang sedikit. Bekas luka
bisa dikurangi dengan menggunakan krim atau salep pada bekas luka bakar
dan juga memakai tabir surya.
b. Rendahnya Volume Darah
Luka bakar dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan hilangnya
cairan. Hal ini dapat menimbulkan rendahnya volume darah dalam tubuh.
c. Infeksi
Infeksi dapat terjadi jika bakteri mulai berkembang biak di luka yang
terbuka. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kebersihan luka melepuh
yang telah pecah.
Beberapa tanda terjadinya infeksi adalah ketika luka terasa lebih sakit
atau menjadi bau. Selain itu, Anda mungkin mengalami demam dan
pembengkakan pada kulit yang terinfeksi. Infeksi biasanya bisa diatasi
dengan antibiotik dan obat pereda rasa sakit. Segera periksakan ke dokter
jika Anda mencurigai luka telah terinfeksi.

12
Luka bakar yang terinfeksi bisa menyebabkan terjadinya sepsis dan
sindrom syok toksik. Sepsis dan sindrom syok toksik terjadi ketika infeksi
telah menyebar ke dalam darah, dan dapat menyebabkan kematian jika tidak
segera ditangani.
d. Masalah pernafasan
Menghirup udara panas atau asap bisa melukai saluran udara dan
menyebabkan kesulitan dalam bernapas. Menghirup asap bisa merusak
paru-paru dan menyebabkan kegagalan fungsi organ pernapasan.
e. Masalah Tulang Dan Persendian
Luka bakar yang dalam bisa membatasi pergerakan tulang dan juga
persendian. Bekas luka bisa menyebabkan kontraktur. Kontraktur adalah
ketika kulit, otot, maupun urat memendek dan/atau mengencang. Akibatnya,
sendi tidak bisa digerakkan secara normal.
f. Sengatan Panas
Sengatan panas adalah kondisi ketika suhu tubuh mencapai 40° celcius
atau lebih. Kondisi ini disebabkan oleh tubuh yang terlalu lama terkena
pajanan terhadap sinar matahari atau cuaca panas. Beberapa gejalanya
antara lain:
1) Kelelahan yang parah.
2) Kulit terlihat merah.
3) Bernapas dengan cepat.
4) Mual dan muntah-muntah.
5) Pusing atau sakit kepala.
6) Denyut jantung cepat.
7) Menjadi linglung.

Jika mencurigai terjadi sengatan panas, pindahkan penderita ke tempat


teduh. Pastikan penderita minum banyak air dan longgarkan pakaian
mereka. Coba turunkan suhu tubuh penderita dengan kain yang telah
dibasahkan dengan air dingin. Sengatan panas merupakan kondisi darurat
yang perlu segera ditangani di rumah sakit.

13
g. Suhu tubuh sangat rendah
Jika sebagian besar kulit menjadi rusak karena terbakar, penderita bisa
kehilangan panas tubuh dan resiko terkena hipotermia akan meningkat.
h. Syok
Syok adalah kondisi berbahaya yang muncul ketika tubuh kekurangan
pasokan oksigen. Orang yang terkena luka bakar parah bisa mengalami
syok. Beberapa gejala syok adalah ketika wajah terlihat pucat, denyut
jantung cepat, bernapas cepat atau pendek, sering menguap, kulit terasa
dingin dan bahkan pingsan.
Jika terjadi syok, segera antar ke rumah sakit. Baringkan penderita dan
posisikan kaki mereka lebih tinggi dari tubuh. Hangatkan suhu tubuh
dengan memakai selimut, usahakan untuk tidak menutupi bagian yang
mengalami luka bakar.

I. Resusitasi cairan
Penatalaksanaan resusitasi cairan dilakukan berdasarkan manifestasi
klinik dari suatu trauma. Tujuan resusitasi Cairan adalah untuk menjaga dan
mengembalikan perfusi jaringan tanpa menimbulkan edema.
1. Hal yang perlu diperhatikan dalam mencapai keberhasilan terapi, yaitu:
a. Mengetahui permasalahan yang terjadi pada pasien : syok, cedera inhalasi
dsb
b. Penentuan derajat dan luas luka bakar
c. BB pasien
d. Metode pemberian yakni jumlah cairan, jenis cairan, dan pemantuan yang
dilakukan
e. Informasi mengenai fungsi organ organ penting (ginjal, paru, jantung,
hepar, dan saluran cerna
f. Penggunaan obat-obatan yang rasional
2. Formula parkland
a. Rumus
24 jam pertama: cairan ringer laktat 4ml X kgBB X %luka bakar.

14
Contoh: pria dengan berat 80kg dengan luas luka bakar 25%
Membutuhkan cairan (25) X (80kg) X (4ml) = 8000ml dalam 24 jam
pertama
Note : 1/2 jumlah cairan diberikan 8jam, 1/2 jumlah cairan sisanya
diberikan dalam 16jam berikutnya.
3. Formula Evans
a. Luas luka bakar dalam % X BB dalam kg = jumlah NaCl/24jam
b. Luka bakar dalam % X BB dalam kg = jumlah plasma/24jam (1 dan 2
pengganti cairan yang hilang akibat odem. Plasma untuk mengganti
plasma yang keluar dari pembuluh dan meninggikan tekanan osmosis
hingga mengurangi perembesan keluar dan menarik kembali cairan yang
keluar)
c. 2000cc dextrose 5% / 24jam (untuk mengganti cairan yang hilang akibat
penguapan). Separuh dari jumlah cairan 1+2+3 diberikan dalam 8 jam
pertama, sisanya diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam
16 jam beritkutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan
pada hari pertama. Dan hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari
kedua.
4. Formula Baxter
a. Rumus: % X BB X 4cc
b. Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya. Hari pertama terutama diberikan
elektrolit yaitu larutan RL karena terjadi defisit ion Na. Hari kedua
diberikan setengah cairan hari pertama.
Contoh; seorang dewasa dengan BB 50 X 20 % X 4cc= 4000 cc yang
diberikan hari pertama dan 2000 cc pada hari kedua.
5. Formula Currie
Rumus: 25kcal / kgBB / hari ditambah dengan 40 kcal/ % luka bakar / hari

15
J. Nutrisi yang Dibutuhkan pada Pasien dengan Luka Bakar
Makanan dan minuman adalah obat yang secara tidak langsung akan
menunjang pengobatan dari suatu penyakit, sama seperti luka bakar. Pemilihan
sumber makanan dan pengaturan makanan yang tepat dibutuhkan para pasien
luka bakar untuk membantu penyembuhan serta pemulihannya. Bahkan, dapat
dikatakan bahwa makanan adalah obat utama dalam proses pengobatannya. Pada
dasarnya orang yang mengalami luka bakar telah banyak kehilangan energi, oleh
karena itu makanan yang diberikan pada mereka haruslah yang tinggi akan
energi dan kalori. Sehingaa, tidak heran jika pasien luka bakar minimal harus
mengonsumsi makanan sebanyak 2500 kalori dalam sehari.
Berikut adalah kebutuhan zat gizi secara umum untuk pasien luka bakar:
1. Protein
Pasien dengan luka bakar sangat membutuhkan jumlah protein untuk
membantu memperbaiki jaringan yang rusak. Kerusakan jaringan membuat
banyak protein hilang dalam tubuh. Selain itu, pasien luka bakar juga
kehilangan banyak energi dan hal ini menyebabkan tubuh menjadikan
protein sebagai sumber energi utama, sehingga protein di dalam tubuh
pasien luka bakar sangat rendah. Menurut Asosiasi Dietisien Indonesia,
protein yang dibutuhkan pasien luka bakar dalam sehari yaitu sekitar 20-
25% dari kebutuhan kalori total. Jika kebutuhan protein tidak dipenuhi akan
menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh, kehilangan massa otot
yang cukup banyak, serta memperlambat proses penyembuhan.
2. Karbohidrat
Karbohidrat adalah sumber gula yang digunakan tubuh sebagai sumber
energi utama. Proses penyembuhan luka bakar membutuhkan energi yang
cukup besar, oleh karena itu dibutuhkan sumber energi tubuh yang juga
cukup banyak untuk menunjang hal tersebut. Sumber energi didapatkan dari
karbohidrat, sehingga pasien dengan luka bakar memerlukan sebanyak 50
hingga 60 persen karbohidrat dari total kalori dalam sehari. Bila kebutuhan
dari pasien luka bakar tersebut adalah 2500 kalori, maka jumlah karbohidrat
yang harus dikonsumsi dalam sehari adalah 312 sampai 375 gram. Jika
karbohidrat tidak terpenuhi, maka energi yang dihasilkan akan berkurang,

16
atau malah tubuh akan mengambil sumber protein – yang seharusnya
melakukan perbaikan jaringan, sebagai sumber energi, pengganti
karbohidrat.
3. Lemak
Kebutuhan lemak untuk pasien luka bakar tidak terlalu tinggi seperti
protein dan karbohidrat. Lemak memang dibutuhkan tubuh untuk proses
penyembuhan dan sebagai ekstra cadangan energi untuk meningkatkan
proses metabolisme. Tetapi terlalu banyak lemak yang dimakan malah akan
berdampak buruk bagi kesehatan. Lemak yang terlalu tinggi mengakibatkan
peradangan di dalam tubuh dan menurunkan sistem imun, sehingga
penyembuhan akan semakin sulit dilakukan. Jumlah lemak yang dibutuhkan
dalam sehari adalah 15-20% dari total kalori. Lebih baik mengonsumsi
sumber lemak yang baik, yaitu makanan dengan lemak tidak jenuh tinggi
seperti kacang, alpukat, minyak zaitun, dan ikan.
4. Vitamin dan mineral
Tidak hanya zat gizi makro yang diperlukan, tetapi berbagai zat gizi
mikro juga diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Pemberian
vitamin A, B, C, dan D dalam jumlah tinggi sangat dianjurkan bagi pasien
luka bakar. Selain itu, mineral yang juga dibutuhkan dalam jumlah yang
cukup banyak adalah zat besi, seng, natrium, kalium, fosfor, dan
magnesium. Makanan seperti daging sapi, hati sapi, daging ayam tanpa
kulit, merupakan sumber yang baik untuk vitamin A, zat besi dan seng.
Sedangkan vitamin C bisa didapatkan dari berbagai buah-buahan.

K. Pencegahan Luka Bakar


Usaha paling utama untuk menurunkan cidera dan kematian akibat
kebakaran di perumahan adalah adanya detektor asap dan pemadan kebakaran
yang berfungsi. Diperkirakan risiko meninggal dalam kebakaran di perumahan
menurun 50% ketika detektor asap yang bekerja berada pada tempatnya. Salah
satu aktifitas pencegahan luka bakar rasional adalah kampanye "Ganti Jam
Anda, Ganti baterai anda". Program ini dirancang untuk mengingatkan orang di
Amerika Serikat bahwa ketika mereka mengatur kembali jam mereka di musim

17
gugur, mereka juga harus mengganti baterai detektor asap. Usaha pencegahan
juga difokuskan pada mengesahkan undang-undang yang mengharuskan
produksi komersial dan penjualan rokok yang aman-api yang dirancang dengan
kecenderungan lebih rendah untuk tersulut.
Untuk menurunkan angka kejadian cedera lepuh, Komisi Keamanan
Produk Konsumen dan Laboratorium Penjamin telah merekomendasikan suhu
maksimum termostat air panas diturunkan dan label peringatan yang
mengidentifikasi potensi cedera ditempel pada pemanas air. Undang-undang
yang mengharuskan bangunan publik harus menurunkan suhu air ke 120OF
(48OC) telah berhasil menurunkan cedera lepuh.

18
BAB III

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN SECARA UMUM PADA PASIEN


LUKA BAKAR

L. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan
Kaji keluhan utama dan tanyakan penyebab luka bakar – kima,
termal atau listrik, waktu terjadinya luka bakar (penting untuk kebutuhan
resusitasi, cairan yang mana dihitung dari waktu cedera luka bakar,
bukan dari waktu tiba ke RS), tempat terjadinya luka bakar (area terbuka
atau tertutup) dan alergi.
2. Integritas ego
Ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri
dan marah.
3. Aktivitas / istirahat
Keterbatasan rentan gerak pada area yang sakit, gangguan masa
otot dan perubahan tonus.
4. Sistem pernafasan (cedera inhalasi)
Kaji akan adanya serak, batuk mengi, partikel karbon dalam
sputum, ketidakmampuan dalam menelan sekresi oral dan sianosis,
indikasi cedera inhalasi. Pembengkakan torak mungkin terbatas pada
adanya luka bakar lingkar dada. Jalan nafas atas straidor atau mengi
(obstruksi sehubungan dengan laringospasme, edema laringeal). Bunyi
nafas : gemerecik (edema paru), stridor (edema laringeal), sekret jalan
nafas (ronchi).
5. Sistem pencernaan
Penurunan bising usus atau tidak ada, khususnya pada luka bakar
dengan kutaneus lebih besar dari 20 % sebagai stres penurunan motilitas
/ peristaltik gastrik. Kaji akan anorexia, mual, dan muntah.

19
6. Sistem kardiovaskuler
Pada luka bakar lebih dari 20 % APTT, ditemukan hipotensi
(syok), penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera;
vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan
dingin (syok listrik). Takikardi (syok, ansietas, nyeri), disritmia (syok
listrik).
7. Neurosensori
Aktivitas kejang (syok listrik), laserasi kornea, kerusakan retinal,
penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik). Ruptur membran
timpani (syok listrik), dan paralisis (cedera listrik pada aliran syaraf).
8. Nyeri/kenyamanan
Gejalanya yaitu berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama
secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan
perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat
nyeri; sementara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua
tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak
nyeri.
9. Eliminasi
Haluan urin menurun / tidak ada selama fase darurat. Warna
mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan
kerusakan otot dalam. Diuresis (setelah kebocoran kapiler dan
mobilisasi cairn kedalam sirkulasi).
10. Pemeriksaan diagnostik
1) LED: mengkaji hemokonsentrasi.
2) Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan
biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat
peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat
menyebabkan henti jantung.
3) Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi
pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap.
4) BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
5) Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan

20
kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
6) Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
7) Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun
pada luka bakar masif.
8) Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi
asap

2. Diagnosa Keperawatan
Marilynn E. Doenges dalam Nursing care plans, Guidelines for planning
and documenting patient care mengemukakan beberapa Diagnosa
keperawatan sebagai berikut :
a. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
Kehilangan cairan melalui rute abnormal. Peningkatan kebutuhan :
status hypermetabolik, ketidak cukupan pemasukan. Kehilangan
perdarahan.
b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak
adekuat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik. Pertahanan
sekunder tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi.
c. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan; pembentukan
edema. Manifulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.
d. Resiko tinggi kerusakan perfusi jaringan, perubahan/disfungsi
neurovaskuler perifer berhubungan dengan Penurunan/interupsi aliran
darah arterial/vena, contoh luka bakar seputar ekstremitas dengan
edema.
e. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
status hipermetabolik (sebanyak 50 % - 60% lebih besar dari proporsi
normal pada cedera berat) atau katabolisme protein.
f. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan
neuromuskuler, nyeri/tak nyaman, penurunan kekuatan dan tahanan.
g. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan
permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam

21
3. Rencana Intervensi

Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan
Keperawatan Intervensi Rasional
Kriteria Hasil
1. Resiko Pasien dapat Awasi tanda vital, Memberikan pedoman
tinggi mendemostrasik CVP. Perhatikan untuk penggantian
kekurangan an status cairan kapiler dan cairan dan mengkaji
volume cairan dan biokimia kekuatan nadi respon kardiovaskuler.
berhubungan membaik. perifer.
dengan Kriteria evaluasi:
Kehilangan tak ada Awasi pengeluaran Penggantian cairan
cairan melalui manifestasi urine dan berat dititrasi untuk
rute abnormal. dehidrasi, jenisnya. meyakinkan rata-2
resolusi oedema, pengeluaran urine 30-50
elektrolit serum cc/jam pada orang
dalam batas dewasa.
normal, haluaran
urine di atas 30 Observasi warna Urine berwarna merah
ml/jam. urine dan hemates pada kerusakan otot
sesuai indikasi. masif karena adanya
darah dan keluarnya
mioglobin.

Perkirakan drainase Peningkatan


luka dan kehilangan permeabilitas kapiler,
yang tampak perpindahan protein,
proses inflamasi dan
kehilangan cairan
melalui evaporasi
mempengaruhi volume

22
sirkulasi dan
pengeluaran urine.

Timbang berat Penggantian cairan


badan setiap hari tergantung pada berat
badan pertama dan
perubahan selanjutnya

Ukur lingkar Memperkirakan luasnya


ekstremitas yang odema/perpindahan
terbakar tiap hari cairan yang
sesuai indikasi mempengaruhi volume
sirkulasi dan
pengeluaran urine.

Selidiki perubahan Penyimpangan pada


mental tingkat kesadaran dapat
mengindikasikan
ketidak adequatnya
volume
sirkulasi/penurunan
perfusi serebral
Stres (Curling) ulcus
terjadi pada setengah
dari semua pasien yang
luka bakar berat(dapat
terjadi pada awal
minggu pertama).

Observasi distensi Observasi ketat fungsi


abdomen,hematome ginjal dan mencegah
sis,feces hitam. stasis atau refleks urine.

23
Hemates drainase
NG dan feces
secara periodik.
Lakukan program
kolaborasi meliputi
:
Pasang /
pertahankan kateter
urine

Pasang/ Memungkinkan infus


pertahankan ukuran cairan cepat.
kateter IV. Resusitasi cairan
Berikan menggantikan
penggantian cairan kehilangan
IV yang dihitung, cairan/elektrolit dan
elektrolit, plasma, membantu mencegah
albumin. komplikasi.

Awasi hasil Mengidentifikasi


pemeriksaan kehilangan
laboratorium ( Hb, darah/kerusakan SDM
elektrolit, natrium ). dan kebutuhan
penggantian cairan dan
elektrolit.

Berikan obat sesuai Meningkatkan


idikasi : pengeluaran urine dan
- Diuretika membersihkan tubulus
contohnya dari debris /mencegah
Manitol nekrosis.
(Osmitrol) Penggantian lanjut

24
- Kalium karena kehilangan urine
dalam jumlah besar

- Antasida Menurunkan keasaman


gastrik sedangkan
inhibitor histamin
menurunkan produksi
asam hidroklorida untuk
menurunkan produksi
asam hidroklorida untuk
menurunkan iritasi
gaster.

2. Resiko Pasien bebas dari Pantau:


tinggi infeksi infeksi. - Penampilan Mengidentifikasi
berhubungan Kriteria evaluasi: luka bakar indikasi-indikasi
dengan tak ada demam, (area luka kemajuan atau
Pertahanan pembentukan bakar, sisi penyimapngan dari hasil
primer tidak jaringan donor dan yang diharapkan.
adekuat; granulasi baik. status balutan
kerusakan di atas sisi
perlinduingan tandur bial
kulit; jaringan tandur kulit
traumatik. dilakukan)
Pertahanan setiap 8 jam.
sekunder tidak - Suhu setiap 4
adekuat; jam.
penurunan Hb, - Jumlah
penekanan makanan yang
respons dikonsumsi
inflamasi setiap kali
makan.

25
Bersihkan area luka Pembersihan dan
bakar setiap hari pelepasan jaringan
dan lepaskan nekrotik meningkatkan
jaringan nekrotik pembentukan granulasi.
(debridemen) sesuai
pesanan. Berikan
mandi kolam sesuai
pesanan,
implementasikan
perawatan yang
ditentukan untuk
sisi donor, yang
dapat ditutup
dengan balutan
vaseline atau op
site.
Lepaskan krim
lama dari luka
sebelum pemberian
krim baru.

Gunakan sarung Antimikroba topikal


tangan steril dan membantu mencegah
berikan krim infeksi. Mengikuti
antibiotika topikal prinsip aseptik
yang diresepkan melindungi pasien dari
pada area luka infeksi. Kulit yang
bakar dengan ujung gundul menjadi media
jari. Berikan krim yang baik untuk kultur
secara menyeluruh pertumbuhan bakteri.
di atas luka.

26
Beritahu dokter bila Temuan-temuan ini
demam drainase menadakan infeksi.
purulen atau bau Kultur membantu
busuk dari area luka mengidentifikasi
bakar, sisi donor patogen penyebab
atau balutan sisi sehingga terapi
tandur. Dapatkan antibiotika yang tepat
kultur luka dan dapat diresepkan.
berikan antibiotika Karena balutan siis
IV sesuai tandur hanya diganti
ketentuan. setiap 5-10 hari, sisi ini
memberikan media
kultur untuk
pertumbuhan bakteri.

Gunakan linen Kulit adalah lapisan


tempat tidur steril, pertama tubuh untuk
handuk dan skort pertahanan terhadap
untuk pasien. infeksi. Teknik steril dan
Gunakan skort tindakan perawatan
steril, sarung tangan perlindungan lain
dan penutup kepala melindungi pasien
dengan masker bila terhadap infeksi.
memberikan
perawatan pada
pasien.

3. Nyeri Pasien dapat Berikan analgesik Analgesik narkotik


berhubungan mendemonstrasi narkotik dan diperlukan utnuk
dengan kan hilang dari sedikitnya 30 menit memblok jaras nyeri
Kerusakan ketidaknyamana sebelum prosedur dengan nyeri berat.

27
kulit/jaringan; n. perawatan luka. Absorpsi obat IM buruk
pembentukan Kriteria evaluasi: Evaluasi pada pasien dengan luka
edema. menyangkal keefektifannya. bakar luas yang
Manipulasi nyeri, Anjurkan analgesik disebabkan oleh
jaringan melaporkan IV bila luka bakar perpindahan interstitial
cidera contoh perasaan luas. berkenaan dnegan
debridemen nyaman, ekspresi peningkatan
luka. wajah dan postur permeabilitas kapiler.
tubuh rileks.
Panas dan air hilang
Pertahankan pintu melalui jaringan luka
kamar tertutup, bakar, menyebabkan
tingkatkan suhu hipoetrmia. Tindakan
ruangan dan eksternal ini membantu
berikan selimut menghemat kehilangan
ekstra untuk panas.
memberikan
kehangatan.

Menururnkan neyri
dengan
Berikan ayunan di mempertahankan berat
atas tempat tidur badan jauh dari linen
bila diperlukan. temapat tidur terhadap
luka dan menuurnkan
pemajanan ujung saraf
pada aliran udara.

Menghilangkan tekanan
pada tonjolan tulang
dependen. Dukungan

28
Bantu dengan adekuat pada luka bakar
pengubahan posisi selama gerakan
setiap 2 jam bila membantu meinimalkan
diperlukan. ketidaknyamanan.
4. Resiko Pasien Untuk luka bakar Mengidentifikasi
tinggi menunjukkan yang mengitari indikasi-indikasi
kerusakan sirkulasi tetap ekstermitas atau kemajuan atau
perfusi adekuat. luka bakar listrik, penyimpangan dari hasil
jaringan, Kriteria evaluasi: pantau status yang diharapkan.
perubahan/disf warna kulit neurovaskular dari
ungsi normal, ekstermitas setaip 2
neurovaskuler menyangkal jam.
perifer kebas dan
berhubungan kesemutan, nadi Pertahankan Meningkatkan aliran
dengan perifer dapat ekstermitas balik vena dan
Penurunan/int diraba. bengkak menurunkan
erupsi aliran ditinggikan. pembengkakan.
darah
arterial/vena, Beritahu dokter Temuan-temuan ini
contoh luka dengan segera bila menandakan keruskana
bakar seputar terjadi nadi sirkualsi distal. Dokter
ekstremitas berkurang, dapat mengkaji tekanan
dengan pengisian kapiler jaringan untuk
edema. buruk, atau emnentukan kebutuhan
penurunan sensasi. terhadap intervensi
Siapkan untuk bedah. Eskarotomi
pembedahan (mengikis pada eskar)
eskarotomi sesuai atau fasiotomi mungkin
pesanan. diperlukan untuk
memperbaiki sirkulasi
adekuat.
Kerusakan Memumjukkan Kaji/catat ukuran, Memberikan informasi

29
integritas kulit regenerasi warna, kedalaman dasar tentang kebutuhan
b/d kerusakan jaringan luka, perhatikan penanaman kulit dan
permukaan Kriteria hasil: jaringan nekrotik kemungkinan petunjuk
kulit sekunder Mencapai dan kondisi sekitar tentang sirkulasi pada
destruksi penyembuhan luka. aera graft.
lapisan kulit. tepat waktu pada
area luka bakar. Lakukan perawatan Menyiapkan jaringan
luka bakar yang untuk penanaman dan
tepat dan tindakan menurunkan resiko
kontrol infeksi. infeksi/kegagalan kulit.

Pertahankan Kain nilon/membran


penutupan luka silikon mengandung
sesuai indikasi. kolagen porcine peptida
yang melekat pada
permukaan luka sampai
lepasnya atau
mengelupas secara
spontan kulit
repitelisasi.

Tinggikan area Menurunkan


graft bila pembengkakan
mungkin/tepat. /membatasi resiko
pemisahan graft.

Pertahankan posisi Gerakan jaringan


yang diinginkan dibawah graft dapat
dan imobilisasi area mengubah posisi yang
bila diindikasikan. mempengaruhi
penyembuhan optimal.

30
Pertahankan Area mungkin ditutupi
D balutan diatas area oleh bahan dengan
a graft baru dan/atau permukaan tembus
p sisi donor sesuai pandang tak reaktif.
u indikasi.
s
h Cuci sisi dengan Kulit graft baru dan sisi
t sabun ringan, cuci, donor yang sembuh
t dan minyaki memerlukan perawatan
p dengan krim, khusus untuk
s beberapa waktu mempertahankan
: dalam sehari, kelenturan.
/ setelah balutan
/ dilepas dan
w penyembuhan
w selesai.
w
. Lakukan program Graft kulit diambil dari
a kolaborasi : kulit orang itu
l - Siapkan / bantu sendiri/orang lain untuk
o prosedur penutupan sementara
d bedah/balutan pada luka bakar luas
o biologis. sampai kulit orang itu
k siap ditanam.

31
4. Implementasi
Waktu Diagnosa Implementasi
Jumat, 10 februari 1. Resiko tinggi mengawasi tanda vital,
201916:20 kekurangan volume cairan CVP. Perhatikan kapiler dan
16:00 berhubungan dengan kekuatan nadi perifer.
16:05 Kehilangan cairan melalui
16:10 rute abnormal mengawasi pengeluaran
16:15 urine dan berat jenisnya.

mengobservasi warna urine


dan hemates sesuai indikasi.

mengobservasi drainase
luka dan kehilangan yang
tampak

Mengukur berat badan


setiap hari

Mengukur lingkar
ekstremitas yang terbakar
tiap hari sesuai indikasi

Mengobservasi perubahan
mental

Mengobservasi distensi
abdomen,hematomesis,feces
hitam.

Melakukan program
kolaborasi meliputi :

32
Pasang / pertahankan
kateter urine

Memasang/
mempertahankan ukuran
kateter IV.
Memberikan penggantian
cairan IV yang dihitung,
elektrolit, plasma, albumin.

Mengobservasi hasil
pemeriksaan laboratorium (
Hb, elektrolit, natrium ).

Memberikan obat sesuai


idikasi :
- Diuretika contohnya
Manitol (Osmitrol)
- Kalium

- Antasida

2. Resiko tinggi Mengobservasi:


infeksi - Penampilan luka bakar
berhubungan (area luka bakar, sisi
dengan donor dan status
Pertahanan primer balutan di atas sisi
tidak adekuat; tandur bial tandur kulit

33
kerusakan dilakukan) setiap 8 jam.
perlinduingan - Suhu setiap 4 jam.
kulit; jaringan - Jumlah makanan yang
traumatik. dikonsumsi setiap kali
Pertahanan makan.
sekunder tidak
adekuat; Membersihkan area luka
penurunan Hb, bakar setiap hari dan
penekanan lepaskan jaringan nekrotik
respons inflamasi (debridemen) sesuai
pesanan. Berikan mandi
kolam sesuai pesanan,
implementasikan perawatan
yang ditentukan untuk sisi
donor, yang dapat ditutup
dengan balutan vaseline
atau op site.

Melepaskan krim lama dari


luka sebelum pemberian
krim baru.

Menggunakan sarung
tangan steril dan berikan
krim antibiotika topikal
yang diresepkan pada area
luka bakar dengan ujung
jari. Berikan krim secara
menyeluruh di atas luka.

Memberitahu dokter bila


demam drainase purulen

34
atau bau busuk dari area
luka bakar, sisi donor atau
balutan sisi tandur.
Dapatkan kultur luka dan
berikan antibiotika IV
sesuai ketentuan.

Menggunakan linen tempat


tidur steril, handuk dan
skort untuk pasien.
Gunakan skort steril, sarung
tangan dan penutup kepala
dengan masker bila
memberikan perawatan
pada pasien.

3. Nyeri berhubungan Memberikan analgesik


dengan Kerusakan narkotik dan sedikitnya 30
kulit/jaringan; menit sebelum prosedur
pembentukan edema. perawatan luka. Evaluasi
Manipulasi jaringan cidera keefektifannya. Anjurkan
contoh debridemen luka. analgesik IV bila luka bakar
luas.

Mempertahankan pintu
kamar tertutup, tingkatkan
suhu ruangan dan berikan
selimut ekstra untuk
memberikan kehangatan.

35
Memberikan ayunan di atas
tempat tidur bila diperlukan.

Membantu dengan
pengubahan posisi setiap 2
jam bila diperlukan.
4. Resiko tinggi kerusakan Mempertahankan
perfusi jaringan, ekstermitas bengkak
perubahan/disfungsi ditinggikan.
neurovaskuler perifer
berhubungan dengan Memberitahu dokter dengan
Penurunan/interupsi aliran segera bila terjadi nadi
darah arterial/vena, contoh berkurang, pengisian kapiler
luka bakar seputar buruk, atau penurunan
ekstremitas dengan edema. sensasi. Siapkan untuk
pembedahan eskarotomi
sesuai pesanan.

5. Evaluasi
Dx 1
S: -
O: Status cairan membaik
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

Dx 2
S: -
O: Klien tidak mengalami infeksi
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

36
Dx3
S: Klien mengatakan sudah merasa nyaman
O: Klien tampak tidak meringis
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

37
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Luka bakar (combustio) adalah luka yang disebabkan oleh kontak
dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka
ini dapat mengakibatkan kematian,atau akibat lain yang berkaitan dengan
problem fungsi maupun estetik. Respons Patofisiologi setelah cedera luka bakar
adalah bifase. Pada fase pasca cedera, terjadi Hipofungsi organ secara umum
sebagai akibat dari penurunan curah jantung Pada prinsipnya penangangan luka
bakar penutupan lesi sesegera mungkin, pencegahan infeksi, mengurangi rasa
sakit, pencegahan trauma mekanik.Pada kulit yang vital dan elemen didalamnya,
dan pembatasan pembentukan jaringan. Saraf dan pembuluh darah merupakan
struktur yang kurang tahan dengan konduksi panas. Kerusakan pembuluh darah
ini mengakibatkan cairan intravaskuler keluar dari lumen pembuluh darah,
dalam hal ini bukan hanya cairan tetapi 12 protein plasma dan elektrolit. Pada
luka bakar ekstensif dengan perubahan permeabilitas yang hampir menyelutruh,
penimbunan jaringan masif di intersitial menyebabakan kondisi hipovolemik.
Volume cairan iuntravaskuler mengalami defisit, timbul ketidak mampuan
menyelenggarakan proses transportasi ke jaringan, kondisi ini dikenal dengan
syok, luka bakar juga bisa menimbulkan komplikasi seperti hipertropi jaringan
parut dan kontraktur, oleh karena itu luka bakar harus segera ditangani karena
dapat meneyebabkan kematian dengan derajat luka bakar yang tinggi.

B. Saran
Diharapkan bagi para pembaca dapat menambah sedikit pengetahuan
mengenai LukaBakar, dan semoga hasil makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca, dan dapat menambahpengathuan tentang Luka Bakar.

38
DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M dan Jane Kokanson.2009. Keperawatan Medikal


Bedah.Singapore:Elseiver

Kusuma, Hardi dan Amin Huda.2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda. Jogjakarta: Mediation

Menadjat,Yefta.2003. Luka Bakar Pengetahuan Klinik Praktis. Jakarta: Balai


Penerbit FKUI

Aldoketer.2017.Mengenal Derajat Luka dan Perawatannya. Diakses pada


tanggal 05 Februari 2019. Link: https://www.alodokter.com/mengenal-derajat-luka-
bakar-dan-perawatannya

Eka, Wahyu.2014. Luka Bakar. Diakses pada tanggal 06 Februari 2019.


Link:https://www.academia.edu/28112758/LUKA_BAKAR

39